cover
Contact Name
Muhammad Ali Adriansyah
Contact Email
ali.adriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
psikostudia@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikostudia : Jurnal Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 23022582     EISSN : 26570963     DOI : -
PSIKOSTUDIA : JURNAL PSIKOLOGI is a peer-reviewed journal which is published by Universitas Mulawarman, East Kalimantan publishes biannually in June and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 520 Documents
Understanding Tourist Behavior through Psychological Theories : A Systematic Literature Review Immanuel Ustradi Osijo; Abraham Krishna Martadinata Osiyo
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26239

Abstract

Although research on tourist behavior has expanded significantly, studies integrating various psychological determinants into a comprehensive framework remain limited and fragmented, and the lack of research combining bibliometric analysis with a Systematic Literature Review (SLR) approach has resulted in an incomplete holistic understanding of research trends and key influencing factors. Therefore, this study aims to synthesize the main psychological determinants influencing tourist behavior while identifying publication trends and scholarly contributions in this field. This study employs an SLR approach using the PRISMA framework and the Scopus database, analyzing 50 reputable journal articles published between 2010 and 2025, complemented by bibliometric analysis to examine publication trends, citation impact, and scientific contributions. The findings reveal that tourist behavior is influenced by key psychological factors, including cognitive evaluation, emotional engagement, destination image, social influence, travel motivation, risk perception, and digital media exposure, along with a significant increase in academic interest reflected in an annual publication growth rate of 31.01% and an average of 104.21 citations per document. Emotional experiences, personal motivation, and social interactions emerge as dominant factors influencing travel intention and destination loyalty. Overall, this study highlights the importance of integrating psychological perspectives into tourism research, contributing theoretically by synthesizing previously fragmented literature and offering practical implications for industry stakeholders in designing more engaging, personalized, and sustainable tourism experiences.Meskipun penelitian mengenai perilaku wisatawan telah berkembang pesat, kajian yang mengintegrasikan berbagai determinan psikologis dalam satu kerangka komprehensif masih terbatas dan cenderung terfragmentasi, serta minimnya studi yang mengombinasikan analisis bibliometrik dengan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) menyebabkan kurangnya pemahaman holistik terkait tren dan faktor utama yang memengaruhi perilaku wisatawan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mensintesis determinan psikologis utama yang memengaruhi perilaku wisatawan sekaligus mengidentifikasi tren publikasi dan kontribusi ilmiah dalam bidang tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan SLR dengan kerangka PRISMA dan basis data Scopus, dengan menganalisis 50 artikel jurnal bereputasi yang diterbitkan antara tahun 2010 hingga 2025, serta dilengkapi dengan analisis bibliometrik untuk mengkaji tren publikasi, dampak sitasi, dan kontribusi ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku wisatawan dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologis utama seperti evaluasi kognitif, keterlibatan emosional, citra destinasi, pengaruh sosial, motivasi perjalanan, persepsi risiko, dan paparan media digital, serta adanya peningkatan signifikan dalam minat akademik yang tercermin dari pertumbuhan publikasi tahunan sebesar 31,01% dan rata-rata 104,21 sitasi per dokumen. Pengalaman emosional, motivasi personal, dan interaksi sosial menjadi faktor dominan dalam memengaruhi niat berwisata dan loyalitas terhadap destinasi. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi perspektif psikologis dalam studi pariwisata, memberikan kontribusi teoretis melalui sintesis literatur yang sebelumnya terfragmentasi, serta menawarkan implikasi praktis bagi pelaku industri dalam merancang pengalaman wisata yang lebih menarik, personal, dan berkelanjutan.
Constructing Personal Branding as Self-Representation: A Systematic Literature Review Muhammad Faisal; Andi Alimuddin Unde; Muhammad Farid
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26020

Abstract

The rapid development of digital communication technologies has fundamentally transformed how individuals construct, present, and manage their identities in contemporary society. However, most previous studies have emphasized personal branding primarily as a marketing strategy rather than as a process of identity construction and self-representation, resulting in a conceptual gap in understanding the psychological, social, and symbolic dimensions of personal branding. This study aims to analyze personal branding as a process of identity construction and self-representation in the digital context, as well as to identify conceptual patterns, thematic developments, and its professional implications. The research method employs a systematic literature review using the PRISMA approach on Scopus-indexed journal articles published between 2010 and 2026. A total of 738 articles were identified in the initial stage, and after the selection process based on inclusion and exclusion criteria, 47 articles were obtained and analyzed bibliometrically and thematically using co-occurrence analysis, publication trends, and citation impact. The findings indicate that personal branding is a multidimensional process that integrates psychological identity construction, symbolic communication, and social interaction within digital environments. Authenticity, digital visibility, and social interaction emerge as key elements in shaping credibility, professional recognition, and career opportunities. Furthermore, digital platforms function as primary spaces for identity construction, enabling individuals to actively manage their self-representation and build professional legitimacy. The implications of this study affirm that personal branding is not merely a communication strategy, but a psychological and social process that plays a crucial role in professional identity development, employability enhancement, and career mobility in the digital era, while also contributing theoretically to the integration of identity psychology, communication, and branding perspectives in understanding contemporary self-representation.Perkembangan pesat teknologi komunikasi digital telah mengubah secara fundamental cara individu membangun, menampilkan, dan mengelola identitasnya dalam masyarakat kontemporer. Namun, sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menekankan personal branding sebagai strategi pemasaran daripada sebagai proses konstruksi identitas dan representasi diri, sehingga masih terdapat kesenjangan konseptual dalam memahami dimensi psikologis, sosial, dan simbolik dari personal branding. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis personal branding sebagai proses konstruksi identitas dan self-representation dalam konteks digital, serta mengidentifikasi pola konseptual, perkembangan tematik, dan implikasi profesionalnya. Metode penelitian menggunakan systematic literature review dengan pendekatan PRISMA terhadap artikel jurnal terindeks Scopus yang diterbitkan antara tahun 2010–2026. Sebanyak 738 artikel diidentifikasi pada tahap awal, dan setelah proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, diperoleh 47 artikel yang dianalisis secara bibliometrik dan tematik menggunakan analisis co-occurrence, tren publikasi, dan dampak sitasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa personal branding merupakan proses multidimensional yang mengintegrasikan konstruksi identitas psikologis, komunikasi simbolik, dan interaksi sosial dalam lingkungan digital. Autentisitas, visibilitas digital, dan interaksi sosial muncul sebagai elemen kunci dalam membentuk kredibilitas, pengakuan profesional, dan peluang karier. Selain itu, platform digital berperan sebagai ruang utama konstruksi identitas yang memungkinkan individu secara aktif mengelola representasi diri dan membangun legitimasi profesional. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa personal branding bukan sekadar strategi komunikasi, tetapi merupakan proses psikologis dan sosial yang berperan penting dalam pengembangan identitas profesional, peningkatan employability, dan mobilitas karier di era digital, serta memberikan kontribusi teoritis bagi integrasi perspektif psikologi identitas, komunikasi, dan branding dalam memahami representasi diri kontemporer.
Workload and Burnout Among Urban Delivery Couriers: Evidence from the Indonesian Logistics Sector Doli Maulana Gama Samudera Lubis; Sairah Sairah; Ayudia Popy Sesilia
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26201

Abstract

The rapid expansion of the logistics industry has intensified job demands for courier workers, increasing their vulnerability to burnout. This study examines the relationship between workload and burnout among couriers at PT. JNE Express Main Branch in Medan, Indonesia. A quantitative correlational design was employed using total sampling, involving 93 couriers. Data were collected using a 29-item Workload Scale and a 32-item Burnout Scale based on Maslach’s framework. Reliability analysis indicated high internal consistency (α = .888 for workload; α = .928 for burnout). Pearson product–moment correlation analysis revealed a strong positive relationship between workload and burnout (r = .733, p < .001), with workload explaining 53.8% of the variance in burnout (r² = .538). Although descriptive findings indicated that both workload and burnout were at relatively low levels, the strong correlation suggests that even small variations within these low levels are associated with substantial increases in burnout, indicating a structurally sensitive relationship between job demands and employee well-being. This study contributes to the literature by demonstrating that workload operates as a dominant and multidimensional predictor of burnout within the underexplored courier sector, particularly in a developing country context. These findings extend the applicability of the Job Demands–Resources (JD-R) model by highlighting the sensitivity of burnout risk even under moderate demand conditions. Practically, the results underscore the importance of proactive workload management, as incremental increases in job demands may significantly elevate psychological risk.Pesatnya perkembangan industri logistik telah meningkatkan tuntutan kerja bagi kurir, yang berpotensi meningkatkan risiko burnout. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara beban kerja dan burnout pada kurir di PT. JNE Express Cabang Utama Medan. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling yang melibatkan 93 kurir. Data dikumpulkan menggunakan Skala Beban Kerja sebanyak 29 item dan Skala Burnout sebanyak 32 item yang diadaptasi dari kerangka Maslach. Hasil uji reliabilitas menunjukkan konsistensi internal yang tinggi (α = 0,888 untuk beban kerja; α = 0,928 untuk burnout). Analisis korelasi product moment Pearson menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara beban kerja dan burnout (r = 0,733, p < 0,001), dengan beban kerja menjelaskan 53,8% varians burnout (r² = 0,538). Meskipun hasil deskriptif menunjukkan bahwa beban kerja dan burnout berada pada kategori relatif rendah, kekuatan korelasi tersebut mengindikasikan bahwa variasi kecil dalam tingkat beban kerja tetap berkaitan dengan peningkatan burnout yang signifikan, sehingga mencerminkan hubungan yang sensitif secara struktural antara tuntutan kerja dan kesejahteraan psikologis karyawan. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menunjukkan bahwa beban kerja merupakan prediktor dominan dan multidimensional terhadap burnout pada sektor kurir yang masih relatif kurang diteliti, khususnya dalam konteks negara berkembang. Temuan ini memperluas penerapan model Job Demands–Resources (JD-R) dengan menekankan sensitivitas risiko burnout bahkan pada kondisi tuntutan kerja yang moderat. Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan beban kerja secara proaktif, karena peningkatan kecil dalam tuntutan kerja dapat secara signifikan meningkatkan risiko psikologis.
Islamic Personality in Contemporary Society: Interpretative Phenomenological Analysis Muhammad Jamaluddin; Siti Mahmudah
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26019

Abstract

Islamic personality can be understood as a psychological and spiritual construct that develops through value internalization, self-reflection, and lived experience; however, how individuals construct and interpret it in everyday life remains insufficiently explored from a subjective perspective. This study aims to examine the processes of construction, internalization, and meaning-making of Islamic personality and its role in shaping moral identity, self-regulation, and life orientation. A qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) was employed to capture in-depth subjective experiences. A total of 10 participants were selected purposively based on their active engagement in religious practice and reflective awareness. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed systematically through coding, identification of emergent themes, and development of superordinate themes. The findings reveal that Islamic personality develops as a dynamic process involving the internalization of moral and spiritual values, integration of belief and behavior, strengthening of self-regulation, construction of existential meaning, and enhancement of psychological resilience and emotional stability. It also functions as an identity framework that provides direction, coherence, and consistency in navigating contemporary life challenges. These findings highlight its role in supporting identity development, psychological well-being, and moral integrity, while offering a conceptual basis for spiritually integrated interventions, character education, and value-based counseling approaches.Kepribadian Islam dapat dipahami sebagai suatu konstruksi psikologis dan spiritual yang berkembang melalui internalisasi nilai, refleksi diri, dan pengalaman hidup; namun, bagaimana individu membangun dan memaknainya dalam kehidupan sehari-hari masih belum banyak dieksplorasi dari perspektif subjektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses konstruksi, internalisasi, dan pemaknaan kepribadian Islam serta perannya dalam membentuk identitas moral, regulasi diri, dan orientasi hidup. Pendekatan kualitatif dengan menggunakan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) digunakan untuk menangkap pengalaman subjektif secara mendalam. Sebanyak 10 partisipan dipilih secara purposive berdasarkan keterlibatan aktif mereka dalam praktik keagamaan dan kesadaran reflektif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis secara sistematis melalui proses pengodean, identifikasi tema-tema yang muncul, serta pengembangan tema-tema utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian Islam berkembang sebagai proses dinamis yang melibatkan internalisasi nilai moral dan spiritual, integrasi antara keyakinan dan perilaku, penguatan regulasi diri, konstruksi makna eksistensial, serta peningkatan ketahanan psikologis dan stabilitas emosional. Selain itu, kepribadian Islam juga berfungsi sebagai kerangka identitas yang memberikan arah, koherensi, dan konsistensi dalam menghadapi tantangan kehidupan kontemporer. Temuan ini menegaskan perannya dalam mendukung perkembangan identitas, kesejahteraan psikologis, dan integritas moral, sekaligus menawarkan dasar konseptual bagi intervensi yang terintegrasi secara spiritual, pendidikan karakter, dan pendekatan konseling berbasis nilai.
When Anxiety Erodes Intimacy: A Phenomenological Portrait of Marital Distress in Generation Z Novia Sri Parindu Purba; Lidia Kastanya; Beatrice Brawijaya; Silvester Kalpika
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26038

Abstract

The phenomenon of delayed marriage among Generation Z indicates a value shift driven by deep-seated anxiety regarding potential marital distress. Economic factors do not merely trigger this hesitation but are deeply rooted in childhood experiences under authoritarian and neglectful parenting, which shape a traumatic perception of long-term commitment. Using a phenomenological approach, this study aims to explore how Generation Z individuals with such parenting backgrounds perceive their anxiety toward marriage. Thematic analysis was conducted on data from in-depth interviews with three Generation Z subjects (two females and one male). The findings confirm that marriage anxiety is a psychological construction stemming from primary relational experiences within the nuclear family. Neglectful and authoritarian parenting significantly distorts the subject's cognitive schemas, causing marriage to be perceived as a “high-risk relationship” that threatens affective stability. These dynamics are mapped into three major themes reflecting components of marital quality: dyadic consensus (alignment in values and life decisions), dyadic satisfaction (happiness in the relationship), and dyadic cohesion (emotional bond and togetherness). This study concludes that for Generation Z survivors of dysfunctional parenting, delaying marriage serves as a defense mechanism against the repetition of past trauma. Fenomena penundaan usia pernikahan pada Generasi Z mengindikasikan adanya pergeseran nilai yang didorong oleh kecemasan mendalam terhadap potensi marital distress. Keraguan ini tidak semata dipicu oleh faktor ekonomi, melainkan berakar kuat pada pengalaman masa kecil di bawah pola asuh authoritarian dan neglectful, yang membentuk persepsi traumatis terhadap komitmen jangka panjang. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, penelitian ini bertujuan untuk mengekslporasi bagaimana Generasi Z dengan latar belakang pengasuhan tersebut mempersepsikan kecemasan mereka terhadap pernikahan. Analisis tematik dilakukan terhadap data wawancara mendalam dari tiga subjek Generasi Z (2 perempuan dan 1 laki-laki). Hasil temuan penelitian ini menegaskan bahwa kecemasan terhadap pernikahan merupakan konstruksi psikologis yang bersumber dari pengalaman relasional dalam keluarga inti. Pola asuh neglectful dan authoritarian mendistorsi skema kognitif subjek, sehingga pernikahan dipersepsikan sebagai relasi berisiko tinggi (high-risk relationship) yang mengancam stabilitas afektif. Dinamika ini terpetakan dalam tiga tema utama yang merefleksikan komponen kualitas pernikahan yaitu dyadic consensus (keselarasan dalam nilai dan Keputusan hidup), dyadic satisfaction (kepuasan dan kebahagiaan dalam hubungan), dan dyadic cohesion (ikatan emosional dan kebersamaan dalam hubungan). Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi Generasi Z penyintas pola asuh disfungsional, penundaan pernikahan adalah mekanisme pertahanan diri dari repetisi trauma di masa lalu.
Understanding Psychosocial Factors Influencing Subjective Well-Being in Perinatal Mothers: A Systematic Literature Review Nadya Novia Rahman; Ayunda Ramadhani; Aulia Ramdani
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26206

Abstract

The perinatal period represents a complex and vulnerable developmental transition characterized by substantial biological, psychological, social, and environmental changes. Maternal subjective well-being during this phase extends beyond the absence of mental disorders and encompasses life satisfaction, positive affect, perceived competence, and meaningful engagement in the maternal role. This study aimed to systematically synthesize psychosocial determinants influencing subjective well-being among perinatal mothers through a systematic literature review approach. Inclusion criteria comprised peer-reviewed English-language journal articles published between 2010 and 2026 that examined intrapersonal, relational, socioeconomic, and environmental determinants among pregnant and postpartum women. Following the PRISMA framework, 17 studies met the eligibility criteria and were included in the final analysis. The findings indicate that emotional regulation, maternal self-efficacy, risk perception, childbirth experience, sleep quality, social support, stigma, socioeconomic conditions, and environmental stressors are key interacting determinants shaping maternal subjective well-being. Furthermore, psychosocial interventions such as psychoeducation, cognitive-emotional regulation-based programs, and digital support platforms demonstrate promising potential in enhancing maternal resilience. The results underscore the importance of adopting an ecological framework integrating individual, relational, and structural dimensions to comprehensively understand maternal well-being. This review shifts the focus from a pathology-oriented perspective toward a strength-based and well-being-centered paradigm and provides important implications for maternal mental health policy development and preventive intervention strategies.Periode perinatal merupakan fase transisi perkembangan yang kompleks dan rentan, ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan yang signifikan. Kesejahteraan subjektif ibu pada masa ini tidak hanya mencerminkan ketiadaan gangguan mental, tetapi juga mencakup kepuasan hidup, afek positif, rasa kompetensi, serta makna dalam menjalankan peran keibuan. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis secara sistematis faktor-faktor psikososial yang memengaruhi kesejahteraan subjektif ibu perinatal melalui pendekatan systematic literature review. Kriteria inklusi meliputi artikel jurnal peer-reviewed berbahasa Inggris yang diterbitkan antara 2010–2026 dan meneliti determinan intrapersonal, relasional, sosial ekonomi, serta lingkungan terhadap kesejahteraan subjektif ibu hamil dan postpartum. Proses seleksi mengikuti kerangka PRISMA dan menghasilkan 17 artikel yang memenuhi kriteria. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa regulasi emosi, self-efficacy maternal, persepsi risiko, pengalaman persalinan, kualitas tidur, dukungan sosial, stigma, kondisi sosial ekonomi, serta stresor lingkungan merupakan determinan utama yang saling berinteraksi dalam membentuk kesejahteraan subjektif. Selain itu, intervensi psikososial seperti psikoedukasi, cognitive-emotional regulation, dan dukungan berbasis digital terbukti berpotensi meningkatkan resiliensi maternal. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan ekologi yang mengintegrasikan faktor individual, relasional, dan struktural dalam memahami kesejahteraan ibu perinatal. Studi ini berkontribusi dengan menggeser paradigma dari pendekatan berbasis patologi menuju perspektif berbasis kekuatan dan kesejahteraan, serta memberikan implikasi bagi pengembangan kebijakan dan strategi promotif-preventif kesehatan mental maternal.
Disruptive Harmony: Why Classical Music Impairs Attention In Smartphone-Addicted Students Mutmainnah Mutmainnah; Sukma Ainul Fitri; Dita Padiani Rahma; Wilis Srisayekti; Yanti Rubiyanti; Anissa Lestari Kadiyono; Marina Sulastiana; Neni Komalasari
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26027

Abstract

Excessive smartphone use among university students has been linked to a decline in cognitive control, particularly in the aspect of attention. The use of classical music is often considered a strategy for enhancing attention, yet its effectiveness in individuals with digital addiction still requires empirical testing. This study aims to determine the effect of classical music (Mozart K. 448) on the attention of students experiencing smartphone addiction. This experiment employed a two-group posttest-only design involving 60 students selected through purposive sampling. Attention was measured using a time-based Stroop Test (ms). The Mann-Whitney U test results showed a significant difference between the two groups (Z = -3.713; p < .001). The experimental group had a higher mean rank for reaction time (38.87) compared to the control group (22.13). These findings indicate that classical music acts as a cognitive distraction that decreases attention in students with smartphone addiction; therefore, the use of background music should be considered selectively.Penggunaan Smartphone yang berlebih pada mahasiswa telah dikaitkan dengan penurunan kontrol kognitif, khususnya pada aspek atensi. Pengguna musik klasik sering kali dianggap sebagai strategi dalam meningkatkan atensi, namun efektivitasnya pada individu dengan adiksi digital masih memerlukan pengujian empiris. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh musik klasik (Mozart K. 448) terhadap atensi mahasiswa yang mengalami adiksi smartphone. Eksperimen ini menggunakan two-group posttest-only design terhadap 60 mahasiswa yang dipilih melalui purposive sampling. Atensi diukur menggunakan Stroop Test berbasis waktu (ms). Hasil uji Mann-Whitney U menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok (Z = -3.713; p <.001). Kelompok eksperimen memiliki mean rank waktu reaksi lebih tinggi (38.87) dibandingkan kontrol (22.13). Temuan ini menunjukkan bahwa musik klasik merupakan distraksi kognitif yang menurunkan atensi pada mahasiswa dengan adiksi smartphone sehingga penggunaan musik latar perlu dipertimbangkan secara selektif.
Hustle Culture and Work-Life Balance in the Digital Live Streaming Industry: The Role of Employee Engagement Findy Suri N.; Anggi Tri Lestari Purba; Adelin Autraliati Saragih
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26213

Abstract

The rapid expansion of the digital live streaming industry has intensified productivity norms that encourage constant performance and sustained online presence. This study examines the relationship between hustle culture and work–life balance among digital live streamers, with employee engagement positioned as a mediating mechanism. Drawing on the Job Demands-Resources (JD-R) model and Conservation of Resources (COR) theory, a cross-sectional survey was conducted with 226 active live streamers. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The findings indicate that hustle culture has a significant negative direct effect on work-life balance, while positively predicting employee engagement. Employee engagement partially mediates the relationship, suggesting that although hustle-oriented norms enhance motivational involvement, they simultaneously generate strain that undermines balance. The structural model explains 38% of the variance in work-life balance. These findings highlight the dual role of hustle culture as both an energizing and strain-inducing force in algorithm-driven work environments. Promoting sustainable digital careers requires balancing performance expectations with recovery-supportive practices to protect psychological well-being.Pesatnya perkembangan industri live streaming digital telah memperkuat norma produktivitas yang mendorong performa secara terus-menerus dan kehadiran daring yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara hustle culture dan work–life balance pada para live streamer digital, dengan employee engagement sebagai mekanisme mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Job Demands-Resources (JD-R) Model dan Conservation of Resources (COR) Theory. Metode penelitian dilakukan melalui survei potong lintang (cross-sectional) terhadap 226 live streamer aktif. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM).Hasil penelitian menunjukkan bahwa hustle culture memiliki pengaruh langsung negatif yang signifikan terhadap work–life balance, namun secara positif memengaruhi employee engagement. Employee engagement terbukti memediasi secara parsial hubungan tersebut, yang menunjukkan bahwa meskipun norma hustle culture dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi kerja, kondisi tersebut juga menimbulkan tekanan yang berdampak pada menurunnya keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Model struktural dalam penelitian ini mampu menjelaskan 38% varians work–life balance. Temuan ini menegaskan bahwa hustle culture memiliki peran ganda, yaitu sebagai faktor yang meningkatkan semangat kerja sekaligus menjadi sumber tekanan dalam lingkungan kerja berbasis algoritma. Oleh karena itu, pengembangan karier digital yang berkelanjutan memerlukan keseimbangan antara tuntutan performa dan praktik pemulihan yang mendukung kesejahteraan psikologis.
When Machines Become Listeners: Emotional Intimacy of Human with AI Christy Gabriella Hutagalung; Ilyas Dzaky Almahdy; Kamila Putri Nursyahbani; Muhammad Farhan Indra; Novita Nurafifah; Elizabeth Kristi Poerwandari
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.23134

Abstract

The rapid integration of Artificial Intelligence (AI) into daily life has expanded its role from technical assistance to emotional companionship among young adults. This study aims to explore subjective experiences of emotional intimacy with generative AI chatbots, such as ChatGPT. Employing an interpretive qualitative design and reflexive thematic analysis, semi-structured interviews were conducted with five participants, including university students and early-career professionals. Four primary themes emerged: AI as an emotionally safe space, the attainment of validation and psychological relief, AI’s role as a partner for cognitive reflection, and the critical awareness of its limitations and ethical risks. The findings indicate that while AI facilitates short-term emotion regulation through non-judgmental availability, users maintain a clear distinction between algorithmic empathy and authentic human connection. This research underscores the necessity of emotional digital literacy and suggests that AI should be integrated as a complementary scaffold, rather than a substitute, for professional mental health support and interpersonal relationships.Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pergeseran fungsi kecerdasan buatan (AI) dari sekadar alat produktivitas menjadi mitra interaksi emosional di kalangan dewasa muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pengalaman subjektif individu dalam membangun keintiman emosional dengan chatbot AI generatif seperti ChatGPT. Dengan menggunakan desain kualitatif interpretatif dan analisis tematik refleksif, wawancara semi-terstruktur dilakukan terhadap lima partisipan yang terdiri atas mahasiswa dan profesional awal karier. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama: AI sebagai ruang aman emosional, pencapaian validasi dan kelegaan psikologis, fungsi AI sebagai mitra refleksi kognitif, serta kesadaran kritis terhadap batasan etika dan risiko ketergantungan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun AI efektif dalam membantu regulasi emosi jangka pendek, pengguna tetap mempertahankan batasan antara hubungan artifisial dan autentik. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital emosional dan integrasi AI sebagai instrumen pendukung, bukan pengganti, dalam layanan kesehatan mental dan pendidikan.
Learning Management System Implementation in Online Education: A Case Study on Student Psychological Dynamics Nabrisi Rohid; Nibrosu Rohid; Daniel Susilo; Sukisno Sukisno
About the Journal Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v15i2.26028

Abstract

The rapid advancement of digital technology has transformed higher education, particularly through the implementation of Learning Management Systems (LMS) in online learning. LMS functions not only as a technological tool but also as a psychological environment that influences how students regulate their learning, interpret academic experiences, and manage emotional responses. Therefore, this study aims to explore students’ psychological dynamics in LMS-based learning, focusing on psychological adaptation, learning motivation, and emotional well-being within digital learning environments. This study employed a qualitative approach using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) to understand how students subjectively construct meaning from their lived experiences in online learning. Data were collected through in-depth semi-structured interviews with students who actively used LMS and analyzed through iterative reading, coding, and thematic development to identify core psychological themes. The findings revealed three major themes: psychological adaptation and self-regulation, student motivation and engagement, and emotional experience and psychological well-being. Initially, students experienced confusion and difficulty managing independent learning; however, over time, they developed greater autonomy, self-discipline, and academic confidence. LMS enhanced motivation through flexible access, interactive features, and feedback, although technical challenges occasionally caused frustration and reduced engagement. Additionally, LMS provided emotional comfort and flexibility but also introduced risks of isolation and digital fatigue. The implications of this study suggest that LMS should be understood not only as an instructional technology but also as a psychological learning environment that shapes students’ cognitive, emotional, and motivational development.Perkembangan pesat teknologi digital telah mentransformasi sistem pendidikan tinggi, khususnya melalui implementasi Learning Management System (LMS) dalam pembelajaran daring. LMS tidak hanya berfungsi sebagai alat teknologi, tetapi juga sebagai lingkungan psikologis yang memengaruhi bagaimana mahasiswa mengatur pembelajaran, memaknai pengalaman akademik, serta mengelola respons emosional mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika psikologis mahasiswa dalam penggunaan LMS, khususnya terkait adaptasi psikologis, motivasi belajar, dan kesejahteraan emosional dalam lingkungan pembelajaran daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) untuk memahami bagaimana mahasiswa memaknai pengalaman belajar mereka secara subjektif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dengan mahasiswa yang aktif menggunakan LMS, kemudian dianalisis melalui proses membaca berulang, pengkodean, dan pengembangan tema psikologis utama. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu adaptasi psikologis dan regulasi diri, motivasi dan keterlibatan belajar, serta pengalaman emosional dan kesejahteraan psikologis. Mahasiswa awalnya mengalami kebingungan dan tantangan dalam mengelola pembelajaran secara mandiri, namun secara bertahap mengembangkan kemandirian, disiplin diri, dan kepercayaan diri akademik. LMS juga meningkatkan motivasi melalui fleksibilitas akses, fitur interaktif, dan umpan balik, meskipun tantangan teknis terkadang menimbulkan stres. Selain itu, LMS memberikan kenyamanan emosional, tetapi juga dapat memunculkan perasaan isolasi dan kelelahan digital. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa LMS harus dipahami tidak hanya sebagai sistem teknologi, tetapi sebagai lingkungan psikologis yang memengaruhi perkembangan kognitif, emosional, dan motivasional mahasiswa.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 15, No 3 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 2 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 15, No 1 (2026): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 4 (2025): Volume 14, Issue 4, Desember 2025 Vol 14, No 4 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 3 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 2 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 14, No 1 (2025): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 4 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 3 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 2 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 13, No 1 (2024): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 4 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 3 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 2 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 12, No 1 (2023): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 2 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 1 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 3 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 2 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 10, No 1 (2021): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 3 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 2 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 9, No 1 (2020): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 2 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 8, No 1 (2019): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 2 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 7, No 1 (2018): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 2 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 6, No 1 (2017): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 2 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 5, No 1 (2016): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 2 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 4, No 1 (2015): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 2 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 3, No 1 (2014): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 2 (2013): Volume 2, Issue 2, December 2013 Vol 2, No 2 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 2, No 1 (2013): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 2 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 1, No 1 (2012): Psikostudia : Jurnal Psikologi More Issue