cover
Contact Name
Jaya Pramana
Contact Email
jayapram@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
support@majalahpatologiindonesia.com
Editorial Address
Departemen Patologi Anatomik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6, Tromol Pos 3225, Jakarta 10002
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Majalah Patologi Indonesia
ISSN : 02157284     EISSN : 25279106     DOI : https://doi.org/10.55816/
Core Subject : Health,
Majalah Patologi Indonesia (MPI) digunakan sebagai wahana publikasi hasil penelitian, tinjauan pustaka, laporan kasus dan ulasan berbagai aspek di bidang patologi manusia. Tujuannya ialah menghadirkan forum bagi permakluman dan pemahaman aneka proses patologik serta evaluasi berbagai penerapan cara diagnostik sejalan dengan kemajuan perkembangan ilmu dan teknologi. Selain itu juga untuk merangsang publikasi barbagai informasi baru/mutakhir.
Articles 643 Documents
Analisis Ekspresi Cyclin Dependent Kinase (Cdk)6 dan Ki-67 pada Neoplasma Kelenjar Liur Meyta Riniastuti; Dyah Fauziah; Alphania Rahniayu
Majalah Patologi Indonesia Volume 26 No. 2, Mei 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

BackgroundBroad spectrum tumors can arise in salivary glands, giving diagnostic difficulties in some subtypes due to morphological similarities. Immunohistochemistry studies done to differentiate between benign and malignant neoplasms of salivary glands are very few, including Cdk6 and Ki-67. Cdk6’s role in tumorigenesis is halting cellular proliferation and differentiation. Ki-67 is actively expressed in proliferating cells, particularly neoplasms. The objectives are to analyze differences of Cdk6 and Ki-67 expression in benign and malignant salivary gland neoplasms and to analyze the correlation between those two proteins.MethodsThis is an analitic observational study with cross sectional design. Samples were taken proportionally, each 15 samples of benign and malignant salivary gland neoplasms, derived from pathological archives during 1 January 2011-30 June 2013 period. Immunohistochemical staining with Cdk6 and Ki-67 monoclonal antibody were performed. Differences in Cdk6 and Ki-67 expression of both groups were analyzed using Mann Whitney. The correlation between the Ki-67 and Cdk6 expression were analyzed using Spearman.ResultsThere were significant differences in the Cdk6 and Ki-67 expression between benign and malignant salivary gland neoplasms.The expressions of Ki-67 have a cut-off point of 6.50%. There was a significant correlation between Cdk6 and Ki-67 expression in the salivary gland neoplasms.ConclusionExpression of Cdk6 and Ki-67 were low at benign salivary gland neoplasms and high at malignant salivary glands neoplasms. There was significant correlation between Cdk6 expression and Ki-67 expression at benign and malignant salivary gland neoplasms. Although both could differentiate the behavior of neoplasms, Ki-67 was more reliable and applicable.
Ekspresi Matriks Metaloproteinase 9 pada Infiltrasi Karsinoma Tiroid Papiler Klasik dan Varian Folikuler Ni Wayan Armerinayanti; I Ketut Mulyadi; Luh Putu Iin Indrayani Maker
Majalah Patologi Indonesia Volume 26 No. 2, Mei 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma tiroid papiler (KTP) merupakan 80% dari seluruh karsinoma tiroid berdiferensiasi baik dengan 2 tipe paling sering yaitu KTP klasik dan KTP varian folikuler (KTPVF). Agresivitas antara kedua tipe KTP ini masih kontroversi dalam berbagai aspek klinikopatologik. Matriks metaloproteinase 9 (MMP-9) merupakan marka relevan dalam memprediksi agresivitas tumor karena mempengaruhi proses invasi dan metastasis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi MMP-9 dalam mempengaruhi luas infiltrasi KTP sehingga berkaitan dengan agresivitas KTP.MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 40 sediaan blok parafin pasien KTP Klasik dan KTPVF yang diperiksa secara histopatologi di Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/RSUP Sanglah Denpasar sejak tanggal 1 Januari 2011 sampai 30 Juni 2014. Sampel terdiri dari 10 KTP klasik intrakompartemen, 10 KTP klasik ekstrakompartemen, 10 KTPVF intra-kompartemen dan 10 KTPVF ekstrakompartemen. Selanjutnya dilakukan pulasan imunohistokimia MMP-9 pada seluruh sampel. Hasil penelitian dianalisis dengan uji one way anova dan regresi multipel ANCOVA dengan kemaknaan p<0,05.HasilTerdapat perbedaan rerata skor ekspresi MMP-9 antar keempat kelompok, di mana rerata skor ekspresi MMP-9 KTP klasik intrakompartemen 2,60±1,77; KTP klasik ekstrakompartemen 7,80 ±1,54; KTPVF intra-kompartemen 3,70±1,74 dan KTPVF ekstrakompartemen 7,00±1,80. Melalui uji one way anova terdapat perbedaan yang bermakna antara KTP intrakompartemen dengan KTP ekstrakompartemen (p<0,001). Uji regresi ANCOVA menunjukkan tidak terdapat pengaruh usia, jenis kelamin dan ukuran tumor terhadap skor ekspresi MMP-9 (p>0,05).KesimpulanPeningkatan maupun penurunan ekspresi MMP-9 mempengaruhi luas infiltrasi KTP sehingga ekspresi MMP-9 berkaitan dengan agresivitas KTP.
Hubungan Subtipe Imunofenotipik Berdasarkan Ekspresi CD56 dan CD16 dengan Ekspresi CD30 dan Ki-67 pada Limfoma Sel NK/T Ekstranodal Tipe Nasal Maris, Stephanie; Kusmardi, Kusmardi; Hardjolukito, Endang SR; Ham, Maria Francisca; Harahap, Agnes Stephanie
Majalah Patologi Indonesia Volume 26 No. 2, Mei 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangLimfoma sel NK/T ekstranodal tipe nasal (NKTCL; extranodal NK/T-cell lymphoma, nasal type) dapat dikategorikan menjadi beberapa subtipe berdasarkan ekspresi CD56 dan CD16 sesuai dengan pola perkembangan fenotip sel natural killer (NK) normal. Ekspresi CD56 banyak ditemukan pada tahap diferensiasi sel NK yang lebih awal, sedangkan ekspresi CD16 terdapat pada sel NK dengan diferensiasi yang lebih mature. Selain fenotip normal, adanya infeksi virus Epstein-Barr (EBV) sebagai etiologi NKTCL berkaitan dengan fenotip teraktivasi yang ditandai dengan ekspresi CD30, kemudian mengaktifkan jalur sinyal nuclear factor kappa beta (Nf-KB) sehingga dapat menyebabkan pertumbuhan dan proliferasi sel tumor. Pada penelitian ini diteliti hubungan antara subtipe NKTCL berdasarkan ekspresi CD56 dan CD16 dengan ekspresi CD30 serta indeks proliferasi Ki-67.MetodaPenelitian ini menggunakan metoda potong lintang. Sampel terdiri atas 32 kasus NKTCL di Departemen Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI/RSCM) periode Januari 2010 sampai April 2016. Dilakukan pulasan imunohistokimia CD16, CD30 dan Ki-67, sedangkan pewarnaan CD56 diambil dari arsip. Selanjutnya dihitung persentasis positivitas pada setiap pulasan tersebut.HasilPositivitas CD56 ditemukan pada semua kasus (100%). Positivitas CD16 sebanyak 16 (50%) kasus, positivitas CD30 sebanyak 17 (53,13%) kasus, dan indeks proliferasi Ki-67 tinggi sebanyak 16 (50%) kasus. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara subtipe NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) dengan ekspresi CD30 (p=0,723). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara subtipe NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) dengan indeks proliferasi Ki-67 (p=0,480). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara ekspresi CD30 dengan indeks proliferasi Ki-67 (p=0,723).KesimpulanSubtipe imunofenotipik NKTCL (CD56+CD16- dan CD56+CD16+) tidak berhubungan dengan fenotip teraktivasi (CD30) maupun proliferasi (Ki-67).
Hubungan Derajat Diferensiasi dan Tingkat Kedalaman Invasi Tumor terhadap Densitas Sel Limfosit T CD3+ dan Limfosit B CD20+ pada Adenokarsinoma Kolorektal Novitasari Novitasari; Ketut Mulyadi; Luh Putu Iin Indrayani Maker
Majalah Patologi Indonesia Volume 26 No. 2, Mei 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangPemahaman mengenai lingkungan mikro lokal tumor sebagai salah satu faktor prognosis dan prediktif masih perlu ditingkatkan. Salah satunya adalah respon imun adaptif in situ (intratumoral dan peritumoral). Infiltrat sel-sel imun bersifat sangat heterogen antar tipe tumor dan antar pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur densitas sel limfosit T CD3+ dan limfosit B CD20+ intratumoral dan peritumoral pada berbagai kelompok derajat diferensiasi dan tingkat kedalaman invasi tumor sebagai bukti adanya respon imun adaptif in situ pada karsinoma kolorektal (KKR).MetodePenelitian ini menggunakan metode analitik potong lintang dengan sampel sebesar 46 kasusyang kemudian dilakukan pulasan imunohistokimia CD3 dan CD20. Perbedaan ekspresi pada masing-masing kelompok dianalisis dengan uji One Way Anova dan Kruskal-Wallis, sedangkan hubunganantara variabel bebas dan tergantung dinilai dengan uji multipel regresi linear dengantingkat kemaknaan (α)=0,05.HasilHasil uji statistikmemperlihatkan perbedaan bermakna densitas sel limfosit T CD3+ intratumoral antar kelompok derajat diferensiasi (p=0,000) dan tingkat kedalaman invasi tumor (p=0,042); densitas sel limfosit B CD20+ intratumoral dengan tingkat kedalaman invasi tumor (p=0,029); dan densitas sel limfosit B CD20+ peritumoral dengan derajat diferensiasi (p=0,021) dan tingkat kedalaman invasi tumor (p=0,000). Pada uji multipel regresi linear, didapatkan hubungan yang bermakna antara derajat diferensiasi terhadap densitas sel limfosit T CD3+ intratumoral (p=0,000) dan tingkat kedalaman invasi tumor terhadap sel limfosit B CD20+ peritumoral (p=0,000).KesimpulanTerdapathubungan antara derajat diferensiasi dan tingkat kedalaman invasi tumor dengan densitas sel limfosit T CD3+ intratumoral dan limfosit B CD20+ peritumoral pada adeno-karsinoma kolorektal sebagai bukti adanya respon imun adaptif pada keganasan.
Analisis Ekspresi Estrogen Receptor (ER) dan Progesteron Receptor (PR) pada Tipe dan Grading Histopatologik Karsinoma Endometrium Causa Trisna Mariedina; Soekimin Soekimin; Delyuzar Delyuzar
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma endometrium merupakan tumor ganas organ reproduksi wanita yang paling sering dijumpai, dengan insidennya yang terus meningkat, terutama pada wanita-wanita postmenopause di negara-negara berkembang. Perkembangan karsinoma endometrium sangat erat kaitannya dengan hormon estrogen. Paparan estrogen dalam waktu panjang tanpa dihalangi efek progesteron dapat meningkatkan risiko terjadinya karsinoma endometrium. Epitel glandular endometrium merupakan lokasi keganasan yang sangat responsif terhadap hormon, dalam hal ini akan diekspresikan melalui estrogen receptor (ER) dan progesterone receptor (PR). ER dan PR yang akan berikatan dengan hormon estrogen dan progesteron pada jaringan endometrium relatif akan berkurang jumlahnya pada karsinoma endometrium, dan hilangnya reseptor-reseptor tersebut merupakan bagian dari karsinogenesis endometrium. Beberapa parameter histopatologi, seperti tipe dan grading histopatologi akan mempengaruhi ekspresi reseptor-reseptor tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi ER dan PR pada tipe dan grading histopatologik karsinoma endometrium.MetodePenelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan secara cross sectional. Sampel penelitian adalah blok parafin jaringan endometrium yang didiagnosa secara histopatologi sebagai karsinoma endometrium. Sampel dipulas dengan imunohistokimia ER dan PR. Uji statistik dilakukan untuk menganalisis ekspresi ER dan PR pada tipe dan grading histopatologik.HasilEkspresi ER pada tipe endometrioid (78,8%) dan kasus low grade (90,2%) sedang ekspresi PR pada tipe endometrioid (82,7%) dan kasus low grade (90,2%).KesimpulanEkspresi ER dan PR dapat digunakan untuk membedakan antara tipe dan grading histopatologik low grade pada karsinoma endometrium.
Hubungan Ekspresi EGFR dengan Derajat Histopatologik Karsinoma Urotelial Infiltratif Kandung Kemih Harfira Mudahar; R Zuryati Nizar
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma urotelial infiltratif kandung kemih merupakan keganasan yang cukup sering didunia, cenderung mengalami progresifitas dan rekurensi serta metastasis. Pada beberapa kasus penentuan prognosis tidak dapat menggunakan faktor prognostik konvensional saja dan ada juga kasus yang resisten terhadap pengobatan kemoterapi, maka penanda molekuler EGFR merupakan salah satu yang dapat bermanfaat dalam menentukan prognosis dan pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk menilai ekspresi EGFR pada karsinoma urotelial infiltratif kandung kemih dan menghubungkannya dengan derajat histopatologik.MetodePenelitian ini merupakan penelitian observasional. Sampel karsinoma urotelial infiltratif kandung kemih didapatkan sebanyak 36 kasus dari Laboratorium Patologi Anatomik di wilayah Sumatera Barat. Ekspresi EGFR dinilai dengan pewarnaan imunohistokimia pada membran sel dan sitoplasma, dan dilakukan uji statistik dengan Fisher's Exact Test.HasilKelompok usia terbanyak karsinoma urotelial infiltratif kandung kemih adalah 60-69 tahun dan jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki. Ekspresi EGFR ditemukan pada 31 kasus (86%) dan yang negatif 5 kasus (14%). Penelitian ini mendapatkan ekspresi EGFR dengan skor 0 (negatif) sebanyak 4 kasus pada karsinoma urotelial infiltratif derajat rendah dan 1 kasus pada karsinoma urotelial infiltratif derajat tinggi. Skor +1 didapatkan 8 kasus, semuanya adalah karsinoma urotelial infiltratif derajat rendah. Ekspresi EGFR +2 terdiri atas karsinoma urotelial infiltratif derajat rendah sebanyak 6 kasus dan karsinoma urotelial infiltratif derajat tinggi sebanyak 3 kasus. Sedangkan +3 semuanya adalah karsinoma urotelial infiltratif derajat tinggi. Ekspresi EGFR menunjukkan hubungan yang tidak bermakna dengan derajat histopatologik (p>0,05).KesimpulanEkspresi EGFR pada karsinoma urotelial infiltratif derajat rendah kandung kemih mempunyai skor yang lebih rendah dibandingkan dengan derajat tinggi. Terdapat hubungnya yang tidak bermakna antara ekspresi EGFR dengan derajat histopatologik.
Hubungan Ekspresi p53 dan Ki-67 dengan Parameter Histopato-logik yang Memprediksi Metastasis pada Karsinoma Sel Skuamo-sa Penis Romi Beginta; Budiana Tanurahardja; Maria Francisca Ham
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangPenelitian untuk mencari faktor risiko metastasis kelenjar getah bening dan prognosis pasien karsinoma sel skuamosa (KSS) penis belum sebanyak KSS pada organ lain. Penggunaan parameter patologik, ekpresi p53, dan Ki-67 yang dipakai pada penelitian ini dapat digunakan sebagai variabel penentu prognosis maupun terapi KSS penis, namun masih diperlukan data yang lebih banyak. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara ekspresi p53 dan Ki-67 terhadap parameter histopatologik yang mempengaruhi risiko metastasis.MetodeDesain penelitian merupakan studi potong-lintang dengan melakukan pulasan imunohistokimia p53 (Novocastra DO-7) dan Ki-67 (Biocare CRM 325) pada total 25 sampel KSS penis yang dikumpulkan dari arsip Departemen Patologi Anatomik FKUI-RSCM periode 2006-2013.HasilEkspresi p53 positif ditemukan pada 48% KSS penis dan ekspresi Ki-67 tinggi ditemukan pada 52% kasus. Tidak temukan hubungan yang bermakna antara ekspresi p53 dan parameter-parameter histopatologik. Didapatkan hubungan bermakna antara ekspresi Ki-67 terhadap derajat diferensiasi tumor dan adanya invasi ke uretra.KesimpulanEkspresi p53 tidak dapat digunakan sebagai faktor prediktif risiko metastasis KSS penis. Ekspresi Ki-67 secara sebagian berhubungan dengan faktor risiko metastasis KSS penis.
Hubungan Ekspresi Matriks Metaloproteinase-9 dan Tingkat Kedalaman Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Invasif Ade Fakhri; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangMatriks metaloproteinase-9 (MMP-9) merupakan salah satu anggota enzim metaloproteinase yang sering ditemukan pada adenokarsinoma kolorektal. MMP-9 mampu menghancurkan protein membrana basalis dan matriks ekstraseluler yang berperan pada invasi sel tumor. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan ekspresi MMP-9 dan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif.MetodePenelitian menggunakan 35 sampel blok parafin kasus adenokarsinoma yang telah didiagnosis pada Laboratorium Patologi Anatomik di Sumatera Barat sejak Januari 2012-Desember 2014. Ekspresi MMP-9 dinilai menggunakan pewarnaan imunohistokimia pada sitoplasma sel tumor. Ekspresi dinyatakan negatif bila <10% sel terwarnai, dan positif bila ≥10% sel terwarnai. Analisis statistik antara ekspresi MMP-9 dan kedalaman invasi dilakukan menggunakan uji chi-square.HasilEkspresi MMP-9 positif pada 28 kasus (80%) dan negatif pada 7 kasus (20%). Kelompok 1 (T1+T2) menunjukkan ekspresi positif pada 10 kasus (35,7%) dan Kelompok 2 (T3+T4) menunjukkan ekspresi positif pada 18 kasus (64,3%). Analisa statistik antara ekspresi MMP-9 dan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif menunjukkan hubungan tidak bermakna (p>0,05).KesimpulanEkspresi MMP-9 dapat digunakan untuk menentukan tingkat kedalaman invasi adenokarsinoma kolorektal invasif.
Peran Ekspresi Minichromosome Maintenance 2 (MCM-2) dan Ki-67 pada Astrositoma Dewi Astuti Kurniawati; Dyah Fauziah
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangDerajat histopatologi berdasarkan klasifikasi WHO pada astrositoma tidak cukup optimal untuk mendukung diagnosis dan prognosis karena subyektivitas penilaian gambaran histopatogi pada beberapa kasus astrositoma. Fungsi Ki-67 sebagai marker proliferasi masih memiliki keterbatasan. Sebaliknya, Minichromosome maintenance 2 (MCM-2) memiliki peran penting dalam mengontrol siklus sel, inisiasi dan elongasi replikasi DNA. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis ekspresi MCM 2 dan Ki-67 pada derajat histopatologi.MetodeRancangan penelitian yang digunakan adalah metode potong lintang. Sampel penelitian adalah semua blok parafin penderita astrositoma pada RSUD Dr Soetomo Surabaya periode 2010-2014. Pada sampel dikelompokkan berdasarkan derajat histopatologi dalam derajat II, derajat III dan derajat IV. Sampel dipulas menggunakan immunohistokimia dengan antibodi monoklonal MCM-2 dan Ki-67. Perbedaan ekspresi MCM-2 dan Ki-67 pada astrositoma derajat II, III, dan IV dianalisa statistitika menggunakan uji Kruskal-Wallis. Hubungan antara ekspresi MCM-2 dan Ki-67 pada astrositoma dianalisa menggunakan uji Spearman.HasilUji Kruskal-Wallis ekspresi MCM-2 antara astrositoma derajat rendah (II) dan derajat tinggi (III) menunjukkan perbedaan bermakna. Uji Kruskal-Wallis ekspresi Ki-67 antara astrositoma derajat rendah (II) dan derajat tinggi (III & IV) menunjukkan perbedaan tidak bermakna. Sedangkan, uji Spearman ekspresi MCM-2, Ki-67 dan derajat histopatologi astrositoma menunjukkan korelasi positif.KesimpulanEkspresi MCM-2 dapat digunakan untuk membedakan antara astrositoma derajat II dan III. Ekspresi Ki-67 dapat digunakan untuk membedakan astrositoma derajat III dan derajat IV.
Hubungan Overekspresi HER-2/neu dengan Derajat Histopato-logik dan Kedalaman Invasi Adenokarsinoma Kolorektal Nurwiyeni Nurwiyeni; Salmiah Agus
Majalah Patologi Indonesia Vol 26 No.3, September 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakangKarsinoma kolorektal adalah tumor ganas epitel kolon dan rektum, yang merupakan penyebab kematian ke-empat kanker di seluruh dunia, baik pada wanita maupun pria. Angka ketahanan hidup penderita karsinoma kolorektal rendah namun insiden meningkat dengan cepat dalam beberapa dekade terakhir. HER-2/neu adalah antigen target terapi onkologi. Penelitian ekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenokarsinoma kolorektal menunjukkan hasil yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis overekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenokarsinoma kolorektal.MetodeSampel penelitian sebanyak 46 kasus adenokarsinoma kolorektal yang diperoleh dari hasil pengangkatan jaringan, dan telah didiagnosis di Laboratorium Patologi Anatomik wilayah kota Padang. Pulasan imunohistokimia HER-2/neu dilakukan untuk memeriksa derajat histopatologik dan kedalaman invasi. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan derajat histopatologik menggunakan modifikasi klasifikasi WHO/AJCC dan kedalaman invasi berdasarkan klasifikasi TNM. Overekspresi HER-2/neu dinilai secara imunohistokimia pada membran dan sitoplasma.HasilPemeriksaan ekspresi HER-2/neu pada kedalaman invasi menunjukkan hasil positif pada 22 kasus (47,8%), yaitu 6 kasus (27,3%) derajat 1, 9 kasus (40,9%) derajat 2, 7 kasus (31,8%) derajat 3. Pemeriksaan ekspresi HER-2/neu pada derajat histopatologik menunjukkan hasil positif pada 22 kasus (47,8%), yaitu 5 kasus (22,7%) pada membran dan 17 kasus (77,3%) pada sitoplasma. Uji chi-square antara kedalaman invasi dan derajat histopatologik adenoma kolorektal menunjukkan hubungan tidak bermakna (p>0,05).KesimpulanEkspresi HER-2/neu dapat digunakan untuk membedakan kedalaman invasi dan derajat histopatologik pada adenokarsinoma kolorektal.

Filter by Year

2010 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 35 No. 1, Januari 2026 Vol. 34 No. 3, September 2025 Vol. 34 No. 2, Mei 2025 Vol. 34 No. 1, Januari 2025 Vol. 33 No. 3, September 2024 Vol. 33 No. 2, Mei 2024 Vol. 33 No. 1, Januari 2024 Vol. 32 No. 3, September 2023 Vol. 32 No. 2, Mei 2023 Vol. 32 No. 1, Januari 2023 Vol 31. No. 3, September 2022 Vol. 31 No. 2, Mei 2022 Vol 31 No 2 (2022): MPI Vol 31 No 1 (2022): MPI Vol. 31 No. 1, Januari 2022 Vol. 30 No. 3, September 2021 Vol 30 No 3 (2021): MPI Vol. 30 No. 2, Mei 2021 Vol 30 No 2 (2021): MPI Vol 30 No 1 (2021): MPI Vol. 30 No. 1, Januari 2021 Vol. 29 No. 3, September 2020 Vol 29 No 3 (2020): MPI Vol. 29 No. 2, Mei 2020 Vol 29 No 2 (2020): MPI Vol 29 No 1 (2020): MPI Vol. 29 No. 1, Januari 2020 Vol 28 No 3 (2019): MPI Vol. 28 No. 3, September 2019 Vol 28 No 2 (2019): MPI Vol. 28 No. 2, Mei 2019 Vol 28 No 1 (2019): MPI Vol. 28 No. 1, Januari 2019 Vol 27 No 3 (2018): MPI Vol 27 No.3, September 2018 Vol 27 No. 2, Mei 2018 Vol 27 No 2 (2018): MPI Vol 27 No 1 (2018): MPI Vol 27 No.1, Januari 2018 Vol 26 No 3 (2017): MPI Vol 26 No 2 (2017): MPI Vol 24 No 3 (2015): MPI Vol 24 No 2 (2015): MPI Vol 26 No.3, September 2017 Volume 26 No. 2, Mei 2017 Vol 26 No 1 (2017): MPI Volume 26 No. 1, Januari 2017 Vol 25 No 2 (2016): MPI Vol 25 No 3 (2016): MPI Vol. 25 No. 3, September 2016 Vol. 25 No. 2, Mei 2016 Vol 25 No 1 (2016): MPI Vol. 25 No. 1, Januari 2016 Vol 23 No 2 (2014): MPI Vol. 24 No. 3, September 2015 Vol. 24 No. 2, Mei 2015 Vol 24 No 1 (2015): MPI Vol. 24 No. 1, Januari 2015 Vol 23 No 3 (2014): MPI Vol 23 No 1 (2014): MPI Vol 21 No 3 (2012): MPI Vol 21 No 2 (2012): MPI Vol 21 No 1 (2012): MPI Vol 20 No 3 (2011): MPI Vol 20 No 2 (2011): MPI Vol 20 No 1 (2011): MPI Vol. 23 No. 3, September 2014 Vol. 23 No. 2, Mei 2014 Vol. 23 No. 1, Januari 2014 Vol 22 No 3 (2013): MPI Vol. 22 No. 3, September 2013 Vol 22 No 2 (2013): MPI Vol. 22 No. 2, Mei 2013 Vol 22 No 1 (2013): MPI Vol. 22 No. 1, Januari 2013 Vol. 21 No. 3, September 2012 Vol. 21 No. 2, Mei 2012 Vol. 21 No. 1, Januari 2012 Vol. 20 No. 3, September 2011 Vol. 20 No. 2, Mei 2011 Vol. 20 No. 1, Januari 2011 Vol 19 No 2 (2010): MPI Vol. 19 No. 2 (2010) Vol. 19 No. 1 (2010) Vol 19 No 1 (2010): MPI More Issue