cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
Jnana Budaya
ISSN : 14105195     EISSN : 14105195     DOI : -
Core Subject :
Jnana Budaya merupakan seri penerbitan Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB, NTT. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diterbitkan secara berkala dua kali dalam setahun. Jnana Budaya merupakan sebuah wadah untuk memberikan ruang dalam menyampaikan gagasan ataupun bersifat informasi berkaitan dalam bidang sejarah, sosial,dan budaya. Fokus dari Jurnal Jnana Budaya merupakan hasil pemikiran yang original dan aktual dalam tataran konsep ataupun dalam wujud yang sifatnya praktisi. Kata Jnana berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti pengetahuan, sedangkan budaya merupakan konstruksi dari pola kehidupan masyarakat. Secara harfiah Jnana Budaya berarti pengetahuan tentang kebudayaan yang berkembang ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
DAMPAK GALIAN C TERHADAP LINGKUNGAN ALAM DAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DESA PERINGSARI KECAMATAN SELAT KABUPATEN KARANGASEM Wayan Sudarma, I
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.522 KB)

Abstract

Usaha galian C pada dasarnya memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat di sekitar proyek galian tersebut. Kegiatan ini membuka lapangan kerja bagi mereka sehingga dapat menambah penghasilan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya. Berbagai jenis pekerjaan tersedia seperti mengumpulkan batu, pasir, koral, ngosek (meratakan pasir di atas truk), dan sebagainya yang dapat dilakukan oleh laki-laki ataupun para wanita. Hasilnya dapat dirasakan secara langsung, karena pada saat itu juga jasa dari kerjanya dapat diterima. Di sisi lain, kegiatan galian C di desa Peringsari dan desa Sebudi membawa dampak yang sangat luas terhadap kehidupan masyarakat setempat. Positifnya sangat dirasakan dalam bentuk peningkatan ekonomi keluarga, negatifnya hancurnya lingkungan hidup di lokasi galian dan rusaknya jalan yang dilalui truk-truk pengangkut material. Jalan yang rusak dilalui truk-truk pengangkut material mengakibatkan rawan kecelakaan bagi pengendara kendaraan kecil seperti mobil dan sepeda motor. Terjadinya ekspansi atau perluasan penggalian ke lahan-lahan yang masih produktif dan hilangnya nuansa pedesaan yang identik dengan ketenangan berubah menjadi kebisingan akibat lalu-lalangnya truk-truk besar pengangkut material.
Permukiman Tradisional Orang Basemah di Kota Pagaralam Leonard Arios, Rois
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1797.336 KB)

Abstract

Sistem pengetahuan lokal sebuah suku bangsa merupakan salah satu warisan budaya intengible yang diwujudkan dalam berbagai benda maupun kebijakan yang mengatur anggota suku bangsa tersebut dengan mengacu kepada pranta-pranata yang ada. Salah satu wujud dari sistem pengetahuan lokal tersebut adalah permukiman tradisional. Permukiman mencerminkan simbol-simbol budaya suku bangsa pemiliknya yang diwujudkan dalam pemanfaatan lahan, pembuatan rumah, dan sistem kepercayaan yang mengatur prilaku masyarakatnya. Tulisan ini menggambarkan permukiman orang Besemah yang didasarkan sistem kepercayaan yang dibuat oleh tokoh mitologi Serunting Sakti. Pola permukiman yang memusat dan melingkar menjadi simbol yang diwujudkan pada ragam hias di rumah baghi.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KURIKULUM 2013 ., Hartono
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.162 KB)

Abstract

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang mengembangkan nilai-nilai budaya dan karakter pada diri peserta didik sehingga menjadi dasar bagi mereka dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengembangkan dirinya sebagai individu, anggota masyarakat, dan warganegara. Pendidikan karakter pada dasarnya adalah pengembangan nilai-nilai yang berasal dari pandangan hidup atau ideologi bangsa Indonesia, agama, budaya, dan nilai-nilai yang terumuskan dalam tujuan pendidikan nasional.Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan, telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab. Aplikasinya adalah dengan mengitegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam seluruh kegiatan di sekolah.Karakter bangsa merupakan hal yang sangat esensial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karakter akan senantiasa menjadi ruh dan kekuatan bangsa untuk menghadapi setiap perkembangan, termasuk tantangan dunia global. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus diperjuangkan sekuat tenaga. Terlebih lagi dengan Kurikulum 2013 yang mengedepankan pendidikan budi pekerti diharapkan membentuk insan yang cerdas dan berkarakter.
KONFLIK TANETE DENGAN BELANDA DI SULAWESI SELATAN 1824 Amir, Muhammad
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.474 KB)

Abstract

Kajian ini bertujuan mengungkap dan menjelaskan konflik antara Kerajaan Tanete dengan pemerintah kolonial Belanda 1824. Metode yang digunakan adalah metode sejarah, yang menjelaskan suatu persoalan berdasakan perspektif sejarah. Prosedurnya terdiri atas heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi dalam bentuk kisah. Hasil kajian menunjukkan bahwa benih-benih konflik yang telah tumbuh sejak zaman VOC, kembali bergolak ketika Belanda kembali dan mulai menata kedudukan dan kekuasaan pemerintahan kolonialnya di Sulawesi Selatan. Oleh karena Belanda bukan hanya mendesak Tanete untuk melepaskan kekuasaan atas daerah-daerah yang diduduki, seperti Segeri, Labbakang, Pangkajene, dan Maros, tetapi pemerintah kolonial Belanda juga memaksakan pembaharuan Kontrak Bungaya kepada Tanete. Penolakan Tanete atas semua tuntutan itu, mendorong Gubernur Jenderal Van der Capellen memutuskan untuk melancarkan ekspedisi militer terhadap Tanete. Meskipun Tanete memberikan perlawanan atas serangan itu, namun mereka akhirnya harus menerima kenyataan tunduk di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda.
MAKNA TRADISI PERANG API DI PURA LUHUR DUASEM, DESA SUBAMIA KABUPATEN TABANAN Ketut Sudharma Putra, I
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.744 KB)

Abstract

Tradisi perang api merupakan salah satu tradisi yang ada di provinsi Bali.Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat di beberapa desa di Bali, salah satu di antaranya, dilaksanakan di pura Luhur Duasem, desa Subamia, kabupaten Tabanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, serta teknik pengumpulan data berupa : observasi, wawancara, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tradisi perang api yang dilaksanakan di pura Luhur Duasem, sudah dilaksanakan sejak jaman dahulu, dan merupakan warisan nenek moyang. Tradisi perang api, dilaksanakan pada hari anggara kasih tambir nuju purnama (perhitungan berdasarkan kalender Bali). Sebelum acara pelaksanaan, dilakukan persiapan terlebih dahulu, seperti : persiapan berbagai sarana dan prasarana, membentuk kelompok, serta mempersiapkan tempat untuk penyelenggaraan tradisi. Pelaksanaan tradisi perang api, mengandung makna bagi kehidupan masyarakat, khususnya bagi masyarakat pendukungnya. Adapun makna pelaksanaan tradisi perang api, antara lain; makna kesejahteraan, makna sosial, dan makna budaya.
PERANAN MITOS BAGI KELESTARIAN CAGAR BUDAYA DI DESA HANGGIRA, LEMPE, DAN BARIRI, KECAMATAN LORE UTARA, KABUPATEN POSO Wayan Nitayadnya, I
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.622 KB)

Abstract

Mitos memiliki peran bagi kelestarian benda cagar budaya di situs yang ada di Desa Hanggira, Lempe, dan Bariri. Penelitian ini berupaya mengungkap keberadaan mitos yang berkembang di seputar areal situs yang ada di tiga desa tersebut dan mengungkap nilai dan peranan mitos bagi kelestarian tinggalan arkeologis. Metode penelitian yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan, survey, deskriptif analitik, dan penyajian secara naratif. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa mitos yang berkembang di areal situs yang terdapat di tiga desa tersebut pada umumnya mengisahkan tentang peristiwa ketokohan dan peristiwa terjadinya suatu tempat yang dianggap pernah terjadi pada masa lampau. Tinggalan cagar budaya dalam situs-situs itu diyakini sebagai bukti fisik dari peristiwa sejarah. Nilai-nilai yang terdapat dalam mitos-mitos adalah nilai historis, solidaritas, patriotisme, dan edukatif. Mitos-mitos itu juga memiliki peran dalam menjaga kelestarian benda cagar budaya yang ada di situs-situs tersebut, yakni sebagai media untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan sejarah kolektifnya, menumbuhkan solidaritas sosial, menumbuhkan kebaggaan mereka akan kepahlawan leluhurnya, dan menumbuhkan kesadaran mereka akan perbuatan negatif yang telah dilakukan oleh leluhurnya. Adanya kesadaran, kebanggaan, dan keyakinan masyarakat ketiga desa itu memberikan dampak positif terhadap kelestarian tinggalan budaya megalitik yang ada di sana. Sampai saat ini masyarakat ketiga desa itu secara bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya leluhur mereka itu.
ARUNG PALAKKA: PENGKHIANATKAH DIA? ., Rismawidiawati
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.181 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui apakah Arung Palakka adalah seorang pengkhianat. Tulisan ini termasuk tulisan sejarah politik yang disajikan secara deskriptif analitis dengan menggunakan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Menganalisa masa lalu dengan memakai kacamata sekarang dapat menyesatkan kita dalam memahami masa lalu. Demikianlah yang terjadi pada diri Arung Palakka yang sampai sekarang dianggap pengkhianat oleh sebagian orang. Kata pengkhianat yang dituduhkan kepadanya adalah a-historis, karena kata pengkhianat sebenarnya dapat dirujuk pada tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang merongrong kekuasaan pemerintahan yang berdaulat, sedangkan diketahui bahwa pada waktu itu pemerintahan yang sah atau berdaulat belum ada. Setting abad XVII di Sulawesi Selatan adalah pertarungan politik untuk saling menguasai, yang kuat menguasai yang lemah sedangkan yang lemah berusaha membina kerjasama untuk membangun kekuatan melawan yang kuat.
INCES DALAM KEHIDUPAN SOSIAL RELIGIUS MASYARAKAT BALI Nyoman Duana Sutika, I; Gusti Ngurah Jayanti, I
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.26 KB)

Abstract

Inces sosial religius dipahami sebagai larangan tata kehidupan sosial masyarakat Bali terhadap prilaku kehidupannya yang diatur dalam dresta dan sima (kebiasaan) masyarakatnya. Tata nilai tersebut sampai saat ini masih tetap dipertahankan, diyakini dan ditaati oleh anggota masyarakat Bali. Ketaatan ini didasari oleh adanya keyakinan dan persepsi masyarakat atas konsekuensi sosial religius yang ditimbulkan bagi pelanggarnya. Dengan demikian masyarakat Bali senantiasa menjadikan tri hita karana sebagai payung kearifan lokal di dalam segala aspek kehidupan sosial religiusnya, yakni menjaga hubungan yang selaras dan harmonis dengan pencipta (Tuhan), sesama, dan alam lingkungannya. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera dan damai bagi kelangsungan hidup masyarakatnya.
MITOS KEPERCAYAAN DESA ADAT SIDETAPA, KECAMATAN BANJAR, KABUPATEN BULELENG, BALI Made Purna, I
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.282 KB)

Abstract

Satu di antara identitas masyarakat desa adat Sidetapa yang masih dipertahankan saat ini adalah mitos-miots kepercayaan. Mitos-mitos yang dimaksud yaitu 1). Mitos Rsi Markandeya, 2). Mitos Khayangan Batu Kerotok, 3). Mitos Parhyangan Kayuan Mas, 4). Mitos Maya Denawa, mitos rombongan raksasa, mitos pelarian tentara Majapahit, 4). Mitos Pura Petirtan, 5). Mitos Pura Rambut Unggahang (Tunggang), 6). Mitos Pura Munduk, 7). Mitos Pura Puseh. Fungsi dari mitos-mitos tersebut dijadikan jastifikasi untuk memohon perlindungan dan keselamatan. Karena selama ini tempat yang mereka tempati adalah wilayah angker (tenget). Masyarakat desa adat Sidetapa percaya bahwa mitos tersebut bukan buatan manusia melainkan Ida Penembahan sebutan lain dari Sang Hyang Widhi. Fenomena kepercayaan ini sangat penting untuk di kaji dalam rangka untuk menyandingkan dalam kehidupan global dan mederenisasi serta pemurniaan ajaran keagamaan besar manusia. Penelitian ini dikaji melalui konsep mitos, teori struktur dan dialektika dari Claude levis Strauss. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jenis mitos-mitos kepercayaan yang ada di desa adat Sidetapa, dan tujuan untuk mengetahui fungsi dari setiap mitos dan ritualnya.
MAKNA SOSIOKULTURAL PARIBASA BALI DALAM SENI PERTUNJUKAN DRAMA GONG LAKON KALUNG BERLIAN Ayu Putu Aridawati, Ida
Jnana Budaya: Media Informasi dan Publikasi Sejarah dan Nilai Tradisional Vol 19, No 2 (2014): Edisi Agustus 2014
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.848 KB)

Abstract

Tulisan ini mengkaji makna sosiokultural paribasa Bali dalam seni pertunjukan drama gong di Bali, lakon Kalung Berlian. Masalah yang dibahas meliputi jenis paribasa Bali dan makna sosiokultural paribasa Bali bertujuan untuk mendeskripsikan jenis paribasa Bali dan makna sosiokultural. Teori yang digunakan, yaitu teori sosiolinguistik. Dalam pengumpulan data digunakan metode pengamatan dan metode wawancara, dibantu dengan teknik catat, teknik rekam, teknik transkripsi, dan terjemahan. Dalam analisis data digunakan metode deskriptif sinkronis. Untuk penyajian hasil analisis data digunakan metode formal dan informal, dibantu dengan teknik induktif dan deduktif. Berdasarkan hasil pembahasan, seni pertunjukan drama gong lakon Kalung Berlian terdapat dua belas jenis paribasa Bali, yaitu sesonggan, sesenggakan, wewangsalan, sesawangan, bebladbadan, seloka, raos ngempelin, pepindan, sesimbing, cecangkitan, peparikan, dan sesemon. Jenis-jenis paribasa Bali yang disampaikan dalam dialog antarpemainnya menyiratkan makna sosiokultural, seperti: perbandingan, perumpamaan, sindiran, ejekan, pujian, pengharapan, ajakan, merajuk, nasihat, mengecoh lawan bicara, mengolok-olok lawan bicara, tidak peduli, senda gurau, gundah gulana, rayuan, ketidakpastian, imbauan, dan pernyataan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11