cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA
ISSN : 23560215     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities,
Jurnal AL - AZHAR SERI HUMANIORA merupakan jurnal ilmiah yang memuat makalah dan artikel hasil penelitian atau kajian teoristis dalam bidang Humaniora. Kata Al-Azhar berakar dari z-h-r. Verba zahara bermakna to shine, give light, be radiant, to glow, gleam, glare, shine, to blossom, be in bloom (Wehr, 1974:384). Dengan demikian kata Al-Azhar berarti sesuatu yang bersinar, yang memberi cahaya, yang berseri-seri atau yang mekar. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yaitu pada bulan Maret dan bulan September.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2019)" : 7 Documents clear
Gambaran Perempuan dalam Dua Ilustrasi Online Jerman Bertema Weltfrauentag (Hari Perempuan Dunia) Okta Mediutami Putri; Lisda Liyanti
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.25 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.343

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggambaran perempuan setelah ditetapkannya Hari Perempuan Internasional (Weltfrauentag) dalam dua ilustrasi online yang dimuat pada dua portal ilustrasi online di Jerman, yaitu toonpool.de dan ce-comico.de. Metode penelitian yang digunakan berupa metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Analisis ini menggunakan teori analisis wacana kritis model Sara Mills dan model teori segitiga semantik Charles Sanders Peirce. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggambaran perempuan dalam media baru berupa ilustrasi online menghadirkan diskusi terbuka mengenai pelekatan unsur domestik yang kuat pada perempuan. Diskusi ini dihadirkan oleh dua ilustrasi ini dengan cara berbeda. Ilustrasi pertama bernada positif, sedangkan yang kedua bernada pesimis. Ilustrasi pertama menggambarkan pelekatan unsur domestik melalui permainan kata oleh pemuka agama yang kemudian dipatahkan dengan penggunaan warna cerah dan simbol gambar yang mendukung kemajuan perempuan. Sementara itu, ilustrasi kedua menggunakan penggambaran relasi kuasa pada pimpinan laki-laki dan bawahan perempuannya. Kesadaran akan adanya hari perempuan dunia yang diucapkan pimpinan laki laki hanya mengacu pada kemampuan perempuan dalam mengerjakan pekerjaan domestik. Warna gelap dan simbol ada dalam gambar juga menyiratkan rasa pesimis yang diusung ilustrasi tersebut.Abstract - The purpose of this research was to find out how the portrayal of women (concerning international women's day/Weltfrauentag) depicted in two German online illustrations.  This research methodology is a qualitative method that is written by descriptive analysis with the approach of the study of literature. This research used Sara Mills's critical discourse analysis and semantic triangle theory by Charles Sanders Peirce. The research found that the portrayal of women in the new media (in the form of illustrated online) open the discussion on the domestication of woman. This discussion is presented differently in the two illustrations: while the first shows hope and positive attitude, the latter is seen pessimistic. The first illustration depicts the domestication of a woman using the word-play by two monks that are denied by using bright color and symbol of woman empowerment. The second illustration describes the power-relation between a male director and a woman employee. The male director argues the "International Woman Day" by referring only to woman domestic skills. The dark color and symbols support pessimistic attitude in the illustration.Keywords – International Woman’s Day, Domestication of Woman, online illustration, Weltfrauentag.
Personal Branding Valentino Simanjuntak sebagai Komentator Olahraga di Media Televisi Naufal Ferdiansyah; Amalia Djuwita
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.842 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.348

Abstract

Abstrak - Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif mengenai “Personal Branding Valentino Simanjuntak sebagai Komentator Olahraga di Media Televisi”. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana penerapan personal branding yang dilakukan oleh Valentino Simanjuntak sebagai komentator olahraga di media televisi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian analisis deskriptif. Paradigma yang digunakan dalam penelitian ini ialah post-positivisme karena peneliti ingin membuktikan dan menganalisa suatu fenomena yang terjadi pada subjek penelitian dengan berpedoman teori yang sudah ada dan berpaku pada suatu teori. Dalam objek penelitian penulis memilih Valentino Simanjuntak sebagai informan kunci, lalu memilih Ary Sapari dan Petrus Tomy Wijanarko sebagai informan pendukung dan memilih Dra. Dewi Taviana Walida, Psi, Psikolog sebagai informan ahli. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan personal branding, Valentino Simanjuntak hadir sebagai komentator olahraga di media televisi yang memiliki ciri khas variasi ragam bahasanya saat menjadi komentator olahraga yaitu slang, jargon, akrolek, dan ken dengan sebelas karaktersitik personal branding yaitu keaslian, integritas, konsisten, spesialisasi, wibawa, kekhasan, relevan, terlihat, kegigihan, nama baik, dan kinerja yang sudah cukup baik dan selaras. Akan tetapi, pada poin kewibawaan, untuk diakui sebagai ahli dalam bidang komentator olahraga Valentino Simanjuntak masih membutuhkan waktu dan proses lagi untuk memenuhi kriteria kewibawaan.Abstract - This research is a qualitative research on "Personal Branding Valentino Simanjuntak as Sports Commentator on Television Media". The purpose of this research is to analyze the way of applying personal branding carried out by Valentino Simanjuntak as a sports commentator on television media. This study uses qualitative methods with a type of descriptive analysis research. The paradigm used in this research is post-positivism because researchers want to prove and analyze the phenomena that occur in the subject of research by referring to existing theories and sticking to a theory. In the research object, the author choose Valentino Simanjuntak as the key informant, then choose Ary Sapari and Petrus Tomy Wijanarko as supporting informants and chose Dra. Dewi Taviana Walida, Psi, Psychologist as expert informant. The result of this research shows  that in conducting personal branding, Valentino Simanjuntak was present as a sports commentator on television media who has a uniqueness of language variation like slang, jargon , akrolek, and ken with eleven personal branding characteristics namely authenticity, integrity, consistency, specialization, authority, distinctiveness, relevant, visibility, persistence, goodwill, and performance. It is good enough and in harmony. However, in terms of authority, to be recognized as an expert in the field of sports commentator Valentino Simanjuntak still needs more time and process to fulfill the criteria of authorityKeywords - Language Variety, Personal Branding, Sports Commentator
Wooden Drum Festival Suku Wa Di Ximeng Provinsi Yunnan Riyana Istiqoma; Anita Amran; Tri Budianingsih
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.789 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.344

Abstract

Abstrak - Wooden Drum Festival adalah festival yang dirayakan oleh suku Wa di Yunnan, China. Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada bulan November akhir atau Desember awal. Di antaranya ada tiga kegiatan utama yaitu Membuat dan Menarik Drum Kayu, Tarian Drum Kayu dan Sembahyang kepada Drum Kayu, serta terdapat pula kegiatan hiburan seperti perlombaan olahraga, pertunjukkan opera atau karnaval. Drum kayu adalah alat musik utama yang digunakan pada perayaan Wooden Drum Festival. Biasanya terbuat dari kayu merah dengan diameter 0,8 meter dan panjang sekitar 2 meter. Festival biasanya berlangsung selama tiga hari. Hingga saat ini festival ini masih terus dirayakan oleh suku Wa, karena mereka adalah suku yang sangat mematuhi ajaran agama.Abstract - Wooden Drum Festival is a festival celebrated by the Wa tribe in Yunnan, China. The festival is celebrated annually in late November or early December. Among them are three main activities, namely Making and Pulling Wooden Drums, Wooden Drum Dance and Worshiping Wooden Drums, and there are also entertainment activities such as sports competitions, opera shows or carnivals. Wooden drums are the main musical instruments used in the Wooden Drum Festival celebration. Usually made of red wood with a diameter of 0.8 meters and a length of about 2 meters. The festival usually lasts three days. Until now, the festival is still celebrated by the Wa tribe, because they are a tribe that strongly adheres to religious teachings.Keyword - China, Wa Autonomous Region, Wa Tribe, Wooden Drum Festival
Kritik Terhadap Nilai Tradisional Masyarakat Jepang dalam Novel Hanaoka Seishu No Tsuma Nina Alia Ariefa; Yusy Widarahesty
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.989 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.349

Abstract

Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perwujudan nilai tradisional masyarakat Jepang dan kritik terhadapnya melalui penggambaran tokoh dalam novel Hanaoka Seishu no Tsuma. Pendekatan semiotika aspek semantika digunakan dalam analisis penelitian ini melalui pengamatan terhadap tokoh perempuan dan laki-laki dalam novel ini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perwujudan nilai tradisional masyarakat Jepang melalui penggambaran tokoh dalam novel Hanaoka Seishu no Tsuma yang meliputi nilai tradisional masyarakat Jepang mengenai standar kualifikasi perempuan, yang mencakup fisik/tampilan, sifat dan perilaku, usia, produktifitas perempuan.Abstract  – This study aims to find the embodiment of the traditional value of Japanese society and criticism of it through the depiction of characters in the novel Hanaoka Seishu no Tsuma. Semantics aspect semiotics approach is used in the analysis of this research through observations of female and male characters in this novel. The results show that there are traditional values of Japanese society regarding women's qualification standards, which includes physical / appearance, nature and behavior, age, women's productivity.Keywords - Hanaoka Seishu no Tsuma, Novel, Semantics, Semiotics
Karakteristik Iregularitas Infleksi Nominal Bahasa Arab, Studi Kasus pada Jamak Taksir Zaqiatul Mardiah; Afridesy Puji Pancarani
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.183 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.345

Abstract

Abstrak – Pada hakikatnya, di dalam ketidakteraturan ada pola yang teratur. Kajian ini hendak mencermati dan menemukan keteraturan pola dalam ketidakteraturan proses morfologis infleksi nominal bahasa Arab, jamak taksir. Bentuk-bentuk yang dinamis dan beragam pada perubahan bentuk singular menjadi plural dalam jamak taksir memiliki kecenderungan yang dapat dipetakan menjadi pola tertentu. Untuk memotret fenomena tersebut, kajian awal ini mengambil data dari kamus Arab-Inggris Hans Wher dari entri alif hingga kha’, yang dibatasi pada ism tunggal yang berpola fa’lun, fi’lun, fi’latun, fi’a:lun, fu’latun, fa’alun, dan fa’latun. Dengan metode deskriptif kualitatif, masing-masing bentuk singular akan dicermati aspek fonologis dan semantisnya; yang menjadi bentuk plural dengan karakteristik fonologis dan semantik yang juga menjadi fokus perhatian. Kajian ini membenarkan tesis dari Pingker tentang pola-pola tidak teratur yang sebenarnya memuat keteraturan. Dalam riset ini, sebagian besar bentuk plural dari jamak taksir dapat diramalkan dengan melihat consonant order dari bentuk tunggalnya.Abstract – Actually, there is a regular pattern in irregularities. This study was to examine and find the regularity patterns in the irregularities of the nominal inflection of morphological process of Arabic, jamak taksir. Dynamic and varied forms of morphological process from singular to plural in the jamak taksir have a tendency that can be mapped into certain regular patterns. To capture the phenomenon, this initial study took data from Hans Wher's Arabic-English dictionary from the Alif to Kha ' entry, which was confined to the singular ISM patterned fa'lun, fi'lun, fi'latun, fi'a:lun, fu'latun, fa'alun, and fa'latun. With qualitative descriptive methods, each singular form will be examined by the phonological aspect and its semantics; which became a plural with the phonological and semantic characteristics that also became the focus of attention. This study justifies the thesis of the Pingker on irregular patterns that actually load regularity. In this research, most of the plural form of the jamak taksir can be predicted by looking at the order consonant from the singular.Keywords - Arabic broken plural, irregularity, inflection, phonological aspect.
Pemetaan Pengetahuan Guru TK tentang Keterampilan Gerak Dasar Anak TK Nila Fitria; Rohita Rohita
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.869 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.346

Abstract

Abstrak - Pertumbuhan perkembangan dan belajar melalui aktivitas jasmani akan mempengaruhi tiga ranah dalam pendidikan yang meliputi ranah kognitif (menyadari gerak), ranah psikomotor (pertumbuhan biologis, kesehatan, kebugaran jasmani), dan ranah afektif (rasa senang, aktualisasi diri, konsep diri) [1]. Permasalahan yang tampak di era digital ini, terbatasnya kemampuan motorik anak dikarenakan anak-anak usia dini sudah terpapar oleh gadget sejak dini. Sehingga kemampuan motorik anak era digital terbatas karena pengaruh gadget. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan guru keterampilan gerak dasar anak TK. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif dengan jenis penelitian survei. Penelitian survei merupakan penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Penelitian yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak yang berada pada Gugus Cut Nyak Dien. 32 guru TK yang berada di Gugus Cut Nyak Dien dengan latar belakang pendidikan dari sarjana pendidikan, 65% masa kerjanya 2 tahun. Terdapat 15 guru TK yang memiiki pengetahuan yang tinggi dalam pengetahuan keterampilan gerak dasar. Terdapat 6 guru TK yang memiliki pengetahuan dalam kategori sedang terhadap pengetahuan keterampilan gerak dasar pada motorik kasar. Serta terdapat 12 guru TK yang memiliki pengetahuan yang rendah terhadap pengetahuan keterampilan gerak dasar dalam motorik kasar anak TK. Sejumlah 18% dari jumlah guru memiliki pengetahuan mengenai gerak lokomotor dan 15% dari jumlah guru belum memiliki pengetahuan mengenai gerakan non-lokomotor. Guru dapat mengimplementasikan ketiga keterampilan gerak dasar dalam berbagai kegiatan motorik melalui menari, senam, dan bentuk permainan yang diciptakan oleh guru. Penilaian keterampilan gerak dasar dilakukan guru TK dan guru melalui pengamatan. Sejumlah 75% guru TK mengetahui tujuan stimulasi keterampilan gerak dasar anak yaitu untuk meningkatkan perkembangan motorik anak. Abstract - Developmental growth and learning through physical activity will affect the three domains in education which include cognitive domains (aware of motion), psychomotor domains (biological growth, health, physical fitness), and affective domain (pleasure, self-actualization, self-concept) [1]. Problems that appear in this digital era, limited motoric abilities of children because early childhood have been exposed to gadgets early. So that the digital motor skills of children are limited due to the influence of gadgets. The purpose of this study was to determine the level of teacher knowledge of basic movement skills of kindergarten children. This research was conducted with quantitative methods with the type of survey research. Survey research is a study that uses a questionnaire as a research instrument. Research carried out in kindergartens in Cut Nyak Dien's Cluster. 32 kindergarten teachers who are in Cut Nyak Dien Group with educational background from undergraduate education, 65% working period is 2 years. There are 15 kindergarten teachers who have high knowledge in basic motion skills knowledge. There are 6 kindergarten teachers who have knowledge in the moderate category of basic motion skills knowledge in gross motor skills. And there are 12 kindergarten teachers who have low knowledge of basic motion skills knowledge in rough motoric kindergarten children.A total of 18% of teachers have knowledge of locomotor motion and 15% of teachers have no knowledge of non-locomotor movements. TK teachers can implement all three basic motion skills in various motor activities through dancing, gymnastics, and forms of games created by the teacher. Assessment of basic motion skills is done by kindergarten teachers and teachers through observation. 75% of kindergarten teachers know the purpose of stimulating children's basic motion skills, namely to improve children's motor development. Keywords - Knowledge, Teacher, Skills, Basic movement
Pengaruh Nilai-Nilai Kearifan Lokal Terhadap Pola Pengasuhan Anak Usia Dini (AUD) Suwardi Suwardi; Siti Rahmawati
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.328 KB) | DOI: 10.36722/sh.v5i2.347

Abstract

Abstrak – Saat ini, lemabaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) mulai menerima banyak tuntutan, mulai dari tuntutan standar kurikulum nasional yang selalu berubah ubah, tuntutan lingkungan, tuntutan dari orangtua serta tuntutan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga bermunculan faham-faham idealis yang dapat menghilangkan hakikat dan prinsip dasar pendidikan pada anak usia dini. Salah satu fungsi sekolah yaitu, mengajarkan nilai-nilai kebudayaan agar tetap sesuai dengan masyarakat yang semakin maju dan komplek dengan tidak meninggalkan kultur kebudayaan. Sekolah mempunyai peranan besar dalam menjaga eksistensi nilai-nilai luhur tersebut. Metode yang digunakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif, yaitu penelitian yang menggunakan statistik dan banyak menggunakan logika hipotetika verifikatif. Pendekatan dimulai dengan berpikir deduktif untuk menurunkan hipotesis, kemudian melakukan pengujian di lapangan, sedangkan hipotesis ditarik berdasarkan data empiris. Untuk membangun nilai-nilai kearifan lokal sejak dini kepada anak-anak, dimulai dengan pengenalan dan pembiasanaan perilaku sehari-hari itupun sudah menjadi bagian dari internalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai upaya melaksanakan pendidikan berbasis keunggulan lokal.Abstract - Currently, Early Childhood Education Institutions (PAUD) are starting to receive many demands, ranging from the demands of ever-changing national curriculum standards, environmental demands, demands from parents and demands from the development of science and technology. So that idealist ideals emerge which can eliminate the nature and basic principles of education in early childhood. One of the functions of the school is to teach cultural values to remain in line with an increasingly advanced and complex society without leaving cultural culture. Schools have a big role in maintaining the existence of these noble values. The method used is descriptive quantitative research, namely research that uses statistics and many use hypothetical verification logic. The approach starts with deductive thinking to derive the hypothesis, then perform testing in the field, while the hypothesis is drawn based on empirical data. To build the values of local wisdom from an early age to children, starting with the introduction and refraction of daily behavior, it has become part of the internalization of the values of local wisdom as an effort to implement education based on local excellence.Keywords - Early Childhood, Local Wisdom, Parenting Patterns,  

Page 1 of 1 | Total Record : 7