RELIGIA
Religia is a periodical scientific journal with ISSN Print: 1411-1632; Online: 2527-5992 published by the Faculty of Ushuluddin, Adab and Da'wah IAIN Pekalongan. This journal specializes in the study of Islamic sciences (Islamic Theology, Philosophy and Islamic thought, Tafsir-Hadith, Science of Da'wah, and Sufism). The managers invite scientists, scholars, professionals, and researchers in Islamic scholarship disciplines to publish their research results after the selection mechanism of the manuscript, the review of the partner bebestari, and the editing process. The Religia Journal is published in April and October each year. This journal has been indexed in a reputable national indexing agency.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"Vol 14 No 2: Oktober 2011"
:
14 Documents
clear
MU’TAZILAHISME DALAM PEMIKIRAN TEOLOGI ABDUH
Huda, Miftahul
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (437.753 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.88
Muhammad Abduh merupakan salah satu di antarapara pemimpin reformasi Islam yang memiliki pemikiran yangkompleks. Keinginan yang kuat untuk mengimplementasikanreformasi dan menempatkan Islam dalam situasi yang harmonisberhadapan dengan tuntutan jaman untuk kembali kepada Islamyang sesungguhnya membuatnya memikirkan ulangpermasalahan Islam dan menuliskannya dengan sebuahpemahaman baru. Ide Abduh terinspirasi oleh pemikiranpembaharuan ijtihadnya Ibn Taimiyah, yang bercorak Wahabi,tentang puritanisme, paham Mu’tazilah, paham para filosofmuslim tentang rasionalisme dan ilmu sosial. Pemikiranpembaharuannya yang dinamis dan jangkauannya yang luas,meliputi: bidang agama, bahasa Arab dan seni perang, tafsir,pendidikan, dan politik, tidak dapat dipisahkan, meskipunberkaitan erat dengan karakter teologi rasionalnya. Untuk itu,dapat dikatakan bahwa Abduh adalah seorang pemikirindependen di dunia Islam yang menghidupkan kembali pahamMu’tazilah.
PENGEMBANGAN SUMBER DAYA INSANI (SDI) INSTITUSI BERBASIS SYARI’AH PERSPEKTIF VIRTUAL CAPITAL
Ismanto, Kuat
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.025 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.93
Lembaga-lembaga ekonomi berbasis syari’ah diIndonesia masih memerlukan perbaikan terus-menerussehingga secara maksimal sesuai (compatible) dengan ajaranIslam, terutama terkait dengan Sumber Daya Insani-nya (SDI).Salah satu instrumen yang bisa dikembangkan untukmeningkatkan kualitas SDI-nya adalah membuka danmenerima perkembangan ilmu dan teknologi modern, sepertikonsep virtual capital dalam disiplin ilmu manajemen modern.Virtual capital adalah modal maya perusahaan yang tidakdidasarkan pada modal fisik, semisal Sumber Daya Alam(SDA). Pada saat ini, virtual capital dirujuk sebagai faktorpenyebab kesuksesan yang penting dan karenanya diperlukanpengelolaan yang baik. Wujud virtual capital dalampengelolaan institusi berbasis syariah adalah intellectualcapital, social capital, dan moral capital. Intellectual capitalterkait dengan pengetahuan dan pengalaman manusia terhadapteknologi yang digunakan. Social capital diartikan sebagaijaringan kerjasama yang didasarkan pada rasa saling percaya(trust). Social capital dalam perspektif Islam dikembangkanmelalui jalinan ‘Ukhuwah Islamiyyah’, dan berfungsimengembangkan institusi dalam pemahamannya terhadapjaringan sosial umat Islam. Moral capital adalah modal yangdimiliki SDI institusi syariah yang didasarkan pada ‘ahlak’,yang berwujud prinsip dan etika bisnis (muamalah) dalamIslam.
PANDANGAN ORIENTALIS TERHADAP AL-QUR’AN (“Teori Pengaruh” Al-Qur’an Theodor Nöldeke)
Kurdi, Kurdi
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (558.252 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.89
Sebagian besar kaum orientalis meyakini bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang dipengaruhi tradisi agamaYahudi dan Kristen. Keterpengaruhan itu meliputi: ajarankeimanan,hukum-moral, dan kisah-kisah para nabi. Tulisanini mengkaji pandangan Theodor Nöldeke, seorang orientalisberkebangsaan Jerman. Nöldeke berpendapat bahwa al-Qur’anadalah kitab suci yang banyak dipengaruhi agama Yahudi danbeberapa dari unsur agama Kristen. Melalui Bible sebagaitolok ukurnya, Nöldeke juga memandang bahwa beberapanama diri, term agama, dan kisah-kisah nabi terdahulu yangdijiplak Muhammad dalam al-Qur’an telah dipahami secarakeliru.
HERMENEUTIKA GADAMER DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMAHAMAN KONTEMPORER AL-QUR’AN
Rasyidah, Rasyidah
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (476.273 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.90
Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bagaimanapemikiran hermeneutika Gadamer dan implikasinya terhadappembacaan kontemporer al-Qur’an. Kajian hermeneutiknyaterkait dengan pertanyaan kunci tentang pemahaman teks,yaitu apa dan bagaimana sebenarnya pemahaman tersebut?Dengan ini Gadamer telah mengalihkan corak hermeneutikadari tataran epistemologis –seputar metode- menjadi ontologis.Jejak hermeneutika sebenarnya menunjukkan bahwa sejakSchleiermacher hermeneutika terus berkembang denganberagam variannya, enerobos pemikiran Islam kontemporer dansemakin mendapat celah diantara resistensi sakralitas terhadapteks- teks keagamaan. Corak Gadamer merupakan salah satuyang mempengaruhi pemikiran Islam kontemporer tersebut.Diantara idenya yang mengimplikasi adalah : pertama, terkaitkonsep “kata batin” yang memperkuat diskursus tentang al-Qur’an sebagai mushaf dan al-Qur’an sebagai firman Allah,kedua terkait konsep “makna eksistensial” yang menimbulkankritik internal Islam terhadap sikap sakralitas berlebihanterhadap teks- teks keagamaan, dan yang ketiga terkait “sejarahefektif” yang menimbulkan pemikiran seputar relatifitaspenafsiran al-Qur’an.
PERKEMBANGAN STUDI HADITS KONTEMPORER
Muna, Arif Chasanul
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (419.371 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.91
Studi hadits selalu mengalami perkembangan danpengembangan yang dinamis dalam setiap fase sejarahnya,sesuai dengan tuntunan dan tantangan zamannya. Tulisan inimencoba memotret dan mendeskripsikan perkembangan studihadits satu abad terakhir di dunia Islam. Dengan pendekatanhistoris-deskriptif, tulisan ini akan memetakan karakter dankecenderungan mutakhir studi hadits di dunia Islam. Ada empatkecenderungan kajian hadits yang dideskripsikan pada tulisanini, yaitu pertama studi manuskrip kitab-kitab hadits; keduastudi polemik seputar hadits; ketiga studi kemukjizatan ilmiahdan kemukjizatan futuristik dalam hadits dan keempatpengembangan kajian takhrij hadits.
TEOLOGI MULTIKULTURAL (Resolusi Konflik Religiusitas di Indonesia)
Haryati, Tri Astutik
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (428.472 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.87
Raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitassosial". Teologi seharusnya tidak hanya membahas konsepketuhanan melainkan refleksi kritis agama terhadappermasalahan sosial. Salah satunya adalah persoalan pluralitasagama di Indonesia. Islam dapat menjadi pijakan bagispiritualitas multikultural melalui pemahaman mendalamterhadap nilai-nilai etik fundamental yang dimiliki olehagama-agama sehingga menjadi entri point untuk mencarititik temu (kalimatun sawa)' sehingga dapat melahirkanmutual understanding diantara agama-agama. TeologiMultikultural sangat penting di jaman kontemporer ini karenapluralitas telah menjadi keniscayaan. Selain itu berguna untukmenghadapi berbagai fenomena keagamaan di masa depanyang ditandai oleh konflik-konflik dengan mengatasnamakanagama. Meskipun agama bukan satu-satunya faktor namunjelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflikkonflikitu dalam ekskalasinya banyak memainkan peran.Raison d’être of Islamic theology is a “social reality” demand.Theology should not only discuss about the concept of Godbut also reflect the religion critically with the social problems.One of them is plurality of religion in Indonesia. Islam can bemade as foundation to multicultural of spirituality throughdeep understanding of ethic values owned by many religion inIndonesia so that it become an entry point to find the meetingpoint (the same word) that can bring about mutualunderstanding among the religions. Multicultural theology isvery important in this contemporary time because pluralityhas become a must. Besides, it is also useful to face manyreligious problems in the future like conflicts on behalf ofreligion. Even though religion is not the only factor, it is soclear that religious justification in those conflicts plays animportant role.
AGAMA DAN PSIKOANALISA SIGMUND FREUD
Ahmad, Maghfur
RELIGIA Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (447.773 KB)
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.92
Sigmund Freud mengkonstruksi teori agamasecara berbeda dari aliran psikologi behavioristik danhumanistik. Freud mengkaji persoalan kepribadian danagama seseorang dari perspektif psikoanalisa. MenurutFreud, kepribadian manusia dibangun melalui tiga sistem:id, ego, superego. Ketiga sistem itu, berada dalam tigastruktur kepribadian, yaitu alam sadar, alam pra-sadar, danalam tak sadar. Menurut Freud, bagian terbesar dari jiwamanusia berada dalam alam ketidaksadaran, bukan alamsadar. Dan perilaku manusia dikendalikan oleh alam bawahsadar; seperti insting, hasrat, dan libido. Melalui tesis ini,teori agama diproduksi dan dikembangkan sedemikianrupa. Agama bagi Freud adalah dorongan libido yangmuncul dari alam ketidaksadaran tersebut. Sebab itu, Freudpunya keyakinan bahwa agama tidak akan dapat mampuberbicara banyak dalam kehidupan, karena agama adalahsikap kegilaan yang infantil. Freud merekomendasikan agarmanusia meninggalkan agama. Makalah ini secara detailakan mengkaji teori tersebut serta bagaimana Freudmembangun argumentasinya.
TEOLOGI MULTIKULTURAL (Resolusi Konflik Religiusitas di Indonesia)
Tri Astutik Haryati
Religia Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.87
Raison d’etre teologi Islam adalah tuntutan "realitassosial". Teologi seharusnya tidak hanya membahas konsepketuhanan melainkan refleksi kritis agama terhadappermasalahan sosial. Salah satunya adalah persoalan pluralitasagama di Indonesia. Islam dapat menjadi pijakan bagispiritualitas multikultural melalui pemahaman mendalamterhadap nilai-nilai etik fundamental yang dimiliki olehagama-agama sehingga menjadi entri point untuk mencarititik temu (kalimatun sawa)' sehingga dapat melahirkanmutual understanding diantara agama-agama. TeologiMultikultural sangat penting di jaman kontemporer ini karenapluralitas telah menjadi keniscayaan. Selain itu berguna untukmenghadapi berbagai fenomena keagamaan di masa depanyang ditandai oleh konflik-konflik dengan mengatasnamakanagama. Meskipun agama bukan satu-satunya faktor namunjelas sekali bahwa pertimbangan keagamaan dalam konflikkonflikitu dalam ekskalasinya banyak memainkan peran.Raison d’être of Islamic theology is a “social reality†demand.Theology should not only discuss about the concept of Godbut also reflect the religion critically with the social problems.One of them is plurality of religion in Indonesia. Islam can bemade as foundation to multicultural of spirituality throughdeep understanding of ethic values owned by many religion inIndonesia so that it become an entry point to find the meetingpoint (the same word) that can bring about mutualunderstanding among the religions. Multicultural theology isvery important in this contemporary time because pluralityhas become a must. Besides, it is also useful to face manyreligious problems in the future like conflicts on behalf ofreligion. Even though religion is not the only factor, it is soclear that religious justification in those conflicts plays animportant role.
MU’TAZILAHISME DALAM PEMIKIRAN TEOLOGI ABDUH
Miftahul Huda
Religia Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.88
Muhammad Abduh merupakan salah satu di antarapara pemimpin reformasi Islam yang memiliki pemikiran yangkompleks. Keinginan yang kuat untuk mengimplementasikanreformasi dan menempatkan Islam dalam situasi yang harmonisberhadapan dengan tuntutan jaman untuk kembali kepada Islamyang sesungguhnya membuatnya memikirkan ulangpermasalahan Islam dan menuliskannya dengan sebuahpemahaman baru. Ide Abduh terinspirasi oleh pemikiranpembaharuan ijtihadnya Ibn Taimiyah, yang bercorak Wahabi,tentang puritanisme, paham Mu’tazilah, paham para filosofmuslim tentang rasionalisme dan ilmu sosial. Pemikiranpembaharuannya yang dinamis dan jangkauannya yang luas,meliputi: bidang agama, bahasa Arab dan seni perang, tafsir,pendidikan, dan politik, tidak dapat dipisahkan, meskipunberkaitan erat dengan karakter teologi rasionalnya. Untuk itu,dapat dikatakan bahwa Abduh adalah seorang pemikirindependen di dunia Islam yang menghidupkan kembali pahamMu’tazilah.
PANDANGAN ORIENTALIS TERHADAP AL-QUR’AN (“Teori Pengaruh†Al-Qur’an Theodor Nöldeke)
Kurdi Kurdi
Religia Vol 14 No 2: Oktober 2011
Publisher : IAIN Pekalongan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.28918/religia.v14i2.89
Sebagian besar kaum orientalis meyakini bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang dipengaruhi tradisi agamaYahudi dan Kristen. Keterpengaruhan itu meliputi: ajarankeimanan,hukum-moral, dan kisah-kisah para nabi. Tulisanini mengkaji pandangan Theodor Nöldeke, seorang orientalisberkebangsaan Jerman. Nöldeke berpendapat bahwa al-Qur’anadalah kitab suci yang banyak dipengaruhi agama Yahudi danbeberapa dari unsur agama Kristen. Melalui Bible sebagaitolok ukurnya, Nöldeke juga memandang bahwa beberapanama diri, term agama, dan kisah-kisah nabi terdahulu yangdijiplak Muhammad dalam al-Qur’an telah dipahami secarakeliru.