cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam Prespektif Ketahanan Pangan Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.192

Abstract

Peringatan Malthus bahwa kebutuhan pangan bertambah secara berlipat, sementara produksi naik bertahap masih relevan dengan situasi sekarang. Relevansi ini terutama tampak pada bahan pangan pokok, khususnya Indonesia yang hampir sepenuhnya bergantung pada satu komoditi beras. Kesalahan filosofis dan praktis terjadi karena bahan pokok diartikan sebagai beras, bahkan banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mongkonsumsinya dokonversi menjadi konsumen tetap. Dalam dunia pangan, bahan pokok diartikan sebagai sumber kalori yang kandungan utamanya karbohidrat. Indonesia yang memiliki lahan, iklim dan keragaman hayati yang tinggi mempunyai tanaman penghasil karbohidrat yang banyak seperti singkong, ubi jalar, kentang, uwi, gadung, tales dan sukun. Persoalannya adalah bahan pangan ini selain sulit ditangani dalam jumlah besar juga belum dikonsumsi sebagai pangan pokok secara luas. Pengolahan bahan tersebut menjadi tepung dapat memudahkan penanganan dan penyiapan. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan industri tepung sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan pada beras perlu didukung dengan kebijakan yang memadai. Agroindustri tepung perdesaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi bahan pangan pokok menjadikan sektor pertanian sangat dinamis mengikuti perkembangan pasar.
Tinjauan Spasial Produksi dan Konsumsi Beras oleh Rumah Tangga Tahun 2007 Slamet Sutomo
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.193

Abstract

Ditinjau dari sisi produksi dan konsumsi secara total, produksi beras di Indonesia pada tahun 2007 sudah dapat memenuhi total kebutuhan konsumsi di dalam negeri, khususnya konsumsi beras untuk rumah tangga, baik yang dimasak sendiri maupun yang berasal dari makan di luar rumah. Namun, secara spasial masih terlihat adanya indikasi propinsi yang jumlah konsumsi rumah tangga terhadap beras lebih besar dibanding dengan jumlah produksinya, dan hal ini akan mengakibatkan kekurangan pasokan beras bagi propinsi bersangkutan. Dalam rangka memperkuat ketahanan pangan beras, perlu kiranya untuk lebih memperhatikan sentra-sentra produksi beras di wilayah-wilayah tertentu sehingga masalah pasokan beras dapat terjamin dengan baik pada waktu-waktu biasa apalagi pada masa paceklik.
Integrasi Spasial dan Vertikal Pasar Beras di Indonesia (Spatial and Vertical Integration ofRice Market in Indonesia) Eny Cahyaningsih; Rita Nurmalina; Agus Maulana
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.194

Abstract

Penelitian ini bertujuan, menganalisis integrasi spasial pasar beras di beberapa pasar ibu kota provinsi di Indonesia, integrasi vertikal pasar beras antara pasar dalam negeri dan luar negeri, respon harga beras suatu pasarjika ada shock atau goncangan di pasar lain, variasi perubahan harga beras suatu pasar, dan memberi masukan implikasi kebijakan stabilisasi harga beras di Indonesia. Metode analisis yang digunakan adalah Vector Error Correction Model, impuls respon dan dekomposisi ragam. Pada integrasi spasial diperoleh hasil bahwa pada perdagangan beras di Indonesia terdapat pasar-pasar acuan yaitu pasar beras di Medan, Semarang, Pontianak, Surabaya dan Jakarta. Pada integrasi vertikal, perubahan harga beras di Vietnam akan menyebabkan perubahan harga di Indonesia dan Thailand walaupun dalam skala yang relatif kecil. Berdasarkan analisis impuls respon dan dekomposisi ragam diperoleh bahwa pasar beras Indonesia sedikit terisolasi dari kedua negara. Implikasi kebijakan dari penelitian ini adalah pertama, untuk menstabilisasikan harga beras maka prioritas intervensi dari pemerintah seharusnya difokuskan pada stabilisasi harga beras di Medan, Semarang, Pontianak, Surabaya dan Jakarta. Stabilnya harga beras di wilayah tersebut akan ditransmisikan ke wilayah lain. Kedua, walaupun harga beras luar negeri tidak begitu berpengaruh pada kenaikan harga beras dalam negeri dan pasar beras Indonesia sedikit terisolasi dari Thailand dan Vietnam, pengendalian impor beras tetap perlu dilakukan untuk melindungi pendapatan petani apalagi mengingat harga beras dalam negeri lebih tinggi dibandingkan harga beras luar negeri.The goal of thisresearch is to analyze spatialintegration of ricemarkets in several markets in the provincial capital of Indonesia, the vertical integration of the rice marketbetween the domestic market and abroad, the response of a marketprice of rice if there is a shock in other markets, variations in the market price changes of rice, and its implications for price stabilization policies. Methods of analysis used in this studi are Vector Error Correction Model, impulse responseandvariance decomposition. The result of spatial integration indicates that the reference markets rice trade in Indonesia are the market in Medan, Semarang, Pontianak, Surabaya and Jakarta. In vertical integration, changes in the price of rice in Vietnam will cause price changes in Indonesia and Thailand, although in a relatively smallscale. Based on the analysis of the impulseresponse and variance decomposition, it is found that Indonesian ricemarket is slightly isolatedfrom the two countries. Policyimplication of this studyis first to stabilize the price of rice in Indonesia in which the priorities of government intervention should be focused on the rice price stabilization in Medan, Semarang, Pontianak, Surabaya and Jakarta because price stabilization in those regions could be transmitted to otherregions. Second, although rice prices abroadare not so influential in the domestic rice price increases and the Indonesian rice market is slightly isolated from Thailand and Vietnam, the rice import controls still need to be done to protect the income of farmers especiallybecause theprice of domestic rice is higher than theprice of rice outside the country. 
Transportasi Sungai: Upaya untuk Meningkatkan Efisiensi Pengadaan, Penyimpanan dan Distribusi Gabah/Beras Rokhani Hasbullah; Abdul Waries Patiwiri
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.196

Abstract

Sejak dahulu kala sungai merupakan sarana aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari seperti untuk mencuci, mandi, irigasi, pengangkutan dan pelayaran atau transportasi. Sebagai jalur transportasi, peran sungai-sungai di Indonesia nampaknya mulai ditinggalkan dan bergeser ke transportasi moda darat karena adanya anggapan bahwa jalur darat lebih cepat dibandingkan dengan transportasi sungai. Apalagi, pemerintah lebih memprioritaskan peningkatan sarana dan prasarana jalur darat. Akibatnya, wilayah-wilayah di jalur sungai agak tertinggal perkembangannya dan berdampak terhadap jasa sungai yang merupakan mata pencaharian hidup sebagian masyarakat di sekitar aliran sungai. Dalam menghadapi krisis energi, potensi sungai perlu mendapatkan perhatian baik sebagai transportasi sungai, sumber energi alternatif, kelestarian lingkungan maupun manfaat lainnya. Semestinya kita dapat belajar dari Thailand yang cukup piawai dalam memanfaatkan sungai, tidak hanya sebagai transportasi tetapi juga sebagai obyek wisata yang menarik.
Kebijakan Perberasan dan Stabilisasi Harga Beras di Indonesia: Strategi Pengendalian Harga pada Masa Krisis Agus Saifullah Agus Saifullah
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.197

Abstract

Krisis harga beras yang terjadi pada tahun 2008 merupakan fenomena yang tidak pernah diduga akan berkembang begitu cepat. Harga beras mengalami kenaikan sekitar 3 kali lipat hanya dalam waktu beberapa bulan. Seperti sebuah reaksi berantai, situasi tersebut direspon cepat oleh banyak negara untuk mengamankan kebutuhan pangan dalam negeri dengan cara membatasi sampai melarang ekspor atau berusaha membeli beras dalam waktu cepat meskipun pada saat harga tinggi. Dampaknya, kekalutan pada pasar beras menyebar cepat menjadi masalah global yang berakibat pada kenaikan harga beras domestik dan inflasi yang tinggi, kepanikan dan masalah sosial. Hanya sedikit negara yang mampu terbebas dari krisis harga beras tersebut. Salah satunya adalah Indonesia. Ada tiga faktor penting yang berperan dalam ketahanan pangan dan stabilitas harga beras di pasar domestik. (1). Kebijakan perberasan yang mencakup dua hal yaitu (i). konsistensi kebijakan perberasan untuk memperkuat ketahanan pangan, peningkatan produksi, pengendalian harga serta jaminan akses pangan bagi keluarga miskin serta (ii). respon kebijakan yang dilakukan pemerintah pada awaltahun 2008 dalam menghadapi krisis harga beras global antara lain melalui kebijakan fiskal, tambahan penyaluran beras kepada keluarga miskin serta pemberian insentif untuk peningkatan produksi. (2). Penyediaan beras dalam negeri yang cukupakibat keberhasilan peningkatan produksi beras tahun 2008 yang mencapai 5,46%. (3). Keberhasilan BULOG dalam mencukupi stok beras dari dalam negeri. Dengan pengadaan yang mampu mencapai rekor 3,2 juta ton, memberi kontribusi positif untuk menjamin akses pangan bagi masyarakat, menjaga stabilitas harga beras dalam negeri serta menekan spekulasi. Tersedianya stok beras BULOG yang cukup dan merata di seluruh daerah memberikan sinyal positif pada pasar dalam negeri tentang kemampuan pemerintah menjaga stabilitas dan ketahanan pangan dalam negeri yang pada akhirnya mengurangi spekulasi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.
Padi Ketan dan Pemupukan Nitrogen (StickyRice and Nitrogen Fertilizer) Nurwulan Agustiani; Sarlan Abdulrachman
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.198

Abstract

Berbagai varietas padi ketan telah dilepas oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BBPADI),salah satunya adalah B10299B-MFM16-2-4-1 -2 (Ciasem). Ketan Ciasem dilepas sebagai varietas dengan keunggulan potensi hasil cukup tinggi, tahan terhadap Wereng Batang Coklat (WBC) biotipe 2,agak tahan terhadap WBC biotipe 3, dan tahan penyakit Hawar Daun Bakteri (HDB) strain III dan IV,serta dengan umur yang lebih genjah (115-120 hari) dan mutu gabah yang lebih baik. Namun demikian, sampai saat ini di tingkat petani varietas ketan Ciasem masih kurang populer dibanding Ketan Lusi. Untuk mengetahui perbedaan karakter agronomis antara ketan Lusi dan Ciasem telah dilakukan penelitian dengan perlakuan berbagai level pupuk Nitrogen (N). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan BBPADI Sukamandi pada musim tanam (MT) 12011 dengan menggunakan rancangan petak terpisah 3 ulangan. Dosis pemupukan Nsebagai petak utama dan varietas sebagai anak petak. Dosis perlakuan Nterdiri atas 4taraf yaitu N0 (Tanpa pemupukan), N1 (100 kg Urea/ha), N2 (250 kg Urea/ha), dan N3 (350 kg Urea/ha), sedangkan varietas sebagai anak petak terdiri atas2taraf yaitu Ketan Lusi (A) dan Ketan Ciasem (B). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Padi Ketan Ciasem selain berumur lebih genjah dan berpostur lebih pendek serta jumlah anakan produktif yang lebih banyak, persentase distribusi asimilat ke bagian malai lebih tinggi namun jumlah gabah isinya lebih rendah dibandingkan Lusi. Oleh karena itu tingkat hasil Lusi dan Ciasem setara. Dosis pupuk Nyang optimal untuk kedua varietas padi ketan ini adalah 250 kg Urea/ha.Some of sticky rice varieties have been released by the Indonesian Center for Rice Research (ICRR) at Sukamandi, West Java, one of them is B10299B-MR-116-2-4-1-2 (Ciasem). Ciasem was released asa variety with high yield potential, resistant to Brown Plant Hopper (BPH) biotype 2, moderately resistant to BPH biotype 3, and also resistant to Bacterial Leaf Blight (BLB)strain III and IV. Moreover, Ciasem has shorter age (115-120 days) and better quality grain than that of Lusi. Nevertheless, up to now, Ciasem is less popular than Lusi. This paperpropose to show agronomic characters between Ciasem and Lusi with 4 levels of Nitrogen fertilizer dosages. This research was conducted at the ICRR field experiment in 2011. Using split plot design with 3 replications. Nitrogen fertilizer as the main plot with 4 levels (0, 100, 250, and 350kg urea/ha) and variety as subplot with 2 levels (Lusi and Ciasem). The result showed that Ciasem hasshorter posture, greater number ofproductive tillers, and also hashigger percentage distribution asimilate to thepaniclesbut less number of filled grain than Lusi. Because of that, the producticity of Lusi and Ciasem was equal. The optimal dosage of Nitrogen fertilizer for both of the varieties were 250kg urea/ha. 
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Gula terhadap Kualitas Keju Analog dari Campuran Susu dan Sari Kedelai ( The Effect of Various Types of Sugar Addition on the Quality of Cheese Analog from a Mixture of Cow's Milk and Soy Milk) Novita Indrianti
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.199

Abstract

Keju analog dari campuran susu sapi dan sari kedelai telah dipelajari secara laboratoris. Pembuatan keju mengadopsi prosedur pembuatan keju Cheddar dengan mengganti rennet dengan ekstrak jeruk nipis sebagai sumber asam dan sebagai bahan penggumpal. Pada proses pembuatan keju, glukosa, sukrosa, atau madu ditambahkan, masing-masing dilakukan pada percobaan yang berbeda. Lactobacillus casei juga ditambahkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan glukosa, sukrosa, dan madu terhadap kualitas kimiawi dan sensoris keju analog. Hasilnya menunjukkan rendemen keju analog tertinggi diperoleh jika glukosa ditambahkan pada proses pembuatannya. Kadar protein dan lisin tersedia tertinggi juga diperoleh jika glukosa ditambahkan pada proses pembuatan keju analog. Kadar lemak tertinggi diperoleh jika madu ditambahkan. Perbedaan jenis gula, yaituglukosa, sukrosa, dan madu, tidak berpengaruh pada penerimaan panelis atas dasar kesukaannya terhadap semua atribut sensori.Cheese analog from a mixture of cow's milk and soy milk has been made in laboratory experiment Theprocessing of cheese was adopted from a procedure of making Cheddarcheese in which rennet was substituted by lemon extractused as acid source as wellas a coagulant whereas Lactobacillus casei was also added. Glucose, sucrose, and honey were added in separated experiments. Thisresearch was aimed to analyze the effect of usingglucose, sucrose, and honey on the chemicaland sensory of cheese analog. The highest yield was found in cheese analog where glucose was used in Its processing. The highest protein and available lysine contents were also found in cheese analog when glucose was added. The highest fat contentof cheese analog was found whenhoney was added. Glucose, sucrose, and honey did not affecton the acceptance of panelists based on their preferences to all atributes of sensory properties. 
Respons Negara Berkembang dan Indonesia dalam Menghadapi Krisis Pangan Global 2007-2008 M. Husein Sawit M. Husein Sawit
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.200

Abstract

Krisis pangan global berulang lagi pada periode 2007-2008. NB(negara berkembang) dan Indonesia meresponsnya melalui sejumlah kiat, sehingga krisis tersebut tidak berdampak buruk terhadap instabilitas harga pangan DN (dalam negeri). Intinya adalah NB tidak lagi mematuhi cara-cara lama, tidak mengikuti resep structural adjustment programs (SAP). Sebagian NB melakukan secara parsial, misalnya hanya instrumen perdagangan. Sebagian NB berhasil dan ada pula yang gagal. Pada umumnya NB yang berhasil adalah mengkombinasikan berbagai kebijakan, komprehensif (mulai dari kebijakan perdagangan, perlindungan konsumen, dan mendorong produksi pangan DN), kecukupan cadangan devisa untuk membiayai impor pangan, serta tersedianya stok pangan publik yang cukup untuk meredam spekulasi dan instabilitas harga pangan. Keberhasilan Indonesia dalam meredam kenaikan harga beras DN, banyak ditentukan oleh kecukupan stok publik, dan peningkatan produksi DN, disamping peningkatan bantuan ke konsumen. Peran stok publik amat penting dalam mencegah spekulasi.Kemitraan dalam OP (operasi pasar) antara Bulog-swasta lebih berhasil, karena Bulog punya "kekuatan", membuat swasta lebih patuh. Berbeda dengan beras, tingkat keberhasilan stabilisasi Migor relatif rendah. Pola kemitraan Pemerintah-swasta tidak berjalan seperti yang diinginkan, karena posisi pemerintah "lemah", terbatas pada himbauan tanpa kontrol dan sanksi tegas. Kebijakan stabilisasi Migor juga parsial, instrumen, seperti pengurangan/Ppn DTP (pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah), DMO (domestic market obligation), dan OP tidak banyak berpengaruh terhadap penurunan/instabilitas harga Migor DN.
Pengaruh Penambahan Tepung Komposit Pada Pembuatan Mie Instan Jagung Terhadap Nilai Gizi (The Effect of Composite Flour Addition on the Nutritional Value in the Making of Instant Corn Noodles) Riyanti Ekafitri; Novita Indrianti; Rima Kumalasari; Doddy A Darmajana
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.201

Abstract

Mie instan jagung pada penelitian ini adalah mie berbahan baku utama tepung jagung dengan penambahan tepung komposit dan bahan tambahan pangan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan jenis dan konsentrasi tepung komposit yang digunakan terhadap nilai gizi mie jagung yang dihasilkan. Untuk pembuatan mie instan jagung digunakan teknoiogi seperti pembuatan mie terigu dengan modifikasi proses. Perlakuan yang digunakan adalah penggunaan tiga jenis tepung komposit dan dua tingkat konsentrasi penambahan. Tepung subsitusi yang digunakan yaitu tepung ganyong (G), tapioka (T), dan mocaf (M) dengan konsentrasi 5 persen dan 10 persen. Produk yang dihasilkan dari perlakuan tersebut memiliki kandungan makronutrien protein yang berkisar antara 10,11-11,96 persen, lemak yang berkisar antara 16,86-20,60 persen, dan karbohidrat yang berkisar antara 62,81-67,35 persen. Keenam perlakuan mengkasilkan total kalori yang berkisar antara 278,75- 289,55 Kkal. Persen angka kecukupan gizi (persentase AKG) protein per takaran saji 60 gram berkisar antara 8,08-9,57 persen, persentase AKG lemak berkisar antara 26,01-31,78 persen, dan persentase AKG karbohidrat berkisar antara 11,17-11,97 persen.Instant corn noodle in this study was made from corn flour with the addition ofcomposite flour and other food additives. This study aimed to determine the effect ofadding the type and concentration of the composite flour on the nutritional value ofthe noodles. The processing technology adopted was similar to that of manufacturing wheat flour noodles with theprocess modification. The treatments were the use ofthree types ofcomposite flours with two levels ofconcentration. Wheat flour substitution used were the canna starch flour (G), tapioca (T), and mocaf (M) with a concentration of5percent (1) and 10 percent (2). The products had macronutrient content ofprotein ranged from 10.11-11.96 percent, fat ranged from 16.86-20.60 percent and carbohydrates ranged from 62.81-67.35 percent. The sixtreatments resulted in total calories ranged 278.75-289.55 kcal. Percentage ofRecommended Daily Allowance (percentage RDA) ofprotein per 60 gram serving size ranged from 8.08 to 9.57 percent percentage RDA offat ranged from 26.01-31.78 percent and percentage RDA of carbohydrates ranged between 11.17-11.97 percent 
Pengembangan Potensi Lokal untuk Bahan Baku Pangan dan Industri Sebagai Usaha Meningkatkan Ketahanan Pangan Nasional Achmad Subagio; Aunur Rofiq
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.202

Abstract

Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, sampai saat ini kecukupan kalori dan protein masyarakat Indonesia, masih rendah. Untuk itu, diperlukan penggalian sumber protein dan karbohidat alternatif, seperti ubi kayu dan koro-koroan yang tumbuh dengan baik di lahan marginal. Tulisan ini melaporkan hasil-hasil penelitian tentang pengembangan teknologi pengolahan bahan lokal sebagai bahan baku pangan dan industri, dengan mendorong keunggulannnya dan menekan kekurangannya. Penggunaan teknologi solid state fermentation dengan bakteri asam laktat menunjukkan bahwa ubi kayu dapat diolah menjadi berbagai produk baik berupa tepung termodifikasi yang sering di sebut MOCAF (modified cassava flour), maupun pati masam. Produk-produk ini mempunyai aplikasi yang lebih luas dibandingkan produk natif-nya, seperti berbagai macam mie, kue, roti dan cokies. Selanjutnya penelitian tentang korokoroan menunjukkan bahwa beberapa macam koro-koroan mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi (17-22%) yang didominasi oleh globulin. Namun, kandungan intinutrionalfactors dan racun pada korokoroan cukup tinggi. Saat ini telah dikembangkanbeberapa produk yang menghasilkan konsentrasi protein yang tinggi dan eliminasi sifatsifat negatif koro-koroan, seperti protein isolate, "Protein Rich Flour", lactic acid-fermented legume flour, processed beans, dan tempe koro. Demikian pula, ikan-ikan inferior dapat dijadikan sebagai sumber protein yang berkelanjutan dengan pengolahan yang tepat, sehingga mendorong ketersediaan protein yang murah. Sementara kelapa dapat dijadikan sebagai bahan pangan murah mulai dari minyak, protein dan seratnya. Berdasarkan hal tersebut, kemampuan bahan lokal berdasarkan potensi komposisinya sebagai penyedia senyawa gizi merujuknya sebagai comparative dan competitive products untuk dikembangkan guna meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue