cover
Contact Name
Muhammad Ali Adriansyah
Contact Email
ali.adriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikostudia@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikostudia : Jurnal Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23022582     EISSN : 26570963     DOI : -
PSIKOSTUDIA : JURNAL PSIKOLOGI is a peer-reviewed journal which is published by Universitas Mulawarman, East Kalimantan publishes biannually in June and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 520 Documents
Construction and Negotiation of Power in Communicative Interaction: Systematic Literature Review in Communication Psychology Jaka Farih Agustian; Andria Saptyasari; Silviana Purwanti
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26121

Abstract

Communication is a fundamental mechanism through which identity, social relationships, and power are constructed and negotiated through dynamic psychological and interactional processes, particularly within increasingly complex digital and institutional environments. Although research on communication and power has expanded significantly, conceptual fragmentation remains, and the integration of communication psychology perspectives explaining how power, identity, legitimacy, and influence are negotiated through communicative interaction is still limited. This study aims to integrate existing research to identify conceptual patterns, thematic developments, and psychological mechanisms underlying power negotiation, identity construction, and legitimacy in communication processes. This study employed a systematic literature review of 37 Scopus-indexed journal articles published between 2013 and 2026, focusing on communication psychology, identity construction, symbolic communication, authenticity, visibility, and negotiation. The analysis followed structured stages of identification, screening, eligibility assessment, and conceptual synthesis, supported by bibliometric analysis to examine publication trends, citation impact, and author contributions. The findings indicate a significant increase in scientific production, with an annual growth rate of 53.61% and an average of 131.27 citations per document, demonstrating strong academic relevance and impact. Communicative power is constructed through discursive strategies, conversational control, framing, and linguistic choices mediated by cognitive processes, perception, and psychological interpretation. Communication also plays a central role in negotiating identity, legitimacy, and social positioning across interpersonal, institutional, and digital contexts. This study contributes theoretically by integrating communication psychology perspectives and provides practical implications for improving communicative effectiveness and social legitimacy in contemporary societyKomunikasi merupakan mekanisme fundamental dalam membentuk identitas, relasi sosial, dan konstruksi kekuasaan melalui proses psikologis dan interaksional yang dinamis, terutama dalam konteks digital dan institusional yang semakin kompleks. Meskipun penelitian tentang komunikasi dan kekuasaan telah berkembang pesat, masih terdapat fragmentasi konseptual dan keterbatasan integrasi perspektif psikologi komunikasi dalam menjelaskan bagaimana kekuasaan, identitas, legitimasi, dan pengaruh dinegosiasikan melalui interaksi komunikatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan temuan penelitian sebelumnya guna mengidentifikasi pola konseptual, perkembangan tematik, dan mekanisme psikologis yang mendasari negosiasi kekuasaan, konstruksi identitas, dan legitimasi melalui komunikasi. Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review terhadap 37 artikel jurnal terindeks Scopus yang diterbitkan antara tahun 2013 hingga 2026, dengan fokus pada psikologi komunikasi, konstruksi identitas, komunikasi simbolik, autentisitas, visibilitas, dan negosiasi. Analisis dilakukan secara sistematis melalui tahapan identifikasi, seleksi, evaluasi kelayakan, dan sintesis konseptual, serta didukung analisis bibliometrik untuk mengidentifikasi tren publikasi, dampak sitasi, dan kontribusi penulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi ilmiah meningkat signifikan dengan tingkat pertumbuhan tahunan sebesar 53,61% dan rata-rata sitasi sebesar 131,27 per dokumen, menunjukkan relevansi dan dampak akademik yang tinggi. Kekuasaan komunikatif dikonstruksi melalui strategi diskursif, pengelolaan percakapan, framing, dan pilihan linguistik yang dimediasi oleh proses kognitif, persepsi, dan interpretasi psikologis. Komunikasi juga berperan penting dalam negosiasi identitas, legitimasi, dan posisi sosial dalam konteks interpersonal, institusional, dan digital. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam mengintegrasikan perspektif psikologi komunikasi serta implikasi praktis untuk meningkatkan efektivitas komunikasi dan legitimasi sosial dalam masyarakat kontemporer.
Development of a Multiple Intelligences-Based Interest and Aptitude Instrument for Elementary School Students Sitti Rahmah Marsidi; Grin Rayi Prihandini; Rully Afrita Harlianty; Ezik Firman Syah
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26205

Abstract

Interest and aptitude are essential aspects in developing students’ potential from an early age. Elementary school represents the initial phase for shaping children’s potential and character. However, the availability of valid and comprehensive instruments to identify students’ interests and aptitudes at an early stage remains limited. The development of students’ interests and aptitudes aligns with national education goals to optimize learners’ potential. Accurate identification enables educators and parents to direct students’ development in a more systematic manner as preparation for future education. This study aimed to examine the psychometric properties of the Interest Blank scale based on Multiple Intelligences theory in identifying elementary school students’ interests and aptitudes. A quantitative approach was employed through reliability analysis, item discrimination analysis, and construct validity using Exploratory Factor Analysis (EFA), followed by Confirmatory Factor Analysis (CFA). The participants consisted of 367 elementary school students in grades 4–6. The study involved 367 elementary school students in Grades 4–6, recruited using a non-probability sampling technique with a convenience sampling approach, in which the entire target population at the research site was included (total sampling). The results indicated that three dimensions met the reliability criterion (α > 0.70), while the remaining five dimensions were below the recommended threshold. Most items demonstrated adequate discrimination (r ≥ 0.30), although several items still require evaluation. Factor analysis showed that the data were suitable for analysis; however, the empirical structure did not fully replicate the eight-factor Multiple Intelligences model. Furthermore, the CFA results indicated that the proposed model did not achieve a satisfactory fit. These findings suggest that the Interest Blank scale has potential for further development through refinement of items and construct structure.Minat dan bakat merupakan aspek penting dalam pengembangan potensi siswa sejak usia dini. Jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi fase awal pembentukan potensi dan karakter anak. Namun, ketersediaan instrumen yang valid dan komprehensif untuk mengidentifikasi minat dan bakat siswa sejak dini masih terbatas. Pengembangan minat dan bakat sejalan dengan tujuan pendidikan nasional untuk mengoptimalkan potensi peserta didik. Identifikasi yang tepat memungkinkan pendidik dan orangtua mengarahkan pengembangan potensi secara lebih terencana sebagai bekal pendidikan selanjutnya. Penelitian ini bertujuan menguji kualitas psikometrik skala Interest Blank berbasis teori kecerdasan majemuk dalam mengidentifikasi minat dan bakat siswa. Pendekatan kuantitatif digunakan melalui analisis reliabilitas, daya beda aitem, dan validitas konstruk menggunakan Exploratory Factor Analysis (EFA) dan analisis lanjutan yaitu confirmatory factor analysis (CFA). Subjek penelitian berjumlah 367 siswa SD kelas 4–6 yang diperoleh melalui teknik non-probability sampling dengan pendekatan convenience sampling, serta melibatkan seluruh populasi sasaran (total sampling) di lokasi penelitian. Hasil menunjukkan tiga dimensi memenuhi kriteria reliabilitas (α > 0,70), sedangkan lima dimensi lainnya masih di bawah batas yang direkomendasikan. Sebagian besar aitem memiliki daya beda memadai (r ≥ 0,30), meskipun beberapa masih perlu evaluasi. Analisis faktor menunjukkan data layak dianalisis, tetapi struktur empiris belum sepenuhnya mereplikasi model delapan kecerdasan majemuk. Hasil uji CFA menunjukkan model yang diajukan belum fit. Temuan ini menunjukkan skala Interest Blank berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui penyempurnaan aitem dan struktur konstruk.
Psychometric Properties of the Indonesian Version of the Challenge-Hindrance Stressor Scale Amelia Zakiyyatun Nufus; Debora Eflina Purba; Imam Subchi
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26410

Abstract

Indonesian lecturers face significant workloads as universities seek world-class status. This study adapts and validates the challenge-hindrance stressor scale in Indonesia using quantitative cross-sectional data from 487 lecturers. Structural Equation Modeling via Confirmatory Factor Analysis tested validity, and reliability was assessed with Cronbach's alpha and composite reliability (CR). The first-order model fit was good (CFI = 0.94, TLI = 0.935, SRMR = 0.04; factor loadings 0.59–0.87). Internal consistency reliability was also strong (coefficient above 0.70). Thus, the Indonesian CHS scale is a valid and reliable tool for measuring lecturers’ work stress, supporting accurate assessment in this cultural context.Dosen di Indonesia menghadapi beban kerja yang signifikan seiring dengan upaya universitas untuk mencapai  world-class university. Penelitian ini melakukan adaptasi dan validiasi skala stressor tantangan-hambatan di Indonesia menggunakan data kuantitatif  cross-sectional sebanyak 487 dosen. Validitas diuji menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA), sementara realibilitas dievaluasi dengan Cronbach’s alpha dan composite realibility (CR). Hasil menunjukkan bahwa kesesuaian model first-order adalah model paling fit (CFI = 0.94; TLI = 0.935; SRMR = 0.04; factor loading 0.59–0.87). Realibilitas konsisten juga memiliki nilai yang kuat (koefisien di atas 0.70). Dengan demikian, skala CHS versi Indonesia merupakan instrumen yang valid dan reliabel untuk mengukur stres kerja dosen, serta mendukung penilana yang akurat dalam konteks budaya ini.
Between Sharing and Loneliness: Self-Disclosure as a Key to Student Well-Being on social media Winida Marpaung; Helen Helen; Silvi Nadia Hutagalung; Kelly Kelly; Elisabeth Purba; Jeni Euodia Gori; Rina Mirza
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26035

Abstract

The rapid development of social media has transformed the patterns of social interaction among adolescents and students, particularly in self-disclosure behavior within increasingly open and intensive digital environments. This phenomenon creates a social paradox in which high levels of digital communication activity are not always accompanied by the fulfillment of individuals’ emotional needs, leading to psychological loneliness. This study aimed to analyze the relationship between self-disclosure and loneliness among adolescent social media users and to understand the psychological dynamics emerging from digital interactions. The research employed a quantitative correlational approach involving 193 respondents consisting of male and female students within the adolescent age range. Data were collected using psychological scales measuring self-disclosure and loneliness and were analyzed through normality, linearity, Pearson correlation, and partial correlation tests. The findings revealed no significant relationship between self-disclosure and loneliness overall, indicating that self-disclosure is not a single determining factor of adolescent loneliness. However, several social dimensions demonstrated significant partial correlations, particularly the social others dimension with aspects of valence, breadth, accuracy, and depth of self-disclosure. These findings suggest that digital interaction tends to emphasize social validation needs rather than the fulfillment of deeper emotional connections. This study provides important implications for the development of counseling services, digital literacy programs, and adolescent mental health support within educational settings.Perkembangan media sosial telah mengubah pola interaksi sosial remaja dan mahasiswa, terutama dalam perilaku keterbukaan diri di ruang digital yang semakin terbuka dan intensif. Fenomena ini memunculkan paradoks sosial, yaitu tingginya aktivitas komunikasi digital yang tidak selalu diikuti oleh terpenuhinya kebutuhan emosional individu sehingga memicu munculnya kesepian psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara keterbukaan diri (self-disclosure) dan kesepian pada remaja pengguna media sosial serta memahami dinamika psikologis yang muncul dalam interaksi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 193 responden yang terdiri dari siswa laki-laki dan perempuan pada rentang usia remaja. Data dikumpulkan menggunakan skala psikologi mengenai keterbukaan diri dan kesepian, kemudian dianalisis melalui uji normalitas, linearitas, korelasi Pearson, dan korelasi parsial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan signifikan antara keterbukaan diri dan kesepian secara umum, sehingga keterbukaan diri bukan merupakan faktor tunggal yang menentukan tingkat kesepian remaja. Namun, beberapa aspek sosial menunjukkan hubungan parsial yang signifikan, terutama pada dimensi social others terhadap aspek valensi, keluasan, akurasi, dan kedalaman keterbukaan diri. Temuan ini mengindikasikan bahwa interaksi digital lebih berorientasi pada kebutuhan validasi sosial dibandingkan pemenuhan kebutuhan emosional yang mendalam. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling serta penguatan literasi digital dan kesehatan mental remaja di lingkungan pendidikan.
Achievement Motivation Among Members of a University Esports Organization Aris Setiawan; Hardani Widhiastuti; Margaretha Maria Shinta Pratiwi
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.22508

Abstract

The rapid growth of esports in Indonesia has led many universities to establish esports organizations as platforms for fostering students' interests, talents, and achievements in competitive gaming. In this context, student members of esports organizations are required to balance academic responsibilities, organizational involvement, and competitive demands, making achievement motivation an important psychological factor in supporting their success. This study aimed to understand achievement motivation among university students who are members of an esports organization and to identify the factors influencing their motivation. This study employed a qualitative case study approach involving a university esports organization in Surakarta. Three student members were selected using purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and documentation and analyzed using Braun and Clarke's thematic analysis. The findings identified three main themes reflecting achievement motivation among students: achievement as a form of personal accomplishment and self-recognition, social support and a sense of belonging within the esports community, and leadership and responsibility as drivers of achievement motivation. Furthermore, achievement motivation was influenced by internal factors, including personal goals, aspirations for self-development, self-evaluation, and satisfaction with achievements, as well as external factors such as social support, organizational environment, and competitive experiences. The findings imply that university esports organizations should not only focus on competitive performance but also foster supportive social environments and leadership development to enhance students' achievement motivation and organizational engagement.Pertumbuhan esports yang semakin pesat di Indonesia telah mendorong berbagai perguruan tinggi membentuk organisasi esports sebagai wadah untuk mengembangkan minat, bakat, dan prestasi mahasiswa dalam bidang esports. Dalam aktivitasnya, mahasiswa anggota organisasi esports dihadapkan pada tuntutan akademik, organisasi, dan kompetitif yang memerlukan motivasi berprestasi sebagai faktor psikologis penting untuk menunjang keberhasilan mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami motivasi berprestasi pada mahasiswa anggota organisasi esports di perguruan tinggi serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif pada sebuah organisasi esports di salah satu perguruan tinggi di Surakarta. Partisipan penelitian terdiri atas tiga mahasiswa anggota organisasi esports yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik Braun dan Clarke. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga tema utama yang merefleksikan motivasi berprestasi mahasiswa, yaitu prestasi sebagai bentuk pencapaian dan pengakuan diri, dukungan sosial dan rasa memiliki dalam komunitas esports, serta kepemimpinan dan tanggung jawab sebagai pendorong motivasi berprestasi. Selain itu, motivasi berprestasi dipengaruhi oleh faktor internal yang meliputi target pribadi, keinginan untuk berkembang, evaluasi diri, dan kepuasan atas pencapaian, serta faktor eksternal berupa dukungan sosial, lingkungan organisasi, dan pengalaman kompetitif. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa organisasi esports di perguruan tinggi perlu tidak hanya berfokus pada pencapaian kompetitif, tetapi juga membangun lingkungan sosial yang suportif serta mengembangkan kapasitas kepemimpinan mahasiswa untuk meningkatkan motivasi berprestasi dan keterlibatan organisasi.
Navigating the Future in the Brittle Era: A Systematic Literature Review of Academic Resilience and Learning Agility in Shaping University Students’ Future Orientation Miranti Rasyid; Nanik Handayani; Aulia Suhesty
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26215

Abstract

The rapid and unstable transformations characteristic of the Brittle Era place university students in conditions of academic and career uncertainty, requiring strong adaptive capacities to maintain meaningful and sustainable future orientation. This study aims to systematically synthesize empirical evidence on the roles of academic resilience and learning agility in shaping students’ future orientation. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the PRISMA protocol, analyzing 55 Scopus-indexed journal articles published between 2010 and 2026 through thematic and bibliometric approaches. The bibliometric findings indicate a growing scholarly interest in this field, reflected in an annual publication growth rate of 18.72% and an average of 21.84 citations per document, demonstrating the increasing academic relevance of these constructs. Thematic synthesis reveals three dominant patterns: academic resilience functions as a psychological resource that enables students to cope with academic stress and setbacks; learning agility serves as a proactive capability that promotes adaptability, continuous learning, and effective problem-solving; and the integration of both constructs provides a comprehensive adaptive framework that balances emotional stability with developmental growth. These findings highlight the strategic importance of incorporating resilience-building and agility-enhancement initiatives into higher education policies and curricula to strengthen students’ psychological readiness, career adaptability, and long-term capacity to navigate uncertainty. The review further suggests that fostering both resilience and learning agility is essential for developing future-oriented graduates capable of thriving in increasingly complex and unpredictable environments.Transformasi yang cepat dan tidak stabil yang menjadi ciri Era Brittle menempatkan mahasiswa pada kondisi ketidakpastian akademik dan karier, sehingga menuntut kapasitas adaptif yang kuat untuk mempertahankan orientasi masa depan yang bermakna dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis bukti empiris mengenai peran resiliensi akademik dan learning agility dalam membentuk orientasi masa depan mahasiswa. Systematic Literature Review (SLR) dilakukan dengan mengikuti protokol PRISMA, dengan menganalisis 55 artikel jurnal terindeks Scopus yang dipublikasikan antara tahun 2010 hingga 2026 melalui pendekatan tematik dan bibliometrik. Temuan bibliometrik menunjukkan adanya peningkatan perhatian akademik terhadap topik ini, yang tercermin dari tingkat pertumbuhan publikasi tahunan sebesar 18,72% dan rata-rata 21,84 sitasi per dokumen, yang menunjukkan semakin tingginya relevansi akademik dari konstruk-konstruk tersebut. Sintesis tematik mengungkap tiga pola utama, yaitu: resiliensi akademik berfungsi sebagai sumber daya psikologis yang memungkinkan mahasiswa mengatasi stres dan hambatan akademik; learning agility berperan sebagai kapasitas proaktif yang mendorong kemampuan beradaptasi, pembelajaran berkelanjutan, dan pemecahan masalah yang efektif; serta integrasi kedua konstruk tersebut membentuk kerangka adaptif yang komprehensif dengan menyeimbangkan stabilitas emosional dan pertumbuhan perkembangan diri. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan program penguatan resiliensi dan peningkatan learning agility ke dalam kebijakan serta kurikulum pendidikan tinggi guna memperkuat kesiapan psikologis mahasiswa, kemampuan adaptasi karier, dan kapasitas jangka panjang dalam menghadapi ketidakpastian. Kajian ini juga menunjukkan bahwa pengembangan resiliensi dan learning agility secara bersamaan merupakan faktor penting dalam membentuk lulusan yang berorientasi masa depan dan mampu berkembang di tengah lingkungan yang semakin kompleks dan tidak terprediksi.
Helping Leads to Happiness: The Mediating Role of Self-Esteem between Internet Altruistic Behavior and Subjective Well-Being among Emerging Adults Eli Prasetyo; Agnes Maria Sumargi; Angelina Immaculata Marvin
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26463

Abstract

In the digital era, internet use among emerging adults continues to rise, with both positive and negative impacts on their subjective well-being (SWB). Similar to real-world settings, selfless helping behavior (altruism) in the virtual environment can positively affect individual well-being. However, the underlying mechanisms linking internet altruism and SWB among emerging adults in Indonesia remain largely unexplored. Given the close association between self-esteem and altruism, this study aims to examine the mediating role of self-esteem in the relationship between internet altruistic behavior (IAB) and SWB. Participants were 173 emerging adults aged 18-25 years who were active internet users. The survey included scales measuring IAB, self-esteem, life satisfaction (cognitive SWB), and positive and negative affect (affective SWB). Mediation analysis revealed that self-esteem significantly mediates the relationship between IAB and cognitive SWB. However, it did not mediate the relationship between IAB and affective SWB. Furthermore, IAB demonstrated a direct effect on both SWB components. These findings highlight the importance of encouraging emerging adults to engage in online altruistic behaviors to achieve optimal SWB.Di era teknologi, penggunaan internet oleh dewasa muda semakin meningkat. Dampak yang ditimbulkan dapat bersifat negatif ataupun positif bagi kesejahteraan subjektif individu (subjective well-being atau SWB). Seperti halnya dalam dunia nyata, perilaku menolong tanpa pamrih (altruisme) di dunia maya dapat menimbulkan dampak positif bagi kesejahteraan individu. Namun, mekanisme hubungan antara altruisme di internet dengan SWB pada individu dewasa muda di Indonesia belum banyak diketahui. Mengingat harga diri dapat mempengaruhi altruisme, penelitian ini bertujuan untuk menguji peran harga diri sebagai mediator antara perilaku altruisme di internet (internet altruistic behavior atau IAB) dengan SWB. Partisipan dalam penelitian ini adalah 173 orang dewasa muda berusia 18-25 tahun yang merupakan pengguna aktif media internet. Survei yang dibagikan berisikan skala yang mengungkap IAB, harga diri, kepuasan hidup (SWB kognitif), serta afeksi positif dan afeksi negatif (SWB afektif). Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa harga diri menjadi mediator yang signifikan antara IAB dan SWB kognitif, tetapi harga diri tidak memperantarai IAB dan SWB afektif. IAB justru memiliki pengaruh langsung terhadap kedua komponen SWB. Hal ini berimplikasi pada pentingnya mendorong para dewasa muda untuk melakukan perilaku altruisme dalam dunia maya agar dapat mencapai kesejahteraan subjektif yang optimal.
Navigating the Gen Z Paradox: A Qualitative Study of Career Aspirations, Digital Individualism, and Work–Life Integration among Generation Z Iqbal Bafadal; Muhammad Awwad
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26793

Abstract

This study explores the psychosocial paradox experienced by Generation Z in Eastern Indonesia by examining the dynamic interaction between their career aspirations, digital individualism, and work–life integration from a guidance and counseling perspective. Employing a qualitative descriptive design rooted in a constructivist epistemological position, the study utilized Braun and Clarke’s framework for reflexive thematic analysis (RTA). Data were generated through semi-structured individual interviews, structured naturalistic observations, and researchers' reflexive journals from participants across West Nusa Tenggara (NTB) and East Nusa Tenggara (NTT). The analysis revealed three prominent themes: (1) Aspiration–Behavior Discordance, characterized by high career ambitions but critically low active preparation or strategic planning; (2) Digital Individualism and Community Disengagement, marked by a strong preference for digitally mediated autonomous interactions and minimal participation in physical communal organizations; and (3) Reconceptualization of Work and Life Integration, where participants prioritize personal flexibility, autonomy, and psychological well-being over traditional, purely financial metrics of professional success. These findings demonstrate that Generation Z's vocational and psychosocial growth operates as an interconnected developmental system navigating digital affordances alongside local socio-economic realities and structural constraints. Consequently, contemporary counseling interventions must move beyond basic occupation-centered guidance to holistically integrate digital well-being, self-regulation, and community connectedness to help youth translate abstract aspirations into adaptive actions.Penelitian ini mengeksplorasi paradoks psikososial yang dialami oleh Generasi Z di Indonesia Timur dengan mengkaji interaksi dinamis antara aspirasi karier, individualisme digital, dan integrasi kehidupan–kerja dari perspektif bimbingan dan konseling. Menggunakan desain deskriptif kualitatif yang berakar pada posisi epistemologi konstruktivis, penelitian ini menerapkan analisis tematik refleksif (RTA) berdasarkan kerangka kerja Braun dan Clarke. Data dikumpulkan melalui wawancara individual semi-terstruktur, observasi naturalistik terstruktur, dan jurnal refleksif peneliti dari para partisipan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Analisis mengidentifikasi tiga tema utama: (1) Ketidakselarasan Aspirasi–Perilaku), yang ditandai dengan ambisi karier yang tinggi namun disertai dengan sangat rendahnya persiapan nyata atau perencanaan strategis; (2) Individualisme Digital dan Keterputusan Komunitas, yang dicirikan oleh preferensi kuat terhadap interaksi otonom termediasi digital dan minimnya partisipasi dalam organisasi komunal fisik; serta (3) Rekonseptualisasi Integrasi Kerja dan Kehidupan, di mana partisipan memprioritaskan fleksibilitas pribadi, otonomi, dan kesejahteraan psikologis di atas metrik kesuksesan profesional yang murni berbasis finansial tradisional. Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan vokasional dan psikososial Generasi Z berjalan sebagai sebuah sistem perkembangan yang saling terhubung dalam menavigasi peluang digital di tengah realitas sosio-ekonomi dan keterbatasan struktural lokal. Oleh karena itu, intervensi konseling kontemporer harus melampaui model bimbingan tradisional yang berorientasi pada jabatan, dengan mengintegrasikan kesejahteraan digital, regulasi diri, dan keterhubungan komunitas secara holistik demi membantu generasi muda mentransformasikan aspirasi abstrak mereka menjadi tindakan nyata yang adaptif.
Exploring the Burden Behind the Mask of Siboan Goar's Identity in Batak Toba Culture: A Case Study Lydia Putri Angela Sitorus; Chamilul Hikam Al Karim
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26642

Abstract

Siboan Goar, the firstborn son in a Batak Toba family, carries significant cultural expectations as the successor to the family name and clan, potentially triggering psychological distress. This qualitative case study explores the identity and role dynamics associated with this position. Using purposive sampling, the study included three Siboan Goar as primary participants, three parents of Siboan Goar, and two traditional leaders as supporting participants. Data were collected through semi-structured interviews and analyzed using reflective thematic analysis with the assistance of NVivo 12 Plus. The results identified seven overarching themes: internal factors, external factors, expectations, marriage, impacts, coping mechanisms, and cultural reflections. The findings showed that cultural pressure can cause psychological and physical distress, which is more pronounced after marriage. To cope with these pressures, participants employed both problem-focused and emotion-focused coping strategies. The study also reveals a gradual deconstruction of male primacy toward gender equality through cultural reflection, encouraging awareness and change. Ultimately, this study advances the understanding of culture-based mental health issues in Indonesia.Siboan Goar atau anak laki-laki pertama dalam keluarga Batak Toba mengemban ekspektasi kultural besar sebagai penerus nama dan marga yang rentan memicu tekanan psikologis. Penelitian kualitatif studi kasus ini mengeksplorasi identitas dan dinamika peran tersebut. Melalui purposive sampling, penelitian ini melibatkan 3 Siboan Goar sebagai partisipan utama, serta 3 orang tua Siboan Goar dan 2 tokoh adat sebagai partisipan pendukung. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, lalu dianalisis menggunakan metode analisis tematik reflektif dengan bantuan software NVIVO 12 Plus. Hasilnya mengidentifikasi 7 tema final, yaitu faktor internal, faktor eksternal, harapan, pernikahan, dampak, mekanisme koping, dan refleksi budaya. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tekanan kultural dapat memicu dampak psikologis maupun fisik yang semakin menguat pasca-pernikahan. Guna bertahan, individu menerapkan problem-focused coping dan emotion-focused coping. Penelitian ini juga mengungkap adanya dekonstruksi male primacy menuju kesetaraan gender melalui refleksi budaya. Implikasinya, penelitian ini memperkaya literatur kesehatan mental berbasis budaya di Indonesia guna mencegah normalisasi beban psikologis adat secara turun-temurun.
Quiet Quitting: A Case Study of Silent Withdrawal Among University Lecturers Hetty Murdiyani; Suryanto Suryanto; Mohammad Fakhruddin Mudzakkir; Ummi Masrufah Maulidiyah; Rifa’atul Maftuhah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i3.26561

Abstract

This study aims to explore the phenomenon of quiet quitting among university lecturers in the context of implementing the Tri Dharma of Higher Education through the lens of Social Exchange Theory. A qualitative case study approach was employed involving ten permanent lecturers from Muhammadiyah and Aisyiyah higher education institutions. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed using qualitative content analysis. The findings indicate that teaching-centered workloads, multiple role demands, and administrative and personal responsibilities create an imbalance in the implementation of the Tri Dharma, particularly by reducing lecturers' engagement in research and community service. These conditions are further exacerbated by limited institutional support, leading lecturers to adopt coping strategies such as setting work boundaries, prioritizing tasks, and relying on collegial support to maintain their psychological well-being. The findings suggest that quiet quitting among lecturers should not be interpreted as a refusal to work, but rather as a form of selective withdrawal from discretionary activities beyond core teaching responsibilities due to an imbalance between job demands and organizational support. This study highlights that quiet quitting is shaped by the interaction of workload, role conflict, and the quality of reciprocal relationships between lecturers and their institutions. Therefore, higher education institutions should develop more balanced workload management systems and strengthen organizational support to enhance lecturers' engagement and well-being.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena quiet quitting di kalangan dosen universitas dalam konteks pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui perspektif Social Exchange Theory. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus yang melibatkan sepuluh dosen tetap dari perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis konten kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban mengajar yang dominan, tuntutan peran ganda, serta tanggung jawab administratif dan personal menyebabkan ketidakseimbangan pelaksanaan Tri Dharma, terutama berkurangnya keterlibatan dosen dalam penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Kondisi tersebut diperkuat oleh keterbatasan dukungan institusional, sehingga dosen cenderung menerapkan strategi penyesuaian seperti menetapkan batasan kerja, memprioritaskan tugas, dan mengandalkan dukungan kolegial untuk mempertahankan kesejahteraan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa quiet quitting pada dosen tidak dimaknai sebagai penolakan terhadap pekerjaan, melainkan sebagai bentuk penarikan diri secara selektif dari aktivitas yang bersifat di luar kewajiban utama akibat ketidakseimbangan antara tuntutan kerja dan dukungan organisasi. Penelitian ini menegaskan bahwa fenomena quiet quitting dipengaruhi oleh interaksi antara beban kerja, konflik peran, dan kualitas hubungan timbal balik antara dosen dan institusi. Oleh karena itu, perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem pengelolaan beban kerja yang lebih proporsional serta memperkuat dukungan organisasi untuk meningkatkan keterlibatan dan kesejahteraan dosen.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 1 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025 Vol 14, No 4 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 2 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 1 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 3 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 1 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 2 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 1 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 3 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 2 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 1 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 3 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 2 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 1 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 2 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 1 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 2 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 2 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 1 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 2 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 2 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 1 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 1 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 2 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 1 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 2 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi More Issue