cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Ilmu Dakwah
ISSN : 16938054     EISSN : 2581236X     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
FOCUS The focus is to provide readers with a better understanding of dakwah knowledge and activities the life on Indonesian Muslims. SCOPE The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of communication and broadcasting Islam, guidance and counseling Islam, management dakwah, development of Islamic societies and many more. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
Dakwah Aisyiyah melalui kader Tuberkulosis (Tb) care di Kabupaten Sinjai Hasmiati, Hasmiati; Rita, Rita; Amiruddin, Amiruddin
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 41, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v41.1.7343

Abstract

Islamic da'wah is carried out in all sectors, including health. Likewise, Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah in Sinjai Regency. The purpose of the study was to determine the form of Aisyiyah preaching through TB Care cadres. This type of research, qualitative, data collection using the method of observation, interviews and documentation. Data analysis applied in this study started from data collection, data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results showed that Aisyiyah preaching through TB Care cadres started from mentoring. Assistance of TB Care cadres is carried out periodically, the first visit is called sampling and becomes a discussion partner with patients, and patients' families starting from information on treatment, healing and health (starting from monitoring taking medication for a period of six months to the recovery stage). Furthermore, the form of da'wah carried out by TB Care cadres in broadcasting da'wah through three forms, namely da'wah by oral bill, da'wah bil hal and da'wah bil qalam. The implication of this research is that the delivery of da'wah for TB Care cadres should be optimized by providing knowledge related to da'wah for TB Care cadres.***Dakwah Islam dilakukan di semua sektor, termasuk kesehatan. Begitu juga yang dilakukan oleh Tuberculosis (TB) Care Aisyiyah di Kabupaten Sinjai. Tujuan penelitian untuk mengetahui bentuk dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care. Jenis penelitian, kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini mulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah Aisyiyah melalui kader TB Care dimulai dari pendampingan. Pendampingan kader TB Care dilakukan secara berkala, kunjungan pertama disebut dengan pengambilan sampel serta menjadi mitra diskusi terhadap pasien, dan keluarga pasien mulai dari Informasi pengobatan, kesembuhan dan kesehatan (mulai dari pengawasan minum obat selama kurung waktu enam bulan sampai pada tahap kesembuhan). Selanjutnya bentuk dakwah yang dilakukan oleh kader TB Care dalam menyiarkan dakwah melalui tiga bentuk, yakni dakwah secara bil lisan, dakwah bil hal dan dakwah bil qalam. Implikasi penelitian ini bahwa  penyampaian dakwah kader TB Care hendaknya dioptimalkan dengan memberikan pengetahuan terkait dakwah terhadap kader TB Care.
Anak autis sebagai mad’u dakwah: Analisis komunikasi interpersonal Rahman Hakim, Uky Firmansyah; Fadillah, Rima
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.4702

Abstract

Anak autis merupakan seseorang yang memiliki gangguan komunikasi, yang membuat penderitanya tidak mampu mengadakan interaksi sosial dengan baik. Sehingga keberadaan anak autis masih dipandang sebagai orang lain di masyarakat. Padahal, anak autis mampu melakukan komunikasi, meskipun komunikasi yang dilakukan berbeda dengan orang non-autis. Kaitannya dengan dakwah, anak autis seharusnya mampu menerima pesan-pesan dakwah, sehingga penelitian mengenai anak autis dari sudut pandang mad’u dakwah sangat penting untuk dilakukan. Penelitian ini dilakukan di SLB Autis Jalinan Hati Payakumbuh dengan tujuan mengetahui tentang apakah anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah, dan bagaimana perkembangan sosial dan komunikasi anak autis sehingga ia mampu menerima pesan dakwah. Melalui penelitian lapangan (field research), penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif, data diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menujukan bahwa (1) dilihat dari pengertian dan kriteria mad’u, anak autis dapat digolongkan sebagai mad’u dakwah; (2) anak autis memiliki pola komunikasi interpersonal yang berbeda dengan anak non-autis, dalam perkembangannya ia tetap mampu melakukan komunikasi dengan orang lain, baik mengirim ataupun menerima pesan, melalui 3 tahapan, yaitu the own agenda stage (tahapan perkembangan komunikasi yang mendasar), the requester stage (perkembangan komunikasi mengalami kemajuan yang baik, tetapi masih terbatas), dan the early communication stage (tahapan kemampuan berkomunikasi sudah lebih baik).Child with autism is someone who has a communication disorder, which makes the sufferer unable to have good social interactions. So that the existence of autistic children is still seen as another person in society. In fact, autism can communicate, even though communication is different from non-autism. With regard to da'wah, autism should be able to receive da'wah messages, so research on autism from the point of view of mad'u da'wah is very important to do. This research was conducted at SLB Autism Jalinan Hati Payakumbuh to know whether autism can be classified as mad'u da'wah, and how the social development and communication of autism so that they can receive da'wah messages. Through field research (field research), this study uses qualitative descriptive methods, data obtained from interviews, observation and documentation. The results show that (1) seen from the definition and criteria of mad'u, autism can be classified as mad'u da'wah; (2) autism has different interpersonal communication patterns from non-autism, in their development they are still able to communicate with other people, either sending or receiving messages, through 3 stages, namely the own agenda stage (basic stages of development of communication) , the requester stage (communication development has progressed well, but is still limited), and the early communication stage (the stage of communication skills is better).
Self-disclosure melalui media instagram: Dakwah bi al-nafsi melalui keterbukaan diri remaja Wiyono, Teguh; Muhid, Abdul
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.5834

Abstract

Self disclousure atau pengungkapan diri menjadi hal yang wajar dilakukan remaja di media sosial untuk saat ini. Remaja terbiasa membuka diri melalui postingan di instagram, yang merupakan ruang publik yang dapat dikonsumsi oleh banyak orang. Untuk itu mengetahui cara dan motif pengungkapan diri yang dilakukan oleh remaja di media sosial menjadi sangat penting dilakukan karena hal ini dapat memberikan dampak nilai, baik ataupun buruk, bagi pembaca. Selain itu, pengungkapan diri dapat ditelusuri dari segi dakwah nafsiyah yang dilakukan oleh remaja. Sehingga, fokus penelitian ini mengenai dakwah nafsiyah melalui keterbukaan diri remaja di masa pandemi Covid-19 di media sosial, instagram. Untuk menjabarkan fokus penelitian tersebut secara mendalam, penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan konstruktif, sementara self disclosure menggunakan teori dari Jendela Johari. Hasil Penelitian menunjukkan bahwasannya pertama, remaja melakukan pengungkapan diri di media sosial instagram secara terbuka dengan tujuan untuk menjernihkan diri dan aktualisasi diri. Hal yang dilakukan remaja dalam pengungkapan diri termasuk dalam dakwah nafsiyah jika dilihat dari kontrol yang dilakukan remaja secara terus menerus pada dirinya. Sementara, dampak yang ditimbulkan dari self disclosure pada diri remaja dapat dikategorisasikan berupa dampak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan berupa motivasi bagi seseorang untuk merubah diri menjadi lebih baik. Sementara, dampak negatif yang ditimbulkan adalah menjadikan orang lain tidak nyaman bahkan terganggu dengan keterbukaan yang  disampaikan. Self disclosure is a natural thung for teenagers to do on social media at this time. Teenagers are accustomed to opening up through posts on instagram, which are public spaces that can be customed by many people. For this reason, knowing how and motives for self disclosure carried out by teenagers on social media are very important to do because this can have a value impact, good or bad, on the reader. In addition, self disclosure can be traced in terms of the preaching of the nafsiyah by adolescents. So, the focus of this research is on da’wah nafsiyah through the self disclosure of youth during the covid 19 pandemic on social media, instagram. To describe the focus of this research in depth, this study uses descriptive qualitative methods with a constructive approach, while self disclosure uses the theory of Johari Window. The result showed that adolescents made self disclosure on instagram openly with the aim of self purification and self actualization. What adolescents do in self disclosure is included in the preaching of the nafsiyah when viewed from the control that adolescents do continuiusly in themselves. Meanwhile, the impact of self disclosure on adoloscents can be categorized as positive and negative impacts. The positif impact is in the form of motivation for someone to change themselves for the better. Meanwhile, the negative impact caused is making other people uncomfortable and even distrubed by the openess conveyed.
Masjid, Khutbah Jumat, dan Konstruksi Realitas Keagamaan di Ruang Publik: Studi tentang Materi Khutbah Jumat di Masjid-Masjid Kota Surakarta Mibtadin, Mibtadin; Hedi, Fathol
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.1.5297

Abstract

This research is about the material or sermons content in Surakarta mosques in which there is an indication of hate speech if it is viewed from the analysis discourse and its implications for the religious diversity of worshipers in each mosque. Is there an element of hate speech in sermons in several mosques in the city of Surakarta? what are the implications of the Friday sermon on the diversity of society? This research is a descriptive qualitative research, data collection is done by observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was performed with interactive analysis including: data reduction, data delivery; and drawing conclusions. Sermons are words that contain religious advice and information. Sermon material serves to strengthen the religious narrative of pilgrims. In general, the Friday sermon material does not contain indications of hate speech. The implication of Friday sermons on worshipers is to provide perspective and point of view so that it will affect the religious life of worshipers so they can be tolerant and respectful to groups outside of themselves. Penelitian ini mengenai materi atau konten khutbah yang ada di masjid-masjid Surakarta didalamnya ada indikasi mengandung unsur ujaran kebencian jika dilihat dari diskursus analisis serta implikasinya terhadap keberagamaan jamaah di setiap masjid. Apakah ada unsur ujaran kebencian pada khutbah di beberapa masjid a di Kota Surakarta? bagaimana implikasi khutbah Jumat terhadap keberagamaan masyarakat? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan interaktif analisis meliputi: reduksi data, penyampaian data; dan penarikan kesimpulan. Khutbah merupakan perkataan yang mengandung nasehat dan informasi keagamaan. Materi khutbah berfungsi untuk penguatan narasi keagamaan jamaah. Secara umum, materi khutbah Jumat yang ada tidak mengandung indikasi ujaran kebencian. Implikasi khutbah Jumat pada jamaah adalah memberikan perspektif dan cara pandang sehingga akan berpengaruh terhadap kehidupan beragama jamaah sehingga bisa bersikap toleran dan menghargai kepada kelompok di luar dirinya.
Dinamika dakwah Islam di era modern Pimay, Awaludin; Savitri, Fania Mutiara
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 41, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v41.1.7847

Abstract

The development of science and technology has had an impact on the ethical joints of Muslims in this modern era. To anticipate the complexities of modern society, the da'i must prepare da'wah strategies and materials that are more directed at anticipating the tendency of society. Modernization in the midst of onslaught and globalization that takes place very quickly and it is difficult to predict the direction of the da'i must be carried out continuously effectively. This study aims to review effective da'wah strategies in the midst of changing da'wah dynamics. The research method used is descriptive qualitative research with the data collection technique is literature study. The literature study method is an activity related to the method of collecting library data, reading and taking notes and managing research materials. The results of the study indicate that da'wah can play an active role in the modern era if the da'i as a preacher is can participate development of the times so that da'wah as an illuminator is able to give a role to a society that deifies science and technology. In addition, da'i in modern life, da'wah must be directed to mad'u with the "bil wisdom wal mauizah hasanah" approach and with the use of media (bi al-tadwin). This step is also balanced with the da'i -both individuals and groups who qualified, have broad knowledge and insight, master da'wah materials, methods, and media that are appropriate and relevant to the conditions and progress of modern society they face.***Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa dampak berarti pada sendi-sendi etika umat Islam di zaman modern ini. Untuk mengantisipasi kompleksitas masyarakat modern da’i harus mempersiapkan strategi dan materi dakwah yang lebih mengarah pada antisipasi sebagai kecenderungan masyarakat.  Di tengah terpaan modernisasi dan globalisasi yang berkembang sangat cepat dan sulit untuk di tebak arahnya da’i harus dilakukan secara terus menerus secara efektif. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau strategi dakwah yang efektik ditengah-tengah dinamika dakwah yang terus berubah. Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi literature. Metode studi literature adalah serangkaian kegiatan yang berkenaan dengan metode pengumpulan data pustaka, membaca dan mencatat serta mengelola bahan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dakwah dapat berperan aktif di era modern jika da’I sebagai pendakwah mampu ikut serta dalam perkembangan zaman sehingga dakwah sebagai penerang mampu memberi peran pada masyarakat yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu da’I dalam kehidupan modern, dakwah harus berorientasi kepada mad'u dengan pendekatan "bil hikmah wal mauizah hasanah dan dengan pemanfaatan media (bi al-tadwin). Langkah tersebut juga dimbangi dengan para da'I baik individu maupun kelompok yang berkualitas, mempunyai pengetahuan serta wawasan yang luas, menguasai materi atau pesan dakwah, metode, dan media yang tepat dan relevan dengan kondisi dan kemajuan masyarakat modern yang dihadapinya.
Etika komunikasi dakwah: Studi terhadap video kajian Ustaz Abdul Somad tentang K-Pop dan Salib Rosyada, Amrina
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.4704

Abstract

Ustaz Abdul Somad kembali menjadi sorotan khalayak karena dakwahnya yang kontroversial. Pada akhir Agustus 2019, video ceramah Ustaz Abdul Somad yang diunggah pada tahun 2016 yang berjudul “Hukum Melihat Salib” sempat viral di media sosial karena dianggap mengandung unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Video pendek yang berisi jawaban Ustaz Abdul Somad atas pertanyaan jamaah, mengandung konten yang menyinggung tentang salib sehingga menimbulkan respon negatif dari umat nonmuslim. Selain itu, ada video ceramah lain yang berjudul “Hukum Menonton Film Korea” yang juga menimbulkan respon negative bagi para penggemar KPop atau KPopers. Tulisan ini fokus pada bagaimana etika komunikasi dakwah Ustaz Abdul Somad yang dibangun berdasarkan perspektif Al Quran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Subjek penelitiannya adalah dua video ceramah Ustaz Abdul Somad yang berjudul “Hukum menonton Film Korea” dan “Hukum Melihat Salib”. Sementara objek penelitian ini ialah retorika Ustaz Abdul Somad dalam video-video tersebut. Hasilnya, ceramah dalam kedua video tersebut mengandung prinsip etika komunikasi dalam Al Quran, dengan catatan ceramah tersebut dilakukan pada kelompok terbatas. Etika Al Quran yang dimaksud adalah prinsip bicara tegas dan jujur. Namun, jika dalam konteks media sosial yang bersifat general atau umum, maka pesan dakwahnya tidak sesuai dengan salah satu kode etik dakwah serta dinilai tidak efektif. Ustaz Abdul Somad returned to the media spotlight because of his preaching that triggered a negative response by other groups. At the end of August 2019, Ustaz Abdul Somad's video lecture uploaded in 2016 entitled "Hukum Melihat Salib" was viral on social media because it was considered to contain SARA elements. In the video footage, there is content that is offensive about the cross, giving rise to negative responses from non-Muslim communities. In addition, the lecture video entitled "Hukum Menonton Film Korea" also caused a negative response for KPopers. Therefore, this paper focuses on how the ethics of Ustaz Abdul Somad's missionary communication are built on the perspective of the Qur'an. This research uses a qualitative descriptive approach. His research subjects used Ustaz Abdul Somad's video lecture entitled "Hukum Menonton Film Korea" and "Hukum Melihat Salib". While the object of this research is the rhetoric of Ustad Abdul Somad in the videos. As a result, both videos contain ethical principles of communication in the Koran, if the lecture is aimed at a particular group. Unlike the case in social media that is universal (anyone, anytime and anywhere can be accessed), then the message of preaching is not following one of the preaching code of ethics and has not been effective.
SIKAP ORGANISASI KEMASYARAKATAN ISLAM TERHADAP UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DAN PERPU NOMOR 2 TAHUN 2017 (Perspektif Studi Kebijakan Dakwah) Aziz, Mokhamad Abdul
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 37, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v37.1.2621

Abstract

Freedom of association, assembly and expression is a part of human rights guaranteed by the 1945 Constitution of the State of the Republic of Indonesia. This freedom also includes the propagation of religious teachings as an ideology for transformation to real life. For Muslims, especially da'i certainly have great ideals for the realization of a prosperous fair society that is directed by Allah SWT. It can be fought, one of which can be through social organization.During the 72 years of independent Indonesia, several regulations issued by the government to regulate the system and mechanisms of mass organizations have added controversy to Islamic mass organizations. In the new order, some organizations threatened to be dissolved and not recognized for rejecting the sole principle of Pancasila. The dynamic continues until the reform era. This can be an afterthought for the da'wah perpetrators, especially those who take the path of the organization to pay more attention to the basic aspects of administrative formation with respect to the state / government, because it will subsequently be very influential on the sustainability of da'wah in the future.
Eksistensi komunitas hijrah dan dakwah masa kini: Studi komunitas jaga sesama Solo Zulhazmi, Abraham Zakky; Priyanti, Erma
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.2.6249

Abstract

Tulisan ini menunjukkan perkembangan dakwah kontemporer di Indonesia ditandai dengan fenomena maraknya komunitas hijrah diberbagai Kota. Bahkan, hijrah sudah menjadi sebuah fenomena yang tak asing dan bahkan familiar di kalangan masyarakat Islam. Bagi pemeluk agama Islam, hijrah sudah menjadi fenomena yang ramai dilakukan. Dalam hal ini dijelaskan bahwa hijrah sebagai jalan untuk mengubah seorang individu atau bertaubat. Baik yang dilakukan oleh setiap individu ataupun dalam sebuah komunitas. Salah satunya di Kota Solo yang memiliki latar keberagamaan dan keberagaman yang dinamis. Tujuan penelitian ini untuk menguraikan secara detail tentang pengelolaan dakwah dalam komunitas Jaga Sesama Solo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menjelaskan mengenai manajemen dakwah di Komunitas Jaga Sesama Solo. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun wawancara mendalam (indept interview) dengan pengelola komunitas Jaga Sesama (ketua, bagian humas dan anggota). Hasil penelitian ini adalah Komunitas Jaga Sesama menjalankan dalam menajemen dakwah untuk mewadahi generasi muda Solo belajar dasar Islam. Perencanaan dakwah (takhthith) ditempuh melalui menentukan sasaran dakwah, menyusun visi misi komunitas, memilih ustaz. Pengorganisasian dakwah (tanzhim) dengan pembagian tugas kepada pengurus komunitas. Penggerakan dakwah (tawjih) dengan menghadirkan kegiatan yang relevan dengan generasi muda dan optimalisasi media sosial. Pengendalian dan evaluasi dakwah (riqabah) melalui evaluasi bulanan. In this paper the development of da’wa in contemporary Indonesia is marked by the phenomenon of the spread of hijrah communities in various cities. Hijrah has become a familiar phenomenon among the Muslim community. For Muslims, hijrah has become a predictable phenomenon. In this case, it is explained that hijrah is a way to change an individual or repent. Whether done by each individual or community. One of them is Solo, which has a dynamic diversity and religious background. This research is qualitative research that describes the da’wa management in Komunitas Jaga Sesama Solo. Interviews with Komunitas Jaga Sesama Solo managers (head of public relations and members) were used as the primary data collection method. This study concluedes that the Komunitas Jaga Sesama Solo carries out da’wa management to accommodate the young generation of Solo to learn the basics of Islam. Da'wa planning (takhthith) is pursued through determining the target of the da'wa, compiling the vision and mission of the community, choosing the ustaz. Organizing da'wa (tanzhim) by distributing tasks to community administrators. The movement of da'wa (tawjih) by presenting activities that are relevant to the younger generation and optimization of social media. Control and evaluation of da’wa (riqabah) by monthly evaluation.
Ekspresi Keberagaman Online: Media Baru dan Dakwah Asmar, Afidatul
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 40, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v40.1.5298

Abstract

This paper explain how diversity expression of dakwah in new media. Today, media makes many preachers and mad’u use new media facilities, including internet media where content to Islam is packaged in stories of everyday life and given with funny things. this strategy attracts many interested people on both sides of the preacher and the mad'u themselves. Da'wah is the one of the activities aimed at inviting others in kindness, reminiscent of the end of the day, while new media is a tool used to invite others to better paths. In other developments the question arises regarding human imagination about God and the path of understanding spirituality experiencing setbacks or impoverishment in the digital age. Will the path of God's search for this generation of media cause visitors to the place of worship to recede, the preaching of the Scriptures is not heard, and the spirit of the religious community was down. Is the “new media gedia generation” aware or not “deify” “virtual God”. This research uses a case study on the response of preachers and people related to the expression of diversity in using new media, so that how to interpret the message in the social media content Instagram, Facebook, Twitter and YouTube which is a unity of the internet world. Tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana dakwah dengan ekspresi keberagaman pada media baru saat ini. Dewasa ini media membuat banyak pendakwah maupun mad’u memanfaatkan fasilitas media baru, diantaranya media internet dimana konten-konten ke Islaman yang dikemas dengan santai dalam cerita kehidupan sehari-hari serta dibumbuhi hal-hal lucu. Strategi ini banyak menjaring peminat pada kedua sisi baik pendakwah maupun para mad’u itu sendiri. Dakwah adalah salah satu kegiatan yang bertujuan mengajak orang lain dalam kebaikan, mengingatkan terhadap hari akhir, sedangkan media baru adalah alat yang digunakan untuk mengajak orang lain kejalan yang lebih baik. Pada perkembangan lain muncul pertanyaan terkait imajinasi manusia tentang Tuhan dan jalan pemahaman spritualitas mengalami kemunduran atau pemiskinan di era digital. Apakah jalan pencarian Tuhan generasi media ini akan menyebabkan pengunjung tempat ibadah surut, pemberitaan Kitab Suci tidak didengar, dan spirit komunitas keagamaan tatap muka meredup. Apakah “generasi media baru” ini sadar atau tidak mulai : “menuhankan” “Tuhan-tuhan virtual”. Penelitian ini menggunakan studi kasus terhadap respon pendakwah dan umat terkait ekspresi keberagaman didalam menggunakan media baru, sehingga bagaimana memaknai pesan dakwah yang terkandung didalam konten-konten media sosial Instagram, facebook, twitter maupun youtube yang merupakan satu kesatuan dunia internet.
Dakwah Islam dan pencegahan radikalisme melalui ketahanan masyarakat Musyafak, Najahan; Nisa, Lulu Choirun
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 41, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v41.1.7869

Abstract

Community resilience is an important aspect of da'wah as an effort to prevent radicalism in Indonesia. The importance of community resilience is based on the phenomenon where the community has become the victim of various events that have the nuances of radicalism. Bombings, shootings, stabbings and vandalism events have harmed the community, both individually and collectively. The destruction of public facilities has disrupted social activities and governance. In addition, violent-motivated events have disrupted people's lives because they feel afraid, insecure, and threatened by circumstances that are beyond their capabilities. Therefore, it is necessary to have da'wah through efforts of resilience in the face of acts of violence with a background of radicalism. This study aims to determine da'wah activities through the form of community resilience by taking locations in the Solo Raya area in the face of various radicalism events, forms of community resilience and how steps are taken to prevent the spread of radical ideology through da'wah activities. This study is a qualitative research with a symbolic interactionism approach involving a number of informants who were selected using a purposive sampling method from 4 areas in Solo Raya, namely Surakarta, Sukoharjo, Sragen and Karanganyar. Data was collected through a Focus Group Discussion technique ( FGD). This study found that Da’wah can be utilised as a method to prevent radicalism through strengthening community resilience. The way of prevention focus on anticipating and adapting to the dangers of radicalism through 4 (four) forms; awareness of plurality, synergy between institutions, cultural communication and strategic partnerships.***Ketahanan masyarakat (Community Resiliency) menjadi aspek penting dalam dakwah sebagai upaya pencegahan radikalisme di Indonesia. Pentingnya ketahanan masyarakat didasarkan pada fenomena dimana masyarakat telah menjadi korban berbagai peristiwa yang bernuansa radikalisme. Peristiwa pengeboman, penembakan, penusukan dan perusakan telah merugikan masyarakat baik secara individu maupun komunitas. Hancurnya fasilitas publik telah menggangu kegiatan dan tata laksana sosial. Selain itu, peristiwa bermotif kekerasan telah mengganggu kehidupan masyarakat karena merasa takut, tidak aman, dan terancam oleh keadaan yang berada di luar kemampuan mereka. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya dakwah melalui upaya ketangguhan (resiliency) dalam menghadapi tindakan kekerasan yang berlatarbelakang radikalisme. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kegiatan dakwah melalui bentuk ketahanan masyarakat dengan mengambil lokasi di wilayah Solo Raya dalam menghadapi berbagai peristiwa radikalisme, bentuk ketangguhan masyarakat dan bagaimana langkah yang ditempuh untuk melakukan pencegahan terhadap penyebaran ideologi radikal melalui kegiatan dakwah. Studi ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan interaksionisme simbolik dengan melibatkan sejumlah informan yang dipilih dengan metode sampel bertujuan (purposive sampling) yang berasal dari 4 wilayah di Solo Raya, yaitu Surakarta, Sukoharjo, Sragen dan Karanganyar, dan data diambil melalui teknik Focus Group Discussion (FGD). Studi ini menemukan bahwa dakwah pencegahan radikalisme dapat dilakukan melalui penguatan ketahanan masyarakat yang  merupakan proses antisipasi dan adaptasi terhadap bahaya atau bencana radikalisme melalui 4 (empat) bentuk; kesadaran pluralitas, sinergitas antar lembaga, komunikasi budaya dan kemitraan strategis.