cover
Contact Name
Lalan Ramlan
Contact Email
lalan_ramlan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Seni Makalangan
ISSN : 23555033     EISSN : 27148920     DOI : -
Core Subject : Art,
Arjuna Subject : -
Articles 192 Documents
“ADHYATMAKA” KARYA PENCIPTAAN TARI CONTEMPORARY Gugum Cahyana dan Kawi
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1406

Abstract

ABSTRAKKarya tari berjudul Adhyatmaka ini meiliki arti “ilmu kebatinan tertinggi”, diangkat dari cerita proses spiritual Ma’lim dalam kesenian reak. Disajikan dalam bentuk tarian tunggal, memiliki stuktur dramatik, terbagi ke dalam tiga bagian yaitu bagian awal (ngrekes) menggambarkan proses pemanggilan ghoib, adegan tengah (ngajadiekun) menggambarkan proses penyatuan malim dengan ghoib, bagian akhir (nyageurkeun) menggambar proses pemisahan malim dengan ghoib. Metode yang digunakan untuk mewujudkan karya Adhyatmaka yaitu merujuk pada metode penciptaan pendekatan non-tradisi dengan melalui proses; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Adapun hasil yang dicapai adalah sebuah karya tari kontemporer dengan menghadirkan musik tari yang mendukung susana dan memperkuat setiap adegan, setting bangbarongan sebagai simbol tiga tahapan ghoib yang harus dikuasai oleh seorang ma’lim, usungan, pemilihan rias busana dan tempat pertunjukan yang menjadi satu kesatuan yang utuh. Kata Kunci: Ma’lim, Adhyatmaka. ABSTRACT. "Adhyatmaka" Contemporary Dance Creation Works, Desember 2020. This dance work entitled Adhyatmaka has the meaning of "the highest mysticism", lifted from the story of the spiritual process of Ma'lim in the art of reak. It is presented in the form of a single dance, has a dramatic structure, divided into three parts, namely the initial part (ngrekes) which describes the process of calling ghoib, the middle scene (ngajadiekun) describes the process of unifying malim and ghoib, the final part (nyageurkeun) depicting the process of separating malim from ghoib. The method used to create Adhyatmaka's work refers to the method of creating a non-traditional approach through a process; exploration, evaluation and composition. The results achieved are a contemporary dance work by presenting dance music that supports the atmosphere and strengthens each scene, the setting of the bangbarongan as a symbol of the three stages of ghoib that must be mastered by a ma'lim, a stretcher, the choice of dress and a performance venue that becomes a unity. intact. Keywords: Ma'lim, Adhyatmaka.  
TARI BADAYA WIRAHMASARI RANCAEKEK Denna Siti Lenggani; Turyati Turyati
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i1.1624

Abstract

ABSTRAKTari Badaya Wirahmasari Rancaekek merupakan tarian putri lungguh, diciptakan oleh R. Sambas Wirakusumah pada tahun 1925. Tarian ini menggambarkan para penari bangsawan yang sedang menari di pendopo atau di tempat para menak untuk menyambut tamu. Repertoar tari ini ditetapkan sebagai sumber garap penyajian tari, karena memiliki keunikan tersendiri yang membuka peluang untuk melakukan proses kreatif pe-ngembangan. Dengan demikian, maka untuk mewujudkan konsep tersebut digunakan teori gegubahan, serta menggunakan metode gubahan tari, yaitu berupa pengembangan dari sumber penyajian tradisi tertentu dengan cara memasukkan, menyisipkan, dan memadukan bentuk-bentuk gerak atau penambahan unsur lain, sehingga menghasilkan bentuk penyajiannya yang berbeda dengan tetap mempertahankan identitas sumbernya. Untuk dapat merealisasikan hal tersebut, penulis menggunakan beberapa tahap proses garap di antaranya; eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Hasil akhir yang di dapat yaitu mendapatkan kreativitas dengan memberikan variasi gerak, pengolahan pola lantai, arah hadap, permainan level, serta menggunakan iringan musik asli dengan tidak merubah struktur gerak dan esensi pada tarian sumbernya.Kata Kunci: Penyajian Tari, Tari Badaya Wirahmasari, Gubahan Tari.ABSTRACTDance Badaya Wirahmasari Rancaekek, June 2021. The Badaya Wirahmasari Rancaekek dance is a female lungguh dance, created by R. Sambas Wirakusumah in 1925. This dance depicts noble dancers who are dancing in the pavilion or at the menak's place to welcome guests. This dance repertoire is designated as a source for working on dance presentations, because it has its own uniqueness which opens up opportunities for the creative process of development. Thus, to realize the concept, the composition theory is used, and the dance composition method is used, namely in the form of developing from a particular tradition presentation source by inserting, inserting, and combining forms of motion or adding other elements, so as to produce a different form of presentation with retaining the identity of the source. To be able to realize this, the author uses several stages of the working process including; exploration, evaluation, and composition. The final results obtained are getting creativity by providing variations in motion, processing floor patterns, facing directions, level games, and using original musical accompaniment without changing the structure of motion and essence of the dance source.Keywords: Dance Presentation, Badaya Wirahmasari Dance, Dance Gubahan.
PERTUNJUKAN TOPENG DALAM UPACARA NGUNJUNG BUYUT KI LIMAS Nunung Nurasih
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i1.1289

Abstract

ABSTRAKTulisan ini membahas pertunjukan Topeng dalam Upacara Ngunjung Buyut Ki Limas Di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Masalahnya dirumuskan sebagai berikut; apa makna upacara Ngunjung Buyut bagi orang Slangit sehingga dilakukan secara rutin setiap tahun. Untuk menjawab permasalahan tersebut, penulis melakukan pendekatan multidisiplin dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan langkah-langkah melakukan observasi lapangan yang menitikberatkan pada pengamatan, wawancara, dan perekaman kejadian. Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat lang-sung, dan seniman yang terlibat didalamnya. Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validasi data yang menghasilkan deskripsi yang utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian terungkap, bahwa pertunjukan Topeng dalam Upacara Ngunjung Buyut Ki Limas di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon secara holistik.Kata Kunci: Upacara Ngunjung Buyut Ki Limas, Pertunjukan, Topeng, Makna.       ABSTRACTThe Mask Performance in Ritual of Ngunjung Buyut Ki Limas, June 2020.  This paper discusses the Mask performances in ritual of Ngunjung Buyut Ki Limas in Slangit Village, Klangenan District, Cirebon Regency. The problem is formulated as follows; what is the meaning of Ngunjung Buyut ritual for the people of Slangit so that it is routinely carried out every year. To answer the problem, the author takes a multidisciplinary approach using descriptive analysis method through field study that focus on observations, interviews, and recording the event. The interviews have been conducted with the actors, directly involved figures and artists. In-depth interview technique has been done by selecting key informants to obtain data validation that results in a complete and comprehensive description. The results of the study revealed that the Mask performance in ritual of Ngunjung Buyut Ki Limas in Slangit Village, Klangenan District, Cirebon Regency holistically.Keywords: Ritual Of Ngunjung Buyut Ki Limas, Performances, Mask, Meaning.    
TARI GANDAMANAH Setiawan Setiawan; Asep Jatnika
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i1.1619

Abstract

ABSTRAKTari Gandamanah merupakan salah satu rumpun tari Wayang dengan karakter monggawa dangah atau gagah, menggambarkan kesigapan Gandamanah sebelum bertanding disayembara Senopati Drupada untuk mencarikan calon suami Dewi Drupadi. Terpilihnya tari ini sebagai sumber garap penyajian tari karena memiliki ciri khas tersendiri, sehingga terbukanya peluang, untuk melakukan proses kreatif menggubah tarian. Adapun tujuan dari penyajian tari ini ialah untuk mewujudkan penyajian tari gaya baru tanpa mengubah esensi sumbernya. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka landasan teori yang digunakan adalah teori gegubahan, sedangkan metode yang digunakan adalah metode gubahan tari yaitu pengembangan dari sumber tradisi tertentu dengan cara memasukan, menyisipkan, dan memadukan bentuk-bentuk gerak baru, sehingga menghasilkan bentuk penyajian yang berbeda dengan tetap mempertahankan identitas sumbernya dengan langkah-langkah proses garapnya meliputi: eksplorasi, evaluasi, dan komposisi. Hasil akhir dari proses yang dilakukan melalui gubahan ini ialah mendapatkan sentuhan kreativitas dengan memberikan variasi dalam segi koreografi, baik itu dalam pengolahan pola lantai, perubahan arah hadap dan arah gerak, level menari yang sesuai dengan tarian. Berdasarkan proses tersebut maka akan terwujud inovasi tari Gandamanah dengan gaya yang baru, tetapi tetap mempertahankan esensi sumber tariannya. Kata Kunci: Penyajian Tari, Tari Gandamanah, Gubahan Tari.   ABSTRACTThe Gandamanah Dance, June 2021. The Gandamanah dance is one of the Wayang dance genres with the monggawa dangah or dashing character, depicting Gandamanah's alertness before competing in the Senopati Drupada competition to find a future husband for Dewi Drupadi. The choice of this dance as a source of work on dance presentations because it has its own characteristics, so it opens up opportunities, to carry out the creative process of composing dances. The purpose of this dance presentation is to realize the presentation of a new style of dance without changing the essence of the source. To achieve this goal, the theoretical basis used is composing theory, while the method used is the dance composition method, namely the development of certain traditional sources by inserting, inserting, and combining new forms of motion, so as to produce a different form of presentation with fixed maintain the identity of the source with the steps of the working process including: exploration, evaluation, and composition. The end result of the processMakalangan Vol. 8, No. 1, Edisi Juni 2021 | 21carried out throught this composition is to get a touch of creativity by providing variations in terms of choreography, both in processing floor patterns, changing the direction of the face and direction of motion, dancing levels that are in accordance with the dance. Based on this process, Gandamanah dance innovation will be realized with a new style, but still maintain the essence of the source of the dance.Keywords: Dance Presentation, Gandamanah Dance, Dance Composition. 
TARI SONTENG KARYA GUGUM GUMBIRA DI PADEPOKAN JUGALA Diana Novita Sari dan Lalan Ramlan
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1414

Abstract

ABSTRAKSonténg yang artinya kelabilan atau oléng, merupakan gambaran simbolik yang melambangkan proses pencarian jati diri seorang manusia melawan keterpurukan, kesusahan, kegalauan, yang tetap tegar dan kuat bahkan berupaya keras melawan atau merubahnya menjadi kesuksesan dan kebahagiaan. Repertoar tari Jaipongan karya Gugum Gumbira ini begitu enerjik, memiliki dinamika yang tinggi, dan maskulin. Oleh karena itu, masalah yang menarik untuk dikaji dalam sebuah penelitian yaitu bagaimana struktur tari Sonténg Karya Gugum Gumbira di Padepokan Jugala?. Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut, maka digunakan pendekatan teori struktur dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analisis dengan langkah-langkah; studi pustaka, studi observasi, dan studi dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah tari Sonténg dibentuk oleh tiga unsur estetika utama yaitu koreografi, iringan tari, dan rias busana tari. Ketiga unsur estetika utama tersebut, melalui pendekatan teori struktur Iyus Rusliana merupakan dua dimensi nilai yaitu bentuk dan isi tari yang saling mengisi dan melengkapi dalam memberikan identitas terhadap repertoar tari Sonténg. Kata Kunci: Tari Sonténg, Jaipongan, Gugum Gumbira.  ABSTRACT. Sonteng Dance By Gugum Gumbira In Padepokan Jugala, Desember 2020. Sonténg, which means unsteadiness or oléng, is a symbolic image that symbolizes the process of finding a human's identity against adversity, distress, turmoil, which remains strong and strong and even strives to fight or turn it into success and happiness. The repertoire of the Jaipongan dance by Gugum Gumbira is energetic, has high dynamics, and is masculine. Therefore, an interesting problem to study in a study is how the structure of the Sonténg Karya Gugum Gumbira dance in Padepokan Jugala? To answer these research questions, a structural theory approach is used using descriptive analysis research methods with steps; literature study, observational study, and documentation study. The results obtained from this study are that the Sonténg dance is formed by three main aesthetic elements, namely choreography, dance accompaniment, and dance dress makeup. The three main aesthetic elements, through the structural theory approach of Iyus Rusliana, are two dimensions of value, namely the form and content of the dance which complement and complement each other in giving identity to the repertoire of Sonténg dance. Keywords: Sonténg dance, Jaipongan, Gugum Gumbira. 
“DISPLACEMENT” KARYA PENCIPTAAN TARI NON TRADISI Denida Priliana dan Alfiyanto
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 2 (2020): “Gemulai Gerak Ketubuh Tradisi Mencipta Enerji Dinamis Tari Kreasi”
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i2.1409

Abstract

ABSTRAKKarya tari ini terinspirasi dari visualisasi rutinitas seseorang bernama Kang Ade (M. Rosidi Ali) yang melakukan rutinitas yang sama selama 16 tahun dengan tujuan untuk mengurangi rasa frustasi yang dimilikinya. Displacement (Pemindahan) merupakan salah satu teori psikologi mekanisme pertahanan diri oleh Sigmund Freud yang sangat menggambarkan kondisi psikologis Kang Ade yang kemudian menjadi sumber ide konsep dan garap tari Displacement dan dikemas menjadi sebuah karya tari dengan pendekatan kontemporer dengan tipe dramatik dan bentuk tari tunggal. Karya inimenggambarkan tentang perjuangan orang frustasi yang ingin ke luar dari zona nyaman (Displacement)-nya namun tetap tidak bisa dan pada akhirnya hanya bertahan dengan Displacement secara terus-menerus. Desain koreografinyaterdiri dari gerak-gerak keseharian, seperti; berjalan, melompat, berlari, terlentang, rol depan, dan rol belakang serta beberapa improvisasi dan interpretasi dari rasa frustasi dari seseorang yang mempunyai gejala Displacement, gerak kinetik olah tubuh dan beberapa gejala tubuh frustasi yang distilisasi.Substansi penuangan rasa, makna simbolis, dan dramatik di dalam karya ini dihasilkan melalui penggarapan koreografi, musik, penggunaan setting, penyesuaian lighting dan rias busana. Semua digabungkan melalui hasil eksplorasi dan evaluasi, dan di komposisikan menjadi sebuah pertunjukan tari yang kreatif dan inovatif. Kata Kunci: Displacement, Kontemporer, Frustasi, Dramatik. ABSTRACT. "Displacement" Non Traditional Dance Creation Works, Desember 2020. This dance work is inspired by the visualization of a person's routine named Kang Ade (M. Rosidi Ali) who has been doing the same routine for 16 years with the aim of reducing his frustration. Displacement is one of the psychological theories of self-defense mechanisms by Sigmund Freud which strongly describes Kang Ade's psychological condition which later became a source of concept ideas and work on the Displacement dance and was packaged into a dance work with a contemporary approach with a dramatic type and a single dance form. This work describes the struggles of frustrated people who want to get out of their comfort zone (Displacement) but still can't and in the end only survive with continuous Displacement. The choreography design consists of everyday movements, such as; walking, jumping, running, supine, front rollers, and rear rollers as well as some improvisation and interpretation of the frustration of a person who has Displacement symptoms, kinetic movements of the body and some symptoms of the frustrated body being sterilized. The substance of the pouring of taste, symbolic meaning, and drama in this work is produced through the cultivation of choreography, music, use of settings, adjustment of lighting and clothing. All are combined through the results of exploration and evaluation, and are composed into a creative and innovative dance performance. Keywords: Displacement, Contemporary, Frustration, Dramatic.
TIKSNA (Penciptaan Tari Kontemporer) Asraf Fauzan Ahmad; Kawi Kawi
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i1.1625

Abstract

ABSTRAKKarya tari yang berjdul TIKSNA memiliki arti semangat dan tajam, terinspirasi dari pengalaman empiris penulis dan fenomena sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat Indonesia khususnya. Gagasan yang ingin penulis sampaikan dalam karya tari ini adalah untuk mewujudkan karya tari yang bersumber dari fenomena sosial, yaitu kasus kelaparan. Tiksna menceritakan sebuah kehidupan anak-anak jalanan yang ber-usaha mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk menutupi sesuatu yang mereka cari dalam hal ini yaitu kebutuhan makanan untuk menutupi rasa lapar yang mereka rasakan. Karya tari ini menggunakan metode proses garap Jacquiline Smith mencakup hal, memiliki tubuh yang profesional, menguasai teknik gerak, memiliki rasa gerak, serta daya tahan tubuh yang kuat; dengan pendekatan teori dramatik. Hasil garap adalah kontruksi tari tentang fenomena sosial anak jalanan.Kata Kunci: Penciptaan Tari, Tiksna, Tari Kontemporer.ABSTRACTTiksna (Creation of Contemporary Dance, June 2021. The dance work entitled TIKSNA has a spirit and sharp meaning, inspired by the author's empirical experience and social phenomena that occur in Indonesian society in particular. The idea that the writer wants to convey in this dance work is to create a dance work that originates from a social phenomenon, namely the case of hunger. Tiksna tells about the lives of street children who are trying to get what they need to cover what they are looking for in this case, namely the need for food to cover the hunger they feel. This dance work using Jacquiline Smith's processing methods includes, having a professional body, mastering movement techniques, having a sense of motion, and strong endurance; with a dramatic theoretical approach. The result of working on is a dance construction about the social phenomena of street children.Keywords: Dance Creation, Tiksna, Contemporary Dance.
PROSES KREATIF MAMAT RAHMAT DALAM KENDANG TARI TRADISI SUNDA Riky Oktriyadi
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i1.1290

Abstract

ABSTRAKMamat Rahmat adalah sosok pengendang tari tradisi Sunda yang pada saat ini masih konsisten dalam bidangnya sebagai pengendang. Kemampuannya dalam kendang tari tradisi Sunda banyak didedikasikan untuk ISBI Bandung karena telah memberikan penghidupan bagi dirinya. Di sisi lain, kemampuannya pun banyak diminta oleh sanggar sanggar tari yang ada di kota Bandung seperti Studio tari Indra, Pusbitari, dan sebagainya. Sebagai pengendang tari tradisi Sunda, ia mampu memberikan pengungkapan karakter dalam tari tradisi Sunda melalui tepakan kendangnya. Maka[PO1]  tidaklah berlebihan dan sepantasnya apabila ia menyandang gelar sebagai maestro kendang tari. Dalam tulisan ini akan diungkap bagaimana proses kreatif Mamat Rahmat dalam mencapai kompetensinya sebagai pengendang tari Tradisi Sunda. Penulis akan mengupas pembahasannya melalui metode observasi dan wawancara. Adapun hasil dari penelitian ini adalah Mamat Rahmat mampu menjadi seorang pengendang tari Sunda yang kreatif, karena ditunjang oleh faktor keturunan (genetik), keterampilan, pengalaman, kepribadian, dan juga bisa menari.Kata Kunci: Mamat Rahmat, Proses Kreatif, Kendang Tari Sunda.  ABSTRACTA Creative Process of Mamat Rahmat in Sundanese Traditional Dance Kendang, June 2020. Mamat Rahmat is a figure of drummer of Sundanese traditional dance who is still consistent in his field as a drummer. His skill in Sundanese traditional dance drums (kendang) is mostly dedicated to ISBI Bandung because he has been given his livelihood here. On the other hand, his skill has been much demanded by many dance studios in Bandung such as Indra dance studios, Pusbitari, and so on. As a drummer of Sundanese traditional dance, he is able to provide the expression of character in Sundanese traditional dance through his drum beat. So it is not excessive and appropriate if he bears the title as a maestro of dance kendang. In this paper, it will be revealed how is the creative process of Mamat Rahmat in achieving his competence as a drummer of Sundanese traditional dance. The author will explore the discussion through the method of observation and interviews. The result of this study shows that Mamat Rahmat is able to become a creativeSundanese dance drummer because he is supported by heredity (genetic), skills, experience, personality, and dancing ability.Keywords: Mamat Rahmat, Creative Process, Sundanese Dance Kendang.   [PO1]Oleh sebab itu,
KREATIVITAS NAMIN HUBUNGAN PERSONAL DAN KESENIMANAN DALAM PETA PERKEMBANGAN JAIPONGAN BAJIDORAN Atang Suryaman
Jurnal Seni Makalangan Vol 8, No 1 (2021): "GERAK TUBUH TARI MENGALIR MENCIPTA ASA DAN CITA"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v8i1.1620

Abstract

ABSTRAKPermainan kendang pada setiap jenis seni pertunjukan memiliki kekhasan tersendiri; pertama dalam konteks kendang sebagai bagian dari karya karawitan mandiri, kemudian kedua dalam konteks kendang sebagai bagian dari karya fungsional karaoke, ketiga yang khusus dalam musik tari. Setiap pemain dan permainan kendang memiliki kekhususan dan kemampuannya masing-masing, sehingga penabuh kendang adalah orang yang dituntut untuk memiliki keahlian khusus, terutama dalam seni pertunjukan yang membutuhkan kemampuan untuk melakukan pembaharuan, pengembangan dan kreativitas. Salah satunya dalam kesenian Bajidoran-Jaipongan, dimana selain disatukan dalam karawitan, sekaligus dituntut untuk mengabdi kepada seorang penari (Bajidor). Dari sederet pemain kendang dan kelompok Bajidoran yang cukup terkenal di masyarakat, nama Namin dan "Namin Grup" termasuk yang paling diperhitungkan. Dari berbagai sudut pandang, terutama dari sisi pengamat dan aktor, Namin tidak hanya dikenal sebagai seniman yang sudah lama berkecimpung di dunia seni pertunjukan, tetapi juga dikenal dengan kreativitasnya. Dalam perkembangan Bajidoran – Jaipongan dikenal istilah “Gaya Namin”, menunjukkan pola khas yang identik dengan permainan kendang ciptaan Namin. Untuk mengetahui latar belakang hingga akhirnya Namin mampu menampilkan kendang yang khas, maka Namin perlu dilihat sebagai pribadi yang memiliki latar belakang yang tidak dapat dipisahkan dari proses seni, termasuk lingkungan dan daya dukung itu sendiri. Dari berbagai dimensi tersebut, Namin adalah sosok yang kreatif karena definisi sosok kreatif disebut-sebut sebagai pribadi yang unik yang dapat merespon lingkungannya. Melalui kiprahnya yang telah melampaui 40 tahun bersama Namin Group, jika Namin tidak hanya menunjukkan kreativitas di dunia seni, tetapi juga menunjukkan konsistensi, kesederhanaan, dan jiwa kepemimpinan dalam menjalankan karyanya menuju dunia yang paling dicintainya, Bajidoran.Kata Kunci: Kreativitas, Gaya Namin, Jaipongan-Bajidoran.ABSTRACTNamin's Creativity Personal Relationship And Arts In The Development Map Of Jaipongan Bajidoran, June 2021. The game of kendang in each type of performance art has its own peculiarities. First in the context of kendang as part of independent karawitan work, then the second in the kendang context as part of the functional karaoke work which is specifically in dance music. Each player and drum game has its own specificity and capabilities, so the drummer is a person who is required to have special skills. EspeciallyMakalangan Vol. 8, No. 1, Edisi Juni 2021 | 41in performance art that requires the ability to do renewal, development and creativity. One of them is in the art of Bajidoran - Jaipongan, where in addition to being united in karawitan, at the same time it is required to serve a dancer (Bajidor). From a series of kendang players and Bajidoran groups that are well known in the community, the name Namin and "Namin Grup" are among the most calculated. From various perspectives, especially from the point of view of observers and actors, Namin was not only known as a long-standing artist in the performing arts world, but also known for his creativity. In the development of Bajidoran - Jaipongan, the term "Gaya Namin" is known, it shows a distinctive pattern that is identical to the drum game created byNamin. To find out the background until finally Namin is able to display the distinctive drum, then Namin needs to be seen as a person who has a background that cannot be separated from the process of art, including the environment and the carrying capacity itself. From these various dimensions, Namin is a creative figure as the definition of a creative figure is mentioned as a unique person who can respond to his environment. And through its work that has exceeded the 40-year mark with Namin Group, if Namin has not only demonstrated creativity in the art world, but also showed consistency, simplicity, and leadership spirit in carrying out his work towards the world he loves most, Bajidoran.Keywords: Creativity, Namin’s Style, Jaipongan-Bajidoran.
“ANAK DAN IBU CIGANITRI” SEBUAH PROSES KREATIF KARYA TARI VIRTUAL DALAM MASA PANDEMI COVID-19 Alfiyanto Alfiyanto
Jurnal Seni Makalangan Vol 7, No 1 (2020): "GELIAT TARI DI BUMI TRADISI"
Publisher : Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/mklng.v7i1.1285

Abstract

ABSTRAKSituasi pandemi covid-19 mendorong kita untuk work from home dan be creative at home, termasuk “berkreativitas di rumah saja”. Bagi kebanyakan seniman, termasuk para pelaku tari, situasi ini justru semakin menyalakan kreativitas. Secara faktual, hanya media virtual yang menjadi tempat penyaluran kreativitas. Kreativitas[PO1]  tari ini sebagai aksi sensitifitas tubuh, rasa, dan pikiran mencoba mengangkat kegelisahan anak-anak dan ibu- ibu yang “terpinggirkan” dari kampungnya sendiri, akibat dari gelombang perubahan kampung jadi kota. Penderitaan mereka semakin bertambah akibat situasi pandemi COVID-19 saat ini. Untuk mewujudkan karya tersebut, penulis melakukan pendekatan ekokultural dengan menggunakan metode ketubuhan wajiwa. Adapun hasil yang dicapai adalah sebuah karya seni tari kontemporer, dengan hasil akhirnya berupa video tari yang diunggah keruang virtual dalam bentuk dance virtual performance.Kata Kunci: Koreografi, Kreativitas, Covid-19, Video Tari.  ABSTRACTCiganitri Children and Mothers” a Creative Process of Virtual Dance in the Period of Covid-19 Pandemic, June 2020. The covid-19 pandemic situation is driving us to work from home and to be creative at home, including "just being creative at home". For most artists, including dance performers, this situation actually ignites creativity. Factually, virtual media is the only tool to express creativity. The dance creativity as a sensitivity action of the body, feeling, and mind tries to raise the anxiety of children and mothers who are "marginalized" from their own village, as a result of the wave of village  to city change.  Their suffering  has  increased  because of the  current  situation of the COVID-19 pandemic. To realize this work, the author takes an eco-cultural approach by using the wajiwa body method. The result achieved is a contemporary dance work, with the final result is a dance video uploaded to a virtual space in the form of a dance virtual performance.Keywords: Choreography, Creativity, Covid-19, Dance Video. [PO1]Kreativitas

Page 7 of 20 | Total Record : 192


Filter by Year

2014 2025