cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Unnes Journal of Mathematics Education Research
ISSN : 22526455     EISSN : 25024507     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 568 Documents
PEMBELAJARAN REACT BERBANTUAN MODUL ETNOMATEMATIKA MENGEMBANGKAN KARAKTER CINTA BUDAYA LOKAL DAN MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh karakter cinta budaya lokal siswa terhadap kemampuan pemecahan masalah serta menguji keefektifan pembelajaran siswa kelas VII dengan penerapan strategi REACT berbantuan modul etnomatematika. Penelitian ini dilakukan dengan metode kombinasi concurrent embedded. Data diambil dengan lembar pengamatan, angket, dan tes, selanjutnya data diolah dengan uji ketuntasan (uji proporsi), uji beda dua rata-rata (uji t), uji regresi, serta uji peningkatan (gain) dan kualitatif akan diuraikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran efektif: (1) perangkat dan instrumen yang digunakan valid dengan kriteria sangat baik untuk silabus, RPP, modul etnomatematika dan TKPM serta kategori baik untuk angket dan lembar observasi, (2) kemampuan pemecahan masalah mencapai ketuntasan klasikal, dengan 90% mencapai ketuntasan individual, (3) rata-rata kemampuan pemecahan masalah kelas eksperimen (77) secara statistik lebih baik dari kelas kontrol (68), (4) adanya pengaruh positif keterampilan pemecahan masalah dan karakter cinta budaya lokal terhadap kemampuan pemecahan masalah sebesar 94,2%; 5) adanya peningkatan dari pertemuan I ke VI untuk keterampilan pemecahan masalah (gain peningkatan: 0,89; 0,83; 0,74; 0,61; dan 0,63) dengan rata-rata nilai gain 0,74 dan karakter cinta budaya lokal (gain peningkatan: 0,73; 0,69; 0,69; 0,69; dan 0,54) dengan rata-rata nilai gain 0,67. Disimpulkan karakter budaya lokal siswa memberi pengaruh positif kerja siswa dalam memecahkan masalah matematika.
EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN THINK ALOUD PAIR PROBLEM SOLVING DITINJAU DARI KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemecahan masalah merupakan aspek yang penting dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk (1) menguji efektivitas pembelajaran TAPPS terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa; dan (2) menganalisis kemampuan pemecahan masalah siswa berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah Polya. Jenis penelitian ini adalah penelitian mixed method dengan desain concurren embedded. Subjek penelitian kuantitatif adalah siswa kelas IPA 1 dan IPA 2. Subjek penelitian kualitatif terdiri dari 6 subjek penelitian dengan 2 subjek dari masing-masing kelompok atas, kelompok tengah dan kelompok bawah. Pengumpulan data kuantitatif diperoleh dari tes kemampuan pemecahan masalah materi turunan dan pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan wawancara berdasarkan hasil pemecahan masalah subjek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran TAPPS efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji ketuntasan yang memberikan hasil bahwa proporsi siswa pada pembelajaran TAPPS yang tuntas KKM >75%. Hasil uji kesamaan rata-rata memberikan kesimpulan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran TAPPS lebih baik dari kemampuan pemecahan masalah siswa pada pembelajaran konvensional. Siswa kelompok bawah melakukan pemecahan masalah dengan baik pada masalah dengan tingkat kesulitan rendah, pada masalah dengan tingkat kesulitan sedang, siswa kesulitan dalam membuat rencana dan menyelesaikan masalah, sedangkan pada masalah dengan kesulitan tinggi siswa tidak mampu memahami masalah dan menyelesaikan masalah. Siswa kelompok tengah memecahkan masalah dengan baik pada masalah dengan tingkat kesulitan rendah dan sedang, pada masalah dengan tingkat kesulitan tinggi siswa kesulitan dalam merencanakan dan melakukan penyelesaian sehingga tidak memberikan hasil yang sesuai. Siswa kelompok atas memecahkan masalah dengan baik pada setiap masalah yang diberikan, pada masalah dengan tingkat kesulitan tinggi siswa tidak mampu menuliskan rencana penyelesaian tetapi mampu menyelesaiakan masalah dengan baik.
ANALISIS KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIKA DITINJAU DARI METAKOGNISI DALAM PEMBELAJARAN INKUIRI BERBANTUAN LEMBAR KERJA MANDIRI MAILING MERGE
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal literasi matematika, kualitas pembelajaran inkuiri berbantuan Lembar Kerja Mandiri Mailing Merge; dan menganalisis kemampuan literasi matematika ditinjau dari metakognisi siswa. Penelitian menggunakan pendekatan Mix Method untuk memperoleh data kuatitatif berupa kemampuan literasi matematika sebelum pembelajaran dan kualitas pembelajaran inkuiri berbantuan LKM Mailing Merge, serta data kualitatif berupa analisis kemampuan literasi matematika ditinjau dari metakongisi siswa. Penelitian dilaksanakan pada kelas XI PD 1 dengan treatment pembelajaran inkuiri berbantuan LKM Mailing Merge dan kelas PD2 dengan treatmen pembelajaran inkuiri berbantuan LKS. Data kuantitatif diuji menggunakan Wilcoxon test, U Mann Whitney, Paired Sample t-test, sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi matematika sebelum pembelajaran masih berada pada level 1. Pembelajaran inkuiri berbantuan LKM Mailing Merge mampu memfasilitasi siswa menyelesaikan masalah matematika secara mandiri melalui diskusi, presentasi kelas dan penilaian individu yang berdampak kemampuan literasi matematika yang tuntas, meningkat dan peningkatan kelompok eksperimen lebih dari kelompok kontrol. Pembelajaran juga mendapat respon yang tinggi serta metakognisinya mengalami peningkatan. Kemampuan literasi matematika pada siswa metakognisi awalnya rendah, sedang dan tinggi relatif sama yaitu pada level 5-6 karena pembelajaran ini mampu meningkatkan siswa yang metakognisi awal rendah menjadi tinggi dan berpengaruh pada kemampuan literasi matematika.
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS MODEL ROUND CLUB DENGAN SELF ASSESMENT BERNUANSA ETNOMATEMATIKA BERDASARKAN GAYA KOGNITIF
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan, (1) mengetahui efektivitas pembelajaran dengan model round club dengan self assessment bernuansa etnomatematika materi garis dan sudut efektif. (2) mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis pada pembelajaran round club dengan self assessment bernuansa etnomatematika berdasarkan gaya kognitif.Metode kombinasi desain sequential exploratory digunakan untuk menjawab rumusan masalah dengan metode kuantitatif dan kualitatif secara berurutan. Subjek uji coba penelitian adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Jepara. Untuk metode kualitatif dilakukan tes gaya kognitif. Dari hasil pretest kelas dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok FD, FID dan FI dengan rincian subjek 6 siswa pilihan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran round club dengan self assessment bernuansa etnomatematika efektif terhadap kemampuan komunikasi matematis, hal ini dikarenakan (1) mencapai presentase kemampuan komunikasi matematis peserta didik mencapai kriteria ketuntasan individual, yaitu 75% siswa kelas eksperimen 1 tuntas secara klasikal; (2) ada perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapat model pembelajaran round club dengan self assessment bernuansa etnomatematika dengan pembelajaran ekspositori, (3) ada perbedaan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapat model round club dengan pembelajaran ekspositori, (4) ada peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang mendapat model pembelajaran round club dengan self assessment bernuansa etnomatematika, model pembelajaran round club maupun pembelajaran eskpositori. Dari hasil pengujian diperoleh bahwa Kelas Eksperimen 1 meningkat 58,87%, Kelas Eksperimen 2 meningkat 39,81% dan Kelas Kontrol meningkat 23,47%.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MELALUI STATION LEARNING BERPENDEKATAN METAPHORICAL THINKING
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir kritis matematis (KBKM) merupakan salah satu aspek penting dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran station learning berpendekatan metaphorical thinking, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menguji keefektifan pembelajaran station learning berpendekatan metaphorical thinking terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, (2) menganalisis kemampuan berpikir kritis matematis siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed method dengan explanatory sequential design. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas VIII. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran station learning berpendekatan metaphorical thinking efektif melalui uji ketuntasan diperoleh , uji beda rata-rata diperoleh , dan uji selisih beda rata-rata diperoleh dengan = 5%. Siswa dengan kemampuan berpikir kritis matematis tinggi pada tahap interpretasi, analisis, evaluasi, dan memecahkan masalah dilakukan dengan jelas dan lengkap, serta lebih detail. Sedangkan siswa dengan kemampuan berpikir kritis matematis rendah pada tahap interpretasi, analisis, evaluasi, dan memecahkan masalah dilakukan dengan kurang jelas dan tidak detail.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS PADA PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING BERPENDEKATAN SCIENTIFIC
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kemampuan berpikir kreatif antara peserta didik pada pembelajaran matematika model Creative Problem Solving (CPS) berpendekatan Scientific dibandingkan pembelajaran konvensional, pengaruh kerja keras terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis, dan karakteristik kemampuan berpikir kreatif. Penelitian menggunakan metode explanatory sequential design, yaitu menggunakan model Quasi Experiment pada tahap kuantitatif dan model Miles dan Huberman untuk analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan berpikir kreatif matema-tis kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol dengan rata-rata sebesar 79,05 dan 68,17. Kemampuan berpikir kreatif peserta didik 36,5% dipengaruhi oleh karakter kerja keras. Setelah diteliti, kemampuan berpikir kreatif matematis kelompok atas dan kelompok tengah lebih menonjol pada aspek keluwesan, sedangkan kelompok bawah menonjol pada aspek kelancaran. Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) peserta didik yang mendapatkan pembelajaran dengan pendekatan Scientific melalui model CPS telah mencapai KKM; (2) kemampuan berpikir kreatif kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol; (3) karakter kerja keras berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kreatif matematis; (4) kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik menonjol pada aspek tertentu.
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM PEMECAHAN MASALAH DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT PADA PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pembelajaran Creative Problem Solving (CPS) dan kesalahan siswa ditinjau dari Adversity Quotient (AQ) dalam menyelesaikan pemecahan masalah sesuai Newman Procedure, serta untuk menguji keefektifan pembelajaran CPS. Penelitian ini dilakukan dengan metode kombinasi tipe concurrent embedded. Teknik pengambilan sampel penelitian kuantitatif yaitu cluster random sampling. Sampel penelitian ini terdiri atas satu kelas eksperimen dengan pembelajaran CPS dan satu kelas kontrol dengan pembelajaran konvensional. Teknik pemilihan subjek penelitian kualitatif adalah purposive sampling dimana subjek dipilih berdasarkan AQ siswa. Analisis kualitatif dan kuantitatif yang dilakukan dalam penelitian ini memberikan hasil: (1) proses pembelajaran CPS termasuk dalam kriteria baik; (2) pembelajaran CPS terbukti efektif; (3) kesalahan siswa ditinjau dari AQ sesuai Newman Procedure yaitu siswa kategori quitter, camper, dan climber sebagian melakukan kesalahan pada tahapan transformation, process skill, dan encoding. Siswa quitter lebih mudah menyerah dalam menyelesaikan masalah dibandingkan siswa camper dan climber sehingga berdampak pada kemampuan dan hasil kesalahan yang diperoleh akan berbeda.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SISWA KELAS VIII BERDASARKAN MULTIPLE INTELLIGENCE PADA SETTING PBL
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematika penting dalam pembelajaran matematika yang belum dikembangkan secara optimal pada siswa. Kemampuan pemecahan masalah matematik siswa dipengaruhi oleh kecerdasan siswa. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa berdasarkan multiple intelligence pada setting pembelajaran PBL. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan subjek siswa kelas VIIIA SMP N 2 Karangawen dan SMP Al- Islah Tanggungharjo. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen tes dan wawancara. Analisis data meliputi reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematik siswa berdasarkan multiple intelligence pada setting pembelajaran PBL. Diperoleh hasil penelitian (1) kualitas pembelajaran model PBL meningkatkan kemampuan pemecahan masalah efektif ditunjukkan dengan (a) tahap persiapan silabus, RPP, suplemen bahan ajar, lembar kerja kelompok dan lembar tugas siswa dalam kategori baik (b) tahap proses yaitu strategi pengorganisasian pembelajaran, strategi penyampaian pembelajaran, strategi pengelolaan pembelajaran, implementasi dalam kategori baik, dan (c) tahap penilaian kualitas pembelajaran dalam kategori baik. (2) kemampuan pemecahan masalah siswa terdeskripsi (a) siswa yang memiliki kecerdasan logis matematik, visual spasial, intrapersonal, dan naturalis mampu menyelesaikan masalah sesuai rencana, siswa mengerjakan langkah mengecek kembali hasil pemecahan masalah tapi belum selesai, (b) siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik, musik dan interpersonal mampu merencanakan penyelesaian masalah, siswa mengerjakan langkah menyelesaikan masalah tetapi masih salah.
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS BERDASARKAN KECEMASAN MATEMATIKA PADA PEMBELAJARAN CREATIVE PROBLEM SOLVING BERTEKNIK SCAMPER
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir kreatif menjadi tuntutan dalam Pendidikan Matematika untuk memunculkan penyelesaian baru. Kecemasan matematika mendominasi perasaan emosional siswa remaja dalam hubungannya dengan matematika di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk 1) menguji dan menganalisis kualitas pembelajaran CPS berteknik SCAMPER dan 2) menganalisis kemampuan berpikir kreatif matematis berdasarkan kecemasan matematika siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed method dengan desain concurrent embedded. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X SMK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran CPS berteknik SCAMPER termasuk kategori baik. Analisis kualitatif menunjukkan bahwa siswa dengan kecemasan rendah sangat kreatif atau cukup kreatif. Siswa tersebut dapat menyajikan lebih dari tiga ide jawaban yang beragam, memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, dan menuliskan penyelesaian dengan caranya sendiri dengan cukup unik. Siswa dengan kecemasan sedang sangat kreatif atau kreatif. Siswa tersebut dapat menyajikan lebih dari dua ide jawaban yang beragam, memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, dan menuliskan penyelesaian dengan caranya sendiri dengan cukup unik. Siswa dengan kecemasan berat cukup kreatif atau sangat kreatif. Siswa tersebut dapat menyajikan lebih dari dua ide jawaban yang beragam, memberikan lebih dari satu cara penyelesaian, dan menuliskan penyelesaian dengan caranya sendiri dengan cukup unik. Siswa dengan kecemasan tingkat panik tidak kreatif. Siswa tersebut tidak dapat menyajikan lebih dari dua ide jawaban yang beragam, hanya memberikan jawaban dan penyelesaian melalui satu cara pada umumnya.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN METAKOGNISI BERDASARKAN ORIENTASI TUJUAN PADA PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemecahan masalah dan metakognisi merupakan aspek penting dalam pembelajaran matematika. Pembelajaran berbasis masalah, salah satu model pembelajaran yang dapat diterapakan untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan metakognisi siswa dimana usaha siswa bergantung pada orientasi tujuannya.Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menguji dan menganalisis keefektifan pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan pemecahan masalah dan metakognisi siswa (2) menganalisis kemampuan pemecahan masalah bedasarkan orientasi tujuan, dan (3) menganalisis metakognisi siswa berdasarkan orientasi tujuan siswa. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian mixed method dengan concurrent embedded design. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas X. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah dan metakognisi siswa. Siswa dengan orientasi tujuan penguasaan (mastery goal) dapat mencapai semua indikator pemecahan masalah dengan sedikit kesalahan dan dapat melaksanakan tahapan pemecahan masalah Polya. Siswa dengan orientasi tujuan performa (performance goal) tidak dapat mencapai beberapa indikator pemecahan masalah dan mengalami kesulitan untuk merencanakan, melaksanakan pemecahan masalah dan proses pemeriksaan kembali sering tidak dilakukan. Siswa dengan orientasi tujuan penguasaan memiliki pengetahuan kognisi dan regulasi kognisi yang baik sedangkan siswa dengan orientasi tujuan performa kurang dalam pengetahuan kognisinya dan regulasi kognisinya juga kurang baik.