cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
NILAI-NILAI PEMBENTUK KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT ASAL-USUL WATU DODOL Wiwin Indiarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.075 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.334

Abstract

Folktale is one of media which can be used as a device in building children’s positive characters through the moral and educational values in it. This article is based on a qualitative descriptive research aims at identifying values of character building in a folktale from Banyuwangi entitled “Asal-Usul Watu Dodol” (The Origin of Watu Dodol). Data collecting is conducted by reading the folktale text in the book “Banyuwangi Folktales” repeatedly and identifying data about keywords related to values of character building. The data, then, are analyzed by using content analysis technique. The result shows that ten values of character building are found in “Asal-Usul Watu Dodol”, that are, religiosity, honesty, hardworking, curiosity, citizenship, patriotism, accomplishment, friendliness, compassion and responsibility.  ABSTRAKCerita rakyat merupakan salah satu media yang bisa dimanfaatkan sebagai sarana membangun karakter positif pada anak melalui nilai-nilai moral dan pendidikan karakter yang terkandung dalam cerita. Artikel ini didasarkan pada penelitian deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi nilai-nilai pembentuk karakter yang terdapat dalam cerita rakyat Banyuwangi berjudul Asal-usul Watu Dodol. Pengumpulan data dilakukan dengan membaca teks cerita rakyat termaksud yang terdapat dalam buku Cerita Rakyat Banyuwangi secara berulang-ulang dan mengidentifikasi data yang berupa kata kunci yang berkaitan dengan nilai-nilai pembentuk karakter dalam cerita. Selanjutnya data yang terkumpul dianalisis dengan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan adanya 10 nilai pembentuk karakter dalam cerita rakyat Asal-usul Watu Dodol; yaitu religius, jujur, kerja keras, ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/ komunikatif, peduli sosial, dan tanggung jawab. 
JAKARTA 2039: MEMBANGUN MONUMEN INGATAN TRAGEDI KEKERASAN Gilang Saputro
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i1.389

Abstract

Tulisan ini merupakan kajian terhadap tiga karya komik Jakarta 2039 (2001) karya Zacky bersama Seno Gumira Ajidarama (SGA) dan sandiwara dua bagian Jakarta 2039: 40 Tahun 9 Bulan setelah 13-14 Mei 1998 (2001) yang dibuat berdasarkan cerpen “Jakarta, 14 Februari 2039” (1999) karya Seno Gumira Ajidarma dengan mengacu konsep cultural memory studies. Argumentasi utama dari tulisan ini didasarkan pengangkatan peristiwa kekerasan yang menimpa perempuan Cina pada Mei 1998 di Jakarta dalam komik Jakarta 2039 dan sandiwara dua bagian Jakarta 2039: 40 Tahun 9 Bulan setelah 13-14 Mei 1998 sebagai proses pengulangan ingatan berdasarkan peristiwa yang sama dalam cerpen “Jakarta, 14 Februari 2039”. Dalam proses pengalihwahanaan, tema kekerasan Mei 1998 yang sebelumnya ditulis dalam cerpen tetap diposisikan sebagai ingatan yang dimunculkan dalam komik dan naskah drama. Selain itu, isu perempuan dalam indentitasnya sebagai Cina korban perkosaan dan subjek yang trauma dimunculkan secara sadar dalam tiga karya sebagai pengingatan terhadap wacana sejarah kekerasan masa lalu sekaligus pemosisiannya sebagai upaya untuk membangun monumen ingatan pada masa kini dan mencoba untuk menjadikannya sebagai memori kultural masyarakat. Dalam keadaan tersebut, kota Jakarta sebagai ruang  dalam kaitannya dengan tragedi kekerasan dikonstruksi.
Prawacana, Daftar Isi, Abstrak Jentera, Volume 6, Nomor 1
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.979 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v6i1.579

Abstract

ASPEK SEMIOTIS DALAM PUISI BERTEMA MALAIKAT Resti Nurfaidah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3647.949 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v1i1.13

Abstract

Malaikat selalu identik dengan kesetiaan, ketaatan, keindahan, kekuatan, dan keanggunan. Malaikat senantiasa diagungkan dan memiliki tempat yang khusus dalam ranah religi sebagai kepanjangan tangan Tuhan. Demikian agungnya makhluk yang diciptakkan Allah dari cahaya itu hingga ditempatkan pada posisi kedua Rukun Iman (dalam agama Islam).Namun, tidak semua malaikat digambarkan dalam situasi baik. Beberapa penyair di dunia siber mengungkapkan sosok yang berbeda tentang malaikat di dalam karya mereka. Malaikat mengalami metamorfosis yang demikian luas tidak hanya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling setia, tetapi lebih sebagai refleksi atas beberapa fenomena yang terjadi di dalam kehidupan nyata. Makalah ini memaparkan mitos malaikat dalam puisi pada beberapa situs pencarian. Analisis pada sumber data dilandasi teori semiotik Roland Barthes, terutama pada sistem pemaknaan sekunder (konotasi dan metabahasa). Sosok malaikat dalam puisi sangat beragam. Malaikat tidak lagi merujuk pada makhluk yang diciptakan Tuhan dari cahaya, tetapi pada manusia dalam berbagai status. Mitos tersebut malaikat dalam puisi juga dapat mengundang reaksi beragam.Kata Kunci: malaikat, puisi, mitos, konotasi, denotasi
Rubayat Hamzah Fansuri: Kajian Strukturalisme-Semiotika Medri Osno
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.881 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i2.367

Abstract

Penelitian ini bertujuan menemukan bentuk struktur Rubayat Hamzah Fansuri dan menemukan makna melalui pembacaan semiotika. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pemaparan naratif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Metode analisis merujuk pada model analisis strukturalisme. Untuk menganalisis makna, metode analisis yang digunakan merujuk pada model analisis semiotika. Metode penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal. Temuan penelitian ini adalah bentuk struktur bahasa melalui sistem pemakian diksi memiliki proses sosial yang beragam. Keberagaman ini menentukan dan ditentukan oleh diksi yang terstruktur menurut kebutuhan. Pemaknaan karya secara semiotika melalui pembacaan heuristik dan hermeneutik. Secara keseluruhan Rubayat penuh dengan ironi dan hiperbola yaitu melebih-lebihkan sesuatu keadaan atau hal. Semua itu merupakan ”defamiliarisasi” atau ”deotomatisasi” untuk menimbulkan daya pesona sajak atau untuk membuat aneh (making strange) sehingga menarik perhatian.
STILISTIKA DAN UNSUR KEALAMAN DALAM CIAM SI: PUISI-PUISI RAMALAN KARYA TAN LIOE IE Puji Retno Hardiningtyas
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7740.752 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v4i2.470

Abstract

This study aims to analyze (1) the stylistic of Ciamsi:Puisi-Puisi Ramalan; (2) The faulty elements of Chinese culture in Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan. Data collection of this research use literature review and observation method by technical note. This study is analyzed by using hermeneuticmethods and content analysis techniques, etnography approach with stylistic theory and ecocritic. The analysis showed that Ciam Si poetry is a forecasts poetry generally used in the Chinese community in temple rituals. The Stylistic element in Ciam Si is Tang Dynasty poetry, consist of four rows, the first row as an opener and the fourth line as the closing, each row is generally seven syllables. Meanwhile, the faulty element of Ciam Si is a Chinese tradition that is believed to the three concepts of nature: the celestial world, the natural world, and afterlife. Therefore, Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan illustrates the strong tradition of the spirituality of nature combined with the traditions and rituals of Chinesesociety as a form of environmental preservation. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis (1) stilistika Ciam Si:Puisi-Puisi Ramalan; (2) unsur kealaman budaya Tionghoa dalam Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode pustaka dan simak dengan teknik catat. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode hermeneutik dan teknik analsisis kontens, pendekatan etnografi dengan teori stilistika dan ekokritik. Hasil analisis menunjukkan bahwa puisi Ciam Si merupakan puisi ramalan yangumumnya digunakan masyarakat Tionghoa dalam ritual di Klenteng. Unsur stilistika pada puisi Ciam Si berbentuk syair Dinasti Tang, terdiri atas 4 baris, baris pertama sebagai pembuka dan baris keempat sebagai penutup, tiap barisnya umumnya tujuh suku kata. Sementara itu, unsurkealaman pada Ciam Si merupakan tradisi Tionghoa yang mempercayai tiga konsep alam: alam langit, alam bumi, dan alam baka. Oleh karena itu, Ciam Si: Puisi-Puisi Ramalan menggambarkan tradisi yang kuat tentang spiritualitas alam berpadu dengan tradisi dan ritual masyarakat Tionghoa sebagai bentuk pelestarian lingkungan.
Sastra, Kota, dan Sumatera Barat: Perubahan Masyarakat Perkotaan dalam Karya Sastra Sudarmoko Sudarmoko
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.332 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v5i1.347

Abstract

Banyak penulis karya sastra dalam sastra Indonesia modern berasal dari Sumatera Barat. Sebagian karya sastra itu membahas persoalan masyarakat di Sumatera Barat. Artikel ini menelisik sebagian persoalan yang menjadi perhatian dari karya sastra yang dibahas, dalam kaitannya dengan persoalan urban atau perkotaan. Secara umum, tulisan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran bagaimana perubahan sosial budaya yang diakibatkan oleh arus urbanisasi dan modernisme yang terjadi dan dialami oleh masyarakat Sumatera Barat. Secara khusus, karya sastra yang dibahas dalam artikel adalah prosa yang ditulis oleh para pengarang dari Sumatera Barat. Dengan demikian, pandangan para pengarang Sumatera Barat terhadap perubahan dan dinamika masyarakat kota yang ada di provinsi ini menjadi fokus tulisan ini, karena mereka mewakili masalah-masalah yang muncul dari lingkungan paling dekat dari pengarang. Dari pembacaan karya yang dibahas, persoalan pendidikan, kemiskinan, hubungan antar individu,perubahan kebiasaan, gaya hidup modern, hingga kebudayaan dan pengelolaannya menjadi persoalan yang diungkap dalam karya sastra. Resistensi terhadap pengaruh kehidupan kota dalam hubungannya dengan masyarakat pedesaan atau kampung, juga menjadi sebuah persoalan yang selalu tarik menarik dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini juga membuktikan bahwa karya sastra berfungsi sebagai medium yang penting untuk mengkritik pembangunan dan perubahan dari kehidupan masayarakat di perkotaan.
KEARIFAN LOKAL DALAM SASTRA INDONESIA Teguh Supriyanto
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v3i2.434

Abstract

The Goal of this research is to identify and to discribe (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom (2) the work of modern Indonesian literature-period 2000 th still oriented to the local wisdom. The data were taken by using random sampling. Using the structural-semiotics method and dialectics method can be found (1) the work of the classical Indonesian literature still oriented to the local wisdom. The character values are still looked after by the writers. in 2000-th, the writers are still loyalty to the local wisdom. The research implicate that the works of modern Indonesian literature, aspecially in 1980s until 2000 period are good for the material of the teaching literature in school. The Balai Pustaka period can be said the cutting period, when we put the history of Indonesian literature on the orientation system of local genus. So that, the history of Indonesian literature which began from the classical period arose in 1980s.AbstrakTujuan Penelitian ini adalah untuk mendeskripsi (1) apakah karya sastra Indonesia klasik berorientasi pada kearifan lokal? (2) apakah karya sastra Indonesia modern periode 2000-an berorientasi pada kearifan lokal. Data penelitian ini diambil secara random. Melalui metode struktural-semiotik serta dialektik didapat hasil penelitian sebagai berikut. Teks sastra klasik, terutama dalam sastra Jawa klasik sarat dengan muatan kearifan lokal, yang memelihara nilai-nilai karakter. Pada era tahun 2000an, sikap menjunjung kearifan lokal ternyata masih ditampilkan. Implikasi lain, karya sastra Indonesia periode 1980-an sampai periode 2000-an layak digunakan sebagai materi pengajaran sastra Indonesia. Era tradisi Balai Pustaka merupakan era pemenggalan sejarah sastra Indonesia, jika dilihat pada sistem orientasi kearifan lokal. Dengan demikian, perjalanan sejarah sastra Indonesia yang dimulai dari sastra Indonesia klasik yang berorientasi pada kearifan lokal muncul kembali pada era 1980-an.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM BABAD TANAH JAWA Hidayah Budi Qur'ani
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.258 KB) | DOI: 10.26499/jentera.v7i2.918

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam teks Babad Tanah Jawa.  Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif . Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik noninteraktif. Teknik pengumpulan data noninteraktif dengan melakukan pembacaan secara intensif dari babad dan melakukan pencatatan secara aktif dengan metode content analysis. Content analysis atau analisis isi dipergunakan untuk menganalisis dokumen sehingga diketahui isi dan makna yang terdapat dalam dokumen tersebut. Dalam teks Babad Tanah Jawa terdapat tiga nilai pendidikan karakter yang dominan. Nilai-nilai pendidikan karakter tersebut diantaranya (1) Nilai Karakter Religius yang digambarkan melalui sikap yang sesuai dengan agama yang dianut, (2) Nilai Karakter Semangat Kebangsaan yang digambarkan melalui semangat mengusir penjajah di tanah Mataram, dan (3) Nilai Karakter Cinta Tanah Air yang digambarkan melalui kegigihan menjaga tanah kerajaan agar tidak diambil oleh kerajaan lain.
REPRESENTASI IDENTITAS DAN ETNISITAS MINANG DALAM NOVEL PERSIDEN KARYA WISRAN HADI Sugiarti Sugiarti
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Jentera
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v2i2.406

Abstract

Identitas dan etnisitas merupakan konsep yang dikontruksi secara budaya. Keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan manusia. Pencirian tersebut memperkuat jati diri manusia sebagai makhluk berbudaya yang selalu berhadapan dengan gejala sosial yang ada dalam realitas kehidupan masyarakat. Keseluruhan gejala sosial yang ada dalam kehidupan tidak dapat dilepaskan dengan hasil cipta sastra. Dia merupakan khasanah budaya yang memiliki fungsi penting dalam membangun khasanah dunia sastra. Wisran Hadi dalam novel Persiden mengungkapkan gejala sosial yang terjadi pada masyarakat Minang dengan identitas rumah Bagonjong sebagai simbol etnis. Simbol ini mempunyai kekuatan mengatur perilaku manusia yang berada pada komunitas etnis yang tercermin dari subjektivitas dan individualitas dengan berbagai persoalan yang dihadapi. Simbol sebagai representasi identitas dan. etnisitas termasuk dua elemen yang inheren dan sensitif dalam diri masyarakat Minang. Dalam novel karya Wisran Hadi identitas dan etnisitas sebagai sesuatu yang hidup, bereksistensi dalam interaksi tokohtokoh dalam cerita. Proses interaksi dan interelasi antartokoh-tokoh dalam cerita mampu merepresentasikan berbagai hal terkait dengan rumah Bagonjong sebagai warisan leluhur, idealisme hidup terhadap warisan budaya, silsilah keluarga, pembagian hak warisan budaya, gayahidup masyarakat, prinsip hidup dalam menyikapi rasa malu, kedudukan suami hanya sebagai pembuat keturunan. Keseluruhan budaya, baik secara material dan nonmaterial merupakan kekuatan yang membentuk dalam satu kesatuan untuk menyatukan dengan ruh budaya Minangsecara total meskipun berbagai problem yang dihadapi tokoh tidak dapat terselesaikan.

Page 5 of 22 | Total Record : 218