cover
Contact Name
Novianty Tuhumury
Contact Email
tritonmsp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
tritonmsp@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura Jl. Mr. Chr. Soplanit, Kampus - Poka, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TRITON : Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Published by Universitas Pattimura
Core Subject : Social,
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan is a scholarly refereed research journal which accepts scientific article based on research and reviews including: 1. Management of Aquatic Resources 2. Management of Aquatic Environment 3. Management of Coastal and Sea 4. Economic of Aquatic Resources 5. Planning and development of Coastal, Sea and Small Islands The article should fulfill science criteria and original manuscript which has previously unpublished. Each article will evaluate by relevant peer reviewers before published.
Articles 126 Documents
PERAN GENDER DAN KERENTANAN PENGHIDUPAN RUMAH TANGGA NELAYAN KEPITING BAKAU TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DI DESA BULA AIR Hellen Nanlohy; Sitti Aisah Walla; Adhitya Nugroho
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page1-10

Abstract

Climate change affects gender roles in the mangrove crab fishing businesses. Women play a role in crab fishing and are more vulnerable to the impacts of climate change due to limited access to resources. This study aims to analyze gender roles in the mangrove crab fishing businesses and to examine the impact of climate change on the household income of fishermen in Bula Air Village, East Seram Regency. The research was conducted from January to June 2025. This study used a Likert scale (1–5) approach with 40 respondents. Correlation analysis results indicate a significant negative relationship between the impacts of climate change and income (r = -0.642; p < 0.05). Simple linear regression analysis indicates that the impacts of climate change significantly influence a decrease in income (β = -0.587; p = 0.000) with a coefficient of determination (R²) of 0.412. This means that 41.2% of the variation in income is influenced by the impacts of climate change. These findings underscore the importance of integrating a gender perspective into fisheries adaptation policies to enhance the resilience of coastal fishermen’s livelihoods. ABSTRAK Perubahan iklim mempengaruhi peran gender dalam usaha penangkapan kepiting bakau. Perempuanmempunyai peran dalam usaha penangkapan kepiting dan akan lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim karena akses terbatas terhadap sumberdaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran gender dalam usaha penangkapan kepiting bakau serta menguji pengaruh dampak perubahan iklim terhadap pendapatan rumah tangga nelayan di Desa Bula Air, Kabupaten Seram Bagian Timur. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Juni 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan skala Likert (1–5) terhadap 40 responden. Hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan negatif signifikan antara dampak perubahan iklim dan pendapatan (r = -0,642; p<0,05). Analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim berpengaruh signifikan terhadap penurunan pendapatan (β = -0,587; p = 0,000) dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,412. Artinya, 41,2% variasi pendapatan dipengaruhi oleh dampak perubahan iklim. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi perspektif gender dalam kebijakan adaptasi perikanan untuk meningkatkan ketahanan penghidupan nelayan pesisir. Kata kunci: Gender, kepiting bakau, perubahan iklim, pesisir, kerentanan nelayan
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN TELUK YOUTEFA, KOTA JAYAPURA Sara Umbekna; Lady Ayu Sri Wijayanti; Lolita Tuhumena; Muhammad Hisyam; Khristhoper Aris Arianto Manalu; Liyatin Gea; Kristhopolus Rumbiak; Ade Ria Elena Sinaga
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page32-42

Abstract

Phytoplankton serve as primary producers and the foundational link in the food web. These organisms are frequently utilized as bioindicators for the fertility of aquatic environments. The presence of phytoplankton and the environmental conditions supporting their habitat play a critical role in assessing and managing the status and quality of marine waters.The objective of this study was to analyze the phytoplankton community structure in the waters of Youtefa Bay, Jayapura, encompassing species composition, abundance, diversity index, dominance index, and evenness index. This research was conducted in October 2023 across five sampling stations. Physico-chemical parameters, including temperature, salinity, and pH, were measured in situ. Phytoplankton samples were collected horizontally using a plankton net with a mesh size of 25 µm and subsequently preserved in 4% formalin.The results indicated that the phytoplankton in Youtefa Bay consisted of two classes Bacillariophyceae and Dinophyceae comprising a total of 21 species. Ceratium trichoceros and Thalassiothrix longissima were the species identified at all sampling stations. Total phytoplankton abundance ranged from 358.10 cells/m³ to 2,426.04 cells/m³. Ceratium trichoceros exhibited the highest species abundance at 4,074.59 cells/m³. Within the class Bacillariophyceae, Thalassiothrix longissima and Skeletonema costatum showed higher abundances compared to other diatom species, recorded at 414.15 cells/m³ and 267.80 cells/m³, respectively.The diversity index values in Youtefa Bay ranged from 1.17 to 1.75, the dominance index from 0.25 to 0.46, and the evenness index from 0.47 to 0.74. Water temperature ranged from 28.7°C to 30.2°C, salinity ranged from 17 to 34 ppt (average 30.6 ppt), and pH values ranged from 7.2 to 7.8. In conclusion, the water quality of Youtefa Bay is classified as good and suitable to support phytoplankton life. ABSTRAK Fitoplankton merupakan produsen primer dan awal mata rantai dalam jaring makanan. Organisme ini sering dijadikan sebagai indikator ukuran kesuburan suatu perairan. Keberadaan fitoplankton dan kondisi lingkungan pendukung habitatnya berperan dalam penilaian status dan kualitas perairan laut serta pengelolaannya. Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis struktur komunitas fitoplankton di perairan Teluk Youtefa, Jayapura, yang meliputi komposisi jenis, kelimpahan, indeks keanekaragaman, indeks dominansi, dan indeks keseragaman fitoplankton. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2023 di 5 stasiun penelitian. Parameter fisika-kimia air diukur secara insitu meliputi suhu, salinitas, dan pH. Sampel fitoplankton diambil secara horizonal menggunakan plankton net dengan mesh size 25 µm, dan selanjutnya diawetkan menggunakan formalin 4%. Hasil penelitian menunjukan, fitoplankton di perairan Teluk Youtefa terdiri dari 2 kelas, yaitu Bacillariophyceae dan Dinophyceae, yang terbagi atas 21 spesies. Spesies fitoplankton yang ditemukan pada semua stasiun penelitian yaitu Ceratium trichoceros dan Thalassiothrix longissima. Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 358,10 sel/m³-2426,04 sel/m³. Ceratium trichoceros memiliki kelimpahan spesies tertinggi dibandingkan lainnya, yaitu 4074,59 sel/m³. Pada kelas Bacillariophyceae, spesies Thalassiothrix longissimadan Skeletonema costatum memiliki kelimpahan yang lebih tinggi dibandingkan spesies diatom lainnya, yakni 414,15 sel/m³ dan 267,80 sel/m³. Nilai indeks keanekaragaman fitoplankton di perairan Teluk Youtefa berkisar antara 1,17-1,75, indeks dominansi berkisar antara 0,25-0,46, dan indeks keseragaman berkisar antara 0,47-0,74. Nilai suhu perairan Teluk Youtefa berkisar antara 28,7°C-30,2°C, salinitas berkisar antara 17-34 ppt dengan rata-rata 30,6 ppt, dan nilai pH berkisar antara 7,2-7,8. Kualitas perairan Teluk Youtefa tergolong baik dan sesuai untuk mendukung kehidupan fitoplankton. Kata kunci: Fitoplankton, kelimpahan, keanekaragaman, dominansi, Teluk Youtefa
ANALISIS DAMPAK PENGGUNAAN BUBU NAGA TERHADAP KEBERLANJUTAN SUMBERDAYA RAJUNGAN (Portunus pelagicus) DI PERAIRAN SEGERI KABUPATEN PANGKEP Mustamin Tajuddin; Syahrul Djafar; Randi Randi; Muhammad Yunus
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page43-53

Abstract

Pangkep Regency is one of the primary hubs with significant potential for the blue swimming crab fishery, a vital commodity for the economy of coastal communities. However, its sustainability is seriously threatened by the use of bubu naga, which are highly unselective fishing gear. This study aims to determine the size distribution of blue swimming crabs caught using bubu naga; assess the percentage of legal and undersized (catchable and uncatchable) crabs; and analyze the impact of bubu naga utilization on the sustainability of blue swimming crab resources. The research was conducted in the waters of Segeri District, Pangkep Regency, from August to December 2025. This study employed a descriptive quantitative approach with a purposive sampling method. The results indicated that the size distribution of crabs caught by bubu naga was dominated by the juvenile group (3.5–6.5 cm) with 151 individuals, followed by the sub-adult group (6.5–11.5 cm) comprising 26, 65, 80, 113, and 60 individuals across their respective size classes, while adult crabs (11.5–13.5 cm) accounted for only 17 individuals. The catch was heavily dominated by uncatchable (undersized) crabs, consisting of 35% juveniles and 64% sub-adults, whereas adult crabs constituted a mere 1%. This composition demonstrates that the selectivity of bubu naga is exceptionally low, and the majority of the crabs are harvested before reaching gonad maturity. The continuous harvesting of juvenile sizes reduces the adult spawning stock, decreases recruitment, and triggers growth overfishing. Ecologically, the depletion of adult crabs disrupts the balance of the coastal ecosystem, as blue swimming crabs play a crucial role as benthic predators. ABSTRAK Kabupaten Pangkep sebagai salah satu sentra yang memiliki potensi besar perikanan rajungan serta merupakan komoditas vital bagi ekonomi masyarakat pesisir. Namun, kelestariannya terancam serius oleh penggunaan bubu naga yang merupakan alat tangkap tidak selektif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sebaran ukuran rajungan yang tertangkap pada bubu naga; mengetahui persentase hasil rajungan layak dan tidak layak tangkap; dan menganalisis dampak penggunaan bubu naga terhadap keberlanjutan sumberdaya rajungan. Penelitian dilakukan di perairan Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkep pada Agustus-Desember 2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan sebaran ukuran rajungan yang tertangkap bubu naga didominasi kelompok juvenil (3,5–6,5 cm) sebanyak 151 ekor; kelompok remaja (6,5–11,5 cm) sebanyak 26 ekor, 65 ekor, 80 ekor, 113 ekor, dan 60 ekor pada kelas ukurannya, sedangkan rajungan dewasa (11,5-13,5 cm) sebanyak 17 ekor. Hasil tangkapan didominasi rajungan tidak layak tangkap, yaitu juvenil 35% dan remaja 64%, sedangkan rajungan dewasa hanya 1%. Komposisi ini menunjukkan selektivitas bubu naga sangat rendah dan mayoritas rajungan tertangkap sebelum mencapai kematangan gonad. Penangkapan ukuran juvenil secara terus-menerus mengurangi stok induk dewasa, menurunkan rekruitmen, serta memicu growth overfishing. Secara ekologis, berkurangnya rajungan dewasa mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir karena rajungan berperan penting sebagai predator bentik. Kata Kunci: Bubu naga, keberlanjutan, alat tangkap, rajungan, Perairan Pangkep
STATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN BUDIDAYA KEPITING BAKAU DI TELUK BIMA Edy Suherman; Muhammad Kasnir; Hasnidar Hasnidar; Rustam Rustam; Muhammad Ikhsan Wamnebo; Randi Randi
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page54-67

Abstract

Mangrove crab (Scylla spp) are a high-value fishery commodity that thrives in coastal areas, particularly mangrove ecosystems. However, anthropogenic pressure on mangroves poses a challenge to sustainable cultivation. This study aims to analyze the sustainability of mangrove crab cultivation management in Bima Bay through a multidimensional approach encompassing ecological, economic, social, technological, and institutional aspects. The method used was a mixed methods approach with Multi-Dimensional Scaling (MDS) analysis using RAPFISH, complemented by leverage analysis and Monte Carlo tests to measure model sensitivity and reliability. Data were obtained from field observations, interviews, questionnaires, and literature review. The results indicate that the sustainability status of mangrove crab cultivation management in Bima Bay is categorized as moderately sustainable with an index of 71.01. The ecological, economic, and social dimensions are considered sustainable, while the technological and institutional dimensions are still moderately sustainable and are the main limiting factors. Key leveraging factors include dissolved oxygen and mangrove density, net margin and market access, gender roles and community perceptions, mangrove-to-water ratio, and local institutions and conservation compliance. Monte Carlo tests demonstrated high stability and reliability of the model. ABSTRAK Kepiting bakau (Scylla spp) merupakan komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi yang berkembang di kawasan pesisir, terutama ekosistem mangrove. Namun, tekanan antropogenik terhadap mangrove menjadi tantangan bagi keberlanjutan budidaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis status keberlanjutan pengelolaan budidaya kepiting bakau di Teluk Bima melalui pendekatan multidimensi yang meliputi aspek ekologi, ekonomi, sosial, teknologi, dan kelembagaan. Metode yang digunakan adalah mixed methods dengan analisis Multi-Dimensional Scaling (MDS) melalui RAPFISH, dilengkapi analisis leverage dan uji Monte Carlo untuk mengukur sensitivitas dan keandalan model. Data diperoleh dari observasi lapangan, wawancara, kuesioner, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan pengelolaan budidaya kepiting bakau di Teluk Bima berada pada kategori cukup berkelanjutan dengan indeks 71,01. Dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial tergolong berkelanjutan, sedangkan dimensi teknologi dan kelembagaan masih cukup berkelanjutan dan menjadi faktor pembatas utama. Faktor pengungkit utama meliputi oksigen terlarut dan kerapatan mangrove, margin bersih dan akses pasar, peran gender dan persepsi masyarakat, rasio mangrove dan air, serta kelembagaan lokal dan kepatuhan konservasi. Uji Monte Carlo menunjukkan model memiliki kestabilan dan keandalan tinggi. Kata kunci: Kepiting bakau, keberlanjutan, silvofishery, RAPFISH, Teluk Bima
KAJIAN HASIL TANGKAPAN BAGAN CUNGKIL BERDASARKAN SEBARAN SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-a PADA FISHING GROUND, PERAIRAN TELUK BONE Dika Rachmat Tamrin; Muhammad Jamal Alwi; Ernaningsih Ernaningsih; Tamrin Tamrin; Awaluddin Awaluddin
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page68-80

Abstract

Aquatic environmental conditions, particularly sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a, influence fish catches in Bone Regency. This study aims to analyze sea surface temperature, chlorophyll-a concentration, and the relationship between these two parameters and the total catch of lift nets (bagan cungkil) in the waters of the Bone Gulf. The research was conducted from April to July 2025, utilizing monthly catch data of lift nets as the dependent variable, and sea surface temperature and chlorophyll-a as the independent variables. Data analysis was performed using multiple linear regression analysis with SPSS software. The results of the analysis indicate that the distribution of sea surface temperature falls within a relatively homogenous range, with minor temperature variations across the fishing grounds. The observed chlorophyll-a concentration is relatively high, indicating fertile aquatic conditions that serve as an essential baseline for determining potential fishing zones. The regression model yielded a coefficient of determination (R2) of 0.380, meaning that 38.0% of the variance in lift net catches can be explained by variations in SST and chlorophyll-a, while the remaining proportion is influenced by other factors outside the model. The simultaneous test (F-test) showed a significance value of 0.787 (p > 0.05), indicating that SST and chlorophyll-a concurrently do not exert a significant effect on lift net catches. Partially, SST exhibits a positive relationship with the catch, with a coefficient value of 0.457, whereas chlorophyll-a shows a negative relationship, with a coefficient of -0.241987. Individually, neither variable has a significant partial effect on the catch. ABSTRAK Kondisi perairan berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan di Kabupaten Bone khususnya suhu permukaan laut dan klorofil-a. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis suhu permukaan laut, kandungan klorofil-a, serta hubungan kedua parameter tersebut terhadap jumlah hasil tangkapan bagan cungkil di perairan Teluk Bone. Penelitian dilakukan pada periode April-Juli 2025 dengan menggunakan data hasil tangkapan bulanan bagan cungkil sebagai variabel terikat, serta suhu permukaan air laut dan klorofil-a sebagai variabel bebas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebaran suhu permukaan laut memiliki kisaran yang relatif homogen dengan variasi suhu yang tidak terlalu ekstrem antar titik penangkapan. Konsentrasi klorofil-a yang ditemukan relatif tinggi yang menunjukan kondisi kesuburan perairan sangat penting sebagai dasar penentuan daerah penangkapan ikan potensial. Model regresi menghasilkan nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,380, yang berarti bahwa 38,0% variasi hasil tangkapan bagan cungkil dapat dijelaskan oleh variasi SPL dan klorofil-a, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model. Uji simultan (uji F) menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,787 (Sig. > 0,05), yang mengindikasikan bahwa secara bersama-sama SPL dan klorofil-a tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan bagan cungkil. Secara parsial, SPL memiliki arah hubungan positif terhadap hasil tangkapan dengan nilai koefisien 0,457, sedangkan klorofil-a memiliki arah hubungan negatif dengan koefisien -0,241,987. Kedua variabel tersebut secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap hasil tangkapan. Kata kunci: Bagan cungkil, suhu permukaan laut, klorofil-a, hasil tangkapan, Teluk Bone
KAJIAN STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA BERDASARKAN KERAPATAN EKOSISTEM MANGROVE DI KAWASAN KONSERVASI NEGERI ADMINISTRATIF BESI SERAM UTARA Muti'ah Dewi Sornia; Semuel F Tuhumury; Yuliana Natan; Eugene Wenno
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 22 No 1 (2026): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol22issue1page81-90

Abstract

The mangrove ecosystem in the conservation area of Besi Administrative Village, North Seram, serves an essential role as a natural habitat for mollusk communities (gastropods and bivalves). This study aimed to analyze mangrove density, evaluate mollusk community structure, and assess the relationship between mangrove density and mollusk community structure in the Mangrove Conservation Area of Besi Administrative Village. The research was conducted from October to November 2025 in the Mangrove Conservation Area of Besi Administrative Village, North Seram District, Central Maluku Regency. Data were collected using simple random sampling across Zone 1 (Stations I and II) and Zone 2 (Stations III and IV). Mangrove data were sampled using the line transect plot method, whereas mollusk data (gastropods and bivalves) were obtained by excavating the substrate. Data analysis for mangrove and mollusk community structure included species composition, abundance, density, frequency, similarity, diversity, and dominance. The relationship between mangrove density and mollusk community structure was analyzed using simple linear regression. The results revealed 10 mangrove species and 19 mollusk species (18 gastropods and 1 bivalve). In Zone 1, Rhizophora apiculata and Faunus ater were identified as the dominant species, exhibiting moderate mollusk diversity (H' = 1.281). In Zone 2, Rhizophora stylosa and Littoraria scabra dominated, with low diversity (H' = 0.539). The dominance index was low in both zones. The relationship between mangrove density and mollusk abundance was non-linear: displaying a negative correlation in Zone 1 (overcrowding effect) and a positive correlation in Zone 2 (ecosystem engineer effect). Consequently, coastal ecosystem management efforts particularly for mangroves must be tailored to specific habitat conditions. ABSTRAK Ekosistem mangrove di kawasan Konservasi Negeri Administratif Besi, Seram Utara berfungsi esensial sebagai alam asli bagi komunitas moluska (gastropoda dan bivalvia). Penelitian ini bertujuan menganalisis kerapatan mangrove, menganalisis struktur komunitas moluska, dan menganalisis hubungan kerapatan mangrove dengan struktur komunitas moluska di Kawasan Konservasi Mangrove Negeri Administratif Besi. Penelitian dilakukan di Kawasan Konservasi Mangrove Negeri Administratif Besi, Kecamatan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah pada Oktober-November 2025. Pengambilan data dilakukan secara simple random sampling pada zona 1 (stasiun I dan II) serta zona 2 (stasiun III dan IV). Pengambilan data mangrove menggunakan line transect plot method, sedangkan data moluska (gastropoda dan bivalvia) dilakukan dengan cara menggali pada substrat. Analisa data struktur komunitas mangrove dan moluska meliputi komposisi, kelimpahan, kerapatan, frekuensi, kesamaan, keanekaragaman, serta dominansi. Hubungan antara kerapatan mangrove dan struktur komunitas moluska dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 10 jenis mangrove dan 19 jenis moluska (18 gastropoda dan 1 bivalvia). Teridentifikasi di zona 1 terdapat jenis yang mendominasi yaitu Rhizophora apiculata dan Faunus ater dengan keanekaragaman moluska sedang (H’ = 1,281), sedangkan jenis yang mendominasi di zona 2 yaitu Rhizophora stylosa dan Littoraria scabra dengan keanekaragaman rendah (H’ = 0,539). Indeks dominansi pada kedua zona tergolong rendah. Hubungan antara kerapatan mangrove dan kelimpahan moluska bersifat non-linear: bernilai negatif di zona 1 (over crowding effect) dan positif di zona 2 (ecosystem engineer effect). Perlu dilakukan upaya pengelolaan ekosistem pesisir khususnya mangrove disesuaikan dengan kondisi habitat. Kata Kunci: Mangrove, moluska, kerapatan, struktur komunitas, kawasan konservasi

Page 13 of 13 | Total Record : 126