cover
Contact Name
Farabi Fakih
Contact Email
farabi.fakih@gmail.com
Phone
+62274-513096
Journal Mail Official
lembaran_sejarah@ugm.ac.id
Editorial Address
Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Lembaran Sejarah
ISSN : 26205882     EISSN : 14104962     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Lembaran Sejarah is a bilingual academic and peer-reviewed journal on Indonesian and regional history of Southeast Asia. It is part of a long tradition of journal publication of the Department of History at Universitas Gadjah Mada from the 1960s. The journal embraces articles on Indonesian history and historiography and comparative studies that places Indonesian history within local, regional and global contexts. We welcome researchers from any background fields to submit their research articles, book and film reviews in accordance with the journal focus and scope in English and Indonesian. Currently, Lembaran Sejarah accredited in Sinta 4 of Arjuna (Indonesian Indexing Journal).
Arjuna Subject : -
Articles 191 Documents
Seorang Pangeran Batak di Belanda Kozok, Uli
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.102296

Abstract

Artikel ini menelusuri riwayat Radja Hakim Abinari Tampoebolon, seorang Batak yang memanfaatkan status sebagai “raja” untuk membangun karier yang berawal sebagai mata-mata kepolisian dan kemudian terlibat dalam jaringan dinas intelijen swasta berhaluan kanan di Belanda. Sebagai keturunan keluarga elite kolonial, Hakim menampilkan sikap pro-Belanda dan anti-kemerdekaan. Bersama ayahnya, ia mendukung gagasan pembentukan Negara Tapanuli dalam kerangka federasi Sumatra di bawah kendali Belanda. Di Belanda, Tampoebolon berperan sebagai kolaborator yang terlibat dalam penyelundupan dan jaringan konspiratif, termasuk komplotan pembunuhan. Modal yang diperoleh dari aktivitas ilegal ini digunakannya untuk mendirikan perusahaan di Jakarta dengan cabang di Medan, setelah kembali ke Indonesia pada 1950 bersama istrinya yang berkebangsaan Belanda. Seiring proses dekolonisasi, ia membangun citra baru sebagai pengusaha nasional dengan akses langsung ke lingkaran pejabat tinggi Republik Indonesia. Ia berhasil membangun narasi bahwa dirinya adalah lulusan hukum Belanda, meraih gelar doktor, dan pernah dipenjara karena sikap pro-kemerdekaan—sebuah kisah yang berlawanan dengan jejak kolaborasi kolonialnya. Perjalanan hidup Tampoebolon menunjukkan betapa lenturnya identitas kaum elite kolonial yang mampu merumuskan ulang peran dan legitimasi mereka demi mempertahankan posisi dalam republik pascakolonial.
Umat Islam dan Legalisasi Perjudian Masa Orde Baru, 1988-1993 Wahidin, Kudus Purnomo; Fawakih, Dirga
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.104013

Abstract

Pada masa Orde Baru wajah perjudian di Indonesia silih berganti nama, dari yang terang-terangan menggunakan istilah lotre, hingga istilah yang bernada filantropis, seperti sumbangan. Tahun 1988 Pemerintah Orde Baru melalui Kementerian Sosial menerbitkan Keputusan Menteri Sosial RI bernomor 21/BSS/XII/1988 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). SDSB dapat dikatakan sebagai judi atau undian berkedok sumbangan untuk menggalang dana dari masyarakat yang hasilnya digunakan untuk kepentingan pemerintah. Meskipun mendulang keuntungan yang besar, namun keberadaan SDSB tidak lepas dari dampak destruktif bagi moral masyarakat. Tulisan ini menyoal bagaimana umat Islam merespons praktik judi SDSB yang dilegalkan pada masa pemerintahan Orde Baru, dari semula permisif namun menjelma menjadi resisten seiring munculnya berbagai efek negatif. Pergeseran sikap umat Islam dari semula permisif menjadi resisten terkanalisasi dalam sikap ormas Islam yang diberitakan dalam banyak surat kabar tampak ambigu menyikapi kemudaratan dari SDSB. Namun, ormas Islam perlahan berani menyatakan penolakan terhadap SDSB, setelah rezim Orde Baru memberi ruang politik yang lebih terbuka kepada Islam, usai sekian lama mengalami pemasungan politik pada era Sukarno dan pada fase awal Orde Baru. Gerakan mahasiswa yang berangsur-angsur membesar menentang SDSB juga turut mengubah sikap MUI dari yang semula permisif dengan SDSB, menjadi berbalik menentang SDSB melalui sejumlah fatwa larangan SDSB, yang pada gilirannya berujung pada dukungan penghapusan praktik SDSB.
Mobil Listrik dalam Perkembangan Industri Taksi di Jawa Awal Abad XX Supriyanto, Mahathelge Ahmad
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.104553

Abstract

Penelitian ini membahas tentang adanya mobil listrik dalam perkembangan industri taksi di wilayah Jawa. Hasil penelitian ini menunjukan jika terdapat pengaruh dari kebijakan politik liberal dan berkembangnya komoditas mobil di Jawa yakni munculnya industri jasa taksi. Selama perkembangan industri taksi yang dimulai dari tahun 1910, terdapat beberapa armada taksi di Jawa yang menggunakan mobil listrik untuk mobilitas bisnisnya. Penggunaan mobil listrik tersebut merupakan pengaruh dari Eropa dan Amerika yang sudah lebih dahulu menggunakan alat transpotasi tersebut untuk industri taksi. Selama perkembangan mobil listrik di Amerika, perempuan lebih dominan memiliki kendaraan ini, hal tersebut kemudian memiliki pengaruh kepada desain-desain mobil di masa berikutnya, sementara itu dalam perkembangannya di Jawa, taksi dengan armada mobil listrik tidak terlalu diminati, hal tersebut dikarenakan masalah baterai yang boros, meskipun demikian industri taksi terus berkembang di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang dan Surabaya.
Tan Sing Tian (陳成典): The Lost Majoor der Chinezen of Surabaya (1904-1906) and His Influence Towards the City Santoso, Christopher Jason
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.106241

Abstract

Chinese settlements in Surabaya City have been evoked leastwise from Admiral Zheng He’s expedition to Java Island in the fifteenth century. After that, the Chinese people who mainly men assimilated and married with indigenous people, performing interracial marriage for centuries. Few Chinese people obtained power from local kingdoms, like in Melaka or Banten to control and bridge Chinese people towards the ruler. Soon during VOC establishment and Dutch colonialism era, the practice of Chinese officers was inherited yet and spread to all big cities and towns in Indonesia. One of the Chinese officers in Surabaya, Tan Sing Tian served the city from young age until his eternal rest. The information about him was genuinely limited to the current situation or even in scientific papers. This paper challenged itself to expose any information about Tan Sing Tian as the lost Majoor der Chinezen at Surabaya (1904-1906) and to understand his influence towards Surabaya City. The methodology of this paper is a historical research method with archives (books, magazines, and/or newspapers) as the main resource of the research. This research found that Tan Sing Tian is not merely a Chinese officer, rather humanist, philanthropist, and a donor of Kong Sie Poo Gie, cultural council on promoting acculturation and tolerance. This paper recommends a new archaeological and social exploration about Tan Sing Tian’s physical dignity and return of Tan Sing Tian’s equipment from The Netherlands.
Postspaarbank dan Perkembangan Aktivitas Menabung Masyarakat Bumiputra di Jawa, 1900-1939 Anugralia, Soraya; Wahid, Abdul
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.111784

Abstract

Artikel ini mengkaji peran penting Postspaarbank dalam memfasilitasi perkembangan aktivitas menabung masyarakat bumiputra di Jawa pada periode 1900–1939. Meskipun masyarakat bumiputra hidup dalam kondisi kemiskinan struktural pada masa tersebut, data yang tersedia menunjukkan adanya partisipasi mereka dalam lembaga-lembaga tabungan, terutama melalui Postspaarbank. Dengan memanfaatkan laporan tahunan Postspaarbank, arsip pemerintah kolonial, serta berbagai terbitan sezaman, artikel ini menunjukkan bahwa aktivitas menabung tidak semata-mata merupakan hasil rasionalitas ekonomi individu, melainkan dibentuk oleh intervensi negara yang terinstitusionalisasi. Intervensi tersebut antara lain diwujudkan melalui sistem pemotongan gaji secara otomatis, program tabungan sekolah, serta integrasi layanan tabungan ke dalam jaringan kantor pos melalui Postspaarbank. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara Postspaarbank dan bank-bank tabungan swasta. Postspaarbank mencatat pertumbuhan tabungan yang relatif stabil, bahkan pada masa krisis seperti Perang Dunia I dan Depresi Besar, sementara bank-bank tabungan swasta mengalami fluktuasi yang tajam, dengan jumlah penabung bumiputra yang tidak stabil namun nilai simpanan per individu relatif lebih tinggi. Perbedaan tersebut berkaitan erat dengan latar belakang sosial para penabung: Postspaarbank terutama melayani kelompok berpendapatan tetap yang bekerja dalam birokrasi kolonial, sedangkan bank-bank swasta lebih banyak melayani elite ekonomi perkotaan. Secara keseluruhan, artikel ini menunjukkan bahwa aktivitas menabung masyarakat bumiputra merupakan bagian integral dari proses modernisasi keuangan yang bersifat top-down sekaligus berfungsi sebagai instrumen kontrol fiskal negara kolonial.
Di Antara Salib dan Pedang: Perjumpaan Misi, Kolonialisme, dan Aspirasi Batak Johann Angerler
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.107013

Abstract

Artikel ini mengkaji dampak misi Kristen dan kolonialisme terhadap masyarakat Batak, dengan fokus pada keterkaitan erat antara aktivitas penginjilan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) dan ekspansi kekuasaan kolonial Belanda di Sumatra Utara. Berangkat dari kegiatan misi RMG di Tanah Batak yang dimulai pada tahun 1861—sebuah lembaga misi Jerman yang dikenal berhaluan pro-kolonial dan memiliki bias rasial—tulisan ini menelusuri perubahan sosial-politik dan kultural yang menyertai proses kristenisasi serta integrasi wilayah pegunungan Batak ke dalam administrasi Hindia Belanda. Kajian ini menegaskan bahwa masyarakat Batak bukanlah subjek pasif dalam proses ini. Dengan caranya sendiri, mereka aktif menavigasi perubahan, berupaya menentukan nasib sendiri, dan mengembangkan aspirasi menuju otonomi—baik dalam ranah politik lokal maupun di dalam gereja. Artikel ini, yang diterjemahkan oleh Uli Kozok dari versi aslinya dalam bahasa Jerman, didasarkan pada sumber-sumber primer termasuk laporan-laporan misi, dan disertai analisis historiografis kritis terhadap peran teologi, ideologi kolonial, dan sistem kekuasaan lokal.
Vaksin, Kekuasaan, dan Tubuh Kolonial: Produksi dan Praktik Kesehatan di Hindia Belanda (1804–1942) Arsya Wahyu Pratama
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.107883

Abstract

Penelitian ini mengkaji perkembangan produksi dan praktik vaksin di Hindia Belanda dalam kurun waktu 1804–1942 dengan menempatkannya dalam konteks kekuasaan kolonial dan jaringan sains global. Studi ini menggunakan metode sejarah melalui analisis sumber arsip, laporan kesehatan kolonial, serta literatur sekunder terkait sejarah kedokteran kolonial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan vaksin, mulai dari vaksin cacar hingga berbagai vaksin profilaksis, terapeutik, dan serum, tidak hanya merupakan upaya medis untuk mengendalikan penyakit, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah kolonial dalam mengelola populasi dan menjaga stabilitas sosial-ekonomi. Praktik vaksinasi melibatkan aktor lokal seperti Dokter Jawa dan mantri sebagai mediator antara negara kolonial dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan adanya resistensi di tingkat lokal. Selain itu, produksi vaksin di Hindia Belanda terhubung dengan jaringan global sains kolonial yang mengaitkan laboratorium di Eropa dengan wilayah koloni melalui sirkulasi pengetahuan, teknologi, dan material biologis. Dengan demikian, studi ini menegaskan bahwa praktik vaksinasi kolonial merupakan pertemuan antara kepentingan medis, kekuasaan, dan dinamika sosial dalam konteks global.
Tanah Jawa Berdetak Menginspirasi Geologi di Dunia Muhammad Rizky Pradana
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.112951

Abstract

Melantang dalam Hening: Periodisasi Sejarah Pemikiran Perempuan Penghayat Kepercayaan di Indonesia (1955-2017) Eka Ningtyas; Makrus Ali; Rela Susanti
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.113103

Abstract

Artikel ini menelusuri periodisasi sejarah pemikiran perempuan penghayat Kepercayaan di Indonesia sejak tahun 1955 hingga masa kini. Melalui telaah tokoh-tokoh seperti Parwati, S.K. Trimurti, dan Sri Pawenang, penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan penghayat telah memainkan peran aktif dalam merumuskan wacana kebatinan, moralitas, dan kebangsaan sejak era awal kemerdekaan. Dengan menjadikan dokumen Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) dan majalah Mawas Diri sebagai korpus utama, kajian ini mengungkap kontribusi intelektual perempuan dalam mengartikulasikan kebatinan sebagai kekuatan spiritual bangsa serta sarana pembentukan kepribadian nasional. Pendekatan situated knowledge dari Donna Haraway digunakan untuk membaca pengalaman perempuan penghayat sebagai bentuk pengetahuan yang terletak secara sosial dan historis. Temuan artikel ini menegaskan bahwa genealogi pemikiran perempuan penghayat tidak terputus, melainkan berlanjut hingga era pasca-Soeharto melalui berdirinya organisasi perempuan penghayat Indonesia (Puanhayati) pada tahun 2017. Dengan demikian, sejarah perempuan penghayat memperlihatkan kesinambungan reflektif antara spiritualitas, kebangsaan, dan emansipasi yang melampaui batas-batas agama dan negara.
Mengisi Waktu Senggang: Aktivitas Pelesiran Orang-Orang Eropa di Pemalang pada Awal Abad ke-20 Iqbal Rizaldin
Lembaran Sejarah Vol 22, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.113267

Abstract

Artikel ini membahas ragam dan pergeseran aktivitas pelesiran orang-orang Eropa di Pemalang pada awal abad ke-20. Sejak akhir abad ke-19, Pemalang menjadi pusat pemukiman orang-orang Eropa yang bekerja di perkebunan, pabrik, maupun pemerintahan. Di waktu senggang, mereka berpelesir di pusat kota untuk melupakan rutinitas harian yang membosankan. Namun, mereka justru terjebak dalam aktivitas pelesiran yang monoton karena terbatasnya ragam hiburan di pusat kota. Artikel ini menunjukkan bahwa orang-orang Eropa di Pemalang yang awalnya melakukan aktivitas pelesiran di pusat kota, mulai mengeksplorasi berbagai destinasi wisata di pinggiran kota. Di sana, mereka bisa melakukan berbagai aktivitas pelesiran yang lebih bervariasi, mulai dari menyusuri pematang kebun jagung di Randudongkal hingga mendaki puncak Gunung Slamet. Kajian ini menggunakan berbagai sumber penelitian sejarah, seperti sumber-sumber primer yang terdiri dari arsip-arsip, foto-foto, dan berbagai artikel surat kabar serta sumber-sumber sekunder yang terdiri dari berbagai buku, artikel jurnal ilmiah, karya ilmiah, dan laman daring.