cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Karakteristik Mutu Gizi Dan Diversifikasi Pangan Berbasis Sorgum (Sorghum vulgare) Sri Widowati
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i4.170

Abstract

Sorgum merupakan bahan pangan pokok di negara semi tropis baik di Afrika maupun Asia. Konsumen sorgum sering diidentikkan dengan masyarakat marginal. Padahal komoditas ini mempunyai keunggulan komparatif mutu gizi terhadap serealia lainnya. Sorgum, sebagai bahan pangan pokok tidak hanya menyumbang kalori, tetapi juga protein, vitamin dan mineral. Sorgum mengandung karbohidrat (±70 persen ), protein (8-12 persen) setara dengan terigu atau lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10 persen), dan lemak (2-6 persen) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (0,5-1,5 persen) dan terigu (2 persen). Sorgum mengandung berbagai mineral esensial, seperti P, Mg, Ca, Fe, Zn, Cu, Mn, Mo dan Cr. Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap komposisi gizi dan kimia dan sifat fungsional. Kendala utama dalam pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan adalah penyosohan dan kendala ini sudah dapat diatasi. Sorgum sosoh (beras sorgum) dapat dikonsumsi sebagai mana layaknya nasi, maupun aneka produk bentuk butiran (brondong/pop soghum, renginang, tape, wajik). Tepung sorgum dapat sebagai substitusi pendamping tepung beras dan terigu, untuk diolah menjadi aneka pangan tradisional, cake dan cookies. Saat ini sudah dikembangkan produk sorgum instan (nasi sorgum instan, bubur dan sereal sarapan).Sorghum is a kind of staple food in semi-tropical countries both in Africa and Asia. The consumers of sorghum are often associated with the marginalized communities. However, this commodity has a comparative advantage in nutrition quality compared to other cereals. Sorghum contributes not only calories, but also protein, vitamins and minerals. Sorghum contains carbohydrate (± 70 percent); protein (8-12 percent) which is equal to that of wheat flour or higher than that of rice (6-10 percent); and fat (2-6 percent) which is higher than that of rice (0.5-1.5 percent) and wheat (2 percent). Sorghum contains many essential minerals, such as P, Mg, Ca, Fe, Zn, Cu, Mn, Mo and Cr. Genetic factors affect the nutritional and chemical composition as well as functional properties. The main problem in the utilization of sorghum as a food ingredient is polishing, which has already been resolved. Polished sorghum can be consumed as cooked rice, as well as various snack foods based on grain ingredients (brondong/popped sorghum, renginang, tape, wajik). Sorghum flour as an alternative food and the substitute of rice and wheat flour can be processed into a variety of traditional foods, cakes and cookies. Now, some instant sorghum products (sorgum instant rice, porridge and breakfast cereals) have already been developed. 
Kearifan Lokal dalam Diversifikasi Pangan Winati Wigna; Ali Khomsan
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i3.171

Abstract

Beras adalah komoditi yang memperoleh perhatian besar dari Kementerian Pertanian. Sudah saatnya kita kembali memperhatikan pangan-pangan potensial seperti umbiumbianyang dapat menjadi substitusi beras, misalnya “rasi” yang terbuat dari singkong. Dengan melalui proses pemarutan, pemerasan, penggilingan, dan penjemuran, makadihasilkan semacam tepung singkong kasar berbentuk granule yang disebut “rasi”. Masyarakat kampung Cireundeu-Cimahi Jawa Barat, dengan tanpa memperhatikan segala macam himbauan tentang diversifikasi pangan, ternyata telah menerapkan pola pangan nonberas sejak tahun 1924. Masyarakat Cireundeu merasa cocok makan “rasi” karena kesesuaian dengan cara hidup mereka. Dengan fluktuasi produksi beras yang dialami Indonesia, maka penggalakan diversifikasi pangan harus terus dilakukan. Diharapkan konsumsi beras dapat dikurangi di masa mendatang. Diversifikasi terkait dengan kesejahteraan seseorang. Masyarakat miskin sulit menerapkan diversifikasi menu karena lauk-pauk (sumber protein) harganya mahal, jadi bagi mereka makan nasi adalah upaya memenuhi kebutuhan fisiologis tanpa merasa perlu memperhatikan keseimbangan gizi.Rice has become the most concerned commodity by the Ministry of Agriculture. However, it is now the time to consider other potential foods as sources of carbohydrate, such as many kinds of tubers (cassava, sweet potato, sago, and taro). Some communities have a habit to eat “rasi”, made of cassava, that has traditionally been a staple food among Cirendeu people who live in Cimahi, West Java. The people of Cirendeu have been practicing food diversification by consuming non-rice foods since 1924. They consider eating “rasi” is better than eating rice because “rasi” fits with the way of their life. As rice production in Indonesia is still fluctuating, diversification should be campaigned again and again. It is hoped that rice consumption then can be reduced in the near future. Diversification is related to people welfare. Poor people have difficulties to diversify their menu because side dishes (which contain protein) are expensive, that’s why eating rice is the only way to satisfy their physiological need without considering nutrition balance. 
Analisis Pengaruh Butir Patah Dan Menir Terhadap Penjualan Beras Premium Di Pasar Induk Beras Cipinang Yudy Prakasa Yudha; Ujang Sumarwan; Sri Bawono
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i4.172

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : (1). pengaruh butir patah dan menir terhadap tingkat penjualan beras premium; (2) pesentase kewajaran butir patah dan menir dalam beras premium; (3) bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi kualitas beras premium untuk mencapai keuntungan tanpa mengurangi selera konsumen. Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan deskriptif dengan tujuan agar hasil penelitian dapatmenggambarkan dengan baik hubungan antara variabel yang terkandung dalam beras premium terhadap penjualannya, menggunakan pedoman pada hasil yang diperoleh melalui metode Kuasi Eksperimen. Untuk mempermudah analisis digunakan aplikasi pengolah data SPSS (Statistical Program For Social Science), yang merupakan paket program aplikasi komputer untuk menganalisis data-data statistik. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa variabel Butir patah, Menir, Beras Ramos IR.64 dan Beras Rojolele secara simultan/bersama-sama ataupun sendiri-sendiri / parsial mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap penjualan Beras Premium di Pasar Induk Beras Cipinang.The purposes of this study are to determine: (1) the effect of broken grains and groats on the rates of sales of premium rice; (2) the fair percentage of broken grains and groats in premium rice; (3) how the entrepreneurs can affect the quality of premium rice to gain profit without reducing consumer taste. In this research, descriptive approach is used in order that the results can well describe the relationship between the variables contained in premium rice and the sales of the rice, using the guidelines on the results obtained through the method of Quasi Experiments. To simplify the analysis of the data processing, SPSS (Statistical Program for Social Science), a computer application program package for analyzing statistical data, is applied. The results show that the variables of broken grains, groats, Ramos IR.64 rice, and Rojolele rice simultaneously or partially have significant (meaningful) influences on the sales of premium rice at the Rice Master Market of Cipinang. 
Manggulu, Pangan Lokal Berkalori Tinggi yang Kaya Serat Alami (Manggulu, Local Food with High Calorie and Rich Natural Fiber) Yunita Siti Mardhiyyah; Hanny Wijaya
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.173

Abstract

Diversifikasi pangan menjadi hal yang penting dalam mencapai ketahanan pangan. Salah satu cara yang dapat dilakukan ialah pemanfaatan pangan lokal. Manggulu merupakan sejenis dodol yang dibuat dari pisang kepok dan kacang tanah, suatu pangan khas dari Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pisang kepok {Musa paradisiaca L.) masak pohon dikeringkan sehingga berwarna kecoklatan, dikukus dan dihaluskan. Kacang tanah digoreng dan dihaluskan. Kedua bahan ini dicampur, kemudian dibentuk silinder dan dibungkus dengan daun pisang kering. Berdasarkan perhitungan kadar gizi bahan bakunya, manggulu dengan berat 30 g memiliki nilai kalori 147,6 kkal sehingga dapat dikategorikan sebagai pangan berkalori tinggi. Kandungan serat manggulu sebesar 2,2 g/30 g memenuhi aturan Codex alimentarius sebagai produk pangan yang baik untuk sumber serat dan dapat diarahkan sebagai pangan fungsional. Manggulu dibuat dari bahan alami dan dapat dikategorikan sebagai pangan alami atau natural food menurut Canadian Food Inspection. Manggulu juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai pangan darurat. Eksplorasi dan dokumentasi pangan lokal diharapkan melestarikan kearifan lokal dan menunjang upaya diversifikasi pangan.Food diversification becomes an important issue in order to achieve national food security. The utilization of potential local food should be one of the alternatives. Manggulu is a local food of Sumba, East NusaTenggara (NTT), a kind of intermediate moisture content food that is made from kapok plantain (Musa paradisiaca L.) and peanut The ripe plantain is steamed and mashed. The peanut is fried and crushed. Both of these ingredients are mixed together, and then the dough is formed into cylindrical shape and wrapped with dried banana leaves. Based on the calculated nutritive value of the raw materials, one piece of manggulu (30g in) has calorie about 147.6 kcal which can be categorized as high-calorie food. The fiber content of manggulu, which is 2.2 g/piece, is also fulfilled the Codex alimentarius regulation as a good source for dietary fiber and can be developed as a functional food. Manggulu can also be categorized as natural food according to Canadian Food Inspection Agency because it is made from 100 percent natural ingredients. Moreover, its product shows great potency to be utilized as an emergency food. The exploration and documentation oflocal food might both conserve the local wisdom and support the food diversification effort. 
Pengembangan Diversifikasi Pangan Pokok Lokal suismono suismono; Nikmatul Hidayah
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i3.174

Abstract

Usaha diversifikasi pangan hingga kini belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan pemerintah. Salah satu kebijakan pemerintah di bidang konsumsi pangan yaitu mengembangkan diversifikasi pangan dengan menggali sumber karbohidrat danteknologi pengolahan pangan pokok yang berasal dari lokal. Teknologi pengolahan berbasis pangan pokok lokal yang telah ada di daerah masih dilakukan secara tradisional. Oleh karena itu perlu diperbaiki, digalakkan dan dikemas menjadi pangan pokok siap saji yang diterima masyarakat Indonesia menjadi makanan pokok pengganti beras. Sebagai contoh produk makanan pokok lokal yang telah diperbaiki teknologinya antara lain makanan Ledok (bubur dari bahan jagung dan singkong) menjadi produk Ledok Instan, Beras Aruk menjadi Beras Singkong Semi-Instan (BSSI), Beras ubi (Rasbi), Tiwul instan dan Beras Sagu Tiruan. Berdasarkan sebarannya, produk pangan pokok di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3 golongan yaitu : untuk wilayah Indonesia Bagian Barat mengkonsumsi makanan pokok ”nasi non beras”, untuk wilayah Indonesia Bagian Tengah mengkonsumsi makanan pokok ”bubur dari bahan tepung” dan untuk wilayah Indonesia Bagian Timur mengkonsumsi makanan pokok ”bubur dari bahan pati”.Efforts on food diversification has yet resulted in what expected by the government. One of government policies in food consumption sector is to develop food diversification by exploring the local sources of carbohydrate and local food processing technology. Local-staple-food-based processing technology that has already existed in the area is still traditionally operated. Therefore, the products need to be improved, promoted and packaged into ready-to-eat staple food that can be consumed as the substitution of rice as staple food by the people of Indonesia. For examples, the improved technology of local staple food products among others are Ledok foods (porridge made from maize and cassava) which have been formed into instant products, and Aruk grain which has been transformed into Semi Instant Cassava Grains (BSSI), Cassava grain (Rasbi), Tiwul instant and artificial Sago grain. Based on their distribution, staple foods in Indonesia can be classified into 3 basic non-rice categories. First, boiled kernel non rice is consumed in the Western parts of Indonesia; second, porridge made from flour is consumed as the staple food in Middle zones of Indonesia; and third, slurry of starch material is eaten eastern regions of Indonesia. 
Menuju Pembangunan Pangan Efisien dan Efektif: Ketahanan Pangan Berpandu Gizi Toward the Development ofEffective and Efficient Food: Nutrition-Guided Food Security Noer Soetrisno
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.175

Abstract

Indonesia dengan pendapatan perkapita di atas USD 3.000 saat ini masih menghadapi persoalan ketahanan pangan secara berulang, di balikketersediaan pangan rata-rata secara cukup dan stabil dalam waktu dua dasawarsa. Disisi lain rawan pangan terjadi secara lokal atau berulang dan kekurangan beras muncul dan tenggelam dari tahun ke tahun, sehingga mengundang debat tentang sebab musababnya. Usaha tani padi terus mengalami penurunan rangsangan berproduksi di mata petani kecil namun masalah ini belum mendapat tanggapan secara memadai. Tulisan ini mempersembahkan analisis non konvensional dengan menyoroti aspek gizi, kerawanan pendapatan rumah tangga dan ketidaktepatan perumusan kebijakan beras yang mengarah pada kebijakan tidak efektif dengan biaya yang mahal. Hal ini disebabkan karena kebijakan beras belum menyentuh persoalan dasar. Kebijakan pangan berpandu gizi akan membuka ruang bagi peningkatan pendapatan petani kecil, mendorong wirausaha tani pangan baru yang kompetitif, mengefisienkan ketersediaan pangan dan menekan biaya intervensi pemerintah. Dalam jangka sangat pendek alternatif kebijakan pemupukan stok pemerintah perlu dicoba dengan mengundang BUMN Input guna menaikan kapasitas koleksi di atas kemampuan normal BULOG dalam menangani pasaran surplus musiman petani kecil, yang dapat mengurangi spekulasi pasar.Indonesia today with thepercapita income above USD 3,000 is still facing repeating foodinsecurity problem, despite the fact that aggregate per capita calorie avalability has been stable at around 3000 kilo calory/capita peryear in nearly two decades. On the other hand food insecurity persists locally or periodicallyandrice shrotage happens onandofffor different years with inconcluded debate onthe prime causes. Ricefarming is considerably loosen itsincentives totheeye ofthefarmers without properly being addresed. This article explores a non conventional analysis by looking at the perspective of nutritional aspect, household income insecurities and inappropriate rice policy setting that leadto ineffective food policy and high costbecause the policy is not addresing the fundamental issues on the prime causes of food insecurity Nuritions ledfood policy strategy will open up the room for farmers' income improvement, promote competitive new rice farming entrepreneurs, efficient use of food supplies and reduce cost of government intervention on food. In a very short run, alternative government's stockpiling policy is needed, for instance by inviting Agro-inputs STE to top up the normal capacity of BULOG in handling the small farmers marketable surpluses and to lead to predictable market speculation. 
Model Penggilingan Padi Terpadu Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Ridwan Rachmat; suismono suismono
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i3.176

Abstract

Penggilingan padi merupakan titik sentral dari agroindustri padi. Penggilingan padi yang berkembang saat ini tidak dirancang dengan pendekatan sistem agribisnis yang terpadu tetapi dengan teknologi penggilingan padi yang masih sederhana. Lebih dari itu, peralatan penggilingan sudah berumur tua (lebih dari 15 tahun) menyebabkan mutu dan rendemen beras yang diperoleh juga rendah. Untuk meningkatkan mutu dan rendemen beras diperlukan upaya perbaikan kinerja penggilingan padi dengan meningkatkan penggunaan kapasitas terpasang, mengurangi biaya, meningkatkan nilai tambah produk yang memberi dampak positif pada usaha jasa penggilingan padi dan petani padi serta memantapkan kelembagaannya. Untuk mencapai ini perlu strategi usaha penggilingan padi secara terpadu atau terintegrasi yaitu beras menjadi bentuk keuntungan dan pendapatan dari hasil samping serta limbah yang terolah minimal dapat menutup biaya operasional proses produksi. Penerapan sistem manajemen mutu pada penggilingan padi berguna untuk menjaga konsistensi produksi, kualitas dan efisiensi proses penggilingan beras. Untuk membangun sistem penggilingan padi terpadu diperlukan fasilitas yang memadai untuk memproduksi beras berkualitas dan mengolah hasil samping menjadi produk bernilai komersial. Kelengkapan fasilitas untuk penggilingan padi terpadu dapat dikelompokkan sesuai skala usaha untuk memproduksi beras premiun, hasil samping berupa tepung beras, produk bihun, pakan ternak, dan briket arang sekam.kata kunci : padi, model penggilingan padi terpadu, nilai tambahRice milling is the central point of the rice agro-industry. At present, rice milling has been operated by simple and old-age equipment, so that the yield is relatively low. To improve the yield and quality, concerted efforts are needed by improving the utilization of existing capacity, reducing costs, increasing value-added products that makes a positive impact on the benefit of the business and rice farmers, as well as strengthening the business institution. To achieve this necessary business strategy, an integrated rice milling should produce milled rice as the form of profits, while the revenue from the by product is capable of covering the costs of processing. Implementation of quality and management system in rice mills is needed to maintain production consistency especially in quality as well as cost and process efficiency. To establish an integrated rice milling system, it is necessary to improve facilities to produce high quality rice and process by product into valuable commercial products. Complete facilities for integrated rice milling may be grouped according to the scale of business to produce premium quality rice, rice flour, vermicelli, charcoal products, feed, charcoal briquettes.keywords : paddy, milled rice, integrated rice milling, value added
Proses Penurunan Kadar Kalsium Oksalat Menggunakan Penepung ”Stamp Mill” untuk Pengembangan Industri Kecil Tepung Iles-Iles (Amorphophallus muelleri Blume) Aji Sutrisno
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.178

Abstract

Umbi iles-iles (Amorphophallus muelleri Blume) mengandung glukomanan yangsangat tinggi dengan kadar mencapai 15-65 persen. Pemanfaatan iles-iles di Indonesia masih sangat terbatas karena terkendala oleh kandungan kalsium oksalat yang tinggi. Kalsium oksalat dalam iles-iles menyebabkan rasa gatal, iritasi dan gangguan kesehatan bila dikonsumsi.Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kadar glukomanan dan menurunkan kandungan kalsium oksalat dalam tepung iles-iles menggunakan mesin penepung stamp mill. Mesin stamp mill digunakan karena tidak menimbulkan panas sehingga mampu mempertahankan sifat-sifat glukomanan. Penelitian dirancang secara deskriptif eksploratif untuk mempelajari pengaruh berat chip iles-iles dan lama penumbukan. Perlakuan berat chip iles-iles terdiri 1,5; 2 dan 2,5 kilogram, sedangkan faktor lama penumbukan terdiri dari 0, 3, 6, 9, 12, dan 15 jam, dengan 3 kali Ulangan. Penumbukan dengan stamp mill selama 15 jam dan dengan berat chip iles-iles 1,5 kg menghasilkan tepung terbaik dengan komposisi: kadar glukomanan 81,86 persen, kalsium oksalat 0,095 persen, protein 3,585 persen, abu 4,197 persen, kadar air 9,29 persen, dan viskositas 23416 mPa.s. Penepungan dengan stamp mill terbukti mampu meningkatkan kadar glukomanan sekaligus menurunkan kandungan senyawa non-glukomanan khususnya kalsium oksalat pada tepung iles-iles yang selama ini menjadi kendala pemanfaatannya sebagai bahan pangan di Indonesia.kata kunci : tepung iles-iles, stamp mill, glukoIles-iles tuber (Amorphophallus muelleri Blume) contains high glucomanan up to 15-65 percents. However, the utilization of iles-iles tuber in Indonesia as food is very limited due to its calcium oxalate content. Calcium oxalate crystal is toxic component that causes itchy, irritation and health problems when consumed.This research aims to increase the glucomannan content and reduce the calcium oxalate content of iles-iles flour using a stamp mill.Stamp mill was chosen because it did not generate heat that could damage the function of glucomannan. The effects of iles-iles chip mass and milling time are studied. Three levels of iles-iles-chip mass, namely 1.5 kg, 2 kg, and 2.5 kg, and six (6) levels of milling time, namely 0, 3, 6, 9, 12, and 15 hours are applied. The best treatment, which produces high quality flour, is found to be from the milling using stamp mill for 15 hours and iles-iles-chip mass of 1.5 kilograms. The composition of the flour are as follows: glucomannan content is 81.86 percent, calcium oxalate is 0.095  percent, protein is 3.585 percent, ash is 4.197 percent, moisture content is 9.29 percent, and viscosity is 23416 mPa.s.The stamp mill method could improve the glucomannan content and reduce non-glucomannan compounds especially calcium oxalate as well. 
Delinasi Kalender Tanam Tanaman Padi Sawah Untuk Antisipasi Anomali Iklim Mendukung Program Peningkatan Produksi Beras Nasional Eleonora Runtunuwu; Haris Syahbuddin; Wahyu Tri Nugroho
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.179

Abstract

Perubahan iklim global yang berimbas terhadap pola hujan menjadi kendala bagiProgram Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN). Salah satu implikasi dariperubahan iklim adalah pergeseran awal dan akhir musim tanam yang berdampak negatif terhadap pola tanam dan produktifitas tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun atlas kalender tanam Pulau Sumatera dengan skala 1:250.000, yang dapat dijadikan sebagai panduan untuk menentukan potensi pola tanam dan waktu tanam pada tanaman semusim (terutama padi) sampai tingkat kecamatan berdasarkan potensi dan dinamika sumber daya iklim dan air. Atlas kalender tanam ini disusun melalui beberapa tahapan yaitu (i) pengumpulan data dan wawancara dengan petani; (ii) analisis waktu tanam; (iii) verifikasi lapang; dan (iv) penyusunan atlas. Selain memetakan kebiasaan waktu tanam yang diterapkan petani saat ini, atlas kalender tanam ini juga dilengkapi dengan kalender tanam berdasarkan tiga kondisi iklim, yaitu pada saat curah hujan tinggi (tahun basah), pada saat curah hujan rendah (tahun kering), dan pada saat curah hujan normal (tahun normal). Atlas kalender tanam dapat menjadi panduan bagi penyuluh pertanian maupun petani dalam menjalankan usahataninya secara berkelanjutan. Beberapa manfaat atlas kalender tanam adalah untuk menentukan waktu tanam tingkat kecamatan, menentukan rotasi tanaman berdasarkan potensi sumberdaya iklim dan air, mendukung perencanaan tanam tanaman pangan semusim, dan mengurangi dampak buruk pergeseran musim tanam terhadap kerugian petani. Global climate change causes change in the rainfall pattern and becomes a constraint to the national program on rice. The change implies both the shifting of the cropping time and the change in cropping pattern of annual crops that eventually decrease crop productivity. The aim of this research is to provide the cropping calendar map of Sumatera island at 1:250.000 scale that can be applied as reference in determining time of planting and cropping pattern for each sub district that suit to the dynamic of climate and water resources. This cropping calendar is arranged through several steps: (i) climate data collection and farmer’s interview; (ii) analysis of planting time; (iii) field verification; and (iv) mapping process by delineating of cropping pattern. This map is prepared for the farmer’s condition in different climate anomaly scenarios such as La-Nina, El-Nino, or normal. This cropping calendar map can be used as a reference for farmers and extension workers in planning a sustainable farming.Cropping calendar map serves several function, i.e. providing spatial and tabular cropping pattern for crop land at the sub-district level, determining cropping rotation in each sub district based on the existing climate and water resources, supporting the planning of cropping season and pattern, especially for seasonal food crops, and reducing the negative impact of climate anomaly and risk of farmer’s losses. 
Pengaruh Sistem Tanam dan Pemberian Jerami Padi Terhadap Emisi Metana dan Hasil Padi Ciherang di Ekosistem Sawah Tadah Hujan A. Wihardjaka A. Wihardjaka
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.180

Abstract

Lahan sawah tadah hujan umumnya mempunyai produktivitas tanah dan tanaman rendah akibat rendahnya tingkat kesuburan tanah dan curah hujan tidak menentu. Perbaikan sifat fisik, kimia, dan hayati tanah sawah tadah hujan dapat dilakukan dengan pemberian pembenah oganik seperti jerami padi. Sedangkan peningkatan produktivitas sawah tadah hujan dapat ditempuh melalui pemberian pembenah organik dan pengelolaan tanaman. Namun pemberian pembenah organik dan pengelolaan tanaman padi dapatberpengaruh terhadap emisi gas rumah kaca, terutama emisi gas metana (CH4). Penelitian lapang yang dilaksanakan di lahan sawah tadah hujan bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jerami padi dan sistem tanam padi terhadap emisi metana dan hasil padi. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok, tiga ulangan, dan enam perlakuan kombinasi sistem tanam dan pemberian jerami padi. Padi yang ditanam dengan sistem tanam benih langsung memberikan pertumbuhan lebih baik, hasil gabah lebih tinggi, dan mengemisi CH4 lebih rendah dibandingkan dengan sistem tanam pindah. Sistem tanam benih langsung mampu menurunkan emisi metana ratarata 33,3 persen dan meningkatkan hasil gabah padi Ciherang rata-rata 76 persendibandingkan pada sistem tanam pindah. Pemberian jerami padi pada sistem tanam benih langsung nyata mengemisi metana lebih rendah dan menghasilkan gabah lebih tinggi daripada pada sistem tanam pindah. Jerami padi yang diberikan dalam bentuk melapuk cenderung mengemisi CH4 lebih rendah daripada dalam bentuk jerami segar. Hasil gabah tinggi dan emisi CH4 relatif rendah tercapai bilamana jerami padi diberikan dalam bentuk lapuk dan padi ditanam dengan sistem tanam benih langsung.Rain-fed rice field generally has low productivity due to poor soil fertility and erratic rainfall. Physical, chemical, and biological properties of the soil can be improved by applying organic amendment such as rice straw. Moreover the productivity of rein-fed rice field can be improved by crop establishment. However, organic amendment application and crop establishment affect the greenhouse gases emission, especially methane (CH4). The field experiment was conducted in rain-fed rice field to evaluate the effect of rice straw application and crop establishment on methane emission and grain yield of rainfed rice crop.The experiment used randomized block design with three replications and six treatments of combination of crop establishment and rice straw application. Rice crop with direct seeding system gave better growth, higher grain yield as well as lower methane emission than that of with transplanting system. Direct seeding system could decrease average methane emission by 33.3 percent and increase average grain yield by 76 percent compared with transplanting system. Rice straw application in direct seeding system significantly reduced methane emission and increased yield of the grain than that of transplanting system. The composted straw application emitted less CH4 than that of fresh straw. The improved yield and the relatively low CH4 emission were reached when composted rice straw was incorporated and combined with direct seeding systems. 

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue