cover
Contact Name
Sri Sugiarsi, SKM, M.Kes
Contact Email
sri.sugiarsi14@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalmiki@ymail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. karanganyar,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI)
ISSN : 2337585X     EISSN : 23376007     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) diterbitkan oleh Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (APTIRMIKI) bekerjasama dengan Perhimpunan Profesional Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia(PORMIKI). JMIKI diterbitkan 2 kali dalam satu tahun ( Maret dan Oktober). Jurnal ini menerbitkan hasil penelitian (original) tentang Rekam Medis dan Manjemen Informasi Kesehatan, terutama dalam studi manajemen informasi kesehatan, Klasifikasi Kodifikasi Penyakit dan Tindakan, Sistem Informasi Kesehatan, Teknologi Informasi Kesehatan, Manajemen Mutu Informasi Kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 336 Documents
ANALISIS KUANTITATIF RAWAT JALAN KASUS DIABETES MELETUS DENGAN METODA HATTA DI RS JASA KARTINI TRIWULAN IV TAHUN 2015 Wahyuana Amelia Putri
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v4i2.137

Abstract

AbstractThis study aims to determine the quantitative analysis of outpatient medical record documents in Jasa Kartini Hospital. The data used is data from outpatient medical records document cases of diabetes mellitus in Jasa Kartini Hospital the fourth quarter of 2015. This type of research is descriptive study with retrospective analysis approach, the research method used is observation, with a total population of 240 documents outpatient medical record fourth quarter 2015 in Jasa Kartini Hospital Tasikmalaya, sampling is done by simple random sampling technique as much as 71 outpatient medical record documents. The study of the 4 components of quantitative analysis showed that the components of patient identification information with the level of completeness of the highest in item medical record number, age, contact person, the data intervention and signature of consent of the patient or legal guardian with a percentage of 100% with the number of 71 documents , while the degree of incompleteness is highest in the item name of the patient with a percentage of 31.0% with the number of 22 documents, components recorded evidence with the level of completeness of the highest in the items of laboratory results, results of radiology, prescription drugs, a certificate of nutrition and a certificate of diagnosis with a percentage of 100 % with the number of 71 documents, while the level of incompleteness highest in report items anamnesa with a percentage of 9.9% with a total of 7 documents, components of the validity of the recording to the level of completeness of the highest in the second item that is a signature and the name of the light with a percentage of 91.5% with the number of 65 documents, while the degree of incompleteness is highest on the second item with a percentage of 8.5% with the number 6 documents, components ordinances noted the level of completeness of the highest in the line item remains with a percentage of 100% with the number of 71 documents, while the level of incompleteness is highest in the item element of a correction of 95.8 68% by number of the document. Conclusions from the study at the Hospital Services Kartini Tasikmalaya indicate that charging document outpatient unallocated 100% complete.Key Words: Quantitative Analysis, Completeness, Medical Record  Documents, Outpatient, Diabetes MelitusAbstrakHatta,(2008) menegaskan bahwa analisis kuantitatif dimaksudkan untuk menilai kelengkapan rekam kesehatan yang dimiliki oleh sarana pelayanan kesehatan.Hasil studi pendahuluan dari 7 dokumen kasus DM diperoleh prosentase kelengkapan 42,9% dan ketidaklengkapan 57,1%. Penelitian bertujuan mengetahui hasil analisis kuantitatif yang meliputi kelengkapan identifikasi pasien, bukti rekaman, keabsahan rekaman dan tata cara mencatat.Jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan retrospektif.Metode penelitian dengan observasi.Dengan teknik simplerandom sampling diperoleh sampel 71 dari populasi 240 dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) komponen identifikasi pasien kelengkapan tertinggi pada item nomor rekam medis, usia, orang yang dapat dihubungi, data tindakan intervensi dan tanda tangan persetujuan (100%), sedangkan ketidaklengkapan tertinggi pada item nama pasien (31%);2) komponen bukti rekaman kelengkapan tertinggi pada item hasil laboratorium, hasil radiologi, resep obat-obatan, surat keterangan gizi dan surat keterangan diagnosa (100%), sedangkan ketidaklengkapan tertinggi pada item laporan anamnesa (9.9%);3) komponen keabsahan rekaman kelengkapan tertinggi pada kedua item yakni tanda tangan dan nama terang (91.5%), sedangkan ketidaklengkapan tertinggi pada kedua item tersebut (8.5%);4) komponen tata cara mencatat kesesuaian tertinggi pada item baris tetap (100%), sedangkan ketidaksesuaian tertinggi pada item unsur koreksi (95.8%). Ketidaklengkapan pencatatan dokumen kasus DM cukup tinggi, hendaknya petugas pelayanan klinis lebih meningkatkan kesadaran dalam melengkapi hasil pelayanan demi tercapainya kualitas informasi medis yang berkesinambungan.Kata Kunci: Analisis Kuantitatif, Kelengkapan Pengisian, Dokumen Rekam Medis, Rawat Jalan
Memahami “Noun” Bahasa Inggris untuk Menentukan Lead Term dalam Mengkode Diagnosis Mengunakan ICD-10 Volume 3 Rahmi Septia Sari
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v6i1.179

Abstract

Based on the importance of codification, a coder must improve their knowledge and their skills.,one of the skill is to improve their English language skill both oral and written. A coder must understand English because  English is one of the languages on ICD-10. There are some steps of coding patient’s disease, one of them is to determine the lead term. Understanding Noun  in English is one alternative way for coder to simplify determining the lead term. This study aims to (1) To understand the characteristics of Noun, (2) To indentify and classify Noun on ICD -10 Volume 3 and (3) To analyze Noun on ICD-10 Volume 3. Maethod of this study is descriptive qualitative study that is devided into three steps they are: preparing the study, collecting data and analyzing the data. The result shows that the type and characteristics of noun can be found on ICD-10 Volume 3 and based on its function, noun is the sentence head. Noun is the lead term for coding diseases with ICD-10 and Noun on ICD-10 volume 3 are mostly lead terms except common noun relating to parts of body.
PERANCANGAN ULANG RUANG FILING BERDASARKAN ILMU ERGONOMI DI RUMAH SAKIT PANTI RINI KALASAN Rahmi Primagusti Suardi; Savitri Citra Budi
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v1i2.48

Abstract

ABSTRACKManagement of medical records file storage in Panti Rini Hospital Kalasan irregular, causing difficulty in the search. From the interview at the time that the information obtained preliminary study Panti Rini Hospital Kalasan plan combines two active file storage space. From the above considerations the designer plans to redesign the effective storage space, comfortable, safe, healthy, and efficient based on the principles of ergonomics in Panti Rini Hospital Kalasan both for officers and file.The theme used in this design is the design of the interior space science filing related to ergonomics are good and true. The idea of re-designing the interior design of the space to suit filing ergomoni science, in order to create space filing a healthy, safe, and convenient for users. Design phase consists of: 1) identification, 2) Pre-design, and 3) design.Pre-Design Phase: The storage space on the active medical record file Panti Rini Hospital Kalasan divided into 2 with a room size measuring 7.5 m x 2.9 m, while the B measuring 4m x 1,4 m. A room there are 6 open shelves, 6 lights and 5 lights on the side, this room has only one entrance and exit vents 5 small corner of the room as a place of entry of the light, and there is no Air Conditioning (AC) and the fan in this room. Space B there are 2 open shelves, 2 lights on, 7 small vents, and 2 window and found no air conditioning or fan. The design phase consists of: 1) Calculate the amount of shelving needs for 5 years showed 10 racks. 2) Determine the appropriate shelf generated based upon the principles of ergonomics open shelving with metal shelves specification of Brother Metal Model B-902 which is modified into a metal rack 2 face models. This model has a metal rack 180 cm tall, the average height of Indonesia has a range of 150 cm and 30 cm hand up so if you want to take a file that does not need to top up the stairs, and it reduces the risk of accidents on the medical records clerk. Their respective shaft height is 36 cm, is adapted to the shape of the existing medical record file at Panti Rini Hospital Kalasan measuring 30 cm long and 22 cm high.Keywords: redesign, storage space, design, storage racks, file medical records
Indikator Input Sistem Surveillance Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Yogyakarta M. Syairaji; Dian Budi Santoso
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i1.221

Abstract

DBD merupakan salah penyakit menular dengan kasus terbesar di dunia. WHO memperkirakan 390 juta infeksi dengue terjadi setiap tahunnya. Tahun 2016 terjadi 1699 kasus dan 13 kematian akibat DBD di Kota Yogyakarta. Dalam mengendalikan kasus DBD, surveilans memiliki peranan yang sangat penting dalam hal deteksi dan analisis tren. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sistem surveilans DBD khususnya pada indikator input yakni petugas, pembiayaan, ketersediaan SOP, formulir pelaporan, dan komputer. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan cross sectional deskriptif. Waktu penelitian selama bulan agustus 2017. Populasi adalah seluruh petugas surveilans Puskesmas wilayah Kota Yogyakarta. metode sampling adalah total sampling dimana pengambilan data dengan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis univariat dalam bentuk persentase.Indikator petugas, rata-rata berumur 48 tahun. 88.89% lulusan D3 kesehatan lingkungan, 44.44% pernah mengikuti 2 kali atau lebih pelatihan mengenai program surveilans DBD. 61% petugas surveilans DBD memiliki jabatan rangkap. Aspek pembiayaan, 72.22% menyatakan terdapat biaya untuk operasional surveilans DBD dengan sumber utama APBD. Lebih dari 70% Puskesmas memiliki Standard Operating Procedure (SOP) surveilans DBD dan komputer pada aspek ketersediaan formulir, lebih dari 38% Puskesmas tidak tersedia formulir K-DBD, W2 DBD, KD/PKM, dan DP-DBD.Temuan major yang didapatkan antara lain pada aspek umur dan jumlah jabatan rangkap (Man), serta ketersedian formulir khususnya formulir yang wajib diisi dan dilaporkan oleh Puskesmas seperti formulir K-DBD, W2 DBD, KD/PKM, dan DP-DBD. Saran yang dapat diberikan antara lain peremajaan petugas surveilans DBD Puskesmas dan melakukan rekrutmen petugas baru untuk melengkapi kurangnya jenis-jenis tenaga kesehatan di Puskesmas yang nantinya diharapkan petugas dengan jabatan rangkap akan berkurang.
ANALISIS PENYEBAB UNCLAIMED BERKAS BPJS RAWAT INAP DI RSUD DR. SOEKARDJO TASIKMALAYA Resti Septiani Nurdiah; Arief Tarmansyah Iman
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v4i2.124

Abstract

Abstract      JKN in the hospital by BPJS through claimsubmission. But, not all the document can claimed. As happened inRSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya, there is a difference between patient visit of BPJSinpatients with patient visits ofBPJSthat  have been claim, thus resulting unclaimed. The purpose in this research toanalyzing the cause of unclaimed inpatients  BPJS          phenomenological by getting interviews with 7 (seven) informants and observation. Data analysis withnarrative. were narrow, unavailable SOP of  claim, unimplemented of monitoring documents claim and incomplete SOP,make expedition book fordocuments claim and implementation of regular meetings. Kata kunci: cause of unclaimed BPJS, unclaimed, Pengajuan klaim   Abstrak Pembiayaan kesehatan merupakan bagian terpenting dari implementasi JKN yang diselenggarakan di rumah sakit oleh BPJS melalui pengajuan klaim. Namun, tidak semua berkas yang diajukan dapat terklaimkan. Seperti yang terjadi di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya dimana terdapat selisih antara kunjungan pasien BPJS rawat inap dengan kunjugan BPJS yang diklaimkan, sehingga menyebabkan unclaimed. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis penyebab unclaimed Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan fenomenologi, melalui wawancara terhadap 7 orang informan dan observasi. Untuk analisis data dirangkum dalam bentuk naratif. Hasil penelitian ini menunjukkan penyebab unclaimed berkas BPJS rawat inap di rumah sakit yang antara lain disebabkan oleh pengetahuan dan kedisiplinan petugas kurang, ruangan pengolahan klaim yang sempit, SOP terkait klaim belum tersedia, monitoring berkas klaim belum terlaksana dan ketidaklengkapan hasil penunjang. Disarankan untuk diadakannya bimbingan kepada petugas secara intensif, pemanfaatan ruangan secara maksimal, penyusunan SOP, pembuatan expedisi berkas klaim dan pelaksanaan rapat rutin. Kata kunci: Penyebab Unclaimed BPJS, gagal klaim 
GAMBARAN EFFISIENSI PENGGUNAAN TEMPAT TIDUR RUANG PERAWATAN KELAS III DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TASIKMALAYA TAHUN 2011 DAN 2012 Dian Budi Santoso; Angga Eko Pramono; Agasi Gilang Persada
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v2i1.39

Abstract

ABSTRACTHospitalization Unit is an important unit for hospital. One of the activities that must be performed by hospitalstatistics is to calculate the level of efficiency of a bed hospitalization unit, the parameters used are the BedOccupancy Rate (BOR), Average Length of Stay (AvLOS), Turn Over Interval (TOI), Bed Turn Over (BTO) andBarber Jonhson coordinate points in the third class care general of hospital Tasikmalaya in 2011 and 2012.The descriptive research uses secondary data with a retrospective approach, conducted on one variable thatis the use of a bed in the third class care of general hospital Tasikmalaya in 2011 and 2012.The sample is recapitulation of daily hospitalization census data in 2011 and 2012, which is based ontabulations. Collecting data using compurized calculation and presentation of Barber Johnson graphs. Resultsshowed that the BOR in 2011 was 114,31% and the increase accured in the 2012 as much as 121,01%, theAvLOS in 2011 was 4,46 and 4,41 days in 2012, the TOI was -0,37 days in 2011 and in 2012 was -0,48 days,while for values BTO in 2011 was 141,2 and in 2012 was 160,9. The conclusion is the use of a bed in a thirdclass care of general hospital Tasikmalaya in 2011 and 2012 is un-efficient.The key words: Efficient use of beds, BOR, AvLOS, TOI, BTO and Barber Johnson coordinate points
Analisis Pengetahuan Petugas Rekam Medis Tentang Terminologi Medis dI RSUD Petala Bumi Provinsi Riau Tri Purnama Sari; Wen Via Trisna
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v7i1.206

Abstract

Kompetensi dari seorang perekam medis adalah mengkode diagnoasis. Namun pada kenyataanya masih banyak petugas rekam medis yang mengalami beberapa kesulitan dalam melakukan pengkodean diagnosis secara cepat, tepat dan akurat. Nomenklatur yang juga dikenal sebagai terminology medis, merupakan sistem yang digunakan untuk menata daftar kumpulan istilah medis penyakit, gejala, dan prosedur. Penggunaan terminology medis bertujuan untuk keseragaman, universalitas, serta istilah yang dituliskan dokter di suatu Negara tetap dipahami oleh dokter dimanapun di seluruh dunia. Hasil observasi awal di rumah sakit annisa pekanbaru terhadap dokumen rekam medis ditemukan terminology medisnya yang berbeda seperti pada dignosa dispepsia + DM terminologi petugas yaitu gangguan lambung sehingga pengkodean penyakit yang digunakan adalah K30 seharunya pengkodean yang digunakan adalah K30 + E14.9. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan rancangan pendekatan fenomenologi, Lokasi penelitian ini adalah Rumah Sakit Annisa pekanbaru. Pengolahan data pada penelitian ini adalah dengan menggunakan non-statistik, Untuk menjaga kesehatan data penelitian dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian didapat bahwa Petugas rekam medis di rumah sakit annisa belum pernah mengikuti pelatihan tentang terminologi medis, hal ini berdampak terhadap pekerjaan dan pengetahuan mereka tentang terminology medis, terutama bagi petugas rekam medis yang tidak memiliki basic rekam medis. Petugas rekam medis di rumah sakit annisa pekanbaru masih ada yang belum memiliki pengalaman kerja, berdasarkan lama kerja pertugas rekam medis rata-rata dibawah 5 tahun dan masih ada yang belum memahami terminologi medis, kimia klinik, dan farmakologi. Sebaiknya rumah sakit agar memberikan kesempatan para koder untuk mengikuti pelatihan koding dan terminologi medis secara berkesinambungan karena tidak memberi nilai tambah untuk koder bila hanya dilakukan sekali atau bahkan ada yang belum pernah mengikuti pelatihan
PENCITRAAN (IMAGING) BERKAS REKAM MEDIS PADA KEGIATA N PENYUSUTA N DI RSUD KOTA YOGYAKARTA Savitri Citra Budi; Zahrotul Khasanah
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v3i1.72

Abstract

AbstractMedical records as one of the authentic proof of service must be stored as appropriated with predeterminedtime period. Based on the circular letter from director general of medical services No.HK.00.06.1.5.01160dated March 21, 1995 has been set depreciation schedules medical record file according to the type ofillness. In Yogyakarta City Hospital has implemented a process of imaging (imaging) since April this 2013.This matter anticipates the various needs related to medical records, for example, medical records are stillworth to be required can be found easily and can be printed again. This study describes the implementationof imaging (imaging) medical record file on shrinkage activities in hospitals in Yogyakarta.To investigatethe imaging process (imaging) on the implementation of the shrinkage in the hospital medical record file ofYogyakarta, determine the factors that affect the implementation of the process of imaging (MRI) in hospitalsof Yogyakarta, and identify any obstacles in the implementation process of imaging (MRI) in hospitals the cityof Yogyakarta.This study is a descriptive study using a case study approach. Subjects of this study consistedof three medical records clerk and one IT officer. The object of this study is the implementation of imaging(MRI) in the depreciation file medical records in hospitals in Yogyakarta.Based on interviews and observations,imaging process (MRI) is one of the stages in the implementation of depreciation medical record file. Stagesin the medical record file shrinkage in Yogyakarta City Hospital is a medical record file sorting, checking thelast visit to the Health Information System (HIS), the process of imaging (imaging), move the sheet of medicalrecords into a folder, and enter the medical record sheet not worth order to the warehouse. While activity inthe process of imaging (MRI) in Yogyakarta City Hospital medical record sheet includes sorting, scanning,and storage. Factors that affect the implementation process of imaging (MRI) in hospitals Yogyakarta City isdivided into 5 groups: the man (human resources), money, machine (engine), method (method), and materials.Obstacles in the implementation process of imaging (MRI) is the lack of human resources (HR), there is nofixed procedure and work instructions, the results of imaging (MRI) is not connected to the Health InformationSystem (HIS) Hospital Yogyakarta, there was no budget imaging tool (imaging) for large-size sheet of medicalrecords.Keywords: medical record file depreciation, medical record imaging, medical record file storage inactive.AbstrakRekam medis sebagai salah satu bukti otentik pelayanan harus disimpan sesaui jangka waktu yang telahditentukan. Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pelayanan Medis Nomor HK.00.06.1.5.01160 tanggal 21 Maret1995 telah diatur jadwal penyusutan berkas rekam medis sesuai jenis penyakitnya. Di RSUD Kota Yogyakartatelah melaksanakan proses pencitraan (imaging) sejak bulan April 2013.Hal ini dilakukan untuk mengantisipasiberbagai kebutuhan yang berkaitan dengan rekam medis, misalnya rekam medis yang masih bernilai gunadiperlukan dapat ditemukan dengan mudah dan dapat dicetakkan kembali. Penelitian ini menggambarkanpelaksanaan pencitraan (imaging) berkas rekam medis pada kegiatan penyusutan di RSUD Kota Yogyakarta.Tujuan Mengetahui proses pencitraan (imaging) pada pelaksanaan penyusutan berkas rekam medis di RSUDKota Yogyakarta, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi dilaksanakannya proses pencitraan (imaging)di RSUD Kota Yogyakarta, dan mengetahui hambatan-hambatan dalam pelaksanaan proses pencitraan(imaging) di RSUD Kota Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif denganmenggunakan pendekatan studi kasus. Subjek penelitian ini terdiri dari tiga orang petugas rekam medis dan satu orang petugas IT. Objek penelitian ini adalah pelaksanaan pencitraan (imaging) pada penyusutan berkasrekam medis di RSUD Kota Yogyakarta. Berdasarkan wawancara dan obervasi, proses pencitraan (imaging)merupakan salah satu tahapan dalam pelaksanaan penyusutan berkas rekam medis. Tahapan dalam penyusutanberkas rekam medis di RSUD Kota Yogyakarta yaitu melakukan pemilahan berkas rekam medis, melakukanpengecekan tahun kunjungan terakhir pada Sistem Informasi Kesehatan (SIK), melakukan proses pencitraan(imaging), memindahkan lembar rekam medis ke folder, dan memasukkan lembar rekam medis yang tidakbernilai guna ke gudang penyimpanan. Sedangkan kegiatan dalam proses pencitraan (imaging) di RSUDKota Yogyakarta meliputi pemilahan lembar rekam medis, proses scanning, dan penyimpanan. Faktor-faktoryang mempengaruhi dilaksanakannya proses pencitraan (imaging) di RSUD Kota Yogyakarta terbagi menjadi5 kelompok yaitu man (sumber daya manusia), money, machine (mesin), methode (metode), dan material.Hambatan-hambatan dalam pelaksanaan proses pencitraan (imaging) yaitu kurangnya sumber daya manusia(SDM), tidak ada prosedur tetap dan instruksi kerja, hasil pencitraan (imaging) belum tersambung ke SistemInformasi Kesehatan (SIK) RSUD Kota Yogyakarta, tidak adanya anggaran alat pencitraan(imaging) untuklembar rekam medis ukuran besar.Kata kunci: penyusutan berkas rekam medis, pencitraan (imaging), penyimpanan berkas rekam medis inaktif.
KEAKURATAN KODE DIAGNOSIS HEPATITIS BERDASARKAN ICD-10 PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT LANCANG KUNING PEKANBARU Tri Purnama Sari; Nurul Husna Dewi
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/jmiki.v4i1.97

Abstract

Abstract Activities and actions as well as the diagnosis in medical record should be coded and subsequently will be indexed in order to facilitate the presentation of information services to support the planning, management, and research in health. In this regard, this research employs quantitative method with a qualitative approach that aimed to determine the accuracy code of Hepatitis diagnosis based on ICD-10 at Hospital Lancang Kuning Pekanbaru. The result of this research shows that the accuracy codes of Hepatitis diagnosis at Hospital Pekanbaru Lancang Kuning can not be said to be good because there are many discovery of an inaccurate diagnosis codes which 29 of the 90 samples were inaccurate with a percentage of 32.2% and 61 files were accurate from 90 samples with a percentage of 77.8%. Standard Operating Procedures (SOP) at Hospital Lancang Kuning Pekanbaru have been executed by officers in accordance with the procedure remains in the hospital and Human Resources (HR) at the hospital Lancang Kuning Pekanbaru is good. it can be seen in terms of educational backgrounds D3 Medical Record the officer but they had never attended training on coding properly.Keywords: Accuracy, ICD-10 codes, and Diagnosis HepatitisAbstrakKegiatan dan tindakan serta diagnosa yang ada didalam rekam medis harus diberi kode dan selanjutnya di indeks agar memudahkan pelayanan pada penyajian informasi untuk menunjang fungsi perencanaan, manajemen, dan riset bidang kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah gabungan kuantitatif – kualitatif. Tujuan penelitian n untuk mengetahui jumlah keakuratan kode diagnosis Hepatitis berdasarkan ICD-10 di Rumah Sakit Lancang Kuning Pekanbaru. Hasil penelitian diperoleh bahwa keakuratan kode diagnosis Hepatitis belum dapat dikatakan baik karena masih banyak ditemukannya kode diagnosis yang tidak akurat yaitu 29 (32,2%) dan 61(77,8%) berkas yang akurat. Standar Prosedur Operasional (SPO) di rumah Sakit Lancang Kuning Pekanbaru sudah dijalankan oleh petugas sesuai dengan dengan prosedur tetap di rumah sakit dan Sumber Daya Manusia (SDM) di rumah sakit Lancang Kuning Pekanbaru sudah baik hal ini dilihat dari segi pendidikan yang berlatar belakang D3 Rekam Medis akan tetapi petugas belum pernah mengikuti pelatihan tentang pengkodingan yang baik dan benar. Kata Kunci: Keakuratan, Kode ICD-10, dan Diagnosa Hepatitis.
MEMAHAMI BAHASA INGGRIS DI ICD-10 VOLUME 1 MELALUI ANALISIS SINTAKSIS TENTANG KLAUSA SIFAT Ari Sukawan
Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia (JMIKI) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Asosiasi Perguruan Tinggi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan Indonesia- APTIRMIKI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33560/.v5i1.152

Abstract

Learning English cannot be separated from the four language skills namely Listening, speaking, reading and writing however grammar is also a main thing that must be mastered in English language mastery. Understanding the text content can also be started from the understanding of the language structure in the text. Therefore, this study aims to identify, classify, and analyze the types of clauses used on ICD -10 Volume 1. This study used a qualitative descriptive method which is divided into three stages: preparation, data collection and data analysis. The population in this study is ICD -10 Volume 1 and the sample of this study is ICD -10 Volume 1 chapter I, II, and III. The result  studyis according to the theories, on ICD- 10 Volume 1 there are two types of adjective clauses namely restrictive clauses and non-restrictive clauses but most of the adjective clause types is restrictive clause. The result of the study is expected to support all of ICD-10 users in order to understand English sentences on ICD-10 Volume 1 more.

Page 4 of 34 | Total Record : 336