cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Unnes Journal of Mathematics Education Research
ISSN : 22526455     EISSN : 25024507     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 568 Documents
ANALISIS KOMUNIKASI MATEMATIS DAN TANGGUNG JAWAB PADA PEMBELAJARAN FORMULATE SHARE LISTEN CREATE MATERI SEGIEMPAT
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis serta mendeskripsikan: (1) kemampuan awal komunikasi matematis siswa; (2) keefektifan model pembelajaran Formulate Share Listen Create pada materi segiempat; (3) kemampuan akhir komunikasi matematis dan karakter tanggung jawab siswa. Penelitian ini merupakan penelitian mixed. Dari tujuh kelas yang ada diambil dua kelas secara acak. Kelas VIIH dipilih sebagai kelas eksperimen dan kelas VIIG dipilih sebagai kelas kontrol. Hasil analisis awal didapat bahwa kemampuan komunikasi hanya satu indikator saja yang terpenuhi yaitu menyelesaikan masalah. Model pembelajaran Formulate Share Listen Create efektif terhadap kemampuan komunikasi dan karakter tanggung jawab. Hasil analisis akhir kemampuan komunikasi matematis sudah mengalami perubahan lebih baik karena semua indikator terpenuhi, sedangkan secara keseluruhan karakter tanggung jawab siswa hampir semua indikator terpenuhi untuk masing-masing tingkatan kemampuan siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa: (1) kemampuan awal komunikasi matematis masih rendah; (2) Model pembelajaran Formulate Share Listen Create lebih efektif dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional; (3) Kemampuan akhir komunikasi matematis cukup baik dan karakter tanggung jawab kategori baik.This study aims to analyze and describe: (1) the ability of students' mathematical communication early; (2) the effectiveness of the learning model Formulate Share Listen Create the rectangular material; (3) the ability of end mathematical communication and character of the student's responsibility. This research is mixed. Of the seven classes there are two classes taken at random. VIIH class chosen as an experimental class and class VIIG chosen as the control class. Results of a preliminary analysis found that communication skills are only one indicator is met is to solve the problem. Formulate learning model Listen Share Create effective communication skills and character of responsibility. Results of the final analysis of mathematical communication skills have changed the better because all the indicators are met, while the overall character of the responsibility of the students almost all the indicators are met for each student's ability level. Based on these results, it can be concluded that: (1) the ability of early mathematical communication is still low; (2) learning model Formulate Share Listen Create more effective than the conventional learning model; (3) The ability of the end of mathematical communication is quite good and the character of the responsibility of either category.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KARAKTER KERJA KERAS MELALUI MODEL SAVI BERPENDEKATAN KONTEKSTUAL
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketuntasan kemampuan pemecahan masalah siswa menggunakan pembelajaran model SAVI berpendekatan kontekstual; mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada ketiga kelas sampel; mengetahui pengaruh karakter  kerja keras terhadap kemampuan pemecahan masalah; mendeskripsikan karakter kerja keras yang diajarkan dengan model SAVI berpendekatan kontekstual dan mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan kategori atas, menengah, bawah pada karakter kerja keras siswa yang diajarkan model SAVI berpendekatan kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi tipe sequential explanatory. Penelitian tahap pertama menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan menggunakan model SAVI berpendekatan kontekstual tuntas baik individual maupun klasikal, kemampuan pemecahan masalah siswa pada kelas yang diajarkan model SAVI berpendekatan kontekstual lebih baik dari siswa yang diajarkan SAVI tanpa berpendekatan lebih baik  dari siswa dengan pembelajaran konvensional, terdapat pengaruh karakter kerja keras terhadap kemampuan pemecahan masalah dengan besarnya pengaruh 56.3%. Penelitian tahap kedua menunjukan bahwa jika karakter kerja kerasnya makin baik maka kemampuan pemecahan masalahnya juga makin baik. Karakter kerja keras siswa pada kelas dengan pembelajaran model SAVI berpendekatan kontekstual kebanyakan siswa berada pada kelompok menengah yaitu sebanyak 73%.This study aimed to knowing completeness of students' problem solving ability using SAVI model with contextual approach, the difference of students’ problem solving ability between three sample classes, the effect of hard work character towards problem solving ability, describing the hard work character of students’ who are taught by SAVI model with contextual approach and describing the problem solving ability based on high, fair, and low category on hard work character of the students. This study used sequential explanatory type of combination method. The first phase of this study shows that students who are taught by SAVI learning model using contextual approach experienced completeness both individually and classically and was better than those who were not, there is an effect of students’ hard work character towards problem solving ability with the percentage is 56.3%. The second phase of this study shows that the hard work character of students who are taught by SAVI model with contextual approach is on fair category that is 73%. This study showed that if the hard word character was good than problem solving ability of students was good too.
ANALISIS KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN KURIKULUM 2013 DI KOTA SEMARANG
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi kemampuan guru matematika dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru matematika tingkat SMP/MTs di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengetahuan konsep Kurikulum 2013 subjek penelitian belum memadai, temuan ini berupa kurangnya pengetahuan subjek penelitian tentang landasan filosofis Kurikulum 2013 dan kurangnya pemahaman penerapan pendekatan saintifik; (2) perencanaan pembelajaran (RPP) yang disusun subjek penelitian sebagian belum secara utuh menggambarkan Kurikulum 2013, temuan terkait RPP berupa pembuatan indikator dan konsep materi ajar belum sesuai Kompetensi Dasar, pelaksanaan pembelajaran oleh subjek penelitian sebagian belum secara utuh menggambarkan pendekatan saintifik, temuan terkait pelaksanaan pembelajaran berupa minimnya pertanyaan penelusuran dan minimnya pembelajaran kontekstual, subjek penelitian belum secara utuh menerapkan penilaian yang sesuai Kurikulum 2013, temuan terkait penilaian peserta didikberupa minimnya ketersediaan instrumen penilaian di kelas dan pengaturan alokasi waktu yang belum optimal; dan (3) hambatan implementasi Kurikulum 2013 oleh subjek penelitian disebabkan kurangnya pemahaman tentang pembelajaran berbasis pendekatan saintifik, pengaturan alokasi waktu, dan kesulitan dalam melakukan penilaian.This study aims to obtained description of ability of mathematics teachers to implement the Curriculum 2013. This research is a descriptive qualitative study. The participant research were mathematics teachers of the 7th grade of Junior High School in Semarang.The research results show that: (1) knowledge of concept the Curriculum 2013 of the participant were inadequate, lack of knowledge about a philosophical foundation of the  Curriculum 2013 and  difficulties applied the scientific approach; (2) lesson plans that made the subjects were uncompletely described, the lesson plans include the manufacture of indicators and concepts of teaching materials unappropriate basic competency, the learning implementation by the majority subjects of research had uncompletely described the scientific approach, related to the learning implementation there were  lack of question  and lack of contextual learning, the subjects unfully implement appropriate assessment of Curriculum 2013, related the assessmentis we found that lack availability of assessment instruments in the classroom and the allocation of time was not optimal; and (3)  the implementation of the  Curriculum 2013 by the subjects caused by the lack of understanding about the scientific approach based learning, the allocation time, and difficulties using assessment.
ANALISIS HASIL PENILAIAN DIAGNOSTIK KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DALAM PEMBELAJARAN PMRI BERDASARKAN TINGKAT KECERDASAN EMOSIONAL
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 4 No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterampilan berpikir kreatif siswa tergolong rendah diindikasikan dari kemampuan berpikir kritis siswa rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi bagaimana pola hubungan antara kecerdasan emosional dan kemampuan berpikir kritis matematis serta keefektifan pembelajaran PMRI materi Kubus dan Balok.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mix Method model Concurrent Embedded Strategy. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII. Selanjutnya dilakukan pembelajaran PMRI pada materi kubus dan balok kelas VIII. Selanjutnya dilakukan pengambilan data dengan melakukan tes diagnostik kemampuan berpikir kritis matematis pada tiap sampel. Untuk memperdalam hasil penelitian dilakukan wawancara pada tiap tingkat kecerdasan emosional. Hasilkeefektifan pembelajaran dilihat dari aspek ketuntasan klasikal kemampuan berpikir kritis matematis siswa yakni tuntas ≥75% dengan nilai zhitung=1,9265>ztabel=1,645artinyaproporsi siswa yang mendapat nilai KBKM lebih dari atau sama dengan KKM=70 telah melampaui 75%, uji beda rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol adalah thitung = 8,81>ttabel= 1,671artinya rataan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang diajarkan dengan pembelajaran PMRI lebih dari rataan kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang diajarkan dengan pembelajaran lain. Kemampuan berpikir kritis matematis siswa berbanding lurus dengan kecerdasan emosionalnya. Terdapat pola hubungan antara kecerdasan emosional dan kemampuan berpikir kritis matematis yaitu memiliki kekurangan aspek tertentu dalam setiap tingkatan kecerdasan emosional.The low state of creative thinking skills of students is indicated on students' ability to think critically low. This study aimed to obtain a description of how the pattern of the relationship between emotional intelligence and critical thinking skills as well as the effectiveness of cubes and beams subjects in mathematical in PMRI Learning. The method in this study is a Mix Method of Concurrent Embedded Strategy. The subjects of this study were students of class VIII. Performing diagnostic tests of critical thinking skills mathematically in each sample. To deepen the results of research, heldinterviews at each level of emotional intelligence.Results of the effectiveness of learning from the aspects of classical completeness critical thinking skills that students complete, the test the average difference experimental class and control class is t=8.81> t table = 1.671 means the mathematical average of critical thinking skills of students who are taught by PMRI learning over critical thinking skills mathematical average of students taught by another learning. Critical thinking skills students mathematically proportional to emotional intelligence. There is a pattern of relationship between emotional intelligence and critical thinking skills that have a shortage of mathematically certain aspects within each level of emotional intelligence.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL OPEN ENDED BERDASARKAN AQ DENGAN LEARNING CYCLE 7E
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas pembelajaran model Learning Cycle 7E dan menemukan pola kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII dalam menyelesaikan soal open ended ditinjau dari AQ. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan desain concurrent embeded design. Jenis penelitian kuantitatifnya adalah penelitian eksperimen dengan Nonrandomized Control Group, Pretest-Postest Design. Subyek penelitiannya adalah siswa kelas VII. Data kuantitatif diuji dengan uji z dan Independent t-test, sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran Learning Cycle 7E berkualitas. Siswa quitter dapat menyelesaikan masalah sampai tahap memahami masalah. Siswa camper dan climber dapat menyelesaikan masalah sampai pada tahap memeriksa kembali.Siswa climber lebih gigih dalam melaksanakan rencana pemecahan masalah daripada siswa camper.
KEMAMPUAN ALJABAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan aljabar diartikan sebagai kemampuan untuk merepresentasikan situasi kuantitatif sehingga hubungan antar variabel menjadi jelas. Kemampuan aljabar menjadi modal untuk memperoleh performa matematika yang baik karena aljabar merupakan bagian penting dalam matematika. Model pembelajaran TAI digunakan sebagai alat untuk meningkatkan pencapaian kemampuan aljabar yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji keefektifan pembelajaran TAI terhadap kemampuan aljabar siswa, dan (2) mengetahui kemampuan aljabar siswa. Penelitian ini menggunakan metode mixed methods dengan desain sequential explanatory dimana penelitian dilakukan dengan dua tahap yaitu penelitian kuantitatif dengan menguji efektifitas pembelajaran TAI dengan pendekatan Saintifik dan dilanjutkan dengan analisis kemampuan aljabar siswa. Sampel penelitian kuantitatif adalah siswa kelas XI MIA 5 sebagai kelas ekserimen dan XI MIA 2 sebagai kelas kontrol di MAN 2 Kudus sementara pada penelitian kualitatif, subjek penelitian diambil dari tiga siswa yang dipilih dari kelas eksperimen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran TAI dengan pendekatan Saintifik efektif terhadap kemampuan aljabar siswa. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan valid, siswa yang diajar dengan model pembelajaran TAI dengan pendekatan Saintifik mencapai ketuntasan klasikal yang ditentukan yaitu lebih dari atau sama dengan 75% siswa mencapai KKM, kemampuan aljabar siswa yang diajar dengan model pembelajaran TAI dengan pendekatan Saintifik lebih baik dari kemampuan aljabar siswa yang diajar dengan model pembelajaran ekspositori.
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DITINJAU DARI KEPERCAYAAN DIRI SISWA MELALUI BLENDED LEARNING
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis melalui pembelajaran blended learning dan berdasarkan kategori kepercayaan diri siswa. Penelitian dilakukan di kelas XI MIPA 3 SMA N 1 Jepara dengan pemilihan subjek penelitian berdasarkan hasil skor angket sehingga diperoleh kelompok kepercayaan diri tinggi dan sedang. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling yang memilih 2 siswa dalam setiap kelompok. Analisis data kemampuan komunikasi matematis dalam blended learning dan berdasarkan kategori kepercayaan diri siswa menggunakan teknik triangulasi dari Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan pengamatan siswa dan hasil tes tertulis dengan wawancara. Hasil menunjukkan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa dalam pembelajaran blended learning tergolong baik. Pembelajaran offline dan online saling mendukung dalam mengungkapkan ide-ide matematis melalui lisan dan tulisan, menggambarkan ide matematis tersebut ke dalam bentuk visual, serta mampu menggunakan istilah dan notasi matematis dengan tepat untuk menyajikan ide matematis. Kemampuan komunikasi matematis bagi siswa yang memiliki kepercayaan diri tinggi tergolong sangat tinggi yang ditunjukkan siswa sangat mampu mengungkapkan ide matematis, menggambar bentuk visual serta menggunakan notasi dan istilah matematis. Kemampuan komunikasi matematis bagi siswa yang memiliki kepercayaan diri sedang tergolong tinggi yang ditunjukkan siswa mampu mengungkapkan ide matematis, menggambar bentuk visual serta menggunakan notasi dan istilah matematis.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIK DITINJAU DARI KESADARAN METAKOGNISI SISWA PADA PEMBELAJARAN SSCS BERBANTUAN SCHOOLOGY
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir kreatif matematik siswa SMK Muhammadiyah Pekalongan rendah. Pembelajaran dengan model SSCS berbantuan schoology diharapkan menjadi solusi dari masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran metakognisi, kemampuan awal dan akhir berpikir kreatif matematik, menganalisis kemampuan berpikir kreatif matematik ditinjau dari kesadaran metakognisi siswa, serta untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah mixed methods dengan desain concurrent embeded design. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan siswa termasuk tingkat kesadaran metakognisi take it use, 13 siswa termasuk tingkat kesadaran metakognisi aware use, lima siswa termasuk tingkat kesadaran metakognisi strategic use, serta dua siswa termasuk tingkat kesadaran metakognisi reflective use. Sebelum diberikan perlakuan, semua siswa tersebut berada pada tingkat kemampuan berpikir kreatif 0 dan 1. Setelah diterapkan pembelajaran model SSCS berbantuan schoology, 26 siswa mengalami perkembangan tingkat kemampuan berpikir kreatif matematik dan satu siswa tetap berada pada tingkat kemampuan berpikir kreatif 1. Tingkatan kemampuan berpikir kreatif matematik yang paling rendah berada pada tingkat 1 dan paling tinggi berada pada tingkat 4. Pembelajaran model SSCS berbantuan schoology juga terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa.
KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS DITINJAU DARI MULTIPLE INTELLINGENCE PADA PEMBELAJARAN HYBRID LEARNING BERBASIS KONSTRUKTIVISME
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan representasi matematis mahasiswa dalam menyelesaikan soal Analisis Vektor ditinjau dari Multiple Intelligence (MI) pada pembelajaran Hybrid Learning. Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods concurent embedded design. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data adalah Peneliti, Dosen matematika, dan Mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran Hybrid Learning berbasis konstruktivisme dalam katogori baik, kemampuan representasi matematis mahasiswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol. Representasi matematis yang dimiliki mahasiswa adalah tipe representasi Visual (V), Symbolic (S), dan Verbal (Ve) dengan banyaknya mahasiswa berturut- turut 23,68%, 52,63%, dan 21,05% dan Multiple Intellegence L, LM, Sp, K, M, Inter, Intra, N banyaknya mahasiswa berturut- turut 15,78%, 10,52%, 7,89%, 13,15%, 13,15%, 15,78%, 5,26%, dan 5,26%. Pada penilaian akhir kelas eksperimen rata-ratanya 84,05 lebih baik daripada kelas control rata-ratanya 67,42. serta faktor lain dalam meningkatkan kemampuan representasi matematis adalah tingkat kecerdasan. kemampuan representasi matematis dipengaruhi oleh kecerdasan bahasa, kecerdasan logis matematik, dan kecerdasan visual spasial.
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA PADA BRAIN BASED LEARNING DITINJAU DARI KECERDASAN EMOSIONAL
Unnes Journal of Mathematics Education Research Vol 5 No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematika siswa perlu mendapat perhatian karena dapat diaplikasikan untuk memecahkan masalah dari berbagai situasi dengan baik. Salah satu faktor yang mendukung suksesnya pemecahan masalah adalah kecerdasan emosional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematika berdasarkan tingkat kecerdasan emosional pada wilayah kesadaran diri dan manajemen diri serta menganalisis Brain Based Learning terhadap hasil dan peningkatan kemampuan pemecahan masalah. Jenis penelitian yang digunakan adalah mixed method. Penelitian dilakukan di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang. Pengambilan data kuantitatif dilakukan pada seluruh siswa dalam satu kelas penelitian dengan menggunakan kuesioner kecerdasan emosional, pretest, dan posttest kemampuan pemecahan masalah matematika. Sedangkan pengambilan data kualitatif dilakukan terhadap 8 siswa pilihan untuk dilakukan wawancara lebih mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brain Based Learning efektif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika. Analisis kualitatif menghasilkan bahwa siswa dengan kesadaran diri tinggi dan sedang cukup memahami masalah, tetapi pada indikator pemecahan masalah yang lain siswa dengan kesadaran diri tinggi lebih baik daripada siswa dengan kesadaran diri sedang. Siswa dengan tingkat manajemen diri tinggi dapat bertahan ketika menghadapi kesulitan dan memenuhi sebagian besar indikator pemecahan masalah, sedangkan siswa dengan tingkat menejemen diri sedang hanya memenuhi beberapa indikator pemecahan masalah.