cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Dakwah
ISSN : 16938054     EISSN : 2581236X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus is to provide readers with a better understanding of dakwah knowledge and activities the life on Indonesian Muslims. SCOPE The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of communication and broadcasting Islam, guidance and counseling Islam, management dakwah, development of Islamic societies and many more. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 358 Documents
Digital innovation in islamic guidance: Fuzzy mamdani-based stress level detection for muslim adolescents Amal, Muhammad Niltal; Handayani, Maya Rini
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 45 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v45.2.28875

Abstract

Purpose - The purpose of this study is to address the urgent need for a reliable and accessible preliminary assessment tool for mental health issues among Indonesian adolescents, a demographic significantly impacted by recent societal changes and showing high rates of psychological distress (e.g., 34.9% experiencing mental problems per I-NAMHS 2022) Method - The methodology employed is the design and development of a web-based expert system utilizing Fuzzy Logic to diagnose stress symptoms. The system is structured with four core components (User Interface, Knowledge Base, Inference Mechanism, Working Memory) and incorporates Fuzzy Tsukamoto/Mamdani/Sugeno principles for mapping firm numerical symptom inputs to linguistic variables through Fuzzification and Defuzzification processes. Result  -  The result (anticipated/achieved) is a functional, dual-role web system (Admin/User) capable of providing objective, preliminary stress categorization, thereby serving as a first step toward early intervention. Implication – The implication of this work is twofold: clinically, it provides an immediate, non-expert-dependent tool for initial screening; ethically and religiously, it supports the collective obligation (fard kifayah) to safeguard youth mental well-being and maintain their fitrah. Originality/Value - The originality of this research lies in the specific integration of Fuzzy Logic reasoning within a web-based expert system tailored explicitly to the Indonesian adolescent context for stress awareness and preliminary diagnosis.*** Tujuan - Tujuan studi ini adalah untuk memenuhi kebutuhan mendesak akan alat penilaian awal yang andal dan mudah diakses untuk masalah kesehatan mental di kalangan remaja Indonesia, kelompok demografis yang sangat terdampak oleh perubahan sosial terkini dan menunjukkan tingkat gangguan psikologis yang tinggi (misalnya, 34,9% mengalami masalah mental menurut I-NAMHS 2022) Metode - Metode yang digunakan adalah desain dan pengembangan sistem pakar berbasis web yang memanfaatkan Logika Fuzzy untuk mendiagnosis gejala stres. Sistem ini terdiri dari empat komponen inti (Antarmuka Pengguna, Basis Pengetahuan, Mekanisme Inferensi, Memori Kerja) dan mengintegrasikan prinsip-prinsip Fuzzy Tsukamoto/Mamdani/Sugeno untuk memetakan masukan numerik gejala yang pasti ke variabel linguistik melalui proses Fuzzifikasi dan Defuzzifikasi. Hasil - Hasil (diperkirakan/tercapai) adalah sistem web fungsional dengan dua peran (Admin/Pengguna) yang mampu memberikan kategorisasi stres awal yang objektif, sehingga berfungsi sebagai langkah awal menuju intervensi dini. Implikasi – Implikasi dari penelitian ini dua arah: secara klinis, menyediakan alat skrining awal yang segera dan tidak bergantung pada ahli; secara etis dan agama, mendukung kewajiban kolektif (fard kifayah) untuk melindungi kesejahteraan mental remaja dan menjaga fitrah mereka. Orisinalitas/Nilai - Keaslian penelitian ini terletak pada integrasi spesifik logika fuzzy dalam sistem pakar berbasis web yang dirancang khusus untuk konteks remaja Indonesia dalam kesadaran stres dan diagnosis awal.
Promoting peaceful Islam: Strengthening religious moderation and P/CVE strategies for Indonesian female migrant workers Tandos, Rosita
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 45 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v45.2.28905

Abstract

Purpose – The purpose of this study was to examine the involvement and vulnerability of Indonesian female migrant workers (FMWs) in violent extremism and terrorism, as well as to explore their potential role in promoting peaceful Islamic values as a counter-narrative. Method – The population of this study consisted of 100 Muslim women who were formerly migrant workers. Data collection was conducted through a survey of all participants and in-depth interviews with 15 respondents using open-ended questions. The data were analyzed descriptively to identify patterns of vulnerability and opportunities for empowerment. Result – The results showed that some Indonesian FMWs have been targeted and even recruited by extremist groups. However, the findings also indicate that with proper empowerment, FMWs can serve as agents of peace, strengthening religious moderation both domestically and internationally. Implication – This study suggests the need for systematic programs that reinforce peaceful Islamic narratives, resilience, and empowerment among migrant communities as part of preventing and countering violent extremism (P/CVE). Originality/Value – This research provides one of the first empirical insights into the nexus between female migrant workers and violent extremism in Indonesia, highlighting their strategic role as peacebuilders in P/CVE efforts. *** Tujuan – Tujuan studi ini adalah untuk mengkaji keterlibatan dan kerentanan pekerja migran perempuan Indonesia (PMPI) dalam ekstremisme kekerasan dan terorisme, serta mengeksplorasi peran potensial mereka dalam mempromosikan nilai-nilai Islam yang damai sebagai narasi alternatif. Metode – Populasi studi ini terdiri dari 100 perempuan Muslim yang pernah menjadi pekerja migran. Pengumpulan data dilakukan melalui survei terhadap semua peserta dan wawancara mendalam dengan 15 responden menggunakan pertanyaan terbuka. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengidentifikasi pola kerentanan dan peluang pemberdayaan. Hasil – Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa FMW Indonesia telah menjadi sasaran dan bahkan direkrut oleh kelompok ekstremis. Namun, temuan juga menunjukkan bahwa dengan pemberdayaan yang tepat, FMW dapat berperan sebagai agen perdamaian, memperkuat moderasi agama baik secara domestik maupun internasional. Implikasi – Studi ini menyarankan perlunya program sistematis yang memperkuat narasi Islam yang damai, ketahanan, dan pemberdayaan di kalangan komunitas migran sebagai bagian dari upaya pencegahan dan penanggulangan ekstremisme kekerasan (P/CVE). Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini memberikan salah satu wawasan empiris pertama tentang hubungan antara pekerja migran perempuan dan ekstremisme kekerasan di Indonesia, menyoroti peran strategis mereka sebagai pembangun perdamaian dalam upaya P/CVE. 
Da’wah bil hikmah in Macapat Serat Wulangreh Songs: Analysis of da’wah messages in javanese cultural expressions Suprihatiningsih Suprihatiningsih; Tri Marhaeni Pudji Astuti; Agustinus Sugeng Priyanto; Sunarto
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.28782

Abstract

Purpose – The purpose of this study is  to explore Da’wah bil hikmah in the macapat poems of Serat Wulangreh by Pakubuwana IV, focusing on four pupuh, namely Dhandhanggula, Gambuh, Asmarandana, and Kinanthi. This study examines how the message of Da’wah is manifested in the form of Javanese cultural expressions that are rich in moral, ethical, and spiritual values. Method - This study uses a descriptive qualitative approach with content analysis. The research population consists of all verses in Serat Wulangreh, totaling 13 pupuh. The research sample is limited to four pupuh that are the focus of this study. The analysis is conducted textually and contextually to interpret the messages of da'wah contained therein. Result – Research shows that Serat Wulangreh contains messages of preaching with wisdom. Pupuh Dhandhanggula advises that the knowledge received should always be based on sharia principles and taught with wisdom. Pupuh Gambuh emphasizes the importance of honesty and the need to choose the right role models. Asmarandana emphasizes the importance of self-control and humility, while Kinanthi conveys a message about living humbly and choosing good company.  Implication – This study indicates the importance of the Da’wah bil hikmah approach in conveying the message of Da’wah through local cultural media. This approach allows the message of Da’wah to be conveyed politely, relevantly, and accepted by a community that upholds symbolic expressions and Javanese traditional values Originality/Value - This study provides a new interpretation of Serat Wulangreh from the perspective of Da’wah bil hikmah, which has rarely been specifically examined in Da’wah studies based on classical literary texts. *** Purpose – Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi Da’wah bil hikmah dalam tembang macapat Serat Wulangreh karya Pakubuwana IV, dengan fokus pada empat pupuh, yaitu Dhandhanggula, Gambuh,  Asmarandana dan Kinanthi. Penelitian ini menelaah bagaimana pesan Da’wah diwujudkan dalam bentuk ekspresi budaya Jawa yang sarat nilai moral, etika, dan spiritual. Method - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis isi (content analysis). Populasi penelitian adalah seluruh bait dalam Serat Wulangreh yang berjumlah 13 pupuh. Sampel penelitian dibatasi empat pupuh yang menjadi fokus. Analisis dilakukan secara tekstual dan kontekstual untuk menafsirkan pesan Da’wah yang terkandung di dalamnya. Hasil – Penelitian menunjukkan bahwa Serat Wulangreh memuat pesan-pesan Da’wah bil hikmah. Pupuh Dhandhanggula memberikan anjuran  agar ilmu yang diterima selalu berlandaskan pada dalil syariat serta diajarkan dengan kebijaksanaan. Pupuh Gambuh menegaskan keutamaan kejujuran dan perlunya memilih teladan yang benar. Asmarandana menekankan pentingnya pengendalian diri dan kerendahan hati, Kinanthi  memberikan pesan tentang hidup rendah hati dan  memilih pergaulan yang baik.  Implication – Penelitian ini mengindikasikan  pentingnya pendekatan Da’wah bil hikmah dalam menyampaikan pesan Da’wah melalui media budaya lokal. Pendekatan ini memungkinkan pesan Da’wah tersampaikan secara santun, relevan, dan diterima oleh masyarakat yang menjunjung tinggi ekspresi simbolik dan nilai-nilai adat Jawa. Originality/Value - Penelitian ini memberikan pembacaan baru terhadap Serat Wulangreh dari perspektif Da’wah bil hikmah, yang masih jarang dikaji secara khusus dalam studi Da’wah berbasis teks sastra klasik.
The phenomenon of public islam within urban da’wah practices in Bandung Dudy Imanuddin Effendi; Dede Irawan; Lilim Abdul Halim
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.29603

Abstract

Purpose - This study aims to explain how the phenomenon of public Islam is manifested within urban da’wah practices by examining the dynamics of da’wah spaces, the transformation of religious authority, and the emerging orientation toward public welfare in urban life Method - Using a phenomenological approach, this study examines the lived experiences of informants involved in urban da’wah, both as preachers and as audiences Result  -  Urban da’wah is increasingly moving beyond traditional places of worship into more fluid public spaces. This spatial expansion goes hand in hand with the strengthening of democratized religious authority, where legitimacy is shaped by the relevance of the message and its resonance with the lived experiences of urban communities. The findings also indicate a strong orientation toward public welfare, reflected in social initiatives, the avoidance of sensitive themes, and efforts to maintain social harmony within the city’s diverse environment. Implication – These findings imply the need to redefine da’wah concepts to become more responsive to urban social ecologies and adaptive to contemporary modes of public communication. Originality/Value - Its originality lies in combining phenomenology with the public Islam framework to conceptualize urban da’wah as a multisited, dialogical, and welfare-oriented practice, offering fresh insights for developing contemporary da’wah theory. *** Tujuan – Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana fenomena Islam publik termanifestasi dalam praktik dakwah urban dengan menelaah dinamika ruang dakwah, transformasi otoritas keagamaan, dan munculnya orientasi kemaslahatan dalam kehidupan masyarakat kota. Metode – Dengan menggunakan pendekatan fenomenologis, penelitian ini mengkaji pengalaman hidup para informan yang terlibat dalam dakwah urban, baik sebagai pendakwah maupun sebagai audiens. Hasil – Dakwah urban semakin bergerak melampaui tempat ibadah tradisional menuju ruang-ruang publik yang lebih cair. Perluasan ruang ini berjalan seiring menguatnya otoritas keagamaan yang semakin demokratis, di mana legitimasi dibentuk oleh relevansi pesan dan kedekatannya dengan pengalaman hidup masyarakat urban. Temuan penelitian juga memperlihatkan orientasi yang kuat terhadap kemaslahatan publik, tercermin dalam berbagai inisiatif sosial, penghindaran tema-tema sensitif, serta upaya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman kota. Implikasi – Temuan ini menunjukkan perlunya redefinisi konsep dakwah agar lebih responsif terhadap ekologi sosial perkotaan dan lebih adaptif terhadap pola komunikasi publik kontemporer. Orisinalitas/Nilai – Keaslian penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan fenomenologi dengan kerangka Islam publik untuk mengonseptualisasikan dakwah urban sebagai praktik multisitus, dialogis, dan berorientasi kemaslahatan, sehingga menawarkan perspektif baru dalam pengembangan teori dakwah masa kini.
Egalitarian da’wah as a da’wah strategy Fuat Rejeki; Ali Murtadho; Agus Riyadi; Agus Nurhadi; Windy Ernaeny
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.30737

Abstract

Purpose - This study aims to analyse da‘wah strategies relevant to Muslim minority communities in Krajan, Kalimanggis, emphasising relational equality between da‘i and mad‘u, a dialogical, humanistic, and non-coercive approach, as well as the utilisation of basic needs fulfilment as a contextual medium for da‘wah. Method - This study employed a qualitative method with an ethnographic approach to understand the meanings attributed by religious leaders, Muslims, and non-Muslims to da‘wah practices, particularly the egalitarian da‘wah strategy, da‘wah bil ḥāl, and socially inclusive da‘wah. A sociological perspective was utilised to analyse religion as a social reality related to social structures, interactions, and community dynamics (Hasni, 2023). Data were collected through in-depth interviews and participant observation with eight respondents. These respondents included Muslim community leaders, ustadz/religious figures from outside the local area who had established majlis taklim, Islamic activists in Dusun Krajan, non-Muslim religious leaders, converts to Islam, respected community elders, and members of the Muslim youth organisation (karangtaruna). Result -  This study indicates that the Muslim minority community in Dusun Krajan faces socio-economic limitations, limited access to religious education, and vulnerability in social relations within a predominantly non-Muslim environment, rendering conventional da‘wah less effective. The originality of this research lies in the formulation of egalitarian da‘wah as a contextual and adaptive strategy, emphasising relational equality between da‘i and mad‘u, a social–humanistic approach through the fulfilment of basic needs, and conflict management based on dialogue and empathy. The findings suggest that egalitarian da‘wah functions not only as a medium for transmitting Islamic teachings but also as a mechanism— —for strengthening social cohesion and restoring social relations, thereby supporting the sustainability of religious life and social harmony amongst Muslim minority communities. Implications – The implications of this study lie in reinforcing the perspective of da‘wah as a contextual and relational social practice within da‘wah studies and the sociology of religion, particularly amongst Muslim minority communities. Practically, the findings serve as a reference for da‘i and da‘wah institutions in designing dialogical, humanistic, and basic-needs-based da‘wah strategies to strengthen social cohesion and interfaith harmony. Originality/Value – This study presents egalitarian da‘wah as a contextual model for Muslim minority communities, emphasising relational equality, social–humanistic approaches, and interfaith dialogue. It positions da‘wah not merely as the transmission of religious teachings, but as a mechanism for strengthening social cohesion and restoring social relations, which is relevant for sustaining religious life and social harmony. *** Tujuan - Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi dakwah yang relevan bagi masyarakat Muslim minoritas di Krajan, Kalimanggis, dengan menekankan kesetaraan relasional antara da’i dan mad’u, pendekatan dialogis, humanis, dan non-koersif, serta pemanfaatan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai media dakwah yang kontekstual. Metode - Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk memahami pemaknaan para tokoh agama, umat Muslim, dan non-Muslim terhadap praktik dakwah, khususnya strategi dakwah egaliter, dakwah bil ḥāl, dan dakwah sosial-inklusif. Pendekatan sosiologis digunakan untuk menganalisis agama sebagai realitas sosial yang berkaitan dengan struktur, interaksi, dan dinamika masyarakat (Hasni, 2023). Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap 8 responden. Mereka adalah tokoh masyarakat muslim, para ustadz/ tokoh agama dari luar lingkungan yang telah mendirikan majelis taklim, pejuang agama Islam di dusun Krajan, tokoh agama non Muslim, mualaf, warga yang dituakan, dan karangtaruna muslim. Hasilnya menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan seperti pengajian rutin, momentum Ramadhan, Idul Adha, dan perayaan hari besar Islam menjadi sarana efektif dalam membangun jaringan sosial serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat Muslim di Krajan, Kalimanggis. Hasil  -  Kajian ini menunjukkan bahwa masyarakat Muslim minoritas di Dusun Krajan menghadapi keterbatasan sosial ekonomi, rendahnya akses pendidikan keagamaan, serta kerentanan relasi sosial dalam lingkungan mayoritas non-Muslim, sehingga dakwah konvensional cenderung kurang efektif. Kebaruan penelitian ini terletak pada perumusan dakwah egaliter sebagai strategi dakwah yang kontekstual dan adaptif, yang menekankan kesetaraan relasional antara da’i dan mad’u, pendekatan sosial-humanis melalui pemenuhan kebutuhan dasar, serta pengelolaan konflik berbasis dialog dan empati. Temuan ini menunjukkan bahwa dakwah egaliter tidak hanya berfungsi sebagai media transmisi ajaran Islam, tetapi juga sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial dan pemulihan relasi sosial, sehingga relevan dalam mendukung keberlanjutan kehidupan keagamaan dan harmoni sosial masyarakat Muslim minoritas. Implikasi – Implikasi penelitian ini pada penguatan perspektif dakwah sebagai praktik sosial yang kontekstual dan relasional dalam studi dakwah dan sosiologi agama, khususnya pada masyarakat Muslim minoritas. Secara praktis, temuan ini menjadi rujukan bagi da’i dan lembaga dakwah dalam merancang strategi dakwah dialogis, humanis, dan berbasis pemenuhan kebutuhan dasar guna memperkuat kohesi sosial dan harmoni antarumat beragama. Orisinalitas/Nilai – Penelitian ini mengungkap dakwah egaliter sebagai model dakwah kontekstual bagi masyarakat Muslim minoritas yang menekankan kesetaraan relasional, pendekatan sosial-humanis, dan dialog lintas agama. Penelitian ini memposisikan dakwah tidak hanya sebagai transmisi ajaran, tetapi sebagai mekanisme penguatan kohesi sosial dan pemulihan relasi sosial yang relevan bagi keberlanjutan kehidupan keagamaan dan harmoni sosial.
Indigenous multicultural da'wah in the interfaith Kupatan tradition: An epistemological study Ahmad Shofi Muhyiddin; Muhammad Qomaruzzaman
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.31103

Abstract

Purpose - The purpose of this study is to examine the concept of epistemic integration of indigenous multicultural da'wah and how the tradition of interfaith kupatan serves as a dialectical tool between Islamic ideals and local culture in a multicultural society. This study is based on indigenous Islamic thought, which connects the study of da'wah and multiculturalism with Javanese philosophy and local wisdom practices. Method - The study was carried out using a qualitative philosophical approach, which is based on epistemological perspective through the examination of rituals, symbols, and social relations among different religions. The information was collected by observing rituals, symbols, and social relations among individuals from different religions, and later analyzed to determine their significance. Result  -  The results indicated that the interfaith kupatan tradition reflects the internalization of Islamic principles of raḥmatan li al-‘ālamīn (mercy for all creation) via social practices that promote tolerance, ukhuwah insāniyah (human brotherhood), and social cohesion. From an epistemological perspective, this tradition establishes an adaptive-dialectical-reformative framework for indigenous multicultural da'wah. It combines three sources of understanding: bayānī (religious texts), burhānī (empirical socio-cultural realities), and 'irfānī (empathy, feelings, and spiritual awareness) reasoning, drawing from religious texts and diverse experiences. This approach is proven by achieving harmony, justice, and maqāṣid al-sharī'ah (shared social well-being). Implication – This study confirms the relevance of a qualitative-contextual approach based on field studies in examining multicultural da'wah based on local traditions. These findings imply the need for a dialectical da'wah study methodology oriented towards indigenous knowledge in multicultural societies. Originality/Value - This study's novelty is in proposing a clear and practical model of indigenous multicultural da'wah derived directly from field findings in the interfaith kupatan tradition. This research presents a practical model for integrating Islamic teachings, local culture, and interfaith interaction in daily practice, in contrast to previous studies that are purely theoretical. *** Tujuan - Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konsep integrasi epistemologis dakwah multikultural asli serta bagaimana tradisi kupatan antaragama berfungsi sebagai alat dialektis antara cita-cita Islam dan budaya lokal dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini didasarkan pada pemikiran Islam asli, yang menghubungkan kajian dakwah dan multikulturalisme dengan filsafat Jawa serta praktik-praktik kearifan lokal. Metode - Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan filosofis kualitatif, yang didasarkan pada perspektif epistemologis melalui pengkajian ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara berbagai agama. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan terhadap ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara individu dari berbagai agama, kemudian dianalisis untuk menentukan signifikansinya. Hasil  -  Hasil menunjukkan bahwa tradisi kupatan antaragama mencerminkan internalisasi prinsip-prinsip Islam raḥmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam) melalui praktik-praktik sosial yang mempromosikan toleransi, ukhuwah insāniyah (persaudaraan manusia), dan kohesi sosial. Dari perspektif epistemologis, tradisi ini menetapkan kerangka kerja adaptif-dialektis-reformatif untuk dakwah multikultural asli. Tradisi ini menggabungkan tiga sumber pemahaman: bayānī (teks-teks agama), burhānī (kenyataan sosio-budaya empiris), dan 'irfānī (empati, perasaan, dan kesadaran spiritual), yang bersumber dari teks-teks agama dan pengalaman yang beragam. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam mewujudkan harmoni, keadilan, dan maqāṣid al-sharī'ah (kesejahteraan sosial bersama). Implikasi – Studi ini menegaskan relevansi pendekatan kualitatif-kontekstual berdasarkan studi lapangan dalam mengkaji dakwah multikultural yang berlandaskan tradisi lokal. Temuan ini mengimplikasikan perlunya metodologi studi dakwah dialektis yang berorientasi pada pengetahuan lokal dalam masyarakat multikultural. Keaslian/Nilai - Keunikan studi ini terletak pada usulan model dakwah multikultural berbasis lokal yang jelas dan praktis, yang langsung dihasilkan dari temuan lapangan dalam tradisi kupatan antaragama. Penelitian ini menyajikan model praktis untuk mengintegrasikan ajaran Islam, budaya lokal, dan interaksi antaragama dalam praktik sehari-hari, berbeda dengan studi sebelumnya yang murni teoretis.
Reconceptualizing islamic counseling for global mental health: An integrative framework Kholilurrohman Kholilurrohman; Abdul Mufid; Mowafg Abrahem Masuwd; Kauthar Razali
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.31114

Abstract

Purpose – The study aims to reconceptualize Islamic counseling by developing an integrative framework that contributes to the global mental health discourse. Specifically, it seeks to answer how Islamic counseling can be theoretically integrated with global mental health and evidence-based counseling approaches to promote psychological wellbeing and resilience among Muslim populations. Method – The study utilizes a conceptual and integrative literature review method, focusing on synthesizing key insights from global mental health literature, evidence-based counseling practices, and Islamic counseling principles. Relevant peer-reviewed international publications, policy reports, and theoretical models were systematically analyzed to identify conceptual intersections, highlight key findings, and address existing gaps in the literature. Result – The findings propose an Integrative Islamic counseling framework that bridges Islamic spiritual principles (such as meaning-making, self-regulation, resilience, and adaptive acceptance) with contemporary global mental health paradigms and evidence-based counseling practices. The framework positions Islamic counseling as a culturally responsive and complementary approach that enhances psychological wellbeing, resilience, and mental health promotion without opposing established clinical methods. Implication – This study has significant implications for both global mental health practices and the integration of Islamic principles into mainstream counseling. It provides a culturally relevant model for addressing mental health issues within Muslim communities and highlights the importance of incorporating diverse cultural and spiritual perspectives into psychological care, fostering resilience and psychological wellbeing. Originality/Value – The originality of this study lies in its proposal of an Integrative Islamic Counseling Framework, which is an underexplored area in the field of global mental health. *** Tujuan – Studi ini bertujuan untuk merekonseptualisasi konseling Islami dengan mengembangkan kerangka kerja integratif yang berkontribusi pada wacana kesehatan mental global. Secara khusus, studi ini berupaya menjawab bagaimana konseling Islami dapat diintegrasikan secara teoritis dengan kesehatan mental global dan pendekatan konseling berbasis bukti untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis dan ketahanan di kalangan populasi Muslim. Metode – Studi ini menggunakan metode tinjauan literatur konseptual dan integratif. Studi ini mensintesis wawasan utama dari literatur kesehatan mental global, praktik konseling berbasis bukti, dan prinsip-prinsip konseling Islami. Publikasi internasional yang relevan dan telah ditinjau oleh rekan sejawat, laporan kebijakan, dan model teoretis dianalisis secara sistematis untuk mengidentifikasi persimpangan dan kesenjangan konseptual. Hasil – Temuan ini mengusulkan Kerangka Kerja Konseling Islami Integratif yang menjembatani prinsip-prinsip spiritual Islam (seperti penciptaan makna, pengaturan diri, ketahanan, dan penerimaan adaptif) dengan paradigma kesehatan mental global kontemporer dan praktik konseling berbasis bukti. Kerangka kerja ini memposisikan konseling Islami sebagai pendekatan yang responsif secara budaya dan komplementer yang meningkatkan kesejahteraan psikologis, ketahanan, dan promosi kesehatan mental tanpa bertentangan dengan metode klinis yang sudah mapan. Implikasi – Studi ini memiliki implikasi signifikan baik untuk praktik kesehatan mental global maupun integrasi prinsip-prinsip Islam ke dalam konseling arus utama. Studi ini menyediakan model yang relevan secara budaya untuk mengatasi masalah kesehatan mental dalam komunitas Muslim dan menyoroti pentingnya memasukkan beragam perspektif budaya dan spiritual ke dalam perawatan psikologis, menumbuhkan ketahanan dan kesejahteraan psikologis. Orisinalitas/Nilai – Orisinalitas studi ini terletak pada usulannya tentang Kerangka Konseling Islam Integratif, yang merupakan area yang kurang dieksplorasi dalam bidang kesehatan mental global.
The relevance of Muhammad Shahrur's views on democracy to the discourse of da'wah thought and democracy in Indonesia Nur Ariyanto Eva Nuriatulfajr; Agus Riyadi; Ilyas Supena
Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 46 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v46.1.31520

Abstract

Purpose - The purpose of this study is to examine the concept of epistemic integration of indigenous multicultural da'wah and how the tradition of interfaith kupatan serves as a dialectical tool between Islamic ideals and local culture in a multicultural society. This study is based on indigenous Islamic thought, which connects the study of da'wah and multiculturalism with Javanese philosophy and local wisdom practices. Method - The study was carried out using a qualitative philosophical approach, which is based on epistemological perspective through the examination of rituals, symbols, and social relations among different religions. The information was collected by observing rituals, symbols, and social relations among individuals from different religions, and later analyzed to determine their significance. Result  -  The results indicated that the interfaith kupatan tradition reflects the internalization of Islamic principles of raḥmatan li al-‘ālamīn (mercy for all creation) via social practices that promote tolerance, ukhuwah insāniyah (human brotherhood), and social cohesion. From an epistemological perspective, this tradition establishes an adaptive-dialectical-reformative framework for indigenous multicultural da'wah. It combines three sources of understanding: bayānī (religious texts), burhānī (empirical socio-cultural realities), and 'irfānī (empathy, feelings, and spiritual awareness) reasoning, drawing from religious texts and diverse experiences. This approach is proven by achieving harmony, justice, and maqāṣid al-sharī'ah (shared social well-being). Implication – This study confirms the relevance of a qualitative-contextual approach based on field studies in examining multicultural da'wah based on local traditions. These findings imply the need for a dialectical da'wah study methodology oriented towards indigenous knowledge in multicultural societies. Originality/Value - This study's novelty is in proposing a clear and practical model of indigenous multicultural da'wah derived directly from field findings in the interfaith kupatan tradition. This research presents a practical model for integrating Islamic teachings, local culture, and interfaith interaction in daily practice, in contrast to previous studies that are purely theoretical. *** Tujuan - Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji konsep integrasi epistemologis dakwah multikultural asli serta bagaimana tradisi kupatan antaragama berfungsi sebagai alat dialektis antara cita-cita Islam dan budaya lokal dalam masyarakat multikultural. Penelitian ini didasarkan pada pemikiran Islam asli, yang menghubungkan kajian dakwah dan multikulturalisme dengan filsafat Jawa serta praktik-praktik kearifan lokal. Metode - Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan filosofis kualitatif, yang didasarkan pada perspektif epistemologis melalui pengkajian ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara berbagai agama. Informasi dikumpulkan melalui pengamatan terhadap ritual, simbol, dan hubungan sosial di antara individu dari berbagai agama, kemudian dianalisis untuk menentukan signifikansinya. Hasil  -  Hasil menunjukkan bahwa tradisi kupatan antaragama mencerminkan internalisasi prinsip-prinsip Islam raḥmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam) melalui praktik-praktik sosial yang mempromosikan toleransi, ukhuwah insāniyah (persaudaraan manusia), dan kohesi sosial. Dari perspektif epistemologis, tradisi ini menetapkan kerangka kerja adaptif-dialektis-reformatif untuk dakwah multikultural asli. Tradisi ini menggabungkan tiga sumber pemahaman: bayānī (teks-teks agama), burhānī (kenyataan sosio-budaya empiris), dan 'irfānī (empati, perasaan, dan kesadaran spiritual), yang bersumber dari teks-teks agama dan pengalaman yang beragam. Pendekatan ini terbukti berhasil dalam mewujudkan harmoni, keadilan, dan maqāṣid al-sharī'ah (kesejahteraan sosial bersama). Implikasi – Studi ini menegaskan relevansi pendekatan kualitatif-kontekstual berdasarkan studi lapangan dalam mengkaji dakwah multikultural yang berlandaskan tradisi lokal. Temuan ini mengimplikasikan perlunya metodologi studi dakwah dialektis yang berorientasi pada pengetahuan lokal dalam masyarakat multikultural. Orisinalitas/Nilai - Keunikan studi ini terletak pada usulan model dakwah multikultural berbasis lokal yang jelas dan praktis, yang langsung dihasilkan dari temuan lapangan dalam tradisi kupatan antaragama. Penelitian ini menyajikan model praktis untuk mengintegrasikan ajaran Islam, budaya lokal, dan interaksi antaragama dalam praktik sehari-hari, berbeda dengan studi sebelumnya yang murni teoretis.