cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Dakwah
ISSN : 16938054     EISSN : 2581236X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus is to provide readers with a better understanding of dakwah knowledge and activities the life on Indonesian Muslims. SCOPE The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of communication and broadcasting Islam, guidance and counseling Islam, management dakwah, development of Islamic societies and many more. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
IMPLEMENTASI BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK MENINGKATKAN SELF ESTEEM PASIEN PENYAKIT TERMINAL DI KELOMPOK DUKUNGAN SEBAYA (KDS) RSUP DR. KARIADI SEMARANG Ema Hidayanti
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v38.1.3970

Abstract

HIV / AIDS patients experience complex problems both physically, psychologically, socially, and spiritually. Psychosocial problems experienced include depression, anxiety, despair, and worry, and affect the destruction of social life such as isolating themselves and getting stigmatized. These various problems make HIV / AIDS patients feel useless and worthless. In dealing with psychological problems such as low self-esteem, HIV / AIDS patients desperately need social support from both partners, parents, children, friends, counselors and health teams. Unfortunately during this time the expected social support, rarely HIV / AIDS patients were found, including from their own families. To facilitate these needs, hospitals that become a reference center for HIV / AIDS patients form Peer Support Groups (PSG). PSG  activities include group guidance and peer counseling for HIV / AIDS patients. These activities provide opportunities for HIV / AIDS patients to increase knowledge about their illness, exchange experiences with each other, even help each other solve problems. The various positive benefits of peer support groups in turn can increase the self-esteem of HIV / AIDS patients. ****Pasien HIV/AIDS mengalami problem yang kompleks baik fisik, psikologis, sosial, dan spiritual. Problem psikososial yang dialami antara lain depresi, cemas,  putus asa, dan khawatir, serta berpengaruh pada rusaknya kehidupan sosial seperti mengisolasikan diri dan mendapat stigmatisasi. Berbagai masalah tersebut membuat ODHA merasa tidak berguna dan tidak berharga. Dalam menghadapi problem psikologis seperti rendahnya harga diri, ODHA sangat membutuhkan dukungan sosial baik dari pasangan, orang tua, anak, teman, konselor dan tim kesehatan. Sayangnya selama ini dukungan sosial yang diharapkan tersebut, jarang ODHA didapatkan termasuk dari keluarganya sendiri. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, rumah sakit yang menjadi pusat rujukan bagi ODHA membentuk Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Kegiatan KDS diantaranya  bimbingan kelompok dan konseling sebaya bagi ODHA. Kegiatan tersebut memberikan peluang bagi ODHA untuk menambah pengetahuan tentang sakitnya, bertukar pengalaman dengan sesamanya, bahkan saling membantu memecahkan masalah. Berbagai manfaat positif KDS tersebut pada gilirannya mampu meningkatkan harga diri ODHA.
Pondok Pesantren dan Dakwah Politik: Kajian Histori Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari Bangsri Jepara Siti Asiyah; Arif Chasanudin
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.1.5296

Abstract

Political Da'wah at the Islamic boarding school (pesantren) is an interesting theme that needs to be discussed. Many people have a perception that Islamic boarding school and Political Da'wah are separated from each other. The purpose of this study was to analyze the efforts of Hasyim Asy'ari Islamic Boarding School in embed political da'wah to students and the role of caregivers in applying political da'wah towards students and the community. This research was conducted with a historical qualitative approach. The results of this study are, Islamic Boarding School Hasyim Asy'ari in an effort to embed Political Da'wah to students by (1) learning about leadership and politics in pesantren, (2) conducting leadership training, (3) applying political culture. In addition, the role of caregivers (pengasuh) in carrying out Political Da'wah to students (santri) is seen in religious teaching by embedding spiritual, moral and social values as a provision for students to face social life. The role of caregivers in carrying out political da'wah to the public is by serving as an official in the government, caregivers are able to provide knowledge to the public about the importance of politics and the political system of the country, the role of government in making policies, and participation in political activities (balanced between rights and obligations as citizens), so that the public is aware of the importance of politics and is able to choose leaders who are competent and trustworthy. Dakwah Politik yang di lakukan di pondok pesantren menjadi tema menarik yang perlu dibahas karena banyak orang memiliki persepsi bahwa pondok pesantren dan dakwah politik memiliki sekat yang tidak mampu disatukan. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis terhadap upaya Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari dalam penanaman dakwah politik kepada santri serta peran pengasuh dalam menerapkan dakwah politik kepada santri dan masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitattif historis. Hasil kajian ini membuktikan bahwa, Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari dalam upaya penanaman dakwah politik kepada santri dengan cara (1) melakukan pembelajaran tentang kepemimpinan dan politik di pesantren, (2) mengadakan pelatihan kepemimpinan, (3) menerapkan budaya politik. Selain itu, peranan pengasuh dalam melakukan dakwah politik kepada santri dapat dilihat dalam mengajarkan pendidikan agama dengan menanamkan nilai-nilai spiritual, moral dan sosial kemasyarakatan sebagai bekal santri dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Adapun peranan pegasuh dalam melakukan dakwah politik kepada masyarakat yaitu dengan mengabdikan diri sebagai pejabat di pemerintahan, pengasuh mampu memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya politik dan sistem politik negara, peran pemerintah dalam membuat kebijakan, serta pasrtisipasi dalam kegiatan politik (seimbang antara hak dan kewajiban sebagai warga negara), sehingga masyarakat sadar akan pentingnya politik dan mampu memilih pemimpin yang kompeten dan amanah.
PRIORITAS BERDAKWAH PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA DI INDONESIA Wafiyah Wafiyah
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 35, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v35.2.1610

Abstract

This paper explains religion views to colonization, Dutch colonization in Indonesian, the da’wah priorities during Dutch colonization era, the Dutch responses toward Indonesian resistance, and the Indonesian responses toward Dutch colonization in Indonesia. Dutch colonists, trade monopoly, voyage and politics power that happened in Indonesia have really contradicted against Indonesian tradition. Although they often lost during the wars, but the agitation of Islam did not reduce their spirit to fight the Dutch. From this phenomenon, Dutch colonists, then, tried to eliminate Islamic influences from Indonesian people through:The negative effects of Dutch colonization, then, encouraged the emergence of Muslim Organizations and nationalistic movements concerning on the aspects of da’wah, education, economic social and politics.***Tulisan ini menggambarkan tentang pandangan  agama terhadap penjajahan Belanda di Indonesia, prioritas dakwah pada masa penjajahan Belanda, respon penjajah Belanda terhadap perlawanan bangsa Indonesia untuk menghilangkan pengaruh Islam di Indonesia dan respon balik masyarakat Indonesia terhadap penjajahan Belanda. Penjajah Belanda, monopoli perdagangan, pelayaran dan kekuasaan politik. Hal ini sangat bertentangan dengan tradisi di Indonesia. Karenanya menyulut reaksi sengit bangsa Indonesia untuk memerangi mereka. Walau selalu kalah namun agitasi Islam tidak menyurutkan semangat bangsa Indonesia untuk tetap memerangi Belanda, karena itulah penjajah Belanda berusaha menghilangkan pengaruh Islam bagi bangsa Indonesia. Kondisi negatif bangsa Indonesia akibat terjajah oleh Belanda, dipengaruhi juga oleh gerakan pembaharuan di luar negeri, juga ajaran Islam yang memerintahkan umatnya untuk menggunakan akal dalam merealisasikan ajaran  Islam agar tujuan rahmatan lil alamin bisa tercapai, mendorong para da’i untuk mengambil langkah-langkah pembaharuan, melalui organisasi Islam yang bergerak dalam bidang : dakwah, pendidikan, sosial ekonomi dam politik. 
DAKWAH SOEKARNO MELALUI PIDATO Mukoyimah Mukoyimah
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 37, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v37.2.2710

Abstract

Soekarno is a figure known as you mansionalis who aggressively fight for independence with the actions podiaumnya. But from some religious side of the Da'wah da'wah is da’i. because the values of da'wa is amar ma'ruf nahi munkar has been implemented. So in this paper aims to explain Sokarno from the side of da'wah that he did through his speeches. This type of research is qualitative bibliography and using textual and historical approach, while the data used is sampling some of Soekarno's speech. The Result of research that has been done can be generated that Soekarno is da’i who has the thinking of this element of visible in the fruit of thought that is gotong-royong, nationalism, and marhaenism. Sukarno also often repeated his words in a speech that aims to emphasize the important thing to be conveyed. Not only that, Sukarno's da'wah is not only to build a good understanding but also to show threat to the people
Paradigma Dakwah Kultural: Dimensi Sufisme dalam Kontruksi Karakter Bima pada Pewayangan Jawa Ahmad Hidayatullah
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 39, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v39.2.4409

Abstract

Wayang as a pride of Javanese culture is well known not only for artistic dimension, but also for a spiritual dimension. It can be seen from a compositions of wayang characters, namely Bima. This research is a qualitative research that focuses on library research about Mahabharata books, Javanese culture (wayang), Walisongo, and dakwah. This research is data analysis that uses descriptive analysis, as an effort to describe and analyze the siprirtiual dimensions are manifested in aspects of dakwah and sufism in the construction of the Bima character. The results of this study indicate that the character of Bima shows the construction for dimensions of dakwah and Sufism. The dimension of dakwah lies in the process of islamization of Hindu that contained in wayang that finally changes the character and storyline of the wayang itself. While the dimension of Sufism is in the process of conveying the values of Sufism, such as in the depiction of the soul (nafs) and manunggaling Kawula Gusti in the Dewaruci play. 
MANAJEMEN BIMBINGAN KELUARGA BAHAGIA MENURUT AGAMA SAMAWI: Islam dan Kristen Saksi-Saksi Yehuwa Abdul Choliq
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 35, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v35.1.1253

Abstract

The purpose of this research to know point of view form two samawi religion about familly management problems. As know as, that in this life every people want to live in happy familly. Without judge about religion, clan, or their status. Because of it, many people try to raise their dream to make a happy familly with many way. One of them is implementation religion value in their daily activity. Based from survey by writer, there are many management or manner to build happy familly from religions in this world such us Islam and Kristen Witnesses Yehuwa. In Islam and Kristen Witnesses Yehuwa, there have a good management to build happy familly. Form a doctrinal value or value aplication from holly book.***Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pandangan dari dua sudut agama samawi, tentang persoalan yang berkaitan dengan manajemen keluarga. Sebagaimana di ketahui bahwa dalam kehidupan dunia ini semua orang yang hidup mengharapkan tinggal dalam sebuah keluarga yang bahagia. Tanpa memandang agama, ras, maupun status yang mereka miliki. Hal inilah yang membuat sebagian besar orang mewujudkan cita-cita mereka membangun keluarga yang bahagia dengan menempuh berbagai cara, salah satunya melalui pengamalan ajaran agama sehari-hari dalam kehidupan. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh penulis, terdapat berbagai menajemen dalam membangun keluarga bahagia dari beberapa agama yang terdapat di dunia ini di antaranya Islam dan Kristen saksi-saksi yehuwa. Dalam agama islam dan Kristen saksi-saksi yehuwa memiliki manajemen yang bagus dalam membangun keluarga bahagia. Baik dari segi ajaran yang bersifat doktrinal maupun pengaplikasian ajaran yang terdapat dalam kitab suci kedua agama tersebut.
MENYOAL KESENJANGAN ANTARA DAS SEIN DAN DAS SOLLEN PENYEBARAN ISLAM PRA WALISONGO Widiastuti Widiastuti
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 37, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v37.1.2622

Abstract

This Artikel based on historical research. The result of research was indicated thats Islam has been spread in Java since the 7th century, and has even successfully Islamized two Javanese priyayi namely Rakeyan Sancang from Tarumanegara and Prince Jay Shima from Kalingga. However, the reality of data on the development of the number of Javanese Muslim communities from the 7th-14th century AD was minimal. This fact tell about the passive indigenous Muslims. While in the Walisongo (14-16 AD), in a relatively short span of time was able to change the number of Muslim minorities into the majority. Thus, in the history of pre-walisongo Islam spread the imbalance between hope and reality arises. The spread of pre-walisongo Islam has taken a very long time, so the expectation is to produce significant quantity and quality development of Muslim societies. But the fact that it did not materialize because the spread of Islam is less successful both in quantity and quality.
Dakwah Aisyiyah melalui kader Tuberkulosis (Tb) care di Kabupaten Sinjai Hasmiati Hasmiati; Rita Rita; Amiruddin Amiruddin
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 41, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v41.1.7343

Abstract

Islamic da'wah is carried out in all sectors, including health. Likewise, Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah in Sinjai Regency. The purpose of the study was to determine the form of Aisyiyah preaching through TB Care cadres. This type of research, qualitative, data collection using the method of observation, interviews and documentation. Data analysis applied in this study started from data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that Aisyiyah preaching through TB Care cadres started from mentoring. Assistance of TB Care cadres is carried out periodically, the first visit is called sampling and becomes a discussion partner with patients, and patients' families starting from information on treatment, healing and health (starting from monitoring taking medication for a period of six months to the recovery stage). Furthermore, the form of da'wah carried out by TB Care cadres in broadcasting da'wah through three forms, namely da'wah by oral bill, da'wah bil hal and da'wah bil qalam. The implication of this research is that the delivery of da'wah for TB Care cadres should be optimized by providing knowledge related to da'wah for TB Care cadres.***Dakwah Islam dilakukan di semua sektor, termasuk kesehatan. Begitu juga yang dilakukan oleh Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah di Kabupaten Sinjai. Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care. Jenis penelitian, kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care dimulai dari pendampingan. Pendampingan kader TB Care dilakukan secara berkala, kunjungan pertama disebut dengan pengambilan sampel serta menjadi mitra diskusi terhadap pasien, dan keluarga pasien mulai dari Informasi pengobatan, kesembuhan dan kesehatan (mulai dari pengawasan minum obat selama kurung waktu enam bulan sampai pada tahap kesembuhan). Selanjutnya bentuk dakwah yang dilakukan oleh kader TB Care dalam menyiarkan dakwah melalui tiga bentuk, yakni dakwah secara bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil qalam. Implikasi penelitian ini bahwa  penyampaian dakwah kader TB Care hendaknya dioptimalkan dengan memberikan pengetahuan terkait dakwah terhadap kader TB Care.
DAKWAH BIL-HIKMAH DI ERA INFORMASI DAN GLOBALISASI Berdakwah di Masyarakat Baru Waryono Abdul Ghafur
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 34, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v34.2.69

Abstract

Da'wah is an Islamic propagation activity that requires continuing reforms in terms of content, strategies, methods and the da’i’s qualifications. This is due to the dynamics of the mad’u (da’wah addressee) conditions as well as the change of social environment that need to such reforms in order to get a relevant and contextual format in conducting da’wah. The da’wah movement in the global era should not only present the conventionally-traditional content, but also the modern way by using technology. Therefore, it can reach the target widely with the contents basing on the needs and challenges of the complex new society. Relying on the authoritative sources of Islam, the Qur’an and the other relevant sources, this paper presents a da’wah bil hikmah in the context of new society.***Dakwah merupakan aktivitas yang menuntut pembaharuan secara terus-menerus baik dari sisi content, cara, strategi, dan atau metodenya maupun kualifikasi pelakunya. Hal ini karena adanya dinamika sasaran dakwah dan lingkungan sosial yang terus berubah yang menuntut selalu adanya pembaharuan. Pembaharuan ini dalam rangka mencari format yang relevan dan kontekstual dalam dakwah. Garakan dakwah di era global sudah sejatinya menyuguhkan content, bukan hanya secara konvensional-tradisional, tapi secara modern dengan menggunakan IT, sehingga menjangkau sasaran dakwah yang luas, melintas batas dengan isi yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan masyarakat baru yang kompleks dan dengan penuh kedalaman, meski bernuansa praktis. Dengan berpijak pada sumber otoritatif Islam, al-Qur’an secara tematik dan sumber lain yang relevan, tulisan ini menyuguhkan dakwah bilhikmah dalam konteks masyarakat baru.
Blogging Sebagai Salah Satu Media Berdakwah Dan Berbagi Ilmu Pengasuhan Bagi Pengurus Panti Asuhan Disabilitas Maya Rini Handayani
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 36, No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v36.2.1772

Abstract

Orphanages that accept disability children surely different with orphanages that do not receive child disability. These differences include parenting, caregiver quality and operational funding. Operational needs on high quality of health, lack of donors, lack of information about the disability orphanages are among the reasons that led to the orphanage disabilities require more attention. Solutions that can be given to help this institution is providing training to create and manage its own blog created by a caregiver, so that the caregiver can provide information and share knowledge with the community of persons with disabilities and how the patterns of parenting. But no less important, blog can also be used as a medium of preaching through writing primarily an expression of gratitude for His blessings. The form favors the grace of the presence of persons with disabilities either double disability or not in a family.***Panti asuhan yang menerima anak disabilitas berbeda dengan panti asuhan yang tidak menerima anak disabilitas. Perbedaan panti asuhan disabilitas dengan panti yang lain meliputi pola pengasuhan, kualitas pengasuh, dan pendanaan operasional. Kebutuhan operasional dan kesehatan yang tinggi, minimnya donatur, minimnya informasi tentang panti asuhan disabilitas, merupakan beberapa alasan yang menyebabkan panti asuhan disabilitas membutuhkan perhatian yang lebih. Solusi yang dapat diberikan untuk membantu panti ini adalah dengan memberikan pelatihan membuat dan mengelola blog yang dibuat sendiri oleh pengasuh agar para pengasuh dapat memberikan informasi dan berbagi ilmu dengan masyarakat tentang penyandang disabilitas dan bagaimana pola pengasuhannya. Namun yang tidak kalah penting, blog tersebut juga dapat digunakan sebagai media berdakwah melalui tulisan terutama ungkapan syukur atas nikmatNya. Nikmat tersebut berupa anugrah akan hadirnya penyandang disabilitas baik disabilitas ganda atau tidak dalam sebuah keluarga.