cover
Contact Name
Mieke
Contact Email
mieke@esaunggul.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
inohim.ueu@esaunggul.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM)
Published by Universitas Esa Unggul
ISSN : 23548932     EISSN : 26559129     DOI : -
Core Subject : Health,
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) is a scientific publication devoted to disseminate all information contributing to the understanding and development of Health Information management, Health Informatics and Health Information Management System.
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
Hubungan Kelelahan Dengan Terjadinya Keluhan Stres Kerja Pada Pramudi Bus Transjakarta Koridor 8 di SBU Perum Damri Tahun 2014 Nurchasanah Nurchasanah; IGK Wijasa; Mulyo Wiharto
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 2, No 1 (2014): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.601 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v2i1.99

Abstract

AbstrakPendahuluan:Salah satu elemen terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang sangat melekat dalam bidang transportasi adalah kelelahan pengemudi. Stres di tempat kerja menjadi persoalan yang serius bagi perusahaan karena dapat menurunkan kinerja karyawan dan perusahaan. Tujuan:Mengetahui dan Menganalisis hubungan antara kelelahan dengan terjadinya keluhan stres kerja pada pramudi bus transjakarta koridor 8 di SBU PERUM DAMRI tahun 2014. Metode Penelitian:Desain penelitian Cross Sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pramudi bus transjakarta koridor 8 yang berjumlah 38 orang. Pengambilan sampel menggunkan teknik sampling jenuh. Dimana seluruh populasi dijadikan sampel. Data yang digunakan adalah data sekunder dan data primer. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Pearson Product Moment. Hasil:Untuk distribusi skor kelelahan pramudi bus sebanyak 5 orang (13.2%) mendapatkan skor dibawah rata-rata <60 yaitu tidak mengalami kelelahan, sedangkan 33 (86.8%) orang lainnya mendapatkan skor diatas rata-rata >60 yaitu mengalami kelelahan. Dan distribusi stres kerja pramudi sebanyak 17 orang (44.7%) mendapatkan skor <15 dibawah rata-rata skor stres. Sedangkan 21 orang (55.3%) mendapatkan skor diatas rata-rata >15 mengalami stres kerja. Uji korelasi didapatkan r sebesar 0.559 yaitu tingkat korelasi sedang. Dan sifat hubungan positif (searah). Nilai P value sebesar 0.000 < 0.05 maka ada hubungan yang signifikan antara kelelahan dengan terjadinya keluhan stres kerja pada pramudi bus transjakarta koridor 8. Hasil uji t menyatakan bahwa t hitung > t tabel (1.73 > 1.684) bermakna bahwa ada hubungan yang bermakna antara kelelahan dengan stres kerja pramudi bus transjakarta.Kata kunci: kelelahan, stres kerja, pramudi bus
Tinjauan Penerapan Sistem Elektronik Rekam Medis di Rumah Sakit Royal Progress Tahun 2018 Innocentius Probosanjoyo; Joko Asmoro Widhi; Gama Bagus Kuntoadi
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 6, No 2 (2018): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.944 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v6i2.20

Abstract

AbstractFrom the observations at Royal Progress Hospital, there were problems regarding the application of electronic medical record systems. The current system seems to be the thing that must be used in a hospital. The development of technology makes medical records that were once in the form of paper now begin to switch to electronics. But the application of electronic medical record systems that conform to standards makes it an interesting matter to be reviewed. Therefore on this occasion the writer will examine about it. The purpose of this research is to identify the application of electronic medical record systems. This research is using qualitative descriptive research methods, which is the data collection techniques based on observations and interviews that will be compared with existing theories. Based on the results of research conducted by the writer, it was obtained that the application of electronic medical record systems in Royal Progress Hospital is not all in accordance with the existing theory yet. Therefore the writer suggest to divert the hospital information system that is now used, especially the electronic medical record system into an electronic health record, so that the creation of better health information management.Keywords: Medical record, electronic medical record systems, hospital informationAbstrakDari hasil observasi di Rumah Sakit Royal Progress terdapat masalah tentang penerapan sistem elektronik rekam medis. Sistem tersebut sekarang ini seakan menjadi hal yang wajib digunakan di rumah sakit. Berkembangnya teknologi membuat rekam medis yang dulunya berupa kertas sekarang mulai beralih ke elektronik. Tetapi penerapan sistem elektronik rekam medis yang sesuai standar menjadikan suatu hal yang menarik untuk ditinjau. Maka dari itu pada kesempatan ini penulis akan meneliti tentang hal tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi penerapan sistem elektronik rekam medis di RS. Royal Progress. Di dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dimana dengan teknik pengumpulan data berdasarkan pengamatan dan wawancara yang akan dibandingkan dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis didapat tentang penerapan sistem elektronik rekam medis di RS. Royal Progress belum semuanya sesuai dengan teori yang ada. Oleh karena itu penulis menyarankan untuk mengalihkan sistem informasi rumah sakit yang sekarang digunakan terutama sistem elektronik rekam medis menjadi rekam kesehatan elektronik supaya terciptanya manajemen informasi kesehatan yang lebih baik.Kata Kunci : Rekam medis, sistem rekam medis elektronik, informasi rumah sakit 
Completeness Correlation Of Medical Resumes Inpatients Toward Continuity Claims BPJS At The Qadr Tangerang Hospital Tri Harti Maya Utami; Lily Widjaja
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 4, No 1 (2016): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.122 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v4i1.87

Abstract

AbstractCompleteness of medical resumes are things that need to be considered, because it plays an important role in ensuring the continuity of medical services and is the main requirement in filing claims in hospitals, health centers and all healthcare providers (PPK) to the Security Agency of Health (BPJS), all components of the resume medical needs include medical and resumes must be timely so that the claims process runs smoothly. Incomplete medical resume can lead to rejection by the verification BPJS so the claim file must be returned to the hospital in order to be completed. Thus the process of filing a claim to BPJS become obstructed and the claims process can not run smoothly. This resulted in delays in the disbursement of BPJS that can affect cash flow thus hampering the operations Hospital Hospital services such as late payment for services provided, the purchase of facilities and infrastructures that support services in house Sakit.Untuk determine the relationship completeness of medical inpatients resume to smoothness claims to BPJS Hospital Tangerang. The Research Qadr hospital was quantitative research, conducted by observation, look for the relationships between independent variables and the dependent variable is the completeness of medical inpatients resume the smooth claims to BPJS.Pengambilan samples using systematic random sampling of population 528 medical patients resume BPJS Hospitalization in April 2016 and samples taken 50 resumes medical research, data analysis using Chi-square test. Of the four components of the overall amount of the recapitulation completeness complete an average of 43 (86%) and incomplete 7 (26%). Claims BPJS fluent 31 (62%) and non-current 19 (38%). Chi-square test results. obtained P-value 0.000 <0.05 then Ho is rejected or there is a relationship between the completeness of medical resumes with the smoothness of a claim to BPJS Qadr Hospital in Tangerang. OR = 540 (95% CI: 31.7 - 9175), means completeness resume full medical have the opportunity smoothness of claims amounting to 540 times compared to the completeness of the medical resumes incomplete, and in research iniditeltiti also code for accuracy of diagnosis as a variable comparator (counfounding) and obtained 0. the results of P-value 0.000 <0.05 then Ho is rejected, so it can be concluded that there is a relationship between the accuracy of diagnosis by the smooth code claims to BPJS Qadr Hospital in Tangerang. Values obtained 31 OR (95% CI: 5.5 to 177), meaning that accuracy appropriate diagnosis code has a chance to claim fluency by 31 times compared to the accuracy of diagnosis codes that are not appropriate. it can be concluded that both these factors affect each other klaim.Therefore, it is expected the doctor fills the resume completely and correctly in order to reach the level of completeness of the standard 100% and do coding by following the procedures for book-coding based on the theory that ICD-10 volume 2 in order to meet the performance standards coding accuracy> 84%, as well as medical records clerk needs to perform quantitative and qualitative analysis.Keywords: Completeness of medical resumes, diagnosis code accuracy, fluency claims.  AbstrakKelengkapan resume medis merupakan hal yang perlu diperhatikan, karena berperan penting dalam menjamin kontinuitas pelayanan medis dan merupakan syarat utama dalam pengajuan klaim di Rumah Sakit, Puskesmas dan semua penyedia pelayanan kesehatan (PPK) ke Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS), semua komponen pada resume medis perlu dilengkapi dan resume medis harus tepat waktu agar proses klaim berjalan dengan lancar. Ketidaklengkapan resume medis dapat menyebabkan penolakan oleh verifikator BPJS sehingga berkas klaim harus dikembalikan kepada Rumah Sakit agar segera dilengkapi. Dengan demikian proses pengajuan klaim ke BPJS menjadi terhambat dan proses klaim tidak dapat berjalan lancar. Hal ini berdampak pada keterlambatan pencairan dana dari BPJS yang dapat mempengaruhi cash flow Rumah Sakit sehingga menghambat operasional RS seperti keterlambatan pembayaran jasa atas pelayanan yang diberikan, pembelian sarana dan prasaran yang menunjang pelayanan di Rumah Sakit.Untuk mengetahui hubungan kelengkapan resume medis pasien rawat inap terhadap kelancaran klaim ke BPJS di Rumah Sakit Qadr Tangerang.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif,dilaksanakan dengan observasi,dicari hubungan atau keterkaitan antara variabel independen dan variabel dependen yaitu Kelengkapan resume medis pasien rawat inap terhadap kelancaran klaim ke BPJS.Pengambilan sampel menggunakan systematic random sampling dari populasi 528 resume medis pasien BPJS Rawat Inap bulan April 2016 dan diambil sampel penelitian 50 resume medis, analisis data menggunakan uji Chi-square. Dari 4 komponen jumlah jumlah hasil rekapitulasi kelengkapan keseluruhan yang lengkap rata-rata 43(86%) dan tidak lengkap 7(26%).Klaim BPJS yang lancar 31(62%) dan yang tidak lancar 19(38%). Hasil uji Chi-square. didapatkan P-value 0.000 < 0,05 maka Ho ditolak atau ada hubungan antara kelengkapan resume medis dengan kelancaran klaim ke BPJS di Rumah Sakit Qadr Tangerang. OR= 540 (95%CI: 31.7 – 9175), artinya kelengkapan resume medis yang lengkap mempunyai peluang kelancaran klaim sebesar 540 kali dibanding kelengkapan resume medis yang tidak lengkap, dan dalam penelitian ini diteltiti juga ketepatan kode diagnosa sebagai variabel pembanding (counfounding) dan didapatkan hasil P-value 0. 0.000 < 0.05 maka Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara ketepatan kode diagnosa dengan kelancaran klaim ke BPJS di Rumah Sakit Qadr Tangerang. Nilai OR yang diperoleh 31 (95%CI: 5,5 – 177), artinya ketepatan kode diagnosa yang tepat mempunyai peluang kelancaran klaim sebesar 31 kali dibanding ketepatan kode diagnosa yang tidak tepat. maka dapat disimpulkan bahwa kedua faktor tersebut saling mempengaruhi kelancaran klaim.Oleh karena itu, diharapkan dokter mengisi resume dengan lengkap dan benar agar tingkat kelengkapan mencapai standar 100% dan melakukan pengodean dengan mengikuti tata cara pengodean berdasarkan teori yaitu buku ICD-10 volume 2 agar dapat memenuhi standar kinerja ketepatan pengodean > 84%, serta petugas rekam medis perlu melakukan analisis kuantitatif dan kualitatif.Kata kunci : Kelengkapan resume medis, ketepatan kode diagnosa, kelancaran klaim.
Analisis Faktor Penyediaan Berkas Rekam Medis Rawat Jalan Poli Penyakit Dalam RSU Kota Tangerang Selatan Sucipto Sucipto; Fenita Purnama
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 7, No 1 (2019): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.201 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v7i1.161

Abstract

AbstractProvision of medical record files must be able to support health services, especially quality outpatient services. One of the things that can support the provision of medical record is an adequate storage location. The objective of thi study was to analyze the factors providing medical records, outpatient in poly internal disease in RSU Kota Tangerang Selatan. The research method used was descriptive research method with cross sectional approach. The results of the research was storage system in RSU Kota Tangerang Selatan was centralized with straight numbering system. The average of length of providing medical record files until poly internal disease was 20 minutes. The storage location in RSU Kota Tangerang Selatan is on the 3rd floor and poly internal medicine is on the 1st floor as well as other poly-poles everywhere. The storage space for medical record files at RSU Kota Tangerang Selatan had various types of storage racks. Standard Operating Procedure in RSU Kota Tangerang Selatan, especially in the medical record unit, was available for every medical record activity, but it had not run optimally and had not been well documented.Keywords: medical record files, straight numbering system AbstrakPenyediaan berkas rekam medis harus dapat mendukung pelayanan kesehatan, khususnya pelayanan rawat jalan yang bermutu. Salah satu hal yang dapat mendukung agar penyediaan berkas rekam medis rawat jalan dapat terlaksana dengan baik adalah lokasi penyimpanan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyediaan berkas rekam medis rawat jalan poli penyakit dalam RSU Kota Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan Studi Potong Lintang (cross sectional). Hasil penelitian yang diperoleh yaitu sistem penyimpanan berkas RSU Kota Tangerang Selatan adalah sentralisasi dengan penjajaran straight numbering system. Waktu penyediaan berkas rekam medis di RSU Kota Tangerang Selatan hingga sampai ke poli penyakit dalam rata-rata membutuhkan waktu 20 menit. Lokasi penyimpanan di RSU Kota Tangerang Selatan berada di lantai 3 dan poli penyakit dalam berada di lantai 1 begitu juga dengan poli-poli yang lain berada dimana-mana. Ruang penyimpanan berkas rekam medis di RSU Kota Tangerang Selatan memiliki berbagai jenis rak penyimpanan. Standar Operasional Prosedur di RSU Kota Tangerang Selatan terutama di unit rekam medis sudah ada untuk setiap kegiatan rekam medis hanya saja belum berjalan dengan maksimal dan belum terdokumentasi dengan baik.Kata Kunci: berkas rekam medis, straight numbering system
Faktor Determinan Kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) Pada Remaja di Asia Selatan dan Asia Tenggara Tahun 2005 – 2014 (Analisis Dengan Metode Structural Equation Model) Laras Sitoayu; Nanda Aula Rumana
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 5, No 1 (2017): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.477 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v5i1.125

Abstract

Abstract Introduction: Low Birth Weight (LBW) is the biggest cause of neonatal death. This study aims to analyze the determinant factor of LBW in adolescents in South Asia and Southeast Asia with Structural Equation Model (SEM) method. The data used are secondary data published by Measure DHS (Demographic Health Survey) in 2005-2014. Interventions: Determinant factors of LBW occurrence include maternal factors (place to live, education, age, economic status, marital status, parity, location of delivery), neonatal factors (sex, birth weight), health care factors (iron consumption, Antenatal Care / ANC). Results: The result shows the causal relationship between maternal factor to neonatal factor is significant and have coefficient value with positive path which means lower maternal factor, neonatal factor will decrease. In causal relationship between health service factor to neonatal factor is also significant but it has coefficient value with negative path which means higher health service factor, neonatal factor will decrease. The structural model of determinant factor on low birth weight (LBW) occurrence in adolescents in South Asia and Southeast Asia between 2005 and 2014 was Neonatal = 0.36Maternal-0.25Yankes. . Discussion and Conclusions: Researchers suggest to improve health care factors in pregnant women such as iron consumption and delivery in health care.Keyword: Low Birth Weight, Adult, Structural Equation ModelAbstrakLatar Belakang : Berat badan lahir rendah (BBLR)  menyumbang persentase tertinggi sebagai penyebab kematian neonatal.  Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis faktor determinan kejadian BBLR pada remaja se-Asia Selatan dan Tenggara dengan metode Structural Equation Model (SEM). Data yang digunakan adalah data sekunder yang dipublikasikan oleh Measure DHS (Demografic Health Survey) tahun 2005-2014. Metode Peneltian: Faktor determinan kejadian BBLR meliputi faktor maternal (wilayah tempat tinggal, pendidikan, umur, status ekonomi, status perkawinan, paritas, lokasi persalinan), faktor neonatal (jenis kelamin bayi, berat lahir), faktor pelayanan kesehatan (konsumsi zat besi, kunjungan kehamilan/ANC).  Hasil : Hasil penelitian menunjukkan hubungan kausal antara maternal terhadap neonatal bernilai signifikan dan mempunyai nilai koefisien jalur positif artinya semakin rendah faktor maternal maka faktor neonatal akan turun. Pada hubungan kausal antara faktor pelayanan kesehatan terhadap faktor neonatal bernilai signifikan dan mempunyai nilai koefisien jalur negatif artinya semakin tinggi faktor pelayanan kesehatan maka faktor neonatal akan turun. Model struktural faktor determinan kejadian berat bayi lahir rendah (BBLR) pada remaja  di Asia Selatan dan Asia Tenggara tahun  2005 – 2014  adalah Neonatal = 0,36 Maternal - 0,25 Yankes. Saran: Peneliti menyarankan agar meningkatkan faktor pelayanan kesehatan pada ibu hamil diantaranya konsumsi zat besi dan melakukan persalinan di pelayanan kesehatan.Kata Kunci : BBLR, remaja, SEM
Analisis Perilaku Pencarian Pengobatan (Health Seeking Behaviour) Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita di Muara Angke, Jakarta Utara Intan Silviana Mustikawati
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 2, No 2 (2014): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.936 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v2i2.113

Abstract

AbstrakPenyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian utama pada bayi dan balita di negara berkembang. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan bahwa prevalensi nasional ISPA di Indonesia adalah 25,5%.  Sebagian besar ISPA bersifat ringan, disebabkan oleh infeksi virus, dan dapat sembuh sendiri (self-limited diseases), namun ISPA juga dapat menjadi berat dan menyebabkan kematian. Kebanyakan masyarakat masih sering salah menyimpulkan gejala penyakit ISPA, dikarenakan gejala awalnya bersifat ringan, sehingga terlambat dalam penanganan oleh pihak medis, yang dapat menyebabkan pneumoni pada anak dan dapat mengakibatkan kematian. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis mengenai perilaku pencarian pengobatan penyakit ISPA pada balita di wilayah Muara Angke, Jakarta. Jenis penelitian yaitu kualitatif dengan menggunakan wawancara mendalam pada ibu-ibu yang mempunyai balita berusia 1-3 tahun di Muara Angke. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa perilaku pengobatan sendiri merupakan pilihan pengobatan pertama kali untuk pengobatan penyakit ISPA, perilaku pengobatan ke pelayanan kesehatan merupakan pilihan pengobatan kedua apabila penyakit belum sembuh juga, pelayanan kesehatan yang lebih banyak dipilih yaitu dokter praktek, lama sakit sebelum dibawa berobat ke pelayanan kesehatan yaitu 2 hari, kondisi keparahan penyakit yang memutuskan ibu untuk berobat ke pelayanan kesehatan yaitu panas tinggi dan batuk parah, dan pengambil keputusan  mengenai pencarian pengobatan didominasi oleh ibu. Perlu adanya upaya Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat dan para penjual obat (shopkeeper) mengenai upaya pengobatan penyakit ISPA yang sesuai, agar dapat dilakukan pengobatan dini dan pencegahan pertama agar penyakitnya tidak bertambah parah.Kata kunci: perilaku pencarian pengobatan, penyakit ISPA, balita
Hubungan Keaktifan Petugas Penerimaan Pasien Baru Rawat Jalan Dengan Kelengkapan Pengisian Identitas Pasien di Rumah Sakit Fatima Pare-Pare Desember 2014-Januari 2015 Indraya Indraya
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 3, No 1 (2015): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.091 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v3i1.78

Abstract

AbstrakPetugas penerimaan pasien harus aktif dalam melakukan identifikasi agar data yang dikumpulkan lengkap dan berkualitas. Berdasarkan observasi awal penulis di Rumah Sakit Fatima diketahui bahwa identitas pribadi dan identitas keluarga pasien sering tidak lengkap sehingga berpotensi menyebabkan terjadi duplikasi nomor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keaktifan petugas penerimaan pasien baru rawat jalan dengan kelengkapan pengisian identitas pasien di Rumah Sakit Fatima Pare-Pare Desember 2014 – Januari 2015. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif, dilaksanakan dengan observasi secara cross sectional untuk melihat kelengkapan dan menggunakan kuesioner untuk mengukur keaktifan. Sampel penelitian yaitu 76 pasien baru rawat jalan, dikumpulkan dengan convenience sampling. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan pengisian identitas pasien pada lembar ringkasan riwayat klinik yang lengkap adalah 32 lembar (42,1%) dan yang tidak lengkap adalah 44 lembar (57,9%). Pasien yang menilai petugas penerimaan pasien memiliki keaktifan tinggi adalah 35 pasien (46,1%) dan memiliki keaktifan rendah adalah 41 pasien (53,9%). Nilai P value = 0,000 (0,000 < 0,05) dan nilai OR = 37 sehingga ada hubungan antara keaktifan petugas penerimaan pasien baru rawat jalan dengan kelengkapan pengisian identitas pasien. Hasil tersebut menunjukkan ada hubungan antara keaktifan petugas penerimaan pasien baru rawat jalan dengan kelengkapan pengisian identitas pasien. Diharapkan pihak rumah sakit dapat menyediakan formulir atau lembar identitas pasien agar identifikasi dapat  dilakukan dengan metode penggabungan wawancara dan pengisian.Kata kunci: Keaktifan, rawat jalan, kelengkapan
Hubungan Posisi Kerja Duduk Dengan Keluhan Nyeri Punggung Bawah Pada Tukang Becak di Wilayah Kelurahan Larangan Indah Ciledug-Tangerang Nina Novianah; Agus Triyono; Sumadi Sumadi
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 2, No 1 (2014): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.064 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v2i1.104

Abstract

AbstrakMonotonitas  gerakan  tubuh membuat tekanan yang berlebihan pada beberapa bagian tubuh, sehingga mengakibatkan keluhan nyeri (pain) pada beberapa bagian tubuh manusia. Kebiasaan tukang becak menggunakan posisi yang tidak ergonomis dapat mengakibatkan timbulknya keluhan nyeri punggung bawah. Posisi  duduk  dalam  pekerjaan  memberikan  kenyamanan  terhadap  individu  yang melakukan   posisi   ini.   Akan   tetapi   menurut  penelitian,   Posisi   duduk   kerja   telah memberikan  tekanan  pada  punggung  bawah  yang  cukup  berat  dan  menimbulkan nyeri  punggung  bawah  pada  pekerja  dengan  posisi  ini. Nyeri pada punggung bawah timbul karena terjadinya tekanan pada  susunan  syaraf  tepi  daerah  pinggang  (syaraf  terjepit).  Jepitan  pada  syaraf  ini terjadi karena gangguan pada otot dan jaringan sekitarnya.Gangguan ini dapat terjadi akibat sikap tubuh kita sehari-hari. Sikap tubuh tersebut, antara lain berdiri yang tidak  rileks  ataupun  sikap  duduk  yang  terlalu  lama.  Nyeri  punggung  bawah  juga  bisa diakibatkan oleh kesalahan sikap tubuh ketika melakukan aktifitas. Tujuan penelitian ini yaitu Mengetahui hubungan posisi kerja duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah pada tukang becak di Wilayah Kelurahan Larangan Indah Ciledug-Tangerang. Metode Penelitian yang digunakan adalah dengan desain penelitian cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh tukang becak berusia 25 – 65 tahun yang berada di Wilayah Kelurahan Larangan Indah Ciledug-Tangerang yang berjumlah 30 Orangdengan pengambilan sampel Purposive Sampling. Data yang digunakan adalah data primer dan sata sekunder. Analisa data yang digunakan adalah menggunakna uji Pearson product moment. Persentase terbesar ada kriteria posisi kerja duduk adalah kurang baik dengan nilai rata-rata sebesar 38.57 dan kriteria keluhan nyeri punggung bawah yang cukup besar dengan nilai rata-rata sebesar 39.37 dan lama kerja tukang becak paling besar adalah 16-30 tahun atau 46.67% serta usia responden terbanyak adalah usia 40-50 tahun atau 40.00%. Ada hubungan antara posisi kerja duduk dengan keluhan nyeri punggung bawah pada tukang becak di Wilayah Kelurahan Larangan Indah Ciledug-Tangerang dengan p value = 0.022 <  a  0.05. Nilai  r  hitung =  0.417  lebih besar dari r tabel 0.361 yang memiliki hubungan korelasi cukup kuat. Perlu adanya peningkatan kegiatan penyuluhan mengenai bagaimana posisi kerja duduk yang ergonomis pada tukang becak agar tidak terjadi keluhan nyeri punggung bawah pada tukang becakKata kunci : posisi kerja duduk, nyeri punggung bawah, tukang becak
Korelasi Kadar Gula Darah Puasa Terhadap Kualitas Hidup Pasien Diabetes Mellitus Type 2 di Puskesmas Jakarta Barat Tahun 2018 Nanda Aula Rumana; Laras Sitoayu; Mertien Sa&#039;pang
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 6, No 2 (2018): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.485 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v6i2.19

Abstract

AbstractDiabetes Mellitus is a chronic disease that occurs when the pancreas cannot produce enough insulin or when the body cannot effectively use insulin. The prevalence of diabetes is increasing faster in middle and low income countries. Indonesia, which is a developing country with low incomes, has a high risk as well. If diabetes is not managed properly, it will develop into complications that can threaten health and endanger life. Diseases suffered and the length of the treatment process in diabetic patients can affect physical, psychological, social and welfare functions which are defined as quality of life. This research is a quantitative study which is analytical in nature which studies the correlation of fasting blood sugar levels on the quality of life of patients with type 2 diabetes mellitus. The study design uses cross sectional study design, the variables in this study are fasting blood sugar levels, and quality life measured by the SF-36 questionnaire. The unit of analysis in this study was diabetic patients at West Jakarta Health Centers aged 30-50 years and could read 146 people taken by accidental sampling. The results showed a significant negative correlation between fasting blood sugar and quality of life. It is proven that the higher the blood sugar level, the lower the quality of life. Linear quality linear regression equation = 79,925-0,026 fasting blood sugar level. It is expected that self-management in the management of diabetes mellitus can be improved for each individual because it can reduce the level of GDP so that it can improve the quality of life.Keywords: fasting blood sugar level, diabetes mellitusAbstrakDiabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang terjadi saat pankreas tidak dapat memproduksi insulin yang cukup atau saat tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin tersebut. Prevalensi diabetes meningkat lebih cepat di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Indonesia yang merupakan negara berkembang dengan penghasilan masih rendah memiliki risiko yang cukup tinggi juga. Apabila diabetes tidak dikelola dengan baik, maka akan berkembang menjadi komplikasi yang dapat mengancam kesehatan dan membahayakan kehidupan. Penyakit yang diderita dan panjangnya proses pengobatan pada pasien diabetes dapat mempengaruhi fungsi fisik, psikologis, sosial dan kesejahteraan yang didefinisikan sebagai kualitas hidup (Quality of Life). Penelitian ini merupakan studi kuantitatif yang bersifat analitis dimana studi ini mempelajari pengaruh kadar gula darah puasa terhadap kualitas hidup pasien diabetes mellitus tipe 2. Rancangan penelitian menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional), Variabel dalam penelitian ini adalah kadar gula darah puasa, dan kualitas hidup yang diukur dengan kuesioner SF-36. Unit analisis dalam penelitian ini adalah pasien diabetes di Puskesmas Se Jakarta Barat usia 30-50 tahun serta dapat membaca berjumlah 146 orang yang diambil secara accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara gula darah puasa dengan kualitas hidup pasien. Terbukti semakin tinggi kadar gula darahnya, maka semakin rendah kualitas hidupnya. persamaan regresi linier  kualitas hidup=79,925-0,026kadar gula darah puasa. Diharapkan manajemen diri dalam pengelolaan penyakit diabetes mellitus dapat diperbaiki untuk setiap individu karena dapat menurunkan kadar GDP sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup.Kata Kunci: kadar gula darah, diabetes mellitus 
Persepsi Risiko Keselamatan Berkendara Berdasarkan Paradigma Psikometri Pada Pengguna Kendaraan Roda Dua Putri Handayani; Fierdania Yusvita
Indonesian of Health Information Management Journal (INOHIM) Vol 4, No 2 (2016): INOHIM
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.265 KB) | DOI: 10.47007/inohim.v4i2.93

Abstract

Abstract This study aims to provide an overview of risk perception of safety and health in the two-wheeler users in Esa Unggul University using psychometric paradigm. The study was conducted on 150 respondents in March – May 2016 using cross - sectional design, the primary data in the form of questionnaires, and supporting data by interviewing informants. The parameters used are Likert scale numbers 1 - 4. The average value of each dimension is calculated as numbers 1 (low), 2-3 (moderate), 4 (good). The results showed that the perception of respondents have been quite good, but still needed to improve. Dimensions voluntary acceptance of perceived high, it means that the workers willing to accept any risks involved in the workplace. In order to create the required behavior of safety cultured, safety related management commitment is strong, safety applicative training and participation of all workers to always safety promote.Keywords: Risk perception, Psychometric paradigm. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran persepsi risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada pengguna kendaraan roda dua di Universitas Esa Unggul menggunakan paradigma psikometri. Penelitian dilakukan terhadap 150 responden pada bulan Maret – Mei 2016 menggunakan desain cross-sectional, data primer berupa kuesioner, dan data pendukung berupa wawancara informan. Parameter yang digunakan adalah skala Likert angka 1 – 4. Nilai rata-rata masing-masing dimensi dihitung dimana angka 1 (rendah), 2 – 3 (sedang), 4 (baik). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden telah cukup baik namun masih perlu adanya peningkatan. Dimensi penerimaan secara sukarela dipersepsikan tinggi, berarti bahwa pekerja mau menerima segala risiko yang ada dipekerjaannya. Agar tercipta perilaku berbudaya K3 maka diperlukan komitmen manajemen terkait K3 yang kuat, pelatihan K3 yang aplikatif dan partisipasi dari seluruh untuk selalu memajukan K3. Kata Kunci : Persepsi Risiko, Paradigma Psikometri.

Page 6 of 19 | Total Record : 182