cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
GAYA KEPENGARANGAN GODI SUWARNA DALAM KUMPULAN CERPEN MURANG-MARING Taufik Rahayu
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.137 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i2.475

Abstract

This research aims to reveal the style of author Godi Suwarna in the short stories collection buku Murang-Maring. In the universe of Sundanese literature, the Godi’s writing style is a new thing that contradicts the general style of Sundanese literature that is realism. Godi grew up in a rural area, and later as an adult continued in an urban environment. His short stories are the collaboration and mixing between the city and the village, traditional and modern. The ideas that are raised into his work are also mostly reconstruct the traditional stories that already exist, be it from folklore, pantun stories, wayang stories, fairy tales and so forth into a new, more modern form in accordance with the will of the author. Godi and his works are dissected by using expressive studies that focus the discussion to the collection of short stories Murang-Maring and the character of Godi himself. Based on the results of the research, Godi is an author who is upset with the surrounding social circumstances. The clash between rules and freedom also greatly influences Godi's self in his works. Godi's short story works are like a container for aspiration and criticism. In addition, the influence of wayang is very visible in the short stories, either from the stroytelling style or borrowing the characters with his nyeleneh and unique style.AbstrakRiset ini bertujuan untuk mengungkap gaya pengarang Godi Suwarna dalam buku kumpulan cerpen Murang-Maring. Di jagat kesusastraan Sunda, gaya mengarang Godi adalah hal baru yang bertolak belakang dari gaya umum sastra Sunda yang beraliran realis. Godi dibesarkan di lingkungan pedesaan, dan kemudian setelah dewasa berlanjut di lingkungan perkotaan. Cerpen-cerpennya adalah kolaborasi dan percampuran antara kota dan desa, tradisional dan modern. Ide-ide yang diangkat ke dalam karyanya pun kebanyakan merekonstruksi cerita-cerita tradisional yang sudah ada, baik itu dari foklor, cerita pantun, cerita wayang, dongeng, dan sebagainya ke dalam bentuk baru yang lebih modern sesuai dengan kehendak pengarang. Godi dan karyanya dibedah dengan memakai kajian ekspresif yang memfokuskan pembahasan kepada kumpulan cerpen Murang-Maring dan sosok Godi sendiri. Berdasarkan hasil  penelitian, Godi termasuk pengarang yang gundah dengan keadaan sosial di sekitarnya. Benturan antara aturan dan kebebasan juga sangat memengaruhi diri Godi dalam karya-karyanya. Karya cerpen-cerpen Godi juga seperti wadah untuk menyalurkan aspirasi dan kritik. Selain itu, pengaruh wayang sangat kental terlihat dari cerpen-cerpennya, baik itu dari gaya penceritaannya maupun meminjam tokoh-tokoh dengan gayanya yang nyeleneh dan khas.
Fungsi Sosial dan Transendental Tradisi Lisan Dero-Sagi Suku Bajawa-Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur Sastri Sunarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.328 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.350

Abstract

Keterpingiran dan kehilangan tradisi lisan di Indonesia pada dekade terakhir menjadi isu yang kerap dikeluhkan oleh para peneliti di bidang tradisi lisan. Namun, dalam tulisan ini saya mencoba memperlihatkan bagaimana Dero-Sagi (tradisi lisan) masyarakat Ngada, Bajawa, Flores, NTT bertahan dalam gempuran globalisasi dan permarginalan tradisi lokal. Ritual Dero-Sagi merupakan ritual pengungkapan rasa syukur atas keberhasilan panen kepada Tuhan YME. Dalam praktiknya Dero-Sagi memiliki dua fungsi yakni fungsi sosial dan fungsi transendental. Tulisan ini bermaksud mengupas kedua fungsi tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan deskriptif. Selain itu, tulisan ini juga bermaksud mengungkapkan komposisi skematik lisan dalam tuturan lisan pertunjukan Dero-Sagi.
CERITA BERSAMBUNG “SRIPANGGUNG KETHOPRAK”: SEBUAH PENEGUHAN TERHADAP KEBANGSAAN PADA ZAMAN HINDIA BELANDA Dhanu Priyo Prabowo
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8046.032 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.442

Abstract

The research is aimed at exploring the role of Javanese Ngoko style as media to convey nationalism idea in Sripanggung Kethoprak serial story. Sripanggung Kethoprak serial story is Javanese literary piece that succeeded in setting free the use of Javanese Krama style in its narration story. The use of Javanese Ngoko style was one of reactions toward Krama Javanese style (in story narration) which was published by Balai Pustaka. The use of Javanese Ngoko style (in story narration) in Sripanggung Kethoprak serial story was manifestation of nationalism spirit in favor of democratic condition. Literary sociology (Ronald Tanaka macro literary system) was employed in the research. And, descriptive method was used to describe or to give systematical, factual, and accurate picture of facts, features, and inter – phenomenon relations that were investigated (Sripanggung Kethoprak serial story).AbstrakPenggunaan ragam bahasa Jawa ngoko dalam narasi cerita merupakan salah satu reaksi atas otoritas bahasa Jawa ragam krama (dalam narasi cerita) yang diproduksi oleh penerbit Balai Pustaka. Pemakaian bahasa Jawa ragam ngoko (dalam narasi cerita) pada cerita bersambung Sripanggung Kethoprak adalah manifestasi dari semangat kebangsaan untuk menuju pada suatu keadaan yang demokratis.Adapun teori yang dipergunakan di dalam penelitian ini adalah sosiologi sastra (sistem makrosastra Ronald Tanaka). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan peran bahasa Jawa ragam ngoko sebagai media penyampai gagasan kebangsaan di dalam cerita bersambung Sripanggung Kethoprak. Cerita bersambung Sripanggung Kethoprak merupakan karya sastra Jawa yang berhasil membebaskan pemakaian bahasa Jawa ragam krama dalam narasi ceritanya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, dan hubungan-hubungan antarfenomena yang diteliti (cerita bersambung Sripanggung Kethoprak).
N. RIANTIARNO, TEATER KOMA, DAN REFLEKSI POLITIK DALAM KARYA SASTRA Ganjar Harimansyah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i1.424

Abstract

This paper was originally the result of a research discussing the syntagm “politics in literature” which reflected a certain relationship between politics as a form of collective practice and literature as a historical regime of the art of writing. The phenomena of N. Riantiarnno as a litterateur, Teater Koma as a theatre institution and Trilogy of Cokroach Opera as a literature piece show a certain aesthetic and politics elements hidden inside the literatures as the reflection of society which is influenced by its history and politics state. On the other hand, the relation between litterateurs, the institution where they worked, the texts they created and the consuming societies indicates that the production and consumption of literature pieces are not separated from practical politics practice. AbstrakTulisan ini merupakan hasil penelitian yang berangkat dari sintagma "politik dalam karya sastra" yang merefleksikan hubungan tertentu antara politik sebagai bentuk praktik kolektif dan sastra sebagai rezim historis dari seni menulis. Penelitian ini menggunakan prinsip analisis isi kualitatif dalam kerangka analisis wacana kritis. Di dalam tulisan ini diungkapkan hubungan antara fenomena N. Riantiarno sebagai sastrawan, Teater Koma sebagai institusi teater, dan teks drama sebagai karya sastra memperlihatkan elemen estetik dan politik tertentu yang tersembunyi di dalam karya sastra sebagai refleksi masyarakat yang dipengaruhi kondisi sejarah dan politiknya. Di sisi lain, hubungan sastrawan, institusi tempat ia berkarya, teks yang dihasilkannya, dan masyarakat pengonsumsi karya tersebut memperlihatkan bahwa pemroduksian dan pengonsumsian sebuah karya sastra pun taklepas dari aspek politik praktis. 
KEARIFAN LOKAL BUDAYA MINANGKABAU DALAM SENI PERTUNJUKKAN TRADISIONAL RANDAI iswadi Bahardur
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.598 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.932

Abstract

Randai merupakan seni pertunjukkan  tradisional yang memuat beragam kearifan lokal budaya Minangkabau. Berpedoman pada hal tersebut dipandang penting untuk mengkaji dan meempertahankan kelestarian randai di tengah kehidupan masyarakat Minangkabau modern. Pertimbangan lainnya adalah pesatnya budaya modern yang berorientasi liberalistik-kapitalistik  memasuki berbagai lapisan kehidupan masyarakat Minangkabau menyebabkan seni tradisi beserta nilai-nilai tradisional mengalami kegamangan. Dilatarbelakangi fakta-fakta tersebut penelitian  terhadap kearifan lokal budaya Minangkabau dalam seni pertunjukkan tradisional randai ini dilakukan. Dengan menggunakan metode library research, tujuan yang hendak dicapai adalah menganalisis unsur kearifan lokal budaya Minangabau dalam seni pertunjukkan tradisional randai. Proses penelusuran literatur dan penelaahan kembali berbagai hasil kajian randai, baik dari aspek estetika gerak dan tari, musik, gerak silat, lakon, dan naskah cerita menghasilkan simpulan bahwa Randai Minangkabau memuat ragam unsur kearifan lokal yang bersumber dari ajaran agama, adat, serta falsafah alam.  Temuan ini membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang kaya akan seni tradisi dan berkehidupan  dilandasi oleh ajaran agama, adat, serta kepedulian terhadap alam semesta. 
MOTIF FIKSI POSMODERN DALAM ADAPTASI KABA CINDUA MATO Esha Tegar Putra
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.559 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.256

Abstract

In Minangkabau cosmology, Kaba Cindua Mato occupies an important position. Kaba is a representation of the balance, orderliness, and the structure of Minangkabau society. The structure of the story is arranged genealogically, tracing the presence of Bundo Kanduang as an analogy of the 'nature' of Minangkabau so that Kaba Cindua Mato can be said as an ideal image of the Minangkabau. This idealization makes Kaba Cindua Mato popular from time to time. The story in the kaba continues to experience the process of transformation, from oral stories to written text, audio, and video. Tito Alexi's Cindua Mato novel is the latest adaptation of Kaba Cindua Mato by Syamsuddin St.. Rajo Endah. Tito Alexi revamped the time context in the novel by presenting Minangkabau after the nuclear war took place and the people formed new colonies. Tito Alexi also transformed kaba’s linear flow into a flashback with the addition and subtraction of some events in kaba. What is the form of change in the adaptation of kaba done by Tito Alexi? The main argument of this research is that Tito Alexi did the adaptation using postmodern novel concept.ABSTRAKDalam kosmologi Minangkabau,  Kaba Cindua Mato menempati posisi penting. Kaba tersebut merupakan penggambaran dari keseimbangan, ketertiban, dan struktur masyarakat Minangkabau. Struktur ceritanya secara genealogis, merunut kehadiran Bundo Kanduang sebagai analogi dari ‘alam’Minagkabau hingga Kaba Cindua Mato dapat dikatakan sebagai gambaran ideal tentang Minangkabau Keidealan tersebut membuat Kaba Cindua Mato digemari dari masa ke masa. Cerita dalam kaba tersebut terus mengalami proses alih wahana, mulai dari cerita lisan hingga teks tertulis, audio, dan video. Novel Cindua Mato karya Tito Alexi merupakan adaptasi terbaru yang berangkat dari Kaba Cindua Mato karangan Syamsuddin St. Rajo Endah. Tito Alexi melakukan perombakan terhadap konteks waktu dalam novel dengan menghadirkan Minangkabau setelah perang nuklir terjadi dan masyarakat membentuk koloni-koloni baru.  Tito Alexi turut mengubah alur linear kaba menjadi kilas balik dengan penambahan dan pengurangan beberapa peristiwa dalam kaba. Bagaimana bentuk perubahan dalam proses adaptasi terhadap kaba yang dilakukan Tito Alexi? Argumen utama penelitian ini bahwa Tito Alexi telah melakukan proses adaptasi menggunakan konsep novel posmodern. 
BAHASA DAN SASTRA MODERN INDONESIA SEBAGAI BAHASA DAN SASTRA PERKOTAAN Aslan Abidin
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7731.343 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.388

Abstract

Universitas Negeri Makassar
Sebelas Patriot: Representasi Perlawanan Masyarakat Melayu terhadap Belanda melalui Sepakbola Rhillaeza Mareta
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6281.969 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.12

Abstract

Fakta bahwa beragam karya sastra yang sarat jejak rekam potret zaman suatu bangsa masih diminati hingga kini kiranya jelas. Dalam karya semacam itu, terdapat “kegelisahan” masyarakat yang terwakilkan dan tergambarkan. Dengan membaca karya sastra berkarakter demikian, khalayak pembaca memperoleh pengetahuan tentang sejarah dan budaya bangsa di belahan bumi bagian mana saja. Berdasarkan hal-hal tersebut, menarik kiranya untuk menggali kedekatan hubungan antara suatu karya sastra yang terasa begitu merekam potret zaman dengan torehan sejarah sesungguhnya. Sebelas Patriot merupakan karya Andrea Hirata yang sarat potret masyarakat Melayu di Belitung pada zaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1945. Dalam tulisan ini, penulis berusaha menganalisis kedekatan unsur sejarah, juga warna lokal, yang digambarkan Hirata dalam novel Sebelas Patriot dengan fakta-fakta yang tercatat dalam data sejarah sesungguhnya. Kekuatan topik sepakbola yang menjangkiti masyarakat Melayu terjajah sebagai bahasan kuat dalam novel akan turut dipaparkan pula sepanjang sajian. Pada bagian simpulan, penulis meyakini bahwa Sebelas Patriot kiranya penting dianggap sebagai karya sastra yang mengungkap sejarah dan kondisi sosial budaya masyarakat Melayu di Belitung pada zaman pendudukan Belanda dengan gaya penceritaan yang mengalir. Karya ketujuh Hirata ini tak kalah bersinar pula dengan karya-karya terdahulunya dalam menyengat dan mengobarkan semangat kebangsaan anak negeri.Kata Kunci: Sebelas Patriot, Andrea Hirata, Belitong, sejarah, warna lokal.
Sambutan Novel Java Joe: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang Karya J.H Setiawan terhadap Teks Babad Prambanan Pipit Mugi Handayani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.306 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.366

Abstract

Kajian yang membandingkan antara sastra klasik dengan sastra modern yang menggunakan objek cerita Rara Jonggrang belum pernah dilakukan. Pada analisis ini kajian dibatasi pada pengaruh dan kesamaan antara teks Babad Prambanan dengan Novel Populer Java Joe: Rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang. Kajian ini terfokus pada pengisahan cerita. Teks Babad Prambanan diposisikan sebagai teks yang lebih dahulu lahir sebagai karya sastra tulis dibanding dengan Novel Java Joe: rahasia Kebangkitan Rara Jonggrang yang lahir berikutnya dengan jarak waktu yang relatif jauh. Karya sastra tidak dapat dipisahkan dari pembaca sebagai penerima. Pada penelitian ini digunakan adalah resepsi sastra yang pada hakekatnya menempatkan pembaca sebagai subjek bagi sebuah karya sastra. Hasil penelitian ini dapat disimpulankan bahwa Novel Java Joe: Rahasia bangkitnya Rara Jonggrang merupakan tanggapan karya sebelumnya yang berupa babad dengan menghadirkan ide baru dan mempergunakan kreasi-kreasi berbalut science sebagai tampilan baru. Tanggapan tersebut merupakan penyangkalan cerita yang telah ada tentang cerita masa lampau sehingga esensi cerita yang ada tidak diabaikan. Perbedaan ide tersebut semata-mata adalah hasil pembacaan yang bertujuan memenuhi horizon harapan yang masih kosong pada karya sastra sebelumnya yang dijadikan sumber. Bisa jadi novel tersebut merupakan koreksiterhadap ide cerita pada karya sastra sebelumnya.
HIBRIDITAS TOKOH DALAM NOVEL REMAJA KERONCONG CINTA KARYA AHMAD FAISHAL Dheny Jatmiko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.447

Abstract

The novel Keroncong Cinta by Ahmad Faishal was an adolescent novel about social, politics and culture life of a family due to the interracial Europe-Java marriage at the end of colonial era. This research used postcolonial approach to reveal the forms of characters hybridity and interpret it in relation to the colonial era in Dutch East Indies context. This research discovered that the hybridity in Dutch East Indies caused by marriage, concubinage, education and the spirit to gain equality experienced by the Indo. The forms of characters hybridity showed through the identity ambivalence and ambiguity as the results of contradiction between indigenous and Europe cultures. These forms among others are identity ambiguity and awareness of the Indo as the third class, the blurring of colonialism contradictive lines and a lady’s Europe orientation. This research also proofed that adolescent literatures, as a part of popular literatures, are not only literatures filled with entertainment and simplicity.AbstrakNovel Keroncong Cinta karya Ahmad Faishal merupakan novel remaja yang menceritakan kehidupan sosial, politik, dan budaya sebuah keluarga karena perkawinan antarras Eropa-Jawa di akhir masa kolonial. Penelitian ini memanfaatkan pendekatan poskolonial untuk mengungkap bentuk-bentuk hibriditas tokoh dan diinterpretasi dalam kaitannya dengan konteks masa kolonial di Hindia Belanda. Penelitian ini menemukan bahwa hibriditas di Hindia Belanda disebabkan oleh perkawinan, pergundikan, pendidikan, dan semangat memperoleh persamaan derajat yang dialami kalangan Indo. Bentuk-bentuk hibriditas tokoh ditunjukkan dengan adanya ambivalensi dan ambiguitas identitas sebagai akibat dari kontradiksi antara kultur Eropa dan pribumi. Bentukbentuk hibriditas tokoh antara lain ambiguitas identitas dan kesadaran orang Indo sebagai kelas ketiga;pengaburan garis-garis kontradiktif koloniaslisme; dan orientasi ke-Eropa-an seorang Nyai. Penelitian ini sekaligusmembuktikan bahwa sastra remaja, sebagai bagian sastra populer, bukan hanya sastra yang berisi hiburan dan kesederhanaan.

Page 3 of 22 | Total Record : 218