cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota singkawang,
Kalimantan barat
INDONESIA
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia)
Published by STKIP Singkawang
ISSN : 24775932     EISSN : 2477846X     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (JP-BSI), publishes research-based articles in the field of language, literature, and learning. It is published twice a year, namely in March and September. The scopes of the topics include, but not limited to: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Representasi Budaya Patriarki dalam Film Basma Karya Fatima Al- Banawi: Kajian Semiotika Roland Barthes Naila Zakia Ramadhani; Asep Supianudin; Ihin Solihin
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8811

Abstract

This study aims to analyze the representation of patriarchal culture in the film Basma by Fatima Al-Banawi using Roland Barthes' semiotic approach. Barthes' semiotic analysis divides meaning into three levels: denotation, connotation, and myth. The scope of this research covers Sylvia Walby's form of patriarchal culture and Roland Barthes' semiotic analysis of six main scenes that depict patriarchal cultural practices, both in the private and public spheres, experienced by the female characters in the film. The method used is descriptive qualitative. The data analyzed consists of visual scenes and dialogues in the film Basma that show male domination and female subordination. The results of the study show that patriarchal culture in the film Basma is represented through various forms, including control over women's bodies and choices, the objectification of women as guardians of family honor, an emphasis on domestic roles, and the authority of male dominated institutions and social status. An interesting finding from this study is that patriarchal culture is not only explicitly present through the dialogue or actions of the characters, but is also symbolically constructed through the cinematography, setting, and the way the story is constructed, which reflects the gender ideology that is still deeply rooted in Saudi Arabian society
Ideologi dan Perlawanan Moral dalam Novel La Condition Humaine Karya André Malraux Raihan Nur Ihtifazuddin; B. Wahyudi Joko Santoso; Nurhanifah Hamdah
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8570

Abstract

Despite extensive studies on revolutionary literature, the role of ideology in shaping representatons of human existence within socio-political turmoil remains insufficiently explored, particularly in André Malraux’s La Condition Humaine. This study examines the representation of ideology in André Malraux’s novel La Condition Humaine through the framework of Critical Discourse Analysis (CDA) based on Fairclough’s three-dimensional model. The study aims to reveal how ideology is constructed and articulated through linguistic choices, social relations among characters, and broader socio-historical contexts. Using a qualitative descriptive approach, the data were obtained from narrative passages, dialogues, and descriptive segments of the novel that reflect ideological tension, class struggle, and existential conflict. The analysis was conducted at three levels: micro (linguistic features such as diction, syntax, and figurative language), meso (social relations, group dynamics, and discursive practices), and macro (situational, institutional, and social contexts related to the Shanghai Revolution of 1927). The findings show that Malraux employs fragmentary syntax, emotionally charged lexicon, and dark metaphors to represent existential anxiety and dehumanization at the micro level. At the meso level, ideological meanings are negotiated through solidarity, loyalty, and conflict among characters within revolutionary structures. At the macro level, the novel critiques institutional power, capitalism, and political bureaucracy that subordinate human dignity to efficiency and domination. This study contributes to literary discourse by demonstrating how CDA can uncover the interplay between language, ideology, and human resistance, offering a nuanced understanding of literary texts as sites of ideological contestation and moral reflection.
Dinamika Kepribadian Neurotik Tokoh Utama dalam Novel Adiba: Studi Psikoanalisis Karen Horney Fadhilah Al Mar’atus Sholikhah; Linda Eka Pradita; Yanti Sariasih
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8564

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami bagaimana kepribadian tokoh remaja, khususnya tokoh yang terbentuk dalam karya sastra dengan perspektif psikoanalisis Karen Horney yang masih jarang dikaji secara mendalam. Penelitian ini menggunakan sumber data yaitu Novel Adiba karya Mairisa Elvia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data baca-catat serta teknik analisis data yaitu analisis isi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kecemasan dasar, strategi neurotik, serta dinamika kepribadian neurotik tokoh utama dalam Novel Adiba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan dasar Adiba berakar pada pengalaman kehilangan figur orang tua dan kondisi pengasuhan yang kurang memadai,sehingga memunculkan rasa tidak aman. Strategi kebutuhan neurotik yang ditemukan meliputi kecenderungan gerak melawan orang lain, gerak menjauhi orang lain, dan gerak mendekati orang lain. Dinamika kepribadian Adiba berkembang dari kecemasaan dasar menuju kompensasi melalui ambisi, penarikan diri, hingga akhirnya mencapai reintegrasi sosial sebagai bentuk pemulihan diri. Penelitian ini menegaskan relevansi teori Karen Horney dalam mengkaji perkembangan kepribadian tokoh dalam karya sastra serta memberikan kontribusi pada kajian psikologi sastra yang menyoroti isu kesehatan mental pada remaja.
Feminisme Sosialis Kapitalisme: Analisis Wacana Kritis Subjektivitas Perempuan Serial Gadis Kretek Hasna Ur Rifah; Ali Manshur
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8791

Abstract

Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan membongkar ilusi pemberdayaan dalam budaya populer, karena narasi feminisme di platform streaming berpotensi melanggengkan eksploitasi jika tidak dibaca secara kritis. Tujuannya mengungkap bagaimana konstruksi subjektivitas tersebut dibentuk, dinegosiasikan, dan dinormalkan dalam serial Gadis Kretek sebagai teks budaya populer yang menggabungkan narasi kerja, keluarga, dan romansa. Metode Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough dengan perspektif feminisme sosialis diterapkan pada data dialog, narasi, dan adegan dari seluruh episode serial, dengan menelaah dimensi teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Temuan utama mencakup lima aspek: agensi perempuan yang direbut ke dalam logika produktivitas, beban kerja ganda, hierarki kelas antarperempuan buruh dan manajer, pengaturan reproduksi dan percintaan sebagai kontrol sosial, serta kebutuhan transformasi struktural. Kontribusi pemahaman baru dari penelitian ini adalah terbukanya bahwa Gadis Kretek merepresentasikan feminisme sosialis yang ambivalen: mengakui pengalaman kelas buruh perempuan sekaligus menormalkan wacana yang mengaburkan kebutuhan transformasi struktural. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis bagi feminisme sosialis dalam konteks kapitalisme lokal Indonesia, kontribusi metodologis melalui integrasi AWK dan FCDA, serta kontribusi substantif bagi kajian representasi buruh perempuan di industri padat karya melalui serial streaming.
Campur Kode Slang dalam Unggahan Komunitas Ramah-Ramah di Aplikasi X Vitria Hartanti; Charlina Charlina; Mangatur Sinaga
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8812

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan penggunaan campur kode slang yang ditemukan dalam unggahan Komunitas Ramah-Ramah di Aplikasi X. Jenis penelitian ini ialah penelitian kualitatif deksriptif. Metode untuk mengumpulkan data pada penelitian ini menerapkan  metode simak. Data dalam penelitian ini ialah satuan bahasa yang digunakan anggota Komunitas Ramah-Ramah di Aplikasi X dan sumber datanya ialah unggahan di Komunitas Ramah-Ramah. Proses analisis data penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang membagi proses analisis data menjadi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian ini ditemukan penyisipan slang tataran kata berjumlah 14 kata, penyisipan slang tataran frasa berjumlah 5, dan tidak ditemukan penyisipan slang tataran klausa. Penyisipan slang yang ditemukan berasal dari slang bahasa Indonesia, slang bahasa Inggris, dan slang dari serapan bahasa Italia. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa campur kode penyisipan tataran kata lebih banyak karena bersifat fleksibel serta mudah digunakan pada tuturan di media sosial yang bersifat singkat dan cepat.
Keterbacaan Buku Teks Wanda Basa Sunda Jenjang SMP: Analisis Grafik Fry dan Raygor Risma Hikmah Rahmadini; Haris Santosa Nugraha; Temmy Widyastuti
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8192

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat keterbacaan teks fiksi dan non-fiksi serta menelaah kesesuaiannya dengan jenjang kelas VII, VII, dan IX dalam buku Wanda Basa Sunda jenjang SMP. Pendekatan yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif dengan metode analisis isi. Data dalam penelitian ini diambil dari 28 teks, kemudian dianalisis menggunakan grafik Fry dan grafik Raygor. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat keterbacaan teks dalam buku tersebut berbeda-beda. Jika dilihat secara umum sekitar sekitar 54% teks berada pada tingkat keterbacaan yang sesuai, sedangkan sebagian lainnya menunjukan tingkat keterbacaan yang lebih rendah dan lebih tinggi dari jenjang sasaran. Dari perbedaan hasil antara grafik Fry dan grafik Raygor, hal itu menunjukan adanya perbedaan dalam menilai karakteristik kebahasaan teks. Grafik Fry cenderung lebih fokus pada panjang dan struktur kalimat, sedangkan grafik Raygor lebih berfokus pada tingkat kesulitan kata yang digunakan dalam teks. Temuan ini menunjukan bahwa aspek keterbacaan belum sepenuhnya menjadi perhatian dalam proses penyusunan maupun pemilihan bahan ajar bahasa Sunda, sehingga dapat mendorong tercapainya tujuan pembelajaran. 
Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Proyek Berbantuan Aplikasi Tiktok untuk Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Pidato Persuasif dan Kemandirian Belajar Emi Kulsum; R. Ika Mustika; Euis Eti Rohaeti
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8763

Abstract

Rendahnya kualitas pembelajaran menulis teks pidato persuasif  ditandai skor observasi kelas rata-rata 1,71/4 (42,9%), ketergantungan siswa pada arahan guru, dan belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital, menjadi urgensi penelitian ini. Penelitian bertujuan mengembangkan Model Project Based Learning (PjBL) Berbantuan TikTok yang valid, praktis, dan efektif untuk meningkatkan keterampilan menulis pidato persuasif sekaligus mendorong kemandirian belajar. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) model ADDIE melalui tahap analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah, Kabupaten Bandung Barat, melibatkan 86 siswa (44 eksperimen, 42 kontrol) melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui pretest-posttest, angket kemandirian, observasi keterlaksanaan, dan validasi ahli, lalu dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan Uji Mann-Whitney, Effect Size, dan N-Gain. Hasil  validasi ahli menunjukkan skor rata-rata dari keseluruhan jenis instrument produk 3,45 (Sangat Layak) dengan keterlaksanaan sintaks 100%; kelas eksperimen meningkat 14,52 poin (64,34→78,86) dibanding kelas  kontrol hanya 5,24 poin; Uji Mann-Whitney signifikan (p=0,000) dengan effect size besar (r=0,55) dan N-Gain 0,41; kemandirian belajar meningkat konsisten, didukung 94% siswa merasa model sesuai kebiasaan teknologi mereka dan 96% termotivasi. Penelitian menyimpulkan bahwa Model PjBL Berbantuan TikTok efektif mengintegrasikan literasi bahasa, literasi digital, dan kemandirian belajar dalam satu ekosistem pembelajaran terpadu. Penelitian lanjutan disarankan mencakup konteks sekolah yang lebih beragam.
Pengaruh dan Makna Sosial Pemberian Julukan (Laqob) terhadap Solidaritas Antarsantri di Pondok Pesantren: Kajian Sosiolinguistik Ahmad Afallah; Syafi' Junadi
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8680

Abstract

This study aims to analyze the influence of nicknames (laqob) on the level of solidarity among students in Islamic boarding schools. The phenomenon of laqob in Islamic boarding schools has two sides, namely as a social glue through symbolic communication or as a potential trigger for conflict and verbal bullying. This study uses a mixed methods approach with a sequential explanatory design. Quantitative data were obtained from 36 male student respondents at the Darussalam Islamic Boarding School Dormitory, Blokagung using a Likert scale questionnaire, which was then analyzed using simple linear regression. The qualitative stage was carried out through observation and in-depth interviews to explore the symbolic meaning behind the practice. The results of this study indicate that the giving of laqob has a positive and significant influence on student solidarity with a significance value of 0.000 < 0.05 and a t-value of 4.700 > t-table of 2.032. The variable of giving laqob is able to explain the variation in student solidarity by 39.4%. Qualitative findings reveal the existence of a "reinterpretation mechanism" where potentially negative nicknames are transformed into symbols of familiarity, group identity, and unique brotherhood within the Islamic boarding school environment. This study provides a novel contribution to sociolinguistic research within Islamic boarding school environments by demonstrating a mechanism of semantic reclamation, wherein students collectively neutralize the potential negative impacts of verbal bullying from nicknaming (laqob) and transform them into endearment terms that signify in-group identity.
Penggunaan Bahasa Vulgar pada Remaja di Pekanbaru-Riau: Kajian Sosiolinguistik Aprilia Vavalin; Tri Yuliawan
JP-BSI (Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia) Vol 11, No 1 (2026): VOLUME 11 NUMBER 1 MARCH 2026
Publisher : STKIP Singkawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26737/jp-bsi.v11i1.8797

Abstract

Penggunaan bahasa vulgar di kalangan remaja merupakan fenomena linguistik yang semakin menonjol di masyarakat perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk bahasa vulgar yang digunakan oleh remaja di Kota Pekanbaru dan menganalisis makna serta fungsi sosial penggunaannya dalam interaksi sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sosiolinguistik. Data diperoleh melalui observasi, mendengarkan dan mencatat, serta observasi pendukung terhadap remaja yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data terdiri dari ucapan lisan yang mengandung kata dan frase vulgar dalam konteks komunikasi informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa vulgar yang digunakan oleh remaja terjadi dalam berbagai bentuk, seperti kata-kata kasar, penghinaan, dan ungkapan tidak sopan. Bahasa vulgar ini berfungsi sebagai sarana ekspresi emosi, penanda keintiman, dan simbol solidaritas kelompok dalam interaksi sosial remaja. Namun, penggunaan bahasa vulgar yang berlebihan dan tidak terkendali berpotensi mengurangi kesopanan dan menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi, terutama ketika dibawa ke lingkungan formal seperti sekolah dan keluarga. Dari perspektif sosiolinguistik, penggunaan bahasa vulgar mencerminkan dinamika sosial dan identitas remaja perkotaan. Oleh karena itu, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial sangat diperlukan dalam membimbing remaja untuk menggunakan bahasa secara kontekstual dan sopan.