cover
Contact Name
Aulia Novemy Dhita
Contact Email
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
aulianovemydhita@unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 19788673     EISSN : 26569620     DOI : -
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah, (P-ISSN: 1978-8673 dan E-ISSN: 2656-9620) merupakan jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, FKIP Universitas Sriwijaya yang mempublikasikan hasil penelitian Pendidikan Sejarah, Kajian Ilmu Sejarah dan Ilmu Sosial Budaya dalam Pendidikan Sejarah. Jurnal ini terbit secara berkala dua kali setahun (Februari dan Agustus).
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 1 (2021)" : 6 Documents clear
Perjanjian Linggarjati (Diplomasi dan Perjuangan Bangsa Indonesia Tahun 1946-1947) Agus Susilo; Ratna Wulansari
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.12683

Abstract

Abstrak: Perjanjian Linggarjati merupakan Perjanjian yang muncul setelah Belanda melakukan serangan pasca diumumkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia berusaha untuk merebut dan menegakkan wilayah kekuasaan di Indonesia. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini yaitu untuk menguraikan Perjanjian Linggarjati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk perjuangan bangsa Indonesia melalui Perjanjian Linggarjati. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah yang terdiri dari tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwaalam perjanjian Linggarjati, wilayah Indonesia yang diakui oleh Belanda meliputi Jawa, Sumatera, dan Madura. Belanda juga membentuk negara boneka untuk mempersempit ruang gerak Republik Indonesia. Kesimpulannya, yaitu: Perjanjian Linggarjati membuat wilayah kekuasaan Republik Indonesia semakin sempit yang hanya sebatas Jawa, Sumatera, dan Madura. Untuk mempersempit ruang gerak Republik Indonesia, Belanda membentuk negara boneka. Perjanjian Linggarjati diakhiri dengan perjuangan bangsa Indonesian dalam merebut kemerdekaan secara de facto dan de jure atas seluruh wilayah Republik Indonesia yang dikuasai Belanda.Kata Kunci: Indonesia, Linggarjati, Perjanjian, Perjuangan Abstract: The Linggarjati Agreement is an agreement that emerged after the Dutch carried out the attack after the announcement of Indonesian independence on August 17, 1945. The Dutch, who did not recognize Indonesian independence, tried to seize and enforce the territory of Indonesia. The problem raised in this study is to describe the Linggadjati Agreement. The purpose of this study is to determine the form of the Indonesian nation's struggle through the Linggarjati Agreement. The research method used in this research is the historical method which consists of heuristic stages, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that in the Linggarjati agreement, the Indonesian territories recognized by the Dutch included Java, Sumatra and Madura. The Netherlands also formed a puppet state to narrow the space for the Republic of Indonesia to move. The conclusion, namely: The Linggarjati Agreement made the territory of the Republic of Indonesia narrower, which was only limited to Java, Sumatra and Madura. To narrow the space for the Republic of Indonesia, the Netherlands formed a puppet state. The Linggarjati Agreement ended with the Indonesian nation's struggle to seize independence de facto and de jure over the entire territory of the Republic of Indonesia controlled by the Dutch.Keywords: Indonesia, Linggarjati, Agreement, Struggle 
Revitalisasi Museum Siginjei Sebagai Wahana Interaksi Budaya Di Tengah Pandemi Covid-19 Nelly Indrayani; Suparmi Suparmi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.13667

Abstract

Abstrak: Pandemi Covid 19 mengubah tatanan kehidupan normal menjadi new normal. Berbagai aktivitas sektor kehidupan mulai dari pemakaian masker, cuci tangan, peraturan jarak jauh menjadikan Museum siginjei merevitalisasi aktivitasnya dalam pelayanan terhadap masyarakat dari normal menjadi new normal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui revitalisasi Museum Siginjei sebagai wahana interaksi budaya di tengah pandemi Covid-19. Metode yang digunakan yaitu metode sejarah yang melalui empat tahapan, yaitu heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi. Sumber yang dipakai berupa sumber primer yang berasal dari buku, jurnal, berita dan wawancara yang berkenaan dengan judul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Siginjei mengalihkan pelayanan konvensionalnya kelayanan dalam bentuk digital seperti pelayanan online lewat facebook, instagram, dan youtube. Museum Siginjei juga melakukan re-inventarisasi dan re-registrasi koleksi yaitu berupa nomor yang rusak karena pengaruh udara dan juga keterangan koleksi yang masih berubah. Berbagai koleksi yang telah di inventarisasi dan dimasukkan dalam data base. Selanjutnya palayanan dilaksanakan melalui virtual, sehingga masyarakat dapat menikmati berbagai koleksi museum Siginjei sebagai bentuk produk budaya lokal lokal Jambi. Revitalisasi pemanfaatan museum melalui digitalisasi era pandemi ini, menjadi wahana interaksi budaya. Melalui digitalisasi tidak hanya menjangkau pengunjung yang berada di daerah lokal tetapi juga dari berbagai wilayah diluar Provinsi Jambi. Kata Kunci: Museum, Wahana Interaksi Budaya, Covid-19Abstrak: The Covid 19 pandemic has changed the order of normal life into a new normal. Various activities in the life sector ranging from wearing masks, washing hands, remote regulations make the Siginjei Museum revitalize its activities in service to the community from normal to new normal. This research aims to know the revitalization of the Siginjei Museum as a wagon of cultural interaction in the covid-19 pandemic. The method uses historical method. There are four steps to historical methode heuristi, source criticism. Interpretation, historiography. The resource used is a primary source that comes from books, journals, news and interview related to the title. Studies have shown that the Siginjei Museum transfers conventional services to digital services such as facebook, instagram, youtube and other services. The siginjei museum also re-catalogued and re-registration collections consisting of falling Numbers, broken (air effects) and also a collection of references. Various collections that have been inventoried and entered in the database. Furthermore, services are carried out via virtual, so that people can enjoy various collections of the Siginjei museum as a form of local Jambi cultural products. Revitalizing the use of museums through the digitalization era, becomes a vehicle for cultural interaction. Through digitization, it does not only reach visitors who are in the local area but also from the region.Keywords: Museum, Wagon of Cultural Interaction, Covid-19 
Kebijakan Hukum Pada Pemerintahan Sultanah di Kesultanan Aceh Darussalam (1641-1699) Muhammad Ilham; Yullia Merry
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.11484

Abstract

Abstrak: Aceh merupakan wilayah yang istimewa. Dari kawasan ini, lahir kerajaan Islam salah satunya Kesultanan Aceh Darussalam. Dalam perjalanan sejarahnya, Kesultanan Aceh Darussalam pernah dipimpin oleh perempuan (sultanah). Kedudukan perempuan sebagai pemimpin atau sultanah sering menjadi isu yang kontroversi. Berangkat dari fakta sejarah tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah  bagaimana kebijakan politik sultanah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1699. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguraikan kebijakan hukum sultanah Kesultanan Aceh Darussalam pada tahun 1641-1699. Penelitian ini menggunakan metode historis yaitu heuristik, interpretasi, kritik sumber dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah kematian Sultan Iskandar Thani, Kesultanan Aceh dipimpin oleh sultanah yaitu Sultanah Taj ‘Alam Safiyyat al-Din, Sultanah Nur al-‘Alam Naqiyyat al-Din, Sultanah ‘Inayat Shah Zakiyyat al-Din dan Sultanah Kamalat al-Din. Kebijakan hukum sultanah menjadi daya tarik karena Kesultanan Aceh Darussalam adalah kerajaan yang bercorak Islam.Kata Kunci: Hukum, Sultanah, Kesultanan, Aceh, DarussalamAbstract: Aceh is a special region. From this area, an Islamic kingdom was born, one of which was the Sultanate of Aceh Darussalam. In the course of its history, the Sultanate of Aceh Darussalam was once led by a woman (sultanah). Women's position as leader or sultanah is often a controversial issue. Departing from these historical facts, the problem in this study is how the political policies of the Sultanate of Aceh Darussalam Sultanate in 1641-1699. This study uses historical methods, namely heuristics, interpretation, source criticism and historiography. The results showed that after the death of Sultan Iskandar Thani, the Sultanate of Aceh was led by sultans namely Sultanah Taj 'Alam Safiyyat al-Din, Sultanah Nur al-'Alam Naqiyyat al-Din, Sultanah' Inayat Shah Zakiyyat al-Din and Sultanah Kamalat al-Din . Sultanate's political policy became an attraction because the Sultanate of Aceh Darussalam was a kingdom with an Islamic pattern. Keywords: Law, Sultanah, Kesultanan, Aceh, Darussalam
Kota Lubuklinggau Dalam Kurun Waktu 1825-1948 Berlian Susetyo; Ravico Ravico
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.12902

Abstract

Abstrak: Kajian tentang Kota Lubuklinggau berdasarkan kronologis sejarah masih belum ada kajian yang komprehensif, sehingga terjadi kegagalan pemahaman generasi muda dalam memahami sejarah Kota Lubuklinggau. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kota Lubuklinggau pada masa Kolonial Belanda, masa pendudukan Jepang, masa setelah proklamasi kemerdekaan serta masa agresi militer pertama dan kedua. Metode penelitian yang digunakan ialah metode sejarah, antara lain heuristik, kritik sumber, intepretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Lubuklinggau Tahun 1929 menjadi dusun kedudukan marga Sindang Kelingi Ilir, kemudian dikembangkan menjadi ibukota Onder Afdeeling Moesie Oeloe masa kolonial Belanda Tahun. Pada masa Jepang Tahun 1942, Lubuklinggau menjadi ibukota Bunshu Musikami Rawas. Pada masa setelah kemerdekaan Tahun 1945, Lubuklinggau menjadi Kawedanaan Musi Ulu sekaligus menjadi ibukota Kabupaten Musi Ulu Rawas. Kemudian pada masa agresi militer Belanda I Tahun 1947 dan agresi militer Belanda II Tahun 1948, Lubuklinggau menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Palembang sekaligus pusat pemerintahan militer Sub Teritorium Sumatera Selatan (SUBKOSS). Kata Kunci: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, LubuklinggauAbstract: The study of Lubuklinggau City is based on historical chronology, there is still no comprehensive study, so that there is a failure in understanding the young generation in understanding the history of Lubuklinggau City. Furthermore, this study aims to describe the city of Lubuklinggau during the Dutch colonial period, the Japanese occupation period, the period after the proclamation of independence and the period of the first and second military aggression. The research method used is the historical method, including heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The results showed that Lubuklinggau in 1929 became the hamlet of the Sindang Kelingi Ilir clan, then it was developed into the capital of Onder Afdeeling Moesie Oeloe during the Dutch colonial period. During the Japanese period in 1942, Lubuklinggau became the capital of the Bunshu Musikami Rawas. In the period after independence in 1945, Lubuklinggau became Kawedanaan Musi Ulu as well as the capital of Musi Ulu Rawas Regency. Then during the Dutch military aggression I in 1947 and Dutch military aggression II in 1948, Lubuklinggau became the center of the Palembang Residency government as well as the center of the South Sumatra SubTerritory (SUBKOSS) military government. Keywords: Moesie Oeloe, Musi Ulu Rawas, Lubuklinggau
Tan Malaka: Dari Gerakan hingga Kontroversi Uun Lionar; Ridho Bayu Yefterson; Hendra Naldi
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.13012

Abstract

Abstrak: Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Soekarno di tahun 1963, Tan Malaka hingga saat ini masih menjadi pahlawan yang “redup”. Keterlibatannya dalam tubuh Partai Komunis Indonesia (PKI) di masa Hindia Belanda telah menempatkan Tan Malaka pada posisi sulit, mengingat keberadaan PKI yang telah mengukir sejarah kelam di era kemerdekaan. Padahal, jika memperhatikan ide dan gagasan Tan Malaka yang tertuang dalam banyak karyanya, maka selayaknya ia dijuluki sebagai Bapak Republik. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kiprah Tan Malaka dalam pergerakan nasional dah mengekplorasi titik kontroversi Tan Malaka. Metode dalam penelitian ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa titik kontroversial Tan Malaka terletak pada keterlibatannya di tubuh PKI masa Hindia Belanda, namun demikian Tan Malaka adalah seorang nasionalis yang konsisten memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia melalui ideologi yang diyakininya. Adanya larangan ajaran Marxisme-Komunisme pasca pemberontakan PKI di tahun 1965 membuat Tan Malaka semakin terpinggirkan sebagai pahlawan nasional, selama Orde Baru namanya tidak terdapat dalam buku-buku pelajaran di sekolah maupun dalam Album Pahlawan Nasional, hal ini menjadi kontroversi atas keterlibatnnya di tubuh PKI. Namun, Era Reformasi menunjukkan sebuah kemajuan, buku-buku karangan Tan Malaka kembali dicetak dan banyak ilmuan mulai serius menyelami sosok Tan Malaka, terutama berkenaan dengan pemikiran dan gagasannya.Kata Kunci: Tan Malaka, Kontroversi, RevolusiAbstract: Defined as a National Hero by President Soekarno in 1963, Tan Malaka is still a "dim" hero. His involvement in the Indonesian Communist Party (PKI) during the Dutch East Indies had put Tan Malaka in a difficult position, given the existence of the PKI which had carved a dark history in the era of independence. In fact, if you pay attention to Tan Malaka's ideas and ideas contained in many of his works, then he should be called the Father of the Republic. This research aims to examine Tan Malaka's progress in the national movement and to explore the points of controversy of Tan Malaka. The method in this study uses the historical method which consists of 4 (four) stages, namely hauristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings of this study indicate that Tan Malaka's controversial point lies in his involvement in the PKI during the Dutch East Indies, however, Tan Malaka was a nationalist who consistently fought for the ideals of Indonesian independence through the ideology he believed in. The prohibition against the teachings of Marxism-Communism after the PKI rebellion in 1965 made Tan Malaka even more marginalized as a national hero, during the New Order his name was not included in school textbooks or in the National Hero Album, this became a controversy over his involvement in the PKI. However, the Reformation Era showed progress, Tan Malaka's books were again printed and many scientists began to seriously delve into the figure of Tan Malaka, especially with regard to his thoughts and ideas.Keywords: Tan Malaka, Controversy, Revolution 
Nilai-Nilai Kearifan Lokal Rumah Adat Kajang Lako di Jambi Ahmad Alim Wijaya; Syarifuddin Syarifuddin; Aulia Novemy Dhita
Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jc.v10i1.11488

Abstract

Abstrak: Keberagaman kebudayaan yang dimiliki masyarakat daerah dapat dilihat dari rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat seperti rumah adat Kajang lako di Jambi. Rumah adat ini memiliki arsitektur unik sebagai kearifan lokal di Provinsi Jambi. Adapun permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah mengenai nilai-nilai kearifan lokal rumah adat Kajang lako. Tujuan penelitian untuk menguraikan nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada rumah adat Kajang lako di Jambi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif naratif yang bertujuan untuk mengetahui tentang fakta-fakta yang ada yang diproses dengan ditelaah secara faktual, akurat, dan sistematis. Dalam proses teknik pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selain termasuk sebagai kekayaan lokal dan bagian dari cerminan multikultural, kajang lako memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang tepat untuk diterapkan yaitu nilai historis, religius, kekeluargaan, gotong royong dan kerjasamaKata kunci: Rumah Adat, Kajang lako, Kearifan Lokal Abstract:  The cultural diversity possessed by local communities can be seen from the traditional houses owned by the community such as the Kajang Lako traditional house in Jambi. This traditional house has a unique architecture as local wisdom in Jambi Province. The problems studied in this study are the values of local wisdom of the Kajang Lako traditional house. The research objective was to describe the values of local wisdom found in the Kajang Lako traditional house in Jambi. The research method used in this research is descriptive narrative research method which aims to find out about the existing facts which are processed by being reviewed factually, accurately, and systematically. In the process of data collection techniques, researchers used literature study techniques. The results show that apart from being included as a local wealth and part of a multicultural reflection, kajang lako has the appropriate local wisdom values to be applied, namely historical, religious, kinship, mutual cooperation and cooperation..Keywords : Custom House, Kajang lako, Local Wisdom

Page 1 of 1 | Total Record : 6