cover
Contact Name
Muhammad Ali Adriansyah
Contact Email
ali.adriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikostudia@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikostudia : Jurnal Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23022582     EISSN : 26570963     DOI : -
PSIKOSTUDIA : JURNAL PSIKOLOGI is a peer-reviewed journal which is published by Universitas Mulawarman, East Kalimantan publishes biannually in June and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 520 Documents
Development of Career Adapt-Abilities Scale - Employee Selection (CAAS-ES) For Employee Selection Process Ilyas Dzaky Almahdy; Hanisa Darupa Putri; Nawang Kusumastuti; Ocky Fajzar Suryani; Shah Hussain; Rizka Halida
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26382

Abstract

This study aimed to develop the Career Adapt-Abilities Scale–Employee Selection (CAAS-ES) and examine its psychometric properties among Indonesian job seekers. Career adaptability refers to an individual’s ability to cope with career development tasks, work transitions, and changes that affect occupational roles. Assessing career adaptability in employee selection is important for identifying individuals’ readiness to navigate uncertainty and meet the demands of dynamic organizational environments. The CAAS-ES was developed based on Savickas’ theory of career adaptability and consists of 17 items measuring four dimensions: concern, control, curiosity, and confidence, using a six-point Likert scale. The respondents consisted of 290 job seekers aged 18–64 years. Data were analyzed using Confirmatory Factor Analysis (CFA) to examine construct validity and Cronbach’s alpha to assess reliability. The results indicated that the measurement model demonstrated an adequate fit to the data (CFI = 0.918, TLI = 0.901, RMSEA = 0.076, SRMR = 0.052) and excellent reliability (α = 0.92). These findings suggest that the CAAS-ES is a valid and reliable instrument for measuring career adaptability among Indonesian job seekers.Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Career Adapt-Abilities Scale–Employee Selection (CAAS-ES) serta menguji kualitas psikometriknya pada populasi pencari kerja di Indonesia. Adaptabilitas karier merepresentasikan kemampuan individu dalam menghadapi tugas perkembangan karier, transisi pekerjaan, dan perubahan yang memengaruhi peran kerjanya. Pengukuran adaptabilitas karier dalam proses seleksi karyawan penting dilakukan untuk mengidentifikasi kesiapan individu dalam menghadapi ketidakpastian dan tuntutan organisasi yang dinamis. Alat ukur CAAS-ES dikembangkan berdasarkan teori adaptabilitas karier Savickas dan terdiri atas 17 item yang mengukur empat dimensi, yaitu concern, control, curiosity, dan confidence, menggunakan skala Likert enam poin. Responden penelitian ini terdiri atas 290 pencari kerja berusia 18–64 tahun. Data dianalisis menggunakan Confirmatory Factor Analysis (CFA) untuk menguji validitas konstruk, serta koefisien Cronbach’s alpha untuk menguji reliabilitas. Hasil analisis menunjukkan bahwa model pengukuran memiliki tingkat kecocokan yang memadai dengan data (CFI = 0.918, TLI = 0.901, RMSEA = 0.076, SRMR = 0.052) serta reliabilitas yang sangat baik (α = 0.92). Temuan ini menunjukkan bahwa CAAS-ES merupakan instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur adaptabilitas karier pada populasi pencari kerja di Indonesia.
Psychometric Validation of the Indonesian Adolescent Adaptation of the Psychological Inventory of Criminal Thinking Styles Lucy Lidiawati Santioso; Wisnu Wiradhany; Clara R. P. Ajisuksmo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26802

Abstract

This study addresses the need for culturally valid instruments to assess criminal thinking among adolescents in non-Western contexts. Existing measures, such as the Psychological Inventory of Criminal Thinking Styles (PICTS), have limited applicability for adolescent and cross-cultural populations. This study aimed to adapt PICTS into an adolescent-oriented Indonesian version and evaluate its psychometric properties among Indonesian adolescents. A cross-sectional design was used with 550 adolescents aged 14–18 years recruited from educational and correctional settings. The sample was randomly divided for exploratory factor analysis (EFA; n = 275) and confirmatory factor analysis (CFA; n = 275). Reliability was assessed using Cronbach’s alpha and composite reliability, while validity was evaluated using average variance extracted (AVE), heterotrait–monotrait ratio (HTMT), and correlations with APSD-Y. Results supported a four-factor structure consisting of moral disengagement, executive dysfunction, rationalization, and reflective awareness. The final 29-item model showed acceptable fit (CFI = .910, TLI = .901, RMSEA = .039, SRMR = .060), with reliability coefficients ranging from .646 to .858. Concurrent validity was supported by a moderate correlation with APSD-Y scores (r = .441, p < .001). These findings provide preliminary evidence that the Indonesian adolescent adaptation of PICTS is a culturally relevant instrument for assessing criminal thinking among Indonesian adolescents.Penelitian ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan akan instrumen yang valid secara budaya dalam mengukur pemikiran criminal (criminal thinking) pada remaja di konteks non-Barat. Instrumen yang tersedia, seperti Psychological Inventory of Criminal Thinking Styles (PICTS), masih memiliki keterbatasan ketika digunakan pada populasi remaja dan lintas budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengadaptasi PICTS ke dalam versi yang sesuai untuk remaja Indonesia serta mengevaluasi karakteristik psikometriknya. Penelitian menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan melibatkan 550 remaja berusia 14–18 tahun yang direkrut dari lingkungan pendidikan dan pemasyarakatan. Sampel dibagi secara acak untuk analisis faktor eksploratori (EFA; n = 275) dan analisis faktor konfirmatori (CFA; n = 275). Reliabilitas dievaluasi menggunakan koefisien alfa Cronbach dan composite reliability, sedangkan validitas dievaluasi melalui average variance extracted (AVE), heterotrait–monotrait ratio (HTMT), dan korelasi dengan APSD-Y. Hasil penelitian mendukung struktur empat faktor yang terdiri atas moral disengagement, executive dysfunction, rationalization, dan reflective awareness. Model akhir yang terdiri dari 29 aitem menunjukkan kesesuaian model yang memadai (CFI = .910, TLI = .901, RMSEA = .039, SRMR = .060), dengan koefisien reliabilitas berkisar antara .646 hingga .858. Validitas konkuren didukung oleh korelasi positif sedang dengan skor APSD-Y (r = .441, p < .001). Temuan ini memberikan dukungan awal terhadap adaptasi PICTS untuk remaja Indonesia sebagai instrumen yang relevan secara budaya untuk mengukur criminal thinking pada remaja Indonesia.
Passing Values, Building Identity: An Intergenerational Value Transmission and Shared Identity in East Nusa Tenggara Christian Families Chatarin Angelina Balle; Nuke Martiarini
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26675

Abstract

Christian families in East Nusa Tenggara are known for their strong family values. However, the effectiveness of value transmission within the family faces challenges due to changing times and shifts in domestic relationship dynamics. This study aims to empirically analyze the influence of family values transmission on shared family identity among Christian families in East Nusa Tenggara. Utilizing a quantitative approach with a cross-sectional survey design, this study involved 197 mothers selected through purposive sampling. Data were collected using the Transmission of Values Scale (21 items) and the Shared Family Identification Scale (5 items), and subsequently analyzed using simple and multiple linear regression tests. The results indicate that family values transmission has a positive and significant effect on shared family identity (B=0.194; p<0.001), contributing 33.3% to the variance. Additionally, the demographic variable of marriage duration was also found to have a positive and significant effect on shared family identity (B=0.378; p<0.001). These findings underscore that the effectiveness of value transmission within the household plays a crucial role in strengthening a collective family identity among Christian families. This study highlights the urgency of strengthening the family's role, particularly that of the mother, in transmitting core values as an effort to reinforce family identity amidst ongoing social changes.Keluarga Kristen di Nusa Tenggara Timur dikenal memiliki nilai kekeluargaan yang kuat, namun efektivitas pewarisan nilai dalam keluarga menghadapi tantangan akibat perubahan zaman dan dinamika relasi keluarga. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh family values transmission terhadap shared family identity pada keluarga Kristen di Nusa Tenggara Timur. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional, studi ini melibatkan 197 ibu sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan Transmission of Values Scale (21 item) dan Shared Family Identification Scale (5 item), yang kemudian dianalisis melalui uji regresi linier sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa family values transmission berpengaruh positif dan signifikan terhadap shared family identity (B = 0.194; p < 0.001) dengan kontribusi sebesar 33.3%. Di samping itu, variabel demografis usia pernikahan juga ditemukan berpengaruh terhadap shared family identity (B = 0.378; p < 0.001). Rangkaian temuan ini menegaskan bahwa efektivitas transmisi nilai dalam keluarga berperan penting dalam memperkuat identitas keluarga bersama pada keluarga Kristen. Hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya penguatan peran keluarga, khususnya ibu, dalam mentransmisikan nilai-nilai keluarga sebagai upaya memperkuat identitas keluarga di tengah perubahan sosial yang terus berkembang.
Self-Concept Among Otaku and Weeaboo in Japanese Pop Culture: A Systematic Literature Review Hani Fadilah Humaira; Nita Trimulyaningsih
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26411

Abstract

This study aims to identify and synthesize the findings of previous research on self-concept, covering definitions and criteria related to Otaku and Weeaboo. The method used in this study is a systematic literature review utilizing the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. The article search process utilized the Scopus and PubMed databases. The screening process yielded 15 articles for further analysis. From the results of this analysis, it was found that “Otaku” is a term derived from a Japanese word meaning “home.” This term refers to individuals who enjoy spending time at home pursuing hobbies related to Japanese pop culture, such as watching anime, playing computer and video games, and reading manga and novels. Additionally, “Weeaboo” is a term for non-Japanese individuals who are so fascinated by Japanese pop culture that it leads to a desire to become Japanese. These two terms often overlap and share similar criteria. The self-concept of Otaku and Weeaboo individuals is shaped by their interest in Japanese pop culture, such as anime, manga, games, and novels. Even within the Weeaboo community, they view themselves as part of the Japanese people. This self-concept is further strengthened by community involvement, whether among Otaku or Weeaboo.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mensintesis temuan-temuan penelitian sebelumnya mengenai konsep diri yang mencakup definisi hingga kriteria pada Otaku dan Weeaboo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa tinjauan pustaka sistematis dengan alat bantu Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Analyse (PRISMA). Proses pencarian artikel menggunakan databese Scopus dan PubMed. Hasil penyaringan mendapat 15 artikel untuk dianalisis lebih lanjut. Dari hasil analisis tersebut, ditemukan bahwa Otaku merupakan istilah yang berasal dari kata Jepang yang berarti “rumah”. Istilah ini diperuntukkan bagi individu yang senang menghabiskan waktu di dalam rumah untuk melakukan hobinya yang berkaitan dengan budaya pop Jepang seperti menonton anime, bermain komputer dan video game, serta membaca manga dan novel. Selain itu, Weeaboo merupakan istilah bagi individu non-Jepang yang tertarik dengan budaya pop Jepang hingga menimbulkan keinginan untuk menjadi orang Jepang. Kedua istilah ini seringkali tumpang tindih dan memiliki kriteria yang mirip. Konsep diri pada individu Otaku dan Weeaboo terbentuk melalui ketertarikan mereka pada budaya pop Jepang seperti anime, manga, game, dan novel. Bahkan dalam komunitas Weeaboo, mereka menilai diri sebagai bagian dari orang Jepang. Konsep diri ini semakin kuat karena adanya keterlibatan komunitas, baik pada Otaku maupun Weeaboo.
Islamic Work Ethics and Organizational Commitment: The Role of Cultural Factors as a Moderator for Early Childhood Education Teachers Nadhirotul Laily; Retno Dwiyanti
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26395

Abstract

Islamic work ethics is a set of value systems and beliefs in educators that are sourced from Islamic teachings and underlie the attitudes and behavior of Early Childhood Education (PAUD) teachers in increasing organizational commitment strengthened by cultural factors. The objectives of this study are (1) to determine the influence of Islamic work ethics on organizational commitment (2) to test cultural factors as a moderator of the relationship between Islamic work ethics and organizational commitment in PAUD teachers. The subjects in this study were PAUD Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) teachers in Gresik Regency, East Java and PAUD ABA teachers in Purwokerto Regency, Central Java using random sampling obtained 172 participants. Data collection instruments used the Islamic Work Ethic Questionnaire, Organizational Commitment Questionnaire, and cultural demographic data. This type of research is quantitative, and in data analysis using PLS-SEM analysis. The results of the study showed that there was a significant influence of Islamic work ethics on organizational commitment with p <0.01, while cultural factors did not moderate the relationship between Islamic work ethics and organizational commitment with p = 0.157. These findings indicate that internalized Islamic values within educators are consistently able to predict organizational commitment, regardless of differences in cultural background.Etika kerja Islam menjadi seperangkat sistem nilai dan keyakinan pada pendidik yang bersumber dari ajaran agama Islam serta mendasari sikap dan perilaku guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam meningkatkan komitmen organisasi yang dikuatkan dengan faktor budaya. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui pengaruh etika kerja Islam terhadap komitmen organisasi (2) menguji faktor budaya sebagai moderasi antara etika kerja Islam dengan komitmen organisasi pada guru PAUD. Subjek dalam penelitian ini adalah guru PAUD Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) di Kab. Gresik Jawa Timur dan guru PAUD ABA di Kab. Purwokerto Jawa Tengah menggunakan random sampling didapatkan sebanyak 172 parisipan. Instrumen pengumpulan data menggunakan Islamic Work Ethic Questionnaire, Organizational Commitment Questionnaire, dan data demografi budaya. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dan dalam analisis data menggunakan analisis PLS-SEM. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh signifikan etika kerja Islam terhadap komitmen organisasi dengan p < 0.01, sedangkan faktor budaya tidak memoderasi hubungan etika kerja Islam terhadap komitmen organisasi dengan p = 0.157. Temuan ini mengindikasikan bahwa nilai-nilai islam terinternalisasi dalam diri pendidik secara konsisten mampu memprediksi komitmen organisasi, terlepas dari perbedaan latar belakang budaya.
Workplace Ostracism and Creativity among Startup Employees: The Mediating Role of Workplace Loneliness and the Moderating Role of Resilience Syafira Azka Farhani; Endang Parahyanti
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26557

Abstract

Employee creativity in startups is a crucial factor in fostering creative ideas to adapt to a dynamic work environment. However, workplace social experiences, such as workplace ostracism, can affect employees’ psychological well-being, thereby affecting their creativity. This study explored the effect of workplace ostracism affects employee creativity through workplace loneliness and the role of resilience as a moderating variable in the relationship between workplace loneliness and employee creativity. This study was designed using a cross-sectional quantitative approach. The study involved 305 employees working at startups selected through convenience sampling. Data were collected via a self-report questionnaire using a Likert scale and analyzed using partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4 software. The findings suggest that workplace ostracism affects employee creativity through workplace loneliness. In this context, workplace loneliness acts as a mediating variable linking workplace ostracism to employee creativity. Additionally, resilience acts as a moderator in the relationship between workplace loneliness and employee creativity. Employees possessing strong resilience have a diminished adverse effect of loneliness on creativity in contrast to their low-resilience counterparts. These findings underscore the need of cultivating an inclusive workplace and enhance employee resilience in startups to sustain creativity.Kreativitas dalam perusahaan rintisan merupakan aspek penting untuk beradaptasi di lingkungan kerja yang dinamis. Namun, pengalaman sosial di tempat kerja seperti workplace ostracism, dapat memengaruhi kondisi psikologis karyawan, sehingga berdampak pada kreativitas. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana workplace ostracism memengaruhi kreativitas karyawan melalui kesepian di tempat kerja, serta peran resiliensi sebagai variabel moderasi dalam hubungan antara kesepian di tempat kerja dan kreativitas karyawan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional. Penelitian ini melibatkan 305 karyawan yang bekerja di perusahaan rintisan yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Data diperoleh melalui kuesioner self-report dengan skala Likert, lalu diolah menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan aplikasi SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan workplace ostracism memiliki pengaruh terhadap kreativitas karyawan melalui kesepian di tempat kerja. Dalam hal ini, kesepian di tempat kerja berfungsi sebagai variabel mediasi yang menghubungkan workplace ostracism dengan kreativitas karyawan. Selain itu, resiliensi berperan sebagai moderator dalam hubungan antara kesepian di tempat kerja dan kreativitas karyawan, dimana karyawan dengan resiliensi tinggi menunjukkan penurunan dampak negatif kesepian terhadap kreativitas dibandingkan mereka yang memiliki resiliensi lebih rendah. Hasil ini menunjukkan pentingnya membangun lingkungan kerja yang inklusif dan penguatan resiliensi karyawan untuk menjaga kreativitas di perusahaan rintisan.
Perfectionism and Fear of Missing Out Among Junior High School Students: The Mediating Role of Social Media Intensity Umar Diharja; Joko Kuncoro
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26521

Abstract

The digital era triggers pressure for an idealized image and social comparison among adolescents, leading to the anxiety of missing out on rewarding moments, known as Fear of Missing Out (FOMO). Perfectionism exacerbates this condition. This study aims to examine the correlation between perfectionism and Fear of Missing Out (FOMO) among junior high school students who actively use social media. The study employed a quantitative correlational design involving 120 students (64 female, 56 male) from two junior high schools in Lubuk Linggau, selected through purposive sampling. Perfectionism was measured using the Multidimensional Perfectionism Scale (MPS) by Hewitt and Flett (1991), while FOMO was measured using the Fear of Missing Out Scale (FoMOs) by Przybylski et al. (2013). Data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression with IBM SPSS Statistics version 22. Results showed a strong positive correlation between perfectionism and FOMO (r = 0.704; p < 0.01). Among the three dimensions, SPP demonstrated the strongest correlation with FOMO (r = 0.699), followed by SOP (r = 0.468) and OOP (r = 0.514). Perfectionism accounted for 70.4% of FOMO variance (R² = 0.704; F = 115.638; p < 0.001). These findings suggest that maladaptive perfectionism, particularly perceived social pressure, is a key mechanism underlying FOMO among adolescents.Era digital memicu tekanan citra ideal dan perbandingan sosial pada remaja, yang memunculkan kecemasan tertinggal momen berharga atau Fear of Missing Out (FOMO). Perfeksionisme memperburuk kondisi ini. Penelitian ini bertujuan mengkaji hubungan antara perfeksionisme dan Fear of Missing Out (FOMO) pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) pengguna media sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif desain korelasional dengan melibatkan 120 siswa (64 perempuan, 56 laki-laki) dari dua SMP di Lubuk Linggau yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Perfeksionisme diukur menggunakan Multidimensional Perfectionism Scale (MPS) dari Hewitt dan Flett (1991), sedangkan FOMO diukur menggunakan Fear of Missing Out Scale (FoMOs) dari Przybylski et al. (2013). Analisis data menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear sederhana melalui IBM SPSS Statistics versi 22. Hasil penelitian menunjukkan korelasi positif yang kuat antara perfeksionisme dan FOMO (r = 0.704; p < 0.01). Di antara tiga dimensi, SPP menunjukkan korelasi paling kuat dengan FOMO (r = 0.699), diikuti SOP (r = 0.514) dan OOP (r = 0.468). Perfeksionisme mampu menjelaskan 70,4% variansi FOMO (R² = 0.704; F = 115.638; p < 0.001). Temuan ini mengimplikasikan bahwa perfeksionisme maladaptif, khususnya tekanan sosial yang dipersepsi, merupakan mekanisme utama yang mendasari FOMO pada remaja.
Surviving Amid the Pandemic: The Roles of Social Supports in Coping with Academic Stress among Thesis-Writing Students during the Pandemic Andrias Cahya Purnama; Fitriana Widyastuti
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.25263

Abstract

The shift from face-to-face to remote learning due to the COVID-19 Pandemic has triggered academic stress in students, including those completing their thesis writing. The research aims to investigate the role of social support in alleviating the academic stress of students completing their thesis during the COVID-19 pandemic. It involved 100 respondents (40 males and 60 females), who were selected using quota sampling techniques. The research employed a correlational quantitative design. Academic stress was measured using an Academic Stress Scale, while social support was measured using a Social Support Scale. Furthermore, regression analysis was employed to investigate the relationship between social support and academic stress. The findings showed a negative correlation between social support and stress (F = 97.9, p < .001). Meanwhile, social support made an effective contribution by 50% (R2=0.500). The research also found that family and information support become stronger predictors of academic stress. Additionally, male and female students share similar potential to experience academic stress. The implications of these findings highlight the need to strengthen social support, particularly from family and through access to adequate information, in order to reduce academic stress among students working on their theses. Higher education institutions are also encouraged to develop academic mentoring programs and counseling services that focus on enhancing social support from academic advisors, peers, and the broader campus support system.Perubahan pembelajaran dari tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh akibat pandemic Covid-19 memicu stres akademik pada mahasiswa, termasuk pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dukungan sosial terhadap stres akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi selama pandemic Covid-19. Penelitian ini melibatkan 100 responden (40 laki-laki dan 60 perempuan) yang diambil melalui teknik quota sampling. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional. Stres akademik diukur menggunakan Skala Stres Akademik sementara persepsi dukungan sosial diukur menggunakan Skala Dukungan Sosial. Peneliti menggunakan analisis regresi untuk menguji korelasi antara dukungan sosial dan stres akademik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara dukungan sosial dengan stres (F = 97.9, , p < .001). Dukungan sosial memberikan sumbangan efektif sebesar 50% (R 2 =0.500). Penelitian ini juga menemukan bahwa dukungan sosial keluarga dan dukungan informasi menjadi prediktor yang lebih kuat terhadap stres akademik. Penelitian ini juga menemukan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama mengalami stres akademik. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa perlunya penguatan dukungan sosial, khususnya dari keluarga dan akses terhadap informasi yang memadai untuk menurunkan stres akademik pada mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Perguruan tinggi juga disarankan untuk mengembangkan program pendampingan akademik dan layanan konseling yang berfokus pada peningkatan dukungan sosial dari dosen, teman sebaya dan sistem layanan kampus secara umum.
Strengthening Confidence, Reducing Deferral: A Relational Model of Self-Regulated Learning, Self-Efficacy, and Academic Procrastination Kusmawaty Matara; Febriyando Febriyando
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26528

Abstract

The phenomenon of academic procrastination among senior undergraduates is a significant issue in the context of higher education because it can hinder the completion of academic assignments and reduce the quality of learning outcomes. This condition is often linked to psychological factors related to self-management skills in learning and individuals’ beliefs regarding their academic abilities. This study aims to test the relational model between self-regulated learning, self-efficacy, and academic procrastination. This study employed a quantitative approach with an explanatory design involving 372 senior undergraduate students in Indonesia selected via purposive sampling. Data analysis was conducted using Partial Least Squares-based Structural Equation Modeling (SEM-PLS). The results indicate that self-regulated learning has a positive effect on self-efficacy (β = 0.880) and a negative effect on academic procrastination (β = -0.492). Additionally, self-efficacy has a negative effect on academic procrastination (β = -0.440) and was found to partially mediate the relationship between self-regulated learning and academic procrastination (indirect effect = -0.387). Overall, these findings indicate that improving self-regulation skills in learning can strengthen students’ academic confidence, which ultimately contributes to a reduction in procrastination behavior.Fenomena prokrastinasi akademik pada mahasiswa tingkat akhir menjadi isu penting dalam konteks pendidikan tinggi karena dapat menghambat penyelesaian tugas akademik dan menurunkan kualitas pencapaian belajar. Kondisi ini sering dikaitkan dengan faktor psikologis yang berkaitan dengan kemampuan pengelolaan diri dalam belajar serta keyakinan individu terhadap kemampuan akademiknya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji model relasional antara self-regulated learning, self-efficacy, dan prokrastinasi akademik.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori terhadap 372 mahasiswa tingkat akhir di Indonesia yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-regulated learning berpengaruh positif terhadap self-efficacy (β = 0,880), serta berpengaruh negatif terhadap prokrastinasi akademik (β = -0,492). Selain itu, self-efficacy berpengaruh negatif terhadap prokrastinasi akademik (β = -0,440) dan terbukti memediasi secara parsial hubungan antara self-regulated learning dan prokrastinasi akademik (indirect effect = -0,387). Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan regulasi diri dalam belajar mampu memperkuat keyakinan akademik mahasiswa, yang pada akhirnya berkontribusi pada penurunan perilaku prokrastinasi.
Recharge to contribute: Psychological Detachment as a Pathway from Perceived Organizational Support to Citizenship Behaviour and Subjective Well-being Putri Ramadhani Salim; Alice Selendu
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26509

Abstract

Healthcare workers face high job demands, limited medical resources, the need to provide high-quality care, and complex emotional pressures, all of which have the potential to undermine their well-being and work behavior. This study aims to examine the role of psychological detachment as a mediator in the relationship between perceived organizational support and subjective well-being and organizational citizenship behavior among healthcare workers. This study employs a quantitative approach using a cross-sectional survey design. The study sample consisted of 432 healthcare workers employed at various healthcare facilities. Data were collected using a questionnaire that measured perceived organizational support, psychological detachment, subjective well-being, and organizational citizenship behavior. Data analysis was conducted using Partial Least Squares-based Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with the assistance of SmartPLS 4 software. The results indicate that perceived organizational support has a positive and significant effect on psychological detachment. Psychological detachment also has a positive effect on subjective well-being and organizational citizenship behavior. Furthermore, psychological detachment was found to act as a mediator in the relationship between perceived organizational support and these two variables. These findings suggest that the organizational support perceived by healthcare workers can enhance psychological well-being and prosocial behavior in the workplace through individuals’ ability to detach from work demands. The implications of this study underscore the importance of healthcare organizations in creating a work environment that supports the psychological recovery of healthcare workers in order to improve their well-being and performance.Tenaga kesehatan menghadapi tuntutan kerja yang tinggi, keterbatasan sumber daya tenaga medis, intensitas pelayanan yang berkualitas, serta tekanan emosional yang kompleks sehingga berpotensi menurunkan kesejahteraan dan perilaku kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran psychological detachment sebagai mediator dalam hubungan antara perceived organizational support dengan subjective well-being dan organizational citizenship behavior pada tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional. Partisipan penelitian berjumlah 432 tenaga kesehatan yang bekerja di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur perceived organizational support, psychological detachment, subjective well-being, dan organizational citizenship behavior. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perceived organizational support berpengaruh positif dan signifikan terhadap psychological detachment. Psychological detachment juga berpengaruh positif terhadap subjective well-being dan organizational citizenship behavior. Selain itu, psychological detachment terbukti memediasi hubungan antara perceived organizational support dan kedua variabel tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan organisasi yang dirasakan tenaga kesehatan dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dan perilaku prososial di tempat kerja melalui kemampuan individu untuk melepaskan diri dari tuntutan pekerjaan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya organisasi kesehatan dalam menciptakan lingkungan kerja yang mendukung pemulihan psikologis tenaga kesehatan guna meningkatkan kesejahteraan dan kualitas kinerja mereka.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 1 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025 Vol 14, No 4 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 2 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 1 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 3 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 1 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 2 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 1 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 3 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 2 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 1 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 3 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 2 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 1 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 2 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 1 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 2 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 2 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 1 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 2 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 2 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 1 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 1 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 2 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 1 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 2 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi More Issue