cover
Contact Name
Nani Darmayanti
Contact Email
n.darmayanti@unpad.ac.id
Phone
+6282130179000
Journal Mail Official
n.darmayanti@unpad.ac.id
Editorial Address
Gedung A Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjara Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21 Jatinangor Kabupaten Sumedan 45363
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Metahumaniora
ISSN : 20854838     EISSN : 26572176     DOI : 10.24198/metahumaniora
Metahumaniora adalah jurnal dalam bidang bahasa, sastra, dan budaya yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran sejak tahun 2012 dan bertujuan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran konseptual maupun hasil riset yang telah dicapai dalam rumpun ilmu humaniora. Fokus dan ruang lingkup Jurnal Metahumaniora adalah kajian dalam rumpun ilmu humaniora, meliputi bidang bahasa (linguistik mikro, linguistik makro, dan linguistik interdisipliner), sastra, filologi, sejarah, dan kajian budaya. Metahumaniora diterbitkan pertama kali pada 10 Februari 2012 dalam versi cetak dengan nomor ISSN 2085-4838. Dan seiring dengan perkembangan sistem teknologi dalam bidang literasi, pada tanggal 12 April 2019 Jurnal Metahumaniora telah menggunakan Online Journal System (OJS) dengan nomor EISSN 2657-2176. Redaksi menerima tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Naskah yang diserahkan harus sesuai dengan fokus dan ruang lingkup jurnal serta sesuai dengan format penulisan yang telah ditetapkan (rujuk format penulisan). Penerbitan Metahumaniora dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu April, September, dan Desember. Meskipun demikian, penerimaan naskah dilakukan sepanjang tahun. Proses penyerahan, penilaian, dan penerbitan naskah seluruhnya dilakukan secara online. Metahumaniora menerapkan proses peer review. Semua artikel yang dikirimkan akan direview secara tertutup (blind review) oleh para mitra bestari. Pada umumnya, setiap artikel akan direview oleh satu sampai dua orang reviewer. Tanggapan dari para reviewer ini akan dijadikan landasan bagi Editor untuk menentukan apakah suatu artikel dapat diterima (accepted), diterima apabila direvisi (accepted with major/minor revision), atau ditolak (rejected).
Articles 263 Documents
Rekonstruksi Font Aksara Sunda Unicode: sebuah Alternatif Perbaikan Font Aksara Sunda Rahmat Sopian
Metahumaniora Vol 7, No 1 (2017): METAHUMANIORA, APRIL 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i1.23327

Abstract

Kreativitas dalam pengembangan berbagai hal berbasis komputer tidak hanya berlaku pada wilayah-wilayah kehidupan primer (utama) tetapi merambah juga ke wilayah-wilayah sekunder seperti bidang bahasa daerah. Bahasa daerah yang saat ini keberadaannya terus tersisihkan oleh para pencintanya terus dikembangkan salah satunya dengan memanfaatkan Information and Comunication Technology (ICT). Wujud nyata dari usaha tersebut di antaranya dengan dibuatnya beberapa font aksara daerah, seperti font aksara Sunda. Kemunculan font aksara Sunda ini sangat penting bagi perkembangan bahasa Sunda karena pada dasarnya aksara daerah merupakan alat rekam yang tepat  bagi bahasa daerah tersebut (Baidilah dkk., 2008). Hampir di setiap wilayah di Jawa Barat aksara Sunda dapat ditemui pada nama-nama jalan, instansi, ataupun produk-produk kreatif. Kemunculan aksara Sunda di berbagai media tersebut tentunya tidak lepas dari peran font aksara Sunda Unicode (IB80-IBBF) yang mempermudah masyarakat dalam menulis aksara Sunda. Dengan font aksara Sunda, menulis aksara Sunda yang sebelumnya hanya digunakan pada naskah-naskah kuno kini bisa diterapkan pada berbagai media yang berbasis komputer. Font aksara Sunda yang dirintis sejak 2005 saat ini teridentifikasi mengalami beberapa masalah. Salah satu masalah yang ditemukan adalah adanya kesalahan ejaan pada hasil pengetikan yang menggunakan font aksara Sunda. Kesalahan tersebut terindentifikasi karena adanya perbedaan sifat aksara Sunda (bersifat silabik) dengan aksara Latin (bersifat fonetis) yang menjadi basis dalam font komputer.
Peran Agentif dalam Slogan Bank di Negara Frankofon: Kajian Semantis Gilang Januarsyah
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20698

Abstract

AbstrakDalam konteks komersial atau periklanan, slogan merupakan sebuahungkapan singkat yang digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian konsumendengan memasukkan satu atau beberapa aspek dari produk maupun pelayananyang ditawarkan. Slogan berfungsi untuk menjelaskan tujuan perusahaan. Salah satuperusahaan yang menggunakan slogan sebagai media informasi adalah bank. Bankmerupakan sebuah badan usaha yang bergerak di bidang keuangan yang menarikdan mengeluarkan uang masyarakat terutama memberikan kredit dan jasa dalamlalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Penelitian ini bertujuan untuk mencariperan agentif dalam slogan bank. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambildari laman resmi bank negara frankofon dengan menggunakan metode kualitatifserta metode analisis padan referensial dan translasional dalam analisis data. Hasildari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga peran agentif dalam sloganbank negara frankofon, yaitu (1) bank sebagai agentif; (2) nasabah sebagai agentif,dan; (3) bank dan nasabah sebagai agentif.Kata kunci: peran semantis, semantik, slogan bank, frankofonAbstractIn the commercial context or advertising, slogan is a short phrase that is used asa tool to attract attention of consumers by giving one or more aspects of the product or theservices which is offered. The slogan serves to explain the purpose of the company. One of manycompanies which uses slogan as media is a bank. A bank is a business that deals in the financewhich mainly provides credit and services in payment and currency. This research is aimed to explore the agentive role of bank slogan. The data which are used in this study were taken from the official website of the francophone’s bank by using qualitative method and for analyzing the data this research uses referential and translational method. The results of this study indicate that there are three agentive roles in the slogan of the francophone’s bank, namely (1) the bank as agentive; (2) customers as agentive, and; (3) The bank and the customer as agentive.Keywords: semantic roles, semantic, bank slogan, francophone
Pembacaan Ulang Nana Karya Zola dan Anna Karya Tolstoy : Re-Interpretasi Sosok Perempuan Feminis Abad-19 Mega Subekti; Hilman Fauzia Khoeruman
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18845

Abstract

Dalam sejarah perkembangan ideologi feminisme, Abad ke-19 sering dianggapsebagai momen penting munculnya ide-ide baru tentang feminisme dan pergerakan yangmemperjuangkan hak-hak perempuan. Beberapa ide tersebut tercermin dari banyaknyakarya sastra yang mengangkat isu tentang perempuan dalam tradisi patriarkal, seperti yangdilakukan Emile Zola di Perancis dengan karyanya yang berjudul Nana dan Leo Tolstoy diRusia dengan Anna Karenina-nya. Dalam dua novel itu, perempuan digambarkan sebagaitokoh yang tidak cukup beruntung terkait dengan peran sosial dan relasi mereka dengan lakilaki.Meski demikian, perjuangan yang dilakukan terkait dengan opresi yang mereka terimabisa dianggap sebagai representasi dari perlawanan mereka sebagai perempuan. Denganmenggunakan metode deskriptif analitis yang didukung dengan pendekatan feminsime dangender, tulisan ini ditujukan untuk mendeskripsikan perlawanan atau setidaknya kesadarantokoh Nana maupun Anna dan menginterpretasikannya sebagai perwujudan feminismemereka sebagai perempuan. Meskipun berakhir tragis (dimatikan oleh narator), resistensiyang dilakukan Nana dan Anna terkait dengan status mereka sebagai perempuan sekiranyadapat membuktikan bahwa mereka tetap mampu merepresentasikan ide-ide feminisme.Alih-alih sebagai korban yang didominasi oleh laki-laki, Nana mampu memanfaatkansensualitas tubuhnya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Sementara itu, pilihan Annauntuk bunuh diri dilakukannya dengan penuh kesadaran dapat dianggap sebagai puncakperlawanannya terkait opresi yang ia terima karena perzinahannya dengan Vronsky.Kata kunci: Perempuan, feminisme, abad ke-19AbstRactIn the history of the development of feminist ideology, nineteenth century isregarded as an important moment of the emergence of ideas on feminism and women’smovement. Some of these ideas are reflected from the many literary works that raise thewomen’s issues in the patriarchal tradition, as Emile Zola did in France with Nana andLeo Tolstoy in Russia with Anna Karenina. In the two novels, women are portrayed asunfavourable figures associated with their status and relationships with men. Nevertheless,the fight related with the oppression they receive can be regarded as a representationof their resistance as women. By using an analytical descriptive method supported byfeministic and gender approaches, this paper is intended to describe resistance or at leastawareness of Nana and Anna figures and read it as the embodiment of their feminismperspective. Though ending tragically (killed by the narrator), Nana and Anna’s resistancecould prove that they were capable to represent their feminist perspectives. Instead of beinga victim who was dominated by men, Nana is able to take advantage of her sensual body to
DEVIASI FORMULASI ROMANCE DALAM NOVEL ELLE ET LUI KARYA MARC LÉVY Tania Intan; Ferli Hasanah
Metahumaniora Vol 10, No 1 (2020): METAHUMANIORA, APRIL 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i1.26957

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap adanya deviasi formulasi romance pada novel Elle et Lui karya Marc Lévy. Pendekatan metodologis yang digunakan adalah analisis struktural dengan perspektif kajian sastra feminis. Landasan teoretis yang menjadi kerangka penelitian ini di antaranya gagasan Radway, Modlesky, serta Gill dan Herdierckerhoff, yang diapropriasi untuk mengupas aspek-aspek naratif romance yang meliputi alur, tokoh, dan sudut pandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada penyimpangan formulasi terutama pada komponen alur dan sudut pandang meskipun novel ini berakhir bahagia sesuai dengan pola romance. Bila genre romance umumnya berfokus pada protagonis perempuan seabagai penggerak cerita, novel Elle et Lui (dan juga ternyata pada novel-novel Marc Lévy lainnya) cenderung berpusat pada protagonis laki-laki yang meskipun digambarkan memiliki kelemahan, namun tetap berkarakter pahlawan dan teladan. Narator pada novel tersebut merupakan orang ketiga tunggal yang maha tahu dan dapat berada di beberapa tempat sekaligus, sehingga tidak sesuai dengan formulasi romance standar. Deviasi yang terjadi dapat diargumentasikan sebagai strategi Marc Lévy untuk keluar dari formulasi standar sebuah novel romance yang pada umumnya ditulis oleh perempuan, dan juga karena karakter penulisannya yang sinematografis.
Pariwisata Pendidikan Berbasis Budaya dan Pewarisan Nilai-Nilai Budaya Lokal: Kasus Kampung Naga Awaludin Nugraha
Metahumaniora Vol 8, No 1 (2018): METAHUMANIORA, APRIL 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i1.18880

Abstract

AbstrakSalah satu manfaat pariwisata adalah untuk memperkuat preservasi warisanbudaya dan tradisi. Dalam konteks itu, penulisan artikel ini bertujuan untuk memahamicara masyarakat Kampung Naga mewariskan nilai-nilai budayanya melalui kegiatanpariwisata pendidikan. Teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi kepustakaandigunakan untuk mengumpulkan datanya. Metode analisis datanya menggunakananalisis kualitatif interpretatif, sedangkan teknik analisis datanya menggunakan modelinteraktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pariwisata dimanfaatkanoleh masyarakat Kampung Naga untuk mewariskan nilai-nilai budayanya kepadapelajar dan mahasiswa melalui pariwisata pendidikan. Nilai-nilai budaya masyarakatKampung Naga yang dapat dinikmati wisatawan melalui atraksi wisata budaya tangibledan intangible diwariskan pada pelajar dan mahasiswa dengan cara tinggal dan terlibatdalam kehidupan sehari-harinya. Dengan cara itu, pelajar dan mahasiswa dapat secaraintensif mempelajari nilai-nilai budaya masyarakat Kampung Naga karena terbanguninteraksi sosial yang intim antara pelajar/mahasiswa dengan masyarakat KampungNaga. Kesempatan itu hanya diberikan pada pelajar dan mahasiswa, tidak pada seluruhwisatawan, apalagi wisatawan mancanegara.Kata kunci: pariwisata pendidikan, pewarisan budaya, manfaat pariwisataAbstractOne of the benefits of tourism is to reinforce the preservation of cultural heritage andtraditions. In that context, the writing of this article aims to understand the way Kampung Nagacommunity bequeaths its cultural values through educational tourism activities. Observationtechniques, in-depth interviews, and literature studies were used to collect data. The method of dataanalysis used interpretative qualitative analysis, while the data analysis technique used interactivemodel. The results shows that the tourism activities are utilized by Kampung Naga community tobequeath on cultural values to students through educational tourism. Cultural values of KampungNaga community that can be enjoyed by tourists through tangible and intangible culturalattractions are bequeathed on to the students by staying and engaging in their daily life. That way,the students can intensively learn about the cultural values of Kampung Naga community becauseof the intimate social interaction between the students and the Kampung Naga community. Thatopportunity is only given to the students, not to all tourists, moreover foreign tourists.Keywords: educational tourism, cultural heritage, tourism benefits
Akulturasi Budaya pada Ornamen Eksterior Masjid Agung Jawa Tengah: Analisis Semiotik Panji Maulani
Metahumaniora Vol 7, No 2 (2017): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i2.18828

Abstract

ABSTRAKProses penelitian ini dilakukan dengan melakukan penelitian lapangan danpenelitian kepustakaan. Analisis mendalam terkait akulturasi budaya pada arsitektur MasjidAgung Jawa Tengah didapat melalui penggunaan metode deskriptif-analitik dengan langkahlangkahobservatif. Langkah-langkah tersebut disesuaikan dengan sumber terkait, sehinggadata pada objek penelitian dapat dideskripsikan serta dianalisis dengan pendekatan budayadan arsitektur. Penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan karena Masjid Agung JawaTengah memiliki ornamen eksterior yang sangat khas, berbeda dengan ornamen masjidraya-masjid raya lain di Indonesia, yang umumnya memiliki ornamen eksterior yang hanyaberakulturasi dengan budaya Timur Tengah. Pada Masjid Agung Jawa Tengah kita dapatmerasakan suasana seperti di masjid Nabawi dan suasana Colloseum di zaman Romawi.Terdapat 6 buah payung hidrolik seperti di masjid Nabawi dan gerbang Al-Qanathir yangmenyerupai Colloseum pada pelataran masjid akibat pembangunan Masjid Agung JawaTengah menggunakan paduan tiga unsur budaya: Jawa, Timur Tengah, dan Romawi.Kata kunci: akulturasi, ornamen, masjid agung, Jawa TengahABTRACTThe research process was conducted by field research and library research. Depthanalysis related to acculturation on the architecture of the Central Java Great Mosque obtainedusing descriptive-analytic method with observational measures. The steps are adapted to thecorresponding source, so that data on the research object can be described and analyzed withcultural and architectural approach. This research becomes important thing to do because ofthe Great Mosque of Central Java has a very distinctive exterior ornament, in contrast to theother great mosques in Indonesia, whose the exterior ornament is generally only acculturatedwith Middle Eastern culture. In Central Java Great Mosque we can feel the atmosphere likeat the Nabawi Mosque and the atmosphere of the Colosseum in Roman times. There are sixpieces of hydraulic umbrella like in Nabawi Mosque and Al-Qanathir gate that resembles theColosseum in the courtyard of the mosque as the result of the construction of the Central JavaGreat Mosque using a combination of three elements of culture: Java, Middle East, and Roman.Keywords: acculturation, ornament, grand mosque, Central Java
Pelanggaran Prinsip Kerja Sama dan Kesantunan Berbahasa dalam Cuitan Twitter Bertema Internalized Sexism 'Internalisasi Seksisme': Suatu Kajian Pragmatik Rima Rismaya
Metahumaniora Vol 10, No 3 (2020): METAHUMANIORA, DESEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i3.31032

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kerja sama dan kesopanan berbahasa, serta kemungkinan penyebab munculnya pelanggaran-pelanggaran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan topik utama yaitu pelanggaran prinsip kerja sama dan kesantunan berbahasa yang terdapat dalam komentar terhadap cuitan Twitter bertema internalized sexism. Sumber data penelitian adalah komentar-komentar berbahasa Indonesia dalam cuitan akun @cunggun. Data penelitian ini dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik tandai dan catat. Analisis data penelitian dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat pelanggaran prinsip kerja sama yang dikelompokkan menjadi pelanggaran terhadap maksim kualitas, maksim kuantitas, maksim relevansi, dan maksim cara. Kemudian, pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa terjadi pada pelanggaran maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan, dan maksim kesimpatian. Pelanggaran ini dilakukan sebagai bentuk kemarahan petutur atas cuitan penutur yang dianggap merendahkan sesama kaum wanita.
ANALISIS NARATOLOGIS SKANDAL AKSI KORUP PRESIDEN DONALD TRUMP DALAM SURAT KABAR DARING AMERIKA DAN INTERNASIONAL Lestari Manggong
Metahumaniora Vol 9, No 3 (2019): METAHUMANIORA, DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i3.25594

Abstract

Skandal aksi korup Presiden Donald Trump menyeretnya ke pemakzulan yang diputuskan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat pada tanggal 18 Desember 2019. Tulisan ini membahas skandal aksi korup Presiden Trump sebagaimana dipaparkan dalam tiga kolom opini di koran daring The Washington Post, The Washington Times, dan Reuter. Dengan mengadaptasi analisis naratologis Berning (2011), pembahasan atas ketiga kolom opini tersebut dilakukan dengan cara menyikapi ketiga produk jurnalisme tersebut sebagai produk naratif, dengan memperhatikan jenis fokalisasi dan jenis narasinya. Tulisan ini pada akhirnya menyediakan simpulan berupa pandangan tentang bias politik dalam dua koran daring Amerika dan satu koran daring internasional tersebut tentang pemberitaan skandal aksi korup Presiden Trump.
Antara Mitos dan Realitas: Historisitas Maung di Tatar Sunda Budi Gustaman; Hilman Fauzia Khoeruman
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22873

Abstract

Secara kultural, masyarakat Sunda cukup akrab dengan maung (harimau). Maung adalah sebutan khusus untuk harimau di wilayah Tatar Sunda. Maung direpresentasikan secara khusus sebagai simbol kekuatan. Simbolisasi maung tercermin dalam beberapa identitas kekinian, seperti pada julukan klub sepak bola terbesar di Jawa Barat, Persib “maung” Bandung serta pengadopsian secara visual sebagai lambang Divisi Siliwangi, satuan militer wilayah Jawa Barat. Di balik pemaknaan itu, terdapat jejak-jejak historis yang menyebabkan begitu lekatnya maung dalam benak masyarakat Sunda. Penelitian ini berusaha untuk menelusuri maung dalam bingkai mitos dan juga ekologis. Di Tatar Sunda tersebar mitos-mitos terkait harimau yang disampaikan secara lisan dan tulisan (naskah). Selain itu, jejak maung pun banyak pula ditulis pada sumber-sumber kolonial, seperti arsip, koran, hingga roman. Secara umum, maung mencerminkan mentalitas kultural masyarakat Sunda, yang pemaknaannya menjadi penghubung antara mitos dan realitas. Sundanese people are quite familiar with maung (tiger). Maung is a special name for tigers in the Tatar Sunda. Maung is represented as a symbol of strength. The symbolization of maung is reflected in several contemporary identities, such as the nickname of the biggest football club in West Java, Persib "maung" Bandung. Moreover, it is adopted visually as a symbol of military unit in the West Java region, Divisi Siliwangi. Behind the meaning, many historical traces which cause the  existence of maung in the minds of the Sundanese people. This research seeks to explore the mythical and ecological framework. In Tatar Sunda scattered myths related to tigers that were delivered orally and in manuscript. In addition, many traces of Maung were also written in colonial sources, such as archives, newspapers, and romances. In general, it reflects the cultural mentality of Sundanese society, whose meaning is the link between myth and reality. 
REPRESENTASI SISTEM GENDER DALAM PENGOBATAN TRADISIONAL DI JAWA BARAT Muhamad Adji; Dadang Suganda; Awaludin Nugraha
Metahumaniora Vol 10, No 2 (2020): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2020
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v10i2.28898

Abstract

Indonesia, memiliki beragam jenis pengobatan tradisional yang dapat kita temui di berbagai daerah. Pengobatan tradisional menunjukkan kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap jenis pengobatan yang berbasis pada pengetahuan lokal. Dari berbagai jenis pengobatan tradisional yang ditawarkan tergambar pandangan masyarakat Indonesia terhadap sistem gender. Gender mengacu pada identitas, peran, dan relasi yang disematkan pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Tulisan ini akan menguraikan konstruksi gender yang terepresentasi dalam dunia pengobatan tradisional melalui jenis-jenis pengobatan yang ditawarkan. Dalam penelitian ini digunakan metode kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Dalam menganalisis data penelitian digunakan teori gender. Dari hasil analisis terhadap jenis pengobatan tradisional yang ditawarkan ditemukan bahwa pada umumnya sistem pengobatan yang ditujukan untuk laki-laki berkaitan dengan masalah keperkasaan, sedangkan pengobatan yang tujukan untuk perempuan berkaitan dengan masalah kesuburan. Dengan demikian, dari pengobatan tradisional tergambar konstruksi gender normatif yang berkaitan dengan konsep maskulinitas dan femininitas.

Page 10 of 27 | Total Record : 263