cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Unnes Journal of Mathematics Education Research
ISSN : 22526455     EISSN : 25024507     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 568 Documents
ANALISIS SELF-REGULATION DAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA BERDASARKAN GOAL ORIENTATION PADA 7E-LEARNING CYCLE
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemecahan masalah penting dalam matematika dan membutuhkan self-regulation. Goal orientation mempengaruhi self-regulation dan kemampuan pemecahan masalah. Mengatasi permasalahan tersebut diterapkan 7E-learning cycle untuk mengoptimalkan cara belajar. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan 7E-learning cycle serta mendeskripsikan self-regulation dan pemecahan masalah matematika berdasarkan goal orientation sebelum dan setalah implementasi 7E-learning cycle. Desain penelitian ini adalah mix method. Subjek penelitian peserta didik kelas XI MA Nurul Ulum Jekulo Kudus yang dikelompokan berdasarkan goal orientation yaitu mastery goal dan performance goal. Variabel bebas penelitian ini adalah model pembelajaran, sedangkan variabel terikat adalah kemampuan pemecahan masalah dan self-regulation. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan pemecahan masalah melalui 7E-learning cycle mencapai ketuntasan secara individual dan klasikal, self-regulation dan kemampuan pemecahan masalah pada 7E-learning cycle lebih baik daripada pembelajaran model ekspositori, serta regulation dan kemampuan pemecahan masalah setelah implementasi 7E-learning cycle lebih baik sebelum implementasi 7E-learning cycle. Berdasarkan analisis kualitatif, self-regulation setalah implementasi 7E-learning cycle kelompok mastery goal lebih baik dibandingkan kelompok performance goal. Setelah pembelajaran dengan 7E-learning cycle peserta didik kelompok mastery goal dapat memahami masalah dengan tepat dan merencanakan strategi pemecahan masalah lebih sistematis.
KETERAMPILAN PENALARAN INDUKTIF DEDUKTIF DAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA PADA PEMBELAJARAN CTL BERBASIS HANDS ON ACTIVITY
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya dan masih belum optimalnya keterampilan penalaran induktif deduktif dan kemampuan representasi matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Menganalisis kemampuan representasi matematis pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity, pembelajaran CTL berbasis LKS, pembelajaran hands on activity dapat mencapai ketuntasan rata-rata kelas dan klasikal 75%. (2) Menganalisis kemampuan representasi matematis siswa pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity lebih baik daripada pembelajaran CTL berbasis LKS, hands on activity, dan konvensional berbasis LKS. (3) Menganalisis pengaruh keterampilan penalaran induktif deduktif terhadap kemampuan representasi matematis siwa pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity. (4) Mendeskripsikan keterampilan penalaran induktif deduktif siswa pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode mix method desain concurrent embedded. Tehnik pengambilan data menggunakan observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Tehnik analisis data menggunakan uji proporsi, uji banding, dan uji regresi, serta menggunakan analisis deskriptif. Berdasarkan analisa data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Ketuntasan klasikal pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity sebesar 88,89%, ketuntasan klasikal pada pembelajaran CTL berbasis LKS sebesar 88,89%, dan ketuntasan klasikal pada pembelajaran hands on activity 86,11%. (2) Rata-rata kemampuan representasi matematis pada pembelajaran CTL berbasis hands on activity lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional berbasis LKS. (3) Keterampilan penalaran induktif deduktif berpengaruh positif terhadap kemampuan represebtasi matematis siswa sebesar 45,3%. (4) Siswa yang berkemampuan tinggi telah mencapai tingkat keterampilan penalaran induktif deduktif siswa kategori sangat terampil, siswa yang berkemampuan sedang telah mencapai tingkat keterampilan penalaran induktif deduktif siswa kategori terampil, dan siswa yang berkemampuan rendah telah mencapai tingkat keterampilan penalaran induktif deduktif siswa kategori cukup terampil.
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA KELAS VII BERDASARKAN GAYA BELAJAR PADA PEMBELAJARAN PBL
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakam sebagian kemampuan dalam matematika yang belum dikembangkan secara optimal pada siswa. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dapat ditinjau dari berbagai dimensi, salah satunya adalah gaya belajar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas pembelajaran model PBL terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas VII dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya belajar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas VIIB SMP N 2 Karangawen yang terdiri 29 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen tes dan wawancara. Analisis data meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran matematika model PBL terhadap kemampuan pemecahan masalah dalam kategori baik. Siswa dengan gaya belajar divergen hanya mampu menyelesaikan pada langkah merencanakan pemecahan masalah dan gagal dalam memecahkan masalah, siswa dengan gaya belajar konvergen mampu menyelesaikan pemecahan masalah pada langkah mengecek kembali, siswa dengan gaya belajar asimilasi mampu pada langkah mengecek kembali tetapi tidak sempurna, dan siswa dengan gaya belajar akomodasi mampu pada langkah melaksanakan pemecahan masalah tetapi tidak melakukan pengecekan kembali. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa setiap gaya belajar yang berbeda memiliki kemampuan pemecahan masalah yang berbeda-beda.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DITINJAU DARI SELF-EFFICACY SISWA DALAM MODEL PEMBELAJARAN MISSOURI MATHEMATICS PROJECT
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah merupakan tujuan utama dalam pembelajaran matematika. Terdapat faktor-faktor yang mendukung keberhasilan siswa dalam memecahkan masalah, diantaranya adalah self-efficacy. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran MMP terhadap kemampuan pemecahan masalah dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah ditinjau dari self-efficacy siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed method dengan desain concurrent embedded. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model pembelajaran MMP efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah, (2) a) siswa dengan self-efficacy tinggi mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, serta memeriksa kembali dengan benar dan lengkap, b) siswa dengan self-efficacy sedang mampu memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah dengan benar dan lengkap, dalam memeriksa kembali tidak mampu menggunakan cara lain, dan c) siswa dengan self-efficacy rendah mampu memahami masalah dan merencanakan pemecahan masalah dengan benar namun kurang lengkap, kurang mampu dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah, serta dalam memeriksa kembali tidak mampu menggunakan cara lain.
Kemampuan Literasi Matematika dan Jiwa Kewirausahaan pada Pembelajaran Matematika Problem Based Learning Berpendekatan Entrepreneurial Pedagogy
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pembelajaran Matematika Model Problem Based Learning Berpendekatan Entrepreneurial Pedagogy, dan mendeskripsikan Kemampuan Literasi Matematika dan Jiwa Kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan desain Concurrent Triangulation dengan dua jenis data. Data kuantitatif berupa skor pengamatan Kemampuan Literasi Matematika dan Jiwa Kewirausahaan, skor Kemampuan Literasi Matematika dalam Pre test dan Post test yang dianalisis dengan uji n-gain, uji statistik t dan uji F dan data kualitatif berupa transkrip hasil wawancara Kemampuan Litersi Matematika dan Jiwa Kewirausahaan dengan guru dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan Pembelajaran Matematika Model Problem Based Learning Berpendekatan Entrepreneurial Pedagogy terbukti berkualitas dalam membentuk Kemampuan Literasi Matematika dan Jiwa Kewirausahaan, Kemampuan Literasi Matematika pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Tetapi, dalam penelitian ini Kemampuan Literasi Matematika siswa tidak mencapai ketuntasan karena materi kalkulasi grafika belum diajarkan secara menyeluruh di kelas X.
Kemampuan Pemecahan Masalah Siswa pada Pembelajaran Problem Based Learning Bernuansa Etnomatematika Ditinjau dari Gaya Kognitif
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalis (1) keefektifan pembelajaran model problem based learning bernuansa etnomatematika dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa, (2) peningkatan cinta budaya lokal siswa pada pembelajaran model problem based learning bernuansa etnomatematika, (3) kemampuan pemecahan masalah matematika siswa ditinjau dari gaya kognitif. Populasi penelitian adalah siswa kelas X SMA Negeri 12 Sijunjung Sumatera Barat. Pemilihan sampel menggunakan teknik random sampling, kelas X1 sebagai kelas eksperimen dengan pembelajaran model problem based learning bernuansa etnomatematika dan kelas X2 sebagai kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Metode pengumpulan data adalah dokumentasi, tes dan non tes. Analisis data yang digunakan adalah uji ketuntasan, uji t dan uji t berpasangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran problem based learning bernuansa etnomatematika efektif meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa dan meningkatkan cinta budaya lokal siswa. Siswa dengan gaya kognitif field independent mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika tergolong baik karena dapat mencapai semua indikator kemampuan pemecahan masalah dengan sedikit kesalahan. Siswa dengan gaya kognitif field dependent mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika tergolong cukup baik karena hanya dapat mencapai beberapa indikator kemampuan pemecahan masalah.
Kemampuan Literasi Matematika Berdasarkan Metakognisi Siswa pada Pembelajaran CMP Berbantuan Onenote Class Notebook
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) kemampuan awal literasi matematika dan metakognisi siswa, (2) keefektifan pembelajaran CMP berbantuan OneNote Class NoteBook, dan 3) kemampuan literasi matematika ditinjau dari metakognisi siswa. Penelitian ini merupakan jenis penelitian mixed methods concurrent embedded. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Ungaran. Teknik pengambilan data dengan menggunakan tes, wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif, uji statistik banding dan uji peningkatan gain. Hasil penelitian diperoleh (1) kondisi awal literasi matematika siswa rata-rata berada pada level yang rendah yaitu level 1 dan 2 serta metakognisi rata-rata berada pada level aware use; (2) diperoleh keefektifan pembelajaran yang ditunjukkan dengan rata-rata kemampuan literasi matematika siswa kelas eksperimen yang sudah tuntas yaitu memperoleh nilai minimal 68 mencapai 90%, kemampuan literasi matematika kelas eksperimen lebih baik dari pada kelas kontrol, peningkatan kemampuan literasi matematika kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol serta metakognisi siswa meningkat; dan (3) setelah pembelajaran CMP berbantuan OneNote Class NoteBook, kondisi metakognisi siswa meningkat rata-rata berada pada level strategic use. Kondisi literasi matematika siswa juga mengalami peningkatan pada level 3 ke atas sejalan dengan peningkatan metakognisinya.
Kemampuan Penalaran Geometris Siswa pada Pembelajaran RME dengan Penekanan Handso on Activity Berdasarkan Aktivitas Belajar
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) keefektifan pembelajaran menggunakan pendekatan RME pada penekanan hands on activity pada kemampuan penalaran geometris siswa materi kubus dan balok, (2) mendeskripsikan kemampuan penalaran geometris siswa berdasarkan aktivitas belajar. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi. Analisis data dimulai dari analisis butir soal tes uji coba kemudian analisis uji prasyarat. Pengujian hipotesis menggunakan uji rara-rata (uji-t), kemudian uji banding proporsi (uji-z) untuk menghitung ketuntasan klasikal. Selanjutnya pengujian untuk mengetahui perbedaan antara 2 kelas menggunakan uji beda rata-rata (uji-t pihak kanan). Analisis data kualitatif menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa kelas dengan pembelajaran berpendekatan RME dengan penekanan hands on activity mencapai tuntas individu dan tuntas klasikal mencapai 85%. Uji beda rata-rata menunjukkan hasil kelas dengan pembelajaran berpendekatan RME dengan penekanan hands on activity lebih baik dari kelas dengan pembelajaran metode ekspositori. Subyek yang memiliki kecenderungan pada akivitas visual, subyek mampu memenuhi semua indikator kemampuan penalaran geometris. Subyek yang memiliki kecenderungan pada aktivitas lisan, subyek mampu memenuhi semua indikator kemampuan penalaran geometris.Subyek yang memiliki kecenderungan pada aktivitas motorik mampu memenuhi 6 indikator kemampuan penalaran geometris.
Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Ditinjau dari Karakter Kreatif dalam Pembelajaran MEA Berbantuan Modul Scientific
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran matematika materi geometri di SMK membutuhkan kreativitas siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keefektifan MEA berbantuan modul scientific dan mendeskripsikan proses pembentukan karakter kreatif dan pemecahan masalahnya untuk materi geometri kelas X. Dalam pembelajaran tersebut, siswa dibentuk dalam 6 kelompok dan diberi permasalahan melalui modul. Setiap kelompok mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi informasi serta mengkomunikasikan untuk diperoleh suatu kesimpulan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kombinasi kualitatif dan kuantitatif tipe Concurrent Embedded. Populasi penelitian ini siswa kelas X SMK Negeri 8 Semarang yang terdiri dari 11 kelas. Teknik pengambilan sampel dengan cluster sampling dan terpilih kelas X TKJ 1 sebanyak 36 siswa. Diambil 2 siswa kelompok rendah, 1 siswa kelompok sedang dan 2 siswa kelompok tinggi. Keefektifan model pembelajaran didasarkan pada analisis ketuntasan hasil tes kemampuan pemecahan masalah serta pengaruhnya terhadap kemampuan pemecahan masalah, peningkatan karakter kreatif dan peningkatan ketrampilan pemecahan masalah. Hasil penelitian diperoleh efektif, karena kemampuan pemecahan masalah matematika telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yakni sudah mencapai lebih dari 75%. Besarnya pengaruh karakter kreatif dan kerampilan pemecahan masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah sebesar 37,5%. Karakter kreatif siswa menjadi lebih baik yaitu sudah memiliki kemampuan untuk melaksanakan exploring, planning, doing/acting, communicating dan reflecting dalam memecahkan masalah matematika.
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika dalam Problem Based Learning dengan Strategi Scaffolding Ditinjau dari Adversity Quotient
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 6 No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematika peserta didik SMA Negeri 1 Pecangaan masih rendah. Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan strategi scaffolding digunakan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas pembelajaran PBL dengan strategi scaffolding dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dan menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari Adversity Quotient (AQ) peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi kuantitatif dan kualitatif dengan desain concurrent embedded. Sampel penelitian kuantitatif adalah peserta didik kelas XI MIA4 (kelompok eksperimen) dan XI MIA5 (kelompok kontrol) sementara pada penelitian kualitatif, subjek penelitian diambil dari enam peserta didik yang dipilih dari kelompok eksperimen. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran PBL dengan strategi scaffolding sedangkan variabel terikat kemampuan pemecahan masalah matematika. Pengambilan data dilakukan dengan tes, angket dan wawancara. Data diolah menggunakan uji t dan gain yang ternormalisasi. Hasil yang dicapai menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematika mencapai ketuntasan dengan rata-rata 77,726 mengalami peningkatan tinggi dengan gain 0,732 dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika pada kelompok eksperimen lebih baik dari kelompok kontrol. Peserta didik yang memiliki AQ kategori climber mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika tergolong baik, sedangkan peserta didik yang memiliki AQ kategori camper mempunyai kemampuan pemecahan masalah matematika tergolong cukup baik.