cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL PANGAN
ISSN : 08520607     EISSN : 25276239     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
PANGAN merupakan sebuah jurnal ilmiah yang dipublikasikan oleh Pusat Riset dan Perencanaan Strategis Perum BULOG, terbit secara berkala tiga kali dalam setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 807 Documents
Model Perkiraan Kebutuhan Pasokan Beras untuk Program Raskin (Studi Kasus pada Perum BULOG Subdivisi Regional Cianjur) Models to EstimateRice SupplyNeededfor Raskin (Case Study at Perum BULOG ofRegional Subdivision Cianjur) Sartika, Ria; Darmawati, Emmy; Rachmat, Ridwan
JURNAL PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.993 KB) | DOI: 10.33964/jp.v23i3.66

Abstract

Permintaan distribusi beras yang tidak beraturan dan tidak dapat diprediksi menjadi unsur ketidakpastian pada rantai pasokan beras untuk Program Raskin. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah kerja BULOG tidak dapat menentukan kebutuhan pasokan secara pasti di setiap bulannya, salah satunya adalah Subdivre Cianjur. Tujuan penelitian ini adalah membuat perkiraan kebutuhan pasokan pada kondisi ketidakpastian permintaan distribusi menggunakan pendekatan metode simulasi Monte Carlo. Hasil simulasi membuktikanbahwa semakin terlambat waktu dalam penerbitan SPA Raskin Kabupaten/Kota dan semakin besar jumlah tunggakan dalam pembayaran HP-Raskin cenderung akan meningkatkan ketidakpastian penyediaan dan semakin besar jumlah pasokan. Kondisi ketidakpastian permintaan distribusi terendah membutuhkan pasokan minimal sebesar 194.308 ton per tahun, sedangkan kondisi ketidakpastian permintaan distribusi tertinggi membutuhkan pasokan sebesar 319.025 ton per tahun atau sebesar 1,6 kali dari rencana Pagu Raskin Kabupaten/Kota tahun 2012.Demand distribution ofrice for Raskin Program is irregularand unpredictable and it causes uncertainty to rice supply chain for Raskin Program. This obstacle make some BULOG regional areas cannot determine the adequate amount of rice to meet the distribution need every month. One of this area is Subdivre Cianjur. This research is aimed to estimate rice supply need under the uncertainty demand condition using Monte Carlo simulation. Simulation results prove that the late time of the issuance of SPA Raskin and the greater the amount ofpayment arrears of the HP-Raskin tend to increase the amount of rice supply needs. Estimated minimum supply is 194.308 tons per year, while the amount of stock required is 319.025 tons per year, or 1,6 times the plan of Pagu Raskin in 2012 that is needed to anticipate uncertainty at rice supply chain for Raskin Program. 
SITUASI PERBERASAN NASIONAL DAN PROSPER TAHUN 2008 Masyhuri, Masyhuri
JURNAL PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.093 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i1.228

Abstract

Produksi beras dari tahun ke tahun masih menunjukan kenaikan. Meskipun terjadi alih lahan dari sawah ke nonsawah dan non pertanian. Denganperdagangan bebas, harga dasar tidak harus dicerminkan dengan HPP tetapi dengan mekanisme penerapan tariff dan atau quota, harga dalam negeri dapat diatur. Harga sepanjang tahun 2007 relatif stabil, ketersediaan terjamin sehingga tidak terdapat permasalahan perberasan yang berarti. Konsumsi beras per kapita Indonesia masih tinggi. Menurut FAO-OECD, konsumsi beras per kapita Indonesia tertinggi ketiga setelah Vietnam dan Bangladesh. Perkembangan harga beras dunia ini membantu pemerintah dalam mempertahankan harga, sehingga harga beras tidak terlalu rendah. Keadaan ini sebenarnya merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan produksi dan pendapatan petani. Konsumsi beras per kapita masih sangat tinggi, tertinggi nomor tiga di dunia, karena itu program diversifikasi pangan perlu ditingkatkan. Diversifikasi pangan tidak hanya untuk makanan pokok saja tetapi juga untuk lauk pauk dan makanan ringan. Oleh karena itu Perum Bulog perlu memperkuat Devisi Regionalnya agar dapat menjalankan fungsi privat dan publiknya secara dinamis dan smart.
Pengaruh Ukuran Partikel terhadap Sifat Fisikokimia Tepung Ampas Tapioka Kaya Serat Futiawati, Ranti
JURNAL PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v25i3.334

Abstract

Tapioca cake is solid residue from tapioca extraction process consists of high fiber and remaining non-extracted starch. Tapioca cake can be used as a source of fiber-rich food ingredient. The researchwas aimed to analyze the effect of particle size and washing frequency of ground tapioca cake on physicochemical properties of the resulted flour. The flour was prepared by grounding the tapioca cake usingdisc mill, sieved to different particle size (40–60, 60–80, 80–100, and >100 mesh) and then washed withdifferent frequencies (without washed (0), washed 1, 2, 3, 4, 5, and 6 time). The physicochemical propertiesof flour evaluated were moisture content, starch content, total dietary fiber content, and rheologicalproperties. The results showed that different particle size of ground tapioca cake with and washing frequencyinfluenced the starch content, total dietary fiber content, and rheological properties of tapioca cakeflour. Ground tapioca cake with particle size of 60–80 mesh and washed four times resulted in the flour withmoisture, starch, and total dietary fiber content of 9,81, 27,36, and 44,12 percent; respectively, and withrheological properties of peak viscosity of 3266 cP, breakdown viscosity of 801 cP, and setback viscosityod 1725 cP.
Faktor Iklim Pada Budidaya Tebu Lahan Kering Pramuhadi, Gatot
JURNAL PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1872.839 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i4.160

Abstract

Harga gula pasir, yang sekarang sudah mencapai lebih dari Rp 12.000,-/kg nampak semakin sulit dikendalikan Harga gula yang semakin menggiurkan tersebut akan memicu perusahaan-perusahaan gula nasional meningkatkan produktivitas tebu (Tonne Cane Per Hectare :TCH) dan rendemen giling supaya diperoleh produktivitas gula (Tonne Sugar per Hectare:TSH) tinggi sehingga diperoleh keuntungan besar. Produksi tebu merupakan fungsi dari tanaman, tanah, iklim, dan tindakan budidaya. Faktor iklim adalah faktor yang tidak bisa dimanipulasi sehingga merupakan salah satu faktor penting yang sangat perlu untuk dipertimbangkan pada budidaya tebu lahan kering. Di beberapa lokasi pabrik gula di Indonesia dilaporkan bahwa TCH, rendemen giling, dan TSH mengalami penurunan akibat pengaruh iklim, yaitu akibat bergesernya (mundur) saat turun hujan pada masa pemeliharaan tebu dan hujan yang masih turun dengan curah hujan cukup tinggi pada saat panen (tebang) tebu. Saat turun hujan yang terlambat menyebabkan tanaman tebu mengalami kekeringan dan berupaya untuk bertahan hidup dengan cara mengurangi/membatasi penguapan, seperti menutup stomata daun, dan memperlambat pertumbuhan tanaman (ditandai dengan ruas-ruas tebu yang pendek) sehingga pada saat dipanen akan dihasilkan TCH rendah. Hujan yang masih turun ketika musim panen tebu menjadi penyebab utama turunnya rendemen giling dan tidak terangkutnya tebu tebang karena mobilitas kendaraan-kendaraan angkut yang sangat rendah pada kondisi tanah becek yang mengakibatkan turunnya TSH dan kapasitas giling (Tonne Cane per Day:TCD). Disamping itu, penggunaan mesin-mesin tebang tebu juga tidak bisa efektif akibat kondisi tanah tidak mendukung untuk pengoperasian mesin-mesin tersebut. Dengan demikian, perlu ditataulang perencanaan dan teknik budidaya tebu lahan kering, termasuk mekanisasi, guna mengantisipasi dampak perubahan iklim yang dapat mempengaruhi besaran TCH, rendemen giling, TSH, dan TCD.Sugar price was seemed more and more complicated controlled, that now it achieved more than Rp 12,000,00/kg. The fantastic sugar price would initiate national sugar companies to increase sugarcane productivity (TCH) and yield mill in order to achieve high sugar productivity (TSH) so that the companies would obtain big profit. Sugarcane production was as a function of plant, soil, climate, and cultivation effort. Climate factor was non-manipulated factor so that it was one of important factor that must be considered on dry land sugarcane cultivation. In several locations of sugarcane factories in Indonesia, it reported that the decreasing of TCH, yield mill, and TSH were caused by climate impact that is caused by late rainy season on sugarcane maintenance activities and big precipitations during sugarcane harvesting season. The late rainy season caused draught period for sugarcane plants and it attempt to survive by decreased or restricted its evaporation, for example it closed its leaves stomata and it decelerated its growth (which it signed by short stem sections) so that it would caused low sugarcane productivity. The rain during harvesting season would be main factor for yield mill decreasing and harvested sugarcane could not be loaded because of very low vehicles mobility on wet soil surface conditions that caused decreasing of sugar productivity and milling capacity (TCD). Beside that, sugarcane harvester machines could not be applied effectively as a result of wet soil conditions could not support for that machines operation. It can be concluded that it must be rearranged for dry land sugarcane cultivation planning to anticipate climate alteration impact that can influence TCH, yield mill, TSH, and TCD achievements. 
Goncangan Iklim Mengancam Ketahanan Pangan Nasional Amien, Istiqlal; Runtunuwu, Eleonora; Susanti, Erni; Surmaini, Elza
JURNAL PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1011.875 KB) | DOI: 10.33964/jp.v20i2.30

Abstract

Kebutuhan pangan meningkat pesat dengan bertambahnya penduduk dan perbaikan ekonomi. Penduduk juga telah lebih banyak menempati perkotaan yang sebagian besar di hilir sehingga mengurangi ketersediaan air bagi pertanian. Sementara produksi pangan yang telah terkendala oleh alih fungsi lahan pertanian yang dipercepat kebijakan transportasi dan tajamnya kompetisi penggunaan air yang diperparah oleh keragaman dan perubahan iklim. Peran Jawa sebagai pemasok utama beras nasional sudah semakin melemah, sehingga perlu dicari pusat pertumbuhan pangan baru. Mengantisipasi tantangan ini perlu dikaji dan dikembangkan potensi pangan tradisional yang kurang dimanfaatkan maupun yang telah terlupakan. Riset perlu terus dipacu untuk meningkatkan manfaat sumberdaya maritim yang lebih luas dari daratan untuk produksi pangan dan pengembangan varietas baru yang lebih efisien menggunakan air dan karbon. Teknologi pangan dari hulu ke hilir perlu cepat didiseminasikan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang telah berkembang pesat untuk meningkatkan ketahanan pangan.Rapid rise of food requirement has been driven by not only increasing population but also improving welfare. More people now live in urban areas located mostly in the downstream areas that reduce the water supplies for agricultural production. Meanwhile, food production is already constrained by agricultural lands conversion, by inappropriate transportation policy and by tighter water competition that is exacerbated by climate anomaly and climate change. The decreasing role of Java as the national rice supplier requires the development of new food production centers in outer islands. To anticipate the challenge, traditional food crops which are either underutilized or neglected must be assessed and more developed. Researches on potential utilization of maritime resources, that are larger than the terrestrial ones for food production, can be developed to become more efficient by using water and carbon. Food technology, from the up-streams to downstreams, has to be rapidly disseminated by using more appropriately state-of-the-art information technology to enhance food security. 
INDUSTRI GULA RAFINASI DI INDONESIA; ANALISIS STRUKTUR PASAR DAN KEBIJAKAN Pelitasari Sari, Lely
JURNAL PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.793 KB) | DOI: 10.33964/jp.v15i1.288

Abstract

Beberapa tahun terakhir industri gula yang pernah menjadi primadona di Indonesia menunjukkan adanya ketimpangan antara produksi dan konsumsi. Implikasinya adalah terjadi peningkatan jumlah impor gula dalam jumlah yang cukup signifikan. Pada sisi lain, seiring dengan perkembangan ekonomi negara-negara di dunia, konsumsi gula untuk industri mengalami peningkatan relatif yang lebih tinggi dari pada konsumsi rumah tangga. Dalam konteks kebijakan perdagangan Indonesia, kecenderungan ini direspon antara lain dengan diaturnya tarif impor bagi gula kristal mentah (raw sugar) dan gula rafinasi (refined sugar) sebagai bahan pemanis bagi industri. Pada perkembangannya beberapa kebijakan terhadap gula rafinasi dinilai telah melahirkan realitas yang berbeda dari yang diharapkan dan diduga akan mengakibatkan distorsi pada industri ini. Dengan dasar pemikiran tersebut tulisan ini disusun untuk menganalisis perkembangan industri ini di Indonesia melalui pendekatanstruktur industri dan kebijakan pemerintah terhadap industri ini dalam kaitannya dengan kebijakan perlindungan kepentingan petani, konsumen tingkat rumah tangga dan mendorong persaingan usaha yang sehat antar industri
Determinan Inovasi Teknologi dan Kebijakan Pengembangan pada Industri Pangan (Determinants of Technological Innovation and Development Policy in Food Industry) Harianto, Harianto; Vidyatmoko, Dyan; Rosadi, Husni Yasin
JURNAL PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.437 KB) | DOI: 10.33964/jp.v22i4.124

Abstract

Inovasi teknologi memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi di negara maju, namun demikian, kajian faktor-faktor yang menentukan inovasi teknologi di Indonesia masih terbatas. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi industri pangan dan merumuskan alternatif kebijakan dalam meningkatkan inovasi teknologi pada industri pangan. Penelitian menggunakan metode analisis regresi 2 SLS (Two Stage Least Square) dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat enam faktor yang mempengaruhi inovasi teknologi pada industri pangan. Faktor tersebut meliputi kepemimpinan, sumberdaya manusia, orientasi pembelajaran, kemampuan perusahaan dalam memberikan insentif, hubungan kerjasama perusahaan dengan pihak luar dan lokasi perusahaan. Berdasarkan hasil tersebut, didapat enam alternatif kebijakan untuk mengembangkan inovasi teknologi di industri pangan. Tiga prioritas kebijakan adalah mendorong terjadinya alih teknologi dengan lebih banyak memberikan pelatihan teknologi bagi karyawan perusahaan, mendorong dan memfasilitasi diklat bagi pimpinan perusahaan, menyelenggarakan kompetisi hasil inovasi, melakukan kebijakan alih teknologi dalam setiap pembelian mesin/peralatan serta membangun sentra/kawasan industri terpadu.Despite the fact that technological innovation and its role in the economic growth of developed countries have been much studied, but there is only little knowledge about the factors that determine technological innovation in Indonesia. Objectives of this study are to analyze the factors that effect innovation in the food industry in Indonesia and to recommend the policy alternative for technological innovation development in food industry. Analytical methods used to achieve the research objective are regression analysis with 2 SLS (Two Stage Least) method and qualitative analysis. The results show that there are six factors that influence technological innovation in the food industry. The determinants include the style of leadership, human capital, learning orientation, the company’s ability to provide incentives, company relationships with outsiders and corporate location. This implies that there are six possibilities of policy in order to promote technological innovation in food industry. 
Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Pangan Lokal Berbasis Umbi-Umbian Suismono, Suismono
JURNAL PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.642 KB) | DOI: 10.33964/jp.v17i3.266

Abstract

Masalah pangan, Indonesia masih tergantung pada beras dan terigu, maka perludikembangkan pemanfaatan bahan pangan alternatif/ pangan lokal sebagai sumber karbohidrat baik untuk bahan pengganti makanan pokok beras atau bahan substitusi tepung terigu. Umbi-umbian sebagai sumber karbohidratdan sumber bahan pangan lokal secara teknis mempunyai peluang sebagai komoditas komersial, khususnya untuk bahan baku produk-produk olahan pangan. Diantara hasil tanaman umbi-umbian yang siap memenuhi kebutuhan dan telah dibudidayakan adalah ubikayu dan ubijalar. Sedangkan jenis umbiumbian lainnya (ganyong, garut, gadung, uwi, talas, kimpul, iles-iles dan suweg) masih mempunyai peluang yang besar untuk dibudidayakan dan memenuhi kebutuhan pasar secara kontinyu. Pemanfaatan teknologi pengolahan umbi-umbian masih perlu digalakkan baik untuk produk makanan tradisional dari bahan umbi segar, maupun untuk produk setengah jadi (bentuk irisan/chip kering, tepung dan pati)dan produkolahan siap saji dari bahan tepung umbi-umbian agar lebih membuka peluang pasar yang lebih luas. Prospek yang nyata dalam rangka membuka wirausaha adalah pemanfaatan pati ganyong, pati garut dan tepung Bimo-CF, serta tepung Bimo-SF sebagai bahan baku produk biskuit dan cookies sampai 100% pengganti terigu (mengurangi impor gandum yang telah mencapai rata-rata 4 juta ton per tahun).
Pengaruh Penggunaan Hidrokoloid Terhadap Kualitas Mi Non Gandum Ratnawati, Lia
JURNAL PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.386 KB) | DOI: 10.33964/jp.v27i1.401

Abstract

Mi non gandum adalah mi yang dibuat dari tepung-tepungan selain terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan hidrokoloid terhadap kualitas mi non gandum. Tiga jenis hidrokoloid yang digunakan adalah guar gum, CMC dan karagenan. Evaluasi produk mi meliputi kadar air, profil gelatinisasi (pasting temperature, viskositas puncak, breakdown, final dan setback), cooking quality (cooking time, cooking weight dan cooking loss), elongasi, dan tekstur (hardness, adhesiveness, springiness dan cohesiveness). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis hidrokoloid yang ditambahkan pada proses pembuatan mi non gandum berpengaruh terhadap profil gelatinisasi dan cooking quality mi, namun tidak berpengaruh terhadap tekstur mi. Penambahan guar gum 2 persen menghasilkan mi dengan viskositas puncak dan viskositas breakdown paling tinggi yaitu 4.753 cP dan 1.624 cP yang memberikan mi dengan tekstur paling lunak. Perlakuan ini juga membutuhkan cooking time paling cepat yaitu 10,75 menit dengan cooking loss paling rendah yaitu sebesar 7,49 persen.
Upaya Mengurangi Tingkat Kerusakan Buncis Pada Proses Transportasi Darmawati, Emmy
JURNAL PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1249.98 KB) | DOI: 10.33964/jp.v19i3.149

Abstract

Sumber pangan selain padi adalah sayuran. Buncis merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi untuk pemenuhan gizi masyarakat. Produk segarnya mudah rusak pada proses transportasi, sehingga diperlukan penanganan yang tepat dalam transportasi dan pasca transportasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan terhadap mutu buncis setelah dilakukan transportasi. Selama transportasi, buncis dikemas dengan dua cara yaitu kemasan curah (bulk) dan retail (eceran) dari asal produsen. Untuk cara curah (bulk) pada saat sampai ke konsumen dikemas ulang dalam bentuk kemasan retail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kualitas dan kuantitas, kemasan yang cocok untuk transportasi buncis segar adalah kemasan retail (kombinasi kemasan styrofoam + keranjang). Secara ekonomis, kemasan curah (keranjang dan kantong plastik) masih mungkin digunakan untuk transportasi jarak dekat, sedangkan untuk transportasi jarak jauh akan lebih menguntungkan apabila langsung menggunakan kemasan retail. Berdasarkan analisa biaya, pada tingkat harga jual buncis Rp 2.500/kg introduksi kemasan yang layak diterapkan adalah kemasan PE + keranjang. Sedangkan untuk kemasan keranjang, plastik dan kombinasi styrofoam + plastik film dengan keranjang akan layak diterapkan pada tingkat mulai dari harga jual Rp 4.900/kg.Green bean is type of vegetable that is consumed much to a accomplish community nutrition. Green beans are fresh products that can be easily damaged during transportation process, thus need proper handling during and post transportation. The objective of this study was to determine the influence of packaging types to the quality of the fresh beans after transportation. During the transportation from the original sources, the beans were packeged in two forms: bulky and retail packaging. In the bulky form, the beans were subsequently package in the form of retail packaging and directly displayed to end user. The results shown that in term of quality and quantity, suitable packaging for transport of the fresh green beans were in retail form (a combination of styrofoam packaging + plastic container). In the economic point of few, bulky form (plastic container and plastic bags). could be considered to be continually used for short-distance transport. But, for long-distance transport it would be more advantageous when the beans were packed in the retail form. On the basis of cost-benefit analysis, on the selling price beans of 2.500 IDR (Indonesian Rupiah)/kg, suitable packaging was the combination of PE + plastic container. While plastic container, plastic bag, and combination of styrofoam + plastic film would be reasonably apply when the level of the salling price was 4.900 IDR/kg. 

Page 5 of 81 | Total Record : 807


Filter by Year

2006 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 34 No. 2 (2025): PANGAN Vol. 34 No. 1 (2025): PANGAN Vol. 33 No. 3 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 2 (2024): PANGAN Vol. 33 No. 1 (2024): PANGAN Vol. 32 No. 3 (2023): PANGAN Vol. 32 No. 1 (2023): PANGAN Vol. 31 No. 3 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 2 (2022): PANGAN Vol. 31 No. 1 (2022): PANGAN Vol. 30 No. 3 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 2 (2021): PANGAN Vol. 30 No. 1 (2021): PANGAN Vol. 29 No. 3 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 2 (2020): PANGAN Vol. 29 No. 1 (2020): PANGAN Vol 29, No 1 (2020): PANGAN Vol. 28 No. 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 3 (2019): PANGAN Vol 28, No 2 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 2 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol. 28 No. 1 (2019): PANGAN Vol 28, No 1 (2019): PANGAN Vol 27, No 3 (2018): Vol 27, No 3 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 3 (2018): PANGAN Vol 27, No 2 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 2 (2018): PANGAN Vol 27, No 1 (2018): PANGAN Vol. 27 No. 1 (2018): PANGAN Vol 26, No 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 3 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 2 (2017): PANGAN Vol 26, No 2 (2017): PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN Vol 26, No 1 (2017): PANGAN Vol. 25 No. 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol 25, No 3 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 2 (2016): PANGAN Vol 25, No 1 (2016): PANGAN Vol. 25 No. 1 (2016): PANGAN Vol 24, No 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 3 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 2 (2015): PANGAN Vol 24, No 1 (2015): PANGAN Vol. 24 No. 1 (2015): PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 3 (2014): PANGAN Vol 23, No 2 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 2 (2014): PANGAN Vol 23, No 1 (2014): PANGAN Vol. 23 No. 1 (2014): PANGAN Vol. 22 No. 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 4 (2013): PANGAN Vol 22, No 3 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 3 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 2 (2013): PANGAN Vol 22, No 1 (2013): PANGAN Vol. 22 No. 1 (2013): PANGAN Vol. 21 No. 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol 21, No 4 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 3 (2012): PANGAN Vol 21, No 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 2 (2012): PANGAN Vol. 21 No. 1 (2012): PANGAN Vol 21, No 1 (2012): PANGAN Vol 20, No 4 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 4 (2011): PANGAN Vol 20, No 3 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 3 (2011): PANGAN Vol 20, No 2 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN Vol 20, No 1 (2011): PANGAN Vol. 20 No. 1 (2011): PANGAN Vol. 19 No. 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 4 (2010): PANGAN Vol 19, No 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 2 (2010): PANGAN Vol 19, No 2 (2010): PANGAN Vol. 19 No. 1 (2010): PANGAN Vol 19, No 1 (2010): PANGAN Vol 18, No 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 4 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 3 (2009): PANGAN Vol 18, No 2 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 2 (2009): PANGAN Vol 18, No 1 (2009): PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN Vol. 17 No. 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 3 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 2 (2008): PANGAN Vol 17, No 1 (2008): PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN Vol 16, No 1 (2007): PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 2 (2006): PANGAN Vol 15, No 1 (2006): PANGAN Vol. 15 No. 1 (2006): PANGAN More Issue