cover
Contact Name
Augusta Adha
Contact Email
augusta.adha@eng.uir.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
saintis@journal.uir.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
JURNAL SAINTIS
Published by Universitas Islam Riau
ISSN : 14107783     EISSN : 25807110     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Saintis is devoted to research on civil engineering related fields including geotechnics, transports, structures, water resources and others related with civil engineering topics.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 24 No. 01 (2024)" : 6 Documents clear
Kajian Daya Dukung Tanah Lempung Distabilisasi dengan Abu Marmer: Study of the Bearing Capacity of Stabilized Clay with Marble Ash Waruwu, Aazokhi; Celline, Felicia; Sinaga, Rionaldi; Gandawijaya, Darryl Gregory
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).12710

Abstract

[ID] Tanah dasar memiliki peranan penting dalam menjaga keamanan dan kestabilan konstruksi yang dibangun di atasnya. Tanah dasar perlu dipastikan berada di dalam kondisi yang baik dan mampu memberikan dukungan terhadap beban yang bekerja. Salah satu jenis tanah bermasalah adalah tanah lempung lunak. Tanah ini memiliki daya dukung rendah, sehingga memerlukan perbaikan sebelum pembangunan konstruksi di atasnya. Salah satu metode perbaikan tanah adalah stabilisasi. Bahan stabilisasi yang dipertimbangkan pada penelitian adalah abu marmer dari limbah marmer. Karakterisitik tanah yang ditinjau di antaranya indeks plastisitas, kepadatan, dan kohesi undrained. Indeks plastisitas tanah dapat diperoleh dengan melakukan uji Atterberg, kepadatan tanah dari uji kompaksi, dan kohesi undrained dari unconfined compression test.  Kadar abu marmer yang digunaka adalah sebesar 3%, 6%, 9%, dan 12% dari berat kering tanah dengan variasi pemeraman 1 hari, 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. Daya dukung tanah dapat dianalisis berdasarkan kohesi undrained pada setiap kadar abu marmer yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan perbaikan nilai indeks plastisitas, kepadatan, dan kohesi undrained tanah untuk setiap penambahan abu marmer, namun peningkatan yang optimal didapatkan pada penambahan 6% abu marmer dengan masa pemeraman maksimum 7 hari. Daya dukung tanah didapatkan meningkat secara maksimum pada penambahan abu marmer sebanyak 6% dan pemeraman 7 hari. [EN] Subgrade soil has an important role in maintaining the safety and stability of construction built on it. One type of problematic soil is soft clay. This land has a low bearing capacity, so it requires improvement before building on it. The aim of this research is to obtain changes in the bearing capacity of soil stabilized by marble ash. This research was carried out on soft clay soil with the addition of marble ash at 3%, 6%, 9%, and 12% of the dry weight of the soil with curing variations of 1 day, 7 days, 14 days, and 28 days. The soil characteristics reviewed include plasticity index, density, and undrained cohesion. Soil bearing capacity can be analyzed based on undrained cohesion at each level of marble ash used. The results showed an improvement in the plasticity index value from 33.82% dencreased to 7.69%; density with a dry unit weight of 1.50 gr/cm3 increased to 1.55 gr/cm3; and soil undrained cohesion increased from 0.134 kg/cm2 to 1.58 kg/cm2 due to the addition of marble ash. Optimal improvements in soil characteristics and bearing capacity were obtained by adding 6% marble ash with a maximum curing period of 7 days.
Perbandingan Efektivitas Antara Sambungan Lewatan Dan Sambungan Mekanis Tipe Coupler Pada Balok Beton Bertulang: Comparison of Effectivity Between Lap Splice and Mechanical Splice (Threaded Coupler Type) in RC Beams Wahyu Nugraha , Rizky; Jafar
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).14615

Abstract

[ID] Di dalam SNI 2052:2017, dijelaskan bahwa panjang dari tulangan beton ditetapkan dengan panjang maksimal 12 m. Ukuran standar panjang maksimal baja tulangan ini ditetapkan dengan tujuan kemudahan transportasi dan penyimpanannya. Dengan adanya ketetapan batas panjang baja tulangan, membuat kebutuhan akan panjang baja tulangan yang tepat di proyek-proyek konstruksi terkadang tidak tercukupi. Dalam mengatasi masalah ini, diperlukan sambungan tulangan dengan jenis penyambungan yang efektif serta dengan panjang penyambungan yang bisa menyalurkan beban atau tegangan yang dialami oleh satu tulangan ke tulangan yang lain. Berdasarkan permasalahan yang ada, penulis tertarik untuk meneliti perbandingan di antara dua jenis sambungan yang tersedia saat ini, yaitu jenis sambungan lewatan dan jenis sambungan mekanis. Dalam penelitian ini, perhitungan nilai panjang total penyaluran sambungan tulangan lewatan menggunakan SNI 2847:2019 sebagai acuannya. Sementara itu, desain sambungan mekanis yang dipakai merupakan jenis threaded coupler. Penelitian ini membandingkan performa kedua sambungan tersebut dalam aspek momen nominal pengujian kuat lentur dan lendutan maksimumnya. Penelitian ini menghasilkan nilai momen nominal kuat lentur sambungan lewatan dan sambungan mekanis coupler berturut-turut sebesar 33,546 kNm dan 24,246 kNm, nilai lendutan maksimum sambungan lewatan dan sambungan mekanis coupler berturut-turut sebesar 69,37 mm dan 8,689 mm. Berdasarkan hasil penelitian, ditarik kesimpulan bahwa performa sambungan lewatan lebih baik dibandingkan dengan sambungan coupler, baik dalam aspek nominal pengujian kuat lenturnya dan lendutan maksimumnya. [EN] In SNI 2052:2017, it is explained that the length of concrete reinforcement is set at a maximum length of 12 m. The standard size of the maximum length of reinforcing bar is determined with the aim of ease of transportation and storage. With the determination of the length limit of reinforcing bar, the need for the proper length of reinforcing bar in construction projects is sometimes not fulfilled. In overcoming this problem, it is necessary to splice the rebars with an effective mechanism to successfully transmit the load or stress from one rebar to another. Based on the existing problems, the author is interested in examining the comparison between the two types of splice currently available, namely the lap splice and mechanical splice coupler type. In this study, the estimation of the the total lapped length followed SNI 2847:2019 as a reference. This study compares the performance of the two splicing method in terms of the nominal moment aspects of their flexural strength testing, their maximum deflection, and the costs that need to be incurred in their use. This research showed the nominal bending moment values of lap splice and mechanical splice were 33,546 kNm and 24,246 kNm, respectively; the maximum deflection measured were 69,37 mm and 8,689 mm respectively. Based on the results of the study, it can be concluded that the performance of the lap splice is better than the mechanical splice coupler type, both in the nominal aspect of the flexural strength test and the maximum deflection. The reason is the section area of rebar was deducted subjected to the splicing process.
Pemetaan Daerah Rawan Ancaman Banjir di Area Kabupaten Kampar Dengan Menggunakan GEE (Google Earth Engine): Analysis of Flood Inundation Areas In Kabupaten Kampar Using GEE (Google Earth Engine) Pratama, Deni; Sutikno, Sigit; Yusa, Muhamad
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).15487

Abstract

[ID] Kabupaten Kampar merupakan salah satu wilayah yang sering mengalami banjir, yang diakibatkan meluapnya sungai Kampar. Sepanjang tahun 2011 – 2017 tercatat paling sedikit telah terjadi bencana banjir 1 (satu) kali dalam setahun. Untuk meminimalisir dampak kejadian banjir, maka perlu dilakukan mempelajari karakteristik curah hujan secara temporal maupun spasial. Hal ini penting sebagai informasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi dampak curah hujan ekstrim pada waktu dan lokasi tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi spatio-temporal yang ekstrim dari curah hujan di Kabupaten Kampar yang sering menyebabkan banjir. Namun untuk mengidentifikasi ciri – ciri hujan, penelitian ini menggunakan CHIRPS (Climate Hazards InfraRed Precipitation dengan Station) data satelit karena data observasi data curah hujan di Station Klimatologi Riau tidak tersedia 2012. Hasil identifikasi menunjukan bahwa korelasi ( R ) nilai antara data observasi curah hujan dan data satelit CHIRPS adalah 0.526.  Nilai ini adalah diartikan “sedang” untuk dijadikan alternatif data kajian. GEE (Google Earth Engine) sebagai platform berbasis cloud digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik temporal diketahui curah hujan ekstrim terjadi di bulan Januari, Juni, Agustus dan November. Hasil identifikasi spasial menunjukan bahwa wilayah tersebut mempunyai rata – rata curah hujan maksimum tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Koto Kampar Hulu 40.01 mm/hari. Ini dapat dipastikan dengan melihat dokumentasi kejadian banjir yang sering terjadi di wilayah tersebut. [EN] Kampar Regency is one of the areas that frequently experiences flooding, which is caused by the overflowing of the Kampar River. Throughout 2011 - 2017, it was recorded that at least 1 (one) flood disaster occurred a year. To minimize the impact of flood events, it is necessary to study the characteristics of rainfall both temporally and spatially. This is important as information for the public to anticipate the impact of extreme rainfall at certain times and locations. This research aims to identify spatio-temporal extremes of rainfall in Kampar Regency which often cause flooding. However, to identify the characteristics of rainfall, this research uses CHIRPS (Climate Hazards InfraRed Precipitation with Station) satellite data because rainfall observation data at the Riau Climatology Station is not available in 2012. The identification results show that the correlation (R) value between rainfall observation data and CHIRPS satellite data is 0.526. This value is interpreted as "medium" to be used as an alternative study data. GEE (Google Earth Engine) as a cloud-based platform is used to identify the known temporal characteristics of extreme rainfall occurring in January, June, August and November. The spatial identification results show that this area has the highest average maximum rainfall in the Koto Kampar Hulu District area of ​​40.01 mm/day. This can be confirmed by looking at the documentation of flood events that often occur in the area.
Analisis Quantity Take Off Dengan Metode Building Information Modeling Pada Pekerjaan Struktur Gedung Poltekkes Palangka Raya : Quantity Take Off Analysis Using the Building Information Modeling in the Palangka Raya Health Polytechnic Building Structural Work Zakaria Rugas; Waluyo, Rudi; Almuntofa Purwantoro
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).16561

Abstract

[ID] Perkembangan dunia konstruksi yang semakin maju menuntut semua pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi untuk mencari solusi yang tepat dalam menyelesaikan proyek konstruksi secara efektif dan efisien. Salah satu aspek penting dalam sebuah proyek konstruksi adalah perhitungan volume, karena kesalahan dalam perhitungan ini dapat menyebabkan kerugian yang besar. Sebelum adanya metode building information modeling (BIM), metode konvensional yang umum digunakan adalah dengan menggunakan gambar CAD dan perangkat lunak Microsoft Excel untuk melakukan perhitungan volume. Namun, metode konvensional ini memakan waktu yang cukup lama karena dilakukan secara manual. Metode BIM memiliki kelebihan dalam menghemat biaya, waktu, dan tenaga karena memungkinkan perencana untuk mengelola data secara presisi dan detail dalam permodelan 3D bangunan serta menghitung quantity take off. Penelitian ini bertujuan untuk membuat model struktur 3D dan menghitung quantity take off pada volume pekerjaan dan material bangunan Gedung Poltekkes Kota Palangka Raya dengan menggunakan metode BIM. Penelitian dilaksanakan pada gedung tersebut dengan menggunakan data sekunder yang didapat dari konsultan perencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perancangan dan pemodelan bangunan menggunakan BIM dengan menggunakan perangkat lunak Autodesk Revit dapat mempermudah perancangan karena model tersebut memuat informasi dan detail tentang bangunan tersebut. Metode BIM juga mampu menghitung quantity take off hingga detail volume material. Perhitungan quantity take off dengan menggunakan metode BIM menunjukkan selisih rata-rata sebesar 11,38% dibandingkan dengan metode konvensional, membuktikan bahwa perhitungan dengan metode BIM mampu meminimalisir kesalahan perhitungan. [EN] The advancing world of construction demands all parties involved in construction projects to seek effective and efficient solutions. Volume calculation is crucial in construction projects, as errors in volume calculation can lead to significant losses. Before the advent of Building Information Modeling (BIM), the conventional method used CAD drawings and Microsoft Excel software for volume calculations, which were time-consuming due to manual processes. BIM offers advantages in cost, time, and labor savings by enabling precise data management and detailed 3D building modeling, including quantity take-off. This research aims to create a 3D structural model and calculate quantity take-off for the work volume and building materials of the Poltekkes Kota Palangka Raya Building using the BIM method. The study was conducted at the Poltekkes Kota Palangka Raya building using secondary data obtained from planning consultants. The findings indicate that designing and modeling buildings using BIM with Autodesk Revit software facilitates design processes due to the detailed information included in the model. BIM methods can accurately calculate quantity take-off, including detailed volume material calculations. Quantity take-off calculations using the BIM method showed an average difference of 11.38% compared to conventional methods, demonstrating that BIM can minimize calculation errors.
Optimalisasi Kinerja Pengolahan Sampah di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan: Analysis of Waste Processing Performance System Improvements Performance in Indralaya District, Ogan Ilir Regency, South Sumatera Dianita, Tri; Fitriani, Heni; Wardhani, Puteri Kusuma
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).16693

Abstract

[ID] Sampah merupakan sisa kegiatan manusia yang harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan permasalahan bagi kehidupan manusia atau lingkungan. Pengelolaan sampah yang tidak berbasisi 3R, minimnya armada angkutan, serta banyak terdapat tempat pembuangan sampah ilegal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja serta mengoptimalisasi kinerja pengelolaan sampah di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Jumlah penduduk di Kecamatan Indralaya mencapai 20.913 jiwa pada tahun 2022. Pengukuran pengelolaan sampah meliputi aspek operasional, kelembagaan, pembiayaan, regulasi, dan partisipasi masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kinerja pengelolaan sampah kepada total 100 responden di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir. Kuesioner terdiri dari 5 kategori variabel dan 18 item subvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pengelolaan sampah dipengaruhi oleh peralatan pengangkutan dan pengolahan sampah. Keterbatasan ini sangat berpengaruh sehingga perlunya memperbanyak jumlah armada serta waktu ritasi pengangkutan dilaksakanan tidak pada jam padat kendaraan seperti pagi hari dan di sore hari. Kinerja pengelolaan sampah di Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, diperlukan strategi pengumpulan sampah berbasis 3R (Reuse Reduce Recycle) agar sampah yang ada bisa dioptimalkan dengan baik, untuk menciptakan kondisi yang strategis dan efisien. [EN] Waste is the remaining part of human activities that must be managed properly to avoid problems for human life or the environment. Waste management is not based on 3R, there is a lack of transportation fleet, and there are many illegal waste dumps. This research aims to analyze the factors that influence performance and optimize waste management performance in Indralaya District, Ogan Ilir Regency. The population in the Indralaya Sub-district reached 20,913 people in 2022. Waste management measurement includes operational, institutional, financing, regulatory, and community participation aspects. Data were collected by distributing waste management performance questionnaires to a total of 100 respondents in the Ogan Ilir District. The questionnaire consisted of 5 categories of variables and 18 sub-variable items. The results of the study showed that waste management performance was influenced by waste transportation and processing equipment. This limitation is very influential so that it is necessary to increase the number of fleets and carry out transportation routine times not during busy vehicle hours such as in the morning and in the afternoon. The performance of waste management in Indralaya District, Ogan Ilir Regency, requires a 3R (Reuse Reduce Recycle) based waste collection strategy so that existing waste can be optimized properly, to create strategic and efficient conditions.
Kajian Pemborosan Waktu (Waste Time) Dan Implementasi Value Stream Mapping Pekerjaan Sloof dan Kolom : Study of Waste Time and Implementation of Value Stream Mapping on Sloof and Column Harpriani Dewi, Diana; Sapitri
JURNAL SAINTIS Vol. 24 No. 01 (2024)
Publisher : UIR Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/saintis.2024.vol24(01).16743

Abstract

[ID] Pemborosan (waste) masih menjadi perhatian dalam industri konstruksi di Indonesia karena masih sering ditemui adanya waste dalam proses pelaksnaan/pembangunan  proyek . Waste yang terjadi pada proyek akan mengganggu produktivitas dan harus dihilangkan atau dikurangi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi apa saja jenis dan penyebab non-solid waste /waste time dan implementasi Value Stream Mapping (VSM) untuk meminimalisir non-solid waste /waste time pada pekerjaan sloof dan kolom basement. Pendekatan yang digunakan yaitu lean construction dengan metode identifikasi jenis waste dan sumbernya serta membuat VSM untuk melihat aliran prosesnya. Pada peneltian ini waste yang dipakai ialah non physical waste/ non-solid waste, waste yang fisiknya tidak nampak dilapangan atau waste time. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis non value adding activity yang sering terjadi adalah waiting (W5) yaitu menunggu pekerja, sedangkan penyebab non value adding activity yang sering terjadi adalah manajerial (B3) yaitu kurangnya kontrol oleh kontraktor terhadap pelaksanaan pekerjaan dilapangan dan sumber daya (D6) yaitu kurangnya personil pihak kontraktor di lapangan. Berdasarkan hasil VSM, didapatkan hasil VAA teridentifikasi sebesar 64,90%, NVAAN teridentifikasi sebesar 3,38% dan NVAAU teridentifikasi sebesar 31,72%. [EN] Waste time is generally caused by waste of materials and resources that result in the project process is not optimal. Waste that occurs in projects will interfere with productivity and must be eliminated or reduced. The purpose of this study is to identify what are the types and causes of non-solid waste / waste time and the implementation of Value Stream Mapping (VSM) to minimize non-solid waste / waste time in sloof work and basement columns. The approach used is lean construction with methods of identifying the type of waste and its source and making VSM to see the process flow. In this study, the waste used is non-physical waste / non-solid waste, waste whose physical is not visible in the field or waste time. The results showed that the type of non-value adding activity that often occurs is waiting (W5), which is waiting for workers, while the cause of non-value adding activity that often occurs is managerial (B3), namely lack of control by contractors over the implementation of work in the field and resources (D6), namely lack of field personnel from contractors). Based on the VSM results, VAA results were identified at 64.90%, NVAAN identified at 3.38% and NVAAU identified at 31.72%.

Page 1 of 1 | Total Record : 6