cover
Contact Name
Hirowati Ali
Contact Email
hirowatiali@med.unand.ac.id
Phone
+6281276163526
Journal Mail Official
mka@med.unand.ac.id
Editorial Address
Faculty of Medicine, Universitas Andalas
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Majalah Kedokteran Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 01262092     EISSN : 24425230     DOI : https://doi.org/10.25077
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Andalas (MKA) (p-ISSN: 0126-2092, e-ISSN: 2442-5230) is a peer-reviewed, open-access national journal published by Faculty of Medicine, Universitas Andalas and is dedicated to publish and disseminate research articles, literature reviews, and case reports, in the field of medicine and health, and other related disciplines
Articles 792 Documents
UJI RELIABILITAS DIAGNOSIS MIKROSKOPIS MALARIA TENAGA LABORATORIUM PUSKESMAS DI DAERAH ENDEMIK KOTA SAWAHLUNTO SUMATERA BARAT Nurhayati Nurhayati; Hasmiwati Hasmiwati; Selfi Renita Rusjdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.562 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i1.p19-25.2014

Abstract

AbstrakPemeriksaan mikroskopis masih merupakan diagnosis pilihan untuk malaria karena mudahdan murah, tetapi kesalahan diagnosis mikroskopik sangat sering terjadi karena kurangketerampilan dan pengalaman pemeriksa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai reliabilitas hasilpemeriksaan mikroskopis malaria yang dilakukan oleh tenaga laboratorium pada tiga puskesmasdi daerah Sawahlunto; Sei Durian (SDR), Silungkang (SLK) dan Talawi (TLW). Desainpenelitian adalah cross sectional study. Populasi adalah mikroskopis yang terdapat pada ketigapuskesmas tersebut. Reliabilitas dinilai dengan nilai Kappa yang ditetapkan dengan ujikesepakatan hasil pemeriksaan dari 3 mikroskopis puskesmas dan satu mikroskopis standar.Nilai Kappa yang diterima adalah 0,61-1. Reliabilitas diagnosis malaria vivax mikroskopis SDRdan SLK tidak bisa dinilai karena jumlah malaria vivax sedikit, sedangkan reliabilitas diagnosismikroskopis TLW bernilai kurang (Kappa=0,253). Reliabilitas diagnosis falciparum mikroskopisPuskesmas SDR, SLK, TLW berturut-turut adalah jelek, jelek dan kurang (Kappa 0,022;0,006 dan 0,200). Sedangkan reliabilitas diagnosis mikroskopis malaria positif dan negatifSDR, SLK dan TLW adalah berturut-turut jelek, jelek dan sedang (Kappa 0,024; 0,008 dan0,442). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompetensi ketiga mikroskopis tersebutmasih diragukan.AbstractMicroscopic test is still the best option for malaria diagnostic because of simple andless expensive. However, fault in diagnosis frequently happen because of lack of skills andexperience. This study determined reliability of microscopic tests conducted by microscopistsin three public health centres in Sawahlunto; SDR, SLK, and TLW. This was a cross sectionalstudy. The reliability is determined by Kappa value which is stated by agreement test of 3microscopists of the three public health centres and 1 standardized microscopist. The Kappavalue was 0,61-1. The reliability of malaria vivax microscopic tests of SDR and SLK couldnot be determined because of small number of cases, and the reliability of TLW was fair. Thereliability of malaria falciparum microscopic tests of SDR, SLK and TLW were poor, poor andfair (Kappa value 0,022; 0,006 and 0,200). The reliability based on positivity and negativity ofparasite existence were poor, poor and moderate (Kappa value 0,024; 0,008 and 0,442). Thisstudy concluded that the competencies of microscopists in these three area were questionable.
Pengaruh uncaria gambir roxb terhadap ulkus gaster dan kadar malondialdehid hewan coba yang diinduksi etanol Miftah Irramah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.07 KB) | DOI: 10.22338/mka.v40.i1.p1-10.2017

Abstract

Ulkus peptikum dapat disebabkan berbagai faktor, seperti konsumsi alkohol yang berlebih. Alkohol menginduksi ulkus dengan membentuk radikal bebas yang merusak integritas mukosa sehingga terjadi ulkus. Di masyarakat, pengobatan secara tradisional adalah dengan mengonsumsi gambir. Tujuan: Untuk melihat pengaruh gambir terstandarisasi terhadap perbaikan ulkus dan malondialdehid pada tikus yang diinduksi etanol. Metode: Penelitian ini menggunakan 25 ekor tikus putih jantan galur Wistar. Hewan coba dibagi atas 5 kelompok masing-masing K(-), K(+), P1, P2 dan P3. Selanjutnya diperlakukan sebagai berikut: Selama 4 hari K(-) mendapat 1 ml aqua dest, K(+) , P1, P2 dan P3 mendapat 0,01 ml etanol 50%/kg BB. Hari ke-5 sampai hari ke 18, K(+) diberi aqua dest 1 ml, P1, P2 dan P3 masing-masing  mendapat 1 ml larutan gambir 50, 100 dan 200 mg/kg BB per oral. Hari ke-19 hewan coba diambil darahnya melalui vena juguralis untuk penentuan kadar MDA. Selanjutnya hewan coba didekapitasi, diambil gasternya untuk menentukan perbaikan ulkus menggunakan kriteria Barthel-Manja yang telah dimodifikasi. Kadar MDA ditentukan dengan metode Placer. Hasil: Gambir terstandarisasi dapat memperbaiki ulkus gaster pada hewan coba. Terdapat perbedaan perbaikan ulkus pada pemberian gambir terstandarisasi dengan dosis yang berbeda. Dosis yang memberikan efek maksimum adalah 200 mg/kg BB. Pemberian gambir terstandarisasi juga dapat menurunkan kadar MDA serum akibat keberadaan radikal bebas ROS yang diinduksi etanol. Kesimpulan: Gambir terstandarisasi mempunyai peluang untuk menjadi obat biofarmaka yang potensial untuk ulkus peptikum. Untuk itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk uji efek dan keamanannya pada manusia.
FAKTOR-FAKTOR PENENTU PENYEBARAN HIV(+)/AIDS DI INDONESIA Tahun 2008 Vetty Priscilla
Majalah Kedokteran Andalas Vol 32, No 2: Agustus 2008
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.735 KB) | DOI: 10.22338/mka.v32.i2.p%p.2008

Abstract

AbstrakIndonesia merupakan negara yang paling cepat terjadinya penularan HIV di kawasan Asia Tenggara. Diperkirakan pada tahun 2010 penderita HIV(+)/AIDS akan meningkat menjadi 400.000 orang dengan perkiraan kematian 100.000 orang. Penyebaran utama terjadi di kalangan penyalahgunaan narkoba dengan jarum suntik dan pekerja seks komersil. Di samping itu, penyebaran HIV dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu seperti faktor sosial ekonomi/kemiskinan, jenis kelamin, perilaku dan gaya hidup, sosial budaya, biologi dan pelayanan kesehatan.Kata Kunci ;HIV/AIDS, faktor penentu, IndonesiaAbstractThe epidemic of HIV/AIDS is spreading at a significantly higher rate in Indonesia compared to other South-East Asia. Highly cases of HIV/AIDS in Indonesia indicated that by the year 2010 the number of AIDS cases will have increased to 400.000, with 100.000 deaths. The majority of HIV/AIDS patients are found among high-risk populations, especially among the Intravenous Drug Users (IDUs) and sex workers. In these two groups the infection is spreading very rapidly. Some determinants of health of HIV/AIDS become vulnerable in Indonesia such social-economic/poverty, gender, lifestyle and behavior, socio-culture, biological and health care.Keywords; HIV/AIDS, determinants, IndonesiaTINJAUAN PUSTAKA
KARAKTERISTIK PENDERITA RETARDASI MENTAL DI SLB KOTA BUKITTINGGI Raysa Ramayumi; Adnil Edwin Nurdin; Siti Nurhajjah
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.045 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i3.p181-186.2014

Abstract

AbstrakRetardasi mental merupakan keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap yang dikarakteristikkan dengan tingkat IQ dibawah 70-75. Frekuensi penderita retardas mental pada laki-laki lebih tinggi. Retardasi mental dapat disebabkan oleh aspek biologis yang mencakup gangguan kromosom dan genetik. Sindrom Down merupakan salah satu bentuk retardasi mental berat yang terkait dengan usia ibu saat hamil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita retardasi mental di SLB Kota Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 50 orang yang diambil dengan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui data dasar siswa berupa jenis kelamin dan usia ibu saat hamil serta tes IQ yang kemudian dikategorikan berdasarkan derajat retardasi mental Hasil dari penelitian ini dengan 46 sampel yang memenuhi kriteria inklusi didapatkan bahwa frekuensi laki-laki dengan perempuan sama, 41,3% termasuk derajat retardasi mental ringan, dan 34,8% dari ibu penderita hamil pada usia lebih dari 35 tahun. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa sebagian penderita memiliki derajat retardasi mental ringan, dengan usia ibu saat hamil pada usia lebih dari 35 tahun.AbstractMentally retardated is a state of mental development stalled or incomplete which characterized by an IQ level below 70-75. Frequency mentally retarded of male is higher. Mentally retardated caused by biological aspects that include chromosomal and genetic disorders. Down syndrome is a severe form of mentally retardated associated with maternal age. This study aims to investigate the characteristics of individuals with mentally retardated at special school in Bukittinggi. This study used a descriptive design and 50 people with random sampling. Data was collected through student basic data such as gender and maternal age and IQ tests were then categorized based on the degree of mentally retardated. The results of 46 samples that complied inclusion criteria was found that the frequency of male same with female, 41.3% including the degree of mild mentally retardated, and 34.8% of maternal age is over than 35 years old. This study concluded that most individuals have a mild degree of mentally retardated, with maternal age is over than 35 years old.
DISTROFI MUSKULAR DUCHENNE Iskandar Syarif; Widiasteti Widiasteti
Majalah Kedokteran Andalas Vol 33, No 2: Agustus 2009
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.202 KB) | DOI: 10.22338/mka.v33.i2.p%p.2009

Abstract

AbstrakAnak laki-laki umur 10 tahun 9 bulan dirawat di bangsal anak RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan keluhan sukar berdiri sejak 2 tahun yang lalu. Riwayat penyakit sekarang adalah pasien sering kram otot betis dan jika mau berdiri, berjongkok terlebih dahulu, kedua tangan bertumpu pada kedua lutut (manuver Gowers) sejak usia 3 tahun. Pasien sering jatuh ketika berjalan sejak usia 5 tahun dan dada mulai tampak membusung ke depan. Sejak usia 8 tahun harus di bantu untuk berdiri dan berjalan dengan posisi kaki berjinjit. Riwayat keluarga dengan kelainan otot tidak ada. Pemeriksaan fisik ditemukan lordosis, pseudohipertropi m.gastrocnemeus, kekuatan otot ekstremitas inferior berkurang dari normal. pemeriksaan kadar creatine kinase meningkat yaitu 1860 U/L (normal : 24- 170 U/L). elektromiogram menyokong untuk miopati dengan gambaran gelombang positif, fibrilasi, amplitudo rendah dan pontensial polifasik. Biopsi otot tidak dilakukan karena keluarga menolak. Pada pasien ini diberikan prednison 0,75 mg/kg BB/hari, suplemen kalsium dan vitamin D.Kata kunci : distrofi muskular duchenne, manuver Gowers, creatine kinaseAbstractA 10 years and 9 months old boy was hospitalized in Pediatric Department of Dr.M. Djamil Hospital Padang with chief complaint need help for standing since 2 years ago. The Symptons were he had recurrent cramps and needing to turn onto his front and rise to standing from the floor using a broad-based stance with the support of his hand on his thigh (Gowers maneuver) since seven years ago. He often fall when he walked and appearance lordotic posture since five years old. Since eight years old he needed for standing and walking with his toes. The patient was born with vaccum extraction, with body birth weight 2900 grams, full term. No family history of muscle disease. Physical examination founded lordosis, pseudohypertrophy of the calves, weakness of muscles of inferior extremities with sensory was normal. Level of creatine kinase was 1860U/L (normal: 24-170 U/L). Electromyography showed myopathic with characterized fibrillations, positive waves, low amplitudepolyphasic potentials. Muscle biopsy could not be done because his parents not agree. The therapy for this patient was prednisone 0,75 mg/kgbb/day, supplement orally calcium and vitamin D.Key words : Duchenne Muscular Dystrophy, Gowers maneuver, muscle diseaseLAPORAN KASUS
EKSTROSPEKSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PROFESI DOKTERATAS PROFESIONALISME DOKTER DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN Yoni Fuadah Syukriani
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7673.52 KB)

Abstract

AbstrakEkstrospeksi merupakan salah metode penting dalam pendidikan profesionalisme bagimahasiswa kedokteran, namun masih jarang dilakukan. Dalam mengajarkan ekstrospeksi seringmuncul kekhawatiran bahwa mahasiswa ninya memiliki persepsi negatif terhadap orang lain,khususnya terhadap dokter yang berperan iebagai pendidik dan role model di rumah sakitpendidikin. Namun demikian, peilu disadari bahwa tanpa disadari mahasiswa selalu melakukanekstrospeksi atas praktik kedokteran yang dilaksanakan oleh dokter di rumah sakit' Jika praktikkedokteran yang Oilifrat tidak sesuai dengan konsep profesionalisme yang telah diajarkan secarateori, maka maliasiswa akan menghaOafii feUingungan. Pendidik turut bertanggung jawab untukmengantisipasi hal tersebut, Oan lit<a kebingungan telah muncul, sepatutnya ada media yangdisialkan untuk mengatasi hal tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi prosesekstiospeksi yang dilakukan mahasiswa ying tengah melakukan kepaniteraan di FakultasKedokteran Universitas padjadjaran atas profesionalisme dokter di rumah sakit pendidikan. Hasilmenunjukkan bahwa ekstroipet<si mahasiswa menempati spektrum yang sangat lebar, dari sikapyang sangat negatif hingga sangat positif. Dampak perilaku negatif dokter lebih beragamOiUanOing perilaku positif.Ferilaku negatif yang sama dapat berakibat berbeda pada mahasiswayang ber-beda. Hampir sernua mahasiswa-meminta fakultas kedokteran/rumah sakit pendidikanigai memOeri tanggapan, sistem follow up rutin, atau membuka jalur rahasia untuk membanturriereka mengatas-i- hasil extrospeksi yang negatif. Sebagai simpuian, ekstrospeksi sangatpenting dalah pendidikan prot'esionalisrne kedckteran, meskipun Cemikian metode inimembituhkan upaya khusus untuk mengatasi tantangan kompetensi dosen dan Jumlahmahasisu,,a yang banyak.Kata kunci:-AriEkstrospeksi, Rumah Sakit Pendidikan, Role Model, ProfesionalismeAbstractExtrospection is an important method in professional education for medical students,atthough it is rarety used. There is concern that teaching through extrospection would lead tonegati-ve perception to other, pafticularly toward supervising doctors as role models in teachingho-spitat. Howe,ver, it is important to understand that naturalty sfudenfs would extrospect towardsmedicat practice performed by supervising doctors. Medicat practice which does not consistentwith the'concept of medicat piofessionalism the sfudenf's learned in undergraduate phase, wouldlead students to confusion. Faculties have responsibility to anticipate this possibiiity The aim ofthis study is to explore the extrospection process of students during their clerkship term in theFacutty of ivledicine, rJniversitas Padjadjaran. Result demonsirates that student's extrospectioniies within a wide range, from positive to negative end. The inpact of perceived supervisor'snegative behaviour has a wider range then po,sitive behaviour. The same perceived supervisor'sne-gailve behaviour coutd impact different sfudenfs differentty. Almast all students request forreipcnse, routine foltow up system, or conficiential route from medical school/teaching hospital,fo assisf them when encounter negative result from extrospection. As a conclusion, extrospectionis impoftant in teaching medicat professionalism, atthough it requires specra/ effott to facechallenges such as the faculty's competence and high number of stutlents.Keywords: Extrospection, teaching hospital, role model, professionalism
EKTRAKSI BENDA ASING (KACANG TANAH) DI BRONKUS DENGAN BRONKOSKOP KAKU Fachzi Fitri; M. Rusli Pulungan
Majalah Kedokteran Andalas Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.412 KB) | DOI: 10.22338/mka.v35.i1.p68-80.2011

Abstract

AbstrakAspirasi benda asing merupakan keadaan emergensi yang memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi yang serius. Lebih dari 50% kasus aspirasi benda asing terjadi pada anak usia kurang dari 3 tahun. Aspirasi benda asing paling sering adalah kacang tanah. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, Pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi dan bronkoskopi. Bronkoskop kaku merupakan pilihan untuk pengangkatan benda asing pada anak.Dilaporkan satu kasus benda asing tiga kacang tanah di bronkus utama kanan pada seorang anak perempuan umur 2 tahun yang berhasil diangkat dengan tindakan bronkoskopi menggunakan bronkoskop kaku.Kata kunci : Aspirasi benda asing, bronskopi, bronkoskop kaku.AbstractForeign body aspiration is an emergency condition that needs early treatment to prevent serious complication. More than 50% foreign body aspiration cases occur among children younger than 3 years. The most common aspirated item was a peanut. Diagnosis is based on anamnesis, physical examination, radiology finding and bronchoscopy. Rigid bronchoscopee is a procedure of choice for removing foreign body in children.A case foreign body (three peanuts) in the right main bronchus 2 years old girl which was successfully removed using rigid bronchoscopee was reported.Key word : Foreign body aspiration, bronchoscopy, rigid bronchoscope
ANTROPOMETRI SENDI PERGELANGAN KAKI ETNIS MINANGKABAU Hafni Marsil; Rizki Rahmadian; Sylvia Rachman; Erkadius Erkadius
Majalah Kedokteran Andalas Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.57 KB) | DOI: 10.22338/mka.v38.i2.p108-115.2015

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mengukur antropometri sendi pergelangan kaki etnis Minangkabau. Penelitian cross sectional dilakukan pada 50 orang mahasiswa kedokteran etnis Minangkabau berusia 21-25 tahun di lingkungan RS. dr. M Djamil Padang. Dilakukan pemeriksaan ROM, rontgen ankle proyeksi anteroposterior, lateral dan mortise. Hasil penelitian didapatkan ROM plantarfleksi 48,920±5,820, ROM dorsofleksi 31,300±4,070, inversi 10,320±2,280, eversi 5,940±1,200, talocrural angel anteroposterior 76,530± 2,530 dan mortise 77,380±2,270, tibiofibular overlap anteroposterior 7,51±2,64 mm dan mortise 4,71±2,45 mm, tibiofibular clear space anteroposterior 3,6±1,18 mm dan mortise 3,85±1,09 mm, talar tilt anteroposterior 0,140±0,100 dan mortise 0,190±0,150, medial malleolar length anteroposterior 13,88±1,99 mm dan mortise 14,03±1,69 mm, lateral malleolar length anteroposterior 25,71±2,83 mm dan mortise 26,70±3,40 mm, johnson angle anteroposterior 87,770±1,710 dan mortise 87,570±1,840, medial clear space 2,97±0,75 mm, anteroposterior inclination angle 7,470±2,700, anterior distal tibial angle 82,530± 2,700, dan anteroposterior gap 3,50±1,43 mm.Terdapat perbedaan ukuran antropometri sendi pergelangan kaki mahasiswa kedokteran beretnis Minangkabau di lingkungan RS. Dr. M. Djamil Padang dengan kepustakaan, namun masih dalam rentang normal.AbstractThis study aimed to measure anthropometric of ankle joint of Minangkabau ethnic group. Cross sectional study has been done in 50 Minangkabau ethnic medical students, aged 21-25 years in RSUP. Dr. M Djamil Padang. ROM, anteroposterior, lateral, and mortise X-ray projections of ankle were examined. ROM plantarflexion was 48.920±5.820, ROM dorsiflexion was 4.070±31.300, inversion was 10.320±2.280, eversion was 5.940±1.200, talocrural angel anteroposterior was 76.530±2.530 and mortise was 77.380±2.270, tibiofibular overlapp anteroposterior was 7.51±2,64 mm and mortise was 4.71±2,45 mm, tibiofibular clear space anteroposterior was 3.6±1.18 mm and mortise was 3.85±1.09 mm, talar tilt anteroposterior was 0.140 ± 0.100 and mortise was 0.190 ± 0.150, medial malleolar length anteroposterior was 13.88 ± 1,99mm and mortise was 14.03 ± 1,69mm, lateral length malleolar anteroposterior was 25.71±2,83 mm and mortise was 26.70 ± 3,40 mm, johnson angle anteroposterior was 87.770 ± 1.710 and mortise was 87.570±1.840, medial clear Space was 2,97±0,75 mm, anteroposterior Inclination Angle was 7.470±2.700, anterior distal tibial Angle was 82.530 ± 2.700 and anteroposterior gap was 3.50 ± 1,43 mm. There was a difference in antropometric size of the ankle joint between Minangkabau ethnic medical student in RSUP. Dr. M. Djamil Padang and literature, but still within the normal range.
MALARIA PADA MASA KEHAMILAN Selfi Renita Rusjdi
Majalah Kedokteran Andalas Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.641 KB) | DOI: 10.22338/mka.v36.i2.p173-178.2012

Abstract

AbstrakMalaria merupakan penyakit tropis yang disebabkan oleh parasit Plasmodium dan disebarkan melalui gigitan nyamuk. Diperkirakan 219 juta penduduk dunia terinfeksi malaria dan sebanyak 660.000 diantaranya meninggal setiap tahun. Penyakit ini dapat menyerang semua individu tanpa membedakan umur dan jenis kelamin dan tidak terkecuali wanita hamil. Wanita hamil termasuk golongan yang rentan untuk terkena malaria sehubungan dengan penurunan imunitas di masa kehamilan. Malaria pada kehamilan dapat menimbulkan berbagai keadaan patologi pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya. Pada ibu hamil, malaria dapat mengakibatkan timbulnya demam, anemia, hipoglikemia, udema paru akut, gagal ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin yang dikandung oleh ibu penderita malaria dapat terjadi abortus, lahir mati, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian janin. Keadaan patologi yang ditimbulkan ini sangat tergantung pada status imunitas, jumlah paritas dan umur ibu hamil.Kata Kunci :malaria, kehamilan, patologi, imunitasAbstractMalaria is one of topical diseases caused by parasite called Plasmodium and transmitted by mosquito bite. In 2010 an estimated 219 million cases of malaria occurred worldwide and 660,000 people died every year. Malaria can occur in most population and it is not depended on age and sex even pregnant women would be suffer from this disease. Pregnant women are particularly vulnerable to malaria as pregnancy reduces a woman’s immunity to malaria. It can cause fever, maternal anaemia, hypoglicemia, acute pulmonary udema and even death. For the unborn child, maternal malaria increases the risk of spontaneous abortion, stillbirth, premature delivery and low birth weight, a leading cause of child mortality. The pathology is depended on imunity, number of pariety dan age of pregnant women.key word : malaria, pregnancy, pathology, immunityTINJAUAN PUSTAKA
PROFIL KECEPATAN HANTARAN SARAF PADA USIA MUDA Hendra Permana; Meiti Frida
Majalah Kedokteran Andalas Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.296 KB) | DOI: 10.22338/mka.v37.i2.p115-120.2014

Abstract

AbstrakKecepatan Hantaran Saraf (KHS) digunakan untuk menilai aktivitas saraf perifer. Nilai KHS dipengaruhi oleh faktor antropometrik, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT). Beberapa studi mendapatkan perbedaan KHS pada beberapa tempat pemeriksaan. Tujuan penelitian ini adalah menilai KHS pada usia muda normal berdasarkan IMT. Ini adalah studi potong lintang terhadap komunitas Dokter Muda FK-Unand di bagian Ilmu Penyakit Saraf dari Januari sampai Mei 2011. Peserta dikelompokkan berdasarkan IMT <25 dan IMT ≥25. Penilaian KHS dilakukan pada saraf medianus, ulnaris, radialis, tibialis posterior dan peroneus komunis. F Wave dan H Reflex diukur menggunakan EMG. Data dianalisis dengan SPSS. Hasil studi didapatkan bahwa dari 53 subjek; 34 orang memiliki IMT <25 dan 19 orang dengan IMT ≥25. Pada kelompok IMT <25 didapatkan rerata usia 23,5 tahun, tinggi badan 1,69 m dan berat badan 64,32 kg, sedangkan kelompok IMT ≥25 didapatkan rerata usia 23,47 tahun, tinggi badan 1,66 m dan berat badan 73,58 kg. Terdapat pemanjangan latensi dan penurunan KHS sensorik serta pemanjangan latensi dan penurunan KHS motorik pada kelompok IMT ≥25 dibanding kelompok IMT <25. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan bermakna KHS sensorik dan motorik nervus medianus berdasarkan IMT.AbstractNerve Conduction Velocity (NCV) can measure peripheral nerve activity. It was influenced by anthropometric, such as Body Mass Index (BMI). Previous studies suggested different results of NCV among different sites. The purpose of this study was to measure NCV among healthy young adult based on BMI. A cross sectional study was conducted to investigate NCV of fifth and sixth year medical students of Andalas University Padang from January to May 2011. Participants were categorized as BMI under 25 and 25 or above. NCV was examined on median, ulnar, radial, posterior tibial, and common peroneal nerves. F Waves and H Reflexes were measured using EMG. Data was analyzed by SPSS. The results from 53 participants; 34 had BMI under 25 and 19 had BMI 25 or above. On the group with BMI under 25, average age was 23.5 years olds, average height was 1.69, and average weight was 64.32 kg. On the group with BMI 25 or above, average age was 23.47 years olds, average height was 1.66 m, and average weight was 73.58 kg. There were prolonged latency and decreased NCV both sensoric and motoric on group with BMI 25 or above.

Page 10 of 80 | Total Record : 792


Filter by Year

2008 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 48 No. 4 (2025): MKA October 2025 Vol. 48 No. 3 (2025): MKA July 2025 Vol. 48 No. 2 (2025): MKA April 2025 Vol. 48 No. 1 (2025): MKA January 2025 Vol 46, No 12 (2024): Online Oktober 2024 Vol 46, No 11 (2024): July 2024 Vol 46, No 10 (2024): Supplementary April 2024 Vol 46, No 10 (2024): Online May 2024 Vol. 47 No. 4 (2024): MKA October 2024 Vol. 47 No. 3 (2024): MKA July 2024 Vol. 47 No. 2 (2024): MKA April 2024 Vol. 47 No. 1 (2024): MKA Januari 2024 Vol 46, No 9 (2024): Supplementary Januari 2024 Vol 46, No 8 (2024): Online Januari 2024 Vol 46, No 7 (2023): Supplementary December 2023 Vol 46, No 5 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 4 (2023): Online Juli 2023 Vol 46, No 3 (2023): Supplementary May 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Online Juli 2023 Vol. 46 No. 3 (2023): Supplementary July 2023 Vol 46, No 2 (2023): Online April 2023 Vol 46, No 1 (2023): Online Januari 2023 Vol 46, No 6 (2023): Online Oktober Vol. 46 No. 4 (2023): Online Oktober Vol 45, No 4 (2022): Online October 2022 Vol 45, No 3 (2022): Online July 2022 Vol 45, No 2 (2022): Online April 2022 Vol 45, No 1 (2022): Online Januari 2022 Vol 44, No 7 (2021): Online Desember 2021 Vol 44, No 6 (2021): Online November 2021 Vol 44, No 5 (2021): Online Oktober 2021 Vol 44, No 4 (2021): Online September 2021 Vol 44, No 3 (2021): Online August 2021 Vol 44, No 2 (2021): Online July 2021 Vol 44, No 1 (2021) Vol 43, No 2 (2020): Online Mei 2020 Vol 43, No 1 (2020): Published in January 2020 Vol 42, No 3S (2019): Published in November 2019 Vol 42, No 3 (2019): Published in September 2019 Vol 42, No 2 (2019): Published in May 2019 Vol 42, No 1 (2019): Published in January 2019 Vol 41, No 3 (2018): Published in September 2018 Vol 41, No 2 (2018): Published in May 2018 Vol 41, No 1 (2018): Published in January 2018 Vol 40, No 2 (2017): Published in September 2017 Vol 40, No 1 (2017): Published in May 2017 Vol 39, No 2 (2016): Published in August 2016 Vol 39, No 1 (2016): Published in April 2016 Vol 38, No 3 (2015): Published in December 2015 Vol 38, No 2 (2015): Published in September 2015 Vol 38 (2015): Supplement 1 | Published in September 2015 Vol 38, No 1 (2015): Published in May 2015 Vol 37, No 3 (2014): Published in December 2014 Vol 37, No 2 (2014): Published in September 2014 Vol 37 (2014): Supplement 2 | Published in December 2014 Vol 37 (2014): Supplement 1 | Published in March 2014 Vol 37, No 1 (2014): Published in May 2014 Vol 36, No 2 (2012): Published in August 2012 Vol 36, No 1 (2012): Published in April 2012 Vol 35, No 2 (2011): Published in August 2011 Vol 35, No 1 (2011): Published in April 2011 Vol 34, No 2 (2010): Published in August 2010 Vol 34, No 1 (2010): Published in April 2010 Vol 33, No 2: Agustus 2009 Vol 33, No 1: April 2009 Vol 32, No 2: Agustus 2008 Vol 32, No 1: April 2008 More Issue