cover
Contact Name
Novianty Tuhumury
Contact Email
tritonmsp@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
tritonmsp@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura Jl. Mr. Chr. Soplanit, Kampus - Poka, Ambon
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
TRITON : Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Published by Universitas Pattimura
Core Subject : Social,
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan is a scholarly refereed research journal which accepts scientific article based on research and reviews including: 1. Management of Aquatic Resources 2. Management of Aquatic Environment 3. Management of Coastal and Sea 4. Economic of Aquatic Resources 5. Planning and development of Coastal, Sea and Small Islands The article should fulfill science criteria and original manuscript which has previously unpublished. Each article will evaluate by relevant peer reviewers before published.
Articles 118 Documents
PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN MELALUI PENGOLAHAN IKAN TEMBAKUL (Boleophthalamus pectinirostris) MENJADI PRODUK DIVERSIFIKASI PANGAN Wibowo, Tri Adi; Untari, Desy Sasri
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 20 No 2 (2024): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol20issue2page98-112

Abstract

Mudskipper (Boleophthalmus pectinirostris) is a fish that has a habitat in mangrove areas. With an unusual physical shape, this fish is still little managed by the community to be used as food and even has low economic value. One of the efforts in the use of mudskipper is to carry out processing diversification techniques into a product, namely fish drumstick. In the market, fish drumstick are generally quite known as ready-to-eat fish products and are highly nutritious but low in dietary fiber content. One of the efforts to add fiber is the fortification of seaweed flour in fish drumstick dough. The purpose of this study is to determine the effect of the addition of seaweed flour in the manufacture of fish drumstick on the content of dietary fiber and organoleptic. This type of research is experimental research. Data analysis used a Complete Random Design (CRD) with 4 treatments; control, the addition of seaweed flour with concentrations of 5%, 10% and 15% and 4 replicates using the ANOVA test, and if the difference is obvious, it is followed by the Duncan test. The results of the proximate test for water, ash, protein, fat, crude fiber and carbohydrates showed a significant difference simultaneously in each treatment with a significance of 0.000<0.05. The results showed that there was a real difference simultaneously with a significance of 0.000<0.05 on the content of dietary fiber. The highest average value of dietary fiber on fish drumstick with the addition of 15 grams of seaweed flour with a value of 57.06% w/w. Organoleptic test using the Kruskal Wallis and Mann-Whitneyy assay. The results of the Kruskal Wallis test in the appearance test were simultaneously different from ASympt Sig 0.0006<0.05. Aroma, taste and texture tests showed a real difference with Asympt Sig 0.000<0.05. ABSTRAK Ikan tembakul (Boleophthalmus pectinirostris) merupakan ikan yang memiliki habitat di wilayah mangrove. Dengan bentuk fisik yang tidak biasa, menyebabkan ikan ini masih sedikit dikelola oleh masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai bahan pangan bahkan bernilai ekonomis rendah. Salah satu upaya dalam pemanfaatan ikan tembakul adalah dengan melakukan teknik diversifikasi pengolahan menjadi sebuah produk yaitu kaki naga. Di pasaran, umumnya kaki naga cukup dikenal sebagai produk olahan ikan siap saji dan bernutrisi tinggi namun rendah kandungan serat pangan. Salah satu upaya dalam menambahkan serat yaitu fortifikasi tepung rumput laut didalam adonan kaki naga. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh penambahan tepung rumput laut dalam pembuatan kaki naga terhadap kandungan serat pangan dan organoleptik. Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu kontrol, penambahan tepung rumput laut konsentrasi 5%, 10% dan 15% dan 4 kali ulangan menggunakan uji ANOVA, dan jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil uji proksimat untuk kadar air, abu, protein, lemak, serat kasar dan karbohidrat menunjukkan adanya beda nyata secara simultan di setiap perlakuan dengan signifikansi 0,000<0,05. Hasil penelitian menunjukkan adanya beda nyata secara simultan dengan signifikansi 0,000<0,05 terhadap kandungan serat pangan. Nilai rata-rata tertinggi serat pangan pada kaki naga dengan penambahan 15 gram tepung rumput laut dengan nilai 57,06% w/w. Uji organoleptik menggunakan uji Kruskal Wallis dan Mann-Whitneyy. Hasil uji Kruskal Wallis pada uji kenampakan secara simultan berbeda nyata dengan ASympt Sig 0,0006<0,05. Uji aroma, rasa dan tesktur menunjukkan beda nyata dengan Asympt Sig 0,000<0,05. Kata Kunci: Ikan Tembakul, Eucheuma cottonii, serat pangan, Uji Proksimat, organoleptik
PERANAN GENDER DALAM MENINGKATKAN KESEHATAN MASYARAKAT PESISIR MELALUI POLA MAKAN DI DESA SUNGAI BAKAU Chotimah, Husnul; Suhartini, Suhartini; Suharjo, Manis
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 20 No 2 (2024): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol20issue2page134-145

Abstract

Sungai Bakau Village is a coastal area in Kumai Sub-district with the majority of the community as fishermen. However, there is a health problem of malnutrition that occurs in this village, causing stunting. Stunting is a chronic nutritional problem because it is a condition of malnutrition that is related to insufficient nutrition in the past. Stunting measurement itself is carried out by paying attention to the height or body length, age and gender of the toddler. The aim of the research is to find out how the eating patterns of the Sungai Bakau Village coastal community, especially women, because stunting is influenced by the conditions of women and families. This research uses descriptive quantitative research. The population of this study is the coastal community of Sungai Bakau Village, Kumai District, West Kotawaringin Regency. The total sample of 60 respondents consisted of pregnant women (10 respondents), breastfeeding mothers (10 respondents), mothers with stunted children (9 respondents) and the general public (31 respondents), all respondents were women. The age range of respondents was <30 years - >50 years. The results obtained in the research show that coastal communities in Sungai Bakau Village already have a regular eating pattern but still consume foods that contain preservatives and flavorings. Preservative foods are consumed more often because they are cheap and easy to process. Food that is difficult to obtain is fruit because it is rare and expensive. The conclusion is that the portion of coastal communities consuming main foods is already in the quite good category and the majority of women still consume quite a lot of preservative foods which can affect children's nutrition. ABSTRAK Desa Sungai Bakau merupakan kawasan pesisir di Kecamatan Kumai dengan mayoritas masyarakat sebagai nelayan. Namun terdapat permasalahan kesehatan kurang gizi yang terjadi di desa ini sehingga menyebabkan anak stunting. Stunting adalah masalah gizi yang bersifat kronis karena menjadi salah satu keadaan malnutrisi yang memiliki hubungan dengan tidak tercukupinya zat gizi dimasa lalu. Pengukuran stunting sendiri dilakukan dengan memperhatikan tinggi atau panjang badan umur dan jenis kelamin balita. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pola makan masyarakat pesisir Desa Sungai Bakau khususnya perempuan karena stunting terjadi dipengaruhi oleh kondisi perempuan dan keluarga. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian ini merupakan masyarakat pesisir Desa Sungai Bakau, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat. Jumlah sampel 60 responden terdiri dari ibu hamil (10 responden), ibu menyusui (10 responden), ibu dengan anak stunting (9 responden) dan masyarakat umum (31 responden), keseluruhan responden merupakan perempuan. Rentang usia responden antara <30 tahun - >50 tahun. Hasil yang didapat dalam penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di Desa Sungai Bakau sudah memiliki pola makan yang teratur namun juga masih mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet dan penyedap, makanan pengawet lebih banyak dikonsumsi dikarenakan murah dan mudah dalam pengolahan. Bahan makanan yang sulit diperoleh adalah buah karena jarang dan mahal. Kesimpulannya adalah porsi makan masyarakat pesisir dalam mengkonsumsi makanan utama sudah masuk dalam kategori cukup baik dan mayoritas perempuan masih mengkonsumsi cukup banyak makanan pengawet sehingga dapat mempengaruhi gizi anak. Kata Kunci: Pola makan, masyarakat pesisir, Desa Sungai Bakau, stunting, perempuan
STUDI KERUANGAN DAN KELEMBAGAAN PENGELOLAAN EKOWISATA MANGROVE DI NEGERI AMAHAI, KABUPATEN MALUKU TENGAH Reyaan, Yosep M; Abrahamsz, James; Asikin, Erawan
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page56-66

Abstract

Ecotourism is a tourist activity that aims to conserve. In its implementation, institutions have a very important role for sustainable ecotourism management. This study aims to determine the forms of space utilization in mangrove ecotourism, analyze the suitability and carrying capacity of ecotourism areas, analyze the role of institutions in influencing the success of ecotourism management, and formulate a strategy for managing ecotourism in Negeri Amahai. The research was conducted in Negeri Amahai, Central Maluku Regency in January-May 2023. Mangrove data were collected by purposive sampling using transect lines. Analysis of land suitability and carrying capacity using established formulas. Management strategies using SWOT and TOWS with policy priorities further analyzed with AHP. The results showed, the tourist space in mangrove ecotourism is in the form of reception space, service space and tourist space. There are various forms of utilization in the space both supporting ecotourism activities such as educational facilities, trade, trash bins, sanitation and communication, and there are still activities that threaten such as mangrove logging and sand mining. The suitability of mangrove ecotourism at station I is categorized as “Very Suitable” with IKW 85%, while at station II as “Suitable” with IKW 64%. The carrying capacity of mangrove ecotourism area can accommodate 31 tourists/day. The role of institutions in the management of mangrove ecotourism is considered “Not Optimal” because it does not yet have institutions or rules that focus on management of mangrove ecotourism. There are 11 strategies and 5 priorities in managing mangrove ecotourism in Negeri Amahai. ABSTRAK Ekowisata merupakan suatu kegiatan wisata yang bertujuan untuk konservasi. Dalam pelaksanaanya, kelembagaan memiliki peran yang sangat penting untuk pengelolaan ekowisata berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan ruang pada ekowisata mangrove, menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan ekowisata, menganalisis peran kelembagaan dalam mempengaruhi keberhasilan pengelolaan ekowisata, dan memformulasikan strategi pengelolaan ekowisata Negeri Amahai. Penelitian dilakukan di Negeri Amahai, Kabupaten Maluku Tengah pada Januari-Mei 2023. Pengambilan data mangrove secara purposive sampling dengan menggunakan garis transek. Analisis kesesuaian lahan dan daya dukung menggunakan rumus yang ditetapkan. Strategi pengelolaan menggunakan SWOT dan TOWS dengan prioritas kebijakan dianalisis lebih lanjut dengan AHP. Hasil penelitian menunjukan bahwa ruang wisata pada ekowisata mangrove berupa ruang penerimaan, ruang pelayanan dan ruang wisata. Terdapat beragam bentuk pemanfaatan pada ruang tersebut baik yang mendukung kegiatan ekowisata seperti fasilitas edukasi, perdagangan, tempat sampah, sanitasi dan komunikasi, serta aktivitas yang mengancam seperti penebangan mangrove dan penambangan pasir. Kesesuaian ekowisata mangrove pada stasiun I dikategorikan “Sangat Sesuai” dengan IKW 85%, sedangkan pada stasiun II dikategorikan “Sesuai” dengan IKW 64%. Daya dukung kawasan ekowisata mangrove Negeri Amahai mampu menampung 31 wisatawan/hari. Peran kelembagaan dalam pengelolaan ekowisata mangrove Negeri Amahai dinilai “Belum Optimal” dikarenakan belum memiliki lembaga maupun aturan yang fokus pada pengelolaan ekowisata mangrove. Terdapat 11 strategi dan 5 prioritas dalam pengelolaan ekowisata mangrove Negeri Amahai. Kata Kunci: Ekowisata, mangrove, kesesuaian, daya dukung, kelembagaan
ANALISIS KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG EKOWISATA MANGROVE DI DESA KARANGGULI, KABUPATEN KEPULAUAN ARU Litamahuputty, Samuel; Selanno, Debby A J; Wawo, Mintje
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page45-55

Abstract

Karangguli Village, Aru Islands Regency has a mangrove forest area that has been developed into an ecotourism area known as Ursia Guli Agroecotourism. However, in its management, there are several problems that can adversely affect the sustainability of the resources and environment of the area. The purpose of this research is to analyze the suitability and carrying capacity of mangrove ecosystem areas in Kuranggali Village. This research was conducted in November-December 2023 in Karangguli Village, Aru Islands Regency. Data collection was carried out at three observation stations using purposive sampling method. Mangrove ecotourism suitability data is based on five parameters, namely mangrove type, mangrove thickness, mangrove density, tides and biota associated with mangroves. Carrying capacity analysis is based on ecological potential and the time used to utilize the tourist area. The results obtained 9 mangrove species from 3 families, with the highest density owned by Rhizophora apiculate species and the lowest Xylocarpus granatum. Mangrove thickness at the three stations were 250 m, 221 m and 200 m respectively. The type of tides in the study area is double daily. Biota associated with mangroves consist of fish, molluscs, crustaceans, reptiles and birds. The suitability of mangrove ecotourism in Karangguli Village at station I is categorized as “Very suitable” with value of 2.50%, at stations II and III it is categorized as “Suitable” with value of 2.30% and 2% respectively. The carrying capacity of mangrove ecotourism in Karangguli Village can accommodate 68 tourists/day. ABSTRAK Desa Karangguli, Kabupaten Kepulauan Aru memiliki kawasan hutan mangrove yang telah dikembangkan menjadi kawasan ekowisata dikenal sebagai Agroekowisata Ursia Guli. Namun dalam pengelolaannya, terdapat beberapa permasalahan yang dapat berdampak buruk bagi keberlanjutan sumberdaya dan lingkungan kawasan tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis kesesuaian dan daya dukung kawasan ekosistem mangrove di Desa Kuranggali. Penelitian ini dilakukan pada bulan November-Desember 2023 di Desa Karangguli, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru. Pengambilan data dilakukan pada tiga stasiun pengamatan dengan menggunakan metode purposive sampling. Data kesesuaian ekowisata mangrove didasarkan pada lima parameter yaitu jenis mangrove, ketebalan mangrove, kerapatan mangrove, pasang surut dan biota yang berasosiasi dengan mangrove. Analisis daya dukung didasarkan pada potensi ekologis serta waktu yang digunakan untuk memanfaatkan kawasan wisata. Hasil penelitian diperoleh 9 spesies mangrove dari 3 famili, dengan kerapatan tertinggi dimiliki oleh spesies Rhizophora apiculata dan terendah Xylocarpus granatum. Ketebalan mangrove pada ketiga stasiun masing-masing 250 m, 221 m dan 200 m. Tipe pasang surut pada daerah penelitian yaitu harian ganda. Biota yang berasosiasi dengan mangrove terdiri dari ikan, moluska, crustacea, reptile dan burung. Kesesuaian ekowisata mangrove di Desa Karangguli pada stasiun I dikategorikan “Sangat sesuai” dengan niai IKW 2,50%, pada stasiun II dan III dikategorikan “Sesuai” dengan nlai IKW masing-masing yaitu 2,30% dan 2%. Daya dukung ekowisata mangrove Desa Karangguli mampu menampung 68 orang wisatawan/hari. Kata Kunci: Ekowisata, kesesuaian, daya dukung, mangrove, Desa Karangguli
STRATEGI PENGELOLAAN TERIPANG BERBASIS KELEMBAGAAN PENGELOLA SASI DI KECAMATAN ARU UTARA TIMUR Koritelu, Christian; Lopulalan, Yoisye; Nanlohy, Hellen
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page14-23

Abstract

Sasi laut in Maluku is a local wisdom tradition that has been practiced to preserve marine resources. One of the marine resources in Aru Islands Regency that is preserved through the sasi system is sea cucumbers. In the implementation of sasi, several problems were found, including the opening of sasi, lack of rule enforcement, lack of community understanding and the limited role of customary institutions. The purpose of this research is to formulate an institutional-based sea cucumber management strategy in Aru Utara Timur sub-district. This research was conducted from November 2023 to June 2024 in Aru Utara Timur Subdistrict. Data collection was conducted by interview method using questionnaires to 25 respondents. Interviews were also conducted with key informants consisting of village leaders, customary leaders, and community representatives. The data obtained were analyzed using A'WOT which is a combination of AHP and SWOT. Based on the results of the research, there are several strategies that can be applied, namely optimizing the potential of sea cucumber resources; forming sea cucumber business groups; opening business opportunities for investors; optimizing sea cucumber sasi management institutions; conducting regular socialization activities to the community about sea cucumber resources; building cooperation between village institutions and the government, private sector and NGOs; expanding market access; increasing monitoring of resources during sasi closure; building good communication between institutions; providing strict legal sanctions for rule breakers; socializing environmentally friendly technology, and increasing synergy between related institutions. ABSTRAK Sasi laut di Maluku merupakan sebuah tradisi kearifan lokal yang telah dipraktikkan untuk menjaga kelestarian sumberdaya laut. Salah satu sumberdaya laut di Kabupaten Kepulauan Aru yang dilestarikan melalui sistem sasi yaitu teripang. Dalam pelaksanaan sasi ditemukan beberapa permasalahan antara lain pembukaan sasi, kurangnya penegakan aturan, kurangnya pemahaman masyarakat dan keterbatasan peran lembaga adat. Tujuan penelitian ini adalah memformulasikan strategi pengelolaan teripang yang berbasis pada kelembagaan di Kecamatan Aru Utara Timur. Penelitian ini dilakukan pada November 2023 hingga Juni 2024 di Kecamatan Aru Utara Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner kepada 25 responden. Wawancara juga dilakukan kepada informan kunci yang terdiri dari pimpinan desa, pemangku adat, serta perwakilan masyarakat. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan A’WOT yang merupakan kombinasi antara AHP dan SWOT. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh beberapa strategi yang dapat diterapkan yaitu mengoptimalkan potensi sumberdaya teripang; membentuk kelompok usaha teripang; membuka kesempatan usaha bagi investor; mengoptimalkan kelembagaan pengelola sasi teripang; melakukan kegiatan sosialisasi secara rutin kepada masyarakat tentang sumberdaya teripang; membangun kerjasama antar lembaga desa dan pemerintah, swasta dan NGO; memperluas akses pasar; meningkatkan pengawasan terhadap sumberdaya saat penutupan sasi; membangun komunikasi yang baik antar lembaga; memberikan sanksi hukum yang tegas bagi pelanggar aturan; mensosialisasikan teknologi ramah lingkungan, serta meningkatkan sinergisitas antar lembaga terkait. Kata Kunci: Strategi, pengelolaan, teripang, kelembagaan, sasi
PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE BERKELANJUTAN BERBASIS SES DI DESA UPA KECAMATAN TOBELO TENGAH Lawene, Maria N; Tetelepta, Johannes M S; Pello, Frederika S
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page24-35

Abstract

Mangrove ecosystems have ecologically important values for the community and make a major contribution to support the sustainability of life. This study aims to analyze the ecological habitat of mangrove ecosystems, analyze mangrove ecosystem management with an ecological approach, determine sustainable management strategies for mangrove ecosystems in Upa Village. The research was conducted from January to May 2024 in Upa Village, Central Tobelo District. Data were collected through observation and interviews. Mangrove data were collected using belt transect, while socio-economic data were collected using questionnaires to 90 respondents. Data mangrove processed with Microsoft Excel, analysis of problems and connectivity of social ecological systems using DPSIR analysis followed by AHP. Water quality values obtained are still in accordance with quality standards to support mangrove growth. Four types of mangrove species were found on the coast of Upa Village with a density level including the good category. The INP value for the tree and sapling category is dominated by Sonneratia alba, while for the sapling category is dominated by Rhizophora apiculata. There are 3 strategies for sustainable mangrove ecosystem management in Upa Village, namely environmental education (0.516), strengthening regulations (0.252), and fishermen infrastructure (0.232) with priority strategies focused on environmental education. ABSTRAK Ekosistem mangrove memiliki nilai penting secara ekologis bagi masyarakat serta memberikan kontribusi yang besar untuk menunjang keberlangsungan kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis habitat ekologi ekosistem mangrove, menganalisis pengelolaan ekosistem mangrove dengan pendekatan ekologi, menentukan strategi pengelolaan berkelanjutan ekosistem mangrove di Desa Upa. Penelitian dilakukan pada Januari-Mei 2024 di Desa Upa Kecamatan Tobelo Tengah. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Pengambilan data mangrove menggunakan belt transect, sedangkan data sosial ekonomi menggunakan kuesioner terhadap 90 responden. Data mangrove diolah dengan microsoft excel, analisis permasalahan dan konektivitas sistem sosial ekologi menggunakan analisis DPSIR yang dilanjutkan dengan AHP. Nilai kualitas air yang diperoleh masih sesuai baku mutu untuk mendukung pertumbuhan mangrove. Ditemukan 4 jenis spesies mangrove di pesisir Desa Upa dengan tingkat kerapatan termasuk kategori baik. Nilai INP untuk kategori pohon dan anakan didominasi oleh Sonneratia alba, sedangkan untuk kategori sapihan didominasi oleh Rhizophora apiculate. Diperoleh 3 strategi untuk pengelolaan ekosistem mangrove berkelanjutan di Desa Upa yaitu yaitu pendidikan lingkungan (0.516), pengautan regulasi (0.252), dan sarana prasarana nelayan (0.232) dengan strategi prioritas difokuskan pada pendidikan lingkungan. Kata Kunci: Mangrove, DPSIR, AHP, keberlanjutan, Desa Upa
UJI MULTI LOKASI BIBIT RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii HASIL KULTUR JARINGAN DAN LOKAL DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA DAN KOTA TUAL TERHADAP PERTUMBUHAN, KEKUATAN GEL DAN VISKOSITAS Sarwono, Sarwono; Tuhumury, Semuel F; Pattinasarany, Maureen M
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page1-13

Abstract

One of the problems in the cultivation of K. alvarezii seaweed is that the seeds come from the results of previous cultivation which is used repeatedly and continuously so that the quality of seeds decreases. Efforts to increase seaweed production are using superior seeds, namely seedlings from tissue culture. Therefore, a multi-site test of tissue culture seaweed seedlings was conducted in Maluku Tengara Regency (Evu Village) and Tual City (Fiditan Village) to determine growth rate, gel strength and viscosity. The study involved planting tissue culture and local seaweed seedlings using the longline method in both locations for 45 days. Wet weight samples were measured every 15 days, and at the end of rearing, seaweed was harvested and dried to test gel strength and viscosity. The results of data analysis showed that the growth rate of tissue culture seaweed seedlings was better in both locations, the highest value at the location of Fiditan Village, Tual City at 5.61%/day. Likewise, the gel strength and viscosity of seaweed K. Alvarezii tissue culture seeds are higher than local seeds, where the highest gel strength is obtained in the waters of Evu Village, Southeast Maluku Regency, namely 165.5 g/cm2, while the highest viscosity is obtained in the waters of Fiditan Village, Tual City, namely 136.05 cP. So it is concluded that tissue culture seaweed seeds produced by the Marine Aquaculture Center Ambon are better than local seeds. ABSTRAK Salah satu permasalahan dalam budidaya rumput laut K. alvarezii adalah bibit berasal dari hasil budidaya sebelumnya yang digunakan secara berulang dan terus menerus sehingga kualitas bibit menurun. Upaya untuk meningkatkan produksi rumput laut adalah menggunakan bibit unggul yaitu bibit hasil kultur jaringan. Oleh karena itu, dilakukan uji multi lokasi bibit rumput laut kultur jaringan di Kabupaten Maluku Tengara (Desa Evu) dan Kota Tual (Desa Fiditan) untuk mengetahui laju pertumbuhan, kekuatan gel dan viskositas. Penelitian ini mencakup penanaman bibit rumput laut kultur jaringan dan lokal dengan metode longline di kedua lokasi selama 45 hari. Sampel berat basah diukur setiap 15 hari, dan diakhir pemeliharaan dilakukan panen rumput laut untuk dikeringkan sebagai bahan uji kekuatan gel dan viskositas. Hasil analisis data menunjukan bahwa laju pertumbuhan bibit rumput laut kultur jaringan lebih baik di kedua lokasi, nilai tertinggi di lokasi Desa Fiditan Kota Tual sebesar 5,61 %/hari. Begitu juga dengan Kekuatan gel dan viskositas rumput laut K. Alvarezii bibit kultur jaringan lebih tinggi dibandingkan bibit lokal, yang mana kekuatan gel tertinggi diperoleh di Perairan Desa Evu Kabupaten Maluku Tenggara yaitu 165,5 g/cm2, sedangkan Viskositas tertinggi diperoleh di perairan Desa Fiditan Kota Tual yaitu, 136,05 cP. Sehingga disimpulkan bibit rumput laut kultur jaringan hasil produksi Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon lebih baik di bandingkan dengan bibit lokal setempat. Kata Kunci: Rumput laut, kultur Jaringan, laju pertumbuhan, kekuatan gel, viskositas
KEBERAGAMAN JENIS MANGROVE DAN IKTIODIVERSITAS SUMBERDAYA IKAN DI KAWASAN PERAIRAN TELUK BENOA, BALI Sagala, Desima Helfiana; Pertami, Nyoman Dati; Ulinuha, Devi
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page36-44

Abstract

The function and role of mangroves in Bali's Benoa Bay has been proven to be ecologically and economically beneficial to the environment and society. The mangrove forests in this area have muddy substrates that support the growth of mangroves and mangrove-associated biota. However, ecological pressure due to anthropogenic activities has caused problems that threaten the sustainability of mangrove ecosystems. The purpose of this study was to identify mangrove species, determine the biodiversity captured in the Benoa Bay water area, Bali, and determine environmental parameters as supporting data for aquatic ecological conditions in the Benoa Bay water area, Bali. This research was conducted in the mangrove forest area of Benoa Bay, Bali in September-November 2023. Sampling was done 3 times at 3 locations namely Pulau Penyu, Kedonganan, Kampung Kepiting. Mangrove sampling uses plot sampling method, while for fish resource data using actual fishing method for 3 months with 1 month interval. Data analysis carried out in this study is the analysis of mangrove vegetation including diversity index and ichthyodiversity analysis (fish diversity). For water quality parameters refer to quality standards according to established rules. The results showed that the types of mangroves found were Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Ceriops decandra. The types of fish resources found consisted of 8 orders, 15 families, 23 species with a total of 226 individuals. The level of diversity of fish resources in the three research locations is classified as moderate. The value of water quality parameters is in the range of quality standards that support the growth of mangroves and biota associated with mangroves. ABSTRAK Fungsi dan peran mangrove di Teluk Benoa Bali telah terbukti secara ekologis dan ekonomis bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Hutan mangrove di kawasan ini memiliki substrat berlumpur yang mendukung pertumbuhan mangrove serta biota yang berasosisasi dengan mangrove. Namun, tekanan ekologis akibat aktivitas antropogenik menyebabkan munculnya permasalahan yang mengancam keberlanjutan ekosistem mangrove. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi jenis mangrove, mengetahui iktiodiversitas yang tertangkap di Kawasan perairan Teluk Benoa, Bali, serta mengetahui parameter lingkungan sebagai data dukung kondisi ekologi perairan di kawasan perairan Teluk Benoa, Bali. Penelitian ini dilakukan di kawasan hutan mangrove Teluk Benoa, Bali pada September-November 2023. Pengambilan sampel dilakukan 3 kali pada 3 lokasi yaitu Pulau Penyu, Kedonganan, Kampung Kepiting. Pengambilan sampel mangrove menggunakan metode plot sampling, sedangkan untuk data sumberdaya ikan menggunakan metode actual fishing selama 3 bulan dengan interval 1 bulan. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini yaitu analisis vegetasi mangrove meliputi indeks keanekaragaman dan analisis iktiodiversitas (keanekaragaman ikan). Untuk parameter kualitas air merujuk pada baku mutu sesuai aturan yang ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan jenis mangrove yang ditemukan yaitu Rhizophora apiculata, Ceriops tagal, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera cylindrica, Sonneratia alba, Rhizophora mucronata, Ceriops decandra. Jenis sumberdaya ikan yang ditemukan terdiri atas 8 ordo, 15 famili, 23 spesies dengan total individu 226. Tingkat keanekaragaman sumberdaya ikan pada ketiga lokasi penelitian tergolong sedang. Nilai parameter kualitas air berada pada kisaran baku mutu yang mendukung pertumbuhan mangrove serta biota yang berasosiasi dengan mangrove. Kata Kunci: Mangrove, keberagaman, iktiodiversitas, kualitas air, Teluk Benoa
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON DI PERAIRAN PULAU PENYU, TANJUNG BENOA, BALI Tarigan, Greatiana E; Pertami, Nyoman Dati; Krisna Dewi, Ayu Putu Wiweka
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page67-76

Abstract

Plankton are important organisms for determining the water fertility. The research aims to determine the structure of plankton communities in the waters of Turtle Island, Tanjung Benoa, Bali. Sampling was carried out at 3 stations in June-July 2024. Plankton samples were taken from the water surface by taking 300 liters of seawater and filtered using a plankton net that was equipped with a 100 ml tube. Based on the results of phytoplankton observations, 24 genera were found consisting of 4 classes, namely, Bacillariophyceae (21 genera), Dinophyceae, Chlorophyceae, and Cyanophyceae (1 genus each), and zooplankton as many as 13 genera consisting of 5 classes, namely Maxillopoda (5 genera), Oligotrichea, Globothalamea (3 genera each), Gastropoda, and Appendicularia (1 genus each). The most widely found type of phytoplankton is Synedra and the zooplankton is Naupilus. The value of phytoplankton abundance is 808 cells/l, and the zooplankton abundance was 172 ind/l. Phytoplankton ecological indices include diversity index (average 1.78), uniformity index (average 0.6), and low dominance index (0.23). Zooplankton ecological index values include a diversity index with an average value of 1.59 (medium), a uniformity index with an average value of 0.64 (medium), and a dominance index with an average value of 0.29 (low). The results of measuring water conditions show that the values for temperature, salinity, pH and dissolved oxygen are optimal to support plankton life. Meanwhile, the nitrate and phosphate content does not support plankton life. ABSTRAK Plankton merupakan organisme yang berperan penting dalam menentukan kesuburan suatu perairan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas plankton di Perairan Pulau Penyu, Tanjung Benoa, Bali. Pengambilan sampel dilakukan di 3 stasiun pada Bulan Juni-Juli 2024. Sampel plankton diambil dari permukaan air dengan mengambil 300 liter air laut dan disaring menggunakan plankton net yang sudah dilengkapi dengan tabung yang berukuran 100 ml. Berdasarkan hasil pengamatan fitoplankton ditemukan sebanyak 24 genus yang terdiri dari 4 kelas yaitu, Bacillariophyceae (21 genus), Dinophyceae, Chlorophyceae, dan Cyanophyceae (masing-masing 1 genus), dan zooplankton sebanyak 13 genus yang terdiri dari 5 kelas, yaitu Maxillopoda (5 genus), Oligotrichea, Globothalamea (masing-masing 3 genus), Gastropoda, dan Appendicularia (masing-masing 1 genus). Jenis fitoplankton yang paling banyak ditemukan adalah Synedra dan zooplankton nya adalah Naupilus. Nilai kelimpahan fitoplankton sebesar 808 sel/l, dan kelimpahan zooplankton sebesar 172 ind/l. Indeks ekologi fitoplankton meliputi indeks keanekaragaman (rata-rata 1,78), indeks keseragaman (rata-rata 0,6), dan indeks dominasi rendah (0,23). Nilai indeks ekologi zooplankton meliputi indeks keanekaragaman yang bernilai rata-rata 1,59 (sedang), indeks keseragaman bernilai rata-rata 0,64 (sedang), dan indeks dominasi bernilai rata-rata 0,29 (rendah). Hasil pengukuran kondisi perairan menunjukkan bahwa untuk nilai suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut optimal untuk mendukung kehidupan plankton. Sementara, kandungan nitrat dan fosfat belum mendukung kehidupan plankton. Kata Kunci: Plankton, struktur komunitas, kualitas air, Pulau Penyu, Bali
KONDISI SOSIAL EKONOMI DAN TINGKAT KESEJAHTERAAN RUMAH TANGGA NELAYAN DI DESA TEJAKULA, BALI Siahaan, Jonathan M; Dirgayusa, I Gusti Ngurah Putra; Negara, I Ketut Wija
TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan Vol 21 No 1 (2025): TRITON: Jurnal Manajemen Sumberdaya Perairan
Publisher : Departement of Aquatic Resources Management, Fisheries and Marine Science Faculty, Pattimura University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/TRITONvol21issue1page77-86

Abstract

Tejakula Village, Buleleng, Bali is a fishing village with strong traditions, but its residents have low incomes and live in poverty. This study aims to analyze the socioeconomic conditions and welfare levels of fishing households in Tejakula Village, Buleleng, Bali. Like most fishermen, those in Tejakula Village face technological limitations in catching fish and are highly dependent on seasonal factors, so they are often considered the poorest among the poor. This study was conducted from May to June 2024 in Tejakula Village, Bali. The research method used was a quantitative and qualitative descriptive approach collected through observation, questionnaires, and secondary data with a questionnaire data collection technique for 121 fisherman respondents. All respondents answered the same questions on a scale of one to three. The scores obtained were then totaled and averaged to produce three categories, namely prosperous, moderate, and not yet prosperous. The results of the study show that the socioeconomic conditions of fishing households in Tejakula Village are generally good. Overall, the welfare level of fishing households from a total of 121 respondents, 87.6% were in the prosperous category, while 12.4% were in the moderate category. ABSTRAK Desa Tejakula, Buleleng, Bali merupakan desa nelayan dengan tradisi yang kuat, namun penduduknya memiliki pendapatan rendah serta hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sosial ekonomi dan tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan di Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Seperti kondisi nelayan umumnya, nelayan di desa Tejakula menghadapi keterbatasan teknologi dalam menangkap ikan dan sangat bergantung pada faktor musiman, sehingga sering dianggap sebagai kelompok termiskin di antara yang miskin. Penelitian ini dilakukan pada Mei hingga Juni 2024 di Desa Tejakula, Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif yang dikumpulkan melalui observasi, kuisioner, dan data sekunder dengan teknik pengumpulan data kuisioner kepada 121 responden nelayan. Seluruh responden menjawab pertanyaan yang sama dengan skala satu hingga tiga. Nilai skor yang diperoleh kemudian ditotal dan dirata-ratakan sehingga menghasilkan tiga kategori yaitu, sejahtera, sedang dan belum sejahtera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi rumah tangga nelayan di Desa Tejakula umumnya dalam keadaan baik. Secara keseluruhan tingkat kesejahteraan rumah tangga nelayan dari total 121 responden, sebanyak 87,6% termasuk dalam kategori sejahtera, sedangkan 12,4% berada dalam kategori sedang. Kata Kunci: Sosial ekonomi, nelayan, tingkat kesejahteraan, pesisir, Desa Tejakula

Page 11 of 12 | Total Record : 118