cover
Contact Name
Sri Sugiarsi, SKM, M.Kes
Contact Email
sri.sugiarsi14@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmiki@ymail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI)
ISSN : 2337585X     EISSN : 23376007     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) diterbitkan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (APTIRMIKI) bekerjasama dengan Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia(PORMIKI). JMIKI diterbitkan 2 kali dalam satu tahun ( Maret dan Oktober). Jurnal ini menerbitkan hasil penelitian (original) tentang Rekam Medis dan Manjemen Informasi Kesehatan, terutama dalam studi manajemen informasi kesehatan, Klasifikasi Kodifikasi Penyakit dan Tindakan, Sistem Informasi Kesehatan, Teknologi Informasi Kesehatan, Manajemen Mutu Informasi Kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 336 Documents
TREN INSIDEN BERDASARKAN SASARAN KESELAMATAN PASIEN Savitri Citra Budi; Sunartini Sunartini; Lutfan Lazuardi; Fatwa Sari Tetra
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.236

Abstract

Latar Belakang: Insiden terkait keselamatan pasien menjadi salah satu indikator penilaian mutu dan keselamatan pasien di rumah sakit. Monitoring insiden dilakukan melalui analisis laporan insiden. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan angka kejadian insiden berdasarkan 6 sasaran keselamatan pasien.Metode: Jenis penelitian kuantitatif deskriptif dengan rancangan cross sectional. Lokasi penelitian di salah satu rumah sakit tipe B Pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Populasi penelitian adalah laporan insiden tahun 2017.Hasil: Jumlah insiden yang dilaporkan pada tahun 2017 ada 138 insiden terdiri dari insiden terkait SKP.1 sampai SKP.6 dan insiden terkait fasilitas adalah 31,88 %; 7,97%; 41,30%; 2,90%; 1,45%; 13,04%; dan 1,45% insiden terkait fasilitas.Kesimpulan: Pemantauan angka insiden secara rutin dan proses umpan balik pelaporan yang tepat waktu menjadi pembelajaran yang baik untuk mencegah terjadinya insiden kedua.
Analisis Ketepatan Pengodean Diagnosis Obstetri di RS Naili DBS Padang Ressa Oashttamadea SM
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.239

Abstract

Pengodean merupakan sebuah transformasi dari diagnosis dan prosedur di pelayanan kesehatan menjadi kode alfanumerik medis yang universal. Pelaksanaan kodefikasi diagnosis harus lengkap dan akurat sesuai dengan arahan ICD 10. Menurut WHO, diagnosis utama adalah kondisi utama yang ditangani atau diselidiki selama episode perawatan kesehatan yang relevan. Bagian obstetri merupakan salah satu bagian yang kunjungannya paling banyak di RS Naili DBS selama tahun 2018. Kesalahan dalam pengodean kasus obstetri tentunya akan berdampak besar bagi rumah sakit, untuk itu diperlukan analisis mengenai ketepatan pengodean kasus obstetri agar dapat dijadikan dasar pembuatan keputusan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ketepatan pengodean diagnosis obstetri di RS Naili DBS. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat akurasi pengodean diagnosis obstetri RS Naili DBS di Triwulan I 2019 adalah 35 kode akurat (58%), dan 25 kode tidak akurat (42%). Berdasarkan 25 kode diagnosis yang tidak akurat, terdapat 12 kode (48%) yang tidak akurat dalam penentuan subkategori, dan 13 kode (52%) tidak akurat dalam penentuan kategori dan subkategori. Pihak manajemen RS Naili DBS sebaiknya melakukan pelatihan pengodean terhadap coder agar dapat meningkatkan kemampuan coder dalam melakukan pengodean kasus obstetri.
ANALISIS PERBEDAAN TARIF RIIL DENGAN TARIF PAKET INACBG PADA PEMBAYARAN KLAIM JAMKESMAS PASIEN RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN SUKOHARJO Agustin Ika Wijayanti; Sri Sugiarsi
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i1.56

Abstract

ABSTRAKWithin disparity use of real and Indonesia Case Based Groups (INA-CBG) fare, often triggeringan assumption lead to prejudice of billing fact-manipulation which conducted by hospitalmanagement. The action is often causing financial deprivation over patient or the service payer(JAMKESMAS). Real fare is carry out by hospital based on fee for service proposal appointed bylocal government. INA-CBG is package of billing system based on service group category.The aim of the research is analyzing the disparity of use between real and INA-CBG fare uponhospitalized care service toward JAMKESMAS claim-payment at Sukoharjo District GeneralHospital.The research is analytic-observational type using retrospective design. Qualitative andquantitative data analysis is use, involving document study and in-depth interview as datagathering technique. Hypothesis verification acquired with the use of Wilcoxon test.The result exhibit a significant different between real and INA-CBG fare with value of p = 0.001.The disparity arise as the result of variety of health service tariff standard, length of stay, sofwareutilization, accuracy of diagnose and service procedure coding, and deficiency of clinical pathwayin Sukoharjo District General Hospital.Key words: claim, Jamkesmas, real fare, INA-CBG
Analisis Ketepatan Koding dan Kinerja Petugas di Unit Koding/Indeksing Rumah Sakit Mitra Husada Kota Pring Sewu Faik Agiwahyuanto; Tri Indah Sari; Shinta Octaviasuni
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.243

Abstract

Bagian unit koding di RS Mitra Husada dalam menentukan kode diagnosis dan tindakan masih menggunakan koding manual karena belum tersedianya ICD elektronik. Penentuan kode menggunakan ICD-10 untuk menentukan kode diagnosa dan ICD-9 CM untuk mementukan kode tindakan. Selain itu, petugas koding hanya ada 2 orang. Tujuan penelitian untuk mengetahui pelaksanaan dan kinerja petugas koding dan indeksing di RS Mitra Husada. Metode penelitian menggunakan desain exploratory design atau strategi transformatif sekuential. Populasi adalah koding 100 kasus rawat inap di RS Mitra Husada. Sampel penelitian sebanyak 30 koding kasus rawat inap. Informan informatif adalah petugas koding dan indeksing sebanyak 2 orang. Pengumpulan data fase kualitatif dan kuantitatif. Analisis data menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa bagian koding sudah memiliki kesesuaian kode sebesar 100%. Pelaksanaan koding petugas masih perlu belajar rule MB dan penyebab dasar kematian guna menambah pengetahuan petugas. Kinerja petugas unit koding indeksing sudah terdapat SPO yang mana belum berjalan sesuai dengan pelaksanaan yang dilakukan petugas. Tercampurnya prosedur koding dan indeksing yang pada pelaksanaannya dilakukan secara terpisah sehingga mengindikasi ketidak patuhan petugas terhadap SPO yang terdapat di unit koding dan indeksing. 
Penentu Prioritas Dan Perbaikan Masalah Keterlambatan Pengembalian Berkas Rekam Medis Rawat Inap DI RSD Kalisat Faiqatul Hikmah; Rosalina Adi Wijayantin; Yonica Putra Rahmadtullah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i1.214

Abstract

Kegiatan pengembalian berkas rekam medis pasien rawat inap memiliki standar waktu pengembalian 2x24 jam setelah pasien pulang sesuai dengan SOP yang berlaku di rumah sakit. Namun keterlambatan pengembalian berkas rekam medis di RSD Kalisat masih sering terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan penentuan prioritas dan perbaikan masalah keterlambatan pengembalian berkas rekam medis rawat inap di RSD Kalisat. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara, dokumentasi, dan brainstorming. Hasil identifikasi faktor-faktor penyebab keterlambatan berkas rekam medis menyatakan bahwa keterlambatan pengembalian berkas rekam medis disebabkan oleh beberapa hal salah satunya yaitu ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis. Perencanaan yang dilakukan pada penelitian ini adalah perbaikan Standart Oprasional Prosedur Evaluasi Kelengkapan Pengisian Berkas Rekam Medis yang berertujuan untuk menunjang kualitas berkas dalam kelengkapan pengisian berkas rekam medis dan untuk mempermudah administrasi pengembalian berkas. Dari hasil penelitian ini peneliti menyarankan agar adanya pelatihan tentang pengembalian berkas berkas terhadap petugas rawat inap. Perlu juga adanya penerapan standart oprasional prosedur untuk mempecepat waktu melengkapi pengisian berkas rekam medis dan dapat dilakukan peninjauan terus menerus hal ini bertujuan sebagai pengingat agar berkas rekam medis bisa segera dilengkapi dan bisa kembali sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan.
Analisis Pelaksanaan Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas Di Puskesmas Nanggalo Padang Linda Handayuni
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.231

Abstract

Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP) merupakan kegiatan pencatatan dan pelaporan puskesmas secara menyeluruh (terpadu) dengan konsep wilayah kerja puskesmas. Berdasarkan survey awal di Puskesmas Nangggalo sudah menggunakan aplikasi e-Puskesmas pada bagian pencatatan dan pelaporan hanya saja petugas masih menggunakan pelaporan secara manual di karenakan kurangnya fasilitas dalam pelaksanaan pencatatan dan pelaporan dan penempatan kerja tidak sesui dengan profesi .Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas di Puskesmas Nanggalo Padang tahun 2018. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Nanggalo pada tanggal  02 s/d 14 Juli tahun 2018, jenis penelitian yang dilakukan adalah Kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Informan dalam penelitian ini sebanyak 4 orang,  seluruh informan di teliti dengan menggunakan pedoman wawancara mendalam. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan model Colaizzi. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling.Hasil penelitian yang didapatkan yaitu untuk komponen input seperti SDM cukup bagus, tetapi untuk petugas SP2TP tidak ada yang jurusan teknologi informasi, fasilitas khusus untuk SP2TP belum ada,dan dana khusus untuk SP2TP tidak ada. Untuk komponen proses yaitu pencatatan dan pelaporan masih manual kebijakan tentang pelaksanaan SP2TP belum ada, dan monitoring dan evaluasi di puskesmas Nanggalo belum ada dilaksanakan. Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti menyarankan kepada Puskesmas  agar dilakukan penambahan SDM lulusan D3 rekam medis dan informasi kesehatan sesuai dengan Permenpan No 30 Tahun 2013, menyediakan fasilitas dan dana untuk menunjang pelaksanaan SP2TP, dalam proses pencatatan dan pelaporan sebaiknya menggunakan aplikasi e-Puskesmas  dan perlu adanya monitoring dan evaluasi dalam pelaksanaan SP2TP.
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Remaja Di Puskesmas Bantul II Kabupaten Bantul Abdillah Azis
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.240

Abstract

AbstrakPuskesmas Bantul II melaksanakan kegiatan skrining kesehatan kepada siswa SMA namun hanya kelas X. Permasalahan yang muncul adalah belum semua siswa mendapatkan skrining, pencatatan hasil skrining yang masih menggunakan berkas, biaya pengadaan dan penggandaan berkas skrining yang cukup besar, dan perhitungan nilai skoring skrining siswa yang masih dikerjakan secara konvensional. Penanggung jawab skrining di Puskesmas Bantul II menginginkan adanya sistem informasi berbasis komputerisasi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kebutuhan pengguna dan mengembangkan sistem informasi kesehatan remaja yang dapat dipakai di wilayah kerja Puskesmas Bantul II. Penelitian ini adalah research and development dengan objek penelitian pengembangan sistem informasi kesehatan remaja. Pada penelitian ini dilakukan analisis kebutuhan pengguna, perancangan desain antarmuka, implementasi desain menjadi sistem informasi, serta ujicoba sampai sistem diterima oleh pengguna. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan diketaui bahwa pengguna membutuhkan sistem informasi yang mampu untuk diakses dimana saja dan kapan saja, privasi dari setiap siswa terjamin, perhitungan nilai skoring pada kuesioner otomatis. Sistem Informasi Kesehatan Remaja dibuat dengan bahasa pemrograman PHP menggunakan framework codeigniter serta database MySQL. Pada tahapan ujicoba sistem diperoleh masukan dari pengguna terkait kelemahan dari sistem yang telah dikembangkan.Kata Kunci: sistem informasi, kesehatan remaja, puskesmas
PEMETAAN DIGITAL PENYAKIT CAMPAK MENGGUNAKAN QUANTUM GIS DI KABUPATEN BONDOWOSO TAHUN 2012 – 2014 Imas Masturoh
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v4i2.129

Abstract

ABSTRACTBased on World Health Organization ( WHO ) 2007 about 242.000 the son of all the world die of measles . Indonesia is a fourth biggest its inhabitants in the world having the digits in pain measles approximately 1 million per year it has 30,000 death. A strategy to this activity was the scope of a routine that high (> 90%) in each district and to ensure all children get a second chance to measles ( ministry of finance , indonesian .2009 ) . According to the local office district health Bondowoso in 2001 , 2002 , 2005 , 2006 , and 2013 measles is the case in bondowoso. The purpose of this research is map distribution incidence to purposes surveillance and awareness to events measles in the Bondowoso. This research in a waterfall integrated with quantum gis. Based on the data obtained, 5 subdistrict area that possesses the the highest in Bondowoso regency namely Bondowoso, Wonosari, Binakal, Tenggarang, and Tapen. Subdistrict with the highest are Bondowoso with 96 cases. The cause of a disease measles that occur in Bondowoso subdistrict caused by density of populations and nutritional status of bad. For the district health Bondowoso need to do evaluation of measles occurring, so that the problem can be immediately handled well.Keywords: Medical RecordFile, acute respiratoryinfectionsKeyword: Distribution, Measles, Quantum GISABSTRAKBerdasarkan World Health Organization (WHO) tahun 2007 sekitar 242.000 anak seluruh dunia meninggal karena penyakit campak. Indonesia merupakan negara keempat terbesar penduduknya di dunia yang memiliki angka kesakitan campak sekitar 1 juta pertahun dengan 30.000 kematian. Strategi untuk kegiatan ini adalah cakupan rutin yang tinggi (> 90%) di setiap kabupaten/kota serta memastikan semua  anak mendapatkan kesempatan kedua untuk imunisasi campak. (Depkes, RI. 2009). Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso pada tahun 2001, 2002, 2005, 2006, dan 2013 penyakit campak merupakan kasus KLB di Bondowoso. Tujuan penelitian ini untuk membuat peta digital persebaran penyakit Campak guna keperluan  surveilans  dan kewaspadaan  dini terhadap kejadian  penyakit campak  di wilayah Kota Bondowoso. Penelitian ini menggunakan metode waterfall dipadukan dengan aplikasi Quantum GIS 1.8. Hasil dari penelitian ini diperoleh 5 daerah kecamatan yang memiliki jumlah kasus tertinggi  di Kabupaten Bondowoso yaitu Kecamatan Bondowoso, Wonosari, Binakal, Tenggarang, dan Tapen. Penyebab penyakit campak yang terjadi di Kabupaten Bondowoso berhubungan dengan kepadatan penduduk dan jumlah gizi buruk yang terjadi. Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Bondowoso perlu melakukan evaluasi terhadap penyakit campak yang terjadi, sehingga masalah tersebut bisa segera teratasi dengan baik.Kata kunci : Penyebaran, Penyakit Campak, Quantum GIS
Analisis Efektivitas SOP Pelaksanaan Penyimpanan Berkas Rekam Medis Di Puskesmas Lawang Suhartina, Ina
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i2.226

Abstract

Pelayanan dokumen rekam medis, dituntut menyediakan berkas secara cepat dan tepat. Berdasarkan hasil pengamatan selama PKL di Puskesmas Lawang, penulis menemukan bahwa pelaksanaan penyimpanan berkas rekam medis di Puskesmas Lawang belum sesuai dengan (Standart Operational Procedure). Penelitian dilakukan untuk menganalisis efektivitas SOP penyimpanan berkas rekam medis di Puskesmas Lawang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian karena berfokus untuk mendeskripsikan apa yang sama/umum dari semua partisipan ketika mereka mengalami fenomena. Data yang dikumpulkan adalah data hasil wawancara dan dokumentasi. Terdapat 4 petugas diruang rekam medis diantaranya adalah 1 orang lulusan Rekam medis, 1 orang lulusan kebidanan, dan 2 orang lulusan SMA yang sudah memiliki ketrampilan dasar mengenai pengelolaan berkas rekam medis. Di Puskesmas Lawang sudah terdapat kebijakan akan tetapi masih belum adanya keterangan tentang kewajiban petugas dalam pelaksanaan penyimpanan berkas rekam medis. Hasil penelitian menunjukan 30% belum melaksanakan SOP dengan efektif sehingga menyebabkan terdapat berkas hilang dan sulit dalam melacaknya. Selain itu alur dokumen rekam medis secara tertempel dan tertulis. Ruang rekam medis berukuran ± 2 m x 2,5 m dengan berkas rekam medis sebanyak 29200 berkas. Hal ini mengakibatkan proses pencarian berkas rekam medis menjadi lambat dan tidak efektif.
FACTORS AFFECTING IMPLEMENTATION OF STANDARD OPERATING PROCEDURES TRACER OF MEDICAL RECORD OF ISLAMIC HOSPITAL SURABAYA Lilis Masyfufah; Rumianah .
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v5i2.170

Abstract

One of the efforts in conducting orderly administration in the hospital is how to monitor patient medical records to improve the quality of health services in the hospital. It aims to monitor the patient's medical record if not found in the medical record room. Standard Operational Procedure (SOP) medical record tracer already exists but in reality not implemented by medical record officer of outpatient registration Hospital Islam Surabaya. Not implemented the use of medical records tracer resulted in officers often have difficulty in monitoring the existence of medical records that came out of the storage rack or tucked and entered into another number. Therefore the purpose of this study is to analyze factors related to the implementation of SOP tracer outpatient medical records at Surabaya Islamic Hospital in 2017. This type of research is quantitative analytics. The sample of this study is total sampling of outpatient medical record registration officer at Surabaya Islamic Hospital. Data collection method used was questionnaire interviewed. The result of this research is concluded that the factors related to SPO tracer implementation are man factor, that is knowledge with significance value 0,040 (<0,05).