cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pekalongan,
Jawa tengah
INDONESIA
MUWAZAH: Jurnal Kajian Gender
ISSN : 20858353     EISSN : 25025368     DOI : -
Core Subject :
Muwazah adalah jurnal kajian gender dengan ISSN Print: 2085-8353; Online: 2502-5368 yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gender (PSG) IAIN Pekalongan. Kata Muwazah berasal dari bahasa Arab yaitu (??????) yang memiliki arti kesetaraan. Jurnal ini fokus pada isu-isu aktual dan kontemporer yang berkaitan dengan kajian gender lokalitas dalam berbagai perspektif. Redaksi mengundang para ilmuwan, sarjana, professional, praktisi dan peneliti dalam berbagai disiplin ilmu yang konsern terhadap kajian gender berupa analisis, aplikasi teori, hasil penelitian, terjemahan, resensi buku, literature review untuk mempublikasikan hasil karya ilmiahnya setelah melalui mekanisme seleksi naskah, telaah mitra bebestari, dan proses penyuntingan. Jurnal ini terbit setahun dua kali setiap bulan Juni dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 415 Documents
HUKUM POLIGAMI DALAM PERSEPEKTIF ULAMA FIQH Aris Baidhowi
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.149

Abstract

Abstract :  The fiqh ulama agree that the legal permissibility of polygamy in marriage is based on the word of Allah SWT, Surah of al-Nisa 'verse 3, which confirms that the polygamist husband conditions shall be fair to his wives. They recognize the value of justice in polygamy is something that is impossible to be realized. Therefore, the illat of legal permissibility of polygamy in Islam marriage is: that it shall not be encouraged by the motivation of biological sex and pleasure, but only by social and human motivation, since the interpretation of "able to do justice" as a basic requirement of polygamy allowance is very difficult. The permissibility of polygamy is not a recommendation; but it is a solution given in special conditions to them (husbands) who desperately need and meet certain requirements. Abstrak : Ulama fiqh sepakat bahwa kebolehan hukum poligami dalam pernikahan didasarkan pada firman Allah SWT, QS al-Nisa 'ayat 3, yang menegaskan bahwa kondisi poligami suami harus adil terhadap istri-istrinya. Mereka mengakui nilai keadilan dalam poligami adalah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Oleh karena itu, illat hukum kebolehan poligami dalam Islam pernikahan adalah: bahwa hal itu tidak akan didorong oleh motivasi dari seks biologis dan kesenangan, tetapi hanya dengan motivasi sosial dan manusia, karena penafsiran "mampu melakukan keadilan" sebagai dasar persyaratan penyisihan poligami sangat sulit. Diperbolehkannya poligami bukanlah rekomendasi; tetapi merupakan solusi yang diberikan dalam kondisi khusus untuk mereka (suami) yang sangat membutuhkan dan memenuhi persyaratan tertentu.
PEREMPUAN DAN FEMINISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM Zulfahani Hasyim
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.150

Abstract

Abstract : Women, since the beginning of their creation was equal with men, as God has determined that there is no difference between men and women; and what differs each is only the level of devotion. In Islam, women also have the same rights and obligations as men. They have the rights of the reward of good deeds, and punishment for bad deeds, and have the obligations of the same worship. There are many other areas can be viewed in the concept of Islam as a proof that Islam has put women in the same degree as men and gave many honors. However, on the ongoing development, feminism leads to the irregular liberation for the life of women. This is what ultimately contrary to the concept of equal rights and obligations between men and women in Islam. Abstrak : Perempuan, sejak awal penciptaan mereka adalah sama dengan laki-laki, karena Allah telah menetapkan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan; dan apa berbeda masing-masing hanya tingkat pengabdian. Dalam Islam, wanita juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki. Mereka memiliki hak pahala perbuatan baik, dan hukuman untuk perbuatan buruk, dan memiliki kewajiban ibadah yang sama. Ada banyak daerah lain dapat dilihat dalam konsep Islam sebagai bukti bahwa Islam telah menempatkan perempuan di tingkat yang sama seperti laki-laki dan memberikan banyak penghargaan. Namun, pada pembangunan berkelanjutan, feminisme menyebabkan pembebasan teratur bagi kehidupan perempuan. Hal inilah yang akhirnya bertentangan dengan konsep persamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.
GERAKAN ORGANISASI PEREMPUAN INDONESIA DALAM BINGKAI SEJARAH Mursidah Mursidah
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.151

Abstract

Abstract : Feminism movement comes forward in various parts of the world, including in Indonesia. This movement pictures a woman in the position of the oppressed, and sistematically subordinate and ideologically imprisoned. In order to  release from the oppression, then, it has emerged in the history of some women's movement in Indonesia, in which women have moved forward and more focused in the improvement of the social position of women in marriage and family, and to improve the skills as a housewife by improving the education and the teaching as accompanied by an increase in skill. Abstrak : Gerakan Feminisme datang ke depan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Gerakan ini menggambarkan seorang wanita di posisi tertindas, dan sistematis bawahan dan ideologis dipenjara. Untuk melepaskan dari penindasan, saat itu, muncul dalam sejarah gerakan beberapa perempuan di Indonesia, di mana perempuan telah bergerak maju dan lebih fokus dalam peningkatan posisi sosial perempuan dalam perkawinan dan keluarga, serta meningkatkan keterampilan sebagai ibu rumah tangga dengan meningkatkan pendidikan dan pengajaran sebagai disertai dengan peningkatan keterampilan. 
PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PUSARAN PEMBANGUNAN DAERAH (Telaah Kritis atas Kendala dan Solusi) Shinta Dewi Rismawati
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.152

Abstract

Abstract : Women's participation in any development process is very important and strategic in the context of policy decisions that is favored of women. The assumption is, that women as members of society is basically have the same chances and opportunities to participate in every stage of development, since women are also the subject of development. However, there are many obstacles and barriers to encourage women to participate actively, for instances: internal or external constraints. Internal herein is relating to personal / individual of the women themselves (aspect of psychologicalpersonality).  Whereas external here is associated with things that are outside of the women themselves (structural and cultural). Thus, the solution is also varies from internal and external as well, such as increasing the capacity building for women and the socialization and education concerning the true concept of gender to the public. Abstrak : Partisipasi perempuan dalam proses pembangunan sangat penting dan strategis dalam konteks keputusan kebijakan yang disukai wanita. Asumsinya adalah, bahwa perempuan sebagai anggota masyarakat pada dasarnya memiliki kesempatan yang sama dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap tahap perkembangan, karena perempuan juga subyek pembangunan. Namun, ada banyak kendala dan hambatan untuk mendorong perempuan untuk berpartisipasi secara aktif, untuk contoh: kendala internal maupun eksternal. Disini internal yang berkaitan dengan pribadi / individu perempuan itu sendiri (aspek psikologis-kepribadian). Sedangkan eksternal sini dikaitkan dengan hal-hal yang di luar dari perempuan itu sendiri (struktural dan kultural). Dengan demikian, solusi ini juga bervariasi dari internal dan eksternal juga, seperti meningkatkan pembangunan kapasitas bagi perempuan dan sosialisasi dan edukasi mengenai konsep gender benar kepada publik.
BURUH PEREMPUAN DI TENGAH KUBANGAN PARA KORUPTOR Triana Sofiani
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.153

Abstract

Abstract : The Center of hegemony, which is built on the common values  common interests between the rulers and capitalists who incidentally are in the sex of "males", makes women workers turn out to be worse in the encirclement of the corruptors. In fact, corruption that is rampant in this country, become a series of chains of the impoverishment of women workers, therefore women workers are affected by the domino effect as caused by the corrupts. Hence, the real movement against corruption on the basis of the women becomes an urging agenda to be realized immediately, in order to give effective contribution as linked to the rampant corruption in the country and also its impact on women workers. Abstrak : Pusat hegemoni, yang dibangun di atas nilai-nilai umum kepentingan bersama antara penguasa dan kapitalis yang notabene berada di jenis kelamin "laki-laki", membuat pekerja perempuan berubah menjadi lebih buruk dalam pengepungan dari para koruptor. Bahkan, korupsi yang merajalela di negeri ini, menjadi serangkaian rantai pemiskinan pekerja perempuan, oleh karena itu pekerja perempuan dipengaruhi oleh efek domino yang disebabkan oleh korup. Oleh karena itu, gerakan nyata melawan korupsi atas dasar perempuan menjadi agenda mendesak untuk segera diwujudkan, untuk memberikan kontribusi yang efektif terkait dengan korupsi yang merajalela di negeri ini dan juga dampaknya terhadap pekerja perempuan.
SIKAP MASYARAKAT KUDUS TERHADAP UNDANG-UNDANG TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA Anisa Listiana; M. Widjanarko
Muwazah Vol 4 No 1 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i1.154

Abstract

Abstract :  This study is about PKDRT law. It gives us information that domestic violence is a real thing that happens in our society, especially in Kudus. On the one hand, civil society actually has a formula to prevent the authority and rights of their family life with PKDRT (legal elimination of domestic violence) law. On the other hand, the government has a responsibility to eliminate violence, force and coercion in family life as referred to in 11, 12 and 13 of Law No. 23 of 2004. But the most important thing is that the courage of society to show concern and the seriousness of the government to take action when violence occurs. This research shows that domestic violence is a result of power imbalance between the weak dan the strong in our society where many women that represent the weak became a victim. Abstrak : Penelitian ini adalah tentang hukum PKDRT. Ini memberi kita informasi bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah hal nyata yang terjadi dalam masyarakat kita, terutama di Kudus. Di satu sisi, masyarakat sipil sebenarnya memiliki formula untuk mencegah wewenang dan hak-hak kehidupan keluarga mereka dengan PKDRT (penghapusan hukum kekerasan dalam rumah tangga) hukum. Di sisi lain, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menghapus kekerasan, kekuatan dan pemaksaan dalam kehidupan keluarga sebagaimana dimaksud dalam 11, 12 dan 13 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004. Tapi yang paling penting adalah bahwa keberanian masyarakat untuk menunjukkan perhatian dan keseriusan pemerintah untuk mengambil tindakan saat terjadi kekerasan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah hasil dari ketidakseimbangan kekuatan antara lemah Dan yang kuat dalam masyarakat kita di mana banyak wanita yang mewakili lemah menjadi korban.
GENDER DALAM ISLAM Ali Sibram Malisi
Muwazah Vol 4 No 2 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i2.155

Abstract

Abstract : Classical Islamic thought patriarchal critical scrutiny from many quarters, with the argument that classical Islamic discourse is based on postulates and assumptions are discriminatory, and in turn give birth, standardize and preserve unequal gender relations between men and women. Fiqh of women's rights measuring half the rights of men as in many of the provisions of inheritance, testimony and legal 'aqiqah. Women as imperfect beings (deficient); weak intellectual abilities; unable to master the emotional turmoil; think irrationally. In turn, all of the above attempted to re-analyzed, as we know that the Qur'an teaches that Islam came to give comfort, peace of life (rahmatan lil 'alamin). Abstrak : Pemikiran Islam  klasik yang bersifat patriakhi banyak dikritisi, dengan argumen bahwa wacana Islam klasik didasarkan pada dalil-dalil dan asumsi yang diskriminatif, dan pada gilirannya melahirkan, standarisasi dan melestarikan relasi gender yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan. Fiqh hak perempuan dengan porsi setengah dari hak laki-laki dalam ketentuan warisan, kesaksian dan hukum 'aqiqah. Perempuan dipandang sebagai  makhluk yang tidak sempurna, kemampuan intelektual yang lemah, emosional, tidak rasional. Pada gilirannya, semua hal di atas berusaha untuk dianalisis kembali, karena sesungguhnya Al-Qur'an mengajarkan bahwa Islam datang untuk memberikan kenyamanan, ketenangan hidup (rahmatan lil 'alamin).
MENDUDUKAN WACANA GENDER (Dari Kesalahpahaman Menuju Pemahaman) Susi Indrayati
Muwazah Vol 4 No 2 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i2.156

Abstract

Abstract : Departing from the public misunderstanding of the concept is identical to the female gender, the study intends seats the gender discourse (concepts and theories) that misunderstanding into understanding. To understand the concept of gender would not be separated from an understanding of the concept of sex, because it will cause an error in the understanding of gender inequality such as stereotyping, discrimination, subordination, marginalization, and the double burden of violence against women. Gender theory becomes important for an operation in this context, as in the context of understanding the reality of seats the history and thought that from experts and Kulture tersebutlah gender discourse was born and of course to provide a deeper understanding of the extremities in order not to get caught up in the flow of the ideology or gender. Abstrak : Berangkat dari kesalahpahaman umum  tentang konsep yang diidentikan dengan jenis kelamin perempuan, tulisan ini bermaksud mendudukkan wacana gender (konsep dan teori) dari sebuah kesalahpahaman menjadi sebuah pemahaman. Memahami konsep gender, saesungguhnya tidak akan lepas dari pemahaman tentang konsep seks, karena akan menyebabkan kesalahan dalam memahami ketidakadilan gender seperti stereotip, diskriminasi, subordinasi, marginalisasi, dan beban ganda kekerasan terhadap perempuan. Teori gender menjadi penting dalam konteks ini, seperti dalam konteks memahami realitas sejarah agar tidak terjebak dalam aliran ideologi gender yang keliru
PEREMPUAN DALAM PANDANGAN AGAMA (Studi Jender dalam Perspektif Islam) Abbas Abbas
Muwazah Vol 4 No 2 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i2.157

Abstract

Abstract : The discourse of gender is an issue that can not be avoided as warm and engaging conversation. Many times a woman to occupy an important position hindered simply because she was a woman. For example, Megawati Soekarno Putri had thwarted attempted to become president when the president of the Republic of Indonesia succession under the pretext she was a woman. The desire to fail this by using religious justification quoting verses from the Qur'an and the hadiths of the Prophet. Sometimes used religion as a shield to strengthen the argument for the sake of group opinion. Therefore, this article tries to discuss about religious views on gender, particularly the Islamic perspective in the context of the role of women in society. Then also track views of scholars on the subject. Keywords : Women, Gender, Religion, Islam.Abstrak : Wacana gender merupakan isu yang tidak dapat dihindari karena merupakan perbincangan hangat dan menarik. Banyak kasus seorang wanita terhalang menduduki posisi penting hanya karena dia adalah seorang wanita. Sebagai contoh, Megawati Soekarno Putri yang dijagal  untuk menjadi presiden dalam proses suksesi Presiden Republik Indonesia dengan dalih dia adalah seorang wanita. Keinginan untuk menggagalkan  ini justru didasarkan pada justifikasi agama mengutip ayat-ayat dari AlQur'an dan hadits. Agama dijadikan perisai untuk memperkuat argumen demikepentingan  pendapat kelompok. Oleh karena itu, artikel ini mencoba untuk membahas tentang pandangan agama tentang gender, khususnya perspektif Islam dalam konteks peran perempuan dalam masyarakat. Selain itu juga akan  melacak pandangan ulama tentang hal ini.
PEREMPUAN-PEREMPUAN PEJUANG HAK-HAK FEMINIS DALAM ALQURAN Muhandis Azzuhri
Muwazah Vol 4 No 2 (2012)
Publisher : UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28918/muwazah.v4i2.158

Abstract

Abstract : Feminism as a movement at the beginning of the movement is seen as a common ground for all the human race especially between men and women. The concept assumes that Islamic feminism as a construct of thought is a struggle for women's equality with men but not on the sexual aspect of his or her gender aspects as fellow creatures of God. However, women still have to accompany the man or husband whenever and wherever they may be in a sense of joy and sorrow. Khair Umm wife of Abu Lahab, the wife of Nuh and the wife of Prophet Lut As, As a symbol of women negatively in the Alquran, while Asyiyah wife of Fir’aun,  Siti Hawa, Siti Sarah, Siti Hajar and Queen Bilqis is a symbol of positive women in the Al Qur'an. Abstrak : Feminisme sebagai sebuah gerakan pada awal gerakan dipandang sebagai landasan bersama bagi semua umat manusia terutama antara laki-laki dan perempuan. Konsep ini mengasumsikan bahwa feminisme Islam sebagai konstruksi pemikiran adalah perjuangan untuk kesetaraan perempuan dengan laki-laki, tetapi tidak pada aspek seksual dari atau aspek-aspek gender sebagai sesama makhluk Tuhan. Namun, perempuan masih harus menemani laki-laki atau suami kapanpun dan dimanapun mereka berada dalam rasa suka dan duka. Khair Umm istri Abu Lahab, istri Nuh dan istri Nabi Luth As, Sebagai simbol perempuan negatif dalam Alquran, sementara Asyiyah istri Fir'aun, Siti Hawa, Siti Sarah, Siti Hajar dan Ratu Bilqis adalah simbol positif di Al Qur'an.