cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 384 Documents
Ekspresi Epidermal Growth Factor Reseptor (EGFR) dan B-Cell Leukemia/Lymphoma-2 (BCL-2) pada Subtipe Histopatologik Karsinoma Sel Basal nurlela nurlela; Delyuzar Delyuzar; tengku ibnu alferraly
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.547 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel basal (KSB) adalah tumor ganas pada kulit yang berasal dari sel-sel primordial pluripotensial di lapisan basal epidermis, dapat juga berasal dari selubung luar folikel rambut atau kelenjar sebasea, atau adneksa kulit lainnya. KSB merupakan jenis kanker terbanyak pada kulit dan keganasan tersering pada manusia. Penelitian yang telah dilakukan untuk melihat adanya kecenderungan faktor risiko rekuren dan perkembangan terapi target, dengan beberapa petanda biologik seperti epidermal growth faktor reseptor (EGFR) dan B-cell leukemia/lymphoma-2 (BCL-2) pada KSB. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi EGFR dan BCL-2 pada subtipe histopatologik karsinoma sel basal.MetodePenelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin yang didiagnosa sebagai KSB. Sejumlah 40 sampel terdiri dari mikro-nodular 17 sampel, nodular 12 sampel, infiltrating 4 sampel, pigmented 4 sampel, superfisial 2 sampel dan basoskuamous 1 sampel. Seluruh sampel dipulas dengan immunohistokimia dengan antibodi primer anti EGFR dan BCL-2 dan dilakukan interpretasi dengan menilai intensitas dan kuantitas tampilan warna pada sel tumor.HasilPada 20 sampel EGFR dengan ekspresi lemah, dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 lemah dan 20 sampel dengan ekspresi EGFR kuat dijumpai 12 sampel (60%) juga menunjukkan ekspresi BCL-2 kuat. Hasil ekspresi EGFR dan BCL-2 terdapat kesesuaian yang dianalisis dengan uji McNemar.KesimpulanHasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesesuaian ekspresi antara EGFR dan BCL-2 yang signifikan dengan (p-value <0,001) pada penderita KSB.
Analisa Imunoekspresi Extracellular Matrix Metalloproteinase Inducer (EMMPRIN) pada Karsinoma Sel Ginjal Subtipe Sel Jernih yang Telah Metastasis dan Tidak Bermetastasis Hasna Dewi; Abdul Hadi Hassan; Bethy Suryawati Hernowo
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.897 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma sel ginjal subtipe sel jernih (KSGSJ) merupakan keganasan epitelial terbanyak dari seluruh kejadian karsinoma sel ginjal, yang insidensinya menunjukkan peningkatan, dengan angka mortalitas yang masih tinggi. Prognosis KSGSJ akan menurun pada kasus-kasus yang telah bermetastasis. Tujuan penelitian ini untuk melihat peranan penanda molekuler extracelluler matrix metalloproteinase inducer (EMMPRIN) dalam hubungannya dengan kejadian metastasis pada KSGSJ. MetodePenelitian ini dilakukan secara cross sectional analitic terhadap 36 kasus KSGSJ di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang terdiri atas 18 kasus kelompok non metastasis dan 18 kasus kelompok metastasis. Pemeriksaan semikuantitatif berupa skor imunoreaktif imunohisitokimia EMMPRIN dilakukan terhadap semua kasus.HasilPenelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara skor imunoreaktif EMMPRIN pada kelompok KSGSJ metastasis dan non metastasis (p=0,001; OR=34 (3,611-320,10).KesimpulanBerdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa semakin kuat imunoekspresi EMMPRIN, semakin besar kemungkinan terjadinya metastasis pada KSGSJ.
Ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor dan Peningkatan Microvessel Density pada Karsinoma Nasofaring Tidak Berkeratin Muina Muina; Salmiah Agus; Sukri Rahman
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.179 KB)

Abstract

Latar belakangKarsinoma nasofaring (KNF) tidak berkeratin mempunyai prognosis yang buruk. Vascular endothelial growth factor (VEGF) merupakan biomolekuler penanda progresivitas pada KNF sehingga ekspresi VEGF ini digunakan sebagai marker biologis terapi target. VEGF berperan penting pada angiogenesis yang terlihat dengan peningkatan microvessel density (MVD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ekspresi VEGF dan MVD pada KNF tidak berkeratin.MetodePenelitian analitik dengan menggunakan desain potong lintang komparatif pada 44 sampel blok parafin penderita KNF tidak berkeratin, didapatkan masing-masing 22 blok parafin subtipe tidak berkeratin berdiferensiasi dan yang tidakberdiferensiasi. Masing-masing sampel dilakukan pemeriksaan ekspresi VEGF dan CD31 dengan metode pewarnaan imunohistokimia Labeled Streptavidin Biotin Complex dilakukan dengan prosedur manual. Antibodi primer yang digunakan adalah VEGF dan CD31 dari Dako, Glostrup, Denmark. Data dianalisis dengan uji statistik chi-square.HasilEkspresi VEGF ditemukan sebesar 68,2%. Pada KNF yang tidak berkeratin menunjukkan ekspresi VEGF didapatkan MVD tumor yang tinggi (66,7%). Secara statistik terdapat hubungan bermakna antara ekspresi VEGF dan MVD (p=0,001).KesimpulanEkspresi VEGF pada KNF tidak berkeratin menunjukkan peningkatan MVD
Sel Punca Kanker (Cancer Stem Cells): Sebuah tinjauan pustaka K Kartini; Jeanne Adiwinata Pawitan
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.656 KB)

Abstract

Kanker merupakan jaringan yang mengalami penyimpangan dalam pertumbuhannya dan kemungkinan terjadi sebagai respons terhadap kerusakan jaringan. Sel punca yang secara normal diperlukan dalam perbaikan jaringan yang rusak, kini dipertimbangkan memiliki peran dalam pembentukan, pertumbuhan, dan pemeliharaan tumor. Para peneliti dari kelompok tertentu menemukan bahwa suatu jenis sel punca dapat menyebabkan kanker. Pembelahan sel punca secara asimetrik merupakan syarat paling mendasar bagi perkembangan organisme multiselular. Kegagalan dalam pembelahan asimetrik dapat memicu terjadinya tumorigenesis. Proses tumorigenesis membutuhkan kondisi tambahan seperti perluasan faktor lingkungan mikro (stem cell niche) yang merupakan faktor ekstrinsik, atau mutasi sel punca sehingga tidak lagi bergantung pada niche. Sel penginisiasi kanker dikenal dengan sel punca kanker (cancer stem cells). Sel punca kanker (SPK) saat ini dilaporkan banyak ditemukan pada tumor manusia dengan menggunakan metode identifikasi yang umumnya digunakan pada sel punca normal. Penemuan tentang sel punca kanker dan karakteristiknya membawa suatu harapan baru dalam menentukan prognosis kekambuhan dan terapi kanker. Penemuan terapi anti kanker baru yang target spesifiknya adalah sel kanker yang undifferentiated dan dormant dengan dipandu oleh petanda gen SPK dalam proses terapinya, diharapkan meningkatkan angka perbaikan dalam pengobatan pasien kanker.
Hubungan Positif Derajat Diferensiasi dengan Ekspresi p53 pada Karsinoma Payudara Invasif Tipe Tidak Spesifik diah widityasari; moestikaningsih Moestikaningsih; AAA Ngurah Susraini
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.382 KB)

Abstract

Latar belakangDerajat diferensiasi dan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik merupakan faktor prognosis, namun hubungan antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 masih kontroversi. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan positif antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik dan untuk mengetahui komponen parameter derajat diferensiasi yang dominan dalam menentukan ekspresi p53.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang. Sampel penelitian adalah sediaan blok parafin karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik derajat diferensiasi I, II dan III di Bagian/SMF Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar dari tanggal 1 Januari 2012 sampai dengan 31 Desember 2014 dan dilakukan pulasan imunohistokimia dengan antibody pimer anti p53. Hasil penelitian dianalisis dengan uji Spearman dan uji regresi logistik dengan tingkat kemaknaan (α) pada p <0,05.HasilSampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi berjumlah 47 sampel yang terdiri atas 11 derajat diferensiasi I, 18 derajat diferensiasi II dan 18 derajat diferensiasi III. Dari 16 kasus ekspresi p53 yang positif didapatkan terbanyak pada derajat diferensiasi III. Berdasarkan uji korelasi Spearman didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 pada karsinoma payudara invasif tipe tidak spesifik (r=0,387; p=0,007; p<0,05). Didapatkan pleomorfi inti dan hitung mitosis sebagai faktor yang dominan dalam menentukan ekspresi p53. Pada pleomorfi inti dan hitung mitosis didapatkan hasil yang bermakna, masing-masing dengan (p=0,049 dan p=0,045) sedangkan untuk faktor pembentukan tubul didapatkan hasil yang tidak bermakna (p=0,842). Dengan uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara derajat diferensiasi dengan ekspresi p53 (p=0,007). Kemudian dilakukan uji regresi logistik didapatkan pleomorfi inti dan hitung mitosis merupakan komponen parameter yang dominan dengan masing-masing nilai p=0,049 dan p=0,045.KesimpulanHasil penelitian menunjukkan bahwa ekspresi p53 yang kuat secara statistik berhubungan dengan derajat diferensiasi yang tinggi, dan komponen parameter derajat diferensiasi yang dominan adalah pleomorfi inti dan hitung mitosis. Berdasarkan hal ini, maka p53 dapat digunakan sebagai petanda biologik untuk menentukan keputusan klinis yang berhubungan dengan prognosis.
Hubungan Ekspresi NFκβ/p65 dan HIF-1α pada Karsinoma Tiroid Papiler dan Karsinoma Tiroid Folikuler Dian Eskaningrum; Willy Sandhika
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.088 KB)

Abstract

Latar belakangInflamasi dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker tiroid. Karsinoma tiroid memiliki insiden yang cukup tinggi yaitu 95% dari seluruh kanker endokrin. Telah lama diketahui bahwa ada perbedaan patogenesis antara karsinoma tiroid papiler (KTP) dan karsinoma tiroid folikuler (KTF), tetapi diduga kedua karsinoma tiroid dipengaruhi oleh inflamasi dan hipoksia. Nuclear Factor-kappa B (NFκB/p65) merupakan faktor transkripsi yang memainkan peran utama dalam inflamasi, regulasi apoptosis, dan respon imun. Respon hipoksia pada sel dan jaringan dimediasi oleh faktor transkripsi hypoxia-inducible factor (HIF), yang berperan dalam perubahan metabolik sehingga mendorong adaptasi seluler pada kadar oksigen rendah. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.MetodePenelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dilakukan pada sampel blok parafin spesimen operasi penderita KTP dan KTF di Departemen Patologi Anatomik RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 1 Januari 2012-31 April 2016. Sampel diambil secara random sampling. Pada kelompok KTP 15 sampel dan KTF 13 sampel selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia dengan NFκB/p65 dan HIF-1α. Hasil penelitian dianalisis statistik dengan uji Mann-Whitney.HasilEkspresi NFκB/p65 pada KTP dan KTF tidak didapatkan perbedaan yang signifikan sedangkan ekspresi HIF-1α pada KTP dan KTF didapatkan perbedaan yang signifikan dan terdapat hubungan signifikan antara ekspresi NFκB/p65 dan HIF-1α pada KTP dan KTF.KesimpulanEkspresi NFκB/p65 dan HIF-1α dapat menunjukkan hubungan antara KTP dan KTF.
Halaman Redaksi & Daftar Isi Redaksi Redaksi
Majalah Patologi Indonesia Vol 27 No 3 (2018): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.302 KB)

Abstract

Halaman Redaksi & Daftar Isi MAJALAH PATOLOGI INDONESIAIndonesian Journal of Pathology
Korelasi Ekspresi p16 dengan Lesi Prakanker dan Karsinoma Sel Skuamosa Serviks Uteri Dina Ekawati; Wrednindyatsih Wrednindyatsih; Nursanti Apriyani
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.904 KB)

Abstract

Latar belakangKanker serviks merupakan keganasan keempat terbanyak pada wanita di seluruh dunia, sedangkan diIndonesia merupakan kanker terbanyak kedua setelah kanker payudara. Patogenesis kanker serviks dikaitkandengan infeksi human papillomavirus (HPV). Kanker serviks berkembang secara bertahap, diawali lesiprakanker yang memerlukan waktu 10-15 tahun sampai menjadi karsinoma invasif. Untuk membantumenegakkan diagnosis suatu lesi prakanker (LSIL dan HSIL) serta KSS pada hasil biopsi yang meragukandapat digunakan penanda p16. Pemeriksaan imunohistokimia p16 memiliki sensitifitas dan spesifisitas yangtinggi terhadap diagnosis lesi HPV resiko tinggi dan akan menunjukkan ekspresi berlebihan p16. Tujuanpenelitian ini untuk menganalisis korelasi ekspresi p16 pada lesi prakanker dan KSS.Metode.Penelitian ini bersifat observational analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah blokparafin sediaan LSIL, HSIL dan KSS yang tersimpan di Departemen Patologi Anatomik RSUP Dr. Moh. HoesinPalembang periode 1 Mei 2014 sampai dengan 31 April 2017. Dari masing-masing kasus diambil 12 sampel.Slaid dari blok parafin yang memenuhi kriteria dilakukan pulasan imunohistokimia menggunakan antibodi p16.Perbedaan ekspresi p16 pada LSIL, HSIL dan KSS dianalisis menggunakan uji chi-square.Hasil.Usia terbanyak pasien LSIL adalah 30-40 tahun dan KSS adalah 51-60 tahun. Analisis statistik ekspresi p16antara LSIL, HSIL dan KSS menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05). Seluruh kasus KSS dan HSILmenujukkan ekspresi p16 sedang sampai kuat, sedangkan kasus LSIL menunjukkan ekspresi p16 yang lemah.Kesimpulan.Ekspresi p16 meningkat pada lesi HSIL dan KSS. Ekspresi p16 antara lesi prakanker (LSIL dan HSIL) dan KSSmenunjukkan korelasi bermakna.
Peran Imunoekspresi Bcl-2 pada Derajat Histopatologik dan Kedalaman Invasi Miometrium pada Karsinoma Endometrium Tipe I Linna Chandra; Salmiah Agus; Pelsi Sulaini
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.348 KB)

Abstract

Latar belakangDerajat keganasan dan kedalaman invasi pada karsinoma endometrium merupakan faktor penting dalammenentukan prognosis dan stadium. Saat ini, telah banyak ditemukan penelitian molekuler yang berhubungandengan karsinogenesis karsinoma endometrium, antara lain Bcl2 yang merupakan protoonkogen yangmenghambat kematian sel terprogram (apoptosis). Peranan Bcl-2 terhadap karsinogenesis karsinomaendometrium belum jelas. Overekspresi Bcl-2 memainkan peranan penting pada karsinogenesis danprogresifitas karsinoma endometrium.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross sectional comparative terhadap42 spesimen hasil operasi histerektomi total di Laboratorium Patologi Anatomik Sumatera Barat periode 2011-2014. Pemeriksaan ulang preparat HE dilakukan untuk menilai jenis histologik, derajat keganasan, dankedalaman invasi. Ekspresi Bcl-2 dinilai dari pulasan imunohistokimia meggunakan antibodi monoklonal.Hasilnya dibandingkan dengan derajat keganasan dan kedalaman invasi. Hubungan antara ekspresi Bcl-2dengan derajat keganasan dan kedalaman invasi dianalisa menggunakan uji chi-square dan dilanjutkan denganuji Mann Withney.HasilBerdasarkan perhitungan sampel didapat sampel sebanyak 42, terdiri atas 14 sampel derajat 1, 19 sampelderajat 2, 9 sampel derajat 3, 6 sampel invasi <½ ketebalan miometrium, dan 36 sampel invasi ≥½ ketebalanmiometrium. Ekspresi Bcl2 positif pada sitoplasma sebanyak 28 kasus (66,7%). Analisa statistik tidak terdapathubungan yang bermakna antara ekspresi Bcl2 dengan berbagai derajat keganasan dan kedalaman invasi padakarsinoma endometrium.KesimpulanImunoekspresi Bcl-2 menunjukkan hubungan tidak bermakna dengan derajat histopatologik dan kedalamaninvasi miometrium pada karsinoma endometrium.
Perbedaan Ekspresi Androgen Receptor (AR) pada Hiperplasia Prostat dan Adenokarsinoma Prostat Tipe Asinar Eka Novita; Agus Rizal AH Hamid; Budiana Tanurahardja
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 1 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.373 KB)

Abstract

Latar belakangBeberapa studi menyebutkan bahwa penilaian kelainan yang terjadi pada prostat adalah dengan mengukur kadar PSAdan Androgen Receptor (AR) pada setiap kasus dan dipakai sebagai evaluasi terhadap keberhasilan terapi hormonalbaik pada hiperplasia prostat/benign prostat hyperplasia (BPH) maupun adenokarsinoma prostat/adenocarcinomaprostate (CaP). PSA merupakan serine-kalikrein protease yang diproduksi oleh sel epitel prostat dengan nilai batasnormal 4 ng/ml. Peningkatan kadar serum PSA lebih dari 4-10 ng/ml, resiko kejadian kanker prostat sebesar 25%. ARberperan dalam proses pertumbuhan, diferensiasi dan memelihara kondisi jaringan prostat tetap normal. Penelitian lainmenyebutkan bahwa ekspresi AR positif berhubungan erat dengan gambaran derajat dan diferensiasi tumor serta nilaiskor Gleason. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan ekspresi AR pada hiperplasia prostat danadenokarsinoma prostat.MetodePenelitian ini menggunakan metode potong lintang. Sampel penelitian didapat dari rumus besar sampel analitikkategorik tidak berpasangan terdiri atas 20 kasus hiperplasia prostat dan 25 kasus adenokarsinoma prostat tipe asinar.Dilakukan perhitungan kadar PSA pada setiap kasus dan pulasan imunohistokimia AR dan penilaian ekpresi pulasanpada inti stromal dan inti epitel dengan menggunakan histoscore (H-score).HasilTerdapat perbedaan bermakna antara kadar PSA antara hiperplasia prostat dan adenokarsinoma prostat (p=0,004).Ekspresi AR pada inti sel stromal pada hiperplasia prostat lebih tinggi dibandingkan pada adenokarsinoma prostat, danmempunyai hasil statistik yang bermakna (p=0,000). Sedangkan ekspresi AR pada inti sel epitel menunjukkan hasilyang tidak bermakna pada kedua kelompok kasus (p=0,152). Intesitas ekspresi AR pada adenokarsinoma prostatdengan skor Gleason rendah (≤7) lebih kuat dibandingkan adenokarsinoma dengan skor Gleason yang tinggi (>7).KesimpulanEkspresi AR pada inti sel stromal pada hiperplasia prostat lebih tinggi dibandingkan pada adenokarsinoma prostat.Peningkatan skor Gleason cenderung diikuti dengan penurunan intensitas ekspresi AR. Ekspresi AR pada hiperplasiaprostat dan adenokarsinoma prostat dapat digunakan dalam prognosis dan prediksi serta evaluasi keberhasilan terapihormonal.