cover
Contact Name
Merita Eka Rahmuniyati
Contact Email
jurnal_formilkesmas@respati.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal_formilkesmas@respati.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati
ISSN : 25025570     EISSN : 25500864     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) KESMAS RESPATI (p-ISSN: 2502-5570, e-ISSN: 2550-0864) is a peer-reviewed journal that publishes scientific articles from various public health disciplines (biostatistics and demography, epidemiology, health education and behavioral science, health policy administration, environmental health, nutrition, reproductive health, occupational health and safety.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2018)" : 8 Documents clear
hubungan pemanfaatan pusat informasi dan konseling mahasiswa (PIK M) impact dewantara dengan sikap terhadap seksual pranikah mahasiswa di yogyakarta kondatana, renate s.i; puspitawati, theresia; fitriani, ayu
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (33.382 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.112

Abstract

Latar Belakang: Seiring dengan masa transisi remaja, meningkat pula minat remaja terhadap kehidupan seksual sehingga menyebabkan remaja berusaha mencari informasi mengenai seks. Jika informasi yang diterima remaja berasal dari sumber yang kurang tepat maka akan salah menyikapi tentang informasi mengenai seks. Untuk itu pemerintah mengupayakan agar remaja dapat mengakses informasi, diberikan pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera melalui Pusat Informasi Kesehatan Mahasiswa (PIK R/M). PIK M IMPACT Dewantara berdiri pada tanggal 11 Desember 2012 dan berada di Kampus I Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Hasil studi pendahuluan yang dilakukan kepada 20 responden, 11 dari 20 memanfaatkan PIK M  dan 9 orang mahasiswa tidak memanfaatkan PIK M. Dari 20 mahasiswa, 3 diantaranya tidak setuju terhadap seksual pranikah dan 17 lainnya setuju terhadap seksual pranikah.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan rancangan Cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa angkatan 2014 yaitu 194 mahasiswa dan sampel dalam penelitian ini adalah 130 mahasiswa dengan teknik pengambilan sampel menggunakan simpel random  sampling. Analisa data menggunakan uji statistik Rank Spearman.Hasil: Hasil penelitian dari 130 mahasiswa yang menjadi responden, terdapat 51 orang (39,2%) responden yang memanfatkan yang bersikap tidak setuju dan tidak ada yang bersikap setuju, kemudian dari  orang  yang  tidak memanfaatkan  27 orang (20,8%) bersikap tidak setuju dan 52 orang (40,0%) bersikap setuju. Hasil analisa menggunakan analisa SPSS dengan statistik Rank Spearman didapatkan p value  dan nilai 0,000<0,05.Kesimpulan: Ada hubungan signifikan antara pemanfaatan PIK M IMPACT Dewantara dengan sikap terhadap seksual pranikah
deskripsi epidemiologi leptospirosis di puskesmas nglipar II, kabupaten gunungkidul, daerah istimewa yogyakarta yudha, puratmaja; rokhmayanti, rokhmayanti
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.479 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.105

Abstract

Latar Belakang: Leptospirosis adalah salah satu penyakit menular yang harus dilakukan pengendalian dan pemberantasan. Di Indonesia kasus leptospirosis masih terjadi secara fluktuatif setiap tahun. Kasus leptospirosis terbanyak di Indonesia terjadi pada tahun 2011 berjumlah 857 kasus dengan 82 kematian (Case Fatality Rate/CFR 9,56%) hal tersebut dikarenakan terjadinya KLB di DI Yogyakarta (DIY). Pada tahun 2017 kasus leptospirosis terjadi di desa Natah Wetan, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta (DIY) dengan total 6 kasus. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran epidemiologi leptospirosis berdasarkan variabel orang, tempat, dan waktu di wilayah kerja Puskesmas Nglipar II. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil: Hasil penelitian berdasarkan variabel orang, menunjukkan penderita berumur 45-50 tahun dan >50 tahun yaitu masing-masing 50%, mayoritas terjadi pada laki-laki (83,3%), semua penderita bekerja sebagai petani (100%). Berdasarkan variabel tempat, kasus leptospirosis terjadi di sawah Jembangan, desa Natah Wetan sebagai lokasi penularan dan berdasarkan variabel waktu, kasus leptospirosis terjadi pada bulan Februari, Maret, dan Juni tahun 2017 dengan 6 total kasus (CFR 50%). Kesimpulan: Leptospirosis terjadi di desa Natah Wetan dengan lokasi persebaran di sawah Jembangan, mayoritas penderita Laki-laki yang berusia dewasa dan bekerja sebagai petani. Kasus Leptospirosis paling banyak terjadi pada bulan Februari dan Maret dengan total 5 kasus. Program penyuluhan dan pencegahan terkait penyakit leptospirosis dapat disarankan untuk menambah pengetahuan dan mengurangi perilaku berisiko masyarakat.
budaya organisasi sebagai prediksi penyebab burnout syndrome pada perawat; studi kasus di rumah sakit pemerintah pujiati, tri ismu; susanto, nugroho
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.566 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.113

Abstract

Latar belakang: WHO kematian pasien di Asia Tenggara akibat pelayanan RS dan Puskesmas yang kurang baik mencapai 41%. Burnout Syndrome menyebabkan rendahnya kinerja pelayanan perawat di Rumah Sakit. Review penelitian sebelumnya bahwa burnout syndrome disebabkan oleh budaya organisasi, karakteristik perawat, karakteristik pekerjaan dan kualitas kehidupan kerja perawat. Tujuan umum penelitian adalah memprediksi faktor yang terkait dengan burnout syndrome pada perawat berdasarkan karakteristik, budaya organisasi, kualitas hidup kerja perawat.Metode: Jenis Penelitian cross sectional yang melihat faktor organisasi, karakteristik perawat dan kualitas hidup perawat dalam memprediksi terjadinya burnout syndrome pada perawat di rumah sakit. Populasi penelitian adalah perawat aktif di RSUD Tugu Semarang. Pengambilan sampel dengan cluster random sampling. Sampel yang diambil sebesar 102 sampel. Analisis dilakukan dengan bantuan program sofware SPSS dengan uji regresi linier. Instrumen dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan uji korelasi product moment pearson dan Uji reliabilitas dilakukan dengan uji Cronbach’s Alpha dengan nilai koefisien Cronbach’s Alpha > 0,6.Hasil: Rerata usia perawat RSUD Tugu Semarang adalah 32,76, sebagian besar perawat berpendidikan S-1 54,9%. Budaya organisasi rerata 2,45, karakteristik perawat rerata 3.94, kualitas hidup kerja perawat rerata 3,50, burnout syndrome rerata 2,69. Faktor yang paling berkontribusi terhadap kejadian burnout syndrome pada perawat di rumah sakit adalah faktor budaya organisasi yang dapat dilihat dari nilai β = -1,051 jika dibanding dengan variabel lain seperti karakteristik perawat β = 0,023 dan kualitas hidup kerja perawat β = -0,709.Kesimpulan : Budaya organisasi dan karakteristik perawat signifikan memprediksi kejadian burnout syndrome perawat di rumah sakit, Budaya organisasi merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian burnout syndrome perawat di rumah sakit.
hubungan pengetahuan dan sikap dengan praktik hygiene sanitasi penjamah makanan di sepanjang jalan raya tajem maguwoharjo yogyakarta tahun 2017 maghafirah, maryam; sukismanto, sukismanto; rahmuniyati, merita eka
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.815 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.108

Abstract

Latar Belakang: Penjamah makanan adalah orang yang secara langsung berhubungan dengan makanan dan peralatan mulai dari tahap persiapan, pembersihan, pengolahan, pengangkutan, sampai penyajian. Penjamah makanan mempunyai peluang besar untuk menularkan penyakit yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Hygiene sanitasi penjamah makanan merupakan syarat utama agar tidak terjadi kontaminasi penyakit terhadap makanan yang disajikan.  Salah satu faktor yang mempengaruhi praktik hygiene sanitasi penjamah makanan adalah pengetahuan dan sikap. Hasil studi pendahuluan pada wawancara yang dilakukan pada penjamah makanan di sepanjang Jalan Raya Tajem Maguwoharjo, 5 dari 8 orang penjamah makanan tidak mengetahui tentang hygiene sanitasi penjamah makanan.Tujuan: Mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan praktik hygiene sanitasi penjamah makanan di sepanjang jalan Raya Tajem Maguwoharjo, Yogyakartatahun 2017.Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua penjamah makanan di sepanjang Jalan Raya Tajem Maguwoharjo. Jumlah sampel sebanyak 65 orang dengan teknik Purposive Sampling. Analisis data penelitian ini menggunakan uji Chi-square.Hasil: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan praktik hygiene sanitasi penjamah makanan  di  sepanjang  Jalan  Raya  Tajem  (p=0,095)  dan  ada  hubungan  antara  sikap dengan  praktik  hygiene  sanitasi  penjamah  makanan  disepanjang  Jalan  Raya  Tajem dengan (p=0,032).Kesimpulan:  Pengetahuan  tidak  ada  hubungan  dengan  praktik  hygiene  sanaitasi penjamah   makanan   karena   disamping   pengetahuan   masih   ada   faktor   lain   yang berpengaruh lebih kuat, sedangkan sikap ada hubungan dengan praktik hygiene sanitasi penjamah makanan karena sikap menentukan tingkah laku yang akan dikerjakan. 
motivasi orang dengan HIV positif dalam kepatuhan minum obat ARV (antiretroviral) di LSM victory plus yogyakarta rusyani, yelli yani; rohmayanti, ista wahyu; fitriani, ayu
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.181 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.109

Abstract

Latar belakang: Kepatuhan minum obat ARV sesuai dengan resep dokter memiliki arti yang sangat penting yaitu dapat menekan penggandaan virus yang ada di dalam darah penderita HIV positif. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan orang dengan HIV positif dalam minum obat ARV antara lain faktor intrinsik (Harapan/keinginan dan kepercayaan) dan faktor ekstrinsik (dukungan keluarga, dukungan teman, dan dukungan tenaga kesehatan). Berdasarkan informasi hasil studi pendahuluan 1 dari 2 Informan mengungkapkan kepatuhannya dalam terapi ARV dan 1 Informan lainnya saat ini patuh dalam terapi ARV namun pernah drop out terapi ARV.Tujuan: menggali secara mendalam motivasi orang dengan HIV positif dalam kepatuhan minum obat ARV di LSM Victory Plus Yogyakarta.Metode: menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan interpretatif. Teknik sampling  yang digunakan adalah purposive sampling dengan jumlah subyek penelitian 6 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam yang dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data, dan verification sehingga dapat ditarik kesimpulan.Hasil: hasil penelitian di LSM Victory Plus Yogyakarta mengungkapkan bahwa harapan/keinginan Informan adalah meningkatkan kualitas hidup lebih baik. Untuk keyakinan Informan dalam terapi ARV mengungkapkan bahwa ARV sangat bagus untuk kesehatan. Untuk dukungan keluarga Informan mendapatkan dukungan keluarga dalam terapi ARV. Untuk dukungan teman seluruh Informan mendapatkan dukungan dari teman dalam terapi ARV. Seluruh Informan patuh dalam terapi ARV.Kesimpulan: berdasarkan penelitian yang dilakukan orang dengan HIV positif memiliki keinginan untuk meningkatkan kualitas hidup lebih baik, serta mendapatkan dukungan keluarga dan dukungan dari teman agar kualitas kesehatan orang dengan HIV positif semakin baik dengan patuh dalam terapi ARV.Kata kunci:
hubungan stres psikososial dengan kejadian bakterial vaginosis (BV) pada wanita pekerja seks (WPS) (kajian di kabupaten banyumas) yuningrum, hesti; radiono, sunardi; pramono, dibyo
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.395 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.110

Abstract

Latar belakang: Bakterial Vaginosis (BV) terjadi akibat terganggunya keseimbangan normal bakteri di vagina, terjadi pada wanita dengan seksual aktif termasuk Wanita Pekerja Seks (WPS). Dampak BV meningkatkan risiko terinfeksi HIV dan penyakit gonore serta infeksi klamidia. Tingkat stres dapat menyebabkan perubahan dalam kekebalan vagina. Prevalensi BV di seluruh dunia cukup tinggi dan bervariasi yaitu pada wanita hamil (28,1%), remaja (20%), HIV positif (36%), WPS (62,9%).  Prevalensi BV di Indonesia, berkisar antara 30,7%-32,5%. Kejadian BV pada WPS di Kabupaten Banyumas tahun 2011 (56,4%), 2012 (48,8%), 2013 (62,9%). Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara stres psikososial dengan kejadian BV pada WPS.Metode: Penelitian analitik observasional dengan rancangan penelitian case control. Kasus adalah WPS dengan diagnosis BV positif. Kontrol adalah WPS dengan diagnosis BV negatif. Besar sampel sebanyak 164 WPS (kasus: 82 WPS dan kontrol: 82 WPS). Instrumen penelitian adalah kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan univariabel, bivariabel menggunakan uji chi-square dan multivariabel dengan menggunakan logistic regression.Hasil: Hasil analisis bivariabel menunjukkan hasil yang signifikan yaitu stres psikososial dengan kategori tinggi, penggunaan kondom tidak konsisten dan vaginal douching dengan frekuensi ≥ 4 kali/minggu. Umur, merokok, jumlah pasangan seksual dan pemakaian alat kontrasepsi tidak bermakna secara statistik. Hasil analisis multivariabel menunjukkan stres psikososial dengan kategori tinggi merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian BV (OR=2,83, CI 95%=1,15-6,95, p-value=0,023).Kesimpulan: Kejadian BV akan berpeluang lebih besar pada orang yang mempunyai stres psikososial tinggi dibandingkan dengan orang yang mempunyai stres psikososial rendah. Perlu mengelola dan meminimalkan stres psikososial yang dialami dengan baik sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan.
kesiapan daerah istimewa yogyakarta dalam penerapan program indonesia sehat dengan pendekatan keluarga agni, markus gelar kumara
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.159 KB) | DOI: 10.35842/formil.v3i1.111

Abstract

Latar Belakang: Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) adalah program pembangunan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia yang dimulai dari unit terkecil dari masyarakat yaitu keluarga. Program ini terdiri dari kegiatan pengumpulan data, analisa data untuk identifikasi masalah, dan penyusunan rencana kegiatan puskesmas. PIS-PK sudah diujicobakan di seluruh Indenesia termasuk di DIY. Untuk itu perlu dikaji bagaimana kesiapan dan kelancaran implementasi program tersebut di DIY.Tujuan: Untuk mengetahui kesiapan DIY terutama puskesmas dalam menerapkan PIS-PK, mengidentifikasi hambatan-hambatannya, serta merekomendasikan solusinya.Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif-eksplanatoris dengan metode gabungan kuantitatif-kualitatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Desember 2017. Survei dilakukan terhadap 30 puskesmas di DIY yang melakukan uji coba PIS-PK.Hasil: Kesiapan DIY dalam implementasi PIS-PK dirasa lemah dalam hal ketersediaan SDM yang terlatih dan memahami tugas dan segala permasalahan, serta ketersediaan peralatan kesehatan yang siap pakai. Untuk itu perlu dilakukan lebih banyak pelatihan untuk meningkatkan literasi petugas serta pengadaan alat kesehatan yang diperlukan. Penerapan PIS-PK sejauh ini banyak terkendala karena keterbatasan tenaga puskesmas untuk pendataan, kerjasama warga masyarakat yang kurang, dan aplikasi on-line yang tidak lancar ketika puskesmas memasukkan data. Untuk memperlancar pengumpulan data sebenarnya dimungkinkan untuk melibatkan tenaga di luar puskesmas, dan agar masyarakat memahami dan bersedia bekerjasama perlu melibatkan pihak RT, RW, atau kelurahan. Sedangkan untuk hambatan aplikasi akan diupayakan pembuatan aplikasi off-line khusus untuk DIY.Kesimpulan: Pelaksanaan PIS-PK masih membutuhkan perbaikan sumber daya yaitu dalam hal kesiapan SDM, peralatan medis, dan aplikasi memasukkan data. Perlu dilakukan kerjasama dengan lintas sektor untuk meningkatkan pemahaman dan kerjasama warga masyarakat.
Deskripsi epidemiologi leptospirosis di puskesmas nglipar II, kabupaten gunungkidul, daerah istimewa yogyakarta Puratmaja, Yudha; Rokhmayanti, Rokhmayanti
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v3i1.79

Abstract

Latar Belakang: Leptospirosis adalah salah satu penyakit menular yang harus dilakukan pengendalian dan pemberantasan. Di Indonesia kasus leptospirosis masih terjadi secara fluktuatif setiap tahun. Kasus leptospirosis terbanyak di Indonesia terjadi pada tahun 2011 berjumlah 857 kasus dengan 82 kematian (Case Fatality Rate/CFR 9,56%) hal tersebut dikarenakan terjadinya KLB di DI Yogyakarta (DIY). Pada tahun 2017 kasus leptospirosis terjadi di desa Natah Wetan, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta (DIY) dengan total 6 kasus.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran epidemiologi leptospirosis berdasarkan variabel orang, tempat, dan waktu di wilayah kerja Puskesmas Nglipar II. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.Hasil: Hasil penelitian berdasarkan variabel orang, menunjukkan penderita berumur 45-50 tahun dan >50 tahun yaitu masing-masing 50%, mayoritas terjadi pada laki-laki (83,3%), semua penderita bekerja sebagai petani (100%). Berdasarkan variabel tempat, kasus leptospirosis terjadi di sawah Jembangan, desa Natah Wetan sebagai lokasi penularan dan berdasarkan variabel waktu, kasus leptospirosis terjadi pada bulan Februari, Maret, dan Juni tahun 2017 dengan 6 total kasus (CFR 50%).Kesimpulan: Leptospirosis terjadi di desa Natah Wetan dengan lokasi persebaran di sawah Jembangan, mayoritas penderita Laki-laki yang berusia dewasa dan bekerja sebagai petani. Kasus Leptospirosis paling banyak terjadi pada bulan Februari dan Maret dengan total 5 kasus. Program penyuluhan dan pencegahan terkait penyakit leptospirosis dapat disarankan untuk menambah pengetahuan dan mengurangi perilaku berisiko masyarakat.

Page 1 of 1 | Total Record : 8