cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
ISSN : 20865996     EISSN : 2580961x     DOI : -
Core Subject : Education,
The Jurnal Arkhais is dedicated to all linguistics, literature, and culture Indonesia. The coverage of Jurnal Arkhais includes: experimental research, action research, qualitative research, quantitative research, and development research aimed to improving the quality and building innovation in linguistics, culture, and literature Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 140 Documents
NASIONALISME UTUY TATANG SONTANI DALAM NASKAH DRAMA BUNGA RUMAH MAKAN YANG BERTEMA ROMAN PICISAN: HERMENEUTIKA SASTRA Dwi Suprabowo; Gunawan Wiradharma
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.18 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.03

Abstract

Utuy merupakan seorang sastrawan yang mendapatkan stigma komunis atau golongan orang yang menentang pemerintahan yang berlangsung di Indonesia periode pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam penelitian ini menampilkan dibalik stigma yang disandangnya tersebut ada sisi nasionalisme. Sebab dari salah satu naskah drama buatannya ini, nasionalisme-nya pun tertangkap jelas, meski dengan menggunakan tema bernuansa roman picisan yang begitu kental. Ia menggunakan naskah ‘Bunga Rumah Makan’ sebagai salah satu penyemangat dan penegasan bahwa Indonesia saat itu harus menjadi negara merdeka. Metafora yang dipergunakannya adalah dengan menampilkan karakter utama (Ani) sebagai representasi negara Indonesia pasca kemerdekaan, yang dalam banyak buku sejarah menyebutkan telah dijajah selama 3,5 abad. Ina digambarkan sebagai pembantu rumah tangga dari pihak penjajah. Kata kunci: Drama, Utuy Tatang Sontani, Bunga Rumah Makan, Hermeneutika, Nasionalisme, Roman Picisan
GANGGUAN FONOLOGI PADA ANAK PENYANDANG AFASIA PERKEMBANGAN DI KLINIK BINA WICARA JAKARTA: KAJIAN NEUROLINGUISTIK Intan Dwi Cahyantini; Asep Supriyana; Asisda Wahyu A. Putradi
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.308 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.04

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gangguan fonologi pada anak-anak penyandang afasia perkembangan di Klinik Bina Wicara Jakarta. Fokus penelitian ini adalah gangguan fonologi yang terdapat pada bunyi vokal dan konsonan yang diucapkan anak-anak penyandang afasia perkembangan. Gangguan fonologi yang dimaksud terdiri dari tiga aspek, yaitu substitusi, adisi, dan omisi bunyi vokal dan konsonan. Objek pada penelitian ini adalah anak-anak penyandang afasia perkembangan di Klinik Bina Wicara Jakarta yang mengalami kesulitan dalam berbicara, terutama dalam mengucapkan bunyi-bunyi vokal dan konsonan. Sehingga anak tersebut mengalami substitusi, adisi, dan omisi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisis dan mendeskripsikan data berdasarkan rangkuman analisis yang berasal dari teori fonologi bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gangguan fonologi pada anak-anak penyandang afasia perkembangan ditemukan sebanyak 234 kesalahan bunyi yang terdiri dari 38 bunyi vokal dan 196 bunyi konsonan. Pada bunyi vokal terdapat 24 substitusi dan 14 omisi. Sementara itu, pada bunyi konsonan terdapat 84 substitusi, 3 adisi, dan 109 omisi. Pada keseluruhan hasil analisis, aspek omisi konsonan lebih banyak ditemukan dibandingkan aspek lainnya. Kata Kunci: Neurolinguistik, Fonologi, Penyandang Afasia Perkembangan
PENGGUNAAN ISTILAH BINATANG DALAM METAFORA BAHASA INDONESIA DAN BAHASA INGGRIS Siti Ayu Ningsih
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.659 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.05

Abstract

Pengajaran bahasa kedua dan belajar bahasa kedua tidak selalu mudah seperti kelihatannya. Terdapat beberapa perbedaan yang akan memengaruhi interferensi siswa terkait dengan prinsip bahasa dari bahasa pertama siswa. Sebagai contoh, ketika tiba saatnya bagi penutur bahasa Inggris mempelajari metafora dalam bahasa Indonesia, prosesnya tidak selalu mudah. Walau bagaimanapun, metafora mungkin memiliki arti yang berbeda. Hal tersebut dipengaruhi oleh budaya, sejarah, dan lingkungan sosial di mana bahasa digunakan. Studi analisis kontrastif diperlukan untuk menunjukkan perbandingan antara metafora bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Hasil studi analisis kontrastif antara metafora bahasa Indonesia dan metafora bahasa Inggris menunjukkan bahwa terdapat beberapa persamaan dan perbedaan makna dalam penggunaan istilah binatang dalam metafora pada kedua bahasa tersebut. Studi ini dapat digunakan untuk praktik pedagogi dalam pendidikan bahasa. Guru Bahasa Indonesia untuk penutur bahasa Inggris dapat menggunakan studi ini untuk membantu mereka dalam mengajarkan metafora bahasa Indonesia. Guru disarankan untuk memilih metafora yang memiliki arti yang mirip dengan metafora bahasa Inggris sebelum melompat ke tingkat perbedaan yang lebih tinggi. Artinya, membantu para siswa mendapatkan pemahaman tentang bagaimana memahami dan menggunakan metafora dalam ekspresi sehari-hari untuk memoles keterampilan bahasa mereka. Ketika para pemelajar bahasa Indonesia dapat menerapkan metafora bahasa Indonesia dalam praktik keseharian berbicara, mereka mendapatkan beberapa poin tentang budaya Indonesia, karena bagaimanapun metafora berhubungan dengan budaya. Kata kunci: Analisis kontrastif, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Metafora, Pengajaran bahasa
KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK LAHIR PREMATUR USIA DUA TAHUN: KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Anisah Kartika Putri; Heny Mawarni; Nesya Yanmas Yara; Sumarlam Sumarlam
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1628.262 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.06

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana kemampuan pemerolehan bahasa anak premature usia dua tahun. Data dalam penelitian ini adalah kosakata yang diujarkan oleh Naro (anak lahir prematur berusia 2 tahun). Sumber data dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu sumber data primer yang diperoleh dari ujaran Naro, dan data sekunder yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dan diklarifikasi yang selanjutnya dianalisis menurut kriteria yang sudah ditetapkan. Hasil kajian ini menunjukan bahwa Kemampuan berbahasa anak lahir prematur usia dua tahun mengalami keterlambatan dalam berbahasa. Kata Kunci: kemampuan berbahasa, anak, prematur, psikolinguistik
SUDUT PANDANG SPASIAL DAN TEMPORAL PADA KUMPULAN CERPEN SIHIR PEREMPUAN KARANGAN INTAN PARAMADITHA (PERSPEKTIF NARATOLOGI USPENSKY) Malika Tazkia; Erfi Firmansyah; Helvy Tiana Rosa
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.451 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan karangan Intan Paramaditha dengan menemukan sudut pandang spasial dan temporal. Metode yang digunakan adalah metode deksriptif kualitatif dengan teknik analisis naratologi, kajian sudut pandang spasial dan temporal oleh Uspensky. Penelitian ini dilakukan di Jakarta, selama semester ganjil tahun 2017/2018. Subfokus penelitian ini ialah menentukan posisi spasial narator dan posisi temporal narator. Untuk menganalisis penelitian kualitatif ini, peneliti sendiri yang menjadi instrumen penelitian utama. Sudut pandang spasial merujuk pada posisi tempat penggambaran yang ditampilkan, sedangkan sudut pandang temporal merujuk pada representasi kejadian dunia fiksi dari keterangan posisi waktu. Berdasarkan hasil penelitian, narator yang menceritakan sudut pandangnya masing-masing mengenai dirinya sendiri atau tokoh yang lain dari tempat dan waktu yang berbeda-beda. Pengisahan setiap narator memiliki tujuan yang sama, yaitu menyuarakan apa yang dibungkam. Tokoh-tokoh di dalam setiap cerpen adalah perempuan yang hendak menyuarakan hak dan penderitaan mereka. Kata kunci: naratologi, sudut pandang, spasial dan temporal, kumpulan cerpen Sihir Perempuan, Intan Paramaditha.
UJARAN PERFORMATIF DALAM WACANA DIALOG NOVEL RANTAU 1 MUARA KARYA A. FUADI Ria Anggari Putri
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 1 (2018): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.238 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.091.08

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai ujaran performatif dalam novel Rantau 1 Muara. Penelitian ini dilakukan di Jakarta dan waktu pelaksanaan penelitian pada Februari sampai Juni tahun 2014- 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Penelitian ini difokuskan pada ujaran performatif dalam novel Rantau 1 Muara yang mencakup verdiktif, eksersitif, komisif, behatitif, dan ekspositif. Objek penelitian ini adalah novel Rantau 1 Muara yang berjumlah 16 bab dari 46 bab yang dilakukan secara reduksi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah peneliti sendiri dibantu dengan tabel analisis kerja, yaitu tabel analisis ujaran pada novel Rantau 1 Muara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 156 ujaran yang mengandung performatif, terdapat 42,31 % ekspositif, 25,64 % eksersitif, 16,02 % verdiktif, 12,82 % behatitif dan 3,21 % komisif Dengan demikian, seluruh kategori ujaran performatif dapat ditemukan di dalam ujaran-ujaran yang dianalisis. Kata Kunci: Verdiktif, Eksersitif, Komisif, Behatitif, Ekspositif
KEKERABATAN BAHASA BATAK TOBA DAN BAHASA BATAK MANDAILING Erna Tampubolon,dkk.
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.051 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kekerabatan Bahasa Batak Toba (BBT) dengan Batak Mandailing (BBM) berdasarkan persamaan dan perbedaan fonologinya beserta waktu pisah kedua bahasa tersebut. Penelitian ini menggunakan teori linguistik historis komparatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara setelah itu dianalisis dengan menggunakan metode leksikostatistik dan metode komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BBT dengan BBM memiliki kekerabatan sebanyak 170 kosakata dengan persentase sebesar 85% berdasarkan 200 kosakata Swadesh, 111 kosakata berkerabat dengan kategori identik, 30 kosakata memiliki korespondensi bunyi dan 30 kosakata merupakan satu fonem berbeda 19 dan 30 kosakata yang tidak berkerabat. Masa pisah antara BBT dan BBM antara 464 dan 614 tahun atau antara 1554 hingga 1404 tahun dari bahasa induknya. This study aims to describe the level of Toba Batak Language (BBT) kinship with Mandailing (BBM) Batak based on the similarities and differences in phonology along with the separations of the two languages. This study uses historical comparative linguistic theory. Data was collected using the interview method after which it was analyzed using the lexicostatistics method and the comparative method. The results showed that BBT with BBM had a kinship of 170 vocabulary with a percentage of 85% based on 200 Swadesh vocabulary words, 111 related vocabulary with identical categories, 30 vocabulary words having sound correspondence and 30 vocabulary words constituting one different phoneme 19 and 30 unrelated vocabulary. The period of separation between BBT and BBM is between 464 and 614 years or between 1554 and 1404 years from the parent language.
SAHIBUL HIKAYAT: REVITALISASI, HIBRIDITAS DAN IDENTITAS BETAWI DI PERKAMPUNGAN SETU BABAKAN Titi Gomo Attas
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.188 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskankan bagaimana sastra lisan sahibul hikayat dipertunjukan melalui revitalisasi dari hibriditas yang menjadi identitas Betawi di Perkampungan Budaya Setu Babakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif melalui etnografi dengan metode observasi, wawancara, dan dokumen. Analisis dengan deskriptif analisis. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sastra lisan oleh G.L. Koster, Pertunjukan oleh Martha C Sims, dan pewarisan dalam revitalisasi oleh Alberd Lord. Adapaun hasil dari penelitian ini adalah: (1) Bentuk Revitalisasi pertunjukan sahibul hikayat di Perkampungan Setu Babakan, (2) Sahibul Hikayat sebagai hibriditas kebudayaan, (3) Sahibul hikayat sebagai penguat identitas Betawi. Sahibul hikayat sebagai sesuatu yang terbangun dari identitas merupakan sesuatu yang bersifat retak, dan berubah-rubah mengikuti ruang dan waktu. Konstruksi identitas sastra lisan sahibul hikayat merupakan medan pertarungan pemaknaan dalam lingkup kebudayaan. This paper aims to explain how the oral literature of sahibul hikayat is performed through the revitalization of the hybridity which is a Betawi identity in the Setu Babakan Cultural Village. The method used in this study is a qualitative method through ethnography with methods of observation, interviews, and documents. Analysis with descriptive analysis. The theory used in this study is the oral literary approach by G.L. Koster, a performance by Martha C Sims, and inheritance in revitalization by Alberd Lord. Adapaun the results of this study are: (1) Forms of Revitalization of sahibul hikayat performances in Setu Babakan Village, (2) Sahibul Hikayat as cultural hybridity, (3) Sahibul hikayat as reinforcement of Betawi identity. Sahibul Hikayat as something that is built from identity is something that is cracked, and changes according to space and time. Construction of the literary identity of oral sahibul hikayat is a battlefield of meaning in the scope of culture.
PERFORMATIVITAS TOKOH UTAMA DALAM NOVEL PASUNG JIWA KARYA OKKY MADASARI Afina Razan,dkk.
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.261 KB)

Abstract

Novel Pasung Jiwa karya Okky Madasari menceritakan kehidupan tokoh utama yang merasakan seluruh kehidupannya terperangkap, karena permasalahan gender yang dialaminya. Tokoh utama dalam novel ini bernama Sasana. Karena terlahir dengan jenis kelamin laki-laki, ia diharuskan oleh masyarakat membawa sifat gender maskulin. Tetapi sang tokoh diceritakan tidak hanya memperlihatkan gender maskulin saja, ia membawa dua sisi gender dalam dirinya, gender maskulin serta gender feminin. Adanya variasi dalam diri tokoh, membuat masyarakat heteroseksual mempermasalahkan dan mempertanyakan gender yang dibawa olehnya. Untuk mengungkap identitas gender sesungguhnya yang dimiliki sang tokoh, dapat diketahui melalui performativitas yang dilakukannya secara terus-menerus. Adapun penelitian ini menggunakan teori queer serta teori performativitas gender yang dikemukakan oleh Judith Butler. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa tokoh utama terbukti membawa sifat maupun nilai performativitas gender maskulin dan juga gender feminin. Melalui tindakannya tersebut, identitas gender tokoh utama digolongkan menjadi gender queer, yaitu gender yang merupakan kombinasi atau berada di antara gender maskulin dan gender feminin. Variasi gender dalam novel ini memberikan dampak negatif terhadap diri sang tokoh karena respons masyarakat heteroseksual yang masih memberikan stigma negatif. Novel Pasung Jiwa by Okky Madasari tells the life of the main character who felt all his life was trapped, because of the gender problems he experienced. The main character in this novel is named Sasana. Being born of a male gender, he is required by society to bring masculine gender traits. But the character is told to show not only masculine gender, he brings two sides of gender in himself, masculine gender and feminine gender. The presence of variations in the character, make the heterosexual community questioning and doubting the gender brought by him. To reveal the true gender identity of the character, can be known through performativity that he did continuously. The research uses queer theory and gender performance theory proposed by Judith Butler. The results of this study reveal that the main character brings the personality and value of masculine gender performativity as well as feminine gender. Through this action, the gender identity of the main character is classified into a gender queer, which is a gender that is a combination or is between the masculine gender and feminine gender. The gender variation in this novel has a negative impact on the character because of the heterosexual community response that still gives negative stigma.
PENYUNTINGAN ASPEK KEBAHASAAN DALAM NASKAH BERBAHASA INDONESIA Asep Supriyana
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 9 No 2 (2018): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.968 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang proses penyuntingan naskah berbahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa kesalahan yang sering ditemukan, yaitu (1) kesalahan ejaan yang meliputi kesalahan penulisan huruf kapital dan pemakaian huruf miring dan pemakaian tanda baca, (2) kesalahan penulisan kata, dan (3) kesalahan pengembangan paragraf. The purpose of this study is to obtain a deep understanding of the editing process in Indonesian texts. This study uses a qualitative approach with ethnographic methods. The results showed that there were a number of errors that were often found, namely (1) spelling mistakes that included capital letter writing errors and the use of italics and the use of punctuation, (2) word writing errors, and (3) paragraph development errors.

Page 6 of 14 | Total Record : 140