cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Budidaya Jamur Kuping Dan Tiram Dengan Teknologi Pengendalian Suhu Mad Yamin
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i2.137

Abstract

Pada umumnya budidaya jamur kuping dan tiram dilakukan pada dataran tinggi dengan ketinggian 800 m dpl (di atas permukaan laut). Oleh karena itu, sampai saat ini para petani jamur menggunakan lahan-lahan di dataran tinggi tersebut untuk pembudidayaan jamur kuping dan tiram. Perlu terobosan baru dalam melakukan budidaya jamur dengan menggunakan teknologi pengendalian suhu, sebagaimana yang sudah dilakukan di negara-negara maju seperti Jepang, yaitu budidaya jamur dengan pengendalian suhu pada 15o C menggunakan mesin pendingin. Dengan teknologi pengendalian suhu tersebut, budidaya jamur dapat dilakukan di dataran rendah. Pada tulisan ini akan diuraikan hasil hasil penelitian yang telah dilakukan di Fakultas Teknologi Pertanian, IPB Bogor. Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh Sri Daryani dkk (1999) dengan teknik pengendalian suhu pada rumah jamur,telah menghasilkan dalam skala laboratorium hasil panen jamur kuping mencapai 84.8 % dari berat media. Sedangkan hasil panen jamur tiram mencapai 78.2 %, dengan pengendalian suhu 17oC , juga menghasilkan panen yang terbesar, yaitu 424 gram untuk jamur kuping dan 391 gram untuk jamur tiram per bag log. Pertumbuhan jamur akan lebih cepat pada rumah jamur dengan suhu 21oC dan ada kecenderungan bahwa pertumbuhan jamur di dalam rumah jamur dengan suhu terkendali, memberikan hasil yang lebih baik yaitu diameter Pileus dan diameter Stipa yang lebih lebar dan lebih tebal. Dari uraian di atas, maka sudah saatnya bagi para pengusaha Jamur untuk menggunakan Teknologi pengendalian suhu dalam budidaya jamur.Cultivation of Tiram Mushroom and kuping Mushroom usually done at high land about 800 m above sea level . That’s why the Mushroom’s Farmers always using high land for example land at Puncak or at Dieng Mountain and another high land. We need new inovation, how the farmers could doing Tiram Mushroom and Kuping Mushroom cultivation at the lower land using temperature control technology which has done at Japan or western countries. Japan has developed Temperature control technology about 15oC for Mushroom cultivation using Refrigeration machine which temperature control at 15oC. There for the mushroom cultivation could be done at lower land. At this paper will describe about reseach which has done at Faculty of Agricultural Technology, Bogor Agriculture Institute (IPB Bogor). Sri Daryani et al (1999) has found on her reseach that Mushroom in the green house which temperature control give harvest result about 84.8% of mushroom baglog weight. The result of Tiram Mushroom harvest is 78.2 %, at temperature control abaout 17oC. Also give the greatest harvest 424 gram of kuping Mushroom and 391 gram of Tiram Mushroom for every bag log, Mushroom grows faster at Green house by temperature of 21oC , diameter of Pileus wider and diameter of Stipa more thick. So, this time the mushroom farmers could do mushroom cultivation on the lower land by using temperature control green house. 
Pemanfaatan Ampas Basah Tapioka Sebagai Media Fermentasi dalam Pembuatan Nata De Cassava (Utilization of Tapioca Wet Solid Waste as Media for Fermentation in Producing Nata de Cassava) Nur Kartika Indah Mayasti; Darmawan Ari Nugroho
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.138

Abstract

Industri tapioka menghasilkan produk samping sebesar dua per tiga dari bahan mentahnya berupa bonggol, kulit, dan ampas tapioka. Dalam penelitian ini, ampas basah tapioka dimanfaatkan sebagai medium fermentasi Acetobacter xylinum untuk menghasilkan nata de cassava. Pati yang terkandung dalam ampas dihidrolisis secara enzimatis untuk menghasilkan gula reduksi yang kemudian diperkaya dengan sumber nitrogen sebanyak 0,2 persen (b/v) amonium sulfat. Selama proses fermentasi 14 hari terjadi pertumbuhan biomasa yang ditunjukkan dengan adanya penurunan nutrisi dalam medium fermentasi berupa perubahan gula reduksi dalam dari 6,66 menjadi 4,81 persen, densitas optikal menjadi 0,6 dan tingkat keasaman meningkat dari 4,4 menjadi 2,9. Dari hasil penelitian diperoleh nata de cassava dengan kadar serat 1,71 persen, kadar air 97,83 persen dan ketebalan lapisan nata 1,7 cm.Tapioca industry produces starch as the main product, while two third of raw materials are wasted as knobs, peels and wet solid waste. In this study, the wet solid waste was used as substrate for fermentation by Acetobacter xylinum to produce nata de cassava. Starch contained in the pulp was hydrolyzed to simple reducing sugar (glucose) and enriched by addition of ammonium sulfate as source of nitrogen at 0.2 percent (w/v) and extended fermentation period to 14 days. The rate of biomass growth was inferred by sugar content decreased from 6.66 to 4.81 percent, optical density increased to 0.6, and substrate acidity increased from 4.4 to 2.9, respectively. This research produced nata de cassava with fiber content of 1.71 percent, water content of 97.83 percent, and layer thickness of 1.7 cm. 
Struktur Unit Usaha Pertanian, Pendapatan Petani Dan Ketahanan Pangan: Sebuah Cara Pandang Alternatif Noer Soetrisno
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.139

Abstract

Masalah pembangunan pertanian di Indonesia tidak hanya bisa dilihat dari dimensi produksi komoditas pertanian belaka, apalagi sekedar untuk politik swasembada SSS (super sempit sekali) atas dasar komoditas, daerah (propinsi/kabupaten) dan situasional/tahunan, sementara masalah unit usaha pertanian rakyat tidak dilihat dalam konteks produktivitas atas dasar nilai tambah yang menjadi sumber pendapatan usaha tani. Melihat kondisi pertanian lahan sempit Indonesia cara pandang alternatif perlu diperkenalkan dan instrumen pendalaman modal dan teknologi menjadi input utama. Orientasi komoditas harus ditinggalkan dan orientasi skala bisnis dikedepankan. Ruang untuk melihat ini secara empiris masih sangat luas dan menakjubkan, sementara politik pertanian secara makro, baik swasembada untuk ketahanan pangan maupun politik anggaran/subsidi untuk pertanian yang sering membelenggu kreatifitas ke arah cara pandang alternatif itu. Globalisasi dan perubahan iklim harus menjauhi pola pengerahan dan komoditas yang penuh resiko. Transformasi usaha tani dari nilai tambah rendah ke arah pola usaha tani bernilai tambah tinggi harus dikedepankan. Ada tujuh langkah strategis dasar mengantar transformasi ini yang harus dimulai oleh kalangan perguruan tinggi, dunia usaha dan pembinaan usaha pertanian di daerah dengan mengembangkan modeling usaha pertanian bernilai tambah tinggi. Dan kemudian diikuti sederetan langkah lain seperti formalisasi bisnis, penyediaan jasa layanan usaha fokus transformasi pertanian NTT (Nilai Tambah Tinggi), penataan pembiayaan dan advokasi berlanjut untuk menghilangkan kungkungan ke arah perbaikan produktivitas usaha, peningkatan pendapatan petani dan pengurangan kemiskinan.The problems of agricultural development in Indonesia is not only reflected in the sheer dimensions of the agricultural commodities production, moreover just for political self-sufficiency in SSS (Super Sempit Sekali) on the basis of commodities, regional(provincial/district) and situational/yearly, while the problem of people’s agricultural business units viewed only in the context of productivity on the basis of value added which become the source of agricultural business units. With consideration of Indonesia’s narrow agricultural land, a new alternative way of looking need to be introduced and the need to put capital deepening and technology into primary input. Commodity orientation should be abandoned and concerning more on the orientation of business scale. Empirically, the space to see is still wide and wonderful, while agricutural politics in macro, both selfsufficiency to food security and political budget/ subsidy for agriculture is often blocked creativity toward alternative perspective. Globalization and climate change should avoid deployment patterns and commodity risk management. The transformation of agricultural business from low added value toward high value-added agricultural business pattern should be prioritized. There are seven basic strategic steps that must accompany this transformation initiated by universities, business and agricultural business development-in the region by developing the modeling of high value-added agricultural enterprises. Followed by a series of other measurement such as the formalization of business, providing business services focus on agricultural transformation NTT (Nilai Tambah Tinggi), the arrangement of financing and advocacy continues to eliminate the confines of effort toward improving productivity, increasing farmer income and poverty reduction.
Efisiensi Penggunaan Air dan Energi Berbasis Produksi Bersih pada Industri Kecil Tahu: Studi Kasus IKM Tahu “Sari Rasa” Subang (Efficiency of Water and Energy Use Based on Cleaner Production in Small Tofu Industry: A Case Study of SME Tofu “Sari Rasa” Subang) Doddy A. Darmajana; Nok Afifah; Novrinaldi Novrinaldi; Umi Hanifah; Andi Taufan
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.140

Abstract

Peningkatan efisiensi pada setiap tahapan proses pada IKM tahu akan mengoptimalkan setiap komponen produksi, menghasilkan mutu produk yang baik serta berdampak positif terhadap lingkungan. Salah satu konsep yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, bahan penunjang dan energi di seluruh tahapan produksi dan minimalisasi limbah adalah konsep produksi bersih. Telah dilakukan penelitian untuk merencanakan penerapan konsep produksi bersih di IKM tahu Sari Rasa Subang. Penelitian dilakukan dengan mengukur neraca massa pada setiap tahapan proses, dan menerapkan sistem pemipaan dan tungku pemasakan berbahan bakar gas. Pengambilan data mengikuti alur produksi IKM tanpa mengganggu proses untuk 3 batch produksi. Data yang diperoleh dibandingkan dengan kondisi proses sebelum penerapan produksi bersih dan terhadap industri tahu yang telah menerapkan produksi bersih. Hasil perbandingan menunjukkan penggunaan air proses lebih kecil 21,12 persen dibanding sebelum penerapan produksi bersih dan 15,13 persen terhadap pemakaian air di IKM tahu Kaguma. Hasil proses perancangan berupa penghematan energi listrik pompa dari 0,81 kWh menjadi 0,16kWh dengan menggunakan tangki air atas. Konsumsi energi menggunakan desain tungku baru berbahan bakar gas untuk pemasakan 5 kg kedelai sebesar 11220 kkal, menghemat energi sebesar 72,35 persen dibanding dengan tungku sebelumnya. Bila dibandingan dengan IKM Kaguma, terdapat perbedaan kebutuhan energi untuk proses sebesar 1724,16 kkal.Increasing efficiencies at every stage of the process at SME Tofu will optimize every component of production, yield good quality products, and give positive impact to the environment. One of the concepts that aim to improve the efficient use of raw materials, auxiliary materials and energy at all stages of production and waste minimization is a cleaner production concept. The research was done to design the implementation of the cleaner production concept in SMEs tofu Sari Rasa Subang. The study was conducted by measuring mass balance at each stage of process and applying plumbing system and gasfired furnace for cooking. The data were captured for 3 batches of production in SMEs. The data obtained were compared to the previous data. The comparison demonstrated that water used in SME Sari Rasa was 21.12 percent less than that of the previous and 15.13% more than that of SME Kaguma. The results of redesign process were the electrical energy saving at the pump from 0.81 kWh to 0.16 kWh using water roof tank. The saving of heat energy consumption using new gas-fired furnace for cooking 5 kg soybean was 11220 kcal. The saving energy was found to be 72.35% compared to the previous furnace. There were 1724.16 kkal energy consumption difference compared to SME Kaguma. 
Kondisi Pertanian Pangan Indonesia Khudori Khudori
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.141

Abstract

Kinerja sektor pertanian cukup baik. Neraca ekspor-impor pertanian Indonesia masih positif karena disumbang kinerja subsektor perkebunan yang terus membaik. Sebaliknya, neraca perdagangan subsektor tanaman pangan, hortikultura dan peternakan bersifat negatif. Ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah pangan impor, seperti gandum, susu, kedelai, gula, garam dan daging sapi belum ada tanda-tanda berkurang. Padahal, aneka pangan itu bisa diproduksi di lahan sendiri. Ini mengindikasikan ada yang salah dan pengelolaan pertanian-pangan Indonesia. Kebijakan pertanian-pangan bias komoditas beras, bias korporasi dan asing, liberalisasi kebablasan, pembiaran nasib petani miskin dan gurem, dan lemahnya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Akibatnya, masih banyak daerah yang rawan pangan, prevalensi balita underweight dan stunting. Pemerintah disarankan melakukan reformasi agraria, memanfaatkan sumberdaya untuk memproduksi pangan lokal, tidak mendahulukan impor, mengembangkan pertanian lokal-keluarga-multikultur, merancang ulang pasar pangan, menetapkan zonasi agroekologi dan menyusun langkah mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.The performance of the agricultural sector is quite good. The Indonesian agricultural export-import balance is still positive due to the improvement in plantation sector performance. On the contrary, the balance of trade from food crops, horticulture and animal husbandry stays negative. Indonesia's dependence on a number of imported commodities, such as wheat, milk, soy, sugar, salt and meat shows no signs of easing. Eventhough those variety of commodities can be produced in Indonesia. This indicates that there is something wrong Indonesia's management of food and agriculture. Agricultural policy bias-food commodities of rice, corporation and foreign bias, excessive liberalization, omission of the fate of poor farmers and landless, and also lack of mitigation and adaptation to climate changes. As a result, there are still many areas of food insecurity, prevalence of stunted and underweighted children under five. It is advised that Government reform the agrarian policy, utilizing local resources to produce food, instead of relying on import, develop local agriculture-family-multicultural, redesigning the food market, establishing agro-ecological zone and developing mitigation and adaptation steps toward climate changes.
Swasembada Gula : Prospek dan Strategi Pencapaiannya Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.142

Abstract

Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada gula pada tahun 2014. Kurun waktu empat tahun adalah periode yang sangat pendek untuk mengubah kedudukan dari pengimpor menjadi produsen mandiri. Produksi gula Indonesia tahun 2009 adalah 2,52 juta ton, sedangkan total konsumsi mencapai 4,55 juta ton terdiri dari konsumsi langsung 2,70 juta ton dan konsumsi industri 1,85 juta ton. Kecukupan gula dipenuhi melalui impor sebanyak 2,03 juta ton. Proyeksi pertumbuhan tahun 2014  berdasarkan pada pertambahan penduduk serta perkembangan industri (terutama makanan dan minuman) meningkatkan konsumsi menjadi 5,32 juta ton yakni 2,96 juta ton konsumsi langsung dan 2,36 juta ton konsumsi industri. Upaya peningkatan produksi yang rasional tanpa membangun pabrik baru hanya mampu meningkatkan produksi menjadi 3,60 juta ton sehingga pemenuhan kebutuhan melalui impor masih sebesar 1,72 juta ton. Dari gambaran ini maka target swasembada gula tidak mungkin dicapai melalui pertumbuhan produksi normal. Paper ini membahas berbagai kendala dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pada bagian akhir akan diutarakan faktor keberhasilan Thailand sebagai acuan dalam melakukan upaya mencapai swasembada gula nasional.The government of Indonesia has planned to achieve self-sufficiency of white sugar in the year of 2014; it is about four years ahead. This available time is considered to be very short to change the status of the country from net importer to self-producer. The national sugar production in 2009 was 2.52 million ton while the consumption was 4.55 million ton consisted of 2.70 million ton direct (household) consumption and 1.85 million ton industrial consumption. The balance (2.03 million ton) was imported from several countries. It has been projected that the sugar demand will increase to 5.32 million ton in 2014 due to population and industrial (mainly food and beverage) growth which will consist of 2.96 million ton direct consumption and 2.36 million ton industrial uses. Normal effort to add production without addition of new factory would increase production up to 3.60 million ton at which the need for import will be 1.72 million ton. Therefore, self-sufficiency of sugar would not be possible through normal practices as usual. This paper discusses constraints and possible efforts to achieve the targeted selfsufficiency. At the end, it presents the success factors of Thailand sugar industry that should be considered as benchmarks of efforts. This paper concludes with a set of recommendations of programs to meet national white sugar self-sufficiency.
Pengaruh Silikat Terhadap Kekerasan Batang, Produktivitas Padi, Mutu Gabah dan Beras Yang Dihasilkan Sarlan Abdulrachman
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.143

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk silikat terhadap peningkatan kekerasan batang, produktivitas dan mutu hasil padi. Dalam percobaan ini digunakan rancangan Split-plot dengan tiga kali ulangan. Perlakuan petak utama yaitu varietas (inbrida, hibrida, dan PTB) dan pupuk silikat sebagai anak petak. 1) tanpa pupuk Si (kontrol), (2) 50 ppm SiO2, (3) 100 ppm SiO2, (4) 200 ppm SiO2, dan (5) 400 ppm SiO2. Pupuk silikat diberikan satu kali saja pada semua perlakuan pada saat sebelum tanam. Cara pemberian pupuk yang lain mengikuti rekomendasi setempat (konsep PHSL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Kekerasan batang dipengaruhi oleh umur tanaman dan varietas. Semakin tua tanaman padi semakin keras batangnya, varietas inbrida Inpari 10 memiliki batang lebih lunak dibanding varietas hibrida Hipa 6 dan PTB B.105.33F-KN-11-1. Kekerasan batang tersebut dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk silikat. Pada tanah berkadar Si rendah seperti pada tanah alluvial Subang (76,46%) perlu diberikan 200 ppm SiO2. Sedangkan pada tanah berkadar SiO2 sedang seperti pada tanah andosol Kuningan (82,66%) hingga tinggi seperti pada tanah latosol Bogor (87,24%) cukup diberikan 50 ppm SiO2, (2) Rata-rata hasil produksi yang dicapai melalui pemberian pupuk silikat adalah 6,24 t/ha pada tanah alluvial, 6,71 t/ha pada tanah andosol, dan 7,23 t/ha pada tanah latosol. Dengan demikian ada kenaikan hasil produksi berturut-turut sekitar 6,45% untuk tanah alluvial, 6,6 % untuk tanah andosol, dan 7,05% untuk tanah latosol dibandingkan kontrol, dan (3) Pengaruh pemberian pupuk silikat terhadap mutu beras tergantung pada jenis tanahnya. Pada tanah alluvial, pemberian pupuk silikat hanya meningkatkan komponen mutu beras (transparancy) dari sekitar 1,4% menjadi 1,6%. Sedangkan pada tanah latosol, beras giling, whiteness dan milling degree meningkat masing-masing dari sekitar 68,9% menjadi 69,1%; 48,8% menjadi 50,3%; dan dari 129,9 menjadi 136,4.The objective of this research is to look into the effect of silicate application on increasing stem hardness, productivity and quality of rice. These trials were caried out using Splitplot design with three replications. Variety treatments (inbrid, hybrid, and NPT) was placed as main plot, while silcate fertilizer was as sub plot, e.i. (1) without silicate fertilizer as a control, (2) +50 ppm SiO2, (3) +100 ppm SiO2, (4) +200 ppm SiO2, and (5) +400 ppm SiO2. Silicate was applied as a basal fertilizer, while another fertilizers were applied according to those technical recommendations. The results indicated that: (1) Stem hardness was depend on crops age and variety. The more crop age harder the stem was, inbred Impair 10 variety had less stem hardness compared to hybrid Hipa 6 variety and NPT B.105.33F-KN-11-1. The stem hardness could be increased by applying silicate fertilizer. Under low Si content like in the alluvial soil of Subang (74,46%), this soil required 200 ppm SiO2. While medium content of SiO2 like in andosol soil of Kuningan (82,66%) up to high content of SiO2 like in latosol soil of Bogor (87,24%), those soil required 50 ppm Si, (2) Average rice yield that was achieved by applying cilicate fertilizer were 6,24 t/ha at alluvial soil, 6,71 t/ha at andosol soil, and 7,23 t/ha of dry paddy at latosol soil. Therefore, the yield increase was 6,45% on alluvial soil, 6,67% on andosol soil, and 7,05% on latosol soil compared to control, and (3) Application of silicate fertilizer increased rice quality, but not to all soil types. On alluvial soil, transparency as a component of rice quality increased from 1,4% to 1,6%. While on latosol soil; milling yield rice, whiteness and milling degree were incresed from 68,9% to 69,1%; 48,8% to 50,3%; and from 129,9 to 136,4; respectivelly 
Aplikasi Tepung Bekatul Fungsional Pada Pembuatan Cookies Dan Donat Yang Bernilai Indeks Glikemik Rendah (Application of Functional Bran in Making Cookies and Donuts with Low Glycemic Index Value) Made Astawan; Tutik Wresdiyati; Sri Widowati; Indira Saputra
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i4.144

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan bekatul fungsional (direndam dalam asam askorbat 1000 ppm selama 1 jam pada berbagai formula cookies dan donat. Terhadap formula cookies dan donat yang terbaik kemudian dilakukan uji sensori, analisis sifat fisik dan kimia, serta pengukuran indeks glikemik (IG). Bekatul fungsional dapat diaplikasikan sebagai pensubstitusi terigu pada pembuatan cookies dan donat. Formula cookies dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 40 persen dari total tepung, dan formula donat dengan penambahan bekatul fungsional sebanyak 35 persen dari total tepung, merupakan formula yang terpiih. Kedua produk tersebut memiliki kadar serat pangan yang tinggi sehingga dapat diklaim sebagai pangan fungsional sumber serat pangan. Penambahan bekatul fungsional ke dalam formula cookies dan donat dapat menurunkan nilai IG, yaitu dari 67 pada cookies standar (tanpa bekatul) menjadi 31 pada cookies bekatul, dan dari 72 pada donat standar menjadi 39 pada donat bekatul. Dengan demikian, cookies dan donat bekatul dapat digolongkan sebagai pangan yang memiliki IG rendah (< 55). Pangan dengan IG rendah dapat diklaim sebagai pangan fungsional anti-diabetes. Faktor pendukung rendahnya IG pada cookies dan donat bekatul dibandingkan cookies dan donat standar adalah kadar lemak, kadar protein, kadar serat pangan, dan kadar amilosa yang lebih tinggi, serta daya cerna pati yang lebih rendah.kata kunci: cookies, donat, bekatul, indeks glikemik, organoleptikThe objective of this research was to apply functional rice bran (made by soaking rice bran in 1000 ppm ascorbic acid for 1 hour in processing some formulas of cookies and donut. Sensory, physical, chemical, and glycemic index (GI) analysis were then done to the selected formula of cookies and donut. The functional rice bran could be applied to substitute wheat flour in making cookies and donut. Cookies formula with addition of 40 percents functional rice bran from the total flour, and donut formula with addition of 35 percents functional rice bran from the total flour, were the best selected formulas. The two formulas had high dietary fiber content, so it can be claimed as a dietary fiber source of functional foods. The addition of functional rice bran into the cookies and donut formulas could decrease the GI value, from 67 in standard cookies (without addition of functional rice bran) to become 31 in functional rice bran cookies, and from 72 in donat standard to become 39 in functional rice bran donut. So, functional rice bran cookies and donut can be classified as foods with low GI value (< 55). Low GI foods can be claimed as antidiabetic functional food. Higher content of fat, protein, dietary fiber, amylose, and also the lower of starch digestion of rice bran cookies and donut contributed in lowering the GI.keywords: cookies, donut, rice bran, glycemic index, sensory
Prospek Teknologi Pembuatan Beras Bergizi Melalui Fortifikasi Iodium Ridwan Rachmat; Syafaruddin Lubis
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.145

Abstract

Dalam upaya penanggulangan masalah gangguan akibat kekurangan Iodium (GAKI), peningkatan mutu gizi beras merupakan salah satu terobosan yang dapat ditempuh terutama untuk memperbaiki mutu gizi masyarakat di daerah endemik Iodium. Penerapan teknologi fortifikasi Iodium pada beras sangat prospektif untuk dikembangkan, karena beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi lebih dari 90% penduduk Indonesia. Teknologi fortifikasi Iodium pada beras dilakukan dengan prinsip memanfaatkan sifat Iodium yang mudah terikat dengan amilosa sebagai unsur utama beras. Iodium sebagai fortifikan dalam bentuk larutan dengan penambahan bahan pengikat dikabutkan dengan alat pengkabut yang digandengkan pada alat penyosoh beras. Hasil penelitian menunjukan bahwa fortifikasi Iodium pada beras dengan menggunakan bahan pengikat dextrose dan sodium bikarbonat tidak berpengaruh terhadap kualitas beras. Hasil uji organoleptik menunjukan bahwa fortifikasi iodium sebesar 1 ppm pada beras menunjukkan bahwa rasa nasi dari beras dengan fortifikan iodit maupun iodat tanpa pengikat tidak berbeda nyata dengan kontrol dan disukai •60% konsumen (responden). Sedangkan dari segi aroma tidak berbeda nyata dengan kontrol dan menunjukkan penampilan permukaan terlihat bersih dan cemerlang. Dari mutu fisik beras, pada umumnya beras beriodium dapat diklasifikasikan pada standar mutu II karena beras kepala diatas 80% dan beras patah paling tinggi 19,41%.In an effort to overcome problems Iodine deficiency disorders (IDD), increased nutrient quality of rice is one of the breakthroughs that can be achieved primarily to improve the nutritive quality of the community in areas of endemic iodine. Iodine fortification technology implementation on highly prospective for development of rice, because rice is the staple food consumed by more than 90% of Indonesian population. Iodine fortification of rice technology by utilizing the principle of the easy nature of iodine bound with amylose as the main element in rice. Iodine as fortifikan in the form of a solution with the addition of a binder in mist sprayer which coupled with the tool on the tool penyosoh rice. The results showed that iodine fortification in rice by using a binder dextrose and sodium bicarbonate did not affect the quality of rice. The organoleptic test showed that iodine fortification of 1 ppm in rice showed that the rice with iodate fortificant iodid or without a binder is not significantly different from the control and preferred •'3d 60% of consumers (respondents). In terms of flavor not significantly different from the control and shows the surface appearance looks clean and bright. From the physical quality of rice, generally can be classified on the quality standard II for over 80% head rice yield and broken rice the highest 19.41%. 
Pengelolaan Tanaman Terpadu pada Padi Sawah yang Ramah Lingkungan (Integrated Crop Management in Rice Environmentally Friendly) Anicetus Wihardjaka; Dedi Nursyamsi
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i2.146

Abstract

Sistem usahatani ramah lingkungan diartikan sebagai usahatani untuk memperoleh produksi optimal tanpa merusak lingkungan baik secara fisik, biologis dan ekologis. Selain itu sistem ini juga harus menjamin keberlanjutan sistem produksi. Pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) pada padi sawah yang bersifat ramah lingkungan diyakini dapat mengakomodasi teknologi untuk peningkatan produksi padi, sekaligus memelihara kelestarian lingkungan biofisik, serta menjaga keberlanjutan sistem produksi padi sawah.Penerapan teknologi mitigasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di lahan sawah selain dapat mempertahankan dan meningkatkan produksi padi, juga dapat mereduksi emisi GRK secara signifikan.Dengan demikian maka untuk menjamin peningkatan produksi padi, sekaligus memelihara kelestarian lingkungan lahan sawah serta menjaga keberlanjutan sistem produksi padi, maka teknologi mitigasi emisi GRK di lahan sawah perlu ditambahkan dalam paket PTT.Environmentally friendly farming system is defined as afarmto obtain an optimal production without physically, biologically andecologically damaging the environment. In additionthis system should also ensure the sustain ability of production systems. Integrated crop management (ICM) aproachin paddy ricefield is believed tobe able to accommodate environmentally friendly technologies which increaserice production, maintain sustainability of biophysical environment, as well asmaintain sustainability of rice production systems. Application of GlassHome Gas (GHG) emissions mitigation technologies in paddy rice field do not only maintainand increaserice production, but also reduce GHG missions significantly. Thus,toguarantee an increase inrice production, sustainability of bio physical environment, and sustainability of rice production systems, the GHG emission mitigation technology inpaddyrice fields should be addedin the ICM package.  

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue