cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Eksplorasi, Identifikasi dan Analisis Keragaman Plasma Nutfah Tanaman Hanjeli (Coix lacryma jobi L.) sebagai Sumber Bahan Pangan Berlemak di Jawa Barat Warid Ali Qosim; Tati Nurmala
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.181

Abstract

Hanjeli merupakan tanaman pangan yang memiliki kandungan karbohidrat danlemak tinggi digunakan sebagai sumber bahan pangan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan plasma nutfah tanaman hanjeli (Coix lacryma-job L.) yang tersebar di daerah Jawa Barat. Metode penelitian dilakukan dalam bentuk survey di Kabupaten Indramayu, Purwakarta, Sumedang, Ciancur dan Bandung. Koleksi plasma nutfah hanjeli diseleksi berdasarkan karakter morfologi, kandungan lemak dan produk olahan tepung hanjeli. Dari hasil penelitian di 5 (lima) kabupaten tersebut telah diperoleh 41 plasma nutfah hanjeli yang ditemukan secara liar dan telah dibudidayakan oleh masyarakat. Keragaman genetik 41 plasma nutfah hanjeli 0,39 (39 persen) berdasarkan karakter morfologi in situ dan dikelompokan menjadi dua kelompok utama. Penampilan fenotipik karakter kualitatif dan kuantitatif plasma nutfah hanjeli in situ yang lebih baik adalah Acc 1, Acc 2, Acc 4, Acc 5, Acc 6, Acc 6, Acc 11, Acc 13, Acc 21, Acc 22, Acc 23, Acc 28, Acc 34, Acc 35. Berdasarkan analisis kandungan lemak yang baik adalah Acc 11, Acc 23, Acc 24, Acc 27, Acc 28, Acc 29, Acc 30, Acc 31, Acc 31 dan Acc 37. Hasil olahan yang berupa bubur hanjeli lebih disukai adalah Acc 1 dan Acc 4 dibandingkan Acc 10 dan Acc 28.Job’s tears is an alternative food source that has high contents of carbohydrate and fat. The research aims to obtain germ plasmas of Job’s tears plant (Coix lacryma-jobiL.) spread in the areas of West Java. The method of experiment is in form of survey in districts of Indramayu, Purwakarta, Sumedang, Ciancur and Bandung. Job’s tears germ plasms collection is selected based on morphological characters, the content of fat and processed flour products of job’s tears. The results showed that there are 41 job’s tears germ plasms found in wild life and cultivated by farmers. The genetic diversity of germ plasms of job’s tears is 0.39 (39 percent) based on morphological characters. The germ plasms of job’s tears are divided into two main groups. Phenotypic performance of the characters of qualitative and quantitative in-situ germ plasms of job’s tears are Acc1, Acc2, Acc4, Acc5, Acc6, Acc6, Acc11, Acc13, Acc21, Acc22, Acc23, Acc28, Acc34, Acc35. Based on the analysis of fat content, there are Acc11, Acc23, Acc24, Acc27, Acc28, Acc29, Acc30, Acc31, Acc31 and Acc37. In the form of processed porridge of job’s tears, Acc1 and Acc4 are preferred compared to Acc10 and Acc28. 
Pusat Penelitian Kimia LIPI, Kawasan Puspiptek, Serpong Agustine Susilowati; Yetti M. Iskandar; Aspiyanto Aspiyanto; Yaty Maryati
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.182

Abstract

Rhizopus C1 adalah kultur dari Rhizopus oligosporus yang diisolasi dari usar tempe Malang dan biasa digunakan sebagai inokulum tempe. Potensinya sebagai sumber enzim protease dapat dimanfaatkan dalam menghidrolisis protein sorgum (Sorgum bicolor L Moench) untuk memperoleh serat pangan (Dietary Fiber) yang berperan sebagai anti kolesterol dan anti konstipasi. Perlu diketahui bahwa serat pangan tidak termasuk protein, sehingga hidrolisis protein diharapkan dapat membentuk asam-asam amino dengan berat molekul rendah dan tidak berpengaruh terhadap Total Serat (TDF/Total Dietary Fiber). Hidrolisis dilakukan pada suhu 60°C, pH 5,5 dengan variasi waktu hidrolisis yaitu 30 menit (W 30’) dan 60 menit (W 60’) dan variasi konsentrasi Rhizopus C1 dalam substrat sorgum mulai dari nol (kontrol) sampai 0,8 persen (b/b protein) pada liquisat yaitu hasil hidrolisis sorgum dengan a-Amylase. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa hidrolisis dengan konsentrasi Rhizopus C1 dan waktu proses hidrolisis yang berbeda berpengaruh terhadap aktifitas proteolitik dan amylolitik Rhizopus C1, total padatan, N-Amino, TDF, protein terlarut dan gula pereduksi hidrolisat. Kondisi optimum hidrolisis berdasarkan TDF tertinggi diperoleh pada konsentrasi Rhizopus C1 0,6 persen (b/b) selama 30 menit (W 30’) dengan peningkatan TDF sebesar 63,021 persen dibandingkan kontrol tanpa penambahan Rhizopus C1 (0 persen).Rhizopus C1 is a culture of the Rhizopus ologosporus isolated from Malang tempe usar and used in fermentation of tempe. Its potential as the source of protease enzyme can be used to hydrolyze sorgum (Sorghum bicolor L. Moench) protein in order to get Dietary Fiber (DF) as the functional food for anti cholesterol and anti constipation.DF does not include protein, so that hydrolysis of protein can be expected to degrade and convert amina groups into amino acids with low molecular weight (MW). Therefore it does not affect the Total Dietary Fiber (TDF). Hydrolysis process was carried out at the concentration of Rhizopus C1 in sorghum substrate varied from zero (control) to 0.8 percent (w/w) onto the liquifisate (sorghum hydrolysate with a-Amylase), with pH of 4.5 and 5.5 and temperature of 60°C for the duration of 30 and 60 minutes.The result demonstrated that the variation of process conditions (Rhizopus C1 concentration and time) affected the proteolytic and amylolytic activities of Rhizopus C1, total solids and reduction of dissolved protein, and the increase of TDF of liquifisate. Based on the highest TDF yield, the optimal condition of protease hydrolysis was reached at Rhizopus C1 concentration 0.6 percent (w/w) for 30 minutes. 
Disain Penilaian Risiko Mutu dalam Rantai Pasok Minyak Sawit Kasar dengan Pendekatan Sistem Dinamis Marimin Marimin; Muhammad Nanda Rahadiansyah
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.183

Abstract

Industri kelapa sawit Indonesia telah tumbuh secara signifikan dalam beberapatahun terakhir dan sejak tahun 2006 menjadi produsen minyak sawit kasar (CPO) terbesar sedunia mengungguli Malaysia. Seiring dengan peningkatan potensi dan permintaan pasar terhadap produk sawit Indonesia, maka kebutuhan fungsi kualitas akan semakin meningkat. Tujuan utama dari penelitian ini adalah merumuskan ukuran kesuksesan manajemen Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina dan merancang model dinamik penilaian resiko mutu CPO sebagai alat bantu dalam mengenal pola penilaian resiko mutu CPO yang diproduksi PKS Adolina. Model dinamik yang dibangun terdiri dari tiga sub-model, yaitu sub-model produksi, sub-model transportasi dan sub-model persediaan. Simulasi pada ketiga sub-model tersebut dapat digunakan untuk merumuskan susunan kebijakan manajemen. Penelitian ini menghasilkan rumusan ukuran kesuksesan manajemen yang terkait dengan ukuran kesuksesan tiap pelaku rantai pasok dan pengembangan simulasi skenario kebijakan, baik skenario dasar, skenario perilaku dinamik dan juga skenario penilaian resiko mutu dimana terdapat parameter probabilistik dan ketidakpastian didalamnya. Ukuran kesuksesan manajemen yang berhasil dirumuskan dalam penelitian ini adalah produksi CPO dan kadar Asam Lemak Bebas (ALB). kata kunci : industri kelapa sawit, rantai pasok, penilaian risiko mutu, probabilitas, model dinamikIndonesian palm oil industry has grown significantly in recent years and since 2006 has surpassed Malaysia to become the world’s largest Crude Palm Oil (CPO) producer. With the ever increasing of potential market and market demands for its palm oil products, Indonesia will need to ensure the highest level of palm oil products quality. The main objectives of this research are to identify the factors for measuring the success of Palm Oil Mills (POM) Adolina’s management and to design a dynamic model as a tool for determining the quality risk assessment pattern of POM Adolina. The dynamic model comprises three sub-models, namely production sub-model, transportation sub-model and inventory sub-model respectively. The results from simulation of this model are then referenced for formulating managerial policies.This research produced theformulation of the most important factors to measure management success, namely the yield of CPO and the level of free fatty acid (FFA) and also generated simulation of managerial policies. To obtain them three scenarios were considered, the basic, the dynamic behavior and the risk assessment scenarios. Probability and uncertainty parameters were considered in the third scenario. 
Analisis Pengambilan Keputusan Manajemen Rantai Pasok Bisnis Komoditi dan Produk Pertanian Marimin Marimin; Alim Setiawan Slamet
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i2.184

Abstract

Manajemen rantai pasok bisnis komoditi dan produk pertanian berbeda dengan manajemen rantai pasok bisnis komoditi non-pertanian, karena: (i) komoditi dan produk pertanian bersifat mudah rusak, (ii) proses penanaman, pertumbuhan dan pemanenan tergantung pada iklim dan musim, (iii) hasil panen memiliki bentuk dan ukuran yang bervariasi, (iv) komoditi dan produk pertanian bersifat kamba sehingga produk pertanian sulit untuk ditangani. Seluruh faktor tersebut harus dipertimbangkan dalam desain manajemen rantai pasok komoditi dan produk pertanian guna mendapatkan sistem rantai pasok yang komprehensif, efektif, efisien, responsif dan berkelanjutan. Manajemen rantai pasok bisnis komoditi dan produk pertanian bersifat kompleks, probabilistik dan dinamis. Konsekuensinya, faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merancang sistem manajemen rantai pasok-nya bersifat kompleks yang memerlukan dukungan analisis pengambilan keputusan yang handal. Beberapa metode analisis pengambilan keputusan yang dapat digunakan dalam kajian pengembangan manajemen rantai pasok komoditas dan produk pertanian antara lain adalah metode Perbandingan Eksponensial (MPE) untuk pemilihan komoditas unggulan, analisis deskriptif rantai pasok dengan pendekatan Asian Productivity Organization (APO), metode Hayami untuk analisis nilai tambah rantai pasok, metode Data Envelopment Analysis (DEA) dan Supply Chain Operation Reference (SCOR) serta Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk analisis pengukuran kinerja manajemen rantai pasok bisnis komoditi dan produk pertanian. Aplikasi teknik dan metode tersebut serta faktor kunci yang mendukung sukses penerapannya berhasil divirifikasi dengan baik pada contoh kasus penilaian kinerja rantai pasok sayuran dataran tinggi.The implementation of agricultural products business supply chain management has a significant difference with the other products in terms of stochastic and dynamic behavior as a result of some factors such as (i) perishable characteristics (ii) seasonal for cultivation, growth and harvesting (iii) various shape and size on final yield (iv) voluminous. These factors should be considered in designing a comprehensive, effective, efficient, responsive and sustainable agricultural products supply chain management. As a consequence, the decision making involved is becoming more complex than common manufacturing application which are pragmatic, deterministic and static. Some of the decision methods for developing and analysing the agriculture product supply chain management discussed in this paper include Exponential comparison method for prospective products selection, Asian Productivity Organization (APO) approach for agricultural products supply chain management descriptive analysis, Hayami method for added value analysis Data Envelopment Analysis (DEA), Supply Chain Operation Reference (SCOR) and Analytic Hierarchy Process (AHP) for agricultural product supply chain management performance analysis. The application of those methods and the corresponding key sucess factors in the implementation have been verified in the case of highland vegetable products supply chain management. 
Teknologi Mikrowave untuk Disinfestasi Beras M.I. Sulaiman M.I. Sulaiman; Irfan Irfan; I.I. Widaiska I.I. Widaiska; Alfizar Alfizarb
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.185

Abstract

Penelitian dilakukan untuk melakukan disinfestasi kutu beras Sitophilus oryzae dengan teknik irradiasi mikrowave sistem batch. Beras diinfestasi dengan 10 ekor S. oryzae dan diaduk secara merata dengan ketebalan tumpukan beras antara 1–4 cm dan diradiasikan dengan gelombang mikrowave dengan daya antara 120–800 Watt selama 30 hingga 1200 detik. Kondisi optimum tercapai pada aplikasi mikrowave dengan menggunakan daya listrik 240 Watt selama 60 detik pada beras dengan ketebalan 1 cm. Pada kondisi ini, suhu beras selama aplikasi akan naik mencapai 60,5oC serta kadar air turun sebesar 3 persen. Energi yang dibutuhkan adalah 26,7 kWh per ton dengan biaya tenaga listrik saja sebesar 24.430 Rupiah per ton. Teknologi mikrowave disimpulkan berpotensi untuk menggantikan fumigasi untuk disinfestasi beras karena disamping ekonomis juga tidak meninggalkan residu kimia serta ramah lingkungan.This study investigates the application of microwave irradiation for batch disinfestation of rice weevil Sitophilus oryzae. Rice was infested artificially with ten rice weevils for each treatment. The infested rice was placed in the microwave oven with a thickness varied from 1 to 4 cm. The rice was irradiated with microwave with a power varied from 120 to 800 Watt for 30 to 1200 seconds. An optimum condition for rice disinfestation was achieved when microwave was applied using a power of 240 Watt for 60 seconds to a bulk of rice with 1 cm thickness. In this condition, the temperature of rice during the application increased up to 60.5oC and the moisture decreased up to 3 percent. Total energy needed for this application was 26.7 kWh per ton. This is similar to an energy cost of about 24,430 Indonesian Rupiah per ton. Microwave technology is concluded to be potential to replace conventional fumigation technology for rice disinfestation because this technology is economically feasible, free from chemical residue in the rice and environmentally friendly.
Peranan Pendekatan Teknologi dan Input Produksi terhadap Produktivitas dan Mutu Hasil Padi Sarlan Abdulrachman
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i4.186

Abstract

Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) maupun System of Rice Intensification (SRI) merupakan pendekatan teknologi padi yang saat ini banyak dikembangkan di Indonesia. Kedua pendekatan ini mempunyai tujuan yang serupa meskipun komponen teknologi yang digunakan tidak semuanya sama. Dalam konsep budidaya SRI, tanaman padi diperlakukan sebagai organisme hidup dengan kesehatan tanah menjadi dasar untuk mendapatkan hasil gabah yang tinggi dan perhatian tentang pemanfaatan pupuk organik menjadi prioritas utama. Sedangkan PTT merupakan upaya bagaimana sumber daya tanaman, lahan dan air dikelola agar mampu memberikan manfaat yang sebesarbesarnya serta dapat menunjang peningkatan produktivitas lahan dan tanaman. Darihasil demontrasi plot terlihat bahwa dengan penggunaan pupuk organik saja (metode SRI) yang dibandingkan dengan penggunaan kombinasi pupuk kimia dan organik (metode PTT) pada tanaman padi memberikan perbedaan hasil yang cukup mencolok, PTT > SRI. Biaya tenaga kerja dan sarana produksi metode SRI jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan metode PTT, sehingga mengakibatkan rasio R/C pada metode SRI juga rendah. Kurangnya pasokan unsur hara P dan K pada metode SRI diduga menyebabkan mutu fisik beras menjadi kurang baik. Mengingat semakin meningkatnya permintaan beras nasional, maka teknologi yang harus dikembangkan adalah yang dapat menjamin kelestarian lingkungan, namun tetap memberikan produksi tinggi untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus pendapatan petani.Integrated Crop Management (ICM) and System of Rice Intensification (SRI) areapproaches of current rice technology that have been developed in Indonesia. Both approaches have similar objectives even though components of the technology used are not all the same. In the concept of SRI, rice is treated as a living organism with the soil fertility as a basic concern to obtain a high grain yield and the use of organic fertilizer is a top priority. While ICM is an attempt how plant, land and water resources are managed in order to provide maximum benefits and support the increased productivity of both land and crops. The demonstration plot shows that the use of only organic fertilizers (SRI method) compared to the combined use of chemical and organic fertilizers (ICM method) on rice results in quite contrast difference, ICM > SRI. Labor costs andinput production of SRI method are much higher than those of ICM method, so that the result of R/C ratio on the SRI method is also low. Due to lack of supply of nutrients P and K on SRI method, it was supposed to become less physical rice quality. Given the increasing national demand for rice, the technology that must be developed is to ensure environmental sustainability, while it can still provide high production to support national food security and farmers’ incomes. 
Kebijakan Sistemik Menuju Pemantapan Ketahanan Pangan Nasional Dahuri Tanjung
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.187

Abstract

Berbagai permasalahan dan tantangan strategis yang akandihadapi daiam mewujudkan ketahanan pangan semakin kompleks. Masalah tersebut antara lain laju permintaan pangan yang lebih cepatdaripada penyediaannya karena peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhanekonomi, peningkatan daya beli masyarakat, dan perubahan selera; kapasitas produksi pangan nasionaltumbuh lambat bahkan stagnan karena adanya koversi dan kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya lahan dan air; stagnasi pertumbuhan produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian; serta terjadinya global warming dan konversi pangan. Untuk itutampaknya perlu terobosan baru berupa kebijakan yang sistemik sebagai solusi dalam mencapai pemantapan ketahanan pangan nasional. Kebijakan sistemik tersebut perlu difokuskan pada upaya mewujudkan kemandirian pangan yang menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, aman, bergizi seimbang dan berkelanjutan, mulai dari tingkatrumah tangga, daerah hingga nasional. Peningkatkan kemandirian pangan tersebut ditujukan untuk mencapai ketahanan pangan nasional yang mantap. Kebijakan sistemik yang diharapkan akan memberi dampak jangka panjang sekaligus jangka pendek. Adapun kebijakan yang berdampak jangka pendek yaitu: (1) Menjamin ketersediaan pangan berbasis produksi dalam negeri (mandiri), (2) Peningkatan produktivitas melalui insentif dan subsidi terarah bagi petani (subsidi benih unggul, pupuk dan kredit usahatani), (3) Pertanian modern, efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta (4) Kebijakan perdagangan yang berpihak kepada kepentingan nasional. Sementara kebijakan yang memberi dampak jangka panjang adalah: (1) perubahan teknologi, (2) ekstensifikasi, (3) jaring pengaman ketahanan pangan, (4) investasi infrastruktur, diversifikasi pangan, dan (5) kebijakan makro pendidikan dan kesehatan.
Reorientasi Kebijakan Perberasan Khudori Khudori
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.188

Abstract

Kebijakan perberasan cenderung terjebak dalam kepentingan jangka pendek. Padahal, tidak mudah meningkatkan produksi padi secara terus-menerus karena usaha tani padi dihadapkan pada sejumlah masalah serius: iklim yang makin kacau, lahan sawah utama yang jenuh dan keletihan (so/7 fatique), rendahnya investasi di bidang infrastruktur pertanian (irigasi, waduk dan jalan), konversi lahan yang tak terkendali, dan penurunan rendemen dan besarnya kehilangan hasil. Dari sisi konsumsi, ketergantungan hampir semua perut warga pada beras membuat pemerintah seperti disandera. Selain harus menyediakan beras dalam jumlah cukup dan terdistribusi merata, harganya juga harus terjangkau kantong. Di sisi lain, harga beras harus tetap menarik agar petani mendapatkan untung. Secara ekonomi usatahani padi sebenarnya masih menguntungkan. Namun, karena penguasaan lahan gurem penghasilan mereka hanya bisa menopang sebagian kecil kebutuhan keluarga. Dari sisi kelembagaan, setelah otonomi daerah garis komando penangangan beras semakin tidak jelas, termasuk penanggung jawab stabilisasi harga. Ini semua menuntut reorientasi kebijakan. Disarankan pemerintah tidak terombang-ambing isu jangka pendek; mengintensifkan insentif non-harga; melakukan reforma agraria dan revitalisasi serta industrialisasi perdesaan; membangun cluster-cluster pangan lokal yang unik; dan merevitalisasi semua kelembagaan pangan yang terkait dengan beras.
Analisis Persepsi, Perilaku Konsumsi dan Preferensi Terhadap Pangan Tradisional (Perception Analysis, Consumption Behavior, and Preference Toward Traditional Food) Eri Purnomohadi; Ujang Sumarwan; Asep Saefuddin; Eva Z Yusuf
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i3.190

Abstract

Tujuan penelitian adalah menganalisis persepsi konsumen terhadap berbagai jenis makanan ringan tradisional, pola konsumsi berbagai jenis makanan ringan tradisional, dan menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi preferensi terhadap makanan ringan tradisional. Dalam studi ini diuji model Preferensi Makanan yang dikembangkan Khan (1981) yang menyatakan preferensi makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor pribadi, pendidikan, biologi dan psikologi, budaya, religi dan regional, ekstriksik dan instrinsik. Sementara faktor pribadi dan pendidikan saling dipengaruhi oleh factor sosial ekonomi. Lokasi penelitian ini berada di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek). Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survey melalui penyebaran kuesioner kepada masyarakat (responden) yang berusia 16-60 tahun sebanyak 503 orang. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara tatap muka. Metode sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah multistage random sampling. Analisis Persamaan Model Struktural atau Structural Equation Modeling (SEM) digunakan untuk menguji faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi konsumen terhadap makanan ringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor biologi dan psikologi (meliputi indikator usia, jenis kelamin, dan pengaruh psikologi), faktor instrinsik (meliputi rasa, aroma, SEM penampilan, dan kualitas makanan), faktor pribadi (meliputi indikator selera, emosi, dan kepribadian) memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap preferensi konsumen dalam memilih dan mengonsumsi makanan ringan tradisional. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor sosialekonomi berpengaruh terhadap faktor pribadi secara signifikan sedangkan faktor pribadi berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi berpengaruh tidak langsung terhadap preferensi konsumen melalui faktor pribadi. Demikian pula dengan faktor ektrinsik yang memiliki hubungan dengan faktor biologi dan psikologi, serta faktor intrinsik. Sedangkanfaktor biologi dan psikologi,serta faktor intrinsik berpengaruh terhadap preferensi konsumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa factor ektrinsik berpengaruh tidak langsung terhadap preferensi konsumen melalui faktor biologi dan psikologi serta faktor intrinsik.The objectives of the study were to analyze the perception, preference, and consumption patternon traditional snack foods and to determine factors influencing consumers'preference on traditional snack foods. The study tested a model of food preferences developed by Khan (1981) which stated that food preference was a function ofpersonal factors, economics, education, biology and psychology, extrinsic and intrinsic factors, cultural, regional andreligious factors. The data were randomly selected from the Greater Jakarta (Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok and Jakarta) in July 2011. The number of samples was 503 respondents. Structural Equation Model was employed to analyze factors influencing preferences toward traditional snack food. The results showed that personalfactors, biology andpsychology, andintrinsic factors had significant effects on consumer preferences toward traditional snack food. Socio economic factors had significant influence on personal factors which meant that socio economic factors had significant indirect effect onconsumerpreferences through their effect onpersonal factor. Similar finding wasalso found in the effect of extrinsic factor which had indirect effect on consumer preferences through their effect of intrinsic factor and biological/psychological factors. 
Strategi Penanggulangan Jebakan Pangan (Food Trap) Sutrisno Sutrisno
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.191

Abstract

Secara nasional, pangan memiliki peranan sangat penting dan kritis sebagai salah satu komponen ketahanan nasional suatu bangsa. Kondisi kemampuan suatu negara untuk memenuhi kebutuhan pangannya dinyatakan dengan istilah ketahanan pangan (food security). Ketahanan pangan adalah suatu kondisi terpenuhinya pangan di tingkat rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik dalam jumlah dan mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dalam kaitan ketahanan pangan, maka jebakan pangan (food trap) berarti food insecurity. Pada dasarnya terdapat4 aspek utama ketahanan pangan nasional yang saling terkait satu sama lain, yakni: (1) Aspek ketersediaan pangan (food availability), (2) Aspek stabilitas ketersediaan / pasokan (stability of supplies), (3) Aspek keterjangkauan (access to supplies), dan (4) Aspek konsumsi (food utilization). Untuk itu Strategi Swadaya Pangan diperlukan seperti "sedia payung sebelum hujan" agar negara memiliki kecukupan pangan yang dapat digunakan pada situasi sulit atau kritis, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusuhan nasional yang berdampak luas. Dengan demikian maka dalam jangka panjang dapat melepaskan diri dari situasi jebakan pangan ditengah-tengah politik dagang internasional dalam era globalisasi ini.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue