cover
Contact Name
Husnun Amalia
Contact Email
husnun_a@trisakti.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jbiomedkes@trisakti.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biomedika dan Kesehatan
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 2621539x     EISSN : 26215470     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Biomedika dan Kesehatan is an official publication of Faculty of Medicine Trisakti University. Jurnal Biomedika dan Kesehatan is a third-monthly medical journal that publishes new research findings on a wide variety of topics of importance to biomedical science and clinical practice. Jurnal Biomedika dan Kesehatan online contains both the current issue and an online archive that can be accessed through browsing, advanced searching, or collections by disease or topic.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 1 (2018)" : 14 Documents clear
Persepsi tubuh negatif meningkatkan kejadian eating disorders pada remaja usia 15-19 tahun Rachmannisa Shauma Aghna Syifa; Pusparini Pusparini
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.18-25

Abstract

LATAR BELAKANGEating disorders (gangguan makan) adalah suatu sindrom yang ditandai oleh pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik psikologik yang berhubungan dengan makan, persepsi tubuh, dan berat badan. Pengaruh media massa dan tekanan dari sosiokultural bahwa seseorang bertubuh kurus adalah yang paling menarik dapat membuat seorang remaja memiliki persepsi tubuh negatif yang dapat memicu terjadinya eating disorders. Dalam satu dekade terakhir, prevalensi eating disorders di Asia Tengggara mengalami peningkatan dari 0,46% menjadi 3,2% Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara persepsi tubuh dengan eating disorders pada remaja usia 15-19 tahun. METODEPenelitian ini dilakukan pada bulan November 2017 menggunakan desain observasional analitik secara potong lintang (cross-sectional) yang mengikutsertakan 201 siswa SMA Global Islamic School, Jakarta Timur. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling, dan pengukuran meliputi status gizi (antropometri, Indeks Massa Tubuh), persepsi tubuh (Contour Drawing Figure Rating Scale) dan eating disorders (Eating Disorders Diagnostic Scale). Analisis data menggunakan Chi-Square dengan tingkat kemaknaan sebesar 0,05. HASILMayoritas responden mempunyai persepsi tubuh yang negatif (70,6%). Responden yang mengalami eating disorders sebesar 52,7%. Responden yang memiliki persepsi tubuh negatif sebagian besar mengalami eating disorders (66,2%). Analisis Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara persepsi tubuh dengan eating disorders (p=0,000). KESIMPULANTerdapat hubungan yang bermakna antara persepsi tubuh dan eating disorders. Perlu penanganan terhadap persepsi tubuh negatif sedini mungkin untuk mencegah terjadinya eating disorders pada remaja.
Tidak terdapat hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah pada lanjut usia di panti sosial Via Anggraeni; Maria Regina Rachmawati
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.101-108

Abstract

LATAR BELAKANGSeiring dengan meningkatnya jumlah lansia di Indonesia, semakin banyak lansia yang berisiko terhadap penyakit degeneratif salah satunya adalah Diabetes melitus (DM). Jenis DM lebih sering ditemukan yaitu 85- 90% dari total penderita DM. Faktor resiko DM tipe 2 pada lansia yaitu antara lain aktivitas fisik rendah, pola makan tinggi karbohidrat, gaya hidup dan obesitas. Aktivitas fisik adalah salah satu yang memungkinkan untuk dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia. METODEPenelitian dilakukan terhadap 86 orang lansia, berusia 60 -74 tahun. Dilakukan pada bulan Agustus - Oktober tahun 2017 di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2, Cengkareng, Kota Jakarta Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan potong silang (cross sectional). Variabel yang dinilai adalah tingkat aktivitas fisik yang dinilai menggunakan IPAQ, serta kadar gula darah puasa yang dinilai menggunakan ACCU-chek. Data yang didapatkan dianalisis dengan uji korelasi Spearman. HASILHasil penelitian di dapatkan dari 86 responden dengan rerata usia 66.71, rerata berjenis kelamin laki-laki, rerata kadar gula darah 81.85, rerata tingkat aktivitas fisik 332.53. Hasil uji korelasi spearman menyatakan tidak terdapat korelasi antara aktivitas fisik dan kadar gula darah puasa pada lansia (r= -0.134)(p = 0.220) dimana nilai p> alpha 0,05.. KESIMPULANBerdasarkan hasil penelitian, rerata kadar gula darah puasa pada lansia di panti adalah normal, rerata tingkat aktivitas fisik adalah aktif minimal, dan tidak terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa pada lansia di panti jompo PSTW Budi Mulya 2.
Pengetahuan tentang osteoporosis yang rendah menurunkan konsumsi susu pada murid SMA Intan Aru Palaka; Adi Hidayat
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.35-42

Abstract

BACKROUND Milk is also a main source of calcium and phospor that very important for bone formation. Milk is very good to consumed for adolesence, because there’s bone tissue development that was a preparation phase to reach the top of bone mass growth while on adolesence stage. Osteoporosis is a disease that can be marked with poor bone mass and decline the structure of bone tissue, that can lead to vulnerability of bone and increase the risk of fracture. This research aims to determine the relationship between knowledge of osteoporosis and milk consumption in senior high school students. METHODS This study was used an analytic observational with a cross-sectional design that was conducted from July to October 2017. Samples was took with cluster sampling and simple random sampling in 182 respondent in SMA Negeri 2 Mejayan. Data were collected using an osteoporosis knowledge questionnaire and a questionnaire of milk consumption behavior.The data were analyzed with Chi-Square test RESULTS Subjects with knowledge of low osteoporosis, 27 (50.0%) did not drink milk significantly higher than subjects with high osteoporosis knowledge of 5 people (3.9%). The analysis result based on Chi-Square test showed that there was a significant relationship between knowledge of osteoporosis and milk consumption in senior high school students (p = 0.000). CONCLUSION This study showed that there was a significant correlation between knowledge of osteoporosis and milk consumption insenior high school students.
Diabetes melitus meningkatkan kejadian pruritus vulva pada perempuan lanjut usia Sri Mielda Nurliani Dewi; Adi Hidayat
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.109-116

Abstract

LATAR BELAKANGPada lanjut usia (lansia) terjadi proses penuaan serta penurunan kapasitas fisik seseorang akibatnya menjadi kurang produktif, rentan, dan banyak bergantung pada orang lain. Perempuan lansia biasanya sudah mengalami menopause dan penurunan fisik berhubungan dengan perubahan hormonal. Menurunnya kadar estrogen pada menopause mengakibatkan perubahan pada vulva dan vagina yang memudahkan perempuan lansia mengalami infeksi bakterial. Women’s health initiative menunjukkan prevalensi perempuan lansia yang menderita pruritus vulva mencapai 27%. Pruritus vulva seringkali dikaitkan dengan diabetes melitus walaupun hal ini masih kontroversial. Tujuan penelitian ini untuk menentukan hubungan antara diabetes melitus dan pruritus vulva pada perempuan lansia. METODESebuah studi analisis observasional dengan pendekatan desain penelitian potong silang mengikutsertakan 197 perempuan lansia. Penelitian dilaksanakan bulan September-November 2017. Sebuah kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data mengenai usia, pendidikan, status pernikahan dan pekerjaan. Kadar gula darah sewaktu diukur menggunakan glukometer Unesco dan kuesioner digunakan untuk mengukur pruritus vulva. Analisis data dengan menggunakan uji Chi- square untuk menganalisis data dengan tingkat kemaknaan 0,05. HASILSebanyak 91,9% subjek berusia antara 60-69 tahun, 62,4% mengalami diabetes melitus (kadar gula darah sewaktu > 200 mg/dL) dan 71,9% mengalami pruritus vulva. Hasil uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara diabetes melitus dan pruritus vulva (p=0,000). KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan diabetes melitus meningkatkan kejadian pruritus vulvae pada perempuan lansia, sebaiknya dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kadar gula darah sewaktu secara berkala untuk mencegah terjadinya pruritus vulvae.
Hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja di Jakarta Barat Nadia Fernanda; Husnun Amalia
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.10-17

Abstract

LATAR BELAKANGAstenopia adalah gangguan pada indera penglihatan berupa ketidaknyamanan seperti gangguan membaca, sensitif terhadap cahaya, penglihatan kabur, diplopia dan distorsi persepsi. Salah satu etiologi astenopia adalah akomodasi insufisiensi. Penderita akomodasi insufisiensi tidak dapat mempertahankan akomodasi saat melihat dekat seperti membaca dan menulis. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan akademisnya. Sehingga pada penelitian ini ingin diketahui hubungan akomodasi insufisiensi dan astenopia. METODEPenelitian merupakan studi cross sectional dengan desain analitik observasional. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dilakukan pada 141 sampel yang didapatkan menggunakan consecutive sampling di sebuah Sekolah Menengah Atas di Jakarta Barat pada bulan Mei-Juni 2017. Pengukuran amplitudo akomodasi menggunakan Royal Air Force accommodation vergence measurement binocular Gauge. Analisis data menggunakan uji Fisher dengan tingkat kemaknaan p<0,05. HASILPrevalensi astenopia pada usia 15-17 tahun sebesar 83,7% dengan sebagian besar etiologi yang belum diketahui. Prevalensi akomodasi insufisiensi sebesar 14,2%. Pada usia tersebut ditemukan 54,2% dengan amplitudo akomodasi 20D. Pada analisis dengan menggunakan uji Fisher menunjukkan tidak terdapat hubungan antara akomodasi insufisiensi dan astenopia (p=0,197). KESIMPULANTidak terdapat hubungan yang bermakna antara akomodasi insufisiensi dan astenopia pada remaja pertengahan.
Perbandingan tingkat stres pada lansia di Panti Werdha dan lansia di keluarga Edi Santoso; Purnamawati Tjhin
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.26-34

Abstract

LATAR BELAKANGLanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun atau lebih. Perubahan fisik, mental, dan social pada lansia dapat menjadi pemicu stress, misalnya kematian pasangan, status sosial ekonomi rendah, penyakit, isolasi sosial dan tempat tinggal lansia. Prevalensi stres pada lansia di panti sosial (30%) lebih tinggi dibanding lansia yang tinggal bersama keluarga (8,34%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan tingkat stress pada lansia di panti werdha dan di keluarga. METODEPenelitian menggunakan studi deskriptif komparatif dengan desain cross-sectional, selama bulan September-Desember 2017 pada 144 lansia yang terbagi menjadi 72 orang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 2, Cengkareng Barat dan 72 orang tinggal bersama keluarga di wilayah kerja Puskesmas Grogol Petamburan Jakarta Barat. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Consecutive non-random sampling dan pengukuran tingkat stres menggunakan kuesioner Stress Assessment Questionnaire. Perbandingan tingkat stres pada lansia di kedua lokasi menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. HASILRerata usia lansia yang tinggal di panti adalah 68,81+6,72 dan yang di keluarga 67,79+3,43. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada tingkat stres lansia ditinjau dari segi usia (p=0,102) dan jenis kelamin (p=0,598). Terdapat perbedaan bermakna pada tingkat stres lansia berdasarkan tingkat pendidikan (p=0.000), status perkawinan (p=0.000), riwayat penyakit (p=0,039), dan lokasi tempat tinggal (p=0.000). KESIMPULANLansia yang pernah mengenyam pendidikan formal, masih memiliki pasangan hidup, mempunyai riwayat penyakit kurang dari 3, dan bertempat tinggal bersama keluarga cenderung memiliki tingkat stress rendah.
Hubungan kadar hemoglobin A1c dengan kualitas tidur pada pasien diabetes mellitus tipe-2 Alya Bakti Destiani; Fransisca Chondro
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.93-100

Abstract

LATAR BELAKANGDiabetes mellitus (DM) banyak dijumpai di negara berkembang, salah satunya di Indonesia. Salah satu pemeriksaan glukosa darah pada pasien DM adalah pemeriksaan kadar HbA1c yang telah terstandarisasi sesuai The Diabetes Control and Complication Trial (DCCT). Kadar HbA1c menunjukkan kadar glukosa di dalam hemoglobin pasien, sehingga kadar HbA1c yang tinggi biasanya akan disertai dengan gejala klinis DM yang semakin jelas, salah satunya poliuria. Poliuria ini dapat berpengaruh pada beberapa hal, salah satunya adalah kualitas tidur pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2. METODEPenelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel penelitian ini diambil dengan teknik consecutive non-random sampling yang berjumlah 44 responden. Data responden diperoleh melalui wawancara pengisian kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan pengambilan data HbA1c dari rekam medis. Analisis data yang diolah dengan program SPSS versi 23 ini dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji statistic Fisher. HASILPenelitian ini diikuti oleh 44 orang pasien DM tipe-2 yang memiliki hasil kadar HbA1c. Berdasarkan hasil statistik didapatkan p sebesar 0,69 dimana p>0,05 sehingga tidak terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. KESIMPULANPenelitian ini menunjukkan tidak terdapat hubungan antara kadar HbA1c dengan kualitas tidur pada pasien DM tipe-2.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Multi Drug Resistance Tuberkulosis (MDR-TB) Cynthia Devi Aristiana; Magdalena Wartono
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.65-74

Abstract

LATAR BELAKANGBerdasarkan data WHO Global Report 2016, Indonesia berada diperingkat ke-8 dari 27 negara dengan beban MDR-TB terbanyak di dunia. Terdapat 5.100 kasus MDR-TB yang terjadi di Indonesia yaitu 2,8 % dari kasus baru dan 16 % dari kasus TB yang mendapatkan pengobatan ulang. Banyaknya jumlah kasus MDR-TB yang terjadi melibatkan berbagai faktor yang terkait. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor resiko yang berpengaruh dengan MDR-TB. METODEPenelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan disain potong lintang yang dilakukan bulan November 2017-Januari 2018. Subjek penelitian adalah 88 pasien TB yang berobat di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Kecamatan Makassar, Kecamatan Pasar Rebo, dan Kecamatan Ciracas. Pengambilan data menggunakan kuisioner dan status pasien TB. Analisis data dengan menggunakan uji chi-square dan uji fisher dengan nilai kemaknaan p<0,05 serta odd ratio untuk menentukan besar risiko antara variabel bebas dan variabel terikat. HASILMotivasi penderita (p=0,000; OR=47,500), kepatuhan minum obat (p=0,000; OR=10,733), konsumsi alkohol (p=0,000; OR=9,059), Kebiasaan merokok (p=0,000; OR=7,632), dan status gizi (p=0,005; OR=3,791) mempunyai hubungan yang bermakna dengan MDR-TB. KESIMPULANFaktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya MDR-TB antara lain kepatuhan minum obat, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok dan status gizi.
Hubungan antara asma dan depresi pada dewasa muda Fathur Aulia Rahman; Erlani Kartadinata
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.43-49

Abstract

LATAR BELAKANGDepresi adalah kelainan mental yang ditunjukkan dengan afek depresif, kehilangan ketertarikan atau kesenangan, kurang bersemangat, merasa bersalah atau tidak percaya diri, gangguan tidur dan makan, dan kurangnya konsentrasi yang saat ini penyebarannya sudah cukup mengglobal. Depresi dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti riwayat psikiatrik hingga asma. Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan kesehatan mental pada penderita asma baik yang terkontrol maupun yang tidak terkontrol. Untuk dapat memahami hubungannya, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat hubungan antara asma dan depresi pada dewasa muda. METODEPenelitian menggunakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang yang mengikutsertakan 99 dewasa muda di Rumah Sakit Umum Daerah. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner yang meliputi usia, Asthma Control Test, dan Zung Self-Rating Depression Scale. Analisis data menggunakan uji Spearman. HASILPada penilaian depresi juga diketahui sebanyak 68 responden (68,7%) dikategorikan dalam kondisi normal, 30 responden (30,4%) dikategorikan dalam depresi ringan, 1 responden (1,0%) dikategorikan dalam depresi sedang, dan tidak ada responden dengan kategori depresi berat. Hasil uji statistik spearman diperoleh nilai p=0,577 dengan koefisien r=0,057 yang didapatkan angka tersebut lebih besar dari nilai α = 0,05. KESIMPULANPenelitian ini menujukkan tidak ada hubungan bermakna asma, dan depresi pada dewasa muda.
Tingkat depresi dan jenis kelamin berhubungan dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA Sari Riastiningsih; Nuryani Sidarta
Jurnal Biomedika dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/JBiomedKes.2018.v1.3-9

Abstract

LATAR BELAKANG Prevalensi penderita depresi pada usia remaja meningkat sangat tinggi dibandingkan dengan usia kanak‐kanak dan dewasa. Prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk berumur 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai 6%. Remaja rentan terkena depresi karena banyaknya proses adaptasi terhadap berbagai stressor kehidupan yang ada, bila tidak diawasi dapat menimbulkan gangguan perilaku anti sosial yang dapat menetap menjadi gangguan kepribadian antisosial pada saat dewasa. Studi ini dilakukan untuk menilai hubungan antara tingkat depresi dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA. METODE Studi ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan dari bulan Agustus hingga Desember 2017. Populasi penelitian adalah pelajar SMAN 6 Bogor dengan total sampel sebanyak 350 responden. Cara pengambilan sampel digunakan teknik Consecutive Non random sampling dan pengambilan data primer didapatkan dari pengisian kuesioner The Mansion Evaluation untuk menilai ada tidaknya perilaku anti sosial dan kuesioner Beck Depression Inventory-II guna mengukur tingkat depresi pada respondents. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan tes Chi Square guna menilai hubungan antara tingkat depresi dengan munculnya perilaku antisosial. HASIL Dari 350 responden didapatkan 193 responden (55,1%) yang mengalami depresi dari tingkat ringan sampai berat. Sebanyak 222 respoden (63,4%) memiliki kecenderungan untuk berperilaku anti sosial dan lebih banyak didapatkan pada pelajar laki-laki. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan bermakna antara tingkat depresi dengan perilaku anti sosial dimana makin tinggi tingkat depresi maka makin besar kejadian perilaku anti sosial (p value = 0,000). Selain itu didapatkan pula bahwa jenis kelamin juga memiliki hubungan bermakna dengan munculnya perilaku anti sosial (p value = 0,020). KESIMPULAN Terdapat hubungan antara tingkat depresi dan jenis kelamin dengan perilaku anti sosial pada pelajar SMA.

Page 1 of 2 | Total Record : 14