cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN BERAS RENDAH INDEKS GLISEMIK Rimbawan, Rimbawan
JURNAL PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.17 KB) | DOI: 10.33964/jp.v16i1.276

Abstract

Sebagai sumber energi utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia peran karbohidrat yang berasal dari beras selain zat gizi yang lain dapat dikaji dari indeks glisemiknya mengingat beragamnya proses pengolahan beras. Tulisan ini diharapkan dapat menjelaskan tentang fungsi beras sebagai bahan pangan yang berpeluang besar untuk dapat dimanfaatkan dalam berbagai kondisi gizi masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa diantara beberapa faktor yang menentukan indeks glisemik, kandungan amilosa dan amilopektin beras, serta teknologi pengolahan beras merupakan hal yang penting untuk diperhatikan agar dihasilkan produk dengan IG (Indeks Glisemik) yang diharapkan. Peningkatan kadar amilosa dan teknologi pengolahan yang meningkatkan kadar "resistant starch" akan menurunkan indeks glikemik.
Pemupukan dan Jarak Tanam/Populasi Tanaman Optimal untuk Peningkatan Produktivitas Jagung di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan syafrudddin, syafruddin syafruddin
JURNAL PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1380.324 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i3.375

Abstract

Untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usahatani jagung antara lain adalah dengan pemupukan dan jarak tanam/populasi yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk merekomedasikan   pemupukan N, P, dan K serta  jarak tanam/populasi   tanaman yang optimal pada sentra pengembangan jagung di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.    Penelitian dilaksanakan pada bulan April – Juli 2016.  Pemupukan dan jarak tanam/populasi optimal diperoleh dengan menggunakan program Pemupukan Jagung Spesifik Lokasi (PUJs)  berdasarkan data rata-rata produktivitas yang diperoleh petani,   sifat fisik dan kima tanah, pengelolaan tanaman, pemupukan di tingkat petani, dan target/peluang hasil  pada masing-masing sentra pertanaman jagung pada setiap kecamatan di Kabupaten Bone. Pemupukan direkomendasikan jika mempunyai Marginal Rate Return (MRR)>100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemupukan jagung optimal   di Kabupaten Bone adalah 150-170 kg N,  47 - 57 kg P2O5,  29- 63 kg K2O, dan 0 – 24 kg S per hektar dengan nilai MRR 219 - 450% dan dapat menaikkan hasil 2,9 – 3,7 t/ha. jarak tanam 70 cm x 20 cm, 60 cm x 25 cm, dan 80 cm x 18 cm dengan Populasi otpimal 66.666 – 71.429 tanaman/ha. Hasil penelitian ini layak diterapkan karena mempunyai nilai MRR 219-450%. Penerapan hasil penelitian ini akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi, tetapi juga menghasilkan pendapatan, keuntungan, dan R-C ratio lebih tinggi dibanding yang dilakukan petani saat ini.
Screening Varietas Padi Lokal Kalimantan Tengah Terhadap Serangan Sitophilus oryzae selama Penyimpanan (Screening of Local Rice Varieties from Central Kalimantan to Sitophilus oryzae Attack During Storage) Kamsiati, Elmi; Darmawati, Emmy; Haryadi, Yadi
JURNAL PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.316 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i2.82

Abstract

Beras merupakan komoditas penting, karena merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia termasuk di propinsi Kalimantan Tengah. Selama penyimpanan, beras dapat rusak, baik karena pengaruh lingkungan maupun serangan hama pascapanen. Sitophilus oryzae merupakan serangga hama pascapanen yang banyak menyerang beras selama penyimpanan, menyebabkan susut bobot dan kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi resistensi dari beberapa varietas beras lokal Kalimantan Tengah. Delapan varietas beras diuji terhadap serangan S.oryzae. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks perkembangan yang paling rendah terdapat pada varietas Siam Jurut, diikuti oleh Siam Palun, Siam Palas dan Bayar Pahit yang menjadi varietas resisten. Siam Unus memiliki nilai indeks perkembangan yang medium. Sedangkan varietas Rantul, Siam Pandak dan Karang Dukuh memiliki indeks perkembangan yang tinggi. Setelah penyimpanan, kelompok resisten mimiliki persentase susut bobot dan biji berlubang yang rendah dibanding kelompok yang rentan.Rice is an important commodity as it is the staple food of most of the Indonesian people, including in the regions of Central Kalimantan. During storage, the rice can be damaged due to environmental factors as well as postharvest pest. Sitophilus oryzae is postharvest insect pest that attacks rice during storage causing quantity and quality losses. The objective of this research is to screen resistance of several local rice varieties of Central Kalimantan. Eight rice varieties were tested against S.oryzae. The result of this research shows that the lowest index of susceptibility was Siam jurut, followed by Siam palun, Siam palas, and Bayar Pahit which were resistant varieties. Siam unus had a medium index of susceptibility. Rantul, Siam pandak and Karang dukuh had a high index of susceptibility. After storage, the resistant group had lower quantity losses, lower amount of damaged grains, and lower moisture contents than those classified in the susceptible group. 
Akselerasi Implementasi Hasil Penelitian dan Pengembangan untuk Swasembada Kedelai (Acceleration of Implementation of Research and Development Results for Soybean Self-Supporting) Pawiroharsono, Suyanto
JURNAL PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v24i3.238

Abstract

Program swasembada kedelai telah berlangsung lebih dari dua dekade, namun sampai dengan tahun 2014, belum dapat diwujudkan. Berbagai permasalahan mendasar belum dapat diselesaikan, sehingga produksi kedelai justru cenderung menurun dan impor terus meningkat. Penelitian dan pengembangan kedelai sudah banyak dilakukan dan telah menghasilkan teknologi dan produk teknologi yang berpotensi untuk mendukung peningkatan produksi kedelai. Teknologi dan produk teknologi yang dimaksud utamanya adalah benih unggul dan pupuk hayati. Sejumlah benih unggul (sekitar 25 varietas) berpotensi untuk produksi kedelai dengan produktivitas lebih dari 2,5 ton per hektar, dan mempunyai sifat toleran terhadap berbagai cekaman di lahan sub-optimal dan akibat perubahan iklim. Demikian pula berbagai jenis pupuk hayati dan pupuk organik yang secara khusus diperuntukkan untuk peningkatan produksi kedelai di berbagai jenis lahan sub-optimal. Namun kenyataan di lapangan teknologi dan produk teknologi tersebut baru sedikit yang dapat diimplementasikan di tingkat petani dan digunakan untuk produksi komersial. Oleh karena itu, diperlukan akselerasi implementasi hasil litbang melalui media intermediasi yang dapat memfasilitasi terciptanya jalinan komunikasi, kerjasama antar pihak-pihak terkait, yaitu peneliti, petani, mitra usaha dan pemerintah untuk bersinergi dalam upaya peningkatan produksi kedelai dan swasemda kedelai. Pola budidaya kedelai ke depan perlu diarahkan pada pola budidaya yang ekonomis dan maju yang antara lain menerapkan model “estate crop” di lahan sub-optimal yang didukung dengan mekanisasi yang memadai.Soybean self-supporting programs have been carried out for more than two decades, however, they were just realized in 2014. A number of basic constraints (such as functional shift of soybean field, and availability of superiority of soybean seeds) have not been overcome, so that the soybean production tends to decline and the soybean import tends to increase. A lot of research and development programs have been done and have resulted in potential technologies and technological products, which are potencially increasing soybean productivity. The technologies and technological products are mainly superior soybean seeds and biofertilizers. A number of superior soybean seeds (about 25 varieties) are potential to produce more than 2.5 ton per hectar, and are tolerant vis a vis to many types of stresses in sub-optimal land and climate changes. Several biofertilizers and organic ferlilizers are also specially used for soybean plant productivity in sub-optimal land. In fact, the technologies and technological product are still limited to be implemented by soybean farmers and to be used in commercial production. Consequently, the implementation of research and development needs to be accelerated by intermediation which could facilitate networking, communication and collaboration among stakeholders (researchers, farmers, enterpreneurs and government) for sinergizing in increasing soybean productivity and soybean selfsupporting. Further, the soybean farming should be done to economic farming model in form of “estate crop” in sub-optimal land and supported by appropriate mechanization.
Efisiensi dan Prospektif Usaha Tani Ubi Jalar (Studi Kasus Desa Petir, Dramaga, Jawa Barat, Indonesia) Asmarantaka, R.W.
JURNAL PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (961.903 KB) | DOI: 10.33964/jp.v26i1.348

Abstract

Ubi jalar merupakan salah satu sumber pangan utama setelah beras dan ubi kayu yang mempunyai potensi ekonomi untuk dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah i) untuk menganalisis tingkat efisiensi teknis, alokatif, dan ekonomi usaha tani ubi jalar; ii) untuk mempelajari faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi produksi ubi jalar; dan iii) untuk mendeskripsikan prospek pengembangan usaha tani ubi jalar. Analisis data dilakukan dengan menggunakan fungsi produksi Cobb Douglass stochastic frontier dan fungsi biaya dual frontier. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha tani ubi jalar Desa Petir telah efisien secara teknis dengan nilai rata-rata sebesar 0,95, namun belum efisien secara alokatif (0,61) dan ekonomi (0,57). Faktor yang berpengaruh nyata terhadap inefisiensi teknis adalah pendidikan, umur, proporsi pendapatan ubi jalar, keikutsertaan kelompok tani, modal usaha tani, varietas ubi jalar dan dummy irigasi. Usaha tani ubi jalar sangat prospek untuk dikembangkan karena mempunyai tingkat keuntungan dan produktivitas yang tinggi, serta permintaan ubi jalar yang terus meningkat.
Karakteristik Mutu Gizi Dan Diversifikasi Pangan Berbasis Sorgum (Sorghum vulgare) Widowati, Sri
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (693.698 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.170

Abstract

Sorgum merupakan bahan pangan pokok di negara semi tropis baik di Afrika maupun Asia. Konsumen sorgum sering diidentikkan dengan masyarakat marginal. Padahal komoditas ini mempunyai keunggulan komparatif mutu gizi terhadap serealia lainnya. Sorgum, sebagai bahan pangan pokok tidak hanya menyumbang kalori, tetapi juga protein, vitamin dan mineral. Sorgum mengandung karbohidrat (±70 persen ), protein (8-12 persen) setara dengan terigu atau lebih tinggi dibandingkan dengan beras (6-10 persen), dan lemak (2-6 persen) lebih tinggi dibandingkan dengan beras (0,5-1,5 persen) dan terigu (2 persen). Sorgum mengandung berbagai mineral esensial, seperti P, Mg, Ca, Fe, Zn, Cu, Mn, Mo dan Cr. Faktor genetik sangat berpengaruh terhadap komposisi gizi dan kimia dan sifat fungsional. Kendala utama dalam pemanfaatan sorgum sebagai bahan pangan adalah penyosohan dan kendala ini sudah dapat diatasi. Sorgum sosoh (beras sorgum) dapat dikonsumsi sebagai mana layaknya nasi, maupun aneka produk bentuk butiran (brondong/pop soghum, renginang, tape, wajik). Tepung sorgum dapat sebagai substitusi pendamping tepung beras dan terigu, untuk diolah menjadi aneka pangan tradisional, cake dan cookies. Saat ini sudah dikembangkan produk sorgum instan (nasi sorgum instan, bubur dan sereal sarapan).Sorghum is a kind of staple food in semi-tropical countries both in Africa and Asia. The consumers of sorghum are often associated with the marginalized communities. However, this commodity has a comparative advantage in nutrition quality compared to other cereals. Sorghum contributes not only calories, but also protein, vitamins and minerals. Sorghum contains carbohydrate (± 70 percent); protein (8-12 percent) which is equal to that of wheat flour or higher than that of rice (6-10 percent); and fat (2-6 percent) which is higher than that of rice (0.5-1.5 percent) and wheat (2 percent). Sorghum contains many essential minerals, such as P, Mg, Ca, Fe, Zn, Cu, Mn, Mo and Cr. Genetic factors affect the nutritional and chemical composition as well as functional properties. The main problem in the utilization of sorghum as a food ingredient is polishing, which has already been resolved. Polished sorghum can be consumed as cooked rice, as well as various snack foods based on grain ingredients (brondong/popped sorghum, renginang, tape, wajik). Sorghum flour as an alternative food and the substitute of rice and wheat flour can be processed into a variety of traditional foods, cakes and cookies. Now, some instant sorghum products (sorgum instant rice, porridge and breakfast cereals) have already been developed. 
Aplikasi Konsorsium Mikrob Filosfer dan Rizosfer Untuk Meningkatkan Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Padi Application of Phyllosphere and Rhizosphere Microbial Consortium to Improve Rice Growth and Production Aksarah Pas, Aris; Sopandie, Didy; Trikoesoemaningtyas, Trikoesoemaningtyas; Santosa, Dwi Andreas Santosa
JURNAL PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (795.849 KB) | DOI: 10.33964/jp.v24i1.39

Abstract

Pendekatan secara biologi, memanfaatkan konsorsium mikrob filosfer dan mikrob rizosfer merupakan langkah alternatif mengurangi dampak negatif penggunaan pupuk sintetik, untuk mencapai produksi padi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari peran konsorsium mikrob filosfer dan mikrob rizosfer terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Penelitian dilakukan mulai bulan Januari hingga Mei 2014, di Green House Indonesian Centre For Biodiversity and Biotecnology, Bogor. Dalam penelitian ini digunakan konsorsium mikrob terbaik hasil seleksi, yaitu konsorsium mikrob filosfer Fm48 dari daun tumbuhan Emmerrilia ovalis Miq Dandy dan konsorsium mikrob rizosfer R15 dari rizosfer tumbuhan Physalis angulata L. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor, yang terdiri atas tiga perlakuan, yaitu : pemberian pupuk N sintetik setengah dosis anjuran yaitu 30 N/ha, pemberian pupuk N sintetik sesuai dosis anjuran, yaitu 60 kg N/ha dan pemberian kombinasi konsorsium mikrob filosfer Fm48 dan mikrob rizosfer R15 dengan diberi pupuk N sintetik setengah dosis anjuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, aplikasi kombinasi konsorsium mikrob dengan pemberian pupuk N sintetik setengah dosis anjuran, meningkatkan jumlah anakan, bobot kering tanaman, jumlah anakan produktif dan bobot segar malai setara dengan pemberian pupuk N sintetik sesuai dosis anjuran. Biological approach, by utilizing phyllosphere and rhizosphere microbial consortium, offers n alternative method to avoid the negative impact of synthetic fertilizer to the environment to achieve higher rice production. This research aims to study the role of phyllosphere and rhizosphere microbial consortium on the growth and yield of rice plants. The study was conducted from January to May 2014 in Green House Indonesian Centre For Biodiversity and Biotechnology, Bogor. Microbial consortium of phyllosphere Fm48 from plant leaves Emmerrilia ovalis Miq Dandy and microbial consortium of rhizosphere R15 from plant rhizosphere Physalis angulata L. are selected for this study. This research is designed in randomized block design with one factor, which consists of three treatments, namely: half recommended dose of synthetic N fertilizer (30 kg N/ha), recommended dose of Synthetic N fertilizer (60 kg N/ha), and a combination of microbial consortium of phyllosphere and rhizosphere microbes plus half recommended dose of synthetic N fertilizer. The results show that the applications of microbial consortium combined with half of recommended dose of synthetic N fertilizer, increases the number of tillers, plant dry weight, number of productive tillers, and panicles fresh weight equivalent to the use of recommended dosage of synthetic N fertilizer. 
Pemisahan Eksopolisakarida (Eps) Sebagai Metabolit Bakteri Usus untuk Aditif Makanan dalam Biomassa Pati Sagu {Metroxylon sp.) dan Glukosa melalui Sistem Mikrofiltrasi Sel Berpengaduk (Separation of Exopolysaccharides (Eps) As Colon Bacteria Metabolismfor FoodAdditive in Sago Starch Biomass (Metroxylon sp.) and Glucose through Membrane Cell Microfiltration System) Susilowati, Agustine; Aspiyanto, Aspiyanto; Dinoto, Achmad; Lotulunga, Puspa D.
JURNAL PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1224.818 KB) | DOI: 10.33964/jp.v21i4.203

Abstract

Kultur bakteri usus Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 yang ditumbuhkan pada medium berupa biomassa pati sagu (Metroxylon sp.) menghasilkan eksopolisakarida (EPS) yang berpotensi sebagai aditif makanan (pengental, pengemulsi, penstabil, pembawa). Penggunaan pati sagu merupakan alternatif biomassa selain glukosa. Melalui pemisahan dengan sistem membran mikrofiltrasi (MF) 0,15 pm berpengaduk diharapkan EPS dan metabolit lainnya diperoleh dengan konsentrasi lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemisahan EPS hasil pertumbuhan bakteri usus Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 masing-masing dalam media biomassa pati sagu dan sebagai pembanding digunakan biomassa glukosa pada kondisi proses pemurnian tetap (kecepatan putar sel pengaduk 400 rpm, suhu ruang dan tekanan proses 40 psia) terhadap metabolit dengan komposisi terbaiksebagai bahan food aditif. Hasil penelitian menunjukkan bahwajenis biomassa, jenis mikroba dan sistem membran MF berpengaruh terhadap tingkat pemisahan metabolit. Retentat atau konsentrat hasil pemisahan memiliki komposisi dan jumlah mikroba lebih baik daripada permeat atau ekstrak untuk kedua jenis bahan tersebut. Proses membran MF terhadap biomassa glukosa dengan Lactobacillus sp. FU-0811 dan Enterobacter sp. FU-0813 masing-masing mampu menahan EPS sebagai gula reduksi dalam retentat atau konsentrat berturut-turut 73,73 persen dan 47,33 persen, serta pada biomassa pati sagu berturut-turut 95,5 persen dan 83,435 persen apabila dibandingkan dengan total gula reduksi dalam permeat dan retentat atau konsentrat pada masing-masing biomassa. Hasil idensifikasi metabolit melalui LC-MS memperlihatkan bahwa intensitas senyawa monosakarida dalam retentat atau konsentrat lebih tinggi daripada yang terdapat di dalam permeat.Colon bacteria culture of Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 grown on biomass ofsago (Metroxylon sp.) produced exopolysaccharides (EPS) that have an important potential useas food additive (thickener, emulsifier, stabilizer and carrier). The useofsago starch isan alternative biomass beside glucose. By applying the stirred microfiltration membrane (0.15 pm ofpore size) cell, the biomass was separated to get EPS and other metabolites with more optimal concentration. The goal of this experiment was to find out separation effect ofEPS as a result of the growth ofcolon bacteria of Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 in the biomass ofsagostarch. Asa comparison, glucose was used on fixed condition ofpurification process (rotation speed ofstirrer cell of400 rpm, room temperature and pressure of 40 psia) and the best composition of metabolite as food additive agent. The result showed that the type biomass, microbe, and MF membrane system influenced on the level of metabolite separation. The retentate or the concentrate of separation had better composition and microbial count than that of the permeate orextract for both biomasses. The process of MF membrane on glucose biomass with Lactobacillus sp. FU-0811 and Enterobacter sp. FU-0813 were subsequently able toretain EPSas reducing sugar in the retentate orconcentrate by 73.73 percent and 47.33percent, and the biomass ofsago starch by95.5percent and 83.435 percent when compared to total ofreducing sugar in permeate and retentate or concentrate for each biomass. The result ofmetabolite identification through LC-MS instrument displayed that greater intensity of monosaccharide compound was found in the retentate or concentrate than that of in the permeate. 
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PADI TERINTEGRASI BERWAWASAN LINGKUNGAN Bantacut, Tajuddin
JURNAL PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.376 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i2.297

Abstract

Industri pengolahan padi (sederhana, kecil, menengah dan besar) menghadapipermasalahan penanganan limbah. Hampir semua penggilingan padi menumpuk sekam di sekitar bangunan. Semakin hari jumlahnya bertambah. Pembuangan sulit dilakukan karena keterbatasan tempat dan biaya yang besar. Penggunaan untuk bahan bakar (bata, pengering) masih sangat terbatas. Akibatnya, muncul berbagai persoalan lingkungan seperti estetika, bau dan sumber penyakit, Pendekatan terpadu dalam pengolahan padi, yakni menggunakan semua bagian bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk dalam satu lini, dapat mengurangi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi. Makalah ini membahas berbagai konsepsi dan dampak lingkungan, teknologi pengolahan padi, dan pemanfaatan hasil samping sebagai satu industri terpadu.
Pendapatan Usahatani Padi Hibrida dan Padi Inbrida di Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat (Farm Income of Hybrid Rice and Inbred Rice in Bogor Regency, West Java Province) Qhoirunisa, Astri Sabrina; Nurmalina, Rita
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.143 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.135

Abstract

Beras adalah komoditas pangan pokok masyarakat Indonesia. Kebutuhan yang tinggi terhadap beras menjadi dasar penting bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi dan produktivitas padi nasional melalui program ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Peningkatan produktivitas melalui intensifikasi pertanian salah satunya diwujudkan melalui penanaman padi hibrida. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan keragaan usahatani, menganalisis pendapatan usahatani, termasuk imbangan penerimaan dan biaya (R/C rasio) usahatani padi hibrida dan padi inbrida di Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan pendapatan atas biaya tunai per hektar per musim pada usahatani padi hibrida sebesar Rp 8.265.583,- sedangkan pada usahatani padi inbrida sebesar Rp 8.875.299,-. Pendapatan atas biaya total per hektar per musim pada usahatani padi inbrida sebesar Rp 2.660.588,- sedangkan pada usahatani padi hibrida pendapatan atas biaya total bernilai negatif yang berarti petani padi hibrida mengalami kerugian sebesar Rp 235.003,-. Nilai R/C rasio atas biaya tunai pada usahatani padi hibrida sebesar 2,15 sedangkan pada usahatani padi inbrida sebesar 2,40. Nilai R/C rasio atas biaya total pada usahatani padi hibrida sebesar 0,99, sementara pada usahatani padi inbrida senilai 1,21.Rice is a staple food in Indonesia. Increasing demand for rice becomes an important base for rice farming in Indonesia to increase national rice production and productivity through extensification and intensification of agricultural programs. One way to increase productivity through intensification program is planting hybrid rice. The purposes of this study are to describe the variability of rice farming activities and to analyze farm income, including the ratio between revenue and cost of hybrid and inbred rice farming in Bogor regency. The results show that the income generated based on cash costs per hectare per season on hybrid rice farming is Rp 8,265,583 while for the inbred rice farming is Rp 8,875,299. Income generated based on total costs per hectare per season for inbred rice farming is Rp 2,660,588 while for the hybrid rice farming is negative; meaning that hybrid rice farmers suffer a loss of Rp 235,003. Value of R/C ratio based on cash cost on hybrid rice farming equals to 2.15, while for the inbred rice farming is 2.40. The value of R/C ratio based on total cost of the hybrid rice farming equals to 0.99, while for the inbred rice farming is 1.21. 

Page 4 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue