cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra
ISSN : 20892926     EISSN : 25798138     DOI : -
Core Subject : Education,
JENTERA is a literary research journal published by Badan Pengembangan and Pembinan Bahasa, Ministry of Education and Culture. Jentera publishes the research articles (literary studies and field research), the idea of conceptual, research, theory pragmatice, and book reviews. Jentera publishes them biannually on June and December.
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Cerita Rakyat Bugis dan Gagasan Toleransi: Kajian Nilai Berbasis Filsafat Kebebasan Adam, Lutbi; Usman, Usman
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8345

Abstract

This study aims to identify the values of tolerance in Bugis folklore based on John Stuart Mill's theory of freedom. Using a qualitative descriptive approach, data were taken from excerpts of dialogue and narrative in folklore contained in the book Sastra Sana Bugis. The data collection technique was carried out through documentation studies with reading and note-taking techniques for excerpts containing values of tolerance. The data analysis technique used a content analysis model which included data reduction, categorization, interpretation based on Mill's theory, and drawing conclusions. The results of the analysis showed that the main category of tolerance values was freedom of thought and speech, such as respecting opinions, not imposing one's will, and opening up space for discussion. These values are reflected explicitly and implicitly in the narrative of the story, and are in line with the principles of harm and individuality according to Mill. These findings indicate that Bugis folklore can be a means of character learning based on local wisdom that is relevant for strengthening tolerance in the context of multicultural education. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nilai-nilai toleransi dalam cerita rakyat Bugis berdasarkan teori kebebasan John Stuart Mill. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data diambil dari kutipan dialog dan narasi dalam cerita rakyat yang termuat dalam buku Sastra Lisan Bugis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan teknik baca dan catat terhadap kutipan yang mengandung nilai-nilai toleransi. Teknik analisis data menggunakan model analisis isi (content analysis) yang meliputi reduksi data, kategorisasi, interpretasi berdasarkan teori Mill, dan penarikan simpulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori utama nilai toleransi adalah kebebasan berpikir dan berbicara, seperti menghargai pendapat, tidak memaksakan kehendak, dan membuka ruang diskusi. Nilai-nilai ini tercermin secara eksplisit dan implisit dalam narasi cerita, dan selaras dengan prinsip harm dan individualitas menurut Mill. Temuan ini menunjukkan bahwa cerita rakyat Bugis dapat menjadi sarana pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal yang relevan untuk penguatan toleransi dalam konteks pendidikan multikultural.
Unggah-Ungguh sebagai Etika Jawa: Analisis Sosiologi Sastra dalam Film Kartini Karya Hanung Bramantyo Ni'mah, Nur Khasanatun; Widyatwati, Ken; Suryadi, Muhammad
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8341

Abstract

This study aims to describe the manners of Javanese nobility in the Kartini film. Using qualitative methods, with a sociology of literature approach based on Ian Watt's theory and semiotics according to Charles Sanders Peirce. Data collection techniques include observing and taking notes. Primary data was obtained from the film in the form of dialogue, visual expressions, and interactions between characters, while secondary data came from various supporting literature. Data analysis was carried out through the stages of data reduction, data presentation, interpretation of visual-verbal signs, and drawing conclusions. The results of the study show that the character Kartini represents a Javanese noble figure who still holds fast to the values of manners despite having a critical view of customs that limit the role of women. The character Kartini does not fight tradition head-on, but chooses a dialogical path by continuing to carry out aristocratic ethics such as sembah, ndodhok, and timpuh. This attitude reflects that manners are a cultural awareness that plays a role in maintaining social harmony, not just a formality. Thus, the Kartini film emphasizes that tradition does not have to be a barrier to change, but can be a dialectical space between respect for cultural heritage and the courage to think progressively. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unggah-ungguh bangsawan Jawa dalam film Kartini. Menggunakan metode kualitatif, dengan pendekatan sosiologi sastra berdasarkan teori Ian Watt dan semiotika menurut Charles Sanders Peirce. Teknik pengumpulan data berupa simak dan catat. Data primer diperoleh dari film dalam bentuk dialog, ekspresi visual, dan interaksi antartokoh, sedangkan data sekunder bersumber dari berbagai literatur pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, interpretasi tanda visual-verbal, serta penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Kartini merepresentasikan sosok bangsawan Jawa yang tetap memegang teguh nilai unggah-ungguh meskipun memiliki pandangan kritis terhadap adat yang membatasi peran perempuan. Tokoh Kartini tidak melawan tradisi secara frontal, tetapi memilih jalan dialogis dengan tetap menjalankan etika aristokratik seperti sembah, ndodhok, dan timpuh. Sikap ini mencerminkan bahwa unggah-ungguh merupakan kesadaran budaya yang berperan menjaga harmoni sosial, bukan sekadar formalitas. Dengan demikian, film Kartini menegaskan bahwa tradisi tidak harus menjadi penghalang perubahan, melainkan dapat menjadi ruang dialektika antara penghormatan terhadap warisan budaya dan keberanian untuk berpikir progresif.
Analisis Karakter Tokoh dalam Novel Yang Telah Lama Pergi Karya Tere Liye dan Novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Karya Puthut Ea: Kajian Psikologi Humanistik Abraham Maslow Amalia, Ulfa; Akhir, Muhammad; Ratnawati, Ratnawati
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8344

Abstract

The purpose of this study was to analyze the development of character figures in the novels Yang Sudah Lama Pergi by Tere Liye and Cinta Tak Pernah Tepat Waktu by Puthut EA with the approach of Abraham Maslow's humanistic psychology. The focus of the analysis is on the fulfillment of Maslow's five levels of needs: physiological, security, love and belonging, self-esteem, and self-actualization. The method used is descriptive qualitative with literature study techniques, intensive reading, recording, and text documentation. Data in the form of words, sentences, which contain elements of humanistic psychology. The data sources come from the novels Yang Sudah Lama Pergi, and Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. The results of this study found 23 data in the novel Yang Sudah Lama Pergi while in the novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu there were 5 data. Thus, the prominent characters in the first novel reflect assertiveness, devotion, and leadership, while the prominent characters in the second novel show gentleness, deep reflection, and strength from within so that the need for self-actualization is fulfilled. The main difference between the two novels lies in the context of fulfilling the character's needs. The characters in the novel Yang Sudah Lama Pergi develop in a dynamic and action-packed social-collective situation, while the characters in the novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu develop more through personal reflection and emotional conflict. This study contributes to the study of literary psychology and can be a reference in learning literature based on a humanistic approach. Abstrak Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan karakter tokoh dalam novel Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA dengan pendekatan psikologi humanistik Abraham Maslow. Fokus analisis pada pemenuhan lima tingkat kebutuhan Maslow: fisiologis, rasa aman, cinta dan rasa memiliki, harga diri, serta aktualisasi diri. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka, pembacaan intensif, pencatatan, dan dokumentasi teks. Data berupa kata, kalimat, yang mengandung unsur psikologi humanistik. Sumber data berasal dari novel Yang Telah Lama Pergi, dan Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Hasil penelitian ini terdapat 23 data pada novel Yang Telah Lama Pergi sementara pada novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu terdapat 5 data. Dengan demikian, karakter yang menonjol dalam novel pertama mencerminkan ketegasan, pengabdian, dan kepemimpinan, sedangkan karakter yang menonjol dalam novel kedua menunjukkan kelembutan, refleksi mendalam, dan kekuatan dari dalam sehingga terpenuhinya kebutuhan aktualisasi diri. Perbedaan utama dari kedua novel terletak pada konteks pemenuhan kebutuhan tokoh. Tokoh-tokoh dalam novel Yang Telah Lama Pergi berkembang dalam situasi sosial-kolektif yang dinamis dan penuh aksi, sedangkan tokoh dalam novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu lebih banyak melalui refleksi pribadi dan konflik emosional. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian psikologi sastra dan dapat menjadi acuan dalam pembelajaran sastra berbasis pendekatan humanistik.
Representasi Citra Perempuan dalam Cerita Rakyat Dayak Kenyah Tilo Enggau Marta, Jogarni Maria; Putri, Nina Queena Hadi
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8281

Abstract

This study aims to reveal the image of women in the Tilo Enggau folktale from the Dayak Kenyah community as a symbolic, spiritual and socio-cultural discourse. This study uses a qualitative approach with data collection techniques in the form of in-depth interviews with informants from the Dayak Kenyah community and documentation of unpublished folklore texts as objects of study. The data were analyzed using three feminist perspectives: radical feminism, cultural feminism and ecofeminism. The results of the study show that the female characters in the story appear as independent figures who reject the norms of marriage, experience supernatural pregnancies and give birth to descendants from heaven. The female characters in this story not only carry out biological functions, but also represent strong socio-cultural constructions. Women are the center of lineage and have symbolic authority as guardians of social harmony. This representation is emphasized through the sacred ancestral speech "ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni" which means "don't come here because we are the grandchildren of the one who took tilo enggau fell," as a symbol of women's authority over lineage and communal harmony. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap citra perempuan dalam cerita rakyat Tilo Enggau dari masyarakat Dayak Kenyah sebagai wacana simbolik, spiritual dan sosial budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam terhadap narasumber dari komunitas Dayak Kenyah serta dokumentasi teks cerita rakyat yang belum pernah dipublikasikan sebagai objek kajian. Data dianalisis menggunakan tiga perspektif feminisme: feminisme radikal, feminisme kultural dan ekofeminisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam cerita tampil sebagai figur mandiri yang menolak norma pernikahan, mengalami kehamilan supranatural dan melahirkan keturunan dari kayangan. Tokoh perempuan dalam cerita ini tidak hanya menjalankan fungsi biologis, tetapi juga merepresentasikan konstruksi sosial-budaya yang kuat. Perempuan menjadi pusat garis keturunan dan memiliki otoritas simbolik sebagai penjaga harmoni masyarakat. Representasi ini ditegaskan melalui tuturan sakral leluhur “ayen nei kini ni, ameq su yaq alaq tilo enggau labok ni” yang berarti "jangan datang ke sini karena kami adalah cucu dari yang mengambil tilo enggau jatuh,” sebagai simbol otoritas perempuan atas garis keturunan dan harmoni komunal.
Representasi Feminisme dalam Film Level 16 Karya Danishka Esterhazy Kajian Semiotika Stuart Hall Alawi, Nurhidayat Alip; Rimang, Siti Suwadah; Munir, Abdul
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8319

Abstract

This study aims to identify the dominant, negotiating, and oppositional positions in the film Level 16 in representing women's struggles against patriarchal power. The method used is qualitative content analysis with observation techniques and visual documentation of scenes, dialogues, and symbols that appear in the film. Primary data is the film Level 16, while secondary data is obtained from feminist theory literature and media studies. Stuart Hall's representation theory is used to identify three positions of reading meaning, namely dominant, negotiating, and oppositional. The results of the study show that the dominant position is displayed through institutional control over the bodies and behavior of girls in the academy. The negotiating position is seen from the main character's doubts about the system, while the oppositional position is manifested in acts of resistance and escape. This study confirms that Level 16 symbolically conveys criticism of the patriarchal and capitalist systems through the construction of a dystopian narrative. These findings reinforce the relevance of social feminism theory and media representation in shaping gender awareness. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi posisi dominan, negosiasi, dan oposisi dalam film Level 16 dalam merepresentasikan perjuangan perempuan terhadap kekuasaan patriarkal. Metode yang digunakan adalah analisis isi kualitatif dengan teknik observasi dan dokumentasi visual terhadap adegan, dialog, serta simbol-simbol yang muncul dalam film. Data primer berupa film Level 16, sementara data sekunder diperoleh dari literatur teori feminisme dan kajian media. Teori representasi Stuart Hall digunakan untuk mengidentifikasi tiga posisi pembacaan makna, yakni dominan, negosiasi, dan oposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa posisi dominan ditampilkan melalui kontrol institusi terhadap tubuh dan perilaku perempuan-perempuan dalam akademi. Posisi negosiasi terlihat dari keraguan karakter utama terhadap sistem, sedangkan posisi oposisi terwujud dalam tindakan perlawanan dan pelarian. Penelitian ini menegaskan bahwa film Level 16 secara simbolik menyampaikan kritik terhadap sistem patriarki dan kapitalistik melalui konstruksi narasi distopia. Temuan ini memperkuat relevansi teori feminisme sosial dan representasi media dalam membentuk kesadaran gender.
Dominasi Lelaki dan Wacana Tubuh: Membaca Maskulinitas dalam Novel The Story of Jan Dara Karya Utsana PhleungthaM Subandrio, I; Angelianawati, Desca; Maturbongs, Antonius; Nurhuda, Denny Adrian
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.7918

Abstract

This article aims to explore the forms of masculinity and unveils the puspose behind its portrayal in The Story of Jan Dara by Utsana Phleungtham. The research employs a descriptive-qualitative method and a textual approach. The data were collected through library research while data analysis was conducted through repeated readings and interpretation of the novel’s narrative and dialogue. The findings reveal that the concept of masculinity is explicitly depicted and represented through social status, bodily gestures, and power relations based on sexuality, in order to maintain masculine domination and the patriarchal system deeply rooted in society. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk maskulinitas seerta menemukan penggambaran maskulinitias tersebut dalam novel The Story of Jan Dara karya Utsana Phleungtham. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan terhadap teks. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, sementara teknik analisis data dilakukan dengan pembacaan berulang dan interpretasi terhadap narasi dan dialog dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep maskulinitas digambarkan secara gamblang dan direpresentasikan melalui status sosial, gestur tubuh, serta relasi kuasa berbasis seksualitas guna tetap menjaga dominasi maskulin dan sistem patriarki yang telah mengakar dalam masyarakat.
Representasi Ideologi dan Kekuasaan dalam Film Gadis Kretek: Model Norman Fairclough Damayanti, Riska; Jufri, Jufri; Mahmudah, Mahmudah
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8299

Abstract

This study aims to describe the representation of ideology and power in the film Gadis Kretek based on experiential values, relational values, and expressive values. This study is a qualitative study using Norman Fairclough's theory. The data sources in this study are all episodes in the film Gadis Kretek obtained from the online media Netflix. Data collection techniques include listening and note-taking techniques. The results of the study show that there are 24 data containing experiential values, which are dominated by ideological words that are fought for. This finding shows how the main characters in the film represent the social world and ideology through the choice of vocabulary and language structure. There are 22 data containing relational values, which are dominated by imperative words. This confirms that the power relations between characters are built through language structures that reflect social positions and authority. Furthermore, 19 data were found containing expressive values, which are dominated by positive and negative evaluations. This expressive value highlights how the characters in the film express emotional attitudes, resistance, or support for certain power structures and ideological values. These three values synergize to form a discourse that emphasizes emancipation, agency, and strong social criticism in the film. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi ideologi dan kekuasaan dalam film Gadis Kretek berdasarkan nilai eksperiensial, nilai relasional, dan nilai ekspresif. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori Norman Fairclough. Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh episode dalam film Gadis Kretek yang diperoleh dari media daring Netflix. Teknik pengumpulan data meliputi teknik simak dan catat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 24 data yang mengandung nilai eksperiensial, yang didominasi oleh kata-kata ideologis yang diperjuangkan. Temuan ini menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh utama dalam film merepresentasikan dunia sosial dan ideologi melalui pilihan kosakata dan struktur bahasa. Terdapat 22 data yang mengandung nilai relasional, yang didominasi oleh kata perintah (imperatif). Hal ini menegaskan bahwa relasi kekuasaan antar tokoh dibangun melalui struktur bahasa yang mencerminkan posisi sosial dan otoritas. Selanjutnya, ditemukan 19 data yang mengandung nilai ekspresif, yang didominasi oleh evaluasi positif dan negatif. Nilai ekspresif ini menyoroti bagaimana tokoh-tokoh dalam film mengekspresikan sikap emosional, resistensi, atau dukungan terhadap struktur kekuasaan dan nilai-nilai ideologis tertentu. Ketiga nilai tersebut bersinergi membentuk wacana yang menegaskan emansipasi, agensi, dan kritik sosial yang kuat dalam film.
Kajian Stilistika pada Novel Laskar Pelangi Karya Andrea Hirata Intang, Ambo; Ramly, Ramly
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8348

Abstract

This study aims to describe the uniqueness of vocabulary selection, the distinctiveness of morphological and syntactic structures, and the use of figurative language in Andrea Hirata's novel Laskar Pelangi. A descriptive qualitative approach was used in this study. Data was collected using observation and note-taking techniques. The novel was analyzed as a single text to identify distinctive vocabulary, morphological and syntactic structures, and figurative language styles that characterize Andrea Hirata's writing style. Data analysis used the flow model of analysis, which includes three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of the study indicate that the stylistics of the novel Laskar Pelangi are not only evident in the inspiring plot but also in the lexical richness that reflects the author's social, cultural, and educational background. Morphologically, the use of affixation, reduplication, and compounding enriches word structure, while syntactically, discourse and sentence structure are arranged dynamically and communicatively. Figurative language styles such as metaphors, personification, similes, idioms, and hyperbole provide aesthetic and emotional nuances, strengthening the reader's connection to the text. The novel Laskar Pelangi demonstrates a distinctive stylistic approach and contributes to the aesthetic appeal of modern Indonesian literature. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keunikan pemilihan kosakata, kekhasan struktur morfologis dan sintaktis, serta penggunaan gaya bahasa figuratif dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan pada penelitian ini. Data dikumpulkan menggunakan teknik simak dan catat. Novel dianalisis sebagai teks tunggal untuk mengidentifikasi kosakata khas, struktur morfologis dan sintaksis, serta gaya bahasa figuratif yang membentuk ciri kepengarangan Andrea Hirata. Analisis data menggunakan model analisis flow model of analysis mencakup tiga tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stilistika novel Laskar Pelangi tidak hanya tampak dalam alur cerita yang inspiratif, tetapi juga dalam kekayaan leksikal yang mencerminkan latar sosial, budaya, dan pendidikan penulis. Secara morfologis, penggunaan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan memperkaya struktur kata, sementara secara sintaksis, susunan wacana dan kalimat disusun secara dinamis dan komunikatif. Gaya bahasa figuratif seperti metafora, personifikasi, simile, idiom, dan hiperbola memberikan nuansa estetis dan emosional, memperkuat keterikatan pembaca terhadap teks. Novel Laskar Pelangi menunjukkan stilistika yang khas dan berkontribusi pada daya tarik estetik karya sastra modern Indonesia.