cover
Contact Name
Farabi Fakih
Contact Email
farabi.fakih@gmail.com
Phone
+62274-513096
Journal Mail Official
lembaran_sejarah@ugm.ac.id
Editorial Address
Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Lembaran Sejarah
ISSN : 26205882     EISSN : 14104962     DOI : -
Core Subject : Health, Education,
Lembaran Sejarah is a bilingual academic and peer-reviewed journal on Indonesian and regional history of Southeast Asia. It is part of a long tradition of journal publication of the Department of History at Universitas Gadjah Mada from the 1960s. The journal embraces articles on Indonesian history and historiography and comparative studies that places Indonesian history within local, regional and global contexts. We welcome researchers from any background fields to submit their research articles, book and film reviews in accordance with the journal focus and scope in English and Indonesian. Currently, Lembaran Sejarah accredited in Sinta 4 of Arjuna (Indonesian Indexing Journal).
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Kesepakatan ASEAN dalam Menangani Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia, 1990-2015 Hamdani, Muhammad Fachrizal; Rohmawati, Yulia; Nurhidayati, Reni Putri
Lembaran Sejarah Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.101826

Abstract

Indonesia is a country that experiences many cases of forest and land fires, so this has triggered ASEAN to take the initiative to resolve the problem through two agreements, namely the 1997 Regional Haze Action Plan (RHAP) and the ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) which was ratified by all ASEAN members. 2014. Therefore, this research focuses on Malaysia's and Singapore's responses to Indonesia in handling Indonesia's forest and land fire cases through the RHAP and AATHP from 1990 to 2015, as well as the impact of these two ASEAN policies on Indonesia in addressing forest and land fires. This research method is a historical research method using laws, written regulations, newspapers, articles, and books as research sources. The research results indicate that Malaysia's and Singapore's responses to Indonesia within the RHAP framework were effective because each country had its own focused tasks. Indonesia experienced positive impacts from the RHAP policy because the three countries took direct actions in addressing forest and land fires in Indonesia. Conversely, Malaysia's and Singapore's responses to Indonesia within the AATHP framework were less effective due to their persistent pressure on Indonesia to ratify the AATHP quickly. Indonesia experienced more negative impacts from the AATHP policy because it received a negative image from Malaysia and Singapore due to the prolonged AATHP ratification process.
Lembaran Sejarah dan Indeksasi Digital Suwignyo, Agus
Lembaran Sejarah Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.101863

Abstract

Isu "Islam Sejati": Alih-Alih Sebuah Propaganda Anti-PKI Ishak, Ifan Maulana
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.83846

Abstract

Dualisme Elite Kerajaan Badung dan Kerajaan Buleleng Pada Masa Revolusi di Bali, 1945-1950 Paramitha, Putu Dyah Pradnya
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.99137

Abstract

Studi ini membahas tentang terjadinya konflik internal antar elite kerajaan di Bali pada masa Revolusi 1945-1950, khususnya di Kerajaan Badung dan Kerajaan Buleleng. Konflik ini ternyata memang sudah mengakar sejak lama yang disebabkan oleh adanya sistem kasta (wangsa) dan akhirnya memuncak dengan ditambahnya suasana revolusi. Terdapat tiga varian elite yang ditemukan dalam studi  ini,  antara  lain:  Elite  Kerajaan  Federalisme Bukan  Republiken,  Elite Kerajaan Republiken Kesatuan (Non-Kooperatif), dan Elite Kerajaan Republiken Federalisme (Kooperatif). Adapun rumusan masalah dalam studi ini meliputi: (1) Mengapa terjadi perbedaan pilihan politik antar sesama elite kerajaan?; (2) Apa motivasi pilihan politik dari elite kerajaan serta bagaimana konsekuensinya?; dan (3) Apa implikasi dari konflik antar sesama elite kerajaan?. Dalam penelitian ini menggunakan fokus kajian berupa sejarah sosial dimana aspek interpretasi dalam penelitian   ini   lebih  ditekankan.   Hasil   penelitian   mengungkapkan   bahwa masyarakat Bali, khususnya Badung dan Buleleng, masih dipengaruhi oleh unsur- unsur kasta dan ikatan tradisional lainnya, seperti ikatan patrimonial dan patron- klien. Ikatan kekerabatan antara elite kerajaan juga sangat kuat, sehingga konflik diantara kalangan elite kerajaan ini tidak berlangsung lama.
Hidup di Tengah Ancaman: Kehidupan Masyarakat Pamanoekan & Tjiasemlanden Masa Hofland (1848-1872) Samsudin, Aji; Wijayati, Putri Agus
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.103423

Abstract

Penelitian sejarah ini bertujuan untuk memaparkan ancaman yang menimpa penduduk Pamanoekan & Tjiasemlanden (P&T) selama kepemilikan Peter William Hofland sejak 1848-1872. Dengan penerapan metode historis, penelitian ini menghasilkan temuan bahwa penduduk P&T harus menghadapi serangkaian gangguan yang sering kali menimbulkan korban jiwa, berupa serangan anjing rabies, harimau, dan virus cacar serta kolera yang terjadi selama periode tersebut. Mengetahui itu, Tuan Hofland mengadakan sayembara perburuan harimau dan menambah tenaga ahli di bidang medis di P&T. Penelitian ini memiliki arti penting sebagai historiografi alternatif untuk mengisi kekosongan narasi dalam sejarah P&T masa Hofland dengan menghadirkan perspektif masyarakat kebanyakan.
The Poentianak of Pegangsaan: News Framing and the Dutch Media Sentiment Against Indonesian Nationalism in 1928 Andriawan, Tatag Nasrul
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.103812

Abstract

This paper attempts to analyze news framing of a crowd-drawing incident that occurred in Pegangsaan in January 1928, where the alleged supernatural abduction of an eight-year-old became a media sensation. By utilizing historical methods and news framing analysis on the coverage of the incident in Dutch-language publications issued in Indonesia and the Netherlands, I found that some Dutch newspapers portrayed this incident as indicative of Indonesian societal backwardness. They suggested that beliefs in superstitions are evidence of the supposed incapability of native Indonesians to self-govern—a sentiment aimed at undermining the increasingly prominent Indonesian nationalist movements and justifying the continuation of Dutch colonialism in Indonesia. I argue that this deliberate framing of the incident also reinforced the premise of colonialism as a “civilizing mission,” which positioned the Dutch colonial rule as a fundamental element for educating and liberating the native population from their “backwardness.” Ultimately, this paper explores how certain Dutch newspapers instrumentalized cultural stereotypes to delegitimize Indonesian nationalism and maintain Dutch colonial authority.
Pembentukan Dinas Penyelaman Angkatan Laut Republik Indonesia Pasca Konferensi Meja Bundar, 1949-1952 Dwicahyo, Satrio
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.103991

Abstract

Artikel ini mengkaji pendirian dinas penyelaman angkatan laut TNI-AL yang terjadi sebagai salah satu konsekuensi dari Konferensi Meja Bundar (KMB) dari pendekatan teknosains pasca-kolonial. KMB sebagai peristiwa transisi politik telah menciptakan sebuah ruang negosiasi antara Belanda dengan Republik Indonesia Serikat dalam menentukan pembangunan republik yang baru mendapatkan pengakuan secara lebih luas. Salah satu bentuk negosiasi tersebut adalah pemberian izin bagi angkatan laut Kerajaan Belanda untuk melaksanakan program asistensi kepada angkatan laut Republik Indonesia Serikat, salah satunya dalam pendampingan pembentukan dinas penyelam. Program asistensi ini kemudian terbentuk menjadi sebuah konteks di mana dialog pasca-kolonial terkait pemanfaatan teknologi, dalam hal ini teknologi penyelaman militer. Dengan mengakses sumber-sumber primer yang diproduksi oleh tim pendampingan KM yang bertugas di Indonesia pada tahun 1950-1954, artikel ini menunjukkan bahwa proses pengenalan teknologi penyelaman militer oleh KM diwarnai oleh negosiasi dan kontestasi yang berkenaan dengan upaya-upaya mendefinisikan bagaimana teknologi seharusnya digunakan dalam konteks pasca-kolonial hingga kedaulatan di wilayah yang tidak dihuni oleh manusia yaitu dunia bawah air.
Menulis Ulang Sejarah, Menghadirkan Kisah yang Terabaikan Nawiyanto, S.
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.110280

Abstract

Sistem Pasar Gandum Dalam Negeri: Terbentuknya Monopoli Perdagangan Tepung Terigu di Indonesia, 1970-1980 Octaviani, Dian
Lembaran Sejarah Vol 21, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.101616

Abstract

Artikel ini membahas terbentuknya monopoli perdagangan gandum di Indonesia pada masa orde Baru. Penelitian ini fokus pada peran Bulog, pemerintah, dan konglomerat Tionghoa-Indonesia, khususnya Salim Grup. Penelitian ini juga melihat kebijakan pangan, hak eksklusif, dan subsidi besar yang memberikan keuntungan tersembunyi bagi Bogasari. Dalam konteks ini dinamika hubungan Soeharto dengan Liem Sioe Liong, rivalitas antara Bogasari dan PT. Prima, sistem distribusi tepung terigu, dan penetapan harga yang dikendalikan pemerintah menjadi salah satu pokok pembahasan. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian sejarah yang memanfaatkan sumber utamanya dari surat kabar kompas dan arsip nasional. Selain itu, penelitian ini juga memanfaatkan sumber-sumber sekunder dari buku, artikel, dan skripsi untuk memberikan latar belakang monopoli perdagangan gandum di Indonesia. Berdasarkan kajian yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa monopoli gandum bukan hanya berdampak pada struktur ekonomi pangan, tetapi juga memperkuat integrasi vertikal Salim grup dalam industri berbasis gandum (mie instan, biskuit, hingga ritel). Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan pangan orde Baru membentuk sebuah pola ketergantungan impor, memperbesar peran konglomerat, dan membentuk sistem ekonomi-politik pangan yang berkaitan dengan kolusi, korupsi, dan nepotisme. 
Dampak Ekonomi, Sosial dan Lingkungan dari Ekspansi sebuah Perusahaan Dagang Multinasional Susatyo, Yogi
Lembaran Sejarah Vol 21, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/lembaran-sejarah.88543

Abstract

Reviu ini fokus membahas buku Ommelanden: Perkembangan Masyarakat dan Ekonomi di Luar Tembok Kota Batavia, 1684-1740  yang diangkat dari disertasi doktoral Bondan Kanumoyoso dalam bidang sejarah Universitas Leiden tahun 2011. Buku ini membahas perkembangan kawasan environ kota benteng Batavia  atau Ommelanden periode 1684 hingga 1740, dan berfokus pada kebijakan politik, ekonomi, sosial yang dibuat Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) di kawasan ini, yang berdampak pada kerusakan ekologi seperti deforestasi dan pencemaran sungai, perubahan sosial dan administrasi lokal masyarakat, dan alih fungsi lahan secara masif. Penghibahan tanah memainkan peran dalam pembukaan kawasan Ommelanden sebagai daerah penyokong kota benteng Batavia, yang dibangun lewat tenaga kerja lepas maupun budak. Dibukanya kawasan Ommelanden mendorong ekspansi ekonomi yang lebih luas dalam berbagai bidang yang menciptakan masyarakat multietnis yang bekerja di berbagai sektor ekonomi dan diatur secara semi-otonom oleh VOC.  Industri, terutama industri gula, berperan besar dalam naik dan turunnya perubahan spasial dan sosial Ommelanden.