cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Pemisahan Eksopolisakarida (Eps) Sebagai Metabolit Bakteri Usus untuk Aditif Makanan dalam Biomassa Pati Sagu {Metroxylon sp.) dan Glukosa melalui Sistem Mikrofiltrasi Sel Berpengaduk (Separation of Exopolysaccharides (Eps) As Colon Bacteria Metabolismfor FoodAdditive in Sago Starch Biomass (Metroxylon sp.) and Glucose through Membrane Cell Microfiltration System) Agustine Susilowati; Aspiyanto Aspiyanto; Achmad Dinoto; Puspa D. Lotulunga
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.203

Abstract

Kultur bakteri usus Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 yang ditumbuhkan pada medium berupa biomassa pati sagu (Metroxylon sp.) menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berpotensi sebagai aditif makanan (pengental, pengemulsi, penstabil, pembawa). Penggunaan pati sagu merupakan alternatif biomassa selain glukosa. Melalui pemisahan dengan sistem membran mikrofiltrasi (MF) 0,15 pm berpengaduk diharapkan EPS dan metabolit lainnya diperoleh dengan konsentrasi lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemisahan EPS hasil pertumbuhan bakteri usus Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 masing-masing dalam media biomassa pati sagu dan sebagai pembanding digunakan biomassa glukosa pada kondisi proses pemurnian tetap (kecepatan putar sel pengaduk 400 rpm, suhu ruang dan tekanan proses 40 psia) terhadap metabolit dengan komposisi terbaiksebagai bahan food aditif. Hasil penelitian menunjukkan bahwajenis biomassa, jenis mikroba dan sistem membran MF berpengaruh terhadap tingkat pemisahan metabolit. Retentat atau konsentrat hasil pemisahan memiliki komposisi dan jumlah mikroba lebih baik daripada permeat atau ekstrak untuk kedua jenis bahan tersebut. Proses membran MF terhadap biomassa glukosa dengan Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 masing-masing mampu menahan EPS sebagai gula reduksi dalam retentat atau konsentrat berturut-turut 73,73 persen dan 47,33 persen, serta pada biomassa pati sagu berturut-turut 95,5 persen dan 83,435 persen apabila dibandingkan dengan total gula reduksi dalam permeat dan retentat atau konsentrat pada masing-masing biomassa. Hasil idensifikasi metabolit melalui LC-MS memperlihatkan bahwa intensitas senyawa monosakarida dalam retentat atau konsentrat lebih tinggi daripada yang terdapat di dalam permeat.Colon bacteria culture of Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 grown on biomass ofsago (Metroxylon sp.) produced exopolysaccharides (EPS) that have an important potential useas food additive (thickener, emulsifier, stabilizer and carrier). The useofsago starch isan alternative biomass beside glucose. By applying the stirred microfiltration membrane (0.15 pm ofpore size) cell, the biomass was separated to get EPS and other metabolites with more optimal concentration. The goal of this experiment was to find out separation effect ofEPS as a result of the growth ofcolon bacteria of Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 in the biomass ofsagostarch. Asa comparison, glucose was used on fixed condition ofpurification process (rotation speed ofstirrer cell of400 rpm, room temperature and pressure of 40 psia) and the best composition of metabolite as food additive agent. The result showed that the type biomass, microbe, and MF membrane system influenced on the level of metabolite separation. The retentate or the concentrate of separation had better composition and microbial count than that of the permeate orextract for both biomasses. The process of MF membrane on glucose biomass with Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 were subsequently able toretain EPSas reducing sugar in the retentate orconcentrate by 73.73 percent and 47.33percent, and the biomass ofsago starch by95.5percent and 83.435 percent when compared to total ofreducing sugar in permeate and retentate or concentrate for each biomass. The result ofmetabolite identification through LC-MS instrument displayed that greater intensity of monosaccharide compound was found in the retentate or concentrate than that of in the permeate. 
Tepung Kasava Termodifikasi Pengembangan Agroindustri (Tepung Bimo-Cf) Suismono Suismono; Misgiarta Misgiarta
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.204

Abstract

Berdasarkan karakteristik tepung kasava termodifikasi yang dapat memperbaiki tekstur produk pangan lebih mengembang dan tidak aroma ubikayu, serta harga tepung tersebut lebih rendah dibanding harga terigu, maka produk ini mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku substitusi tepung terigu di sentra produksi ubikayu. Hasil produksi tepung kasava termodifikasi dari Mitra di Lampung Selatan dengan kapasitas produksi 50 ton tepung kasava termodifikasi per minggu dibeli oleh PT Sentra Food untuk bahan baku substitusi tepung terigu dalam produksi mie instan. Produksi tepung ini telah dikembangkan oleh PT Sentra Food di beberapa lokasi antara lain di Kabupaten Pati dengan kapasitas 150 ton/bulan dan Kabupaten Trenggalek. Pemanfaatan tepung dimaksud sebagai pengganti terigu dapat menunjang program diversifikasi pangan, agribisnis dan ketahanan pangan, terutama pemanfaatan sumber bahan pangan lokal.
Dukungan Iptek Bahan Pangan pada Pengembangan Tepung Lokal Slamet Budijanto
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.205

Abstract

Jumlah dan pertumbuhan penduduk Indonesia saat ini cukup besar, sehingga tidak bisa mengandalkan pemenuhan kebutuhan sumber karbohidrat hanya pada beras. Kesadaran untuk memanfaatkan komoditas pangan lokal sebagai bahan pangan utama sumber karbohidrat pernah ada, seperti jagung di Madura dan sagu di Maluku. Oleh karena itu, peluang untuk mengeksplorisasi sumber karbohidrat non beras untuk pangan pokok bukan suatu hal yang baru. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dengan mendorong tumbuhnya industri tepung berbahan baku lokal. Beragamnya sumber karbohidrat yang berpeluang untuk dijadikan tepung memerlukan dukungan teknologi yang dapat menghasilkan tepung dengan karakteristik yang ungggul dan dapat diterima oleh masyarakat.
Perbanyakan Garut {Maranta arundinacea L.) dari Bibit Cabutan Sisa Panen dengan Aplikasi Berbagai Pupuk Kandang Propagation ofArrowroot (Maranta arundinacea L.) from Post-Harvest Plant Residues with Various Applications of DungManure Ninik Setyowati
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.206

Abstract

Penelitian tentang perbanyakan garut (Maranta arundinacea L) dari bibit cabutan sisa panen dengan aplikasi berbagai pupuk kandang telah dilakukan di kebun percobaan Puslit Biologi LIPI, Cibinong. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial, dua faktor dengan lima kali ulangan. Faktor pertama adalah waktu pemupukan terdiri dari dua taraf yaitu W1= 1x pupuk di awal penanaman, W2= 2x pupuk (awal dan umur empat bulan setelah tanam). Faktor kedua adalah macam pupuk yang digunakan terdiri dari lima taraf pupuk yaitu P1= Kontrol (tanpa pupuk), P2= pupuk kandang kotoran kambing, P3= PK kotoran ayam, P4= PK kotoran sapi, P5= pupuk kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bibit cabutan sisa panen untuk perbanyakan garut menghasilkan pertumbuhan yang baik sama seperti menggunaan bibit dari umbi, sehingga dianjurkan penggunaan bibit cabutan sisa panen untuk perbanyakan garut karena dapat menghemat umbi (3000 - 3500 kg) sebagai bibit per hektar. Pertumbuhan bibit paling cepat terlihat pada pemakaian pupuk kandang kotoran kambing (P2) yang diberikan dua kali daripada perlakuan yang lainnya. Hal ini terlihat pada semua parameter yang diamati tertinggi (tinggi bibit 98,6 cm, jumlah daun 100 helai dan jumlah anakan 8), dan pertumbuhan paling rendah terlihat pada kontrol yang dipupuk 1kali (tinggi bibit 39,6 cm, jumlah daun 28,0 helai), akan tetapi jumlah anakannya (3,2) terlihat sedikit lebih tinggi dari pemupukan satu kali dengan kompos (2,8). Apabila dilihat dari pertumbuhan tinggi tanaman tiap bulannya juga terlihat bahwa peningkatan pertumbuhan bibit garut yang dipupuk dengan pupuk kandang kotoran kambing dengan 2kali pemupukan tertinggi. Frequensi pemupukan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman garut, yaitu dua kali pemupukan lebih baik daripada satu kali pemupukan.A study of propagation ofArrowroot (Maranta arundinacea L) from plant residues after harvest with various applications ofdung manure was conducted at the Experimental Garden of Research Center for Biology LIPI, Cibinong. The Factorial in Randomized Completely Block Design was adopted with two factors and five replications. The first factor was the timing offertilizer application with two levels, i.e. W1 = 1x fertilizer in the early ofplanting and W2 =2x fertilizer (the early and 4 months after planting). The second factor was fertilizer with five levels, i.e. P1 =Control (without fertilizer), P2 =dung manure of goat litter, P3 =poultry manure, P4 =cattle manure, P5 =compost fertilizer. The result showed that the plant residues after harvest for propagating arrowroot produced best growth comparable to the propagation with tuber material. So, it was suggested to use plant material with plant residues after harvest This could save about 3000-3500 kg of tubers for planting material per hectare. The best response on growing of arrowroot was the application of 2 times of dung manure from goat litter (P2). This was shown at all parameters observation, i.e. 98.6 cm ofplant height, 100 sheets ofleaf number, and 8of tillers. The lowest data was seen at control with 1time fertilizer i.e. 39.6 cm ofplant height, 28 sheet ofleaf number, but the clump 3.2 was more amount than compost fertilizer (2.8 of tillers). This treatment was also seen to increase the height of plants by adding arrowroot seedling during observation. The frequency of fertilizer was significant effect on growing of plant vegetative, i.e. twice fertilizer application was better than once application. 
(Dahlia Tubers: Potency, Role, and Prospect of Their Development Ainia Herminiafi) Ainia Herminiafi
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v21i4.207

Abstract

Inulin memiliki sifat teknologis, fisikokimia, dan fisiologis. Sifat fisiologis inulin sangat berperanterhadap kesehatan, diantaranya: sebagai dietary fiber, prebiotik, dan meningkatkan penyerapan kalsium untuk mencegah osteoporosis. Fortifikasi inulin pada produk susu bubuk telah dilakukan oleh industri pangan yang berfungsi untuk meningkatkan penyerapan kalsium secara optimal. Kebutuhan inulin untuk industri pangan masih mengandalkan impor yang bahan bakunya berasal dari umbi chicory. Tanaman yang dapat tumbuh baik di Indonesia sebagai sumber inulin adalah dahlia. Tanaman dahlia dikenal masyarakat karena bunganya yang indah. Potensi umbinya sebagai sumber inulin masih perlu dikembangkan. Pengembangan tanaman dahlia sebagai sumber inulin diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan fungsional atau fortifikan dan meningkatkan nilai ekonomis bahan pangan lokal.Inulin has technological, physicochemical, and physiological properties. The physiological properties of inulin greatly contribute to the health, including: as a dietary fiber, prebiotics, and to increase the absorption of calcium so as to prohibit osteoporosis. Inulin fortification of milk powderhas been done by the foodindustry to increase its optimal calcium absorption. The need of inulin made from chicory root for thefoodindustry has been metthrough imports. Dahlia plants which growwell in Indonesia arepotential sources of inulin. Dahlia plants are known by the public as ornamental plants because they have beautiful flowers. The potential use of their tubers as the source of inulin needs to be exploited and developed. Development of dahlia plants as a source of inulin is expected to reduce dependence on functional food or fortificant imports and increase the economic value of local foods. 
Seasoning Berprobiotik : Inovasi Fungsional Savory dari Kacang Merah {Phaseolus Vulgaris L.) Terfermentasi oleh Rhizopus PI19 melalui Mikrofiltrasi Sri Moemiati
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.208

Abstract

Perolehan produk pangan probiotik sebagai flavor gurih (savory) memungkinkan konsumsi probiotik secara inovatif. Seasoning berprobiotik adalah pekatan/konsentrat hasil pemurnian biomassa probiotik yang mengandung Bakteri Asam Laktat (BAL) dari campuran Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus dan metabolitnya dengan substrat berupa kacang merah terfermentasi oleh kapang Rhizopus-PL19 sebagai kaldu nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu proses pemurnian optimal biomasa probiotik melalui membran microfiltrasi 0,2 um dengan berbagai parameter processing terhadap komposisi dan jumlah BAL terbaik yang mendukung peranannya sebagai ingredient probiotik dengan rasa dasar gurih (umami). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu proses, maka pemisahan makin sempuma untuk untuk BAL, padatan kering, protein terlarut, lemak, garam tetapi kurang sempuma untuk total asam, gula pereduksi, total protein dan N-Amino, serta meningkatkan kandungan total solid, total asam, lemak, total protein namun menurunkan N-Amino dan fluks permeat. Sedangkan garam dan jumlah bakteri asam laktat cenderung tetap dalam retentat. Retentat mempunyai komposisi yang lebih baik dari pada permeat. Berdasarkan jumlah BAL dan efisiensi proses, waktu pemekatan 180 menit adalah optimal dalam menghasilkan konsentrat sebagai probiotik savory.
Perkembangan Situasi Konsumsi Pangan dan Penerapan Pedoman Umum Gizi Seimbang di Indonesia Handewi P. S. Rachman
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.209

Abstract

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat konsumsi pangan penduduk belum sepenuhnya mengacu pada PUGS, namun demikian perkembangannya menuju ke arah yang lebih baik. Kondisi tersebut terjadi di wilayah desa maupun kota dan di kelompok rumah tangga dengan pendapatan rendah, sedang maupun tinggi. Untuk meningkatkan status kesehatan dan gizi masyarakat maka Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) PUGS masih sangat diperlukan. Bagi kelompok pendapatan rendah KIE perlu diikuti upaya perluasan kesempatan kerja dan berusaha untuk meningkatkan pendapatan dan daya beli serta akses terhadap pangan yang dibutuhkan Untuk kelompok pendapatan sedang-tinggi, penekanan KIE adalah pada aspek pentingnya mengkonsumsi pangan sesuai aturan normatif kesehatan sehingga tidak pada kondisi gizi berlebih yang dapat memicu munculnya penyakit degeneratif. Selain itu, diperlukan perbaikan di sisi konsumsi dan permintaan yang disertai dengan upaya perbaikan keanekaragaman di sisi produksi dan ketersediaan pangan dalam jenis, jumlah. dan kualitas sesuai kebutuhan penduduk. Tulisan ini bertujuan untuk membahas perkembangan situasi konsumsi pangan masyarakat dikaitkan dengan penerapan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS), faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan konsumsi pangan, dan saran terkait dengan upaya penerapan PUGS. Data utama yang digunakan adalah data Susenas (tahun 1999, 2002 dan 2005) yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta review dari beberapa studi yang terkait.
Diet Makanan untuk Penyandang Autis Ainia Herminiati
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.211

Abstract

Penyandang autis di Indonesia diperkirakan jumlahnya meningkat mengingat bahwa sudah banyak anak-anak di sekeliling kita yang menderita autisme (Kasran, 2003), walaupan belum ditemukan jumlah yang pasti karena belum banyak hasil penelitian tentang autisme dan sulitnya memperoleh data. Data perkiraan terakhir yang dilaporkan oleh Universa Medicina (2003), mengenai prevalensi autisme menunjukkan angka 16 per 10.000, tetapi angka prevalensi ini meningkat menjadi 63 per 10.000 bila diperhitungkan semua bentuk kelainan yang termasuk dalam spektrum autisme. Gejaia dan tingkat berat ringannya autisme sangat bervariasi. Oleh karena itu, terapi gizi anak autis seharusnya sangat individual dan tidak bisa diseragamkan. Intervensi diet yang dapat membantu memperbaiki kondisi kesehatan anak autis secara umum adalah menghindari makanan yang mengandung gluten, kasein, dan food additives. Karena banyak penyandang autis memiliki ketidakmampuan dalam mencerna gluten dan kasein, di mana gluten adalah protein dari tepung terigu dan hasil olahannya. Sedangkan kasein adalah protein dari susu dan hasil olahannya. Food additives yang biasa digunakan adalah monosodium glutamat (MSG), untuk beberapa bahan pangan olahan yang berfungsi sebagai penambah rasa. Juga pewarna makanan dan pemanis sintetik tidak diperbolehkan dalam makanan bagi penyandang autis. Pada prinsipnya, terapi gizi yang dapat dilakukan untuk penyandang autis adalah pemberian vitamin B6 dalam bentuk pyridoxal 5-fosfat, serta menghindari makanan yang mengandung gluten, kasein, monosodium glutamat, gula sintetis aspartam, dan pewarna makanan.
Trend Teknologi Mikrowave pada Industri Pertanian Muhammad Ikhsan Sulaiman
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i2.212

Abstract

Tren penggunaan mikrowave semakin meningkat dan berpotensi untuk diaplikasi pada industri pangan pertanian. Teknologi mikrowave menjadi unggul karena kemampuannya untuk membangkitkan panas dengan sangat cepat dan efisien. Berbeda dengan pemanasan konvensional, mikrowave membangkitkan panas dari dalam produk itu sendiri sehingga cocok digunakan dalam teknologi pengeringan, pasteurisasi atau sterilisasi dan pada produk pertanian dalam proses fumigasi menggantikan fumigasi kimiawi. Biaya aplikasi teknologi mikrowave pun cukup bersaing jika dibandingkan teknologi konvensional.
Rantai Pasokan Jagung di Daerah Sentra Produksi Indonesia Novi Ardiani
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v18i1.213

Abstract

Jagung hingga saat ini masih merupakan tanaman pangan kedua dan serealia yang penting di Indonesia sesudah beras. Tingkat penggunaan jagung tertinggi adalah untuk pakan ternak (unggas) yaitu berkisar antara 45 - 55% dari suplai jagung. Berdasarkan Statistik Indonesia tahun 2007, tiga besar propinsi penghasil jagung di Indonesia yaitu Jawa Timur (34% dari produksi nasional), Jawa Tengah (15,9% dari produksi nasional), dan Lampung (9,9% dari produksi nasional). Permasalahan dalam rantai pasokan jagung di tiga wilayah produksi pada umumnya hampir sama. Permasalahan tersebut adalah: (1) teknologi pra dan pasca panen masih tertinggal; (2) tingkat pengelolaan usaha tani jagung masih lemah; (3) ketergantungan terhadap impor; dan (4) belum giatnya penelitian dan pengembangan serta penerapan hasil di lapangan untuk mendukung teknologi pra dan pasca panen pada skala nasional. Jika Bulog akan mengambil peran dalam perdagangan jagung, yang terbaik adalah penugasan pemerintah kepada BULOG untuk membeli jagung petani sebagaimana penugasan membeli gabah/beras petani. Jika bukan merupakan penugasan, BULOG harus mempunyai modal yang kuat dan sumber daya yang mampu bersaing dengan para pedagang pengumpul besar di lapangan, serta mengakar sampai ke petani.

Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue