cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Kesehatan Pharmamedika
Published by Universitas Yarsi
ISSN : 20855648     EISSN : 26552396     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Majalah Kesehatan Pharmamedika / Pharmamedika Health Magazine is a source of scientific information about medicine, pharmacy and sciences related to health aspects. This magazine is published every 6 months (2 times in a year) and each publication can contain the results of research, literature reviews, actual case reports.
Arjuna Subject : -
Articles 83 Documents
EFEKTIVITAS JUS JAMBU BIJI UNTUK MENURUNKAN KOLESTROL DAN TRIGLISERIDA PADA SATPAM UNIVERSITAS YARSI Rafilah Dinira
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 13, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v13i1.3047

Abstract

Latar Belakang :  Dislipidemia merupakan salah satu penyebab   utama munculnyaberbagai penyakit. Penatalaksaan kadar kolesterol dan trigliserida yang melebihi dari 200mg/dL dapat menggunakan dua metode yaitu dengan    terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi. Jambu biji mengandung Vitamin C sebagai antioksidan yang dapat menurunkankadar kolesterol total. Metode : Penilitian ini menggunakan penelitian quasi eksperimen dengan menggunakan non-equivalent control group design. Sampel ditetapkan menggunakanpurposive sampling  dengan jumlah sampel sebanyak 32 responden. Jumlah sampel untukmasing – masing kelompok penelitian baik kelompok perlakuan dan kontrol adalah 16 orang.Analisis data dengan uji Wilcoxon menggunakan SPSS versi 25.0. Hasil : Kadar kolestrol rata-rata sebelum pemberian jus jambu biji adalah 179,4 mg/dL dan kadar trigliserida rata-ratanyaadalah 213,mg/dL. Kadar kolestrol rata-rata setelah pemberian jus jambu biji adalah 153,4mg/dL dan kadar trigliserida rata-ratanya adalah 163,1 mg/dL. Pemberian jus jambu bijimemiliki nilai pretest dan posttest, memiliki p-value 0,0001.Simpulan : Pemberian jus jambubiji sebanyak 250ml/hari selama 14 hari yang dibuat dari jambu biji sebanyak 150gr danditambah air matang 100cc pada satpam Universitas Yarsi efektif dalam menurunkan kadarkolestrol total secara signifikan (p=0.001;p0.05)  dan menurunkan  kadar trigliserida secarasignifikan (p=0.001;p0.05)
MODEL HEWAN COBA UNTUK INDUKSI SEL OVAL : KAJIAN LITERATUR Zakiyah Zakiyah
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 13, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v13i1.2914

Abstract

ABSTRACT Oval cells are liver progenitor cells that have an important role in liver regeneration when hepatocytes are unable to respond adequately to injury. Until now, oval cells are still being studied to determine their markers, characterization, their role in regeneration and carcinogenesis and to study their potential for therapy. Many injury models have been developed to study oval cells. The most common experimental animal models on rat are the use of chemicals, surgery or a combination of both. In this review, the researchers reviewed the liver injury models used to induce oval cells in rat, namely 2AAF/PH and 2AAF/CCl4. Based on the results of a literature search, both models can induce oval cells which are recognized by the general marker, namely OV6 and several other markers, are AFP and CK19. In the 2AAF/PH model, oval cells were generally observed on the ninth day after partial hepatectomy in the portal area whereas in the 2AAF/CCl4 model, it takes about 12 weeks but oval cells are not only found in the portal area but also invade intraparenchymal.. Keywords : oval cell, liver injury, method, rat, CCl4, 2AAF, partial hepatectomy  ABSTRAK Sel oval merupakan sel progenitor hati yang memiliki peran penting dalam regenerasi hati saat hepatosit sudah tidak mampu merespon cedera secara adekuat. Hingga saat ini sel oval masih terus diteliti untuk mengetahui penanda, karakterisasi, perannya dalam regenerasi dan karsinogenesis serta mempelajari potensinya untuk terapi. Banyak model cedera yang telah dikembangkan untuk mempelari sel oval. Model hewan coba pada tikus yang paling sering yaitu penggunaan zat kimia, pembedahan ataupun kombinasi keduanya. Pada review ini peneliti meninjau model cedera hati yang digunakan untuk menginduksi sel oval pada tikus yang sering digunakan yaitu 2AAF/PH dan 2AAF/CCl4. Berdasarkan hasil penelusuran literatur kedua model tersebut dapat menginduksi sel oval yang dikenali dengan penanda umumnya yaitu OV6 dan beberapa penanda lainnya adalah AFP dan CK19. Pada model 2AAF/PH, oval sel umumnya dapat diamati pada hari ke sembilan setelah hepatektomi parsial di daerah portal sedangkan pada model 2AAF/CCl4 dibutuhkan waktu sekitar 12 minggu namun sel oval tidak hanya temukan di area portal namun juga menginvasi ke intraparenkim. Kata kunci : sel oval, cedera hati, metode, tikus, CCl4, 2AAF, hepatektomi parsial 
SERIAL KASUS HERNIA ABDOMINALIS: DIAGNOSIS CT SCAN PADA KASUS KEGAWATDARURATAN Amelia Kresna
Majalah Kesehatan Pharmamedika Vol 13, No 1 (2021): JUNI 2021
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33476/mkp.v13i1.3490

Abstract

Pendahuluan: Herniasi abdominal adalah protrusi organ-organ intraabdomen dari rongga abdomen melalui struktur anatomi normal maupun abnormal (defek) pada dinding abdomen yang lemah. Kelainan ini dapat ditegakkan pada pemeriksaan CT scan dan terkadang ditemukan insidental. Herniasi abdominal merupakan kasus yang penting karena kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kegawatdaruratan abdomen seperti inkarserata, obstruksi usus, volvulus dan strangulasi yang memerlukan tindakan operasi segera. Tindakan operasi itu sendiri juga dapat menyebabkan hernia. Multidetector row computed tomography (CT scan) dengan kemampuan multiplanar sangat baik dalam memberikan informasi herniasi abdominal karena kemampuannya memberikan informasi akurat dalam mengidentifikasi lokasi hernia serrta struktur organ yang mengalami protrusi dan membedakannya dari massa abdomen lainnya, disamping pemeriksaan fisik.Laporan kasus: (1) Wanita usia 57 tahun dengan riwayat operasi dua kali dan keluhan utama saat ini kadang buang air besar berdarah. (2) Wanita usia 78 tahun dengan keluahan utama nyeri perut, sulit buang air besar, dan tidak bisa buang angin. (3) Laki-laki usia 78 tahun dengan keluhan utama teraba benjolan di skrotum sejak 2 tahun yang lalu, tidak ada keluhan buang air besar maupun buang air kecil.Diskusi: (1) Terlihat defek dari aponeurosis di hemiabdomen kanan dengan ukuran defek 3 cm, disertai protrusi usus dan omentum melalui defek tersebut. Diagnosis spigelian hernia. (2) Terlihat dilatasi dari usus halus dengan protrusi sebagian usus pada kanalis obturator yang terletak di antara m.obturator dan pektineus. Diagnosis sebagai ileus obstruktif et causa hernia obturator. (3). Terlihat dilatasi skrotum kiri yang terdiri dari usus, kelenjar limfe dan cairan intra cavum scrotum kiri, tidak tampak strangulasi usus. Temuan ini didiagnosis sebagai hernia skrotalis.Kesimpulan: CT scan merupakan modalitas pilihan yang utama dalam menegakkan diagnosis dan membedakan hernia abdominalis karena CT scan dapat memberikan informasi yang mendetil pada kasus-kasus ini.