cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
PEMBELAJARAN 3 BAHASA DI MADRASAH DINIYAH TAKMILIYAH (DTA) KELURAHAN CIPADUNG -KOTAMADYA BANDUNG Puspa Mirani Kadir
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.30562

Abstract

Madrasah yang sedang kami bina dalam pembelajaran bahasa Asing ini, merupakan madrasah diniyah-awaliyah,  yang tidak menutup kemungkinan siswa-siswa kami akan melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi baik itu masuk madrasah Tsanawiyah maupun madrasah Aliyah. Pengenalan bahasa asing diperkenalkan sejak dini adalah yang paling terbaik. Metode yang mudah yang akan dapat difahami dengan kemampuan empat kecakapan berbahasa yang sesuai dengan yang disebutkan di dalam Permenag, bertujuan (1) mengembangkan kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Arab yang mencakup empat kecakapan menyimak (istima’), berbicara (kalam), membaca (qira’ah), dan menulis (kitabah).Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran conversation sebagai keterampilan berbahasa asing termasuk penggunaaan berbagi media pembelajaran seperti video, audio, LCD, daftar kosa kata, bahan percakapan yang diambil dari sumber buku bahasa asing lainnya atau dibuat oleh pengajar sesuai dengan topik atau materi pelajaran, dan media dibuat oleh siswa. Komponen model bahan ajar ini juga mencakup penilaian teknik atau tes yang tidak hanya bentuk lisan tetapi juga tes tertulis. Pengajaran ini materi juga harus berisi teks dan latihan individu atau bahkan kelompok atau pasangan dan dilengkapi dengan bimbingan pengajar, sedangkan untuk siswa diberikan bahan ajar sebagai panduan saat belajar serta memperkuat keterampilan sesuai dengan pembelajaran bahasa asing tersebut.
SERUPA TAPI TAK SAMA ANTARA VERBA SURU DAN YARU Inu Isnaeni Sidiq; Erlina Zulkifli Mahmud; Taufik Ampera
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.26865

Abstract

Penelitian ini membahas perbedaan struktur dan makna pada penggunaan verba bersinonim suru dan yaru dalam bahasa Jepang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan juga mencoba mennyulih verba suru dan yaru dalam berbagai macam jenis kalimat untuk mengetahui perbedaan dan persamaannya baik secara struktur maupun semantis. Hasil analisis menunjukkan bahwa terlepas dari kebersinoniman kedua verba ini dalam makna’ melakukan sebuah perbuatan’, penulis menemukan beberapa ciri khas  struktur dari masing – masing verba pada saat mengisi posisi predikat sebuah kalimat yang sama. Selain itu, penulis juga menemukan makna verba yaru yang tidak ditemukan pada kamus-kamus referensi yang ada yaitu ‘mengirimkan seseorang untuk melakukan sesuatu’ yang tidak ditemukan pada penggunaan verba suru. Terlepas dari kebersinoniman kedua verba, hasil peneltian ini menunjukkan bahwa baik verba suru maupun yaru memiliki kekhasan secara struktur dan makna sehingga meskipun bersinonim bukan berarti kedua verba tersebut selalu dapat saling menyulih.
Pergeseran Leksikal sebagai Dampak Kontak Budaya pada Masyarakat Sunda di Desa Parigi Kabupaten Pangandaran Dian Indira
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18876

Abstract

AbstrakBudaya dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, tergerusnyabahasa berbanding lurus dengan tergerusnya budaya, begitu pula sebaliknya.Terjadinya kontak budaya luar dengan budaya lokal tidak dapat dihindarkan yangterlihat dari sikap berbahasa masyarakat. Berdasarkan penelitian yang dilakukanterhadap siswa sekolah dasar di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, yangsehari-hari berbahasa Sunda, terlihat bahwa pengaruh budaya luar telah memengaruhibahasa Sunda mereka. Dengan menggunakan angket dan daftar tanya sebagai bahanuntuk memperoleh data dari para pembahan, beberapa siswa tidak bisa menyebutkanbeberapa nama benda, binatang, dan tumbuhan di dalam bahasa Sundanya.Kata kunci: budaya luar, pergeseran bahasa Sunda, PangandaranAbstractCulture and language are an inseparable unity, the erosion of language is directlyproportional to the erosion of culture, and vice versa. The occurrence of outside cultural contactwith local culture can not be avoided which is evident from the attitude of community speakers.Based on research conducted on elementary school students in Parigi - Pangandaran District, whospeak Sundanese daily, it appears that the influence of outside culture has influenced their Sumdalanguage. Students can not name some objects, animals, and plants in Sundanese language, thehighest percentage is the use of the word greetings in the nuclear family environment.Keywords: outside culture, Sundanese, Pangandaran
Deflasi Semantis dalam Pertukaran antara Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia Ari J. Adipurwawidjana
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.23410

Abstract

Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris dalam wacana Indonesia kontemporer semakin menjadi lazim dan meresap dalam berbagai konteks mulai dari percakapan sehari-hari, forum akademik, hingga media massa baik dalam bentuk ujaran lisan maupun teks tertulis. Perjumpaan antara bahasa Inggris dan bahasa Indonesia sama sekali bukan fenomena baru. Tiga periode pertukaran interlinguistik antara kedua bahasa dapat diidentifikasi sebelum periode yang sedang berlangsung kini, mulai dari (1) pertukaran tidak langsung melalui bahasa lain, (2) pertukaran langsung terdokumentasi sejak awal abad ke-19 yang bertepatan dengan kehadiran Imperium Britania di Asia Tenggara yang memfasilitasi dimasukannya sejumlah besar kata-kata Melayu ke dalam kosakata bahasa Inggris, dan (3) periode pasca-Perang Dunia II saat Indonesia menjadi lebih terlibat dalam ekonomi global yang berkontribusi pada penyebaran praktik budaya (Adipurwawidjana, 2013). Namun, walaupun dalam pertukaran semacam itu pergeseran dan modifikasi pada berbagai tingkat linguistik tidak dapat dihindari, arus lintas budaya yang melimpah saat ini tampaknya tidak memberikan kesempatan bagi unsur-unsur bahasa yang dipinjam untuk beradaptasi dengan struktur bahasa Indonesia sebagai bahasa peminjam, yang mengakibatkan penggunaan nahasa Inggris yang sepotong-sepotong dan terfragmentasi dalam penggunaan bahasa Indonesia secara umum. Hal ini merupakan gejala yang disebut  Halpern (2001, 2008) sebagai "deflasi semantik," sebuah gejalan yang mengurangi nilai dan bobot semantik karena penggunaan bahasa di tingkat permukaan belaka tidak memberikan ruang yang cukup untuk penyerapannya. Melihat ujaran sehari-hari dan teks-teks yang hadir di ruang publik, tulisan ini akan menunjukkan terjadinya deflasi semantik atas kata dan frasa yang dipinjam bahasa Inggris dalam wacana Indonesia kontemporer, termasuk degradasi elemen eufemistik dan disfemistik, penggunaan yang tidak idiomatis, dan formasi kata non-standar.
RASISME DAN PERSPEKTIF ANAK DALAM NOVEL WHEN HITLER STOLE PINK RABBIT KARYA JUDITH KERR Pangesti Rokhi Dewi; Tisna Prabasmoro; Sri Rijati Wardiani
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.30580

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis perspektif tokoh anak Yahudi, yakni Anna dan Max terhadap rasisme selama Hitler memimpin Jerman pada tahun 1933 yang tergambar dalam novel anak When Hitler Stole Pink Rabbit karya Judith Kerr. Dalam penelitian ini digunakan teori naratologi dari Genette (1980), dan konsep rasisme yang dikemukakan oleh Fredrickson (2015) dan Better (2008). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menganalisis novel. Hasil penelitian ini adalah terdapat dua jenis rasisme pada novel tersebut, yakni rasisme institusi yang ditunjukkan oleh Nazi dan individu yang ditunjukkan oleh anak dan orang tuanya yang pro terhadap Nazi, serta teman-teman sekolah Max. Penelitian ini pun menunjukkan fokalisasi Anna dan Max baik yang dituturkan oleh mereka sendiri maupun narator tentang rasisme sebagai bentuk represi terhadap fisik dan psikis mereka. Mereka dapat meresistensi semua rasisme yang mereka alami dengan menjadi orang Yahudi yang lebih baik untuk mematahkan prasangka yang melekat pada Nazi maupun orang-orang yang membenci mereka.  Kata Kunci: rasisme, nazi, perspektif anak, sastra anak, naratologiAbstractThis research aims to analyze the Jewish children’s perspective, namely Anna and Max, on racism during Hitler's leadership in Germany in 1933 in the children's novel When Hitler Stole Pink Rabbit by Judith Kerr. The theories used in this research are narratology of Genette (1980), and the concept of racism proposed by Fredrickson (2015) and Better (2008). This study used descriptive qualitative method to analyze the novel. The article is to show the two occurrences of racism in the novel; racism shown by Nazis and individuals shown by children and parents who are pro-Nazi, as well as Max's school friends. The article examined Anna and Max’s focalizations, both spoken by themselves and by the narrator. The article eventually argues that Anna and Max’s perspective about racism is a form of repression towards their physical and psychological aspects. They withstand racial oppression by becoming better Jews to break the prejudices attached to the Nazis or those who associate them.Keywords: racism, nazi, children’s perspective, children’s literature, narratology             
PEMETAAN PENGETAHUAN LOKAL UNTUK PEMBERDAYAAN WISATA BUDAYA Samson CMS; Tri Gumilar
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.25942

Abstract

Pengetahuan lokal kini dianggap penting untuk mengatur tatanan masyarakat. Dengan mengenal pengetahuan lokal, sebuah bangsa akan mengetahui peradaban dirinya. Warisan nenek moyang ini merupakan kekuatan dalam menghadapi persaingan di kancah global. Dalam pengetahuan lokal tersimpan data dan informasi mengenai karakter keunikan lokal, ilmu pengetahuan, pengalaman masyarakat dalam menghadapi masalah dan kebutuhan serta solusinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peta potensi pengetahuan lokal dan budaya di masyarakat Tatar Karang serta alasan mengapa masyarakat Tatar Karang mendirikan pusat informasi budaya. Metode yang  digunakan  adalah studi kasus; pengamatan partisipatif, wawancara mendalam, studi dokumentasi serta repertoar tradisi literasi. Hasil penelitian menunjukkan: 1) peta pengetahuan lokal dan potensi wisata budaya yang sesuai dengan UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan pasal 5 dan 11 sangat melimpah, baik secara kuantitas maupun kualitas; 2) pusat informasi budaya hadir sebagai ruang publik dan ruang ekspresi masyarakat Tatar Karang dalam upaya penggalian, pelestarian, transformasi dan pelayanan informasi budaya. Dengan mengenal sumber-sumber informasi pengetahuan lokal, kita akan mengetahui potensi faktual  budaya. Kehadirannya tidak saja menumbuhkan optimisme, tapi memberi solusi, ekonomi dan jati diri.
Kondisi Sosial-Ekonomi Masyarakat Kuna Tatar Sunda (Abad V –XVI) Mumuh Muhsin Zakaria
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22867

Abstract

Artikel ini bertujuan menganalisis kondisi sosial-ekonomi masyarakat Tatar Sunda pada abad ke-5 hingga abad ke-16. Metode yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi empat tahapan kerja, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi.  Hasil dari kajian ini adalah bahwa wilayah Tatar Sunda memiliki potensi ekonomi yang  sangat tinggi. Hal ini dimungkinkan berkat faktor-faktor geografis. Tatar Sunda memiliki tanah yang sangat subur dan bisa ditanami oleh beragam jenis tanaman, termasuk tanaman ekspor yang sangat laku di pasar internasional. Di samping itu, wilayah Tatar Sunda pun cukup strategis karena memiliki banyak pelabuhan yang bisa dijadikan akses ke luar dan masuknya barang dan orang dari dalam dan luar Tatar Sunda.This article aims to analyze the socio-economic conditions of the Tatar Sunda community in the 5th to the 16th century.The method used is a historical method that includes four stages of work, namely heuristics, criticism, interpretation, and historiography.The result of this study is that the Tatar Sunda region has very high economic potential.This is possible because of geographical factors. Tatar Sunda has very fertile land and can be planted by various types of plants, including export crops needed on the international market.In addition, the Tatar Sunda region is also quite strategic because it has many ports that could be used as access to the outside and the entry of goods and people from inside and outside the Tatar Sunda.    
KORESPONDENSI FONEMIS ENAM KATA KERABAT BAHASA INDONESIA, BAHASA MELAYU KELANTAN, BAHASA MELAYU PATANI, DAN BAHASA SUNDA Wahya Wahya; Suhaila Arong
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.27523

Abstract

AbstrakBahasa Indonesia, bahasa Melayu Kelantan, bahasa Melayu Patani, dan bahasa Sunda merupakan bahasa kerabat. Keempat bahasa tersebut termasuk rumpun bahasa Austronesia. Ketiga bahasa pertama, yaitu bahasa Indonesia, Melayu Kelantan, dan  Melayu Patani termasuk kelompok bahasa Melayu, sedangkan bahasa Sunda tidak termasuk bahasa Melayu. Bahasa Indonesia dan Sunda terdapat di Indonesia. Bahasa Melayu Kelantan terdapat di Malaysia. Bahasa Melayu Patani terdapat di Thailand. Sebagai bahasa kerabat rumpun Austronesia, keempat bahasa memiliki  kosakata  yang diwariskan dari bahasa yang lebih tua. Ciri-ciri adanya pewarisan tersebut dapat diamati pada kosakata yang memiliki persamaan atau kemiripan bentuk dan makna.  Masalah yang dibahas adalah korespondensi fonemis apa yang menunjukkan perbedaan kata kerabat yang diperoleh dari hasil membandingkan  kata kerabat pada enam glos dari empat bahasa sampel yang diteliti. Dalam tulisan ini diambil enam kata sampel bahasa Indonesia sebagai glos dari 200 glos kosakata dasar Swadesh, yaitu hapus,  hati, hidup, hijau, hitam, dan hujan. Data bersumber dari kamus dan informan. Dari hasil penelitian  terhadap kata kerabat untuk enam glos tersebut diperoleh sembilan perangkat korespondensi fonemis, yaitu (a)  /h ~ ø/ , (b) /s ~ h/, (c) /i ~ ɛ/, (d) /d ~ r/, (e) /p ~ k/, (f) /aw ~ a ~ ɔ/ , (g) /am ~ őŋ ~ ɛ/, dan (h) /-an ~ --ɛ/. Selanjutnya, setiap korespondensi fonemis tersebut menghasilkan pengelompokan bahasa yang memperlihatkan pemilik unsur bahasa yang terdapat pada korespondensi fonemis tersebut dan jika dilakukan rekonstruksi, pengelompokan bahasa tersebutmenunjukkan pencabangan dari bahasa yang lebih tua yang telah menurunkannya.Kata kunci: rumpun bahasa, kata kerabat, korespondensi fonemis, pewarisan. AbstractIndonesian, Kelantan Malay, Patani Malay, and Sundanese are kin languages. The four languages include the Austronesian language family. The first three languages, namely Indonesian, Kelantan Malay, and Patani Malay belong to the Malay language group, while Sundanese does not include Malay. Indonesian and Sundanese are found in Indonesia. Kelantan Malay is found in Malaysia. Patani Malay is found in Thailand. As the languages of relatives of Austronesian families, all four languages have vocabulary inherited from older languages. The characteristics of inheritance can be observed in vocabulary that has similarities or similarities in form and meaning. The problem discussed is the phonemic correspondence of what shows the difference in relative words obtained from the results of comparing relative words in the six glossos of the four sample languages studied. In this paper six Indonesian sample words are taken as glossos from 200 basic Swadesh vocabulary words, namely erase, heart, life, green, black, and rain. Data sourced from dictionaries and informants. From the results of research on the word relatives for the six glossos obtained nine phonemic correspondence sets, namely (a) / h ~ ø /, (b) / s ~ h /, (c) / i ~ ɛ /, (d) / d ~ r /, (e) / p ~ k /, (f) / aw ~ a ~ ɔ /, (g) / am ~ őŋ ~ ɛ /, and (h) / -an ~ --ɛ /. Furthermore, each phonemic correspondence results in a grouping of languages that shows the owner of the language elements contained in the phonemic correspondence and if a reconstruction is made, the grouping of languages shows the branching of older languages which has derived it.Keywords: language family, word relatives, phonemic correspondence, inheritance
VERBA BANTU BENEFAKTIF TEKURERU DAN TEMORAU DALAM KALIMAT BAHASA JEPANG Sri - Iriantini
Metahumaniora Vol 9, No 2 (2019): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i2.23617

Abstract

Bahasa Jepang merupakan bahasa yang unik, dengan karakteristik yang berbeda dengan bahasa lainnya. Selain sebagai bahasa SOV, dalam beberapa struktur pun mempunyai ciri khas yang membedakannya dengan bahasa lain. Misalnya dalam struktur yang menggunakan verba-verba benefaktif yarimorai, yang terdiri dari 7 varian verba. Verba-verba ini digunakan untuk menunjukkan adanya suatu benefit yang diberikan dan diterima oleh seseorang. Dalam bahasa lain, bentuk benefaktif ini dapat terlihat dan diamati dari sisi semantisnya, tetapi secara sintaksis dan morfolgis mungkin bisa saja menggunakan satu verba yang sama dengan bentuk kausatif, seperti verba ‘membetulkan’ dalam bahasa Indonesia.Verba-verba benefaktif yarimorai ini dapat juga digunakan bersama-sama dengan verba inti sebagai verba bantu atau hojodoushi, dengan mengubahnya terlebih dahulu ke dalam bentuk te,  diantaranya tekureru dan temorau. Keduanya ini secara sintaksis dan semantis mempunyai beberapa persamaan dan perbedaan, diantaranya merupakan suatu peristiwa penerimaan.Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, dengan data-data yang diambil dari buku-buku berbahasa Jepang.Dari penelitian ini didapatkan hasil bahwa bentuk tekureru dan temorau, mempunyai persamaan secara sintaksis dan semantis, yaitu bahwa penerima keuntungan (peruntung) adalah pembicara, dan pemberi keuntungan / benefit adalah orang kedua / orang ketiga. Perbedaannya yaitu, jika tekureru, lebih memfokuskan kepada kebaikan pemberi keuntungan, sementara temorau lebih memfokuskan kepada rasa syukur / terima kasih yang didapatkan oleh peruntung, dan juga dari viewpointnya. Kata Kunci : Verba benefaktif yarimorai, bentuk benefaktif tekureru-temorau, analisis                          sintaksis dan semantis.
Morfologi Kota Bandung Pada Abad XX: Perspektif Historis Miftahul Falah
Metahumaniora Vol 8, No 3 (2018): METAHUMANIORA, DESEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i3.20712

Abstract

AbstrakKota Bandung merupakan salah satu kota penting sejak masa penjajahan Belanda. Berawal dari sebuah kampung, Bandung kemudian berkembang seiring dengan kedudukannya sebagai pusat pemerintahan. Penelitian terhadap perkembangan Bandung sudah banyak dilakukan. Namun, aspek morfologis dari pertumbuhan Kota Bandung belum dikaji secara mendalam. Bagaimana pertumbuhan Kota Bandung pada Abad XX ditinjau dari aspek morfologi kota yang mencakup masalah kependudukan dan luas wilayah, areal terbangun, dan simbol kota? Untuk menjawab pertanyaan itu, dilakukan penelitian historis dengan menerapkan metode sejarah yang meliputi empat tahap, yakni heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, secara morfologis terdapat hubungan yang erat antara pertambahan penduduk dan perluasan wilayah kota; kedua, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perluasan wilayah, areal terbangun menjadi semakin meluas; ketiga, simbol-simbol kota yang mencakup tugu atau monumen, nama jalan, gerbang kota, dan bangunan menunjukkan ciri/karakter Kota Bandung sesuai dengan jiwa zaman (zeitgeist)-nya.Kata kunci: kota Bandung, penduduk, areal terbangun, ruang terbuka, simbol kotaAbstractBandung is one of the important cities since the Dutch colonial period. Starting from a village, Bandung then developed along with its position as a center of government. Research on the development of Bandung city has been done, but the morphological aspects of the growth of Bandung city have not been studied in depth yet. How is the growth of Bandung city in 20th century in terms of morphological aspects of the city that includes demographic land area, city planning problems, built up area, and the symbol of the city? The method used in this reasearch is historical method that deals with four steps, namely heuristic, criticism, interpretation, and historiography. The results show that, first, morphologically there is a close relationship between population growth and the expansion of urban areas; second, along with population growth and the expansion of urban areas, the built up area becomes even more widespread; third, urban symbolism that includes pillar or monument, street name, city gates, and buildings show traits or characters of Bandung in accordance with zeitgeist.Keywords: city of Bandung, demography, built up Area, open space, urban symbolism