cover
Contact Name
Novianty Tuhumury
Contact Email
tritonmsp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
tritonmsp@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura Jl. Mr. Chr. Soplanit, Kampus - Poka, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TRITON : Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Published by Universitas Pattimura
Core Subject : Social,
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan is a scholarly refereed research journal which accepts scientific article based on research and reviews including: 1. Management of Aquatic Resources 2. Management of Aquatic Environment 3. Management of Coastal and Sea 4. Economic of Aquatic Resources 5. Planning and development of Coastal, Sea and Small Islands The article should fulfill science criteria and original manuscript which has previously unpublished. Each article will evaluate by relevant peer reviewers before published.
Articles 118 Documents
INOVASI KOTAK PANORAMA UNTUK MENDUKUNG EKOWISATA INCLUSIF SUMBERDAYA PESISIR DI PANTAI NAMANALU Siahainenia, Reico H; Wattimury, Latuhorte; Gaspersz, Fella; Chary, Matthew
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page87-98

Abstract

Surface wave ripple disturbance is a major obstacle in enjoying the potential of underwater tourism in coastal ecotourism areas. This study aims to develop a visual aid that can neutralize the wave ripple, in order to improve the quality of the tourist experience at Namanalu Beach. This development research adopts the Design Thinking methodology conducted in July-September 2025. Data at the Empathize, Define, Ideate and Test stages were obtained through interviews and discussions and joint applications with users at the Namanalu Beach tourist location, analyzed using Thematic Analysis; the Prototype stage was carried out at the Hydrostatics and Towing Tank Laboratory, Faculty of Engineering, Pattimura University. The study produced two prototypes of panoramic boxes equipped with an innovative mechanism in the form of a ballast system to regulate the buoyancy of the tool, making it easier for users to immerse the bottom of the box below the water surface and retrieval (lifting) it back. Based on the results of functional tests in the field, both panoramic box prototypes were proven to operate optimally. This tool successfully eliminates visual distortion due to wave ripples, so that underwater views can be observed clearly and proportionally. It was concluded that this panorama box not only addresses the identified issues but also has the potential to be an effective conservation education tool, especially for older tourists, children, and non-swimmers. Implementation of this tool is recommended to support sustainable ecotourism activities. ABSTRAK Gangguan riak gelombang permukaan menjadi kendala utama dalam menikmati potensi wisata bawah air di kawasan ekowisata pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sebuah alat bantu visual yang dapat menetralisasi riak gelombang tersebut, guna meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan di Pantai Namanalu. Penelitian pengembangan ini mengadopsi metodologi Design Thinking yang dilakukan pada Juli-September 2025. Data pada tahap Empathize, Define, Ideate dan Test diperoleh melalui wawancara dan diskusi serta aplikasi bersama dengan pengguna di lokasi wisata Pantai Namanalu, dianalisis menggunakan Analisis Tematik; tahap Prototype dilaksanakan pada Laboratorium Hidrostatis dan Towing Tank Fakultas Teknik, Universitas Pattimura. Penelitian menghasilkan dua purwarupa kotak panorama yang dilengkapi mekanisme inovatif berupa sistem ballast untuk mengatur daya apung alat, memudahkan pengguna dalam proses pencelupan (immersio) dasar kotak ke bawah permukaan air dan pengangkatannya (retrieval) kembali. Berdasarkan hasil uji fungsi di lapangan, kedua prototipe kotak panorama terbukti beroperasi secara maksimal. Alat ini berhasil menghilangkan distorsi visual akibat riak gelombang, sehingga pemandangan bawah air dapat diamati dengan jelas dan proporsional. Disimpulkan bahwa kotak panorama ini tidak hanya menjawab permasalahan yang diidentifikasi tetapi juga berpotensi menjadi media edukasi konservasi yang efektif teristimewa kepada wisatawan orang tua, anak-anak dan non perenang. Implementasi alat ini direkomendasikan untuk mendukung kegiatan ekowisata berkelanjutan. Kata Kunci: Kotak panorama, sistem ballast, ekowisata, pesisir, Pantai Namanalu
ANALISIS PENDAPATAN NELAYAN GURITA PADA SUKU BAJO DI KABUPATEN POHUWATO Antu, Yulinda R; Erlansyah, Erlansyah; Tuheteru, Jalipati; Antu, Suprianto
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page99-105

Abstract

Octopus fishermen are communities whose livelihoods rely on octopus catches. In the Bajo Tribe of Pohuwato Regency, many fishermen depend on this activity as their primary source of income. This study aims to analyze the economic benefits obtained from octopus fishing among the Bajo Tribe in Pohuwato Regency. The research was conducted in Torosiaje Village, Popayato District, Pohuwato Regency, over a period of three months, from June to Agustus 2025. This study employed field research with a quantitative approach. Data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative methods, presented in tables and figures, and then discussed in accordance with the research objectives before drawing conclusions. The results show that the total monthly operational cost of octopus fishing is IDR 17,700,000, with an average of IDR 804,545. The total monthly income of octopus fishermen in the Bajo Tribe is IDR 98,560,000, with an average income of IDR 4,480,000. The total monthly profit amounts to IDR 80,860,000, with an average profit of IDR 3,675,454. ABSTRAK Nelayan gurita merupakan kelompok masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hasil tangkapan gurita. Pada Suku Bajo di Kabupaten Pohuwato terdapat nelayan yang menggantungkan hidupnya terhadap hasil tangkapan gurita. Studi ini dirancang untuk menganalisis tingkat profitabilitas yang diperoleh dari aktivitas penangkapan gurita oleh nelayan Suku Bajo di Kabupaten Pohuwato. Pengambilan data primer untuk penelitian ini dipusatkan di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Pelaksanaan riset ini dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan, mencakup periode Juni hingga Agustus 2025. Metodologi yang diaplikasikan adalah field research (penelitian lapangan) dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang terkumpul dianalisis melalui teknik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis tersebut kemudian divisualisasikan dalam bentuk tabel serta gambar, yang selanjutnya dibahas dengan merujuk pada data dan fakta empiris di lapangan guna mencapai tujuan penelitian dan merumuskan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan biaya total operasional penangkapan gurita perbulan yaitu Rp. 17.700.000 dengan rata-rata perbulan sebesar Rp. 804.545, pendapatan nelayan gurita pada Suku Bajo Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 98.560.000, dan untuk pendapatan rata-rata nelayan gurita sebesar Rp. 4.480.000 dan total keuntungan perbulan bagi nelayan gurita pada Suku Bajo Kabupaten Pohuwato sebesar Rp. 80.860.000, dan nilai rata-rata sebesar Rp. 3.675.454. Kata Kunci: Nelayan, gurita, Suku Bajo, pendapatan, keuntungan
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG KAWASAN WISATA BAHARI PADA PULAU ISAU DI NEGERI PASANEA, KABUPATEN MALUKU TENGAH Mualo, Arman; Tuhumena, Lolita C; Warpur, Maklon; Hamzah, Hardi
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page106-114

Abstract

The development of Isau Island, Central Maluku Regency, as a marine tourism destination requires knowledge about the condition and existence of its natural resources. Isau Island is one of the islands in the Seven Islands region, Pasanea District, which has tourist attractions. The increase in the number of visitors to the area is suspected to disturb the existence of natural resources. The purpose of this study is to analyze the suitability and carrying capacity of marine tourism areas on Isau Island. The research was conducted from December 2022 to March 2023 on Isau Island, Negeri Pasanea, Central Maluku Regency. Data collection was carried out primarily and secondarily through interviews, field observations, and literature studies. Data analysis was conducted qualitatively and quantitatively using area suitability and carrying capacity analysis. The suitability analysis for snorkeling and diving activities included parameters such as coral cover, water clarity, water depth, life form types, coral fish abundance, and current speed. Based on the results of the study, the tourism suitability index obtained was categorized as very suitable for snorkeling and diving. The area used for snorkeling and diving is 3,853 m2. Visitors spend 6 hours snorkeling and 8 hours diving in the coral reef tourism area of Isau Island. The carrying capacity of the area is 1 person/day for snorkeling and diving. ABSTRAK Pengembangan Pulau Isau, Kabupaten Maluku Tengah sebagai kawasan tujuan wisata bahari memerlukan pengetahuan tentang kondisi dan keberadaan sumberdaya alamnya. Pulau Isau merupakan salah satu pulau di kawasan Pulau Tujuh, Negeri Pasanea yang memiliki daya tarik wisata. Peningkatan jumlah pengunjung di kawasan tersebut diduga dapat mengganggu keberadaan sumberdaya alam. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan wisata bahari di Pulau Isau. Penelitian dilakukan pada Desember 2022-Maret 2023, di Pulau Isau, Negeri Pasanea, Kabupaten Maluku Tengah. Pengumpulan data dilakukan secara primer dan sekunder melalui wawancara, pengamatan lapangan serta studi pustaka. Analisis data dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif menggunakan analisis kesesuaian dan daya dukung kawasan. Analisis kesesuaian bagi aktivitas snorkeling dan selam meliputi parameter tutupan karang, kecerahan perairan, kedalaman perairan, jenis life form, kelimpahan ikan karang, dan kecepatan arus. Berdasarkan hasil penelitian, indeks kesesuaian wisata yang diperoleh termasuk kategori sangat sesuai untuk snorkeling dan selam. Luasan area yang dimanfaatkan untuk snorkeling dan selam masing-masing sebesar 3.853 m2. Waktu yang dihabiskan oleh pengunjung di kawasan wisata terumbu karang Pulau Isau sebanyak 6 jam untuk snorkeling dan 8 jam untuk selam. Nilai daya dukung kawasan yang diperoleh masing-masing sebesar 1 orang/hari untuk wisata snorkeling dan selam. Kata Kunci: Ekowisata bahari, kesesuaian, daya dukung, parameter lingkungan, Pulau Isau
AKSIOLOGI HUKUM DAN KEBIJAKAN KELAUTAN: TELAAH FILSAFAT ATAS TATA KELOLA DAN PERENCANAAN WILAYAH PESISIR INDONESIA Monoarfa, Febrianingsih; Hasim, Hasim
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page115-125

Abstract

Indonesia, as a maritime nation, possesses significant marine wealth while facing challenges in coastal zone governance. Maritime development often prioritizes economic and technocratic aspects, resulting in moral values, ecological justice, and ethical responsibility being frequently overlooked. This study aims to examine the axiological dimensions in Indonesian maritime law and policy by highlighting moral values, ecological justice, and ethical responsibility as the philosophical basis for coastal zone management. This study employs a qualitative method with a normative-philosophical approach, analysing national maritime regulations, legal literature, and theories of axiology and environmental ethics. Data collection was conducted through literature review and analysis of relevant legal documents. The results indicate that Indonesian maritime law and policy are still dominated by an anthropocentric approach, treating the sea solely as an economic resource rather than as an ecological entity with intrinsic value. The study emphasizes that the maritime law paradigm needs to adopt an axiological approach integrating moral values (justice and responsibility), social values (coastal community participation), and ecological values (preservation and balance of the marine environment). These three dimensions form the ethical foundation for fair and sustainable maritime laws and policies. The conclusion highlights that coastal area development and governance based on legal axiology not only reflect regulatory effectiveness but also manifest public morality that upholds the sustainability of marine ecosystems. Consequently, Indonesia’s maritime law paradigm must transform from an economistic approach to an ethical-ecological approach to achieve social justice and ecological balance sustainably. ABSTRAK Indonesia sebagai negara maritim memiliki kekayaan laut yang besar sekaligus menghadapi tantangan dalam tata kelola wilayah pesisir. Realitas pembangunan kelautan seringkali mengedepankan aspek ekonomi dan teknokratis, sehingga nilai moral, keadilan ekologis, dan tanggung jawab etis kerap terabaikan. Penelitian ini bertujuan mengkaji dimensi aksiologis dalam hukum dan kebijakan kelautan Indonesia dengan menyoroti nilai moral, keadilan ekologis, dan tanggung jawab etis sebagai dasar filosofis tata kelola wilayah pesisir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif-filosofis melalui analisis terhadap regulasi kelautan nasional, literatur hukum, serta teori aksiologi dan etika lingkungan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan dan analisis dokumen hukum yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum dan kebijakan kelautan Indonesia masih didominasi oleh pendekatan antroposentris, yang menempatkan laut semata sebagai sumberdaya ekonomi, bukan entitas ekologis yang memiliki nilai intrinsik. Kajian ini menegaskan bahwa paradigma hukum kelautan perlu diarahkan pada pendekatan aksiologis yang mengintegrasikan nilai moral (keadilan dan tanggung jawab), nilai sosial (partisipasi masyarakat pesisir), dan nilai ekologis (kelestarian dan keseimbangan alam laut). Ketiga dimensi tersebut menjadi dasar etis bagi pembentukan hukum dan kebijakan kelautan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pembangunan dan tata kelola wilayah pesisir yang berlandaskan aksiologi hukum tidak hanya mencerminkan efektivitas regulatif, tetapi juga menjadi manifestasi moralitas publik yang menjunjung keberlanjutan ekosistem laut. Dengan demikian, paradigma hukum kelautan Indonesia perlu bertransformasi dari pendekatan ekonomistik menuju pendekatan etik-ekologis agar kebijakan yang dihasilkan mampu mewujudkan keadilan sosial dan keseimbangan ekologis secara berkelanjutan. Kata Kunci: Aksiologi hukum, kebijakan kelautan, keadilan ekologis, etika lingkungan, tata kelola pesisir
PERAN INSTITUSI DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN EKONOMI BIRU SEBAGAI UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DI INDONESIA Alfiah, Alfiah; Hasim, Hasim
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page126-134

Abstract

This study aims to philosophically analyze the role of institutions in implementing blue economy policies as an effort to empower coastal communities in Indonesia. The background of this research arises from the gap between the idealism of blue economy policies and their practical implementation, which still faces institutional challenges such as weak coordination, lack of moral legitimacy, and low community participation. This research employs a qualitative method with a normative-descriptive philosophical approach through literature study, focusing on institutionalism theory and Hans Jonas’s ethics of responsibility. The results show that institutions serve a dual role: as policy implementers and as moral entities responsible for balancing economic, social, and ecological interests. The implementation of blue economy policies in Indonesia remains economically oriented, while values of justice and sustainability have not been fully internalized within institutional practices. The discussion emphasizes the need for a paradigm shift toward a collaborative institutional model that upholds transparency, participation, and ethical responsibility. In conclusion, the effectiveness of blue economy policies depends on the institution’s ability to instill values of responsibility and ecological justice. Therefore, the blue economy should be understood as a moral movement integrating social, ecological, and humanitarian dimensions toward the genuine empowerment of coastal communities. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara filosofis peran institusi dalam implementasi kebijakan ekonomi biru sebagai upaya pemberdayaan masyarakat pesisir di Indonesia. Latar belakang kajian ini didasari oleh adanya kesenjangan antara idealisme kebijakan dengan praktik di lapangan yang masih menghadapi kendala kelembagaan, seperti lemahnya koordinasi, kurangnya legitimasi moral, dan rendahnya partisipasi masyarakat pesisir. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan filsafat normatif-deskriptif melalui studi pustaka yang berfokus pada teori institusionalisme dan etika tanggung jawab Hans Jonas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa institusi memiliki peran ganda, yaitu sebagai pelaksana kebijakan dan sebagai entitas moral yang bertanggung jawab terhadap keseimbangan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan ekologis. Implementasi kebijakan ekonomi biru di Indonesia masih dominan berorientasi pada aspek ekonomi, sementara nilai keadilan dan keberlanjutan belum terinternalisasi secara kuat dalam praktik kelembagaan. Pembahasan menegaskan perlunya transformasi paradigma kelembagaan menuju model kolaboratif yang transparan, partisipatif, dan beretika tanggung jawab. Kesimpulannya, efektivitas kebijakan ekonomi biru bergantung pada kemampuan institusi menanamkan nilai tanggung jawab dan keadilan ekologis. Dengan demikian, ekonomi biru harus dipahami sebagai gerakan moral yang mengintegrasikan dimensi sosial, ekologis, dan kemanusiaan menuju pemberdayaan sejati masyarakat pesisir. Kata Kunci: Filsafat kelembagaan, ekonomi biru, etika tanggung jawab, pemberdayaan masyarakat pesisir
ANALISIS MACTOR PADA HUBUNGAN ANTAR-AKTOR DALAM PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI DI PERAIRAN PULAU AY DAN PULAU RHUN PROVINSI MALUKU Ishak, Armin; Lopulalan, Yoisye; Mamesah, Juliaeta A B
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page135-148

Abstract

The management of the Marine Protected Areas around Ay Island and Rhun Island requires a robust multi-stakeholder governance approach to ensure ecological sustainability while supporting local community well-being. The purpose of this study is to analyze the relationship between actors and their orientation towards the strategic objectives of conservation area management on Ay Island and Rhun Island. This study applies the MACTOR method to analyze actor influence and dependence, goal preferences, levels of competitiveness, potential conflicts, collaboration opportunities, and actor–objective interactions within the governance system. The data was obtained through questionnaires distributed to 40 stakeholders from provincial government agencies, local governments, and NGOs, other relevant institutions. The results indicate that the key actors with the highest influence include the Maluku Provincial Marine and Fisheries Office, the Marine and Fisheries Branch Office of Island Cluster VI, the CTC, the EcoNusa Foundation, Pokmaswas-Ay, Pokmaswas-Rhun, and MCC. These actors hold strategic roles as decision-makers, technical support providers, and facilitators of cross-institutional coordination. Goal preferences emphasize enhanced community involvement as the top priority, followed by sustainable resource management and strengthened governance. Highly competitive actors exhibit strong legitimacy, capacity, and working networks, while others face limitations in authority and resources. Actor relationships are generally harmonious, with strong potential for collaboration, particularly among the provincial DKP, the Island Cluster VI Branch Office, CTC, EcoNusa, MCC, and Banda Naira University. Actor–objective interactions show strong alignment, indicating opportunities for policy integration, improved coordination, and reinforced multi-stakeholder collaboration to advance more effective and sustainable conservation management. ABSTRAK Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan Pulau Ay dan Pulau Rhun membutuhkan pendekatan tata kelola multi-stakeholder yang kuat untuk memastikan keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat lokal. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antaraktor dan orientasi terhadap tujuan strategis pengelolaan kawasan konservasi Pulau Ay dan Pulau Rhun. Penelitian ini menggunakan metode MACTOR (Matrix of Alliances and Conflicts: Tactics, Objectives, and Recommendations) untuk menganalisis pengaruh dan ketergantungan antar-aktor, preferensi tujuan, tingkat daya saing, potensi konflik, peluang kolaborasi, serta interaksi aktor dengan tujuan dalam pengelolaan kawasan. Data diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada 40 stakeholder yang berasal dari instansi pemerintah provinsi, pemerintah lokal, LSM, lembaga terkait lainnya. Hasil menunjukkan bahwa aktor kunci dengan pengaruh tertinggi mencakup Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Gugus Pulau VI, Yayasan CTC, Yayasan EcoNusa, Pokmaswas-Ay, Pokmaswas-Rhun, dan MCC. Aktor-aktor ini memiliki peran strategis sebagai pengambil keputusan, penyedia dukungan teknis, dan fasilitator koordinasi lintas lembaga. Preferensi tujuan menempatkan peningkatan keterlibatan masyarakat sebagai prioritas utama, diikuti pengelolaan sumberdaya berkelanjutan dan penguatan tata kelola. Aktor dengan daya saing tinggi memiliki legitimasi, kapasitas, dan jejaring kerja yang kuat, sementara aktor lainnya menghadapi keterbatasan kewenangan dan sumberdaya. Hubungan antar-aktor bersifat harmonis dengan potensi kolaborasi tinggi, terutama di antara DKP Provinsi Maluku, Cabang Dinas Gugus Pulau VI, CTC, EcoNusa, MCC, dan Universitas Banda Naira. Interaksi aktor dengan tujuan strategis menunjukkan kedekatan kuat yang membuka peluang integrasi kebijakan, peningkatan koordinasi, dan penguatan kolaborasi multi-stakeholder menuju pengelolaan konservasi yang lebih efektif dan berkelanjutan. Kata Kunci: Kawasan konservasi perairan, MACTOR, tata kelola multi-stakeholder, Pulau Ay, Pulau Rhun
ANALISIS KANDUNGAN KARBON PADA TUMBUHAN LAMUN DI DESA TOROSIAJE LAUT, KABUPATEN POHUWATO Mamangkay, Bambang; Tuheteru, Jalipati; Podungge, Yulin
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page149-156

Abstract

Seagrass is one of the coastal ecosystems that contributes to blue carbon. This study aims to estimate the carbon content in the seagrass ecosystem in the waters of Torosiaje Village, Popayato District, Pohuwato Regency. Carbon storage estimates were made based on seagrass biomass components, namely rhizomes, roots, and leaves. Sampling was conducted from July to September 2025 using purposive sampling. The samples obtained were analyzed in the laboratory for three days at a temperature of 80-900C. Furthermore, using the Loss on Ignition method, combustion was carried out to see the remaining biomass from the seagrass plants. The results showed that the organic carbon content in each type of seagrass at the study site varied depending on the species and local environmental conditions. Enhalus acoroides, with the highest carbon value of 37.67%, has high and relatively consistent carbon storage potential, while Thalassia hemprichii has 32.87% and Cymodocea rotundata only 29.00%. This shows more varied carbon storage values. These variations reflect the influence of environmental factors, such as hydrodynamics, substrate type, and seagrass stand characteristics. The results of this study confirm the important role of seagrass ecosystems as significant blue carbon sinks, as well as the importance of community-based ecosystem protection and management efforts in coastal areas with blue carbon potential, in order to support ecosystem sustainability and climate change mitigation in the future. ABSTRAK Lamun merupakan salah satu ekosistem pesisir penyumbang blue carbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetimasi simpanan kandungan karbon pada ekosistem lamun di perairan Desa Torosiaje laut, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato. Estimasi simpanan karbon dilakukan berdasarkan komponen biomassa lamun yaitu rhizoma, akar dan daun. Pengambilan sampel dilakukan pada Juli-September 2025 dengan menggunakan metode purposive sampling. Sampel yang diperoleh dianalisa di laboratorium selama tiga hari dengan suhu 80-900C. Selanjutnya dengan metode Loss on Ignition, dilakukan pembakaran untuk melihat sisa biomassa dari tanaman lamun. Hasil penelitian menunjukan kandungan karbon organik pada setiap jenis lamun di lokasi penelitian menunjukkan variasi yang dipengaruhi oleh perbedaan spesies dan kondisi lingkungan lokal. Enhalus acoroides dengan nilai karbon teritinggi 37,67% memiliki potensi penyimpanan karbon yang tinggi dan relatif konsisten, sedangkan Thalassia hemprichii 32,87% dan Cymodocea rotundata hanya 29.00%. Hal ini menunjukkan nilai simpanan karbon yang lebih bervariasi. Variasi tersebut mencerminkan pengaruh faktor lingkungan, seperti hidrodinamika perairan, jenis substrat, dan karakteristik tegakan lamun. Hasil penelitian ini menegaskan peran penting ekosistem lamun sebagai penyerap karbon biru yang signifikan, serta menegaskan pentingnya upaya perlindungan dan pengelolaan ekosistem berbasis masyarakat di wilayah pesisir yang memiliki potensi karbon biru, guna mendukung keberlanjutan ekosistem dan mitigasi perubahan iklim di masa mendatang. Kata Kunci: Lamun, karbon organik, karbon biru, ekosistem, aktivitas masyarakat
PERLAKUAN PERENDAMAN AIR TAWAR UNTUK MENCEGAH PENYAKIT ICE-ICE PADA RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii Tuhumury, Novianty C; Matakupan, Jolen; Sahetapy, Jacqueline M F
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 2 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue2page157-165

Abstract

The ice-ice disease that attacks seaweed thalli inhibits growth and can lead to crop failure. This study aimed to analyze the effect of freshwater immersion in preventing the spread of ice-ice disease, which can disrupt seaweed growth. The research was conducted from August to October 2023 at the Marine Aquaculture Center of Ambon. An experimental laboratory method was applied in this study. The seaweed samples were obtained from the waters of Seira, Tanimbar Islands Regency, Maluku. Freshwater immersion treatments were applied for 3 minutes, 5 minutes, 7 minutes, and 9 minutes, along with a control. Each treatment was replicated three times to obtain the average growth values of the seaweed. Growth observations were conducted over a period of six weeks. The results showed that the average seaweed growth tended to decrease during the first and second weeks. This decrease was attributed to the breakage of many seaweed thalli, presumably due to adaptation to new environmental conditions. The daily growth rate of seaweed subjected to a 9-minute freshwater immersion showed a positive value of 0.29 g/day, and the control treatment of 0.16 g/day. The weekly SGR showed negative values for the 3-minute (-2.16%), 5-minute (-1.27%), and 7-minute (-6.38%) immersion treatments. In contrast, the 9-minute immersion treatment showed positive values for both daily and weekly growth rates, amounting to 0.34% and 2.38%, respectively. Statistical analysis revealed that the duration of freshwater immersion did not result in a significant difference, indicating that freshwater immersion duration had no significant effect on seaweed growth. ABSTRAK Penyakit ice-ice yang menyerang thallus rumput laut menghambat pertumbuhan serta mengakibatkan gagal panen. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh perendaman air tawar untuk mencegah penyebaran penyakit ice-ice yang dapat mengganggu pertumbuhan rumput laut. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus-Oktober 2023 di Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode eksperimen di laboratorium. Rumput laut diperoleh berasal dari perairan Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Lama perendaman air tawar dilakukan selama 3 menit, 5 menit, 7 menit dan 9 menit serta kontrol. Masing-masing perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh nilai rata-rata pertumbuhan rumput laut. Pengamatan pertumbuhan rumput laut dilakukan selama 6 minggu. Hasil penelitian menujukan rata-rata pertumbuhan rumput laut cenderung mengalami penurunan pada minggu ke-1 dan ke-2. Hal ini disebabkan banyaknya thallus rumput laut yang patah, diduga akibat adaptasi dengan kondisi perairan baru. Laju pertumbuhan harian rumput laut dengan lama perendaman 9 menit menunjukan nilai positif 0,29 gr/hari dan kontrol sebesar 0,16 gr/hari. Nilai SGR per minggu menunjukan nilai negatif pada lama perendaman 3 menit, 5 menit dan 7 menit masing-masing -2,16%, -1,27%, dan -6,38%. Sedangkan pada lama perendaman 9 menit menunjukan nilai positif baik untuk harian maupun mingguan masing-masing sebesar 0,34% dan 2,38%. Hasil analisa statistik menunjukan lama perendaman air tawar tidak berbeda nyata, artinya tidak memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Kata Kunci: Rumput laut, air tawar, laju pertumbuhan, thallus, penyakit ice-ice

Page 12 of 12 | Total Record : 118