cover
Contact Name
Pratiwi Hermiyanti
Contact Email
pratiwi.kesling@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
journalgemakesling@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
GEMA KESEHATAN LINGKUNGAN
ISSN : 16933761     EISSN : 24078948     DOI : -
Jurnal ini menerima artikel dengan scope sanitasi lingkungan meliputi penyehatan air, pengolahan limbah, penyehatan makanan minuman, penyehatan tanah dan pengolahan sampah, sanitasi tempat umum, kesehatan keselamatan kerja, penyehatan udara sanitasi permukiman dan promosi kesehatan.
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
PEMANFAATAN ARANG SEKAM PADI SEBAGAI ADSORBEN FENOL Azizah Mizan; Setiawan .; Pratiwi .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 1 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i1.122

Abstract

Phenolic compounds is water pollutants because toxic at certain levels. One methods degrade phenol is adsorption. By the high of husk waste, rice production mill especially in Leran Kulon, District of Tuban, can be used as absorbent to decreasing in phenol was conducted.This study used  pre-experimental design with One Group Pre-Post Test Design. The research object was phenol concentration 3ppm with 14 treatment variations. Phenol concentrations was measured after direct contact with the husk charcoal provided in dose of 10 g /l and 25 g/l at minute 30, 60, and 90. The results showed the adsorption husk charcoal with dose of 25 g/l was greater than 10 g/l and the best time was 90 minutes at dose of 25 g /l with an average decrease of 63.33%.It is suggested to carry out socialization to the public on the use of rice husk as phenol  adsorbent primarily to society of Leran Kulon. In addition, further research needs to carried out with addition contact time variation, dose husk choarcal, testing toward pH and temperature effect on adsorption capacity as well as testing toward ash content, water content and volatile content of the husk choarcal made
PENGARUH BERBAGAI JENIS UMPAN TERHADAP TRAP SUCCESS DALAM PENGENDALIAN PES (Studi di Dusun Surorowo, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan Tahun 2017) Maria Ajeng Kinanti; Sri Mardoyo; Ernita Sari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 2 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i2.630

Abstract

ABSTRAK  Dusun Surorowo merupakan daerah fokus penyakit Pes di Pasuruan yang masih perlu dilakukan pengawasan. Kepadatan pinjal dan tikus dapat berpengaruh terhadap penularan penyakit pes karena pinjal berperan sebagai vektor penyakit pes sedangkan tikus sebagai reservoir penyakit ini. Selain itu, masih adanya tersangka penyakit Pes di daerah tersebut perlu dilakukan upaya kewaspadaan dini seperti pengendalian populasi tikus, salah satunya yaitu dengan melakukan pemasangan perangkap. Faktor utama yang menentukan keberhasilan penangkapan tikus atau trap success yaitu jenis umpan yang digunakan. Tujuan penelitian ini adalah agar mengetahui pengaruh dari berbagai jenis umpan terhadap angka keberhasilan penangkapan tikus dalam pengendalian pes.       Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperimental research), dengan rancangan penelitian yang digunakan yaitu Posttest Only Design karena peneliti mengukur pengaruh perlakuan atau (intervensi) pada kelompok eksperimen dan dalam penelitian tidak dilakukan pretest. Selain itu, dalam penelitian ini tidak ada kontrol. Penelitian dilakukan di Dusun Surorowo, Desa Kayukebek, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan pada bulan Maret sampai Juli Tahun 2017.Hasil penelitian adalah umpan yang paling berpengaruh terhadap trap success adalah umpan jagung manis dimana terdapat 106 ekor tikus tertangkap dengan prosentase tikus yang tertangkap sebesar 10,9%. Trap success paling tinggi yaitu umpan jagung manis dengan nilai trap success rata – rata 16,67 % dalam rumah, 6,67 % di kebun, 9,6 % di hutan. Jenis tikus yang tertangkap yaitu Rattus tanezumi, Rattus exulans, Rattus tiomanicus, dan Hylomys suillus. Angka kepadatan pinjal atau indeks pinjal umum dalam rumah sebesar 3,16 sedangkan indeks pinjal khusus 2,69. Indeks pinjal umum di kebun sebesar 0,61 sedangkan indeks pinjal khusus 0,22. Indeks pinjal umum di hutan sebesar 1,13 sedangkan indeks pinjal khusus 0,4 dengan jenis pinjal yang teridentifikasi yaitu Xenopsylla cheopis dan Stivalius cognatus. Dari hasil penelitian yang dilakukan, disarankan umpan yang digunakan dalam penangkapan tikus adalah jagung manis. Kata Kunci : Umpan, Trap Success, Pes
PENAMBAHAN LUMPUR AKTIF DALAM PROSES TERBENTUKNYA BIOGAS DARI LIMBAH CAIR HOME INDUSTRY TEMPE DI SURABAYA TAHUN 2017 Muhammad Wildan; Darjati .; Sukiran Al-Jauhari
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 2 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i2.674

Abstract

Limbah industri tempe tidak banyak dimanfaatkan oleh industri itu sendiri, khususnya limbah cair dari pengolahan tempe. Limbah cair tempe tersebut banyak mengandung bahan organik. Limbah cair tempe dapat dimanfaatkan sebagai energi yang ramah lingkungan yaitu biogas. Bahan baku biogas adalah bahan organik yang terdapat pada limbah cair tempe. Proses pembentukan biogas dengan cara anerob dimana membutuhkan waktu lama. Lumpur aktif dapat dijadikan starter pada pembuatan biogas. Tujuan peneliti adalah untuk mengetahui penambahan lumpur aktif pada limbah cair tempe untuk membantu proses terbentuknya biogas.Penelitian ini merupakan penelitian Pra-eksperimen dengan desain penelitian After Only Design. Terdapat 4 perlakuan limbah cair tempe dengan konsetrasi lumpur aktif 10%, 30%, 50%, dan 0%. Kondisi yang diamati selama proses pembentukan biogas yaitu temperatur dan pH. Hasil akhir yang diamati adalah perbedaan kadar gas methan dan lama nyala api dengan 4 perlakuan. Analisis data yang digunakan adalah one way Anova.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan gas methan perlakuan 0 tanpa penambahan lumpur aktif 14,09%, perlakuan 1 dengan konsentrasi lumpur aktif 10% sebesar 29,29%, perlakuan 2 dengan konsentrasi lumpur aktif 30% sebesar 48,20%, perlakuan 3 dengan konsentrasi lumpur aktif 50% sebesar 61,09%. Sedangkan hasil nyala api didapat perlakuan 0, 1, 2, dan 3 adalah 3; 31,5; 37,16; dan 41 detik.Disimpulkan kandungan gas methan yang memenuhi syarat sebagai  biogas pada limbah cair tempe dengan penambahan lumpur aktif dengan konsentrasi 50% sebesar 61,09% serta memiliki nyala api terlama dengan rata-rata 41 detik. Limbah cair tempe dapat dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku pembuatan biogas. Kata kunci : Limbah cair tempe, Lumpur aktif, Gas methan
Hubungan Kondisi Fisik Rumah dan Tingkat Ekonomi Orangtua Terhadap Kejadian Pneumonia Pada Balita (Studi Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Sukodono)) Diaz Ramadhani; Nurhaidah -; Narwati -
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 19, No 1 (2021): GEMA Lingkungan Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v19i1.1401

Abstract

Pneumonia pada balita masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Kematian karena pneumonia pada masa kanak-kanak sangat terkait dengan faktor yang berhubungan dengan kemiskinan seperti kurang gizi, polusi udara dalam ruangan, dan akses yang tidak memadai ke perawatan kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kondisi fisik rumah dan tingkat ekonomi orangtua dengan kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sukodono.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan studi Case Control. Sebanyak 25 rumah balita menderita pneumonia sebagai kasus dan 25 rumah balita tidak menderita pneumonia sebagai kontrol. Responden penelitian ini adalah ibu balita kelompok kasus maupun kontrol. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Chi Square.Hasil analisis menunjukkan dari  lima variabel yang diteliti, dua variabel memiliki hubungan bermakna dengan kejadian pneumonia pada balita, yaitu kepadatan kamar tidur (p = 0,027) dan kelembaban rumah (p = 0,030), sedangkan variabel pencahayaan alami (p = 0,172), suhu rumah (0,382), dan tingkat ekonomi orangtua (p = 0,349) tidak memiliki hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita.Kesimpulan penelitian ini yaitu ada hubungan antara kepadatan kamar tidur dan kelembaban rumah dengan kejadian pneumonia pada balita, sedangkan suhu rumah, pencahayaan alami, dan tingkat ekonomi orangtua tidak memiliki hubungan dengan kejadian pneumonia pada balita. Saran bagi masyarakat untuk ikut berperan dalam mencegah penularan penyakit pneumonia dengan rajin membuka jendela rumah tiap hari dan kamar tidur maksimal dihuni oleh 2 orang dewasa dan 1 balita. Saran bagi puskesmas untuk meningkatkan pengetahuan pneumonia pada ibu dengan penyuluhan dan pembinaan sanitasi rumah.
KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEGIRIAN SURABAYA TAHUN 2015 Lutfia Sekar Arum; Umi Rahayu; S. B. Ekowarno
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 13, No 2 (2015): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v13i2.90

Abstract

Leprosy is contagious diseaes that cannot be solved optimally in Surabaya, this compounded by stillmany densely population area that is uninhabitable. Housing and environments conditions that donot meet health requirements are risk factors for leprosy transmission source. In the work area ofPegirian Community Health Center of Surabaya in 2014 they are 17 Lepers.This research aims todescribe  house physical condition of lepers.The type of research is descriptive with observational approach. The data collection is done bymeasurement and observation, the amount taken of samples is 17 houses lepers. The collecteddata is analysis  descriptively with descriptions explanation based on the Decree of Ministry ofHealth of republic of Indonesia No. 829 Year 1999 regarding healthy houserequirements.The result showed that ventilation of studied lepers’ house is ineligible  94.12%. The temperatureof the houses that does not qualify is 41.17%.Humidity which is not qualified is 47.05%. 100%natural lighting of lepers’ house is ineligible. Lepers’ house which is densely populated is 94.25%,the condition of floor does not qualify is 29.41%. The suggestion is open a window, then sunlight can get into house, and install the glass tile Always keep the house clean.
PEMANFAATAN AMPAS TEBU SEBAGAI KARBON AKTIF TERHADAP PENURUNAN KADAR COD DAN AMONIA (NH3) (Studi Pada Limbah Cair Industri Tahu Dinoyo Kota Surabaya) Abibatus Solichah; Rachmaniyah .; Fitri Rokhmalia
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 16, No 3 (2018): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v16i3.894

Abstract

harus dilakukan pengolahan sebelum dibuang ke lingkungan. Penurunan COD dan Amonia dilakukan dengan adsorpsi karbon aktif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas karbon aktif ampas tebu dalam menurunkan kadar COD dan Amonia. Metode penelitian ini yaitu One Group Pre-Post Test Design pada perbedaan variasi dosis 2,3, dan 4 gram. Karbon aktif dibuat dengan karbonisasi suhu 320oC selama 30 menit, ayakan 100 mesh, aktivasi dengan HCl 0,1 M selama 24 jam, pembilasan dengan aquades hingga pH 7 dan pengeringan suhu 150 oC selama 2 jam, pengolahan limbah cair dengan karbon aktif ampas tebu sistem batch. Hasil penelitian yaitu karbon aktif dengan dosis 2 gram menurunkan kadar COD sebesar 44,87% dan penurunan kadar Amonia sebesar 51,8%. Dosis 3 gram menurunkan kadar COD sebesar 69,86% dan Amonia sebesar 71%. Dosis 4 gram menurunkan kadar COD dan Amonia sebesar 540,97 mg/L atau 84,72% dan pada parameter Amonia sebesar 84,6%. Hal ini terjadi karena dosis atau Jumlah adsorben yang makin banyak akan memberikan luas permukaan yang makin besar bagi adsorbat untuk terdesorpsi. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dosis yang mampu menurunkan kadar COD dan Amonia paling besar hingga memenuhi persyaratan baku mutu adalah 4 gram. Saran bagi penelitian selanjutnya agar melakukan penambahan dosis untuk menemukan dosis optimum.Kunci: Ampas Tebu, COD, Amonia
PERUBAHAN KADAR DEBU UDARA SAAT “CAR FREE DAY” DI SURABAYA TAHUN 2016 Safitri Praneliani; Khambali .; Marlik .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 14, No 2 (2016): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v14i2.248

Abstract

Level of dust particles (PM10) in Surabaya is the highest in East Java because of the increasing number ofmotor vehicles. To reduce exhaust emissions of motor vehicles which produce dust particles (PM), thegovernment of Indonesia has launched the Langit Biru / Blue Sky program with Car Free Day as one of itsprograms. This study aims to determine differences of air dust level at Car Free Day and non-Car Free Day inDarmo street, Surabaya. The design of research is analytic research. The research object was along Darmostreet. The data werecollected by using survey with cross sectional approach and the data were proceeded the form of editing,tabulation and textular. The results of the study shows that the average temperature, humidity, wind speed and the amount ofdust in the air during the Car Free Day were 28.78 oC, 76.22%, 1.48 m/s and 135 mg/Nm respectively and inthe absence of Car Free Day were 28.55 oC, 77.40%, 1.13 m/s and 388.16 mg/Nm respectively.There was significant difference in the dust level (PM103100 3) in the air during the Car Free Day and Non Car Free Day. It is advisable for the government to consider changing the technical implementation of the Car Free Day such as adding more day.Keywords : Dust particles (PM), Car Free Day, Air Pollution
KEADAAN FASILITAS SANITASI TEMPAT PELELANGAN IKAN 01 SEOATI KABUPATEN SIOOARJO TAHUN 2013 Luqman Amyrul Hakim; Sri Mardoyo; Margono .
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 12, No 1 (2014): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v12i1.58

Abstract

The fish auction place is considered as a public place, where people do their transactions onfishery products. Sedati fish auction place is a center of a fishery products in the eastern coast ofKabupaten Sidoarjo. Everyday large number of people aredoing transactionsthat generated large amountof garbage and trash. Therefore sanitation facilities in such a place need to be controlled.This is a descriptive observation, to make a description about condition of the sanitation facilitiesin Sedati fish auction center, using investigation formsreleased by ministry of health number: 519/MENKES / SK / VI /2008.The observation lead to statements that condition of sanitation facilities in the place wasunhealthy (45% ) as follow: the location and buildingsthat were in poor condition was 62%. The cleanwater storage facilities were 50%. Toilet sanitation and hand wash facilities were 32%. The seweragesystem was 12%. The garbage containers were 32%. The desinfection and animal/vector related facilitieswere 32%. The supporting facilities were 56%, all received unhealthy appraisal criteria.The study suggested the management of the Sedati fish auction place to make signsin moreclearly wording to separate wet and dry fish tables. Hand washingfacilities need to be added in the fishselling sites. Storage should be provided to store fish at cold temperature. Strong and watertight garbagecontainers are in need in the area, supply of clean water is also required. Disinfection should be performedonce every month until the condition of the Sedati fish auction place improves, clean and free of germs.The management need to be ready with first aid kits and fire extinguisher.
PENERAPAN OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY ASSESSMENT SERIES : 18001 DI PT. DOK DAN PERKAPALAN SURABAYA (PERSERO) TAHUN 2017 Ach Romadhon; Demes Nurmayanti; Imam Khambali
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 15, No 3 (2017): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v15i3.697

Abstract

Kecelakaan kerja dapat menimbulkan berbagai macam kerugian. Di samping dapat mengakibatkan korban jiwa, juga dapat menyebabkan kerugian waktu kerja (pemberhentian sementara), penurunan produktivitas, pengaruh psikologis yang negative pada pekerja, memburuknya reputasi perusahaan, denda dari pemerintah, serta kemungkinan berkurangnya kesempatan usaha atau kehilangan pelanggan pengguna jasa. Dari data riwayat kecelakaan kerja di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya pada tahun 2010 terjadi 7 kasus kecelakaan kerja, tahun 2011 terjadi 15 kasus kecelakaan kerja, tahun 2012 terjadi 9 kasus kecelakaan kerja, tahun 2013 terjadi 4 kasus kecelakaan kerja, tahun 2014 terjadi 2 kasuskecelakaan kerja, tahun 2015 terjadi 5 kasus kecelakaan dan tahun 2016 terjadi 3 kasus kecelakaan kerja. Tujuannya mengetahui penerapan OHSAS 18001 di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero).Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah proporsional random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 73 orang tenaga kerja dari bagian produksi. Jenis pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Data dianalisis dalam bentuk tabel.Hasil penilaian didapatkan nilai sebesar 93% untuk komponen kebijakan K3, 95% untuk komponen perencanaan K3, 90% untuk komponen penerapan K3, 93% untuk komponen evaluasi K3, dan 97% untuk komponen tindakan perbaikan. Seluruh penilaian yang didapatkan dikategorikan dalam kriteria baik, sehingga jumlah angka kecelakaan kerja di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) menurun.Disarankan perusahaan harus melaksanakan komitmen  pengawasan sehingga SMK3 di PT. Dok dan Perkapalan Surabaya (Persero) dapat berjalan dengan baik dan dapat mengurangi angka kecelakaan kerja. Kata Kunci : OHSAS 18001, Keselamatan dan Kesehatan Kerja
PERBEDAAN KEMAMPUAN DAYA TOLAK MINYAK ATSIRI BUNGA MELATI (Jasminum sambac) DAN DAUN SElASIH (Ocimum basilicum) SEBAGAI REPElEN NYAMUK Aedes aegypti Meilina Yuhanita Dewi; Koerniasari .; Irwan Sulistyo
GEMA LINGKUNGAN KESEHATAN Vol 11, No 1 (2013): Gema Kesehatan Lingkungan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36568/kesling.v11i1.178

Abstract

Dengue fever is an infectious disease caused by dengue virus and is transmitted by Aedesaegypti and Aedes albopictus. In the year 2010 there had been 150.000 cases in Indonesia and thenumber of deaths was 1317. Transmission of this disease can be prevented using plant essentialoils to be applied as repellents. This study was aimed at investigating the differences betweenjasmine essential oil (Jasminum sambac) and leaf basil (Ocimum basilicum) as repellents againstAedes aegypti mosquito.This is a quasi-experimental study using a non-randomized control group pretest-posttestdesign. Subjects were female Aedes aegypti mosquitoes, 25 mosquitoes on each test. Thematerials used were jasmine flowers essential oil at 40% concentration and basil leaves essentialoil at 90% concentration. As much as 10 replications were performed during the study.Independent SamplesT Test was carried out for analyzing the data.The average number of mosquitoes that came in contact with human hand that had beengiven jasmine flowers essential oil at 40% concentration were 3 mosquitos and basil leavesessential oil at 90% concentration was one mosquito. There was no significant difference betweenthe number of Aedes aegypti mosquitoes that come in contact with human hand applied withjasmine flowers essential oil at 40% concentration and basil leaves essential oil at 90%concentration (p =0.000; 0=0. 05).The conclusion was 90% concentration of essential oils of basil leaves, having 3.32%linalool as an active ingredient had a better ability as a repellent against Aedes aegypti comparedto jasmine flowers essential oil at 40% concentration which has 2.9% linalool as an activeingredient. Essential oil of basil leaves can be applied as a substitute for synthetic chemicalrepellent topically every 8.5 hours.Keywords: jasmine essential oil, basil leaf; Aedes aegypti