cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender
ISSN : 20858353     EISSN : 25025368     DOI : -
Core Subject :
Muwazah adalah jurnal kajian gender dengan ISSN Print: 2085-8353; Online: 2502-5368 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Pekalongan. Kata Muwazah berasal dari bahasa Arab yaitu (??????) yang memiliki arti kesetaraan. Jurnal ini fokus pada isu-isu aktual dan kontemporer yang berkaitan dengan kajian gender lokalitas dalam berbagai perspektif. Redaksi mengundang para ilmuwan, sarjana, professional, praktisi dan peneliti dalam berbagai disiplin ilmu yang konsern terhadap kajian gender berupa analisis, aplikasi teori, hasil penelitian, terjemahan, resensi buku, literature review untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bebestari, dan proses penyuntingan. Jurnal ini terbit setahun dua kali setiap bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 415 Documents
MUAMALAH MALIYAH DALAM PERSPEKTIF GENDER Royani, Royani
MUWAZAH Vol 7 No 1: Juni 2015
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.024 KB)

Abstract

The muamalah maliyah in the Islamic law is the important think for the Moslem to teaching it, because every one is practicing it. The basic principle on the Islamic law is that a muslimah women or a wife should remain at home, and not go out except for necessary purposes, she is no allowed to work outside her house. It is like Al Quran says in surah Al Ahzab : 33 and this is addressed to the wives of the prophet Muhammad (peace and blessings of Allah be upon him). The Arabian women different between the Indonesian women, on the other situation is permissible for a women to go out of her house for work, but that is subject to certain conditions. That she needs to work in order to acquire the money she needs, the work should be suited to the nature women, such as a medicine, nursing, teaching, and so on, in the work she should observe complete shar’i hijab.Muamalah Maliyah dalam hukum Islam adalah bagaimana seorang muslim belajar dan berlatih melakukan transaksi keuangan baik laki-laki maupun perempuan. Prinsip dasar hukum Islam menyatakan bahwa seorang muslimah atau istri harus tetap di rumah , dan tidak pergi keluar kecuali untuk tujuan yang diperlukan, perempuan tidak diizinkan untuk bekerja di luar rumahnya. Hal ini seperti termaktub dalam Alquran surat Al Ahzab : 33 dan ini ditujukan kepada istri-istri Nabi Muhammad Saw.Para perempuan Arab berbeda dengan perempuan Indonesia , pada situasi lain diperbolehkan bagi perempuan untuk pergi keluar dari rumahnya untuk bekerja, tapi itu tergantung pada kondisi tertentu. Perempuan boleh bekerja untuk memperoleh uang yang dibutuhkan, pekerjaan harus disesuaikan dengan pekerjaannya, seperti dalam dunia kedokteran, dunia keperawatan, ketika mengajar, dan sebagainya, dan perempuan ketika bekerja disyariatkan untuk berjilbab.
THE ROLE OF ISLAMIC WOMEN SOCIETY GROUP IN ECONOMIC COMMUNITY EMPOWERMENT Sajuri, Khumaidi
MUWAZAH Vol 1 No 2: Desember 2009
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.81 KB)

Abstract

Tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana kelompok masyarakat (pokmas) perempuan Keagamaan keterkaitannya menggunakan modal sosial dapat memberi keuntungan ekonomi bagi penjual sayur keliling dalam bahasa setempat di Kota Malang dengan sebutan “Mlijo”. Modal sosial yang menampilkan hubungan sosial informal juga berkontribusi dalam proses bagaimana pokmas saling membantu khususnya bagi pokmas perempuan penjual sayur keliling dalam menambah modal usahanya.
EKSISTENSI PEREMPUAN DALAM KELUARGA (Kajian Peran Perempuan sebagai Jantung Pendidikan Anak) Lestari, Dian
MUWAZAH Vol 8 No 2: Desember 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.219 KB)

Abstract

This paper discusses about the role of women in the family, which is different from the man, named as daughter, wife and mother. By nature, a woman is given the privilege to pregnancy, childbirth and lactation, thus automatically a woman (mother) has a closeness with children who are born. It allows a woman to be the heart of education for children in developing children's character into a superior generation. The existence of women as educators and forming the character of early childhood, making women more privileged position compared with men.Paper ini mendiskusikan tentang peran perempuan dalam keluarga, yang memang berbeda dengan laki-laki, yaitu sebagai anak, istri dan ibu. Secara kodrati, seorang perempuan diberi keistimewaan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui, sehingga secara otomatis seorang perempuan (ibu) memiliki kedekatan dengan anak-anak yang dilahirkannya. Hal ini, memungkinkan seorang perempuan sebagai jantung pendidikan bagi anak-anaknya dalam membangun karakter anak menjadi generasi unggul. Eksistensi perempuan sebagai pendidik dan pembentuk karakter awal anak, menjadikan kedudukan kaum perempuan lebih istimewa dibandingkan dengan kaum laki-laki.
REINTERPRETASI AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG DOMESTIC VIOLENCE Rohmah, Siti
MUWAZAH Vol 4 No 1: Juni 2012
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1603.278 KB)

Abstract

Abstract : Domestic Violence is an act of violence against women and violence in a family or marriage relationship. One argument that is often used, as the legitimacy and justification in the domestic violence is the Islamic teaching; it is especially the interpretation of verses of the Qur'an that present gender bias and discrimination against women. Therefore, reorientation and retraining of interpretation according to the nature of these teachings that are applicable and adaptive to changes in time and age are needed, without being followed by an interest or a particular interest.The straighten of interpretation would require honesty  and sincerity of all parties. Thus, the followers of the teachings of Islam and spreaders will not be stucked in an explicit sense without understanding the meaning of the lines. Abstrak : Kekerasan domestik adalah tindak kekerasan terhadap perempuan dan kekerasan dalam hubungan keluarga atau pernikahan. Salah satu argumen yang sering digunakan, sebagai legitimasi dan justifikasi dalam kekerasan dalam rumah tangga adalah ajaran Islam ; hal ini terutama penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an yang hadir seringkali bias gender dan mendiskriminasi perempuan. Oleh karena itu, perlu reorientasi dan penafsiran kembali yang sesuai dengan sifat dari ajaran-ajaran yang berlaku dan adaptif terhadap perubahan situasi dan kondisi yang ada,  tanpa diikuti oleh kepentingan dan kebutuhan yang terjadi. Penafsiran membutuhkan kejujuran dan ketulusan dari semua pihak . Dengan demikian, para pengikut ajaran Islam tidak akan kaku dan selalu responsif dengan memahami semua perubahan sosial yang ada dengan selalu konsisten dan eksplisit pada nilai dan garis-garis yang telah diajarkan. 
PERSEPSI POLIGAMI DI MATA PEREMPUAN PEKALONGAN Rismawati, Shinta Dewi
MUWAZAH Vol 6 No 2: Desember 2014
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (797.926 KB)

Abstract

Polygamy has always been an interesting discussion that gave birth to two groups that are always in the position of the pros and cons in the community. It is encouraging to conduct research on women's perception about polygamy in Pekalongan. Research results and analysis indicate that the perception of women Pekalongan on polygamy is quite diverse, but most rejected polygamy with a variety of reasons. They also say that polygamy could potentially bring up domestic violencePoligami selalu menjadi diskusi yang menarik yang melahirkan dua kelompok yang selalu dalam posisi pro dan kontra di masyarakat. Hal ini mendorong untuk melakukan penelitian tentang persepsi perempuan tentang poligami di Pekalongan. Hasil penelitian dan analisis menunjukkan bahwa persepsi wanita Pekalongan pada poligami cukup beragam, namun kebanyakan menolak poligami dengan berbagai alasan. Mereka juga mengatakan bahwa poligami berpotensi memunculkan kekerasan dalam rumah tangga
HAK REPRODUKSI PEREMPUAN dalam Perspektif Syariat Islam Angga, La Ode
MUWAZAH Vol 3 No 2: Desember 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.046 KB)

Abstract

Islam as Din has more authority to function to save and liberate people from tyranny-the tyranny of other human beings. The Qur’an mentions this function as “yukhrijuhum min al zhulumat ila Al-Nur” (removing people from darkness to light). View of human equality, men and women in the Qur’an include aspects of spirituality, intellect and sexuality as well as all other practical life activities. About the relationship of sexuality, the Qur’an states: “and they (women) have rights comparable to their obligations”. Ibn Abbas, a prominent companion of the Prophet, commenting on this verse by saying: “I like dressing up for my wife as I like her dress up for me”. Another verse also says: “they (women) are a garment for you and you are garments for them”.
PENELANTARAN RUMAH TANGGA ( Kajian Hukum dan Gender ) Prastyananda, Nurbaity
MUWAZAH Vol 8 No 1: Juni 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.819 KB)

Abstract

This paper examines the neglect of household in the perspective of law and gender. The argument, which was developed in this study is that neglect of household as one form of domestic violence, which legally regulated clearly and firmly in the Law of the Republic of Indonesia Number 23 of 2004 on the Elimination of Domestic Violence. Sociologically, neglect of household, related to the construction of gender in the context of patriarchal society, which results in gender inequality with the victims were women and children.Paper ini mengkaji tentang penelantaran rumah tangga dalam perspektif hukum dan gender. Argumentasi yang dibangun dalam kajian ini adalah, penelantaran rumah tangga sebagaisalah satu bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang secara yuridis diatur secara jelas dan tegas dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Secara sosiologis, penelantaran rumah tangga, juga tidak lepas dari konstruksi gender yang dibangun oleh masyarakat patriarkhis, yang mengakibatkan ketimpangan gender dengan korbannya adalah perempuan dan anak.
TRANSFORMASI KUDUS SEBAGAI KOTA LAYAK ANAK ( Tinjauan atas Pemenuhan Hak Sipil dan Partisipasi ) Dewi, Siti Malaiha
MUWAZAH Vol 3 No 1: Juni 2011
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1561.657 KB)

Abstract

Abstract: Children are a gift of God's mandate and at the same time that always must be maintained. Unfortunately, some cases such as child exploitation, child sexual abuse, trafficking, was just always there. In fact, the City of Eligible Children (KLA) has long been proclaimed. Kudus, is one of them. The research is to know "Why is the implementation of the KLA in particular compliance with civil rights and child participation has not materialized". The results of civil rights compliance situations and children's participation is still minimal. This can be seen from the following indicators: 1) There are still 30% of children who do not have birth certificates of children; 2) involvement of children in public policy decisions not yet exist; 3) Lack of information and communication center-based child; Only the fourth indicator of presence forum child in the Kudus District are met. Obstacles in the implementation KLA in Kudus City were: 1) Program of the KLA is considered as a program that is not sexy and not able to boost the image of officials, 2) Institutionally, egosektoral SKPD is still so difficult to integrate the issue of children into the program all SKPD , 3) Institutional Capacity inadequate implementation, and 4) specific budget for children not in the budget.
HAK KONSTITUSIONAL BURUH PEREMPUAN DALAM BINGKAI NEGARA HUKUM KESEJAHTERAAN DI INDONESIA Sofiani, Triana
MUWAZAH Vol 6 No 1: Juni 2014
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1247.03 KB)

Abstract

Abstract : This study just want to expose on the constitutional rights of women workers in Indonesia within the legal framework of the welfare state. Indonesia as a state welfare law, of course, the duty to enforce the welfare of all citizens, both men and women without discrimination, including the constitutional rights of women workers. The state is obliged regulate wages, provide protection, social security and guarantee of other rights, fairly and without discrimination in accordance constitutional rights of women workers as the provisions contained in the Constitution of the Republic of Indonesia 1945. Abstrak : Penelitian ini hanya ingin mengekspos tentang hak-hak konstitusional pekerja perempuan di Indonesia dalam kerangka hukum negara kesejahteraan. Indonesia sebagai hukum negara kesejahteraan, tentu saja, kewajiban untuk menegakkan kesejahteraan semua warga negara, baik pria maupun wanita tanpa diskriminasi, termasuk hak-hak konstitusional pekerja perempuan. Negara berkewajiban mengatur upah, memberikan perlindungan, jaminan sosial dan jaminan hak-hak lain, adil dan tanpa diskriminasi dalam hak-hak konstitusional sesuai pekerja perempuan sebagai ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
PERGOLAKAN ANTARA LIFE STYLE DAN SYARI’AT-BUDAYA DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN ACEH MASA KINI Wahid, Abdul
MUWAZAH Vol 5 No 1: Juni 2013
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.641 KB)

Abstract

Abstract : Acehnese women life in the demands of the implementation of Islamic law and Aceh cultural context.  The development of today's lifestyle demands the women in Aceh to maintain these two patterns.  There are a lot of  women in Aceh have a strong commitment to keep the pattern of their life as an "Islamic Acehnese Women", because they believe that the ideal pattern of life  among  Acehnese women  do not leave their roots in the ideal values  of Islam and the cultural context.  But in many cases, the understanding of the patterns of live and cultural context of Aceh has been incorrectly interpreted and regarded as part of the teachings of Islam. Abstrak : Hidup perempuan Aceh dalam tuntutan implementasi hukum Islam dan konteks budaya Aceh. Perkembangan gaya hidup masa kini menuntut perempuan di Aceh untuk mempertahankan dua pola tersebut. Ada banyak perempuan di Aceh memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga pola hidup mereka sebagai "Perempuan Aceh yang islami", karena mereka percaya bahwa pola hidup ideal di kalangan perempuan Aceh tidak meninggalkan akar mereka dalam nilai-nilai ideal Islam dan konteks budaya. Namun dalam banyak kasus, pemahaman tentang pola konteks hidup dan budaya Aceh telah salah ditafsirkan dan dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam.