cover
Contact Name
Soni Samsu Rizal
Contact Email
soni.samsurizal@yahoo.co.id
Phone
-
Journal Mail Official
alauladtarbiyah@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Tarbiyah al-Aulad : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini
ISSN : 25494651     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Tarbiyah al-Aulad : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, print ISSN : 2549-4651 adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat. Jurnal ini menjadi media untuk menyebarkan gagasan dan temuan ilmiah di bidang pendidikan anak usia dini.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016" : 7 Documents clear
METODE PENDIDIKAN HASAN AL-BANNA SEBAGAI METODE PENDIDIKAN ISLAM (Analisisis Buku Risalah Dakwah Hasan Al-Banna) Wahyudin Wahyudin; Sumadi Sumadi
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.923 KB)

Abstract

Dalam sebuah sya’ir dikatakan “al-thariqatu ahammu min al-mâddah,” maksudnya adalah metode itu “dianggap” lebih penting dari pada penguasaan materi. Rasionalisasi dari pernyataan tersebut adalah apabila seorang pendidik menguasai banyak materi namun tidak memahami bagaimana materi tersebut bisa disampaikan dengan baik kepada peserta didik (tidak menguasai metode), maka proses transformasi pengetahuan sulit tercapai. Sebaliknya apabila seorang pendidik hanya menguasai sejumlah atau sedikit materi, tetapi menguasai berbagai macam metode pendidikan, maka dimungkinkan peserta didik akan mampu memahami materi yang ingin disampaikan dalam proses pendidikan
PENDIDIKAN KARAKTER PERSPEKTIF K.H ABDULLAH GYMNASTIAR Euis Cici Nurunnisa; Husni Husni
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.923 KB)

Abstract

Pendidikan Karakter menjadi perbincangan yang sangat hangat saat ini, karena pendidikan karakter saat ini masih jauh dari harapan, hal ini ditandai dengan maraknya seks bebas di kalangan remaja, peredaran narkoba di kalangan remaja, peredaran foto dan video porno pada kalangan pelajar, dan sebagainya. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti karya seorang tokoh yaitu K.H Abdullah Gymnastiar dalam bukunya membangun karakter baik & kuat yang menjelaskan pendidikan karakter dengan cara yang praktis. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui karakter manusia menurut K.H Abdullah Gymnastiar, 2) Untuk mengetahui ciri-ciri karakter baik dan kuat menurut K.H Abdullah Gymnastiar, 3) Untuk mengetahui bagaimana cara membina karakter baik dan kuat menurut K.H Abdullah Gymnastiar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis isi (content analysis) terhadap buku membangun karakter baik & kuat. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah melakukan studi kepustakaan dengan cara menelaah berbagai tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian. Data ini kemudian dianalisis melalui tiga tahapan yaitu pemprosesan data (Unityzing), kategorisasi, dan penafsiran data. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa: 1) Karakter manusia menurut K.H Abdullah Gymnastiar ada empat karakter. Pertama, karakter baik dan lemah, yaitu seseorang yang jujur terpercaya, rendah hati, murah senyum, penyabar; tetapi tidak memiliki kedisiplinan, keberanian dan ketangguhan yang cukup. Dalam keadaan demikian, yang baiknya hanya untuk dirinya sendiri. Kedua, jelek dan lemah, yaitu seseorang yang berperangai jelek, licik, gemar berbohong dan munafik; akan tetapi dalam waktu yang bersamaan, dia tidak memiliki cukup keberanian untuk melakukan kejahatan. Pola hidupnya tidak disipilin, gampang menyerah, takut membuat keputusan dan terlalu banyak perhitungan. Kejelekannya hanya berdampak kepada dirinya sendiri. Ketiga, jelek dan kuat, yaitu seseorang yang munafik, musyrik, sombong, licik, pendengki dan lain sebagainya. Pada saat yang bersamaan dia juga punya keberanian, kecerdasan, ulet dan ambisius dalam melakukan kejahatannya. Orang-orang berkarakter seperti demikianlah yang melakukan tindakan kejahatan korupsi, menggerogoti bangsa sehingga keropos dan rentan ambruk. Keempat, karakter baik dan kuat, yaitu seseorang yang memiliki hati yang ikhlas dan tulus. Energinya akan melimpah, karena perjuangannya dibumbui dengan rasa keikhlasan. 2) Ciri-ciri karakter baik dan kuat menurut K.H Abdullah Gymnastiar, yaitu pertama karakter baik; ikhlas, jujur dan tawadhu. Kedua karakter kuat: displin, tangguh dan berani. Karakter inilah yang harus dimiliki oleh setiap insan manusia untuk bekal hidup menjadi generasi penerus bangsa. 3) Cara membina karakter baik dan kuat menurut K.H Abdullah Gymnastiar ada empat cara, yaitu pertama, lingkup indvidu; (taubat, mujahadah dan do’a). Kedua lingkup keluarga; (didik ketauhidannya, ibadahnya, akhlaknya, akal pikirannya dan fisiknya). Ketiga lingkup masyarakat; (bangun kegiatan keagamaan, bangun suasana kebersamaan dan hindari potensi perselisihan). Keempat lingkup negara; (penegak hukum, pemerintah, pengusaha , dan ulama) harus adil dan memberi contoh yang baik.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM YANG TERKANDUNG DALAM ALQURAN SURAT AS-SAJDAH AYAT 9 RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN PRANATAL (Studi Analisis Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab) Soni Samsu Rizal
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.926 KB)

Abstract

Proses pembelajaran ta’lim secara simbolis dinyatakan dalam Alquran ketika Allah swt memberikan penjelasan tentang bagaimana proses penciptaan manusia agar manusia dapat bersyukur dalam surat As-Sajdah ayat 9. Secara keseluruhan nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Alquran surat As-Sajdah ayat 9 ini terdiri dari pendidikan keimanan (tauhid), pendidikan kejiwaan (akhlak), serta pendidikan ibadah yang didasari dengan niat yang ikhlas dalam menjalankan semua perintah Allah swt. Penelitian ini bertujuan untuk: 1). Mengetahui isi surat Al-Qur'an As-Sajdah ayat 9 hati Tafsir Al Misbah oleh Muhammad Quraish Shihab. 2). Mengetahui nilai-nilai pendidikan Islam dalam Al-Qur'an Surat As-Sajda ayat 9 dalam Tafsir Al Misbah oleh Muhammad Quraish Shihab. 3). Mengetahui tujuan pendidikan Islam berdasarkan Al-Qur'an Surat As-Sajda ayat 9 dalam Tafsir Al Misbah oleh Muhammad Quraish Shihab serta relevansi dengan pendidikan prenatal. Penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut: 1) Kandungan Alquran surat As-Sajdah ayat 9 dalam Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab. Ayat dalam surat ini berbicara tentang penciptaan manusia, Allah swt yang mengatur segala urusan dan Maha Pencipta itu serta yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. 2) Nilai-nilai pendidikan Islam berdasarkan dalam Alquran Surat As-Sajdah ayat 9 dalam Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab mengandung masalah pendidikan yang memenuhi aspek-aspek sebagai berikut: Aspek pendidikan keimanan, pendidikan akhlak, pendidikan akliah, pendidikan sosial, pendidikan jasmaniah. 3) Tujuan pendidikan Islam berdasarkan dalam Alquran Surat As-Sajdah ayat 9 relevansinya dengan pendidikan pranatal dalam Alquran Surat As-Sajdah ayat 9 dalam Tafsir Al-Misbah karya Muhammad Quraish Shihab meliputi tujuan umum, tujuan khusus, dan tujuan sementara.
KONSEP GURU DAN PENDIDIKAN AKHLAK MENURUT IMAM AL-GHAZALI (Studi Analisi Terjemah Kitab Ihya Ulumuddin) Rodiah, Iis; Al Hamdani, M. Djaswidi
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.923 KB)

Abstract

Komponen-komponen dalam pendidikan mempunyai pengaruh untuk peningkatan mutu pendidikan. Salah satu komponen yang mempunyai peran signifikan adalah guru. Guru dalam konteks kependidikan mempunyai peranan yang besar dan strategis. Hal ini di sebabkan gurulah yang berada di barisan depan dalam pelaksanaan pendidikan . Gurulah yang langsung berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus mendidik dengan nilai nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Imam Al-Ghazali memiliki pendapat yang tajam, kedalaman dan kebijaksanaan berfikir serta pandangan yang jauh masalah-masalah pengajaran serta problem-problem lain yang berkaitan tentang pendidikan. Dari sini tampak oleh kita pentingnya konsep-konsep yang diberikan Al-Ghazali dalam membahas pendidikan Akhlak dalam konteks ini berkaitan dengan konsep Guru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode content analysis (analisis isi) sedangkan teknik pengumpulan data yang di gunakan adalah study kepustakaan atau dokumentasi. Data-data yang terkumpul lalu dianalisis dengan teknik dedukasi, induksi, komparasi dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan analisis data, di peroleh kesimpulan sebagai berikut: Pertama, dalam pandangan al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan, menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikan perhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik. Hal ini tercermin dalam tulisannya:“Sebaik-baik ikhwalnya adalah apa yang dia katakan berupa ilmu pengetahuan”. Kedua, pendidikan akhlak menurut Imam Al Ghazali merupakan proses menghilangkan sifat-sifat tercela yang ada pada diri dan menanamkan sifat sifat terpuji, yang mana bertujuan untuk menghasilkan insan kamil dan mendekatkan diri kepada Allah sehingga manusia dapat memperoleh kebahagiaan didunia dan akhirat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorang pendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam kesempurnaan akalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat.
KONSEP POSITIVE PARENTING MENURUT MUHAMMAD FAUZIL ADHIM DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK Fanny Fauzy Hannifuni'am; Abdu; Aziz
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.926 KB)

Abstract

Positive parenting adalah pola pengasuhan anak yang baik yang menekankan pada sikap positif. Hal ini, bisa membuat seorang anak mempunyai kemampuan inteletual dan fisik yang bagus, termasuk perkembangan emosional, sosial, spiritual, dan intelektual. Maka dari itu, orang tua perlu berpikir tentang bagaimana menjalankan tugas keayahbundaan yang baik, yakni mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak secara positif. Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui konsep positive parenting menurut Muhammad Fauzil Adhim, 2) Untuk mengetahui implikasi konsep positive parenting menurut Muhammad Fauzil Adhim bagi pendidikan anak, 3) Untuk mengetahui relevansi konsep positive parenting menurut Muhammad Fauzil adhim bagi kehidupan anak. Metode penelitian ini menggunakan penelitian studi kepustakaan (Library research) dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analitik. Data penelitian yang terkumpul dianalisis secara intens dengan menggunakan metode analisis isi (Content Analysis) secara bertahap. Setelah melakukan analisis data, penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) konsep positive parenting menurut Muhammad Fauzil Adhim, bahwa positive parenting adalah pola asuh orang tua tentang bagaimana mengasuh dan menjalankan tugas keayahbundaan yang baik, yakni mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak secara positif. 2) Implikasi konsep positive parenting terhadap pendidikan anak sangatlah melekat. Sebab, peran orang tua terhadap pendidikan anak begitu besar. Jika, anak dididik dengan lembut, penuh kasih sayang dan pengertian, maka perkembangan anak akan lebih cepat dewasa, cerdas secara fisik dan psikis serta berjiwa besar dalam menghadapi kehidupan. 3) Relevansi konsep positive parenting bagi pendidikan anak mempunyai hubungan yang kuat. Hal ini, dikarenakan orang tua dan pendidikan adalah dua sisi yang saling berkaitan. Sehingga orang tua dikatakan pendidik pertama karena dari merekalah anak memperoleh pendidikan untuk yang pertama kalinya.
RELEVANSI TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM DENGAN KONSEP SABAR MENURUT IMAM AL-GAZÂLÎ DALAM KITAB IHYA ULUMUDDIN Indrawati Noor Kamila; Ujang Endang
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.931 KB)

Abstract

Kesabaran menuntut ketabahan dalam menghadapi sesuatu yang sulit, berat, dan pahit, yang harus diterima dan dihadapi dengan penuh tanggung jawab. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengertian sabar dalam perspektif Islam; 2) Untuk mengetahui konsep sabar menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin; 3) Untuk mengetahui relevansi konsep sabar menurut Imam Al-Gazali dengan tujuan pendidikan Islam. Metode penelitian yang digunakan adalah metode content analysis (analisis isi), karena penelitian ini bersifat kualitatif. Setelah melakukan analisis data penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1) Dalam perspektif Islam sabar adalah salah satu akhlak mulia yang menghalangi munculnya tindakan yang tidak baik dan tidak memikat.; 2) Dalam perspektif Imam Al-Ghazali bahwa sabar merupakan suatu konsep utama yang harus dilalui dan dijalani oleh setiap orang beriman. Manusia sebagai makhluk sempurna diberi sejumlah potensi yang harus dikembangkan, seiring itu juga manusia diberi nafsu. Nafsu yang tidak bisa di tiadakan namun harus di jinakan oleh manusia itu sendiri agar bisa dikendalikan. Untuk mengendalikan nafsu tersebut yaitu dengan cara sabar; 3) Konsep sabar dalam perspektif Imam al- Ghazali sangat erat sekali kaitannya dengan tujuan pendidikan Islam. Karena tujuan akhir pendidikan Islam adalah penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Kata penyerahan ini dalam agama disebut tawakal yang dicerminkan dengan sikap sabar.
FUNGSI MEMBACA DALAM KONSEP PENDIDIKAN ISLAM (Studi Analisis Terhadap Tafsir Alquran Surat Al-‘Alaq ayat 1-5 dalam Tafsir Jâmi’ul-Bayâni Fî Ta’wîl Alqurân karya Ath-Thabari) Nia Nuraida; Lilis Nurteti
Tarbiyat al-Aulad: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Vol 1 No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.926 KB)

Abstract

Membaca merupakan fungsi yang paling penting dalam hidup dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Belum ada sejarah yang tercatat di dunia bahwa seorang yang cerdas, memiliki daya intelektual tinggi, padahal tidak suka dengan membaca, atau pengetahuan yang didapatkan dari berdiam diri.. Betapa luas ilmu Allah SWT dan betapa sempit ilmu yang dimiliki manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan adalah library research. Data-data yang terkumpul kemudian diolah dan dianalisis melalui beberapa tahapan di antaranya pemprosesan data (unityzing), data-data yang terkumpul dapat dikelompokkan, setelah itu data ditafsirkan dan dianalisis. Setelah melakukan analisis data, penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Penafsiran surat al-‘Alaq ayat 1-5 bahwa perintah membaca yang diterangkan dalam kitab tafsir Ath-Thabari ini dimaksudkan agar kita banyak membaca, menelaah, memerhatikan alam raya, serta membaca kitab yang tertulis dan tidak tertulis dengan rangka mempersiapkan diri terjun ke masyarakat serta menjadi manusia yang berilmu, beriman, bertaqwa dan dapat mengamalkan ilmu yang kita peroleh sesuai dengan ajaran agama Islam. 2) Fungsi membaca dalam konsep pendidikan Islam menurut surat al-Alaq ayat 1-5 ini adalah : Menambah pengetahuan intelektual dan menambah keimanan bahwa ilmu Allah SWT sangat luas dan pengetahuan manusia sangatlah sempit. Dengan sering membaca maka manusia akan menjadi manusia yang berilmu dan beriman.

Page 1 of 1 | Total Record : 7