cover
Contact Name
Jurnal Artefak
Contact Email
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalartefaksejarah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Artefak
Published by Universitas Galuh
ISSN : 23555726     EISSN : 25800027     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ARTEPAK, diterbitkan olah Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh. Jurnal ini memuat hasil penelitian atau kajian teoritis yang berkaitan dengan pengembangan dan peningkatan profesi guru IPS, kajian Sejarah Lokal & Nasional, Kebudayaan, dan Pendidikan. Diterbitkan secara berkala Dua kali dalam setahun yaitu pada Bulan April dan September.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2020): April" : 6 Documents clear
MOTIF RAGAM HIAS DAN NILAI-NILAI FILOSOFIS BATIK CIAMIS Herdiana Herdiana; Uung Runalan Soedarmo; Yadi Kusmayadi
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.088 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3366

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motif ragam hias batik Ciamis dan Nilai filosofis batik Ciamisan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode historis yang terdiri dari empat tahapan yaitu, heuristik (pengumpulan sumber), kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian ini secara garis besar menunjukan bahwa motif ragam hias pada batik Ciamis mempunyai banyak yang merupakan hasil perpaduan serta pengaruh dari kebudayaan lain. Warna batik Ciamisan semula memiliki dua jenis warna yaitu, coklat soga dan hitam dengan dasarnya putih. Namun seiring perkembangannya batik Ciamis tampil dengan beragam warna. Dari segi coraknya batik Ciamisan dipengaruhi dari lingkungan alam sekitar Ciamis. Sementara nilai filosofis pada batiknya tampil dengan jiwa masyarakat Ciamis yang tenang, ramah dan tidak bergejolak. Sedangkan dari segi nilai filosofis serta corak dan motifnya terinspirasi dari tumbuhan, hewan-hewan yang berada disekitar Ciamis, kebudayaan serta yang berkaitan dengan sejarah Ciamis atau sejarah Galuh seperti Motif Ciungwanara, Motif Onom, Motif Lepan Kukupu, dan Motif Rereng Taleus.
PENDIDIKAN PADA MASA PEMERINTAH KOLONIAL DI HINDIA BELANDA TAHUN 1900-1930 Alifia Nurhusna Afandi; Aprilia Iva Swastika; Ervin Yunus Evendi
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.803 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3038

Abstract

Pada artikel ini membahas tentang pendidikan yang dilaksanakan pemerintahan kolonial di Hindia Belanda selama tahun 1900-1930 dimana diawali karena kritik dari berbagai pihak yang kemudian memunculkan politik etis kebijakannya antara lain emigrasi, edukasi, dan irigasi kebijakan politik etis seharusnya mampu memberikan kesempatan rakyat untuk menjadi lebih sejahtera karena salah satu kebijakannya adalah edukasi dengan adanya pendidikan merupakan awal untuk perubahan dan perkembangan dalam segala aspek. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui apa yang melatarbelakangi pelaksanaan pendidikan pada masa pemerintahan kolonial tahun 1900-1930 serta pelaksanaan pendidikan pada masa pemerintahan kolonial tahun 1900-1930 Selain itu bertujuan untuk mengetahui perbedaan ataupun persamaan model pendidikan masa pemerintahan kolonial dengan sekarang, dan untuk membuka wawasan penulis serta pembaca tentang proses munculnya sistem pendidikan formal bagi masyarakat pribumi pada masa pemerintahan kolonial serta bagaimana pelaksanaanya. Untuk mengetahui yang melatarbelakangi dan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang diterapkan pemerintahan kolonial Belanda maka dalam artikel ini menggunakan metode studi pustaka dengan menelaah atau mengeksplorasi beberapa buku, jurnal, maupun dokumen baik cetak maupun elektronik yang dianggap revelan dengan kajian yang dilakukan. Hasilnya pada periode 1900 hingga 1930 pendidikan di Indonesia mengalami kemajuan dimana pendidikan yang pada awalnya dibatasi dengan kekuasaan pada waktu itu mulai melebur penduduk pribumi memiliki kesempatan untuk bisa melanjutkan ke sekolah lanjutan bahkan hingga sekolah tinggi walaupun masih terdapat pendiskriminasian selain itu juga muncul beberapa sekolah dasar berbahasa belanda bagi pribumi 1900-an anak rakyat biasa mulai dikenalkan dengan bahasa belanda di beberapa sekolah namun tetap dengan catatan setiap jenjangnya selalu ada perbedaan.This article talking about education carried out by Dutch Government in Dutch East Indies during 1900-1930 caused by criticisms from various parties that bring out ethical politic. Its policies are emigration, education, and immigration. Ethical Politic's policies should be able to give people opportunity become more prosperous, because one of the policies is education. Education is a beginning for change and development in all aspects. The purposes of this article are to find out the educational background in the 1900-1930 colonial government and the educational implementation in the 1900-1930 colonial government. Furthermore, the other purposes to find out the differences and the equations of education between during the Dutch Colonial and nowadays, and to open the readers and writer's insights about the process of the formal education system for natives during colonial and how to do it. According to those purposes, in this article the writer use literature review method by studying or exploring several books, journals, or documents wether it's printed or electronic that relevant to the study conducted. The results are, in the period 1900 until 1930 education in Indonesia progressed. Education that was intially restricted by power at that time start to dissolved. Natives had opportunity to continued to the secondary school even to the college in spite of the discrimination. Moreover, there were some elementary schools in Dutch for 1900s natives. Commoners' children began to be introduced to the Dutch language in several schools but still, in each level there were always differences.
AKTIVITAS BELAJAR MAHASISWA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (LMS) BERBASIS EDMODO DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH Iyus Jayusman; Oka Agus Kurniawan Shavab
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.392 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3180

Abstract

Berdasarkan observasi yang dilakukan peneliti di Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Siliwangi pada mata kuliah Sejarah Islam di Indonesia di semester genap tahun ajaran 2018/2019 bahwa aktivitas belajar mahasiswa masih terlihat rendah yang ditunjukan oleh mahasiswa pendidikan sejarah sebagian besar kurang memperhatikan jalannya kegiatan pembelajaran dan mengacuhkannya, seperti mengobrol, main handphone, dan lain-lain. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif. penelitian deskriptif yaitu, penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan dengan variabel yang lain. Aktivitas belajar siswa yang muncdxsilkan dari lembar observasi siswa yang meliputi beberapa indikator yang telah mampu mencapai indikator-indikator aktivitas belajar tersebut yang menghasilkan 1) Indikator  Visual dengan hasil presentase sebesar 85,3%, 2) Indikator Listening  dengan hasil presentase sebesar 82,4%, 3) Indikator Oral dengan hasil presentase sebesar 77,5% 4) Indikator Writing dengan presentase sebesar 88,2 %, 5) Indikator Mental dengan hasil presentase sebesar 80,9 &%., dan 6) Indikator Emosional dengan hasil presentase sebesar 76,5 %. Jumlah ke enam indikator tersebut dapat diakumulasikan dengan hasil presentase sebesar 81,8 % termasuk ke dalam kategori sangat tinggi.
CHRISTIAAN SNOUCK HURGRONJE DALAM DINAMIKA ISLAM DI ACEH PADA MASA KOLONIAL BELANDA Humar Sidik
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.988 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3282

Abstract

Tujuan dari penulisan artikel ini adalah mengkaji lebih dalam mengapa dipilihnya Christiaan Snouck Hurgronje dalam meneliti dan memberikan nasihat kepada pemerintah Kolonial Belanda serta bagaimana peran Snouck Hurgronje dalam perkembangan dinamika Islam di Nusantara khususnya Aceh, dengan semua nasihat-nasihat yang telah diberikannya, apakah memiliki pengaruh besar pada keberhasilan pemerintah Kolonial Belanda dalam menduduki dan menguasai Aceh yang dianggap sebagai simbol perlawanan keagamaan terlama dan paling berbahaya di wilayah Nusantara, sehingga memberikan dampak yang besar pada keuangan dan administrasi pihak Kolonial karena terus menggelontorkan dana lebih demi memasok persenjataan perang. Penelitian ini juga turut menelusuri apakah perlawanan rakyat Aceh berhenti dengan berhasil di takhlukannya Aceh oleh pihak Kolonial Belanda. Untuk menggambarkan peristiwa tersebut secara valid dan kredibel, maka peneliti menerapkan metode penelitian sejarah yang bersifat deskriptif analisis dengan instrumen utama berupa studi literatur. Metode ini terdiri dari empat tahap yaitu: pengumpulan sumber (heuristik), kritik (verifikasi), interpretasi dan penulisan (historiografi). Dari hasil penelitan tersebut ditemukan bahwa nasihat-nasihat yang diberikan oleh Snouck Hurgronje sangat berpengaruh dalam menaklukan Aceh, karena latar belakang yang ia miliki. Selain itu sebelumnya Snouck juga telah melakukan penelitian terhadap umat muslim baik di Aceh, Nusantara maupun Timur Tengah sehingga nasihat yang ia berikan tepat dan mampu membuat Aceh menjadi terpecah belah dari dalam dengan memanfaatkan para Uleebalang yang takut kehilangan jabatan dan kedudukan ditengah masyarakat Aceh. Hasilnya hal tersebut berdampak kepada takhluknya Aceh di Tangan Pemerintah Kolonial Belanda. Kemudian nasihat yang diberikan oleh Snouck Hurgronje mulai berganti menjadi lebih lembut dan manusiawi dengan tujuan merebut hati dan simpati rakyat Aceh. Walaupun begitu dinamika Islam di Aceh dengan semangat jihad dan perlawanan terhadap bangsa kafir Belanda terus dilakukan dibeberapa tempat. The purpose of writing this article is to examine more deeply why the choice of Christiaan Snouck Hurgronje in researching and giving advice to the Dutch colonial government and how Snouck Hurgronje's role was in the development of Islamic dynamics in the archipelago, especially in Aceh, with all the advice he had given, did it have a large influence on the success of the Dutch Colonial government in occupying and controlling Aceh which was considered as the longest and most dangerous symbol of religious resistance in the archipelago, thus giving a large impact on the financial and administrative side of the Colonial side as it continued to pour more funds in order to supply war weapons. This research also explores whether the resistance of the people of Aceh stopped successfully in the conquest of Aceh by the Dutch Colonial side. To describe these events in a valid and credible manner, the researchers applied a descriptive historical research method of analysis with the main instrument in the form of a literature study. This method consists of four stages: collecting sources (heuristics), criticism (verification), interpretation and writing (historiography). From the results of the research it was found that the advice given by Snouck Hurgronje was very influential in conquering Aceh, because of his background. In addition, Snouck had previously conducted research on Muslims both in Aceh, the Archipelago and the Middle East so that the advice he gave was appropriate and able to make Aceh divided from within by utilizing the Uleebalang who were afraid of losing positions and positions among the people of Aceh. The result was an impact on the emergence of Aceh in the hands of the Dutch Colonial Government. Then the advice given by Snouck Hurgronje began to change to become more gentle and humane with the aim of winning the hearts and sympathies of the people of Aceh. Even so the dynamics of Islam in Aceh with the spirit of jihad and resistance to the Gentile nation continued in several places.
TRADISI OROM SASADU DALAM SUKU SAHU TALAI DI WORAT-WORAT Gomer Rionaldo Sipondak; Jamin Safi; Suharlin Ode Bau
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.873 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3337

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang tradisi orom sasadu di Desa Worat-Worat, prosesi tradisi orom sasadu suku Sahu Talai di Desa Worat-worat, serta makna dan nilai tradisi orom sasadu dalam suku Sahu di Desa Worat-Worat. Metode yang duganakan adalah metode kualitatif tipe fenomenologi. Hasil penelitian menunjukan bahwaprosesi upacara adat yang dilaksanakn pada masa ini juga memberi kesan kepada masyrakat Worat-Worat untuk selalu bersyukur atas hasil alam tersebut dalam prosesi upacara adat sehingga prosesi ritual adat orom sasadu patut dilestarikan. Prosesi ritual adat orom sasadu meliputi masa persiapan, yaitu dilaksanakan pertemuan-pertemuan adat antara masyarakat, kepala desa serta perangkat adat untuk membahas waktu pelaksanaan tradisi ritual adat orom sasadu. Pembukaan yakni menggantungkan kain putih berbentuk segi tiga mengelilingi sasadu dan pengibaran bendera induk. Pelaksanaan, yaitu makan secara bersama-sama sebagai wujud ucupan syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang ada. Serta penutupan, yakni penurunan bendera induk (paji) di bumbungan rumah adat dan melepaskan kain putih yang berbentuk segi tiga dengan dilepaskannya kain putih berbentuk segi tiga yang digantung mengililingi sasadu, maka acara makan bersama di rumah adat atau orom sasadu dinyatakan berakhir dan masyarakat suku Sahu kembali ke kegiatan rutin keseharian mereka. Melalui orom sasadu, masyarakat Worat-worat juga diajarkan untuk memaknai hubungannya dengan lingkungan alam sekitar, hubungan sesama manusia, dan relasi deng yang Maha Kuasa. Nilai yang terkandung dalam tradisi orom sasadu yakni nilai sosial, nilai moral, nilai kebersamaan atau gotong royong, dan nilai religius. Tradisi orom sasadu perlu dilestarikan karena dibalik prosesi upacara adat tersebut tersimpan makna dan nilai yang baik.
DINAMIKA BUDAYA DAN SOSIAL DALAM PERADABAN MASYARAKAT SUNDA DILIHAT DARI PERSPEKTIF SEJARAH Yat Rospia Brata; Yeni Wijayanti
Jurnal Artefak Vol 7, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.366 KB) | DOI: 10.25157/ja.v7i1.3380

Abstract

The present study aims to uncover the historical development of Sundanese people’s local entities of cultural and social dynamics from the old and recent frame and its relationship with current trends of “life” digitalization. Local wisdom growing in Sundanese social structure reflects its cultural and social identities of people as each time period indicates. Culturally, life constructs of Sundanese people refers to the Kagaluhan values that promote high civilization as reflected from arts, musical, and local traditional performances such as dances and puppets, which suggest uniquely genuine local identities. Socially, the Sundanese’s people ways of Socializing process proved egalite. The study include steps of data collection through analyzing historical sites, artefacts, and documents, and interpreting them with reference to the civilization process of each time. Moreover, the analysis of both dynamics is also encountered by the reality of current trend of disruption of digital era. The study shows that Sundanese people’cultural and social constructs represent high quality of meaningful life.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perkembangan  sejarah budaya dari entitas lokal masyarakat Sunda dan dinamika sosial budaya dari sudut pandang masa lampau dan masa kini serta hubungannya dengan tren saat ini yaitu digitalisasi "kehidupan". Kearifan lokal yang berkembang dalam struktur sosial masyarakat Sunda mencerminkan identitas budaya dan sosial masyarakatnya seiring berjalannya waktu. Dari sudut pandang budaya, tatanan kehidupan masyarakat Sunda  mengacu pada nilai Kagaluhan yang mempromosikan peradaban tinggi yang tercermin dari seni, musik, dan pertunjukkan tradisi lokal seperti tarian dan wayang, yang menunjukkan identitas lokal asli dan unik. Dari sudut pandang sosial, cara masyarakat Sunda dalam proses sosialisasi membuktikan bahwa mereka adalah kaum egaliter. Kajian ini mencakup beberapa langkah pengumpulan data seperti menganalisis situs sejarah, artefak, dan dokumen, dan serta menafsirkannya dengan mengacu pada proses peradaban tiap-tiap jaman. Selain itu, analisis masing-masing dinamika juga dihadapkan pada realitas adanya tren masa kini berupa “gangguan” di era digital ini. Kajian ini menunjukkan bahwa budaya dan tatanan masyarakat Sunda merepresentasikan tingginya kualitas kehidupan yang bermakna.

Page 1 of 1 | Total Record : 6