cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
VARIAN MAKNA KATA TOKI SEBAGAI NOMINA PENANDA KEWAKTUAN DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Nani Sunarni
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.25043

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada makna kata toki ‘waktu’ dalam kalimat bahasa Jepang. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa kalimat yang di dalamnya terdapat kata toki. Dari hasil analisis teridentifikasi tujuh makna kata toki, yaitu pertama kata toki yang memiliki makna denotative yaitu waktu. Dan yang lainnya yaitu digunakan untuk mengekspresikan waktu yang tepat dalam kondisi dilakukannya suatu kegiatan, kondisi atau kegiatan lain pun terjadi dalam waktu yang bersamaan, menyatakan waktu atau masa selama sesuatu berada dalam kondisi tertentu, dalam kondisi atau dalam situasi, menyatakan kesempatan, dan menunjukkan ekspresi yang bersifat kebiasaan. Selain itu, dalam kategori sebagai konjungsi toki yang dilekati oleh partikel ni (toki) digunakan dalam bahasa lisan untuk mengeksprresikan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan pembicaran sebelumnya. Kata kunci: kesempatan, situasi, toki, waktu,
BKR (BADAN KEAMANAN RAKYAT): Cikal Bakal Tentara Indonesia? Widyo Nugrahanto
Metahumaniora Vol 8, No 3 (2018): METAHUMANIORA, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i3.20718

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul BKR (Badan Kemanan Rakyat):Cikal Bakal Tentara Indonesia?!. Penelitian ini merupakan interpretasi baru tentang cikal bakal TNI, yang umumnya banyak merujuk pada PETA (Pembela Tanah Air). Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Sejarah.Metode Sejarah memiliki empat tahapan yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.Sumber-sumber penelitian ini menggunakan koran-koran sezaman, majalah sezaman, dan buku. BKR dianggap sebagai cikal bakal TNI didasarkan beberapa sebab. Pertama, atas dasar legalitas formal, PETA telah dibubarkan sehingga BKR adalah satuan militer yang pertama kali dibentuk setelah Indonesia merdeka. BKR selanjutnya melahirkan pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), TKR (Tentara Keselamatan Rakyat), TRI (Tentara Republik Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia). Kedua, jika PETA dianggap sebagai cikal bakal TNI, maka KNIL dan beberapa satuan keprajuritan diabaikan. Padahal, beberapa bekas perwira KNIL memiliki peran penting di tubuh BKR hingga TNI.Kata kunci: BKR, Tentara, TNIAbstractThe main subject this study is BKR – Indonesian civil defense corps – as origin of Indonesian Military. This study is new interpretation about the origin of TNI (Indonesian National Armed Forces) now. Many opinion refer to PETA as civil defense corps in Japanese occupation era. Study emlpoys a Historical Method, which consists of four stage: Heuristic, Critic, Interpretation, Historiography. The study utilize some sources such as newspaper, magazine, and book. Main finding of this study is PETA had dispersed as legality and formally and BKR was formed as the firts corps after Independence of Indonesia. Futhermore, BKR changed to TKR (Tentara Keamanan Rakyat), TKR (Tentara Keselamatan Rakyat), TRI (Tentara Republik Indonesia) until TNI (Tentara Nasional Indonesia). If PETA is considered as origins of Indonesian Military, then it ignore KNIL – a colonial armed forces – and the other defence corps. Even though the eks KNIL’s officer have important role in military managenment of BKR until TNI.Keywords: BKR, Military, TNI
Relasi Sintaktis Antarkomponen pada Frasa Nomina Bahasa Rusia Tri Yulianty Karyaningsih
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18871

Abstract

AbstrakDalam sintaksis bahasa Rusia terdapat istilah sintaksiceskoe otnošenie ‘relasisintaktis’ yang menghubungkan komponen-komponen frasa secara leksikal dangramatikal. Ada beragam jenis relasi sintaktis dan relasi ini dapat dijumpai padafrasa dengan komponen inti nomina. Untuk itu, dalam artikel ini dibahas mengenaiberbagai macam relasi sintaktis pada frasa nomina bahasa Rusia. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan berbagai tekniklanjutan dalam penganalisisan data. Adapun sumber data berupa bahasa tulisdiambil dari korpus nasional bahasa Rusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwarelasi sintaktis yang ada pada frasa nomina bahasa Rusia adalah relasi atributif,objektif, subjektif, adverbial, dan kompletif, didasarkan pada koneksi sintaktisantarkomponen frasa berupa koneksi konkordansi, penguasaan, dan parataksis.Relasi-relasi sintaktis tersebut dapat dibedakan secara semantis melalui maknaleksikal dan gramatikal kata-kata pembangun frasa.Kata kunci: relasi sintaktis, frasa nomina, inti frasa, pewatas, koneksi sintaktisAbstractIn Russian syntax there is the term of sintaksiceskoe otnošenie ‘syntactic relation’which connects the phrase components lexically and grammatically. There are various typesof syntactic relations and these syntactic relations can be found on noun phrases. Therefore,this article discussed about various types of syntactic relations in Russian noun phrases. Themethod used in this research is descriptive method with various techniques in analyzing data.The source of the data is written language taken from the national corpus of Russian language.The results showed that the syntactic relations in Russian noun phrases are attributive,objective, subjective, adverbial, and completive relation, based on syntactic connections ofconcordance, government, and parataxis between the phrase components. These syntacticrelations can be distinguished semantically through the lexical and grammatical meaning ofthe phrase components.Keywords: syntactic relation, noun phrase, head, modifier, syntactic connection
REPRESENTASI PERNIKAHAN DALAM MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS DAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER Stefani Ratu Lestari; Muhamad Adji; Amaliatun Saleha
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26023

Abstract

Penelitian ini membahas dua karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Midah Simanis Bergigi Emas (1955) serta Gadis Pantai (1962). Kedua karya ini menggunakan tokoh utama perempuan muda dengan mengangkat tema pernikahan dalam budaya patriarkis, serta mengungkit isu perjodohan, perceraian, serta kelas sosial yang meliputi tokoh perempuan di dalam kedua karya ini.  Kedua karya ini menampilkan perjuangan Midah dan Gadis Pantai dari awal hingga akhir pernikahan mereka, serta pandangan mereka mengenai pernikahan yang telah mereka lalui. Penelitian ini menggunakan teori representasi untuk menganalisis unsur-unsur pernikahan di dalam kedua karya ini. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kedua karya ini menampilkan permasalahan pernikahan yakni: (1) Permasalahan Kelas Sosial, (2) Pandangan Para Tokoh terhadap Pernikahan, dan (3) Representasi Perempuan Kuat. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Pramoedya menampilkan masalah pernikahan melalui kehidupan Midah dan Gadis Pantai serta tokoh-tokoh yang ditemui Midah dan Gadis Pantai.Kata Kunci: Pramoedya, Pernikahan, Kelas Sosial, Representasi
Amâlî (Imla) As Arabic Writing Technique Dicky Rachmat Pauji
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23332

Abstract

Amâlî (Imla) is a methodology used in studying Arabic language and literature that has a very wide scope. Amâlî (Imla) itself can be translated as: to dictate, to add, to fill in and etc. Amâlî (Imla) may also be interpreted further by the following narration: A teacher (ustadz) comes to a place like a mosque, an Islamic school or any learning space in general. In the process of teaching and learning, all that are spoken by the teacher is written down by the students on pieces of paper they had prepared earlier then be compiled into a book which will be preserved. This paper presents a brief summary of Amâlî (Imla) as a methodology which is discussed in many Amâlî (Imla) related literature works written from the beginning of 7th century until the 14th century. The subject Amâlî (Imla) is written in exceedingly diverse manner, unique to each of numerous known authors. This paper also discusses about various meaning of the word Amâlî (Imla) that has been interpreted differently among authors. In addition, the method of separating chapters and other minor distinct writing style that each of various groups of Amâlî (Imla) authors had developed was presented in this work. And lastly, this paper discusses the fact that Amâlî (Imla) related textbook authors were not only originated from the Middle East, but also from regions such as Iran (Huzistan) and Andalusia
Budaya dalam Pengajaran Bipa: Respons Orang Asing terhadap Budaya Sunda dalam Hubungan Lintas Budaya Muhamad Adji
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20703

Abstract

AbstrakProgram BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) memberikan kesempatanpada orang asing untuk mempelajari bahasa Indonesia sebagai pintu gerbang untukmengenal Indonesia lebih dalam lagi. Dengan semakin banyaknya orang asingmengunakan bahasa Indonesia, semakin terbuka kesempatan bagi bahasa Indonesiauntuk menjadi bahasa internasional. Hal itu dapat dilakukan melalui strategi kebudayaan.Strategi kebudayaan yang dapat dilakukan dalam mengenalkan Indonesia dalampembelajaran BIPA adalah melalui pengenalan budaya lokal yang menjadi ujung tombakdari kebudayaan Indonesia. Kebudayaan lokal yang hidup dalam masyarakat setempatmemberi kesempatan bagi orang asing untuk melihat dan memahami kekayaan budayaIndonesia yang beragam. Tulisan ini bertujuan mengetahui pengetahuan dasar mahasiswaasing terhadap budaya Sunda dan bagaimana respon mereka dengan dijadikannya budayaSunda sebagai bagian dari pembelajaran BIPA. Penelitian ini merupakan penelitiandeskriptif dengan pemerolehan data melalui kuesioner dan referensi kepustakaan. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa pengenalan aspak-aspek budaya lokal, dalam hal inibudaya Sunda, dalam pengajaran BIPA merupakan kebutuhan utama bagi orang asingagar dapat bertahan hidup dan beradaptasi dalam lingkungan sosial budaya tempatmereka hidup serta membangun kesalingpengertian dalam hubungan lintas budaya. Olehkarena itu, hal-hal yang penting bagi orang asing adalah budaya lokal yang dirasakanlangsung dalam kehidupan keseharian mereka di Indonesia.Kata kunci: budaya Sunda, pengajaran BIPA, respon, orang asing, lintas budayaAbstractThe BIPA program (Indonesian for Foreign Speakers) provides an opportunity forforeigners to learn Indonesian as a gateway to know Indonesia more comprehensively. With theincreasing number of foreigners using Indonesian language, the more open the opportunity forIndonesian language to become an international language. This can be done through a culturalstrategy. The cultural strategy that can be done in introducing Indonesia in BIPA learning isthrough the introduction of local culture that is the spearhead of Indonesian culture. Local culture hat lives in local communities provides opportunities for foreigners to see and understand Indonesia’s diverse cultural richness. This paper aims to find out the basic knowledge of foreign students towards Sundanese culture and how they respond to the use of Sundanese culture as part of BIPA learning. This research is a descriptive study by obtaining data through questionnaires and literature references. The results show that the introduction of aspects of local culture, in this case Sundanese culture, in the teaching of BIPA is a major need for foreigners to survive and adapt in the socio-cultural environment in which they live and build understanding in cross-cultural relations. Therefore, the things that are important for foreigners are the local culture that is directly affected in their daily lives in Indonesia.Keywords: Sundanese culture, BIPA teaching, response, foreigners, cross-cultural
Interferensi Struktur Kalimat Bahasa Indonesia dalam Struktur Kalimat Bahasa Mandarin pada Karangan Naratif Mahasiswa Sastra Cina Universitas Sumatera Utara (Usu) Fiqhi Nahdhia Mahmud
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18851

Abstract

ABSTRAKInterferensi dikenal sebagai suatu penyebab dalam kesulitan belajar dankesalahan dalam proses pembelajaran bahasa kedua. Penelitian ini bertujuan untukmendeskripsikan interferensi struktur kalimat bahasa Mandarin yang ditulis olehmahasiswa semester VI stambuk 2013 Program Studi Sastra Cina, Fakultas IlmuBudaya, Universitas Sumatera Utara. Sumber data yang digunakan adalah karangannarasi bertemakan berlibur 放假 (fàngjià) oleh mahasiswa semester VI stambuk2013 Program Studi Sastra Cina, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara(USU) yang berbahasa ibu bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitianini adalah metode deskriptif kualitatif. Pada tahap analisis data penelitian inimenggunakan metode agih Sudaryanto. Adapun teori digunakan dalam menganalisinterferensi struktur kalimat pada penelitian ini adalah hipotesis analisis kontrastif.Hipotesis analisis kontrastif merupakan penjabaran dari perbedaan antara dua bahasayang menjadi dasar penyebab kesulitan belajar bahasa dan kesalahan berbahasa yangdihadapi oleh siswa. Perbedaan yang terjadi teridentifikasi dari perbandingan strukturantara dua bahasa, bahasa pertama dan kedua yang akan dipelajari siswa. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa: Interferensi terjadi pada penempatan posisi fungsisintaksis pada kalimat bahasa Mandarin yang mengikuti struktur kalimat tunggaldan kalimat majemuk bahasa Indonesia, berupa interferensi pada fungsi sintaksisketerangan (K), tataran posisi predikat (P) dan subjek (S) yang mengikuti struktur polakalimat bahasa Indonesia serta pada struktur pola atau penempatan klausa dan katapenghubung.Kata kunci: Interferensi; Bahasa Indonesia-Mandarin; Struktur KalimatABSTRACKInterference is known as the cause of difficulties and mistakes in the process oflearning a second language. This result of this research is to describe the interference ofChinese sentence structure written by students of sixth semester, the academic year 2013,Chinese Department, Faculty of Cultural Sciences, Universitas Sumatera Utara. The datais taken from narrative writing about holiday 放假 (fàngjià) by the students of Chinesedepartment, sixth semester, the academic year 2013, Faculty of Cultural Sciences,Universitas Sumatera Utara (USU) whose mother tongue is Indonesian. The method usedin this research is descriptive qualitative method. For analysing data, this research usesSudaryanto’s Agih method and it also uses hypothetical contrastive analysis. This analysisis a description of differences between two languages which become the basic cause ofInterferensi Struktur Kalimat Bahasa Indonesia dalam Struktur Kalimat Bahasa Mandarin ...METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 3 Desember 2017: 354—367 | 355learning difficulties and mistakes dealt by the students. The differences occurred areidentified by comparing the sentence structures of the two languages, the first languageand the second language the students learn. The result of this research shows that theinterference occurs in the placing of syntactical function of Chinese sentences whichinterfered by the structures of Indonesian simple sentences as well as complex sentencessuch as interference in the adverb function, predicate position, and subject position, alsoin the clause position and the use of conjunction.Keywords: Interference; Indonesian-Mandarin Language; Sentence Structure
Pelestarian Nilai-Nilai Budaya Sunda Melalui Kaulinan Barudak Lembur di Kabupaten Tasikmalaya Encang Saepudin
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23321

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai  Model Pelestarian  Kaulinan Barudak Lembur (Sunda) di Desa Sindangkerta Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Dengan  metode kualitatif dan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, Focus Group Discussion, dan  studi pustaka penelitilian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis permainan, nilai-nilai yang terkandung dalam permainan,  dan model pelestarian  kaulinan barudak lembur di Desa Sindangkerta Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Responden dalam penelitian ini adalah Pengelola Saung Budaya Tatar Karang Cipatujah  dan para tokoh masyarakat Desa Sindang Kerta. Hasil peneltian menunjukkan bahwa jenis permainan yang dilestarikan oleh masyarakat  Desa Sindangkerta ada 12 jenis permainan, setiap permainan memiliki nilai-nilai kehidupan yang diterapkan berdasarkan nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh.  Nilai-nilai dalam permainan adalah kebersamaan, kepemimpinan, kejujuran, lapang dada, kesederhanaan, dan lain-lain, sedangkan pelestarian kaulinan barudak lembur yang dilaksanakan oleh  Pengelola Saung Budaya Tatar Karang  Cipatujah terbagi dalam dua bentuk yaitu Culture Experience dan  Culture Knowledge. 
Representasi Tubuh Transman dalam Film 3 Generations Deri Eka Firmansyah
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20692

Abstract

AbstrakArtikel ini berjudul “Representasi Tubuh Transman dalam film 3 Generations.Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan fenomena transman yang merupakanvariasi dari transgender, seperti yang direpresentasikan dalam film 3 Generation. Fokusdalam artikel ini adalah representasi transgender female-to-male, yang selanjutnyadisebut sebagai transman dan konstruksi maskulinitas sebagaimana yang ditampilkanmelalui film. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatifdan deskriptif analitik untuk mendeskripsikan tubuh maskulin tokoh transman.Artikel ini mengungkapkan bahwa tokoh transman melakukan tindakan passinguntuk menunjukkan dirinya sebagai laki-laki dalam tubuh maskulin. Tokoh transmanartikel ini melakukan tindakan passing sebagai sebuah usaha untuk diterima sebagaiseorang laki-laki. Artikel ini membuktikan bahwa transman mengekspresikan dirimereka sebagai laki-laki untuk memperlihatkan maskulinitas mereka.Kata kunci: representasi, transman, 3 GenerationsAbstractThis article entitled “The Representation of Transman Body in 3 GenerationsMovies”. The aim of this is to reveal the transman phenomenon as a part of transgenderdiversie as represented in 3 Generations movies. It focuses on the representation of female-tomale transgender, also referred to as transman, and the construct of masculinity as expressedin the movies. By using qualitative and descriptive analytics methods, this article reveals howthe transman character does the passing and reflects himself as a man in masculine bodies.Transman character in this movie does the passing as an effort to be accepted as a man. Itproves that transman express themselves as men to show their masculinity.Keyword: representation, transman, 3 Generations
Pariwisata dalam Perspektif Sosiolinguistik Heriyanto Heriyanto
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18833

Abstract

ABSTRAKArtikel ini membahas pariwisata khususnya teks kepariwisataan dalam perspektifsosiolinguistik. Berdasarkan kajian sebelumnya, bahasa memainkan peran yang tidakkecil dalam dunia kepariwisataan, namun belum banyak mendapat tempat dalam kajianpariwisata (Dann, 1996). Dalam artikel ini, penulis mencoba mengkaji teks kepariwisataandari sudut pandang sosiolinguistik dengan metode deskriptif. Teori sosiolinguistik yangdijadikan landasan adalah teori-teori dari Wardhaugh (1986), Holmes (1992), danStockwell (2002). Teori kepariwisataan yang digunakan adalah teori yang dikemukakanoleh Dann (1996) dan Theobald (2005). Simpulan dari kajian dalam artikel ini adalahbahwa teks pariwisata banyak terkait dengan interaksi antara wisatawan dengan host ataupenduduk setempat di mana faktor sosial dan jarak sosial memainkan peran yang penting.Kata kunci: pariwisata, sosiolinguistik, faktor sosial, jarak sosialABSTRACTThis article discusses tourism, especially tourism texts in sociolinguistic perspective.Based on the previous research, it can be said that language, although it plays an important role inworld tourism, it still has not had proper place in the study of tourism (Dann, 1996). In this article,the writer tries to discuss tourism texts from sociolinguistic perspective with descriptive analysis.Sociolinguistic theories applied in this study are those from Wardhaugh (1986), Holmes (1992)and Stockwell (2002). Theories on tourism in this article are those from Dann (1996) and Theobald(2005). The conclusion indicates that a great deal of tourism texts are related to the interactionsbetween the tourist and the host, where social factors and social distance play an important role.Keywords: tourism, sociolinguistics, social factors, social distance

Page 11 of 27 | Total Record : 263