cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Harmoni
ISSN : 1412663X     EISSN : 25028472     DOI : -
Core Subject : Education,
Ruang lingkup jurnal ini meliputi: 1. Aliran, Paham dan Gerakan Keagamaan 2. Pelayanan Keagamaan 3. Hubungan Antarumat Beragama 4. Toleransi Umat Beragama
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
PENGARUH PEMAHAMAN KEAGAMAAN MASYARAKAT DESA DEMPET TERHADAP POLA RELASI SUAMI ISTRI BEKERJA Ifti Ida
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.852 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.340

Abstract

Relasi suami istri terbentuk setelah terjadinya akad perkawinan yang kemudian menimbulkan hak dan kewajiban antara keduanya. Suami istri masing-masing memiliki beban tanggung jawab dalam menjalankan kehidupan rumah tangga. Realitas yang terjadi di masyarakat Desa Dempet justru banyak dari mereka yang mengetahui hak dan kewajiban namun tidak menghiraukan beban tanggung jawab sebagai suami istri. Kondisi ini akhirnya menimbulkan konflik bagi istri yang ikut bekerja di luar rumah, tetapi tidak terjadi pertukaran peran antara suami istri dalam urusan domestik maupun mencari nafkah. Akibatnya istri mengalami perkembangan beban sebagai ibu rumah tangga dan sebagai istri pekerja. Hal ini dipengaruhi oleh figur kyai yang memahami agama menggunakan lensa budaya patriarki, sementara kyai di masyarakat memiliki posisi yang sangat signifikan yakni sebagai figur untuk ditiru dan diteladani dalam kehidupan sehari-sehari. Pemahaman agama ini mengakibatkan beberapa dampak terhadap pola relasi suami istri bekerja, yakni terjadinya pemahaman keagamaan masyarakat yang bersifat konservatif dan bersifat moderat. Tulisan ini mendeskripsikan tentang masalah pengaruh pemahaman keagamaan dan dampak pemahaman keagamaan terhadap pola relasi suami istri bekerja dari segi sosiologis.
BUDAYA WELASAN JAM’IYYAH AHLI THORIQOH QODARIYYAH : ETOS KEAGAMAAN DALAM KULTUR LIVING QUR’AN DI DUSUN BAGONGAN, GETASAN, SEMARANG Neny Muthiatul Awaliyyah
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.636 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.343

Abstract

Jenis penelitian ini adalah penelitian Lapangan (Field Research) yang menggunakan metode diskriptif analisis yaitu menyajikan data yang sesuai dengan hasil penelitian yang diperoleh dari subjek penelitian di lapangan. Informasi maupun data-data yang diperoleh yaitu dengan cara terjun langsung ke lapangan sesuai dengan pokok penelitian ini. Penelitian ini bertujuan Untuk Mengetahui Prosesi Pelaksanaan pembacaan Ayat-ayat Al-Qur’an dalam Tradisi Welasan oleh Jam’iyyah Ahli Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah di Dusun Bagongan, Getasan, Semarang.Untuk mengetahui signifikansi tradisi welasan bagi Jam’iyyah Ahli Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah di Dusun Bagongan, Getasan, Semarang, Untuk mengetahui bagaimana persepsi Jam’iyyah Tariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah di dusun Bagongan, Getasan, semarang terhadap Ayat-Ayat Al-Qur’an yang dibaca dalam tradisi Welasan. Hasil penelitian ini menunjukkan Secara bahasa kata “welasan” diambil dari kata “Las-lasan” yang berarti “angka 10 ke atas” dan “welas asih” yang berarti “kasih sayang, rahmat, dan ridho” Sedangkan menurut istilah welasan merupakan “tradisi rutinan Jam’iyyah Ahli Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah dusun Bagongan yang dilaksanakan setiap hari rabu pada tanggal 10 ke atas dalam bulan Hijriyah yang tujuannya adalah untuk meminta rahmat, dan ridho atas amalan-amalan yang telah dilakukannya agar dapat diterima disisi Allah SWT”. Pelaksanaannya dilakukan pada pukul 12.30 sd selesai di Mushola Baitul Mujahidin dusun Bagongan. Adapun prosesi pelaksanaan tradisi welasan yakni, pertama Niat, kedua membaca ummul kitab, ketiga membaca tahlil, ke-empat membaca ?asbuna Allah wa ni’ma al-wakil, ke-lima membaca La k?aula wa la quwwata illa billah, ke-enam membaca Ya Latif, ke-tujuh membaca Surah al-Waqi’ah, ke-delapan membaca Manaqib Syekh Abd al-Qadir, ke-sembilan Do’a, dan terakhir mauidhah hasanah. Persepsi Jam’iyyah Ahli Thariqah Qadiriyyah Naqsyabandiyyah dusun Bagongan terhadap ayat-ayat yang dibaca dalam tradisi welasan adalah sebagai berikut: Al-Fatihah merupakan surah yang agung Dikatakan surah yang agung karena seluruh isi daripada Al-Qur’an terdapat dalam satu surah yakni surah Al-Fatihah, sebagaimana yang ditegaskan oleh Prof, Dr, M. Quraish Shihab Surah pendatang rizki- Keutamaan daripada surah al-Waqi’ah yaitu sebagai surah penjemput rizki. Adapun rizki yang dimaksud disini tidak semata-mata berupa harta, melainkan dapat berupa dikaruniai seorang anak, saudara yang baik, kesehatan, dan yang lainnya. Memberi ketenangan jiwa- Hal ini dirasakan oleh sebagian anngota jama’ah setelah membaca ayat-ayat yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Seperti halnya yang dirasakan oleh Bapak syamsudi
RESOLUSI KONFLIK UMAT AGAMA BAHA’I DENGAN MUSLIM: STUDI KASUS DI PATI JAWA TENGAH Moh Rosyid
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.575 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.345

Abstract

This research was conducted in 2018 among Baha’i community in Cebolek Kidul, Margoyoso, Pati, Central Java. The purpose of this study is to describe conflict resolution between Baha’i community and their Muslim neighbors. Data were gathered through interview, documentation, observation and focus group discussion. There are 9 (nine) families of Baha’i consisting of 27 people. In their village, some Muslims were accused Baha’i people as deviants. Thus Baha’i people were not allowed to be buried in the same cemetery as Muslims, in some cases Baha’i people also do not receive the same service in administrative matters from the village officers as their Muslims fellows such as do not receive religious education at formal school, do not have marriage certificate since their marriage is not acknowledged by the government. After the Reformation, Baha’i people struggle to gain public attentions in several ways: 1) distributing information on Baha’i through public meetings; 2) initiating non-formal religious class for Baha’i people and people of other religions; 3) inviting neighbors and friends during Baha’i religious celebration.
MEMPERLEBAR BATAS TOLERANSI DAN MEMBELA HAK MINORITAS (TELAAH ATAS KARYA AHMAD NAJIB BURHANI): MENEBAR TOLERANSI MEMBELA MINORITAS Muhammad Nur Prabowo Setyabudi
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.776 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.347

Abstract

Gambaran buku: Tulisan ini merupakan telaah pustaka atas buku terbaru yang ditulis oleh Ahmad Najib Burhani (2019), Menemani Minoritas: Paradigma Islam tentang Pembelaan terhadap yang Lemah. Karya ini merupakan usaha untuk meneguhkan dan menguatkan paradigma Islam tentang keberpihakan terhadap mustadhafin. Dalam buku ini, Najib Burhani memberikan analisis kategoris tentang pengertian minoritas agama dan pluralisme agama. Ia juga memberikan beberapa argumen tentang pentingnya toleransi aktif, yang diwujudkan dengan sikap aktif "membela" hak-hak minoritas agama yang selama ini terpasung. Dalam buku ini pula penulis memberikan informasi dan pengalaman berharga tentang aktivisme yang selama ini dilakukan dalam upaya pembelaan tersebut, khususnya bagi kelompok Ahmadiyah dan Syi'ah.
RELIGION AND PEACEBUILDING: A PRELIMINARY STUDY ON TRANSNATIONAL ISLAM AND COMMUNAL HARMONY IN PAPUA Ridwan - Ridwan
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (469.688 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.348

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam memahami agama dan pembangunan perdamaian, dengan memfokuskan perhatian pada Islam transnasional dan perdamaian di Papua. Saya akan mendeskripsikan kehadiran agama (Islam dan Kristen), menampilkan bagaimana Islam transnasional hadir melawan latar konflik, bagaimana ia beroperasi di wilayah tersebut, secara khsuus faksi Salafi yang dipimpin oleh Jafar Umar Thalib dan bagaimana faksi Salafinya telah mengancam perdamaian di Papua.
REPRESI YANG GAGAL: RELASI NEGARA DAN JEMAAT AHMADIYAH DI TINGKAT LOKAL Mahbib Khoiron
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.878 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.351

Abstract

Abstrak Penelitian ini menyoroti hubungan negara dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang sering diasumsikan sebagai dua entitas terpisah yang statis atau bahkan konflik. Melalui studi etnografi pada relasi salah satu cabang JAI dan negara di tingkat lokal, yang menekankan pada analisis para aktor, penelitian kualitatif ini mengungkap bahwa relasi keduanya lebih kompleks dari sekadar dikotomi negara-masyarakat. Kompleksitas tersebut mengacu pada hadirnya identitas yang majemuk dalam diri masing-masing aktor yang membuat batas-batas di antara mereka pun samar dalam interaksi sosial sehari-hari, bahkan cenderung integratif. Kata kunci: Ahmadiyah, interaksi sosial, kegagalan represi, masyarakat, negara, state in society. Abstract This study highlights the relationship between the state and Indonesian Ahmadiyya Community (JAI), which is often assumed as two separate entities that are static or even conflict. Through the ethnographic study on relationship between a branch of JAI and state at the local level, in which emphasizes the actors analysis, it reveals that the relations are more complex than dichotomy of the state and society. This complexity refers to the presence of multiple identities in each actor which causes the boundaries between the two social categories blurred in everyday social interactions, even tend to be integrative. Keywords: Ahmadiyya, social interaction, failed repression, society, state, state in society.
MENAKAR EFEKTIVITAS SKB TENTANG AHMADIYAH: SUDI KASUS KONFLIK AHMADIYAH DI DESA GERENENG LOMBOK TIMUR Abdul Jamil Wahab; Fakhruddin Fakhruddin
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.337 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.356

Abstract

Abstrak Kajian ini mendeskripsikan konflik terkait Ahmadiyah yang terjadi pada tanggal 19 Mei 2018 di Desa Gereneng Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur NTB. Saat itu terjadi pengrusakan 7 rumah milik pengikut Ahmadiyah oleh sekelompok massa. Peristiwa itu diiringi dengan pengusiran dari kampung halaman mereka. Alasan penyerangan dan pengusiran tersebut adalah penolakan massa terhadap eksistensi jamaah Ahmadiyah di desa Gereneng. Perusakan dan pengusiran yang terjadi di Desa Gereneng itu, membuktikan bahwa para pelakunya belum memahami dan mentaati diktum-diktum yang ada dalam SKB. Sementara itu, sikap pemerintah daerah dan aparat keamananpun terkesan tidak tegas, seakan mengikuti begitu saja tuntutan pihak kelompok penyerang. Dari temuan di atas, disimpulkan bahwa regulasi (SKB) yang telah ditetapkan pemerintah dalam mengantisipasi kasus Ahmadiyah hingga saat ini belum efektif. Kata Kunci: Ahmadiyah, Desa Gereneng, SKB.
STRATEGI PEMBERDAYAAN MUSTAHIK DI LAZISMU MASJID MUJAHIDIN BANDUNG Anik Farida
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.768 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.357

Abstract

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia memiliki potensi zakat yang besar pula. Tetapi optensi ini belum didayagunakan secara optimal. Ada dua kemungkinan penyebabnya, pertama tingkat kesadaran masyarakat terhadap untuk menyalurkan zakat ke lembaga-lembaga resmi. Kedua, proses distribusi serta strategi pengumpulan zakat oleh Amil kurang maksimal. Akibatnya, peran zakat dalam mengurangi jumlah penduduk miskin masih jauh dari harapan. Tulisan ini mengungkap peran tersebut yang dapat diketahui dari model strategi pemberdayaan zakat, profil muzakki dan profil mustahik. Sebagai kasus dipilih lembaga Lazizmuh yang berada di bawah kontrol Muhammadiyah dan BAZ Pr0pinsi Jawa Barat. Hasilnya, keberhasilan suatu strategi pemberdayaan zakat berkaitan dengan kapasitas pengelola (amil) pada lembaga bersangkutan termasuk pada pilihan antara produk zakat yang konsumtif atau zakat yang produktif. Kedua, pada lembaga zakat berbasis ormas profil mustahiq lebih loyal, sementara pada lembaga semi pemerintah, karakter mustahiq lebih karena kepatuhan karena ikatan kedinasan. Sementara lembaga zakat pemerintah interaksi antara mustahiq dan muzakki tidak intensif bahkan kurang. Ketiga, terdapat transformasi dari musthiq, sebagai penerima produk zakat kearah yang lebih mandiri. Dari kasus yang diteliti arah pemberdayaan bukan pada pengentasan kemiskinan musthik tetapi lebih pada membangun kemandirian dan kesadaran (mentalitas miskin) untuk menjadi muzakki, dari tangan di bawah menjadi tangan di atas.
RUQYAH SYAR’IYYAH: ALTERNATIF PENGOBATAN, KESALEHAN, ISLAMISME DAN PASAR ISLAM Dony Arung Triantoro
Harmoni Vol. 18 No. 1 (2019): Januari-Juni 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.55 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i1.354

Abstract

Abstrak: Studi ini menelisik tentang wacana kemunculan pengobatan alternatif Islam, utamanya pengobatan Ruqyah Syar’iyyah di Yogyakarta dan sekitarnya. Pengobatan Ruqyah Syar’iyyah telah menjadi bentuk ekspresi keislaman baru di kalangan Muslim Indonesia pasca Orde Baru. Tulisan ini akan menjelaskan tentang apa saja wacana yang menginisiasi kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah dan mengapa Muslim Indonesia mengapresiasi kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, peneliti melakukan kerja lapangan di beberapa komunitas ruqyah di Yogyakarta, Sleman, Bantul dan Gunung Kidul. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa kemunculan pengobatan Ruqyah Syar’iyyah diinisiasi oleh ketidakpastian (uncertainty) jaminan sosial kesehatan dari pemerintah, Islamisme, dan semangat kebangkitan Islam pasca Orde Baru. Kemudian pengobatan Ruqyah Syar’iyyah turut menyuplai produk-produk keislaman di Indonesia.
ALIANSI NASIONAL ANTI SYIAH (ANAS) DAN KEMBALINYA ORANG NU PASCA MASUK SYIAH DI PROBOLINGGO ahsanul khalikin
Harmoni Vol. 18 No. 2 (2019): Juli-Desember 2019
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.315 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v18i2.300

Abstract

Diperoleh infomasi bahwa beberapa aktivis NU dan santri di Probolinggo, Jawa Timur meninggalkan paham keagamaan ahlusunnah wal jamaah kemudian menjadi penganut paham syiah Imamiyah. Padahal pondok pesantren yang berafiliasi NU merupakan tempat pengkaderan untuk menggodok kader-kader NU yang akan mewarisi kepemimpinan NU pada masa yang akan datang. Paper ini diangkat dari hasil penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif, yang secara data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Di dalamnya dipaparkan cukup besar peran organisasi Aliansi Nasional Anti Syiah (Anas) dalam mengembalikan aktivis NU dan santri yang sempat masuk Syiah untuk kembali ke ajaran Ahlussunnah Waljamaah. Kata kunci: Gerakan Syiah, Hubungan Antar Komunitas, Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) Information was obtained that some NU (Nahdlatul Ulama) activists and students in Probolinggo, East Java abandoned the religious understanding of Ahlusunnah wal Jamaah to later become adherents of the Imamiyah Shi’ite group. Whereas the boarding schools affiliated with NU is a cadre for boosting NU cadres who will inherit NU leadership in the future. This paper is based on qualitative research findings, collected through interviews and observations. On the other hand, the role of the National Anti-Shi’a Alliance (Anas) was presented in the agreement of NU activists and students who had been accepted in Shia to return to the teachings of Ahlussunnah Waljamaah. Keywords: Shi’a Movement, Community Relations, Anti-Shi’a National Alliance (ANAS)